Kimi Ga Daisuki
"Kau jadian dengan Kuroba-niisan?" tanya Taka kaget saat melihat aku diantar Kaito dengan mobilnya karena salju menggempir Jepang dengan derasnya. Dan Taka melihat Kaito menggenggam tanganku erat saat dia menyambutku di depan rumah tadi. Aku mengulum senyum dan mengangguk mengiyakannya. Dia tak salah. Wajah jahil Taka muncul.
"Ah, sou desune! Kalau begitu, Oneechan, aku akan menyusulmu." Dia menantangku. Aku tersenyum. "Jadi ceritanya kau akan menembak Aoi-chan?"
"Kau mengerti, 'kan? Aku tak mau kehilangannya," ujarnya sedikit puitis. Aku meledeknya, "Wakatta, tapi apa Aoi-chan mau denganmu?"
Taka mengepalkan tangannya. "Tentu saja! Tapi, aku butuh bantuanmu, Oneechan. Aku juga butuh bantuan Kuroba-niisan." Wajahnya serius. Aku langsung berhenti meledeknya dan menatapnya penasaran.
"Jadi... apa rencanamu?" Alisku terangkat. Taka selalu punya banyak rencana gila dan semuanya entah kenapa banyak yang berhasil. Contohnya, saat dia belajar mati-matian untuk mendapat peringkat satu. Mati-matian, hingga matanya menghitam karena jarang tidur dan terlihat seperti panda, tapi dia berhasil.
"Aku akan memberitahumu, nanti." Dia tersenyum misterius. Aku bingung. Taka malah masuk ke kamarnya.
"Chotto, Taka-kun!" teriakku memanggilnya, kesal. Dasar, anak kecil!
"Aku senang bisa datang ke rumahmu, Taka-kun." Senyum itu terlukis dari bibir mungil Aoi. Taka tersenyum senang saat dia melihat sesuatu yang ia tunggu. Emiko dari bibir Aoi.
"Kau mau minum apa?" tanya Taka berbasa-basi. Aoi tersenyum. "Apapun itu."
Dia tampak cantik malam ini. Bando kuning dengan cardigan ungu dan kaos kuning dan rok kuning selutut.
Aku dan Kaito tersenyum di balik tembok. Kaito bergegas berjalan melewati ruang tamu dengan menggandeng tanganku. Ini rencana Taka. Menunjukkan sepasang kekasih yang akan membuat Aoi mengakui perasaannya.
Aku berhenti, menyapa Aoi. "Konbanwa, Aoi-chan. Manis sekali kau malam ini." Aoi tersenyum. "Konbanwa, Senpai. Arigatou, oh... lelaki yang di sebelah Senpai, pacar Senpai?" tanyanya bersahabat. Aku mengangguk.
Kaito menoleh. "Iya, Ojousan. Namaku Kaito Kuroba. Dan kau sendiri pacar Taka-kun, bukan?"
Rona merah memenuhi pipi Aoi. Taka yang melihat perubahan itu tersenyum. Dia tersenyum melihat wajah indah itu.
"Bu... bukan, aku temannya." Aoi mengelak. Kaito tersenyum sambil mengedip ke arah Taka.
Taka mengangguk kecil. Kami berdua keluar ruangan.
"Aoi-chan."
Aoi menoleh kaget. Panggilan itu membuatnya merasa bahwa Taka seperti kekasihnya. Nada suara Taka seperti gugup. "Iya?"
"Aku berjanji padamu untuk memberi tahumu tentang sesuatu yang paling kusukai di dunia ini."
Ah. Aoi tersadar. Dia langsung tersenyum. "Ah, ya... Aku nyaris lupa tentang itu."
"Kau tahu?" Wajah Taka gugup. Memerah.
"Yang paling kusukai dari dunia ini..."
Aku dan Kaito yang mengintip lewat celah jendela buru-buru bertoast. "Ayo, ganbatte, Taka-kun!" bisikku menyemangati Taka.
"Aoi." Wajah Taka memerah, suhu tubuhnya seakan naik ke seribu derajat celcius karena saking gugupnya akan pernyataannya. Kokuhaku itu berlangsung lama sekali. Aku dan Kaito tersenyum antusias.
