Can I Love You? Kim Jaejoong
Title: Can I Love You? Kim Jaejoong
Genre: Drama, romance
Pairing: Yunjae
Author: KazumiHaruka17
Rating: T
Length: Chaptered
Disclaimer: Yunho milik Jaejoong. Jaejoong Milik Yunho
Warning: Yaoi, Typo(s)!
Characters: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun,Changmin,dkk.
Summary:
Aku benar – benar tidak menyesal mengundang namja cantik itu dalam hidupku. Namja yang mampu membuat detak jantungku berdetak lebih cepat hanya dengan memandangnya. Namja yang membuat seluruh perhatianku hanya tertuju padanya. Matanya yang indah seakan menghipnotisku untuk tetap memandanginya. Walaupun aku tahu caraku salah.
Review
"Sudah selarut ini kau baru pulang Jae?" tanya Junsu.
"Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan tadi su.." Jaejoong melempar senyum pada satu – satunya sahabatnya itu.
"Tapi.. tadi siapa yang mengantarkanmu pulang tadi Jae?" selidik Junsu.
"I-itu.. bosku su.." Jawab Jaejoong gugup.
"Woah.. kau bahkan sudah dekat dengannya pada hari pertama kau bekerja Jae? Jangan – jangan dia suka padamu lagi Jae..hahaha.." ucapan Junsu tadi dihadiahi deathglare gratis dari Jaejoong.
Dan.. berakhir dengan perang bantal. Bukankah tingkah laku mereka seperti Yeoja, aniya?
Disisi lain..
"I Want You Jaejoong! You must to be mine" ucap namja dengan suara yang sangat berat
CHAPTER 2
.
.
.
.
"Apa kau yakin akan terjun ke dunia bisnis seperti hyung-mu?" ucap namja paruh baya meyakinkan anak lelakinya.
"Ne appa, keputusanku sudah sangat bulat. Aku yakin akan terjun ke dunia perbisnisan seperti hyung" Jawab namja yang diajak bicara itu.
"Baiklah kalau begitu, appa akan mengirimmu kembali ke Korea. Kau akan belajar dengan terjun langsung dan appa akan meminta hyung-mu untuk membantumu dalam berbisnis"
"Ne appa.. aku akan ke Korea untuk belajar bisnis dengan hyung seperti yang tadi appa katakan" tutur namja yang lebih muda itu.
"Baiklah, besok kau akan ke Korea, tinggal bersama hyung-mu dan mengurus perusahaan appa disana"
"Aku rasa, aku tidak perlu tinggal bersamanya appa.. kami tidak terlalu dekat. Mungkin aku akan memilih membeli apartemen untukku tinggali nantinya" Sang ayah pun tidak bisa menolak,
mau buat apalagi? Hubungan anaknya ini dengan anak pertamanya memang terlihat renggang. Bahkan mereka bisa bertengkar hebat dengan beberapa masalah yang sepele saja.
"Ini tiket pesawat ke Korea, pasport, dan visa-mu" Namja paruh baya itu mengambil beberapa dokumen.
"Ne appa.. kalau begitu aku akan mengemasi barang – barangku dulu" ucap sopan sang anak kepada appa-nya.
"Changmin?" panggil appa-nya ketika namja itu hendak pergi.
"Ne appa?" jawab namja yang bernama Changmin itu.
"Jaga kesehatanmu"
"Ne, appa juga harus jaga kesehatan appa"
.
"Yunho.. bisakah kau melepaskan tanganku?" ucap namja cantik yang tangannya sedari tadi digenggam oleh yunho.
"Wae.. Joongie? Apa kau tidak suka dengan ini?" semakin erat genggamannya pada tangan Jaejoong.
"Ani.. hanya saja.." kata – kata Jaejoong tergantung lalu ia melirik keadaan ruangan sekitar.
"Karena tatapan orang lain kearah kita Jae?" tanya namja bermata musang itu.
"Tak usah khawatir.. tidak akan ada salah satu orang diantara mereka yang berani mengganggumu Jae" lanjutnya.
"Eumm.." Jaejoong menjawab dengan gumamannya.
.
.
Waktu, waktu adalah beda misterius yang bisa mematikan juga bisa menghidupkan. Ia berjalan dengan sangat cepat tanpa disadari. Di waktu yang akan datang, tidak ada seseorang yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Waktu yang telah lalu tidak dapat diulang kembali. Bahkan, tidak ada satu pun orang didunia ini yang dapat mengembalikan waktu yang telah berlalu. Waktu yang telah terjadi, maka terjadilah.. waktu yang akan datang,kita yang tentukan.
