Do You Love Me?
Main chara: ShikaTema
Chapter 14: Anata ga Boku wo Aishiteru ka Aishitenai ka?
-
-
-
Disclaimer: Sampai fic ini berakhir pun, Naruto tetap menjadi Masashi Kishimoto-san. Kalau ada kesalahan di sini, maafkan saya (Ngomong apaan ya aku ini?).
Summary: Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah akan berakhir dengan bahagia? Atau malah sebaliknya? Semua akan dibahas sehijau (?) RAMBUT UEKI!!!*author direverse Ueki*...-_-...
23 Desember 20xx, kantin sekolah...
"Huh..."
"Hah..."
"Heh..."
"Hoh..."
"Hih..."
"Hei, ada apa sih? Kenapa pada ber-hah-hih-huh gitu?"
"Kamu gak ngerti sih, Matsuri." Jawab Sakura sambil meletakkan tanggannya di atas meja. Kemudian tangannya tersebut menopang dagunya.
"Ada masalah apaan sih, kalian? Bilang dong ke aku. Siapa tau aku bisa bantu." Ucap Matsuri sambil menyuap nasi karinya ke dalam mulutnya.
"Pertama mulai dari kamu dulu, Saku!" perintah Matsuri sambil menunjuk Sakura.
"Hehe... Sebenarnya sih, bukan aku yang punya masalah. Tapi, si Temari tuh, yang punya. Aku cuma takut aja..." ujar Sakura sambil melirik Temari. Namun ia tak sanggup mengatakan hal selanjutnya. Wajahnya dan wajah Temari kemudian menjadi sangat sedih.
"Hem? Ada apaan sih, Tem?" tanya Matsuri sambil melirik orang yang dimaksud.
"Nggg... Aku... Heeh... Gimana bilangnya ya?" ucap Temari bingung.
"Aku... Terkena penyakit leukemia stadium akhir. Kemungkinan aku akan..." ujar Temari namun tak terselesaikan.
"Haahhhh!!!??? Kamu serius??? Kok gak bilang???" tanya MatsuTenHinaIno bersamaan bak paduan suara.
"Aku hanya, tak ingin mengkhawatirkan kalian." Jawab Temari lesu.
"Te... Tema-chan. Kita kan teman. Kalau Tema-chan gak bilang ke kita, berarti Tema-chan gak nganggep kita teman dong?" tanya Hinata hampir menangis.
"Bu... Bukan begitu, Hinata. Aku... Aku..." Temari tak sanggup mengatakan apa-apa lagi.
"Tem, maaf atas semua kesalahanku yang udah aku perbuat ke kamu ya? Pliss..." pinta Ino sambil memohon dan menggenggam tangan Temari.
"Eh? Kesalahan apa?" tanya Temari bingung.
"Kesalahan yang selama ini aku lakuin. Mulai dari ngejek kamu, lalu ngambil makanan kamu tanpa izin, sampe yang masalah beasiswa itu." Jawab Ino memelas.
"Haha... Ino. Emangnya aku nganggap itu salah kamu apa? Itu semua bukan salah kamu kok." Jawab Temari sambil memandang Ino lembut.
"Hehehe... Jadi aku udah dimaafin kan?" tanya Ino dengan wajah imutnya.
"Iya..." jawab Temari.
"Eh... Ngomong-ngomong, yang ngedapetin beasiswa untuk sekolah musik di Itali itu, Shikamaru lho." Seru Matsuri tiba-tiba.
"Eh? Si nanas?" tanya Temari merasa aneh.
"Iya. Tadi aku denger sendiri pembicaraan antara Shikamaru, Neji, ama Sasuke di kelas." Ujar Matsuri meyakinkan.
"Aku juga udah denger kok, dari Sasuke." Sambung Sakura.
"Aku juga, dapet berita dari Sai." Lanjut Ino.
"Kok aku gak tau ya?" tanya Tenten bodoh.
"Habis, kamu gak up to date sih." Jawab Ino mengejek.
"Sial." Runtuk Tenten.
"Oh ya, Tem. Nih, ada surat dari Shika. Tadi dia nitipin ke aku. Hampir aja aku lupa." Kata Matsuri tiba-tiba, seraya memberikan selembar kertas yang dilipat-lipat dan di depannya tertulis To: Temari.
