Do You Love Me?
Main chara: ShikaTema
Chapter 11: Fuyu no Maboroshi
-
-
-
Disclaimer: Q hanya minjem Naruto dari Masashi Kishimoto doang. Kalo theme song di fic ni juga q pinjem dan cuman numpang denger doang (?). Kalo fic ini punya q...
Summary: Ada apa gerangan dengan Temari? Hari ini ia pingsan lagi! Shikamaru juga jadi bingung sendiri. Di tengah kebingungan itu, kayaknya Aqua Timez terancam bubar!!! Bagaimana jadinya nih? Koq jadi ribut gini ya? Lalu, apa jawaban Shikamaru terhadap perasaan Shiho kemarin??? Baiklah, akan q ketik (?) setajam SILET!!!___*author disilet all chara*___
Kelas 1-B, pukul 09.13 pagi...
"Shi... Shikamaru. Bagaimana?" tanya suara itu. Memecahkan keheningan.
"Gomen, ne... Aku nggak bisa." Jawab orang yang ditanya, Shikamaru.
"Kenapa?" tanya suara itu lagi.
"Kamu gak perlu tahu, alasan kenapa aku menolakmu." Jawab Shikamaru lagi.
"Apa ada cewek lain... yang merebut perhatianmu?" tanya suara itu setelah merasa mantap untuk menanyakannya (Dari tadi suara itu terus???).
"Bu... Bukan kok! Cuma..." potong Shikamaru cepat. Tak ingin membuat gadis berkacamata itu salah paham. Ya, pembaca bener banget! Gadis itu adalah Shiho!!! (Pembaca: Mang kita ada bilang apaan???)
"Jadi, apa dong?" tanya Shiho yang sudah tak sabar menunggu penantian hidupnya (Pa maksudnya nih???).
"Bukan urusanmu. Maaf, aku pergi dulu." Kemudian Shikamaru melangkahkan kakinya menjauhi Shiho yang mulai menjatuhkan air mata.
Kelas 1-C...
"Tem." Panggil Tenten.
"Tem!" panggil Tenten lagi. Merasa tak didulikan, karena temannya itu bengong aja.
"Temari!" kali ini Tenten memekikkan nama Temari, membuat orang yang dipanggil tersadar dari lamunannya.
"Hah! Apaan, Ten? Ada apa? Kompor meledak?" tanya Temari yang mulai melantur.
"Iye. Rumah lu meledak." Jawab Tenten kesal. Dengan memasang wajah merenggut sambil kedua tangannya bersilang di dadanya.
"Hah? Becanda lo?" tanya Temari yang kaget kemudian memasang muka sedih.
"Ya enggak lah. Aku cuma kesel ma kamu! Kamu tuh kenapa sih? Kok melamun aja? Entar kesambet lo!" tanya Tenten bertubi-tubi. Spontan Temari langsung menutup kedua telinganya.
"Aku pengen liat salju. Sebelum ajal menjemputku." Jawab Temari dengan lesu. Nampak sekali kalau ia sedang sedih.
"Hah? Liat salju? Sebelum... ajal menjeput?" tanya Tenten mengulang pernyataan Temari.
"Eh, maksudku... Bukan bukan bukan! A... aku..." ujar Temari terbata-bata. "Lupain aja soal tadi. Aku cuma bercanda kok! Just kidding!" lanjut Temari kemudian memberikan cengirannya kepada Tenten.
"Maksud kamu apa? Apa bentar lagi kamu mau..." tanya Tenten lagi. Kali ini air mukanya berubah. Terlihat sangat shock.
"Ah. Enggak kok. Nggak ada apa-apa." Jawab Temari meyakinkan.
"Huh. Syukurlah kalo gitu. Tapi tadi kamu ngelamunin apa sih sebenarnya?" tanya Tenten dengan penuh selidik.
"Nggak ngelamunin apa-apa kok. Eh, ngomong-ngomong, bentar lagi kan Natal. Kamu mau ngasih kado Natal untuk siapa nanti?" tanya Temari mengalihkan pembicaraan.
"Nggak tau juga tuh. Mungkin ama..." jawab Tenten yang belum terselesaikan. Temari yang masih menunggu jawaban Tenten kini melihat kemana arah Tenten melihat saat ini.