Aoi tersenyum. Aku yakin dia akan menjawab ya akan pernyataan Taka. Dia menarik nafas panjang.
Aku dan Kaito mengepalkan tangan, mendukung Taka dan menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir Aoi.
"Kau..." Pipi Aoi bersemu merah. Aku melirik Kaito sambil tersenyum. Ayo, jawab ya! Jawab ya!
"Suka warna biru? Memang, warna biru itu menenangkan."
Aku dan Kaito melongo. Lho? Kukira kata-kata yang akan keluar dari bibir Aoi adalah jawaban atas penembakkan Taka barusan. Tapi... ada yang aneh... Ah, tapi memang benar, arti Aoi adalah biru. Aku menepuk kening, menertawakan kebodohan Taka. Baka! Baka! Usikku dalam hati.
"Iya... karena warna biru itu menenangkan..." Senyum polos tersungging dari bibir Taka. Kaito menggeleng-geleng. "Kenapa dia nggak langsung to the point saja, sih?" Aku menggedikkan bahu, tanda tidak tahu.
Aoi meminum ocha dingin yang dihidangkan Okaasan. Aku tahu sudut mata Taka mengawasi gerak-gerik Aoi. Kenapa dia tidak langsung menyatakan perasaannya, ya? rutukku kesal dalam hati, sambil tetap menggenggam tangan Kaito yang hangat.
"Bagaimana? Enak ochanya?" tanya Taka. Aoi mengangguk. "Enaak! Sepertinya aku harus berguru membuat ocha pada ibumu, Taka-kun!" Taka tertawa.
"Okaasan memang suka membuat ocha. Bagaimana denganmu, Aoi-chan?" Aoi berpaling dari ochanya dan menatap Taka.
"Ngg... aku suka menanam bunga, bahkan aku sangat suka menyiraminya. Aku juga sempat mengikuti kursus merangkai bunga ala Jepang," tutur Aoi renyah.
Senyum misterius tersungging dari bibir Kaito. Aku meliriknya heran. "Ada apa, Kaito?"
Kaito yang masih mengawasi Aoi dan Taka, menoleh. Dia tersenyum tenang. "Tenang saja, Aoko. Adikmu pasti akan menyatakan perasaannya pada Aoi malam ini."
Keningku berkerut. "Tapi 'kan..."
Telunjuk Kaito menutup bibirku dengan pelan. "Dia akan menyatakan perasaannya. Just trust me and wait."
Aku terdiam dan mengawasi Taka dan Aoi lagi. Kaito menatapku misterius, tapi tetap dengan senyumnya.
"Kau suka bunga apa, Aoi-chan?" tanya Taka pelan. Aoi tersenyum lagi, membuat pipi Taka bersemu merah.
"Mawar."
Tiba-tiba, tangan Taka bergerak cepat, memunculkan mawar. Aku melotot kaget. Sulap! Sudut bibir Kaito memunculkan senyuman singkat.
"Untukmu, Aoi." Taka berlutut di depan Aoi, layaknya seorang pangeran yang akan menyatakan 'i love you' pada putri yang dicintainya. Aoi tertegun kaget, walau terlihat agak malu.
"Aoi-chan, kau seperti warna biru yang akan menenangkan hari-hariku. Yang paling kusukai dari dunia ini adalah kau, yang menenangkan hariku. Membuatku tertawa dan tersenyum setiap harinya." Taka meraih tangan Aoi.
"Taka-kun..." Aoi menundukkan kepalanya dengan pipi memerah.
"Selamat ulang tahun, Aoi. Berjanjilah kau akan memberiku hadiah setelah aku memberimu hadiah berupa mawar ini. Dan..." Taka merogoh saku celananya. "Cokelat ini..."
Aku menatap Kaito kaget. Ternyata benar. Aku melirik kalender. Enam belas Juni.
"Darimana kau tahu Taka akan menyatakan perasaannya? Padahal dia terlihat gugup sekali dan mengulur waktu." Aku memutuskan bertanya pada Kaito saat aku membereskan meja tamu. Taka sudah mengantar Aoi pulang dengan sepeda.
