Title: Change
Rating: T of course! Gak bisa bikin yang M… hiks…
Summary: (AU) Zoro dan Zero, atau yang lebih dikenal dengan zetsu pada saat menjalankan 'misi', adalah dua anak kembar yang tak pernah membuka hati mereka pada siapapun, namun apa jadinya jika mereka bertemu dengan Tobi, anak pindahan baru yang misterius di sekolah?
Disclaimer: I own nothing in Naruto except my own story!
A/N: Karena ada yang bingung, saya tambahin keterangan di sini:
Zoro = Zetsu Putih
Zero = Zetsu Item
"Hello" = Zoro's talking
"Hello" = Zero's talking
"He… llo" = Zetsu's talking
Change
Chapter 1: Meeting
By Kirihara Hisoka
Zoro's POV
"Nee, Zetsu… Kalian tahu? Seluruh dunia ini… hanya terdiri dari kegelapan semata…"
Mimpi?
"Dan kalian juga… akan menghabiskan seumur hidup kalian dalam kegelapan itu…"
Tidak…
"Kalian tahu kenapa? Itu karena… kalian adalah keberadaan yang tak diperlukan… keberadaan yang terlahir untuk dibenci…"
Cukup…
"Kalian takkan punya pilihan lain, apalagi harapan bahwa suatu saat nanti akan datang orang yang akan menarik kalian keluar dari kegelapan ini…"
Sudah…
"Yang bisa kalian lakukan hanya terus bertahan hidup dan menjalani kegelapan yang terbentang di hadapan kalian…"
Hentikan…
"Dan kalian... tidak berhak mendapatkan... sesuatu yang disebut dengan… kebahagiaan..."
HENTIKAN…!
Hari demi hari kata-kata itu terus ia dengungkan ditelingaku…
Terus mengukirkan kata-kata mengerikan itu…
Hingga jauh ke dalam lubuk sanubari…
Sampai-sampai membuatku benar-benar berfikir bahwa…
Mungkin…
Memang itulah kebenarannya…
"Zoro-san!!" Teriakan itu membuat kesadaranku kembali ke permukaan
Siapa…? Zero? Tidak, bukan…
"Zo-zoro-san? Kau tidak apa-apa? Mukamu pucat! Kau juga berkeringat!" Pekik orang itu seraya mendekatkan tangannya padaku, melihat itu entah kenapa kemarahanku memuncak,
Jangan… sentu-!
"Jangan sentuh…" Suara dingin itu terlantun dari arah pintu kelas, kulihat Zero muncul dari sana
"Ba-baik! Ze-zero-san!" Melihat Zero semakin mendekat, ia langsung bergerak menjauhiku
"Terima kasih... Zero" Gumamku, kembali tenang
"Ada kau mau menggali kuburanmu sendiri, dengan mengeluarkan hawa membunuh seperti itu?" Tanya Zero sambil terus melangkah ke tempat duduk kami
"Makanya kubilang terima kasih…" Jawabku pelan
Baru saja aku ingin kembali duduk ke kursiku saat aku merasakan sesuatu menggenggam tanganku
Apa yang sebenarnya Zero pikirkan?
Melakukan hal tak penting seperti ini?
Itulah yang kupikirkan sebelum aku menyadari bahwa...
Tanganku bergetar…
"Ze…ro?" Tanyaku padanya, namun ia hanya duduk diam dan memejamkan matanya sambil terus menggenggam tanganku yang bergetar itu
Sama seperti hari itu…
Dimana untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menitikkan air mata
Pada saat kami menghancurkan semuanya…
Ia hanya berdiri di sampingku, terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun…
Dan terus menggenggam tanganku…
Tanpa harus bertanya, ia selalu tahu apa yang sedang terjadi padaku…
Tanpa harus kuberitahu, ia tahu apa yang bisa menenangkanku…
Tanpa harus kuminta, ia terus berada disampingku…
Keberadaaannya…
Yang selalu melengkapiku…
Aku pun juga melakukan hal yang sama seperti waktu itu,
Hanya diam dan membalas genggamannya…
Membagi kehangatan tanganku dengan tangan dinginnya…
Menikmati keberadaannya di sampingku,
Sambil bergumam dalam hati …
"Ternyata kau ada di sini ya?"
