I DON'T THINK THAT I LOVE YOU
Yay, finally I updated it
Sorry kalau memakan waktu cukup lama karena belakangan ini sibuk sekali. Pekerjaan di kantor menumpuk (I'm still 19 YO). Waktu libur pun harus ke dokter gigi. Hehehe.
Well, tidak mau berpanjang lebar lagi, please enjoy…
Disclaimer: Bleach is not mine and never be mine. It's belongs to Tite Kubo sensei forever (peace)
Chapter 2
Rukia POV
Hampir saja Aku terlambat menghadiri upacara penerimaan siswa baru. Dengan terengeh-engah Aku memasuki gedung olah raga dan mencari bangku kosong terdekat.
Upacara penerimaan murid baru berjalan dengan sangat membosankan. Diawali dengan pidato penyambutan dari kepala sekolah yang sangat memakan waktu. Lalu di lanjutkan dengan pidato dari ketua yayasan yang juga pemegang saham terbesar sekolah ini. Aku sama sekali tidak menaruh perhatian pada hal-hal tidak berguna itu. Aku lebih memilih untuk larut dalam pikiranku sendiri, membayangkan hal-hal menarik yang akan terjadi padAku.
Teriakan histeris murid-murid menyadarkanku dari dunia imajinasiku. Aku pun penasaran dengan hal yang membuat seluruh kaum hawa di gedung ini berteriak histeris.
Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah podium. Dan apa yang kulihat cukup menarik perhatianku. Aku pun melihat buku acara yang sedari tadi kuletakkan di bangku kosong di sebelahku. Ternyata acara telah sampai pada pidato Ketua OSIS SMA Karakura.
"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, nama Saya Shiba Kaien, siswa tahun kedua di jurusan seni rupa. Saya telah diberi kehormatan dan kepercayaan untuk menjabat posisi ketua OSIS SMA Karakura. Pada kesempatan ini, Saya ingin mengucapkan selamat datang kepada murid-murid tahun pertama. Tahun pertama adalah saat terpenting karena kalian harus memutuskan jurusan yang akan kalian ambil di tahun kedua. Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Apabila kalian menemui kesulitan, tidak perlu ragu untuk bertanya kepada senior kalian. Kami akan merasa sangat senang. Saya rasa cukup pidato dari saya. Semoga tahun pertama kalian berjalan dengan lancar. Sekali lagi, selamat bergabung dengan keluarga besar SMA karakura. Selamat pagi." dengan itu berakhirlah pidato dari ketua OSIS yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan histeris kaum hawa.
Aku tidak bisa mengedipkan mataku selama pidato itu berlangsung. Sosoknya yang tegas dan berwibawa, seketika itu juga menarik perhatianku. Caranya menyampaikan pidato itu sangat luar biasa. Pandangannya terhadap senioritas di sekolah pun pantas diacungi jempol. Sikap sopan dan rendah hatinya pun mampu membuat semua orang hormat padanya. Tidak heran di tahun kedua Dia bersekolah di sini, Ia mampu dan dipercaya untuk menduduki posisi Ketua OSIS.
' Tunggu... Shiba? Dimana aku pernah mendengar nama itu? Sepertinya nama itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Ah, biarlah, siapapun Dia, Ia adalah orang yang telah dan mampu mencuri perhatianku. Aku berharap bisa berbicara dengannya walaupun hanya sekali.
Sekali lagi aku tenggelam dalam pikiranku. Saat aku tersadar, kepala sekolah telah menginstruksikan para murid untuk menuju kelas masing-masing. Nomor kelas tiap siswa dapat dilihat di kartu pelajar masing-masing. Dan milikku menujukan kelas 1-1. Dan aku pun berdiri dari tempat dudukku dan beranjak keluar dari gedung olah raga menuju kelas baruku.
Ichigo POV
Melihatnya terburu-buru menuju gedung olah raga, aku pun sadar bahwa aku hampir saja terlambat untuk menghadiri upacara penerimaan murid baru. Dengan menjaga jarak dengannya, aku berlari mengikutinya menuju gedung olah raga. Sete;ah melihatnya duduk di sebush kursi kosong, aku pun memilih tempat duduk tak jauh darinya. Dan aku bersyukur mendapatkan tempat terbaik untuk melihatnya.
Upacara penerimaan murid baru di awali dengan pidato dari kepala sekolah yang membosankan dan dilanjutkan dengan pidato ketua yayasan yang juga pemilik saham terbesar sekolah ini yang sangat memuakkan. Aku sama sekali tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang tidak berguna itu. Aku lebih memeilih untuk mengalihkan perhatianku pada sosok mungil yang kuyakini akan membuat hari-hariku di sekolah ini menjadi menarik. Aku melihat bahwa dia pun tidak menaruh perhatian sama sekali pada sekelilingnya saat ini. Sepertinya dia tengah terlarut dalam pikirannya sendiri dan sedang berada dalam dunia imajinasinya sendiri. Aku menjadi penasaran akan apa yang tengah dipikirkannya. Tapi melihat wajahnya yang tenang dan santai membuat jantungku mulai berdetak lebih cepat.
' Hei, apa yang terjadi padaku? Mengapa jantungku berdebar seperti ini? Apa mungkin aku...' pikiranku terganggu oleh kegaduhan yang terjadi di dalam gedung.
Aku pun melihat mimik wajahnya yang berubah seketika. Sepertinya dia pun dikejutkan olah teriakan histeris yang tiba-tiba saja memenuhi gedung olah raga.
'Ada apa sebenarnya,'pikirku dalam hati.