Mari kita lihat (?) pikiran Tenten saat ini...
-
-
-
Mabaroshi (?): Mode On...
Alam pikiran Tenten...
25 Desember 20xx...
"Neji. Ini kado natal buat kamu. Coba buka." Ucap Tenten ketika memberikan sebuah kado besar yang di sekelilingnya berbalut kertas kado bercorak mickey mouse dan terlilit sebuah pita merah di atasnya.
"Wah, gede banget, Ten kadonya? Buat aku nih?" tanya sang pacar.
"Ya iyalah! Untuk yayangku teryayang." Jawab Tenten sembari memberikan senyuman termanis di seluruh lautan *author ditusuk Tenten pake kunai*.
"Wah, makasih yah. Aku sayang banget ama kau. Muach." Ucap Neji lebay kemudian memberi sebuah kecupan hangat di kening Tenten.
Kemudian Neji membuka kado natal dari Tenten tersebut. Setelah dilihat rupanya isinya adalah... CHEESE CAKE buatan TENTEN!!!
"Coba kamu rasain deh. Pasti enak!" ucap Tenten narsis. Neji mulai mencomot sedikit cheese cake itu. Beberapa detik kemudian...
"Hmm... Delicious." Ucap Neji keenakan. Kemudian ia melanjutkan makannya. Dan beberapa menit kemudian, kue itu habis dilahapnya semua.
Sedangkan Tenten yang belum sempat merasakan cake buatannya itu ngiler di tempat. Begitu melihat Neji keenakan memakan cake tersebut.
"Tenten? Kamu kenapa?" tanya Neji yang khawatir melihat kelakuan Tenten.
"Kamu kok ngabisin cakenya sih? Aku kan juga mau!!!" bentak Tenten marah dan menabok Neji menggunakan alas cakenya tadi. Alhasil, wajah tampan Neji berubah menjadi wajah badut ANCOL...
Maboroshi: Mode Off...
-
-
-
"Oh... Jadi gitu?" tanya Temari yang sudah selesai menonton drama –romance yang berakhir dengan tragis— picisan—gratis NejiTen tersebut.
"Yang terakhinya sih kagak." Sergah Tenten yang malu sendiri.
"Kalo kamu untuk sapa, Tem?" tanya Tenten mengalihkan perhatian Temari.
"Kalo bisa sih untuk adek-adekku doang. Habis aku kan belum punya temen cowok yang spesial kayak kamu ama Neji." Jawab Temari dengan memberikan sedikit senyuman.
"Bukannya 'temen cowok spesial' kamu itu SHI-KA-MA-RU???" tanya Tenten dan mengeraskan sedikit kata terakhirnya.
"A... Apa? Ih, amit-amit jabang bayi. Ogah! Pajo! Buju busyet! Bulsyit!" maki Temari dengan kemarahan yang sangat. Dan dengan muka yang merah bak air sumur tentunya (Bukannya air sumur itu warnanya coklat ya??? Bodo ah!!! *author digeplak Temari en pembaca*)
"Oh... Dalem ati pasti mau!" tebak Tenten. Kemudian pergi meninggalkan Temari yang terbengong-bengong sendiri.
"Gak mungkin. Aku gak mungkin suka ama dia." Ucap Temari pelan.
"IH!!! TENTEN!!! AKU GAK SUKA AMA DIA!!!" teriak Temari. Spontan, seisi kelas itu melirik ke arah Temari dengan heran.
Karena marah dan malu, Temari pergi melangkahkan kakinya keluar kelas. Kini ia tak punya tujuan pasti. Mau ke kantin, gak laper. Mau ke perpus, gak niat. Mau ke kelas lain, males. Mau ke toilet, gak ada kerja. Mau ke ruang guru, yang ada malah diceramahin. Mau ke (Pembaca: Sebutin aja satu-satu! Capek nih bacanya!) ruang band... Ya! Ruang band! Di sana pasti gak ada gangguan. Akhirnya Temari pergi ke ruang band. Tempat yang paling bisa membuatnya merasa nyaman. Namun, belum sempat ia membuka knop pintu, ia merasakan kepalanya pusing, matanya berkunang, tubuhnya lemas, dan akhirnya pingsanlah ia (Temari: Kok gue pingsan mulu sih? Gak ada konflik laen ya selain pingsan?) (Author: Males gue pake yang laen. Ntar lo liat aja ndiri apa yang bakal terjadi.).