"He? Surat dari nanas?" tanya Temari heran. Kemudian dibukanya surat tersebut.
To: Temari
Ntar, habis pulang sekolah samperin gue di bukit belakang sekolah. Ada yang mau gue omongin ama elu. Jangan sampe gak dateng! Awas lu!
From: Shikamaru culz...
"Huh. Mau ketemuan aja pake acara ngancem. Udah itu pake 'Shikamaru culz' lagi? Hoek!" ucap Temari sambil menirukan gaya orang muntah.
"Hehehe... Pernyataan cinta mungkin?" tebak Tenten sambil menyeruput moka mixnya.
"Iya. Tema-chan bentar lagi bakal dapat pacar." Sambung Hinata sambil meminum pop ice taronya (Rasa kesukaanku nih!).
"Heh! Enak aja. Uhuk..." ucap Temari. Kemudian ia terbatuk dan mengeluarkan darah.
"Eh, Temari? Kamu berdarah." Seru Sakura begitu melihat darah dari mulut Temari.
"Eh? Darah?" tanya Temari. Lalu ia melihat darah yang terdapat di tangannya. Ia pun berusaha membersihkan darah tersebut menggunakan sapu tangannya.
"Huh, sepertinya penyakitku makin parah saja?" gumam Temari.
"Kamu pasti sembuh, Temari." Gumam Ino menyemangati Temari.
"Hehe... Mudah-mudahan saja." Jawab Temari kecut.
Pulang sekolah, bukit belakang sekolah...
"Huh. Si nanas itu lama banget sih?" tanya Temari jengkel. Sudah 10 menit lewat ia menunggu Shikamaru yang berjanji mau bertemu dengannya sepulang sekolah ini. Namun, ia tak kunjung datang.
"Hah. Dari pada nunggu begini, lebih baik aku bernyanyi saja." Kemudian ia mulai menyanyikan sebuah lagu.
Aiiro ni chirabaru nanatsu no hoshi yo
Sorezore ni ima omoi wa tsunori uchikudakarete ai wo sakenda
Nigedasu koto mo dekizu ni yume ni sugaritsuku
Ikasama na hibi nado ni wa mou makenai
Shika's P.O.V...
'Aku pasti telat.' Pikirku ketika kulihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 14.49.
Aku pun berlari dengan seluruh kecepatanku menuju bukit belakang sekolah, tempat yang kurencanakan untukku mengatakan salam perpisahan kepada Temari secara empat mata. Jujur saja, hanya dia yang saat ini ada di pikiranku.
Setelah sampai di lembah bukit, aku pun bergumam "Merepotkan" seperti biasa. Ya, memang tempat ini adalah salah satu tempat favoritku untuk melihat awan. Namun, sekarang rasanya berat sekali untuk menuju ke sana. Rasa enggan dan malas malah menghinggapiku disaat yang seharusnya aku lakukan. Entah apa yang menjadi beban pikiranku sekarang.
Saat kuinjakkan kakiku ke puncak bukit, aku mendengar sebuah suara yang sudah sangat kukenal. Menyanyikan sebuah lagu mungkin, karena ia sepertinya tidak sembarangan melantunkan kata-katanya. Ya, orang tersebut adalah Temari. Nampak sekali kalau ia sudah bosan menungguku yang tak kunjung menghampirinya.
Rasanya ingin sekali ku kejutkan dia, namun ada rasa lain yang menginginkanku untuk tetap berdiam di sini. Menunggu sampai lagu yang dinyanyikannya selesai. Supaya tak mengganggu kesan indah lagu tersebut.
Mezameyou kono shunkan wo
Yagate bokura wo torimaku dearou
Musekaeru you na riaru na nichijou
Taisetsu na mono wa ... nanda'?!
Zeitaku na sekai no naka ni miekakure suru eien no kakera
Sawatte tsukande bokura no ima wo kicchiri aruitekou
'Hah. Kayaknya aku mulai suka dengan wanita merepotkan macam dia.' Diriku berbatin. Secara, sewaktu kulihat dia tersenyum, sangatlah terlihat kirei dan kawai.