"Karena kalian... tidak berhak mendapatkan... sesuatu yang disebut dengan… kebahagiaan..."
Asalkan kami memiliki satu sama lainnya…
Asalkan keadaan yang sekarang tak pernah berubah…
Ya, Asalkan Zero ada disampingku…
Aku tak membutuhkan kebahagiaan...
Bagiku itu adalah…
Kenyataan yang takkan pernah berubah…
"Zoro…Zero…" Kudengar suara lembut namun dingin milik Konan memanggilku dari arah pintu
"Rapat OSIS akan dimulai…"
~~~O~~~
Zetsu's POV
"Jadi… Siapa yang harus kami bunuh?" Tanya kami, Zetsu, pada siluet laki-laki yang kami kenal sebagai pemimpin organisasi ini, Pein.
Ya, kalian tak salah mendengarnya
OSIS hanyalah sebuah kamuflase…
Untuk menutupi organisasi keji ini…
Yang berisi para monster berdarah dingin…
Yang bekerja sebagai anjing pembunuh…
Demi kepuasan para pemimpin pemerintahan…
Yang menginginkan kekuasaan…
Ya, dalam organisasi buatan akademi…
Bernama Akatsuki ini…
"Nishikado Rei. Duta Kirigakure yang berencana menjalin aliansi dengan Negara Konoha. Bila aliansi itu terwujud, kekuasaan pemerintahan Amegakure akan semakin menipis, para petinggi tak menginginkan hal itu. Kau bisa melakukannya tanpa meninggalkan jejak kan… Zetsu?" Jelas Pein sambil memberikanku sebuah File dengan tulisan 'Nishikado Rei' di depannya
"Ya… Pein-sama"
Itu sama sekali bukan merupakan pertanyaan
Karena di dunia yang kami tempati ini…
Kegagalan sama saja dengan kematian…
Menolak perintah dan kau akan mati…
Melenceng dari tujuan juga, kau akan mati…
Sedikit saja kesalahan dan kau pun pasti akan mati…
Semuanya merupakan skema yang mudah saja…
Dan hal seperti itu… bukanlah hal yang aneh…
Karena… Memang seperti itu aturan mainnya…
"Kau asset yang berharga Zetsu… jangan mengecewakanku…" Gumam Pein
"Tenang saja, karena kau pun tahu bahwa apa pun yang terjadi… Kami tak akan mati. Praktis sekali bukan?" Jawab kami sambil berlalu pergi untuk menjalankan misi kami
~~~O~~~
Normal POV
"Apa itu kata-kata yang seharusnya diucapkan oleh manusia,... Zetsu?" Gumam Pein saat Zetsu telah hilang dari pandangan matanya
"Pein..." Terdengar suara Konan yang muncul dari balik bayangan
"Ada apa, Konan?" Tanya Pein sambil beralih ke wanita satu-satunya di Akatsuki itu
"Orang itu… akan datang besok…" Gumam Konan, kelihatan sangat tidak nyaman
"Hm" Jawab Pein singkat
"Mengenai hal itu… Apa kau telah memutuskan siapa yang akan menjadi partner-nya?"
"Sepertinya aku telah menemukan orang yang cocok…"
"Siapa?"
"Zetsu…"
"Apa kau serius?" Tanya Konan, dalam sekejap bola matanya terlihat membesar, walaupun hanya sekilas
"Selalu, Konan" Jawab Pein datar
"Sebenarnya apa yang ingin kau raih dengan keputusanmu itu, Nagato?" Tanya Konan
"Apa menurutmu, Konan?"