Dan tepat sebelum Temari terjatuh ke lantai, datanglah seseorang yang langsung saja menahannya agar tak jatuh. Rupanya ia adalah Shikamaru.
"Lo mau pingsan lagi?" tanya Shikamaru lembut.
"..." Temari sudah pingsan.
"Duh, ni anak ngerepotin aja." Dan dengan sigap, Shikamaru membopong badan Temari yang tak bernyawa untuk sementara (?) itu. Ia langsung menggendong Temari –bak pasangan pengantin baru— ke UKS.
Selama di perjalanan (Habis, dari ruang band ke UKS cukup jauh...), semua pasang mata memperhatikan mereka. Ada yang memandang mereka sinis, ada yang bisik-bisik tetangga (Bisik-bisik tetangga~ *author nyanyi gaje*), ada yang ikutan pingsan dengan tujuan agar Shikamaru mau menggendong orang yang pingsan juga itu.
Sesampainya di UKS, Shikamaru dengan cepat membuka pintu. Tidak ada orang di dalam. UKS juga masih bersih. Kemungkinan baru dibersihkan. Setelah masuk dan menutup pintu kembali, ia membaringkan Temari di salah satu tempat tidur dan menyelimutinya dengan sebuah selimut putih yang tergeletak sudah tak bernyawa (Emang selimut pernah punya nyawa ya???) di tempat tidur tersebut.
'Temari manis juga ya?' pikir Shikamaru dalam hati. Kemudian ia berjalan mendekati Temari. Memegang tangan Temari yang dingin (Emang Temari udah mati???), maksudnya memegang tangan Temari yang lemas. Mencoba untuk memeriksa tekanan darahnya. Takutnya jantungan (?).
'Kok gue ngerasa ada yang janggal yah ama dia? Hampir tiap hari pingsan. Mukanya juga makin hari makin pucat (Lama kelamaan kayak Sai tuh!). Apa jangan-jangan dia...' pikir Shikamaru. Ia mulai memikirkan hal-hal aneh. Namun, ia berusaha membuang pikiran –buruk— itu jauh-jauh.
Setelah agak lama, akhirnya Temari siuman. Ketika ia mengerlingkan matanya ke segala arah, yang dilihatnya pertama kali adalah Shikamaru.
"Aku, dimana?" tanya Temari sambil memegang kepalanya yang agak sakit.
"UKS." Jawab Shikamaru dingin.
"Kamu yang membawaku?" tanya Temari lagi.
"Ya." Jawab Shikamaru dingin –lagi—.
"Thanks." Ucap Temari pelan. Namun, tiba-tiba saja Shikamaru mendekatkan wajahnya ke arah Temari. Dan ia juga menahan kedua lengan Temari yang mencoba untuk bergerak. Kemudian memandang tajam Temari.
"A... Apa sih?" tanya Temari yang kaget plus tersipu-sipu.
"Lo jujur ama gue! Lo terkena penyakit serius kan?" tanya Shikamaru dingin sedingin es di kutub utara.
"Penyakit apa? Flu babi?" tanya Temari yang sempat kaget. Namun berusaha ditutupinya dengan berbicara dengan nada yang terdengar mempermainkan.
"Leukemia." Ucap Shikamaru serius. Tanpa mengalihkan pandangannya ke mata indigo Temari. Alhasil, Temari langsung kaget. Kali ini ia tak bisa berkata apapun. Gugup, nervous, afraid, pokoknya sinonimnya lah (Kok jadi main sinonim-sinoniman nih?)!
"Bener kan?" tanya Shikamaru memastikan.
"..." Temari masih shock.
"Jawab pertanyaan gue!" kali ini Shikamaru berujar setengah berteriak sambil mengguncang-guncangkan bahu Temari.
"Pliss..." terdengar dengan pelan dari mulut Temari.