'Huh, jangan sampai itu terjadi! Aku tidak mau.' Hatiku yang lain berkata (Mang hati lu ada berapa?). Aku pun menggelengkan kepala.
'Haah... Ini sangat membingungkan!' kali ini otakku yang berpikir (Jadi dari tadi gak mikir?).
Kulanjutkan lagi mendengarkan dia bernyanyi. Sepertinya sampai sekarang dia gak tahu kalau aku sudah datang.
"Koukai wa shinai" to, saki e susunda
Warau ka, naku ka? Kou ka, fukou ka?
Kekkyoku ima mo wakaranai kedo
Kawarihajimeta mirai ni hirumu koto wa nai
Sore ga jinsei no daigomi to iu mono deshou
Semakin kutajamkan pendengaranku. Ketika ia berhenti sejenak untuk mengambil napas, aku sempat terpana. Dia sangat cantik. Huh, lagi-lagi aku ini berpikir apa?
Lalu kudengar ia bernyanyi lagi. Kali ini, suaranya terdengar semakin keras. Namun sedikit terdengar kalau ia menangis. Kulihat dari kejauhan bahwa ia mengeluarkan air mata dari kelopak matanya.
'Dia menagis lagi.' Pikirku.
Girigiri wo ikiru bokura no dashita kotae ga
Chigatta toshite mo omoikomi demo'
Tsuyoku negaeba ii
Honmono ni nareru hi made
Reikoku na sekai no naka de tsubusaresou na aijou no mebuki
Sawatte tsukande bokura no ima ni shikkari kizamikomou
Dia berhenti menyanyi sejenak. Ternyata ia ingin menyeka air matanya. Benar-benar wanita yang tegar. Kalau saja aku ada di sampingnya saat ini, aku akan memberikannya sebuah pelukan hangat untuk menenangkannya (Kok nyambungnya jadi ke sini ya??).
Mezameyou kono shunkan wo
Yagate bokura wo torimaku dearou
Musekaeru you na riaru na nichijou
Taisetsu na mono wa ... nanda'?!
Zeitaku na sekai no naka ni miekakure suru eien no kakera
Sawatte tsukande bokura no ima wo kicchiri aruitekou
Saigo ni, warau tame bokura no ima wo kicchiri aruitekou (27)
'Sepertinya dia sudah selesai bernyanyi. Baiklah, sekarang saat yang tepat!' ujarku dalam hati. Aku pun melangkahkan kakiku mendekatinya. Berusaha sepelan mungkin agar tak terdengar olehnya. Aku ingin mengejutkannya.
"DORR...!!!"
"Kyaaaaaaaaaa!!!!!!!!!"
"Hahaahaa... Kau bisa juga ya terkejut?" tanyaku sambil tertawa.
"Huh. Bakayarou!" ujarnya sambil melengos. Kemudian berwajah masam seperti biasanya.
End of Shika's P.O.V...
Back to normal P.O.V...
"Heh. Apa sih maumu? Datang-datang langsung ngagetin orang. Dasar!" omel Temari ketika melihat Shikamaru yang tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha... Gomen, gomen..." ucap Shikamaru meminta maaf kepada Temari sambil mengangkat sebuah papan bertuliskan 'Maafkan aku' dengan gaya bak Nami One Piece (Yang kea di komik One Piece vol 46 chap 444 itu!).
"Ya sudahlah. Sekarang, kau mau bicara apa?" tanya Temari judes.
"Lo udah tau masalah beasiswa itu kan?" tanya Shikamaru berusaha seserius mungkin. Kini papan gaje tadi sudah dibuangnya.
"Udah. Dan aku juga udah tau, kalo yang dapetin beasiswa itu kamu." Jawab Temari sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Huh. Bagus kalo udah tau." Seru Shikamaru sambil mengangkat jari telunjuk kanannya ke atas (Yang kea Monta di komik Eyeshield 21 vol 26 chap 227).
"Lalu?" tanya Temari yang terlihat sudah bosan.
