Do You Love Me?
Main chara: ShikaTema
Chapter 13: Friendship, Love or Career? (Part Two)
-
-
-
Disclaimer: Naruto en pren © Masashi Kishimoto
The story © 'Aka' no 'Shika'
Theme songs © penyanyinya masing-masing...
Summary: Apakah yang akan dipilih para personil Aqua Timez? Persahabatan, cinta, atau karir? Akankah persahabatan mereka akan hancur begitu saja? Ataukah ternyata cinta mereka yang akan kandas ditengah jalan? Atau malah band mereka yang akan bubar? Semua kan dibahas selincah (?) KERA SAKTI!!!~^,*~
Ruang Kepala Sekolah, di hari berikutnya...
"Mana mereka? Sudah 10 menit begini belum datang." Gerutu Tsunade yang kesal karena orang yang ia tunggu-tunggu tak datang jua.
"Sabar, Tsunade-sama. Sebentar lagi, mereka pasti akan datang." Ucap Suzune, sang asisten menenangkan.
"Tok... tok..." terdengar ketukan dari luar pintu.
"Masuk." Ucap Tsunade yang merasa tenang sekarang.
"Maaf kami terlambat." Ujar sang leader yang masuk duluan ke ruangan tersebut. Dia sudah siap dengan apa yang terjadi sekarang. 'Akankah Tsunade-sama akan membentak atau malah menghukum kami?' Begitu pikirnya.
"Sudah 10 menit lewat sejak jam istirahat. Kenapa baru datang?" tanya Tsunade menyelidik.
"Sebenarnya kami... Kami..." ucap Gaara terputus-putus.
"Kami apa?" tanya Tsunade.
"Ah, tidak. Langsung sajalah, Tsunade-sama." Ucap Gaara yang tak jadi mengatakan sesuatu. Akhirnya Tsunade mulai berbicara.
"Hm... Baiklah. Undian ini tidak susah (Mang ada undian yang susah?). Masing-masing dari kalian hanya harus mengambil secarik kertas kecil yang di dalamnya terdapat tulisan "Ya" atau "Tidak". Jika yang mendapatkan kertas bertuliskan "Ya", berarti dia yang berhak dan harus mendapatkan beasiswa itu. Sebaliknya, jika yang mendapatkan kertas bertuliskan "Tidak", berarti... Ya, kalian tahu sendiri kan? Jadi ini adalah permainan untung-untungan." Jelas Tsunade panjang lebar.
"Baiklah. Apa kalian sudah mengerti?" tanya Tsunade sambil mengambil sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat enam potong kertas kecil. Satu kertas bertuliskan kata "Ya", dan sisanya bertuliskan kata "Tidak".
"Wakatta!" seru keenam pentolan Aqua Timez kompak.
"Baiklah (Dari tadi Tsunade bilangnya baiklah terus?), aku akan mengocok ini dulu. Satu-persatu kertas ini akan keluar. Setelah itu kalian sendiri yang tentukan siapa yang mau mengambilnya. Setelah diambil, tolong jangan dibuka dulu. Tunggu inspeksi dariku dulu." Ucap Tsunade menyampaikan cara mainnya sambil mengocok giliran pertama.
"Nar, lo duluan ya?" pinta Shikamaru.
"Lha? Kok gue?" tanya Naruto sambil menunjuk diri sendiri.
"Kelinci percobaan." Jawab Shikamaru enteng.
"Ya deh." jawab Naruto pasrah. Kemudian ia mengambil secarik kertas yang jatuh dari dalam kotak yang dikocok Tsunade barusan. Kertas kecil berwarna oranye.
"Naruto, jangan dibuka dulu, ya." Perintah Tsunade.
"Selanjutnya." Kata Tsunade setelah mengocok untuk kedua kalinya.
"Saya yang ambil." Ujar Gaara tiba-tiba. Ternyata ia mendapat kertas warna merah.
"Deg degan nih." Gumam Sasuke.
"Selanjutnya." (Tsunade).
"Ya." Kali ini Sai yang mengambil. Ternyata ia mendapat kertas berwarna ungu.
'Sepertinya yang mendapat kertas maunya milih kertas yang sesuai dengan warna kesukaan deh? Si Sai warna ungu, Naruto warna oranye, dan Gaara warna merah." Pikir Neji.
"Selanjutnya." Gumam Tsunade lagi.
"Aku kali ini." Seru Sasuke yang mengambil kertas tersebut. Kertas berwarna biru.
"Baiklah, tinggal dua kertas lagi." Ujar Tsunade sambil mengocok untuk yang terakhir kali. Yang keluar adalah warna hijau.
"Aku yang ini." Seru Shikamaru.
"Dan aku akan mengambil kertas terakhir." Timpal Neji. Dan ia mendapatkan kertas terakhir berwarna putih.
"Aku sendiri tidak tahu apa isi di dalamnya. Karena yang menulisnya bukan aku tapi Jiraiya-sensei." Jelas Tsunade. "Baiklah, sebelum dibuka, aku ingin bertanya kepada kalian dulu. Apa kalian sudah siap dengan segala yang akan terjadi?" tanya Tsunade melanjutkan pembicaraannya.