"Pliss, jangan bilang ama siapa-siapa. Apalagi ama Gaara dan Kankurou. Kumohon... Hiks hiks..." Temari mulai menangis. Dan langsung ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jadi bener?" tanya Shikamaru sambil memandang Temari sedih.
"Iya... Gue... Gue sebenarnya udah tau itu seminggu yang lalu. Waktu itu..." Temari mulai menceritakan apa yang terjadi waktu itu... ('Waktu itu' tuh kapan?)
Flashback: Mode On...
Rumah Sakit Umum Konoha, seminggu yang lalu...
"Jadi, apa yang terjadi dengan saya, dok?" tanya Temari penasaran.
"Ini. Lebih baik anda baca sendiri hasil pemeriksaannya." Jawab sang dokter sambil memberikan sebuah amplop berukuran sedang ke Temari.
"Baiklah, dok. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih." Kata Temari dan pergi meninggalkan sang dokter.
Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, Temari segera membuka amplop tersebut. Ketika dibacanya, ia langsung shock.
"Leukemia?"
Dan dengan segera ia berlari keluar dari RSU Konoha. Tanpa terasa air matanya keluar dari pelupuk matanya. Leukemia stadium akhir. (Mang leukemia pake stadium ya? Maklumlah aku gak tau banyak tentang yang kea gituan.) (Pembaca: Dasar author bego'! gitu aja gak tau!).
'Berarti sebentar lagi aku akan...'
"Mati..."
Langsung ia berlari menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari RSU Konoha. Setelah sampai, ia langsung saja ia berlari masuk ke kamarnya.
'Semuanya gak boleh tau, kalo bentar lagi aku akan mati.' Pikir Temari. Kemudian ia melihat ke sekeliling kamarnya. Mencoba mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan amplop itu agar tak ketahuan oleh orang rumah. Akhirnya ia menemukan tempat yang bagus. Namun masih rahasia...
Flashback: Mode Off...
"Jadi, belum ada yang tau?" tanya Shikamaru.
Temari hanya mengangguk. Kemudian ia menangis lagi. Namun kali ini ia menangis di pelukan Shikamaru.
"Shikamaru... Aku... Aku nggak pengen pisah ama semuanya... Aku gak ingin mati sekarang..." Temari menangis sesenggukan.
"Siapa bilang kamu akan mati sekarang? Aku yakin kamu pasti bisa sembuh." Ucap Shikamaru lembut. Ia semakin mempererat pelukannya dengan Temari. Entah kenapa, ia tak ingin melepaskan Temari begitu saja. Begitu juga sebaliknya. Dan perlahan-lahan, Shikamaru mengecup bibir Temari yang basah terkena air mata.
Belum sampai lima detik mereka berciuman, datanglah dua orang setan pengganggu (Meskipun yang wajahnya mirip setan cuma satu.). Merekalah, Gaara dan Kankurou!!! Beri tepuk tangan yang meriah!!! *author dikempesin badannya ama Gaara en Kankurou*
"Ehmm... Apa yang kalian lakukan?" tanya Gaara dengan nada yang tegas dan dengan memasang wajah seram bak satpol PP.
"Kau! Beraninya berbuat mesum ama Temari-nee!!!" bentak Kankurou.
"Si... Siapa yang mesum?" tanya Shikamaru yang cengo dituduhin gituan.
"Ya elu lah! Siapa lagi?" jawab Kankurou sambil menunjuk Shikamaru.
"Kalian salah paham. Aku ama dia cuma..." ucap Temari mencoba membela Shikamaru.
"Cuma apa? Ciuman? Pelukan? Itu namanya mesum!" bentak Kankurou lagi. Saat ini wajah Shikamaru dan Temari memerah.
"Emang mesum kayak gitu yah?" tanya Gaara yang memecahkan suasana serius dengan keluguannya.
"Duh, Gaara... Ah, udahlah! Kalo gitu, kenapa Temari-nee bisa pingsan tadi?" tanya Kankurou mengalihkan pembicaraan. Sedang Gaara, udah lupain aja! Sekarang ia sedang menghayati kebodohannya (?).
"Kok kamu tau kalo aku pingsan?" tanya Temari.
"Dari temen-temen yang ngeliat. Jadi karena apa?" Jawab Kankurou.