"Lalu, gue berangkat besok. Jam setengah 10 pagi. Jadi kita... Gak bisa kumpul-kumpul bareng pas malam Natal." Jawab Shikamaru tanpa memandang mata Temari yang sudah berkaca-kaca.
"Apa... Apa gak bisa diundur? Kan kamu udah janji ama aku. Hue..." tanya Temari. Namun ia tak bisa menahan tangisnya. Akhirnya, ia malah menangis seperti anak kecil.
"Ya, gak bisa. Itu udah keputusan." Jawab Shikamaru sambil berusaha untuk tidak menangsi juga.
"Lo... Lo rela gak, kalo gue..." ucap Shikamaru. Namun tak terselesaikan.
"Nggak! Aku gak rela kalo kamu pergi. Aku pengen ngerayain malam Natal ama kamu. Ama temen-temen! Aku gak mau kalo ada yang gak dateng!" bentak Temari yang kini sudah menenggelamkan wajahnya (?) di dada Shikamaru. Sambil memukul-mukul pelan dada Shikamaru.
"Tenang aja. Kalo aku balik lagi ke sini, kita kan bisa ngerayainnya sama-sama? Ya kan?" tanya Shikamaru sambil memandang lembut mata Temari dan menggenggam pipinya.
"Makanya jangan sedih lagi." Ucap Shikamaru lagi. Berusaha menengkan Temari. Alhasil, Temari langsung menghentikan tangisnya.
"Tapi, kalo aku udah nggak ada. Gimana?" tanya Temari polos.
"Duh, kamu yang optimis dikit dong! Kamu pasti sembuh!" seru Shikamaru menyemangati Temari yang sedang berCIUT-CIUT ria.
"Kalo gak sembuh gimana?" tanya Temari polos –lagi—.
"Hah. Kamu gimana sih? Udah kubilang kan..." ucapan Shikamaru terpotong ketika Temari dengan kecepatan cahaya (Mulai lagi!) menyergap bibir Shikamaru. Mencium maksudnya.
Semakin lama, mereka semakin memperdalam ciuman kedua mereka itu. Setelah sepersekian detik mereka terlarut dalam ciuman itu, mereka akhirnya saling melepaskan diri.
"Maaf, kelepasan (?)." ujar Temari yang sekarang wajahnya sudah semerah rambutnya Mamori. Pipi Shikamaru juga tak kalah merah.
"Ah. Kelepasan apaan?" tanya Shikamaru loading.
-
-
-
Di dunia author...
Author: Lha? Kok loading sih? Duh, napa nih? Jangan-jangan otaknya ada yang salah lagi? *aku cemas stadium akhir*
Shika: Woy, author! Kok lu buat gue loading sih? *dudukin kursi terhormatku*
Author: Meneketehe! Mungkin lo belum bayar tagihan internet kali? *nuduh Shika sambil mencet-mencet tombol hp* Halo, tukang reparasi di sana?
Agon: Bukan, author sampah! Gue Agon. Unsui nyuruh gue jadi tukang cuci piring di sini! Kurang ajar tuh, botak sampah! Beraninya dia nyuruh gue! *banting-banting piring*
Author: Astagfirullah, Agon! Yang bener aja lu? Aduh aduh. Njenengan, gue butuh bantuan elo nih. *pake gaya njeng-njeng lagi arisan*
Agon: Bantuan apaan? Nyuci piring? *masih ngebanting piring*
Author: Bukan! Ini merepair otak orang. *nunjuk Shika*
Shika: Apa lu bilang? Ngerepair otak gue? Emang otak gue udah rusak apa? *nodongin kunai depan wajah aku*
Author: *ngomong ke Shika* Bukan! Ada virus H2N1 nya! *ngomong ke Agon* Bisa gak, Gim?
Agon: Gam gim gam gim! Emang nama gue 'Aa Gim' apa? *mengeluarkan devil bats ghost langsung dateng ke kamar aku bawa-bawa Hiruma*
Hiruma: Heh, gimbal sialan! Ngapain lo bawa-bawa gue? Gue lagi kencan nih ama Mamori! Ganggu aja lu! *nembak Agon pake wasabi*
Agon: *gosong* Nih, tukang repair yang sesungguhnya! *nunjuk Hiruma*
Shika: Waduh! Kalo tukang repairnya orang kea dia, gue lebih baik balik aja deh! Ogah gue diobrak-abrik ama dia! *nunjuk Hiruma juga*
Hiruma: Ya udah kalo kagak mau! Balik lu sana! *nembak Shika pake devil laser bullets*
Shika: Huwaaaa!!! *kontal ampe balik ke Naruto fic world*
End of dunia author...
