Can I Love You? Kim Jaejoong

Title: Can I Love You? Kim Jaejoong

Genre: Drama, romance

Pairing: Yunjae

Author: KazumiHaruka17

Rating: T

Length: Chaptered

Disclaimer: Yunho milik Jaejoong. Jaejoong Milik Yunho

Warning: Yaoi, Typo(s)!

Characters: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun,Changmin,dkk.

Summary:

Aku benar – benar tidak menyesal mengundang namja cantik itu dalam hidupku. Namja yang mampu membuat detak jantungku berdetak lebih cepat hanya dengan memandangnya. Namja yang membuat seluruh perhatianku hanya tertuju padanya. Matanya yang indah seakan menghipnotisku untuk tetap memandanginya. Walaupun aku tahu caraku salah.


Update kilat, karena Zumi sedang galau (?)

Review:

"Bagaimana jika kau menginap dirumahku?"

"M-mwo?"

"Kalau kau tidak mau ya.. sudah, aku tidak akan-"

"Bagiklah"

"Apa?"

"Aku akan menginap dirumahmu minggu depan Yun.."

"Kalau begitu, sekarang aku sudah memaafkanmu Jae.."

"Ne.."

CHAPTER 3

.

.

.

.

Namja Cantik terlihat anggunnya sedang mengemasih beberapa helai pakaiannya, ia ingin memenuhi janji yang selalu ia tepati.

"Jae.. pagi – pgi begini kau mau kemana? Bukankah kau bilang jika minggu ini perusahaan tempatmu bekerja sedang meliburkan karyawannya? mau dikemanakan pakaianmu itu? Dan.. untuk apa koper itu?" Baru saja Jaejoong ingin menjawab pertanyaan sahabat tersayangnya, namja yang tak kalah cantik darinya itu meneruskan kalimatnya tanpa titik dan koma.

"Kae ingin berlibur Jae? Kau tidak mengajakku? Teganya kau Jae.. kupikir selama ini kita adalah sahabat, tapi kau tidak menganggapku begitu.." tatap murung Junsu

"Suiiee! Dengarkan aku dulu!" teriak Jaejoong sayang pada namja dihadapannya.

"Bos-ku.. ani.. aku.. ada janji dengan bos-ku.."

"Lalu?" tatap Junsu ingin tahu.

"Aku membuat kesalahan kecil yang membuatnya marah"

"Lalu?"

"Sebagai permintaan maafku,dia memintaku untuk menginap dirumahnya besok"

"Lalu?" terlihat Junsu mulai tersenyum geli.

"Mungkin aku akan menginap dirumahnya selama.. ya.. tiga sampai lima hari"

"Lalu?" Hari Jum'at pagi aku usahakan sudah pulang"

"Lalu?" " Lalu.. lalu.. lau.. Apalagi yang kau maksudkan su?" ucap Jaejoong kesal.

"Benar dugaanku selama ini Jae"

"Maksumu apa sih Kim Junsu?"

"Dia.. bos-mu.. menyukaimu, kau saja yang tidak 'peka' padanya" tutut sahabatnya.

"Tidak mungkin Su.. dia bos-ku, hubungan diantara aku dengan Yunho hanya sebatas partner kerja.. sebagai Bos dan sekertarisnya.

Dan Jangan berpikir macam – macam jika kau masih ingin aku masakan makanan setiap hari"

"Hihihi.. padahal jika ada 'sesuatu' yang terjadi diantara kalian, aku akan setuju sekali Jae.. " Ucapnya.

Jaejoong menghadiahi death glare gratis untuk sahabatnya itu, dan berjalan menuju pintu rumahnya.

.

.

.

"Ini.. terimakasih Ahjusshi.. " ucap Jaejoong kepada supir taxi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Ne.. hati – hati agasshi.." ucap lelaki paruh baya tersebut.

"Ah, ne.. tapi aku laki – laki ahjusshi.." ucap Jaejoong dari kejauhan.

.

.

"Apa benar ini rumahnya?" Jaejoong melirik sebuah kertas yang berisikan alamat tempat tinggal atasannya.

"Kalau benar ini rumah Yunho.. apakah ini pantar disebut rumah? Bahkan.. besarnya sepuluh ani.. lebih.. lebih.. besar dibanding apartementku dengan Junsu" Jaejoong terkagum.

Terlihat dari kejauhan rumah mewah dan megah yang tertutup gerbang otomatis, dan beberapa security didekat gerbangnya.

"Annyeonhaseyeo.. Jaejoong imnida, apa betul ini rumah dari tuan Jung Yunho?" sapa Jaejoong sopan.

"Anda yang namanya Kim Jaejoong?" ucap salah satu security disana.

"N-nee.." jawab Jaejoong.

Tiba – tiba salah satu security mendekati Jaejoong lalu memeriksanya memakai alat interograsi. Jaejoong terlihat terkejut, bagaimana tidak? ingin masuk kerumahnya saja sudah sangat repot begini.