Itulah yang telah terjadi diantara Yunho dengan Jaejoong. Ya, semakin berjalannya waktu mereka terlihat semakin dekat. Tidak, lebih tepatnya Yunho-lah yang terlihat begitu agresifnya mendekati dan mengakrabkan dirinya dengan Jaejoong. Sudah 4 bulan Jaejoong bekerja di 'Jung Corp' dan sudah 4 bulan juga Yunho berusaha mendekati Jaejoong. Seakan Jaejoong adalah miliknya. Dari Jaejoong berangkat ke kantor, istirahat makan siang, sampai Jaejoong pulang ke apartement miliknya, Yunho tidak akan membiarkan namja cantik itu melakukan sesuatu sendiri apalagi sampai ada karyawannya yang lain mendekati Jaejoong. Yeoja maupun namja, tetap saja Yunho tidak suka. Yunho akan senantiasa mengancam dengan tatapan sinis kepada siapapun yang mendekati sesuatu 'miliknya' itu. Alhasil, jarang ada orang yang mendekati Jaejoong.
YUNHO POV ~
Seperti biasa, tiap pagi di hari kerja aku menjemput Jaejoong untuk ke tempat kami bekerja. Aku berjalan dilobi kantor dengan menggandeng tangan Jaejoong. Setiap ia lengah, ku alihkan pandanganku kearah namja cantik yang mengubah duniaku itu.
Kulihat dari kejauhan kearah lift, ku lihat namja yang familiar dimataku. Namja yang memiliki tubuh tegap dengan tinggi diatas rata – rata, bahkan lebih tinggi sedikit dengan tinggiku. Benar – benar tidak terlihat asing dimataku. Karena rasa penasaranku aku tetap menatap gerak geriknya, ia memalingkan wajahnya sehingga aku dapat melihat wajahnya dari ke jauhan. Ia terlihat lebih muda daripadaku. Aku dan Jaejoong berjalan semakin lama, semakin dekat dengannya. Ku sipitkan mataku, Tunggu! Itu?!
"Annyeong hyung.." ucap namja itu padaku.
Jaejoong yang disebelahku menolehkan pandangannya kepadaku seolah bertanya 'Siapa orang itu?'
"Ne, annyeong Changmin-shii" ucapku datar.
"Hyung.. jangan se-formal itu padaku. Walaupun kita dilahirkan dari rahim yang berbeda, aku masih tetap menjadi dongsaeng-mu" ucap Changmin dengan nada mengintimidasi.
"Untuk apa kau disini?" ucapku langsung pada intinya.
"Aku akan terjun di dunia perbisnisan sepertimu, aku juga ingin mengurus cabang perusahan appa. Appa sudah setuju dengan keputusanku dan ia mengirimku kesini untuk belajar bisnis lebih mendalam denganmu"
"Appa?" ucapku canggung.
"Eum.. appa sudah mengizinkan ku" lanjut namja jangkung itu.
Aku menekan tombol lift dan menarik tangan Jaejoong untuk masuk bersamaku. Ketika pintu lift hendak tertutup, orang yang mengusik hidupku itu tiba – tiba menahan pintu lift dan langsung masuk kedalam.
Tidak membutuhkan waktu yang lama sampai pintu lift itu kembali terbuka pada lantai yang kami tuju. Tapi tiang listrik itu tetap saja membuntutiku dan Jaejoong. Changmin berjalan melalui kami, lalu menghentikan jalan kami.
"Hyung, kau tak pernah kelihatan sedekat ini dengan seseorang.. bahkan dengan Yoochun hyung, sahabatmu sendiri kau masih terlihat begitu tertutup padanya" ucapnya dengan nada tak percaya.
"Urusi saja kehidupanmu sendiri Changmin-shii" ucapku dining.
Tapi sepertinya si tiang listrik ini tak mau mendengar.
"Annyeong.. Jung Changmin imnida.." ia mengulurkan tangannya kepada Jaejoong.
"Annyeong Changmin-shii, nanaeun Kim Jaejoong imnida.." ucap Jaejoong ramah.