-
-
-
"Oh, iya iya. Gak papa kok." Jawab Shikamaru lemot.
"Makasih juga ya, udah ngasih semangat." Ujar Temari. Kini ia sudah lebih ceria.
"Hehe...Emang harus gitu kan?" tanya Shikamaru sambil nyengir.
"Oh ya, Tem. Gimana kalo kita nulis perasaan kita masing-masing, lalu kita gulung en masukin ke dalam botol ini. Dikubur, selesai deh!" ujar Shikamaru.
"Ha?" tanya Temari tak mengerti.
"Aduh, gimana ya jelasinnya? Mmhh... Gini, kamu nulis gimana perasaan kamu terhadap aku. Aku juga gitu. Nah, kalo udah selesai, kita gulung kertas ini, kita masukin ke dalam botol ini, dan dikubur. Kalo kita ketemu lagi di sini, baru boleh dibuka. Gimana?" tanya Shikamaru setelah selesai menjelaskan penjelasan yang baru dimengerti Temari.
"Oooohhh... Aku ngerti." Jawab Temari sambil mengangguk dan mulai menuliskan sesuatu di kertas itu.
Setelah mereka berdua selesai menulis tentang perasaan mereka masing-masing, mereka pun menggulung dan memasukkan kertas tersebut ke dalam sebuah botol yang kebetulan dipungut Shikamaru di TPS dekat sekolah (Napa musti TPS??).
"Aku kubur di sini ya?" tanya Shikamaru seraya mengubur botol tersebut ke dalam tanah yang di depannya terdapat sebuah pohon akasia.
"Kalo kita lupa tempatnya gimana?" tanya Temari.
"Kita kasih tanda aja. Nih, tanda persahabatan kita." Ucap Shikamaru kemudian menuliskan sesuatu di batang pohon akasia tersebut. Tulisannya adalah "Nakama, zutto."
'Kenapa gak aishiteru zutto?' tanya Temari dalam hati.
"Huh, udah sore nih. Matahari juga mau tenggelam. Pulang yuk! Biar aku anterin." Ajak Shikamaru yang berhasil menyadarkan Temari dari lamunannya.
"Eh? Iya..." jawab Temari yang tangannya rupanya sudah digenggam erat oleh tangan Shikamaru.
'Arigatou, Shikamaru.'
24 Desember 20xx, Konoha International Airport, pukul 09.17...
"Duh, mana Gaara ya? Kok, gak muncul-muncul juga?" tanya Naruto yang sudah berulang kali menelpon-nelpon Gaara. Namun, yang diharapkan tak muncul jua.
"Heh, Temari juga. Kemana sih dia? Padahal kan kemaren udah janji mau dateng." Runtuk Shikamaru yang kesal karena Temari juga tak datang-datang.
Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Rupanya bunyi handphone Sasuke.
I don't wanna let you go
Taerarenai wanna back to your life
Sepia ni sometakunai no sa
Sono namida ga kotae to kotoba wo koete boku he to tsutaeteiru ne (28)
"Hmmm... Dari Gaara!" seru Sasuke ketika melihat nama yang muncul dari layar handphonenya.
"Moshimoshi, Gaara. Ada apa? Cepetan dateng! Shikamaru udah mau berangkat nih!" suruh Sasuke.
"Sorry banget, Sas. Gue gak bisa dateng. Ada kabar buruk." Jawab Gaara dengan nada sedih.
"Emang ada apaan sih?" tanya Sasuke bingung.
"Temari-nee, barusan aja meninggal." Jawab Gaara dengan suara yang amat sangat pelan.
"A... Apa? De... Deshou?" tanya Sasuke shock.