"Siap!" ujar keenam lelaki muda tersebut.
"Apa kalian tidak akan menyalahkan orang lain jika keputusan tidak sesuai dengan hati kalian?" tanya Tsunade. Untuk menghindari dirinya disalahkan oleh mereka.
"Ya." Jawab mereka berenam yakin.
"Baiklah. Aku ingin... Naruto membuka kertasnya dahulu. Kemudian Gaara, Sai, Sasuke. Dan terakhir, Neji, Shikamaru. Kalian membuka kertasnya bersamaan. Naruto, bukalah." Suruh Tsunade.
Naruto pun membuka kertas tersebut. Ia memejamkan matanya. Tak mampu untuk melihat apa yang tertulis dalam kertas tersebut.
"Ya... atau tidak?" tanya Naruto ketakutan.
"Nggak, Nar." Ucap Sai sambil menggeleng dan tersenyum.
"Tasukatta!" seru Naruto. Dalam hati ia merasa bersyukur sekali. Karena ia memang tak ingin meninggalkan band mereka dan juga meninggalkan Hinata yang sangat ia cintai. Melebihi melanjutkan sekolah keluar negeri (Sampai segitunyakah?).
'Berarti gue punya kesempatan dong?' batin seseorang.
"Selanjutnya, Gaara." Suruh Tsunade. Dan dengan ekspresi datar ia membuka kertas merah yang tergenggam dalam tangannya. Ternyata isinya... "Tidak".
"Tidak, ya?" tanya Gaara datar.
'Yes! Mudah-mudahan gue yang dapet!' harap orang itu lagi.
"Selanjutnya, Sai."
Sai pun membuka kertasnya. Kertas yang bisa membuatnya tak tidur semalaman. Takdirnya akan ditentukan beberapa detik lagi.
3... 2... 1...
Deg... deg... deg...
"Ti... dak..." ucap Sai.
"Ah, Sai. Nasib kita sama, ya?" tanya Naruto yang sama-sama tak berhasil.
'Aku berbeda denganmu, Naruto. Aku ingin mendapat beasiswa itu. Aku ingin bertemu kakakku.' Batin Sai kesal. Sesungguhnya, ia sangat mengharapkan bisa mendapat beasiswa itu. Untuk bertemu kakaknya yang bersekolah di Itali. Ia sangat rindu dengan kakaknya itu.
Langsung saja, Sai yang tak terima berlari menghamburkan diri keluar dari ruang tersebut. Spontan semua terkejut melihat tingkah anehnya.
"Sai kenapa sih?" tanya Naruto.
"Ada apa dengannya?" tanya Tsunade tak mengerti.
"Mungkin dia tak terima?" tebak Sasuke.
"Kita lanjutkan dulu. Masalah Sai, biar kami yang urus." Ujar Gaara. Dan dilanjutkanlah acara pembukaan (Pembukaan pekan olahraga) kertas (?).
"Selanjutnya, Sasuke."
"Aku sih pasti dapet." Seru Sasuke PD.
"Alah, palingan kagak dapet." Ujar Naruto bermaksud ngejek.
"Yee... Kalo dapat gimana?" tanya Sasuke ke Naruto.
"Kagak mungkin." Ujar Naruto enteng.
Dan benar kata Naruto, ternyata setelah dibuka isinya, Sasuke mendapati kata tidak di kertas tersebut.
"Hahaha... Apa kubilang? Kau pasti gak dapat!" seru Naruto kesukaan.
"Yah. Gak papa deh." ucap Sasuke lesu. Sebenarnya dalam hati ia ingin menerima, namun di lain sisi ia juga tak ingin menerimanya. Alasannya, silakan anda pikirkan sendiri *author ditempeleng pembaca en all chara*.
"Dan terakhir, kalian berdua silakan dibuka." Perintah Tsunade kepada Neji dan Shikamaru.
Deg... deg... deg...
Dag... dig... dug...
Dan yang mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di academy music di Italia adalah... Teng tedeng...
"Ha? Bo... boku wa?" tanya orang yang beruntung itu.
"Wahaha! Vokalis kita sendiri yang kena! Eh? Vokalis?" seru Naruto sambil tertawa. Namun ia langsung terkejut ketika ia berucap 'vokalis' di kalimat terakhir.
"Syukurlah. Gue bisa nepatin janji gue ama Tenten." Neji mengucapkan puji syukurnya kepada Tuhan YME atas kegagalannya dalam mendapatkan beasiswa sekaligus keberhasilannya dalam menepati janjinya terhadapa Tenten kemarin.
"Berarti..." ucap Gaara terpotong.
"Shikamaru yang..." lanjut Sasuke.
"Mendapatkan..." lanjut Neji.
"Beasiswanya dong???!!!" teriak Naruto.
'Seperti yang aku harapkan. Terima kasih, author.' Batin Tsunade.