"Yak, Kim Jaejoong-sshi.. kau boleh masuk" ucap security yang memeriksanya tadi.

"N-ne.." ucap Jaejoong sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.

Pintu gerbang pun terbuka dengan otomatisnya. Jaejoong melangkahkan kakinya sambil bertakjub ria.

"Jaejoong-sshi.." panggil salah satu staff disana sambil mengendarai mobil golfnya.

"A-ah.. N-ne?"

"Naiklah.. saya akan mengantarkan Jaejoong-sshi ke Mansion" tawarnya sopan pada namja cantik itu.

"Ah.. ne.. ne.." jawab Jaejoong. Kendaraan itupun berjalan dengan kecepatan sedang. 'Pantas saja orang ini menawarkan tumpangan.. jarak antara pitu gerbang dengan rumahnya saja akan cukup membuat kakinya langsung pegal – pegal', batin Jaejoong. Kalian bisa perkirakan jaraknya sendiri.

.

.

"Jaejoong-sshi.. ini mansionnya, silahkan anda masuk.. tuan muda sudah menunggu anda sejak tadi" ucap namja yang memberi tumpangan kedapanya tadi.

"Ne.. gamsahamnida" ucap Jaejoong sopan.

Beberapa menit yang lalu Jaejoong dikejutkan dengan penjagaan yang ketat dan arisitektur rumah yang memukau, sekarang namja cantik ini dikejutkan lagi karena tidak ada tanda – tanda kehidupan didalam mansion yang megah ini. Bahkan tidak ada satupun security, staff, bodyguard, maupun maid disini.

Beberapa menik kemudian keluarlah sosok namja tampan dengan mata musangnya mengenakan pakaian santai miliknya tanpa sedikit pun mengurangi ketampanannya.

"Jae..?" panggil namja tampan itu.

"Yunho.." Jawab Jaejoong di depannya.

"Selamat datang dirumahku Jae.. anggaplah rumahmu sendiri" sambut namja tampan itu yang terdengar canggung.

"Ah.. N-nee"

.

.

Setiap pagi di rumah atasannya itu, ia selalu menyiapkan sarapan untuk namja tampan yang memintanya untuk menginap. Makan siang pada siang hari dan sebagai penutupnya hari, ia menyiapkan makan malam dengan rapi.

Sudah empat hari namja cantik itu berada dirumah Yunho,sudah empat hari juga ia melakukan pekerjaan layaknya seorang istri. Mulai dari makan, sampai pakaian.. ia selalu turun tangan untuk bersikap.

Tampak namja cantik bermata doe-eyes itu dengan anggunnya berkutat dengan beberapa peralatan didapur yang megah. Jaejoong terlihat semakin cantik jika sedang melakukan pekerjaan dapurnya. Tidak lama kemudian terlihatlah namja tampan sedang menuruni anak tangga tempat tinggalnya.

"Jae.. kau sedang memasak?" namja tampan itu mengalungkan lengannya dari belakang dipinggang ramping namja didepannya.

"E-eum.." namja didepannya hanya bisa tergugup karena perbuatan Yunho.

"Aromanya sangat harum Jae.. pasti masakannya sangat lezat seperti biasa.." Yunho pun mencium pipi namja yang dirangkulnya itu.

'Blush' pipi Jaejoong merona merah, hawa disekitarnya tiba – tiba terasa meninggi karena Yunho mencium pipinya.

"Yun, kau tunggu saja dimeja makan, masakannya bisa gosong jika kau disini karena menganguku terus" ucap sang pemilik bibir Cherry itu.

"Baiklah.. My BooJae.." namja yang diajak bicara melangkahkan kakinya meninggalkan dapur itu dan tinggallah seorang namja lainnya.

'Lagi, entah berapa kali Yunho memanggilku dengan sebutan 'My BooJae', tetapi setiap ia memanggilku dengan sebutan itu, wajahku memanas dan detak jantungku semakin cepat, seperti ingin copot rasanya' batin Jaejoong.

.

.

"Aku sudah selesai.." Jaejoong membawa hasil karyanya itu dan meletakkannya dimeja yang ditempati Yunho.

"Woah.. lezat sekali Jae, masakanmu paling enak" aku Yunho padanya.

"Hehe.. gomawo Yunho-ah.." terlihat namja tampan itu memakan masakan Jaejoong tadi dengan lahapnya.

Jaejoong teringat, ia masih memiliki pertanyaan untuk ditanyakan kepada Yunho yang sedari awal mengganggu pikirannya walaupun menurutnya itu hanya masalah kecil, tapi 'janggal'.

"Eum.. Yu, ada yang ingin aku pertanyakan padamu dari awal"

"Apa yang mengganggu pikiran BooJae-ku ini, eoh?" goda Yunho pada Jaejoong.

"Aku tahu, ini pertanyaan aneh, sepele, dan tidak penting tentunya.."

"Katakan saja Jae.."