"Ya. Tolong lu jangan bilang ama Shikamaru. Itu pesan dari Temari-nee. Tunggu kalo dia udah balik ke sini baru dikasih tau. Please, ini permintaan Temari-nee." Lanjut Gaara.
"Tapi, gue musti bilang apa?" tanya Sasuke sambil berbisik.
"Bilang aja, kita berdua gak bisa dateng karena ada acara keluarga. Ya udah deh, gue serahin ke elu. Gue sekian dulu. Bilang aja selamat jalan ke Shikamaru." Jawab Gaara dan langsung sambungan telepon tersebut terputus.
"Halo? Hah, udah diputus." Keluh Sasuke. Kemudian ia menutup handphonenya dan kembali menghadap ke arah semua teman-temannya yang pada panik.
"Gimana, Sas? Apa katanya?" tanya Shikamaru yang benar-benar panik.
"Heh. Kata Gaara, mereka gak bisa pergi karna ada acara keluarga. Dia minta maaf banget dan ngucapin selamat jalan ke elo. Gak papakan?" tanya Sasuke sambil menepuk-nepuk bahu Shikamaru.
"Oh, syukurlah kalo gitu. Berarti yang gue cemasin gak benar." Ucap Shikamaru bersyukur. (Bersyukur... Kepada Allah~ *author nyanyi makin gaje*)
"Pesawat dengan tujuan Italia sebentar lagi akan berangkat. Diharap semua calon penumpang untuk segera menaiki pesawat. Sekali lagi..." peringatan untuk segera menaiki pesawat terdengar dari megaphone yang terpasang di bandara tersebut.
"Hah. Udah saatnya gue berangkat. Gue titip Aqua Timez ama kalian ya?" kata Shikamaru kepada teman-teman sebandnya.
"So pasti. Jangan lupain kita ya, kalo udah jadi orang gede?" tanya Neji memperingatkan.
"Pasti!" jawab Shikamaru sambil mengepalkan tangannya dan menaruhnya di depan dadanya (Garuda... di dadaku *author dilempar telur busuk karna nyanyi gaje terus*).
"Kalo ke sini lagi, bawa oleh-oleh ya!" pesan Ino dan Sakura bersamaan.
"Kalo ketemu aniki gue, sampain salam gue ya!" pesan Sai.
"Hahaha... Bawa makanan yang enak ya, kalo ke sini lagi!" pesan Naruto.
"Dada..." yang lain cuma dada-dadaan doang.
"Hm." Cuma itu tanggapan Shikamaru. Kemudian ia tersenyum dan melangkahkan kakinya menjauhi teman-temannya.
"Hah. Sasuke-kun, emang tadi Gaara bener ya gak bisa pergi karna ada acara keluarga?" tanya Sakura yang penasaran sekali.
"Sebenarnya sih bukan. Mereka gak bisa pergi ke sini karna..."
"Karna apa?" tanya semuanya penasaran sambil mendekatkan wajah ke depan Sasuke.
"Temari wa shinda tte..." jawab Sasuke sambil menunduk.
"Hah???" teriak Sakura n friendz kaget. Hinata sampai menangis.
"Te... Temari... Khu khu..." sebut Tenten kemudian menangis dalam pelukan Neji.
"Lebih baik. Kita kerumahnya sekarang." Saran Neji. Dan mereka pun segera pergi meninggal Konoha International Airport dan segera menuju ke Rei Mansion, rumah Temari.
3 tahun kemudian, bukit belakang sekolah...
Suasana masih tak berubah, salju turun dimana-mana. Karena sekarang adalah sore menjelang tahun baru. Banyak sekali orang yang berlalu lalang di bawah sana.
Seorang lelaki berambut hitam dengan bentuk seperti nanas dengan mengenakan sebuah kaus bermerek, keluar dari sebuah mobil mewah berwarna hijau muda yang dikendarainya. Menuju puncak bukit yang menyimpan sebuah kenangan yang sulit untuk dilupakannya.
"Hah, sudah tiga tahun gak kesini. Tapi gak ada yang berubah sejak saat itu. Yang beda hanya salju." Gumam lelaki tersebut. Nara Shikamaru.