Ketika Jaejoong hendak mengulurkan tangannya kepada Changmin, aku langsung dengan cepat menyambar tangan Jaejoong dan langsung menariknya kedalam ruanganku.
AUTHOR POV ~
Yunho terlihat menarik Jaejoong dengan paksa dengan paksa kedalam ruangannya. "BAAMM!" suara bantingan pintu menggema di seluruh ruangan di lantai tersebut. Terlihat namja jangkung melihat beberapa dokumen ditangannya.
"Kim Jaejoong, 26 Januari, Yonsei University, namja yang cantik.. dan menarik" Ucap Changmin pada angin yang berlalu.
.
.
"Jae.. ini sudah istirahat makan siang, apa kau tidak lelah berpacaran terus dengan komputer itu eoh?" Tegur namja yang memiliki tinggi diatas rata – rata disampingnya.
"Ah~h, ne?" namja yang diajak berbicara mengalihkan pandangannya keruangan khusus tempat atasannya berada.
"Sajangnim belum keluar dari ruangannya. Ku pikir.. aku akan menunggunya untuk makan siang nanti Changmin-shii" lanjut namja cantik ini.
"Makan sianglah bersamaku Jae.." rayu Changmin.
"Kau duluan saja Changmin-shii.. aku akan menyusul setelah sajangnim keluar dari ruangannya"
"Oh, ayolah Jae.. kau tidak menerima tawaranku untuk makan siang bersama sejak aku datang kesini. Kau mau kan jadi temanku Jae?" tutur Changmin pada Jaejoong.
"Tapi.." Jaejoong ragu menerima tawaran Changmin.
Memang sudah dua bulan Changmin bekerja di perusahaan,tapi tidak satu kali pun Jaejoong menerima tawaran Changmin walaupun itu hanya mengajaknya untuk makan siang. Jaejoong terlihat masih memandang pintu ruangan Yunho, berharap pintu itu segera terbuka dan menampakkan sosok yang ia tunggu dari tadi.
"Oh, ayolah Jae.." ucap namja yang ada didepannya.
"Tapi.. biasanya jika aku makan siang dengan orang lain, sajangnim akan marah pada orang yang mengajakku untuk makan siang bersama" ucap Jaejoong.
"Ah.. dia sudah terbiasa marah padaku.. hyungku yang jelek itu kalau marah hanya sehari, nanti juga baik lagi.. keesokan harinya" Jaejoong masih ragu.
"Ayolah Jae.. cacing – cacing diperutku ini sudah berdemo meminta jatahnya" tangan kiri Changmin memegang perutnya sendiri, dengan memasang wajah memelas pada Jaejoong. Sedangkan tangan kanannya ia pakai untuk menarik tangan kiri Jaejoong.
"Ah.. ne.. ne.." akhirnya Jaejoong bangkit dari singgahsana tersayangnya.
.
.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya namja tampan itu keluar dari ruangannya. Ia melihat meja sekertarisnya Kim Jaejoong, yang telihat kosong. 'Ah.. mungkin ia sedang ke toilet' pikir namja tampan itu. Ia pun duduk dikursi sekertarisnya, menunggu sosok namja cantik itu.
Wajah namja tampan itu terlihat musam, bagaimana tidak? sosok yang ditunggunya sedaritadi lamanya belum menunjukkan batang hidungnya sedikitpun. Sekitar tiga puluh menit lebih namja tampan itu menunggunya dikursi singgahsana sang sekertarisnya.
Akhirnya, sosok namja cantik yang ditunggunya itu muncul dihadapannya. Tunggu, Jaejoong tidak sendiri. Namja bermata musang ini memincingkan mata musangnya, agar dapat melihat namja disebelah Jaejoong yang ternyata adalah 'Changmin'? gumam Yunho dalam hati. Terlihat namja cantik itu sedang berbincang dengan namja jangkung disebelahnya, sesekali Jaejoong terlihat tertawa dengan namja jangkung itu. Tidak sadarkah mereka jika ada sepasang mata musang yang menatap mereka tidak suka?
Jaejoong dan Changmin berhentik beberapa senti dari meja Jaejoong, mereka terkejut. Ternyata Yunho terlihat sedang menanti seseorang yang jelas Jaejoong tahu, seseorang yang ditunggu oleh Yunho adalah dirinnya sendiri.
"Ekhm.. kau dari mana saja Jae?" ucap Yunho datar, dan.. dingin.