Kaito tersenyum singkat. "Aku yang mengajarinya sulap mawar. Aku sebenarnya tidak memintanya mengulur waktu, tapi dia punya rencana lain. Aku tahu sulapku memang mengejutkan, tapi dia membuat kejutan lebih dari sulapku."
"Berarti saat kau mendengar hobi Aoi yang suka menanam bunga, kau langsung tahu Taka akan melakukan sulap mawarmu itu?" kataku sambil memandangnya. Dia mengangguk.
Aku baru teringat kalau Kaito adalah anak seorang pesulap terkenal Jepang, Toichi Kuroba. Mungkin dia mempelajari sulap itu dari ayahnya yang terkenal itu. Tapi tunggu...
"Kenapa kau tidak pernah menunjukkan sulap mawar itu padaku? Aku 'kan pacarmu!" protesku dengan wajah kesal. Dia memasang wajah jahilnya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Untukmu khusus, bukan hanya mawar. Rafflessia pun akan kumunculkan untukmu," katanya santai. Aku langsung memasang wajah galakku.
"Rafflessia itu bunga bangkai, bodoh! Lagipula..." Aku langsung mencubit pipinya. "Terlalu besar!"
"Auuu! Sakiit!" Kaito langsung melepaskan cubitanku di pipinya. Aku menatapnya serius. Dia langsung mengiyakan permintaanku.
"Oke... tapi, sebelum kutunjukkan sulapku... Bolehkah aku mengajakmu ke rumahku?"
Tak ada pilihan lain kecuali mengiyakannya.
Taka mengantar Aoi sampai depan rumah. Aoi tersenyum. "Arigatou, kau telah mengantarku pulang." Taka memegang tangannya.
"Cepatlah masuk, Aoi." Taka berusaha memperhatikannya. "Salju semakin deras." Aoi mengangguk. "Aku akan masuk."
"Baiklah, aku pulang dulu." Aku membelakanginya dan berjalan perlahan. Aoi terdiam, menatap punggung Taka, orang yang disayanginya. Air mata mengalir pelan.
"Taka-kun?"
Taka buru-buru berjalan lagi, menghampiri Aoi. "Ya?" tanya Taka perhatian. Aoi memegang tangannya, seakan tidak mau melepaskannya. Taka paham maksud Aoi.
"Masuklah," ujar Taka. "Aku tak mau kau sakit," sambungnya sambil mengusap air mata Aoi.
Aoi menggeleng. "Aku mau melihat wajahmu, sekali lagi saja."
Taka tersenyum geli. "Kau 'kan sudah melihat wajahku sekarang."
Aoi menggeleng. Dia menggigil kedinginan. Taka tahu Aoi tidak kuat dingin. Dia pernah pingsan waktu acara ski SMU Ekoda sebulan lalu.
Taka melepas jaket hitamnya. Lalu memakaikannya di tubuh Aoi yang kurus. Aoi tercengang. "Taka..." Air mata lagi-lagi mengalir pelan dari mata Aoi. Dia tidak menyangka akan bersatu dengan Taka, seperti sekarang.
"Aoi..."
Aoi menoleh. Taka tersenyum. "Bolehkah aku mengatakannya?"
Kening Aoi berkerut heran. "Ima?"
"Kimi ga daisuki."
Aku dan Kaito sampai di depan rumah berdesain Jepang kuno yang seperti Istana Jepang. Halaman rumah Kaito luas dan ada pohon jati menaungi jalan setapak yang dibuat dari batu-batuan. Rumah itu menenangkan. Seperti kehadiran Kaito, menenangkan.
"Ini rumahku. Bagaimana?"
"Utsukushii!" kataku kagum, seperti anak kecil. "Rumahmu cantik."
"Ya, cantik sepertimu."
Eh? Aku melongo. Kaito tersenyum. Aku merapatkan jaketku. "Dingin sekali malam ini."
Kaito mengangguk. Aku menoleh ke arahnya.
"Hei, Kaito. Kenapa kau selalu dingin seperti es krim? Sampai-sampai aku pernah menjulukimu sebagai ouji-toketsu," kataku penasaran.
Kaito menggeleng pelan. "Aku tidak tahu." Aku menoleh heran. "Ehh?" Alisku bertaut.