-
-
-
Di dunia author...
Author: Sapa lagi authornya? Gue gitu loch! *aku ngibasin kipas ke arah Tsunade yang datang ke kamarku*
Tsunade: Diem ah! Cepetan balikin gue! Gue gak tau cara baliknya nih. *Tsunade narik kerah baju aku*
Author: *nelpon Kaiba* Halo... Kaiba di sana?
Kaiba: Ya? Di sini Seto Kaiba. Di situ sapa?
Author: Aka-san. Aku butuh bantuanmu untuk nganterin temen aku balik ke tempatnya di dunia lain. Pake blue eyesmu itu lho. Boleh gak minjem? *pake puppy eyes kea Jou*
Kaiba: *seperti melihat puppy eyesku* Baiklah. Karena aku ini orangnya baik, akan kupinjemin. Tunggu aja 3 detik lagi. *nutup telpon*
3 detik kemudian...
Author: Tuh dia, blue eyesnya! *nunjuk luar jendela ketika ngeliat blue eyes mendarat* Balik pake itu tuh! Dah, sono balik!
Tsunade: Weh, pesawatnya keren coy! Gue balik dulu yah! Makasih! *naik ke blue eyes dan terbang balik ke Naruto fic world*
End of dunia author...
-
-
-
"Baiklah, Shikamaru. Sekarang kamu tidak bisa menolak lagi. Ini adalah kenyataan. Dan ini tiket pesawat serta surat pernyataan bahwa kau setuju. Silakan tanda tangan di sini." Ujar Tsunade sambil menyodorkan dua buah amplop. Satu amplop tertutup berisi tiket pesawat menuju Italia dan apapun yang menyangkut dengan keberangkatan nanti (Author sendiri juga gak tau itu apa-apa) dan satu lagi amplop yang sudah terbuka dan terdapat kertas yang berisi pernyataan dan informasi tentang data diri yang harus diisi oleh sang penerima beasiswa.
"Harap isi semuanya. Kuharap besok ini sudah ada di mejaku. Kalian boleh pergi." Ucap Tsunade dan mempersilakan mereka berlima untuk pergi.
Sementara itu, Sai...
"Ada apa sih, Sai? Kok tumben kamu merenggut gitu?" tanya sang pacar yang sekarang sedang duduk bersamanya. 'Aku heran, kenapa sekarang ia bisa berekspresi begini ya?' pikir sang pacar tersebut, Ino.
"Aku... Hah... Sudahlah. Kau takkan mengerti." Ucap Sai yang nampak putus asa.
"Aku mau menghampiri teman-temanku dulu ya?" pamit Sai dan segera berjalan mencari teman-temannya.
"Huh, Sai kenapa ya? Apa sebaiknya aku ikutin aja?" akhirnya Ino memutuskan untuk mengikuti Sai dari belakang.
Kita kembali ke Shikamaru dkk...
"Wah, seneng tuh." Ucap Neji sambil melirik Shikamaru.
"Siapa yang seneng?" balas Shikamaru sambil mendengus. "Merepotkan." Ucapnya lagi. Dan sedetik kemudian ia teringat akan janjinya dengan Temari kemarin. "Dan gue janji lo bakal kumpul-kumpul ama kita-kita nanti."
'Kenapa harus gue?' batin Shikamaru merana (Lebay banget sih, pake merana segala?).
Kemudian Shikamaru membuka amplop satunya yang berisi tiket keberangkatan. Ketika dibacanya langsung ia tersontak kaget.
"Du... Dua puluh empat Desember, jam sembilan tiga puluh pagi?" ucap Shikamaru tak percaya.
"Eh, tanggal 24 Desember ya? Lo berangkat?" tanya Sasuke yang mendengar.
"Wah, besok lusa dong?" tanya Neji.
"Iya. Dan gue punya janji dengan seseorang kalo dimalam natal nanti bakal kumpul bareng dengan kita semua. Dan kalo kayak gini, gue..." ucapan Shikamaru terputus.
"Emang lo punya janji ama siapa? Kita emang pernah janji kayak gitu ya?" tanya Naruto bertubi-tubi.
"A... Itu..."
TENG TENG... TENG TENG...
Bel berbunyi. Membuat Shikamaru tak dapat melanjutkan perkataannya. Akhirnya mereka beranjak ke kelas masing-masing.
Kita skip ke bagian pulang sekolah...
Parkiran sekolah...
"Kita pulang bareng yuk?" tanya Sasuke ke teman-temannya yang sekarang sudah berkumpul semua. Terkecuali Sai, dia bilang dia ada urusan mendadak.
"Sayang gak ada Sai." Keluh Naruto.
"Mungkin dia masih gak bisa nerima keputusan, kalo dia gak bisa dapetin tuh beasiswa." Tebak Neji.
"May be." Ujar Gaara.
"Huh. Merepotkan. Kalo boleh dikasih ke orang, gue pengen ngasih nih tiket ke Sai aja." Kata Shikamaru.