"A-akku.. t-tadi makan siang dengan Changmin-shii sajangnim" ucap Jaejoong takut.
"Aku sudah bilang kan Jae.. untuk tidak makan siang bersama siapapun kecuali aku? Berapa kali aku harus mengingatkanmu Jae, agar kau tidak makan siang dengan orang lain?" Yunho terlihat meninggikan nada bicaranya.
"T-tapi Yun.."
"Dengar Jae.. kau hanya boleh makan siang denganku, ku ulangi lagi HANYA BOLEH DENGANKU!" bentak Yunho.
"Kau tidak berhak mengurus urusan pribadinya hyung.." Changmin akhirnya buka suara.
"Apa kau bilang?!" tatap tajam Yunho padanya.
"Kau memang atasannya hyung! Tapi kau tidak bisa seenaknya mengatur kehidupan pribadi Jaejoong, hyung!" ucap Changmin yang tak kalah tinggi nada bicaranya.
"Sudah, ikut denganku Jae!" Yunho menarik tangan Jaejoong dengan kasar meninggalkan Changmin.
"Ah! Yun.." terlihat Jaejoong melepaskan tarikan tangan Yunho pada tangannya, ia mengusap pergelangan tangannya.
"Apa sakit?" ucap Yunho dingin.
Jaejoong yang mengetahui atasannya berubah itu hanya bisa menggelengkan kepalanya takut. Melihat reaksi Jaejoong, Yunho menarik tangan Jaejoong lagi menuju ruangannya.
"BAAMM!" lagi, suara bantingan pintu itu kembali terdengar dipenjuru ruangan di lantai tersebut.
Terlihat hening suasana diruangan yang ditempati dua namja tersebut. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari keduanya. Hingga salah satu diantaranya akhirnya angkat bicara,
"Y-yuun.. M-miaan.. M-mianhae" ucap Jaejoong memberanikan diri walaupun suaranya terdengar gemetar.
"Yun.."
"..." tidak ada tanggapan dari Yunho.
"Kenapa kau tidak mengerti juga apa yang ku beritahu padamu Jae?" akhirnya namha mata musang itu mengeluarkan suaranya.
"Kenapa kau pergi bersama Changmin Jae?" ucapnya lirih.
"Dengan Changmin?!" lanjutnya lagi.
"M-me.. M-memangnya kkenapa kalau aku dekat dengan Changmin,Yun? Dia kan saudaramu?" ucap Jaejoong memberanikan diri.
"KENAPA?! Kau tanya KENAPA?! Jae!" pekik Yunho kasar.
Terlihat air mata Jaejoong yang sedari tadi ia tahan agar tidak tumpah dari bendungannya, akhirnya tumpa juga.
"T-tapi Yun.. Hikss.. hikss.." Yunho tidak tega dengan Jaejoong.
Mungkin, memang kali ini iya sedang benar – benar kelewatan. Ia menghampiri Jaejoong didepannya yang sedang menutupi wajahnya karena tidak ingin memperlihatkan tangisannya.
"Ssstt.. Uljima Jae.." Yunho mengusap – usap punggung Jaejoong sambil mengeratkan pelukannya.
"Ssstt.. mianhae, tadi aku terlalu terbawa eosi Jae.. mianhae.." Yunho beralih mengusap rambut Jaejoong dengan rambutnya.
Jaejoong yang mendengar tuturan Yunho mengangguk sambil merenggangkan pelukan Yunho.
"Aku juga minta maaf Yun.. hikss" ucap Jaejoong yang terlihat sedang berusaha memberhentikan tangisannya.
"Kau mau aku memaafkanmu Jae?" Jaejoong Mengangguk.
"Tapi ada syaratnya Jae.." dan tampaklah seringai Yunho tanpa Jaejoong sadari.
"Apa Yun?" tanya Jaejoong polos.
"Kau tahu kan minggu besok perusahaan akan meliburkan karyawannya karena sebelum kau bergabung disini perusaah merayakan ulang tahunnya yang ke-57?" Jaejoong mengangguk.
"Bagaimana jika kau menginap dirumahku?"
"M-mwo?"
"Kalau kau tidak mau ya.. sudah, aku tidak akan-"
"Bagiklah"
"Apa?"
"Aku akan menginap dirumahmu minggu depan Yun.."
"Kalau begitu, sekarang aku sudah memaafkanmu Jae.."
"Ne.."
.
.
.
To Back Continued