"Ah, aku nggak kenapa-napa kok." Jawab Temari meyakinkan.
"Ya udah! Yuk, kita pergi, Gaara! Dan kalian jangan mesum lagi ya?" ancam Kankurou kemudian berlalu meninggalkan ShikaTema berdua.
Temari speechless, Shikamaru sweatdrops.
"Pengganggu." Ucap Shikamaru pelan.
"Makasih ya." Ucap Temari tiba-tiba.
"Oh ya, Shikamaru! Natal nanti, kamu mau ngasih kado ke siapa?" tanya Temari sambil melihat keluar jendela.
"Nggak tau. Kalo lu?" tanya Shikamaru yang ikut-ikutan menatap luar jendela.
"Udah pasti untuk Gaara ama Kankurou dong. Habis, hanya mereka yang paling spesial dalam hidupku. Meskipun, kayaknya gak sempet deh." jawab Temari dengan tatapan lembut.
"Padahal gue juga pengen ngeliat salju di malam natal." Ucap Temari lagi.
"Emang lo gak pernah ngeliat salju apa?" tanya Shikamaru heran.
"Di Suna jarang turun salju. Paling, cuma setiap 20 tahun sekali (Lama banget sih???). Dan kalo udah malam natal, paling yang turun bukan salju, tapi cuman hujan biasa doang." Jelas Temari sambil memeluk bantal.
"Gue yakin, lo pasti bakalan liat salju natal ini. Dan gue yakin, semua keinginan lo pasti kecapai." Ucap Shikamaru sambil menggenggam tangan Temari.
"Shik, gue juga pengen... Natal nanti bisa kumpul-kumpul ama temen-temen."
"Gue tau. Dan gue janji lo bakal kumpul-kumpul ama kita-kita nanti." Timpal Shikamaru. Kemudian ia menyodorkan jari kelingkingnya. Tak lama kemudian jari kelingking Temari juga sudah bertaut di jari kelingking Shikamaru.
"Janji ya?" tanya Temari.
"Janji!" jawab Shikamaru mantap.
Setelah beberapa lama mereka terdiam. Lalu, Shikamaru membuka pembicaraan.
"Kalau gitu, mulai sekarang... Kita berteman kan?" (Shikamaru).
"So pasti!" (Temari).
Kemudian, Shikamaru mengambil dan memetik senar gitar –yang entah dapet dari mana— (Kok tiba-tiba bisa ada gitar ya?) dan menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang ternyata bisa membuat Temari tidur! Eh, salah! Maksudnya membuat Temari sedih atau apalah *author digilas pembaca pake trankton*!
Kimi no shashin ga waratteru
Daisuki datta egao de
Juuichigatsu no yoake mae
Tengoku e tabidatta
Samusa ni yowai boku no
[SHATSU] ni te wo iretarishite
Kimi ga yorokobu kara fuyu ga suki datta...
Konayuki yo yamanai de
Te no hira ni kienai de
Hakasugiru inochi to kasanaru kara
Furueta koe de kajikanda te de
Tada kimi wo sagashitsuzukeiru yo
Nakimushi de kowagari dakara
Hayaku kimi wo mitsukenakya
Doko ni mo iru hazu nai no ni
Fuyu no kaori ga shita yo
Maru de kodomo no you ni
"samui..." tte hashagi nagara
Kimi ga dakitsuku kara fuyu ga suki datta...
Kimi wo mitsukerarenai
Kurushiku nemurenai
"aitai..." aitai kimochi osaerarenai
Yume ni mo tarete shizuka ni naite
Kimi wo sagashitsuzuketeiru
Kami-sama ga iru no nara
Kiseki ga okoru no nara
Boku no negai hitotsu dake kanou nara
Mou ichido dake kimi ni awasete
Maboroshi demo ii kara...