"Udahlah, balik yuk! Laper nih!" ajak Naruto. Dan mereka berlima pun menaiki mobil masing-masing. Kali ini kelima cowok tampan nan tajir tersebut janjian untuk membawa mobil yang mereknya sama (Setiap hari juga begitu.). Hari ini mereknya Mercedes Benz.
Kita ke tempat lain, dimana Temari sedang menyendiri...
Bukit belakang sekolah...
"Kami-sama... Apa aku akan mati? Ataukah aku bisa sembuh? Apa aku bisa melihat salju natal ini? Apa semua yang dikatakan Shikamaru akan benar-benar menjadi kenyataan?" gumam Temari sambil menengadah ke langit. Wajahnya begitu sendu saat ini. Meskipun cuaca yang sangat bagus, tak mampu membuat gadis bermata indigo itu bisa menghilangkan kesedihannya.
"Kalau kau ingin aku mati, kenapa harus pakai cara begini? Kenapa harus disaat yang sudah lama kutunggu-tunggu begini? Khu... khu..." tanya Temari sambil menangis.
"Temari." Panggil seorang gadis begitu mengetahui bahwa yang sedang menangis itu adalah Temari. Gadis itu rupanya Sakura.
"Ah? Sakura? Kenapa kau..." ucapan Temari terpotong ketika melihat sosok tubuh Sakura.
"Apa yang kau ucapkan tadi itu benar?" tanya Sakura cemas sambil mendudukkan diri disamping sahabatnya itu.
"A... Aku..."
"Temari! Kenapa kau tak mengatakannya? Kenapa kau diam saja? Kita kan teman. Kenapa kau sembunyikan?" tanya Sakura bertubi-tubi. Dilihat dari air mukanya, tampaknya ia sedang geram dengan sahabatnya itu.
"Maksudmu apa?" tanya Temari berlagak tak tahu.
"Jangan bohong! Tadi kau bilang sendiri kau akan mati! Apa benar?" tanya Sakura lagi. Kini sambil setengah berteriak dan mengguncangkan tubuh sahabatnya itu yang terdiam.
"Ah, ya. Itu benar..." jawab Temari menunduk.
"Penyebabnya kenapa?" tanya Sakura lagi. Kini ia benar-benar hampir menangis.
"Karena aku terkena leukemia." Jawab Temari lagi.
"Kenapa kau tak bilang aku? Kenapa kau tak bilang yang lain? Apa kedua adikmu sudah tahu? Apa keluargamu sudah tahu?" tanya Sakura.
"Belum, mereka belum tahu. Karena aku tak ingin mencemaskan semuanya." Jawab Temari yang kembali menangis.
"Jadi, tak ada yang tahu selain aku?" tanya Sakura sambil memeluk Temari yang menangis.
"Tidak. Ada satu orang yang tahu." Tukas Temari.
"Yang pasti bukan dokter kan?" tanya Sakura memastikan.
"Dia... Shikamaru. Dia yang mengetahui pertama kali selain aku dan dokter." Jawab Temari.
"Oh... Jadi, sekarang kau mulai membuka hati untuknya ya?" goda Sakura.
"Ha? Apa kau bilang? Tidak!!!" teriak Temari. Membuat ia sejenak melupakan kesedihannya.
"Uh yeah? Kalau marah berarti ia!" teriak Sakura dan menertawakan Temari yang berwajah merah karena malu dan marah.
"SA... KU... RA..." teriak Temari. Akhirnya mereka malah main kejar-kejaran.
Rei Mansion...
"Tadaima..." ucap Gaara begitu sampai di rumahnya.
"Oh, okaerinasai, Gaara-sama." Ucap salah satu pembantu di mansion tersebut, Nana.
"Nana, Temari-nee udah pulang?" tanya Gaara sambil melepas sepatunya.
"Ah, belum, Gaara-sama." Jawab Nana sambil menaruh sepatu Gaara di rak sepatu.
"Oh. Kalau Kankurou-nii?" tanya Gaara lagi.
"Udah, Gaara-sama. Sekarang ada di kamarnya." Jawab Nana lagi.
"Baiklah, siapkan makanan. Aku lapar." Ucap Gaara dan beranjak ke kamarnya di lantai dua.
Gedebag... Gedebug... (Anggap saja begitu bunyinya)
Begitu Gaara melewati kamar Temari, terdengar bunyi dari dalam kamar itu. Pintunya tertutup namun tak dikunci. Gaara yang merasa penasaran akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar anekinya itu.
Kreek...
"Hah? Eh, kukira siapa. Rupanya kau, Gaara." Ucap seseorang dari dalam kamar itu. Kankurou yang sedang mengacak-acak kamar Temari.
"Niichan? Apa yang kau lakukan ama kamar Temari-nee? Ntar Temari-nee marah lho." Gaara memperingatkan kakak keduanya itu.
"Hei... Aku mau mencari sesuatu tentang kakak! Apa yang membuat kakak pingsan waktu itu. Siapa tau ada." Jelas Kankurou memberikan alasan.