~~~O~~~
"Bisa kau ulangi… Kata-katamu sekali lagi?" Tanya Zetsu yang tidak bisa mempercayai pendengarannya
"Ini sudah yang kedua kalinya Zetsu, dan aku takkan mengatakannya untuk yang ketiga kalinya, jadi dengarkan baik-baik…" Ucap Pein, Zetsu pun menganguk pelan
"Besok akan datang anggota baru, dan kaulah yang akan jadi partner-nya…"
"Apa kau serius… Pein-sama?" Tanya Zetsu, masih belum bisa menerima kenyataan yang didengarnya
"Jangan mengetes kesabaranku… Zetsu…" Ucap Pein dingin, tidak memberikan kesempatan pada Zetsu untuk mengeluarkan protesannya lagi.
"Baik, tapi… kenapa harus aku?"
"Kau adalah satu-satunya anggota yang tak mempunyai partner Zetsu, ini hal yang wajar untuk dilakukan, dan aku tak mau mendengar berita kalau kau membunuhnya…" Terang Pein,
"Ini perintah… Zetsu…" Lanjut Pein mengunci komentar apa pun yang mungkin akan dilontarkan Zetsu,
"Ingat Zetsu… selama kau ada di sini… kau hanyalah alat…" Gumam Pein memberi penegasan pada Zetsu sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata.
"Baik… Pein-sama…" Gumam Zetsu pelan saat ketua mereka menghilang dari pandangan mata
"Kami tak bisa… menentangnya…"
~~~O~~~
"Kau masih berbau darah, Zoro…" Gumam Zero pada Zoro yang baru saja keluar dari kamar mandi
Namun Zoro tak menjawab, hanya terdiam sambil melangkahkan kakinya ke tempat tidur, handuk masih menggantung di lehernya, air mengucur dari rambutnya yang masih basah
"Kau ini…" Ucap Zero sambil menghela napas dan melangkah ke tempat Zoro
"Benar-benar menyusahkan…" Keluh Zero sambil mengeringkan rambut Zoro yang masih terpaku di tempatnya
"Hei, Zero…" Gumam Zoro yang akhirnya memutuskan untuk bicara, "Apa yang se-"
"Lupakan…" Selak Zero bahkan sebelum Zoro sempat menyelesaikan kata-katanya
"Apa pun yang sedang kau pikirkan, apa yang mau kau katakan, lupakan semuanya…"
"Tapi…"
"Hentikan omong kosongmu Zoro… Yang harus kau pikirkan hanyalah misi. Apa pun yang akan terjadi setelah ini, tak boleh mempengaruhi pikiranmu…"Tekan Zero sambil mengambil handuk Zoro dan melangkah pergi
"Bukankah ni adalah hal yang sudah kita tetapkan waktu itu? Untuk membuang emosi kita, membuang semuanya..." Ucap Zero sambil mematikan lampu kamar mereka
"Zero…kau…"
"Tidurlah, Zoro…"
~~~O~~~
Zoro's POV
Aku mengerti Zero, sangat mengerti…
Tapi kenapa… perasaan yang mengganjal di hati ini…
Tak mau menghilang?
Kupikir takkan ada masalah jika aku mengikuti kata-katamu…
Namun, malam itu…
Aku sama sekali tak bisa tertidur.
Beribu-ribu pertanyaan terus menghantui pikiranku,
Seakan-akan memaksa untuk menghancurkan kewarasanku…
Apakah yang akan terjadi bila ia masuk dalam kehidupan kami?
Apakah keadaan kami akan berubah?
Apakah kami akan baik-baik saja?
Apakah semuanya… bisa tetap seperti biasanya?
Membuatku benar-benar merasa takut…
Bila pertanyaan itu akan benar-benar menghancurkanku…
Tanpa kusadari, saat aku terus mencari akan jawaban dari pertanyaan itu
Malam perlahan menghilang
Tergantikan oleh datangnya sinar mentari yang menyinari pagi
Namun… kenapa terasa begitu gelap?