Konayuki yo yamanai de
Te no hira ni kienai de
Hakakakute... koe ni naranai
Semete yume de [ii] kimi ni aitai
Sotto atatamete agetai
Kimi wo mitsukerarenai
Kurushiku nemurenai
"aitai..." aitai kimochi osaerarenai
Yume ni mo tarete shizuka ni naite
Sukoshizutsu aruite miru yo
Demo kimi ga wasurenai
Namida nara nagasanai
Boku no kokoro no naka ni ikiteru kara
Shiroi keshiki ni kimi wo utsushite
Ano hi no egao no mama... (22)
"Lagu ini, seperti menyampaikan isi hati kamu. Semoga kamu suka." Ucap Shikamaru. Lalu ia beranjak dari kursinya dan memandang keluar jendela.
"Arigatou desu ne, Shikamaru. Aku suka kok lagunya." Ucap Temari dan menutup matanya. Tanpa sadar ia menangis lagi. Namun, kali ini bukan tangisan sedih, tapi tangisan bahagia.
"Ya udah. Kamu istirahat dulu. Aku mau balik ke kelas nih. Bentar lagi ganti jam, jamnya guru killer. Aku takut diapelin. Sekalian, aku minta izin juga ke guru yang ngajar di kelas kamu. Ya udah, aku pergi ya! Nanti istirahat kedua aku ke sini lagi!" ucap Shikamaru dan langsung ia pergi meninggalkan Temari.
"Shikamaru!" (Temari).
"Hn?" (Shikamaru).
"Jangan bilang siapa-siapa ya?" (Temari -lagi-).
"Yep!" (Shikamaru –lagi-)
Setelah menutup pintu, Shikamaru langsung berjalan ke kelasnya yang juga satu jalur dengan kelas Temari. Sedang Temari...
"Huh. Setidaknya sekarang bebanku sudah agak berkurang. Tapi, kenapa harus dia yang tahu semua pertama kali ya?" tanya Temari kemudian ia tersenyum.
"Dan kenapa harus dengan dia aku..." Temari menyentuh bibirnya. Kali ini bibirnya tak basah seperti saat Shikamaru menciumnya.
Istirahat kedua...
"Panggilan untuk yang namanya disebutkan dibawah ini, tolong segera datang ke kantor kepala sekolah. Nara Shikamaru, Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji, Uzumaki Naruto, Sai dan Sabaku Gaara. Tolong segera ke kantor kepala sekolah sekarang. Sekian dan terima kasih." Panggilan dari seseorang –yang suaranya kedengeran seperti Shizune-sensei— lewat pengeras suara.
"Aqua Timez dipanggil!" teriak Naruto memecahkan keheningan yang terjadi di salah satu meja kantin tempat mereka sedang berkumpul bersama. Ya! Di sana terdapat 5 personil Aqua Timez, 5 personil Super Girlz –Temari yang disuruh istirahat malah ngelawan dan akhirnya dia malah ngumpul di sini—, dan dua orang manajer dari masing-masing band. Sepertinya setelah ada empat pasang dari band tersebut yang menjalin kasih, hubungan kedua band tersebut menjadi dekat.
"Huh. Mendoukusei ga..." keluh siapa lagi kalau bukan Shikamaru.
"Paling kita mau dikasih reward atas penampilan kita semalem." Tebak Sai.
"Tapi kami kok enggak sih?" tanya Temari yang agak marah.
"Penampilan kalian gak mutu kali?" kali ini Shikamaru yang memberi tebakan. Guna mengerjai Temari dengan membuatnya marah.
"Enak aja!" ucap Temari kesal sambil membletak kepala sang nanas.
"Udah yuk, cepetan! Nanti kita dimarah lagi ama tuh nenek." Ucap Sasuke. Dan pergilah mereka ke kantor kepsek.
Di kantor kepsek...
"Bagus, kalian sudah pada hadir semua?" tanya Tsunade, sang kepala sekolah yang agung (Ce elah!).
"Ya. Ada apa sensei?" tanya Shikamaru sopan.
"Saya sengaja memanggil kalian ke sini untuk menawarkan kepada SALAH SATU dari kalian untuk mendapatkan beasiswa untuk belajar di famous academy music (Tsunade mah ngomong Inggrisnya setengah-setengah...) di Italia (Nih, temenku yang request minta di Itali!) selama beberapa tahun. Jadi mulai dari kelas 2 sampai kalian mendapat gelar sarjana, kalian akan disekolahkan. Dan mungkin, karena kalian jenius dalam bidang musik, mungkin kalian bisa lebih cepat menyelesaikan pendidikan kalian. Bagaimana?" tanya Tsunade setelah memberikan penjelasan yang cukup panjang.