"Itu.. diluar rumahmu ini, banyak sekali penjaga dan para staff, tapi kenapa didalam rumahmu tidak ada orang lain.. seperti Maid dan lainnya? Bahkan orang tua-mu dan adikmu Changmin tidak tinggal disini bersamamu" tanya Jaejoong hati – hati.

Tatapan Yunho padanya berubah, wajah Yunho yang tadinya ceria menjadi murung karena mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jaejoong padanya.

"Itu.. Kalau ibu-ku.. sudah bersama Tuhan Jae, ayahku memilih untuk tinggal bersama keluarga barunya termasuk Changmin di Amerika. Dan yang lainnya.. entah mengapa aku merasa tidak nyaman jika berdekatan dengan orang lain Jae.. Aku sudah terbiasa hidup sendiri" Jawab Yunho lirih.

"Aku turut berduka akan ibumumu, maaf jika kata kataku-"

"Tidak apa – apa.." Yunho mengubah raut wajahnya menjadi ceria kembali walaupun dengan terpaksa.

"Tapi kau kelihatannya tidak apa – apa ketika aku tinggal disini bersamamu?" tanya Jaejoong polos.

"Itu karena kau berbeda Jae.." Yunho memasangkan senyuman di bibir hatinya itu, mengecup kening Jaejoong singkat.

"Cause You're special for me Jae" lanjut namja tampan itu.

Membuat wajah Jaejoong yang sudah memerah tambah memerah seperti buah tomat dibuatnya. Senyum tipis pun menghiasi wajah namja cantik itu.

.

.

"Jae.. aku keluar sebentar, aku ingin memberikan beberapa dokument penting ini ke Yoochun,rekan kerja sekaligus sahabatku itu" tutur Yunho.

"Eum.. Hati – hati ne?" Yunho menyempatkan diri untuk mencium kembali kening Jaejoong sebelum ia meninggalkan namja cantik itu sendirian dalam mansionnya.

.

.

Jaejoong sudah menyapu dan membersihkan beberapa ruangan dirumah itu. Ia membuka pintu kamar Yunho yang mewah, dan mulai membersihkan ruangan itu. Tiba – tiba, entah mengapa Jaejoong ingin sekali buang air kecil. Sungguh, ia sudah tidak tahan jika harus ke toilet kamarnya 'lebih baik aku meminjam kamar mandi Yunho saja dari pada aku harus pipis ditengah jalan' pikinya.

.

.

Setelah selesai ia membuang hasil zat eksresi dari tubuhnya itu, ia mencuci tangan pada wastafel dikamar mandi itu. Diliriknya sebuah lemari kaca yang dengan ukuran sedang yang berdiri dengan anggunnya didekat bathub. Entah mengapa Jaejoong ingin sekali membuka lemari yang berdiri dengan anggunnya itu. Karena rasa penasarannya yang tak bisa ia tahan, ia melangkah mendekati lemari itu dan membukanya. Ia terkejut dengan isi lemari itu, betapa tidak? isi dari lemari ini semuanya adalah obat – obatan, entah obat macam itu.. Jaejoong sama sekali tidak tahu jenis obat apa yang disimpan Yunho dalam kamar mandinya. Dilihatnya obat tersebut satu persatu, hanya ada satu obat yang Jaejoong tahu. Obat itu adalah 'obat penenang' jenis 'Diazepam' yang digunakan oleh pengguna untuk mengurangi rasa kecemasan dan mengatasi kejang. Jenis obat penenang ini memiliki efek penenang yang cukup kuat. Entah apa yang dipikirkan Yunho untuk menyimpan obat – obat tersebut. 'Mungkin karena pikirannya bercabang akibat mengurusi perusahaan' pikir Jaejoong dan lagi memang tidak ada urusannya kan dengan dirinya? Jaejoong yang tak ingin berlama – lama di dalam kamar mandi itu akhirnya keluar dan melanjutkan membersihkan kamar Yunho.

Ia kembali merapikan berkas yang tidak tersusun rapi di atas meja kerja Yunho. Ia memilah – milah berkas berkas itu sesuai dengan jenisnya. Setelah tumpukan berkas tersebut rapi diatas meja, Jaejoong hendak meletakan semua berkas itu di laci – laci meja kerja Yunho. Ketika ia membuka laci paling bawah, ia melihat sebuah dokumen asing. 'Mungkin berkas yang lain' pikir Jaejoong, karena ia harus memisahkan berkas sesuai jenisnya, ia membuka dokumen itu dan membacanya. 'Jung Yunho, 6 februari, 26 tahun ...' Jaejoong segera menutup dokumen itu cepat – cepat dan meletakkannya pada tempat semula. Berkas – berkas yang sudah ia rapikan ia biarkan menggeletak dengan rapi diatas meja kerja Yunho. Ia kembali masuk ke kamar mandi Yunho, membuka lemari kaca itu. 'Jadi, untuk itu kau menyimpan obat – obatan ini Yun? Kenapa bisa terjadi padamu Yun? Apa kau sudah lelah untuk hidup?' batin Jaejoong, tiba – tiba air mata itu jatuh dari bendungannya.

.

.

.

To Be Countinued