"Ah. Aku juga mau tahu." Gumam Gaara.
"Kalau begitu bantu aku mencarinya!" suruh Kankurou. Mereka pun mencari. Setelah beberapa lama mereka menemukan sebuah amplop coklat yang di depannya bertuliskan Rumah Sakit Umum Konoha yang ditemukannya di salah satu rak bajunya. Ketika dibuka dan dilihatnya isinya, mereka berdua langsung kaget.
"Leukemia!!!???"
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" tanya seseorang tiba-tiba. Membuat kedua lelaki tersebut kaget bukan main.
'Duh, gimana nih?' pikir Kankurou.
'Ouh, gawat banget.' Pikirnya lagi.
"Neechan. Jelaskan tentang ini!" bentak Gaara sambil mengibaskan amplop yang didapatnya tadi.
"A... Ah..." hanya itu tanggapan Temari.
"Kau tak bisa mengatakan apapun kan?" tanya Gaara.
"Ia! Apa maksudnya dengan ini? Apa artinya kakak akan mati?" tanya Kankurou menimpali.
"Entahlah..." jawab Temari. Dan sedetik kemudian ia menangis.
"Tapi, ini benar kan? Kalau kau terkena leukemia?" tanya Gaara lagi. Ekspresi langsung berubah ketika Temari mengangguk.
"Kenapa kau tak memberi tahu kami?" tanya Kankurou. Setengah menangis.
"Aku... Aku... Khu khu...." kali ini tangis Temari lebih keras.
"Jawab, kak!" bentak Gaara.
"Karena aku tak ingin mengkhawatirkan kalian..." jawab Temari sambil menunduk.
"Kau... Benar-benar, kak." Ucap Gaara tak mengerti dengan pemikiran Temari.
"Kami kan saudaramu. Kenapa sih, kau tak mau memberi tahu kami? Kalau begini kan..." Kankurou sudah tak mampu berkata-kata lagi.
"Maaf..." hanya itu yang terucap dari bibir Temari.
"Gaara-sama, Kankurou-sama, Temari-sama, makanannya sudah siap." Teriak Nana dari ruang makan.
"Ah, sudahlah. Kita makan saja dulu." Ucap Gaara dan berlalu meninggalkan Kankurou dan Temari berdua.
"Kak, hapus air matamu. Dan sekarang kita makan." Ucap Kankurou dan berlalu menyusul Gaara.
"I... Iya... Hehe..." ucap Temari terputus-putus kemudian cengengesan.
Sementara itu, di kediaman Hyuuga...
"Hina-chaaannn!!!!" panggil Naruto dari depan gerbang kediaman Hyuuga.
"Kencan yuuuu~~~kkkk!!!" ajak Naruto. Kali ini ia memakai toa yang dipinjam dari ayahnya karena Hinata dipanggil-panggil tak mau keluar.
"Huh, Hina-chan... Keluar dong! Purizu...." pinta Naruto. Tetap tak ada yang terjadi. Masih seperti tadi. Hinata tak menghiraukan Naruto.
"Na-Naruto-kun... Gomen ne..." ucap Hinata yang tiba-tiba muncul dari balik gerbang.
"Eh, Hina-chan. Kamu kok lama banget datangnya?" tanya Naruto bak anak kecil.
"A... Aku tadi... Habis dimarahin ama papaku..." jawab Hinata sedih.
"Dimarahin kenapa?" tanya Naruto sambil menggenggam tangan Hinata.
"Katanya... Aku... Tak boleh pacaran denganmu... Naruto-kun." Jawab Hinata hampir menangis.
"Eh? Masa iya? Emang papa kamu tau dari mana kalau kita pacaran?" tanya Naruto kaget.
"Ne... Neji-nii..." jawab Hinata takut.
"Kempret tuh, banchi! Berani banget dia ya? Dendam apaan sih dia ma gue?" tanya Naruto sambil mengutuk-ngutuk Neji.
"Na... Naruto-kun..."
"Heh! Jadi kamu yang namanya Naruto itu? Pacarnya Hinata, anakku?" seketika itu jua, muncullah seorang lelaki separuh baya. Berbadan tegap, berambut panjang yang dibiarkan terurai, bermata lavender bak kepunyaan Hinata, dan ditangannya terpegang sebuah kayu yang biasanya digunakan untuk mengambil buah jambu dari pohonnya.
"Eh? Iya pak." Jawab Naruto sambil nyengir.
"Berani-beraninya kamu mendekati Hinata ya? Kamu ini masih bocah! Jangan berani ya sama anak saya!" ancam Hiashi –ayah Hinata— sambil memberikan death-glarenya. Dan mementung (?) kepala Naruto dengan kayu itu.
"Aw! Si bapak. Jangan gitu dong, pak! Sakit!" ujar Naruto sambil merintih dan memegangi kepalanya yang benjol.
"Kamu! Berani ya sok akrab sama saya! Tak cincang kamu nanti!" ancam papa Hinata lagi.