"Saya menolak!" tegas Shikamaru tiba-tiba.
"He? Kenapa? Kok nolak sih?" tanya Tsunade yang kaget.
"Saya tidak ingin meninggalkan band saya sekarang." Ucap Shikamaru lagi.
"Saya mau, sensei." Ucap Neji tiba-tiba.
"Sa... saya juga mau, sensei." Ucap Sai ragu-ragu.
"Ke... kenapa kalian mau?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Ya... Karena ini kesempatan bagus, Naruto. Benarkan, Tsunade-sensei?" tanya Neji kepada Tsunade-sen.
"Ya. Karena ini hanya akan datang sekali dalam hidup kalian." Ucap Tsunade.
"Ya. Aku tahu perasaanmu yang tak mau berpisah dengan bandmu sekarang, Shikamaru. Sebenarnya aku mau mencalonkan kalian berenam dan ditambah enam anggota band Super Girlz, karena kulihat kalian sangat berbakat. Tapi, berhubung beasiswanya cuma satu, dan kulihat kalian yang lebih menonjol dari band lain. Aku memutuskan untuk mengambil salah satu dari kalian untuk mendapatkan beasiswa." Terang Tsunade panjang lebar lagi.
"Tapi, kami belum sampai tingkat nasional! Masa' udah mau bubar sih?" tanya Naruto lagi.
"Tenanglah, Naruto. Mungkin kita bisa cari solusinya?" ucap Gaara menenangkan Naruto yang mulai emosi.
"Bagaimana kalau kita cabut undi saja? Yang menang yang akan dapat. Bagaimana?" usul Sasuke.
"Baiklah. Besok kalian kumpul lagi di sini pas istirahat pertama. Kita lakukan pengundian. Sekarang kalian boleh pergi." Jawab Tsunade setelah lama berpikir.
"Baiklah, kami permisi dulu." Ucap Shikamaru dkk dan meninggalkan kantor kepsek. Seketika, ruang tersebut menjadi sepi kembali.
'Sebenarnya, aku mau mencalonkanmu Shikamaru. Karena sepertinya, kaulah jenius musik yang hanya ada dalam 100 tahun sekali itu.' Pikir Tsunade.
To Be Continued...
Bahaha!!! Selesailah chap 11!!! Konfliknya makin jadi (?) aja deh!!! Semoga di chap selanjutnya konfliknya makin banyak (Kok malah doa'in konfliknya makin banyak ya???). O ya, maaf atas kesalahanku yang gak tau tentang masalah leukemia itu. Karena soal penyakitnya Tema itu aku hanya kepikiran penyakit itu, padahal aku nggak tau lebih mendalam tentang penyakit itu. Dan yang maboroshi itu, kalo gak salah (Gak betul juga sih, aku sendiri juga gak tau...) itu artinya khayalan. Makanya yang pas Tenten ngayal itu, aku pake maboroshi. Kalo salah harap maklum ya, habis aku belum bisa bahasa Jepang yang bener-bener gitu deh! Langsung ke bagian lagu aja ya? Maaf kali ini cuma satu lagu, abisnya cuma kepikiran lagu itu doang. Udah itu sesuai dengan Temari yang ngayal pas salju turun di malam natal. Dan berhubung kuketik ini pas hari natal juga. Jadi lagunya ambil yang itu. Tapi, gak ada sangkut pautnya kok (Makin aneh aja ya?)! Kalo gitu kukasih tau judulnya aja deh. dengan nomor (22) berjudul Fuyu no Maboroshi dari Acid Black Cherry yang berarti Khayalan dalam Musim Dingin (Ini musim dingin, bukan salju kan???). Mungkin saat ini lagu itu yang membuat aku kebayang-bayang. Udah lama banget pengen masukin lagu itu keficku (Kok jadi nyambung ke sini sih?). Yawdahlah! Udah panjang banget nih penutupnya. Baca aja lanjutannya terus. Dan jangan lupa untuk review! Sampai jumpa di lain kesempatan! Dadada!!!