Setelah sampai di puncak bukit, ia segera mencari-cari pohon akasia yang di batangnya terdapat ukiran bertuliskan "Nakama, zutto" yang ditulisnya 3 tahun lalu. Dan setelah beberapa lama mencari, akhirnya ketemu juga.
"Hah, ini dia!" serunya ketika melihat ukiran tersebut di batang pohon yang dicarinya.
'Tapi, apa dia datang ya?' tanya Shikamaru dalam hati. Mempertanyakan kedatangan Temari.
"Aku datang, Shikamaru." Terdengar sebuah suara merdu dari arah belakang Shikamaru. Suara yang amat dikenalnya, suara Temari. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, ia tak mendapati sosok Temari.
"Te... Temari? Kamu dimana?" tanya Shikamaru sambil mencari-cari sumber suara.
"Aku di belakangmu." Jawab Temari. Kemudian ia memeluk tubuh Shikamaru dari belakang.
GLEK...
"Apa kau dapat merasakannya?" tanya Temari yang makin mempererat pelukannya.
"Te-Temari, jangan bilang kalo kamu..." ucap Shikamaru terpotong. Kini tubuhnya benar-benar tak bisa bergerak.
"Ya. Maaf kalau waktu itu, Gaara membohongimu. Tapi sebenarnya aku yang menyuruhnya." Jelas Temari yang makin menenggelamkan wajahnya di punggung Shikamaru.
"Bisa-bisanya aku tertipu." Ujar Shikamaru kemudian ia tertawa. Namun tertawa yang nampak sekali kalau itu dipaksakan.
"Bisakah kau menggali botol yang dulu itu? Aku ingin mengetahui perasaanmu. Sebelum aku benar-benar tak bisa menyentuhmu lagi." Aku Temari.
Temari pun melepaskan pelukannya dari Shikamaru. Langsung saja Shikamaru menggali tanah bersalju itu dengan kayu yang terdapat di dekatnya. Setelah beberapa lama digali, akhirnya ketemu juga botol tersebut.
"Boleh aku baca perasaanmu dulu?" tanya Shikamaru sambil mengambil kertas yang rupanya punya Temari.
"Silakan." Jawab Temari sambil tersenyum.
Shikamaru pun membuka gulungan kertas tersebut. Lalu ia membacanya, namun dalam hati. Seutas senyum menghiasi bibirnya ketika baru saja membaca.
Maaf kalau kau tersinggung,
Perasaan pertama yang kurasakan saat bertemu denganmu adalah, kau itu menyebalkan. Dan kupikir kaulah orang paling menyebalkan di dunia ini.
Lama-kelamaan kau membuatku kagum dan aku malah jadi menyukaimu. Saat kau mendekatkan wajahmu itu, aku menjadi sangat deg degan.
Lalu saat kau mencium Shiho waktu itu, aku sangat-sangat shock dan cemburu (Kuakui itu!)
Dan saat kau menghiburku, entah kenapa perasaanku merasa nyaman. Aku serasa melayang (Huah! Temari lebay!). Mungkin aku terlalu lebay, tapi itulah yang kurasakan. Dan sekarang, lewat kertas ini aku ingin menngucapkan satu kata saja. Takut kalau aku sudah tak sempat mengatakannya.
Aishiteru...
Dan tolong jawab pertanyaanku!
Anata ga boku wo aishiteru ka?
"Haah. Lucu sekali." Ujar Shikamaru ketika selesai membacanya.
"Sekarang kau. Cepat! Aku mau tau." Suruh Temari yang malu sendiri.
"Hmm... Baiklah." Kata Shikamaru sambil membuka kertas miliknya sendiri.
Oke! Aku mulai...
Kau itu adalah wanita yang paling menyebalkan, merepotkan, menyeramkan, dan selalu membuatku begidik kalau di dekatmu. (Aku selalu takut kalau-kalau kau mau memukulku!)
Tapi, semua berubah ketika kau bilang kau benci kepadaku. Apa kau masih ingat saat itu? Saat dimana kau melempar tasmu ke arah Shiho. Dan aku menangkapnya lalu melemparnya dengan keras ke arahmu. Sesaat setelah kau bilang kalau kau benci kepadaku, aku langsung marah kepada diriku sendiri.