"Nah, sekarang kamu milih. Kamu mau Hinata tetep jadi pacarmu, atau kamu keluar dari bandmu?" tanya pak Hiashi memberikan pilihan.
"Lho? Darimana bapak tau kalo saya punya band pak?" tanya Naruto.
"Dari Neji! Ya sudah, cepat! Apa jawabanmu?" tanya Hiashi sambil berseringai licik.
'Waduh! Yang mana nih? Kalo gue milih ninggalin Hinata, gue kan udah mempertaruhkan harga diri gue (Emang harga lo berapa?) untuk nembak dia. Sia-sia dong kalo gue putusin dia sekarang? Kalo gue milih ninggalin band, ntar Shikamaru marah dan gak mau temenan ama gue. Dan lagi pula, gue kan emang pengen jadi drummer. Duh, gimana neh???? Yang mana yak??? Duh, author... Bantuin gue...' rengek Naruto dalam innernya.
-
-
-
Di dunia author...
Author: Lo minta bantuan apa, cu? *belagak kea mbah dukun*
Naruto: Cucu minta dipilihin, nek. Hinata ato band? *natap aku pake tatapan –tolong!!!-
Author: Lu cinta ama sapa? Band apa Hinata? *aku natap Naruto pake tatapan bego*
Naruto: Jujur sih, lebih cinta Hinata. Tapi! Aku juga chayank banget ama bandku.
Author: Yaudah lah. Lo balik dulu ke dunia lo. Gue yang urus selanjutnya. *balikin Naru pake baling-baling bambunya Doraemon*
Naruto: Dah! *balik ke dunianya*
End of dunia author...
-
-
-
"Bagaimana?" tanya Hiashi penuh dengan selidik.
"Hinata. Saya pilih Hinata." Jawab Naruto serius seserius mungkin.
"Hohoho... Kalau begitu, kau bersedia kan meninggalkan bandmu?" tanya Hiashi sangar.
"I... itu..." semangat Naruto ciut lagi.
"Haha... Kau masih bingung kan?" tanya Hiashi terdengar mempermainkan.
"Nggak! Saya serius!" ucap Naruto meyakinkan.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat apaan, pak?" tanya Naruto sambil menutup matanya.
"Pertama, kamu gak boleh pegang-pegang Hinata. Kedua, kamu gak boleh ngajak Hinata keluyuran malam-malam. Ketiga, kalau kalian mau kencan harus malam Jum'at di dekat kuburan belakang rumah ini (Rumah Hinata belakangnya kuburan...). Dan terakhir, kamu harus lebih pintar dari Hinata! Apa kamu sanggup?" tanya Hiashi setelah menyebutkan segala syarat yang harus dipenuhi Naruto.
"Saya gak ngerti syarat yang nomor 3 ama yang terakhir, pak." Jawab Naruto bego.
"Oh, maksud saya, kamu cuma boleh kencan di dekat rumah saya. Jadi, saya bisa ngawasin kalian. Dan yang terakhir itu, kamu harus lebih pintar dari Hinata dalam hal pelajaran dan lainnya. Biar gak malu-maluin." Terang Hiashi yang agak jengkel dengan Naruto.
"Oh... Bilang dong pak. Jadi saya ngerti." Ujar Naruto memalukan (Baru dibilangin udah buat malu!).
"Pak..."
"Dan jangan panggil saya bapak!" ujar Hiashi. "Panggil saja om." Ujarnya lagi.
"Om, saya pinter nyanyi lho, om. Om mau denger lagu saya?" tanya Naruto sambil mengambil gitar yang tergeletak di dalam mobilnya.
"Hou? Deshou? Yoi." Jawab Hiashi.
Naruto pun memetik senar gitarnya. Dia rupanya juga bisa bermain gitar. Alunan terindah yang pernah didengar Hinata, begitu pikir author *author dijyuuken Hiashi*.
Cultivate your hunger before you idealize.
Motivate your anger to make them all realize.
Climbing the mountain, never coming down.
Break into the contents, never falling down.
My knee is still shaking, like I was twelve.
Sneaking out of the classroom, by the back door.
A man railed at me twice though, but I didn't care.
Waiting is wasting for people like me.
Don't try to live so wise.
Don't cry 'cause you're so right.
Don't dry with fakes or fears,
'Cause you will hate yourself in the end.
You say, "Dreams are dreams."
I ain't gonna play the fool anymore.
"You say, "'Cause I still got my soul.
"Take your time, baby, your blood needs slowing down.
Breach your soul to reach yourself before you gloom.
Reflection of fear makes shadows of nothing, shadows of nothing.
You still are blind, if you see a winding road,
'Cause there's always a straight way to the point you see.
Don't try to live so wise.
Don't cry 'cause you're so right.
Don't dry with fakes or fears,
'Cause you will hate yourself in the end (25)
"Bagaimana, om? Bagus gak lagu saya? Saya yang nyiptain lo." Ujar Naruto PD.