Seketika itu juga aku melihat kearah podium dan mendapati sosok yang ku asumsikan sebagai penyebab kegaduhan ini. Setelah kegaduhan mereda, dia pun memulai pidatonya. Mendengar pidatonya, aku mengetahui bahwa dia adalah ketua OSIS sekolah ini. Menilai ini sebagai hal yang juga tidak penting, aku mengalihkan pandanganku kembali kepada sosok mungil favorit ku. Dan yang mengejutkanku adalah, wajahnya yang memandang lurus pada sosok yang kini tengah berbicara di podium. Mencoba untuk menyangkal pikiranku, aku melihatnya lalu melihat apakah yang tengah dilihat olehnya. Dan apa yang kudapati cukup membuat hatiku hancur berantakan. Seketika itu juga, aku menyadari perasaan baru yang lahir di hati malaikat kecilku itu. Caranya memandang orang itu sangat berbeda. Sinar matanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang terpendam di hatinya. Sekuat tenaga aku berusaha untuk menyangkal hal itu. Tapi gerak-geriknya sudah cukup membuktikan dan menunjukan apa yang dipikirkanya. Aku menatap kembali sosok di podium itu dan bersumpah pada langit bahwa aku tidak akan memberikan malaikat kecilku pada siapa pun. Terutama dia.
Aku pun kembali tenggelam dalam duniaku sendiri. dan mulai bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku tidak mau gadis itu direbut oleh orang lain. Padahal aku baru saja berjumpa dengannya. Bahkan namanya saja aku tidak tau. Tapi perasaan yang ada saat ini sangat kuat. Seperti perasaan yang sudah ada sedari dulu.
Tanpa terasa upacara penerimaan murid baru pun telah berakhir. Kepala sekolah memerintahkan para murid untuk bergegas menuju ruang kelasnya masing-masing. Nomor kelas tiap siswa dapat dilihat di kartu pelajar masing-masing. Dan milikku menujukan kelas 1-1. Dengan pikiran yang lelah, aku berdiri dari bangkuku dan beranjak menuju ruang kelasku.
Di Ruang Kelas
'Ini adalah kelasku selama satu tahun kedepan,' pikirku sambil menghela nafas panjang.
" Ichigo..."
Aku seperti mendengar seseorang berteriak memanggil namaku. Setelah aku mengetahui siapa orang itu, aku kembali menghela nafas panjang
"Ichigo. Aku senang kita kembali sekelas. Oh.. mungkinkan ini takdir?"
Mendengar ucapan orang itu, tanpa sadar aku memutar bola mataku dan kembali menghela nafas panjang
"Ada apa Ichigo? Kenapa dari tadi kau terus menghela nafas panjang seperti itu?" tanyanya. " Apa kau tidak senang kembali satu kelas dengan ku?" lanjutnya dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Hentikan Keigo. Enyah dari hadapan ku atau ku patahkan hidungmu itu," jawabku.
"Ara... Jangan seperti itu, Ichigo. Kita ini kan..."
Tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya, aku telah meletakkan tinjuku tepat di hidungnya. Keigo pun terjatuh dan mulai menangis. Lebih tepatnya pura-pura menangis.
"Ya ampun Asano-san. Hentikan tangisan mu itu sebelum membuat semua orang mulai menjauhimu." Kata Mizuhiro
"Mereka memang sudah menjauhiku sejak SMP, Mizuhiro." Katanya
"Ngomong-ngomong ichigo,"kata mizuhiro tidak mendengarkan tangisan Keigo yang semakin terisak-isak. "Apakah kau dengar bahwa akan ada murid baru diangkatan kita?"
"Tidak. Aku kira angkatan kita akan sama seperti saat kita di SMP dulu." Jawabku.
"Pertama aku pun menduga seperti itu. karena sudah terjadi di angkatan diatas kita, bahwa tidak ada murid baru tiap tahun pertama di SMA. Karena sekolah kita ini menganut sistem eskalator. Menurut gosip, murit pindahan tersebut berasal dari Tokyo." Kata Mizuhiro menjelaskan.
"Hmm" Jawabku pendek
"Ok class... Tolong duduk di kursi masing-masing. Kita akan memulai pelajaran hari ini." Sapa guru wali kelasku yang disambut dengan gerutuan murid-murid.
"Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, sekolah kita kedatangan murid baru. Dia berasal dari Tokyo. Silahkan masuk dan perkenalkan dirimu"
Saat aku melihat siapa orang yang dimaksud, seketika itu juga jantungku berhenti berdetak untuk sesaat.
'Oh.. Tuhan pasti sangat sayang padaku'
Well, that's the end of this chapter
Aku tau ceritanya sangat klasik. Juga sangat pendek. Aku janji di chapter berikutnya akan berbeda (I hope so).
Sistem eskalator itu maksudnya sistem dimana murid-murid dari sebuah SMP masuk ke SMA yang berada dalam satu yayasan dengan SMP-nya.
Setiap kali aku membuat cerita, parsti aku mendengarkan lagu sambil mencari inspirasi. Dan theme songs kali ini adalah :
"Teenagers" by My Chemical Romance
"Stand By Me" by SHINEE (OST Boys Before Flowers)
"My Love" by Westlife
"Saikou no Kataomoi" by Tainaka Sachi (OST Saiunkoku Monogatari)
Bagi yang memiliki suggestion lagu, info aku yaach..
And Thank you so much untuk semua teman-teman yang sudah memberikan masukan dan Reviews. Aku tidak pernah menganggap review kalian sebagai flames. Aku menganggapnya sebagai kritik yang membangun. Di chapter selanjutnya akan ku sisipkan ucapan terima kasih ku pada kalian semua secara pribadi.....
And many thanks untuk semua pembaca
Big Bears hugs for all of you
Aku tetap mengharapkan saran, masukan, nasihat, juga kritik dari kalian semua (masih amateur sich)
See you next time......