Seakan membawa pertanda…
Bahwa sesuatu yang besar akan terjadi…
Dalam kehidupan kami…
"Zetsu, ini adalah partner barumu…" Jelas Pein-sama sambil menunjuk kepada seorang laki-laki berambut hitam yang memakai eye-patch di mata kanannya (1)
"Salam kenal Zetsu-san! Namaku Tobi!" Ucap laki-laki itu, Tobi, dengan ceria sambil memberikan senyumannya pada kami
Namun… Kenapa senyumanmu itu tak sampai pada matamu?
Kenapa… Pandangan matamu terlihat begitu kelam?
Mengapa… Kau terlihat begitu menyedihkan dimataku?
Karena terus terpaku pada pertanyaan-pertanyaan itu
Aku sama sekali tak menyadari bahwa…
Orang ini nantinya…
Adalah orang yang akan membawa pergolakan dalam hidup kami…
~~~O~~~
(1) Di fic ini, Tobi masih punya mata kirinya dan mata ini normal (bukan sharingan), jadi yang ditutupin eye patch-nya itu mata sharingan-nya! Kenapa? Nanti di beberapa chapter ke depan juga kalian tahu! Muahahaha! *digampar*
~~~O~~~
Author: (nebar bunga)"Aloha, Minna-san! Akhirnya saya bisa update!! Yeah!!" (*dilempar panci*) "Makasih banyak atas review-nya ya! Kalian baik banget deh! – halah, gombal! – Akhirnya setelah sebulan, saya update juga! Maaf lama, soalnya ada UAS sih! terus saya juga gak ada ide nih buat cerita ini! Hehe, Ini aja baru dapet inspirasi pas lagi ulangan IPA!"
Hana: "Dapet inspirasi pas ulangan IPA?! inspirasi macem apaan tuh?! Lha, terus pas ulangan IPA lo ngapain aja? Gak konsen dong?!"
Author: (asal jawab) "Ya inspirasi macem ini! Au deh, boker kali! Gue lupa!" (*digampar guru IPA sampe jontor*) "Yeah, akhirnya saya berhasil juga masukin sepotong masa lalu Zetsu! Belum jelas sih, tapi nanti juga makin jelas kok! Tapi serius deh, pas baca fic ini, entah kenapa saya pengen muntah! Kata-katanya itu lebay banget sih! Hoek! Udah gitu Zetsu keliatan OOC banget lagi! Ah~! Susah amat sih bikin fic angst!!" (ngelemparin Zetsu pake sandal jepit swallow)
Zetsu: (sewot) "Loh?! Kok kita sih yang disalahin? Kan lo yang bikin?!"
Author: "Tapi kan lo yang gue bikin!!"
Zetsu: "Alesan gila… macem apalagi tuh?!"
(Author + Zetsu pun maen cakar-cakaran dengan lebaynya)
Author: (dengan tumbennya sadar) "Oh, ya! Bagi yang nanya saya dapet inspirasi darimana, sebenarnya saya dapet inspirasi ini dari berbagai manga lho! Seperti yang sudah bisa ditebak, yang paling banyak sih pastinya dari Ouran, terus ada juga dari nabari no ou, dan untuk chapter-chapter selanjutnya bakal banyak referensi dari berbagai manga lainnya!" – ngebajak karya orang nih ceritanya??- Eh, tapi saya gak ngebajak kok, Cuma ngerompak doang!" (*dibantai para mangaka yang ngerasa karyanya dibajak sama Author*)
Hana: "Yah, daripada kalian musti ngebaca hal gak jelas dari Hisoka, Minna-san, saya mohon kerja samanya untuk terus mendukung fic orang gila di sebelah saya ini dengan terus me-review ya! Kalau bisa, tapi jangan pujian soalnya nanti mahkluk di sebelah saya malah makin gelo!"
Author: (sewot) "Loh, kok gitu sih?! Jangan percaya sama dia Minna-san!!"
Hana: (ngecengin Author) "Oh, ya! Fic ini kayaknya bakal di update sebulan sekali deh! Kalau begitu, sampai ketemu di Chapter berikutnya bulan depan, minna-san!" (cabut)
Author: (ngejar Hana) "WOI!! GUE BELOM SELESAI NGOMONG!!"
Review please!!!