"Hmm... Lumayanlah." Jawab Hiashi.
"Hinata. Ayo masuk. Karena ini bukan malam Jum'at, jadi kamu belum boleh kencan ama dia. Dan kamu, pulang!" perintah Hiashi dan menarik tangan Hinata masuk ke dalam rumah.
"I... Iya..." jawab Hinata.
"Yah. Sampai jumpa besok Hina-chan!" seru Naruto dari luar gerbang.
"Hehe... Tetep pacaran ama Hinata. Tapi..." tiba-tiba pikiran Naruto bingung lagi.
'Alah, Shikamaru kan bentar lagi sekolah di luar negri. Untuk apa takut coba?' pikir Naruto dan berjalan pulang mengendarai mobilnya.
Komplek ANBU, tepatnya di rumah Sai...
'Gimana nih? Kok gue dieman aja sih, ama Sai? Kalo gini sih namanya bukan kencan.' Keluh Ino dalam hati. Kini ia sedang berada di rumah Sai. Rencananya sih, mau kencan ke taman ria, tapi Sai minta bantuan Ino untuk menghias pohon natal. Karena Sai tinggal sendiri, jadi ia tak punya teman untuk membantunya menghias pohon natal. Jadi ia minta bantuan Ino. Namun, sekarang mereka hanya bekerja dalam diam.
"Ino? Kamu kenapa?" tanya Sai sambil tersenyum. Senyum palsu seperti dulu sebelum mereka berpacaran.
"Ah, Sai. Aku heran dengan kamu. Kok dari tadi bawaannya diem mulu. Ngomong dong. Ada apa sih?" jawab Ino to the point.
"Ah. Itu masalah yang tadi di sekolah. Aku kepikiran terus." Jawab Sai ttp juga.
"Masalah apaan?" tanya Ino tak mengerti.
"Tentang beasiswa itu. Yang ngedapetinnya Shikamaru. Aku gak terima. Aku butuh beasiswa itu untuk ketemu kakakku yang bersekolah di Itali juga. Udah 5 tahun aku gak ketemu dia. Aku rindu ama dia." Jawab Sai mendetail.
"Oh... Jadi kamu ngiri sama Shikamaru? Hehe... Sai ternyata bisa juga ya merasa iri dan rindu?" goda Ino.
"I.. itu... Bukan iri kok! Cuma... ah, sudahlah! Kita lanjutkan aja kerjanya! Aku udah gak papa kok." Ungkap Sai dengan muka memerah.
"Haha... Sai bisa aja." Gumam Ino. Mereka pun melanjutkan pekerjaannya. Dibumbui dengan tertawa dan senyuman yang berbeda dengan keadaan yang tadi. Diam bagaikan tak hidup.
Kediaman Uchiha...
"Sakura. Gimana kalo kamu nyanyiin sesuatu untuk tante?" saran Mikoto, okasannya Sasuke. Begini ceritanya, Sasuke dan Sakura sedang belajar bareng. Lalu mereka mengatakan kepada seisi rumah Uchiha, bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Dan Sakura juga mengatakan bahwa ia pandai bernyanyi dan bermain biola. Langsung saja Mikoto dan Fugaku setuju dengan hubungan mereka. Dan beginilah sekarang, Mikoto meminta request untuk Sakura agar menyanyikan sebuah lagu.
"Baiklah. Tapi, bisa pinjam pianonya gak tante? Saya juga bisa main piano kok." Tanya Sakura.
"Wah, makin bagus dong? Boleh boleh." Ucap Mikoto mempersilakan Sakura memakai piano yang terletak di salah satu sudut ruang keluarga Uchiha.
"Terima kasih." Ucap Sakura sambil tersenyum.
mamoritai mono ga aru
kono basho de tsuyoku naru kara
niguirishimeta kotoshi wo mata niguirishimeta
honto ni daiji na koto wa
kotoba de wa tsutawaranai
yukkuri to yukkuri to ima
sono senaka wo mitsumete ita mita
dou ikirutaba jibun de kimeru koto dato wakatta
honto no yukki wa kitto yasashisa datandane
nakanai koto mo kimeta hazu nanoni
namida afurete tomaranakatta yo
sabishijyanai kanashijyanai
yukki wo kure takara nanda
tabidachi wo kimetandesa
tomeru koto dekinakanata yo
michi no tsuzuki chigau keredo shinjite ruyo
katsu koto ya makeru koto wa
nani mo inmi mo nai dayo
daisetsu na hito mamoru toki tatakaebainda
hito to hito to no masatsu wo kanjite
oshikoroshiteta fukai kizuato no
yume ni kakete ai ni kaete
zenbu dakishimete ikitai
daisetsu na mono ga aru
ano toki ni chikara tsuyoku saku
hanarete mo donna toki mo wasurenai yo
dare mo ga kodoku okasu dake
kokoro itami tsukenaunano
nanto mo nanto mo sakeunde iru yo
inochi wo tsutsumu ai to
kizuna wo wasurenai de
arigatou arigatou
hitori jyanainda
mamoritai mono dakara
kono basho de mamori to wa shite
mae muite ganbaranakya tatoitsuinai
makenaide makenaide
itsu no hi ga mata aeru toki matteru
akiramenai nani ga ate mo aruite iko
la la la la la
la la la
la la la la la la
la la la la la la (26)
"Wah, lagunya bagus, Haruno-san." Puji Mikoto.