Dia mengangguk dengan wajah serius. "Sungguh! Aku tidak tahu. Tapi... aku bersyukur kau ibaratkan dengan es krim." Sesungging senyum menghiasi bibirnya.
Aku menatapnya heran. "Kenapa?"
"Es krim itu manis, 'kan?"
Aku menoleh kaget dengan tempo cepat. Wajahku sontak memerah. Kaito tertawa geli.
"Kurasa kau bisa jadi juara satu kontes wajah poker sedunia. Wajahmu itu lucu sekali." Dia mencubit pipiku gemas. "Jangan lupakan wajah pokermu, Aoko.
Aku buru-buru mengatur wajahku agar normal kembali. Aku menarik nafas. Aku menatap Kaito.
"Kau mau menunjukkan sulap mawarmu atau tidak?" tagihku, menagih janjinya. Dia terkesiap.
"Oh ya... maaf," dia buru-buru mengepalkan tangannya.
"Ayo, cepat."
Tangan Kaito bergerak cepat, memunculkan mawar. Aku langsung tersenyum. "Sugoi ne!"
Kaito langsung menyerahkan mawar itu padaku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi suhu tubuhku memanas dan menghangatkanku. Pipiku merona merah.
"Arigatou, Tuan Howard Thurston." Aku menyebutkan pesulap Inggris yang kutahu Kaito sangat mengaguminya. Kaito tersenyum pelan.
"Namaku Kaito Kuroba, pesulap yang akan menjadi Howard Thurston di masa Heisei," katanya sambil merapikan poninya.
"Kalau begitu, Tuan Pesulap... bolehkah aku tahu trik di balik sulap mawarmu?" pintaku sambil melirik jahil padanya. Dia menggeleng tegas.
"Tiidak!"
"Lalu bagaimana aku akan mengagumimu tanpa ilusi sulap?"
Kaito mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Wajahku memerah. "Ilusi sulap tidak akan menyilaukan mata wanita. Kukira kau akan tetap menyukaiku sebagai Kaito Kuroba, murid SMU biasa," katanya pelan, tepat di depan wajahku.
Aku mengangguk pasti. "Tentu saja. Aku tak mau menyukaimu hanya karena sulapmu."
"Lalu, apa kau mau mengatakannya?" lanjutku. Alis Kaito bertaut, heran.
"Apa? Trik sulap mawar itu?"
"Haah, bukan itu! Kau pesulap, apa kau tidak bisa menyulap bibirmu agar mengatakannya?" Aku memasang wajah lesu. Dia tertawa. Wajahnya tampak lucu.
"Ngg... sekalipun aku pesulap terhebat dunia, aku tetap akan mengendalikan diriku sendiri tanpa sulap. Karena, kau tahu, sulap itu hanya ilusi. Ilusi yang dapat terpecahkan sekalipun," katanya konyol. Aku mengulum senyum.
"Maka itu kau tidak mau membocorkan trik sulap mawar itu?" tanyaku sambil menatap mata onyx-nya.
"Oh? Kau tahu?" Kaito mendadak speechless.
"Tentu." Aku tersenyum geli. Bodoh, aku tahu itu sejak mendengarkan kata-katamu tentang ilusi yang dapat terpecahkan sekalipun, kataku dalam hati.
"Jadi... apa yang harus kukatakan?"
"Jangan berpura-pura bodoh, katakan saja." Aku meliriknya. Dia tahu, tapi dia berpura-pura tidak tahu. Konyol sekali.
"Aku tak tahu." Bibirnya bergetar.
Aku memasang wajah konyol. "Bodoh. Apa aku yang harus mengatakannya padamu?"
Dia menggeleng sambil tertawa. "Tidak usah! Biarkan aku yang mengatakannya padamu."
Aku mengangguk, pasti. "Kalau begitu cepat katakan."
Bibir tipis Kaito menggantung. Aku tersenyum.
"Ayo, cepatlah," desakku.
"Kimi ga daisuki."
Salju masih deras di luar sana. Tapi di dalam sini suhunya hangat, aku tahu Kaito akan menghangatkan duniaku, sampai kapanpun.