"Pacar siapa dulu dong? Sasuke." Ujar Sasuke kePDan.
"Hahaha... Terima kasih." Ujar Sakura sambil tersenyum.
"Suara yang bagus." Komen seseorang tiba-tiba. Sontak Sakura terkaget. Rupanya ia adalah Itachi. Aniki dari Sasuke.
"Wah, salam kenal. Namaku Itachi. Kakak Sasuke." Ujar Itachi memperkenalkan dirinya ke Sakura sambil menjabat tangan Sakura lembut.
"Ha... Haruno Sakura." Ujar Sakura memperkenalkan diri.
"Kak! Lepasin tangannya! Dia pacarku." Perintah Sasuke yang cemburu.
"Hahaha... Adikku ini. Sudah besar ya? Udah bisa cemburu..." goda Itachi. Takut terkena bogem mentah dari Sasuke, ia langsung ngeloyor memasuki kamarnya.
Kita ke scene terakhir, Nara's House (Mang Wammy's House apa?)...
'Besok lusa... Besok lusa aku akan pergi. Meninggalkan bandku, rumahku (Kok nyambungnya ke sini sih?), orang tuaku, teman-temanku, sekolahku (Meskipun merasa gak keberatan juga) dan Temari...' batin Shikamaru yang menyendiri di kamarnya. Perasaan tak ingin meninggalkan, mungkin itu yang saat ini ada dibenaknya. Ia tak ingin meninggalkan semua yang ada di kehidupannya sekarang.
"He? Temari? Ah, ya... Uh, sepertinya sekarang aku memang benar-benar tak ingin meninggalkannya." Ujar Shikamaru. Ia tetap tak mengerti, kenapa dari tadi ia tak ingin meninggalkan Temari pergi.
"Mungkinkah? Mungkinkah aku menyukainya? Ouh, itu gak mungkin! It's impossible (Impossible bot mobile... Begitukah tulisannya???). Sonna!" ucap Shikamaru plinplan.
"Haah... Ingat Shikamaru! Dia itu musuh bebuyutanmu! Kenapa kau jadi tak ingin meninggalkannya? Dan... Ah... Kenapa sekarang kau malah menjadi temannya? Kenapa kau menghiburnya? Kenapa kau berjanji dengannya tentang hal-hal itu? Kenapa kau memeluknya? Kenapa kau menggendongnya (Seharusnya ini dibilang dari tadi!)? Kenapa kau mengkhawatirkannya (Ini juga!)? Dan terakhir, kenapa kau menciumnya waktu itu? Kau ini benar-benar baka, Shikamaru!!!" ujar Shikamaru kepada dirinya sendiri. Istilah lainnya ngomong sendiri atau gila.
"Ah! Tapi apa yang harus kulakukan? Kenapa aku jadi begini? Haa~" ucap Shikamaru merana. (Merana... Kini aku merana~ *author nyanyi gaje*)
'Besok, saat yang tepat untukku mengatakan semuanya kepada Temari.' Pikir Shikamaru. Dan setelah memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing tujuh keliling itu, ia langsung terlelap tidur di ranjangnya yang nyaman. Menunggu hari esok yang akan jadi hari terakhirnya di SHS Konoha.
Taemanai...
Kuchizusamu merodii ga omoidasasete kureru. Oops! Maaf maaf. Kok malah nyanyi sih? Wah! Panjang banget ya chapter kali ini? Aku sendiri bingung nih. Hahaha... Gomen ne, moshi no kono shugo wa nagasa desu, taikutsu saseru desu, to kawatta desu (Sok Jepang lu!!!). Yah, gini deh kalo lagi pusing. Sori juga yagh! Kelupaan scene NejiTen nih. Huhu sedihnya... Ouh ya, mungkin chap selanjutnya atau dua chap lagi chap terakhirnya. Aku sendiri gak tau nih, udah panjang banget ceritanya. Maaf banget kalo yang bosen ceritanya panjang gini. Silakan lempar telur busuk kalo mau *author bener-bener dilemparin telur busuk ama pembaca*. Huft... Langsung aja ya ke bagian lagu ya! Lagu dengan nomor (25) berjudul Wind yang dipopulerkan oleh Akeboshi jadi soundtracknya Naruto Ed1. Dan lagu bernomor (26) berjudul Compass yang dipopulerkan oleh Kawashima Ai jadi soundtracknya One Piece. Sudah dululah. Baca terus fic yang makin aneh ini! Jangan lupa diripyu! Silakan tebak sendiri dulu akhirnya! Matta ashita~!!! Sampai jumpaaa~~~!!!