Jujur, setelah aku mengetahui tentang penyakitmu, aku rasanya sangat sedih. Aku takut kehilangan kau. Dan disaat itu juga, mungkin aku mempunyai perasaan suka terhadapmu.
Dan disaat Tsunade-sensei mengatakan bahwa yang memenangkan undian dialah yang akan mendapat beasiswa untuk study ke Italia adalah aku. Aku serasa ingin menolak, karena aku tak ingin jauh-jauh darimu. Namun, apa daya? Aku tak bisa melakukan apa-apa.
Ah, maaf kalau kepanjangan. Langsung saja ya! Perasaanku kepadamu saat ini adalah... Ng..
Anata wa aishiteru
Anata ga ore wo aishiteru ka aishitenai ka, Temari?
(Ps: Jangan tertawa, ya!)
"Perasaan kita sama. Dulu kita sama-sama saling membenci. Sampai akhirnya, malah saling menyukai." Ucap Shikamaru sambil menggulung kembali kertasnya dan memasukkan ke dalam botol seperti semula.
"Iya, ya? Hehe..." lanjut Temari sambil tersenyum.
"Ah, aku lega sudah tahu perasaanmu." Kata Shikamaru sambil menolehkan wajahnya ke Temari. Meskipun ia tak dapat melihat sosok Temari.
"Sebelum waktuku habis, aku ingin bilang kalau aku mencintaimu." Ucap Temari.
"Ya." Ucap Shikamaru mengiyakan. "Tubuhmu, hangat ya?" tanya Shikamaru. Dan bersamaan dengan itu juga roh Temari lenyap bersama angin yang berhembus, serta matahari yang terbenam.
Setelah kepergian Temari, ia pun memejamkan matanya. Merasakan angin yang berhembus. Dan menyanyikan sebuah lagu.
Karada wa boku no kokoro no koto wo boku yori wakatte kureteru
Kinchou sureba tenohira ni ase ga nijimu
Itsudatta kanaa okuba wo kami tachidomaraseta hazu no namida ni
Kanashimi wo kanashimu to iu koto wo osowatta no wa
Kibou no kotoba wo takusan BAGGU ni tsumekonde tabi ni deta
Hikikaesu tabi ni kimi wa ukedomete kureta
Itsu no hi mo kotoba wo erabezu tohou ni kureru boku
Kotoba ni tayorazu dakishimeru kimi
Kimi no hou ga zutto sabishii omoi wo shite kita no ni
Shagamikomu senaka wo sasutte kureru itsumo soba ni aru chiisana tenohira
Donna ni kirei ni kazarareta kotoba yori mo sono nukumori ni tasukerarete kita
Nani mo kamo umaku iku toki de wa naku nani mo kamo umaku ikanu toki ni koso
Hito wa taisetsu na sonzai ni kizuku no deshou don na boku mo aishitekureru kimi e
Arigatou itsu mo soba ni itekurete
Kusamura ni yokotawatte nagareru kumo wo nagameru to
Shizuka na kokoro wo torimodosu koto ga dekita
Sukoshi dake kinou yori mo yasashiku nareru kigasuru sono basho de
Hitori de wa ikite yukenu koto kamishimeteta
Sore demo haruka kanata yureru kiseki no hana ni miserarete
Mamorinuku beki nichijyou wo karashite shimau
Motto mukashi seishun wo seishun to mo shirazu kakenukete kara kizuita you ni
Taisetsu na hito no taisetsusa wo misugoshiteku
Utsukushii omoi dake jya ikirarezu yakusoku no sora mo yogoshite shimaeta
Anna ni kirei suki tooru sora no shita de sono ao ni "kanarazu" to chikatta no ni
Hibiwareta risou wo tebanasenu mama ikite kita hibi wo omoikaesu kedo
Ushiro bakari mitetara ashita ga kanashimu kara hito wa mae ni susumu shikanain da yo
Me no mae ni iru ai subeki hito no tame ni mo
Me ni mienu kizuato wo sasutte kureru yasashii tenohira ga aru to iu koto
Sekaijyuu ni hakujyu wo morau koto to yori zutto taisetsu na mono ga soba ni atta
Isogashiku kurasu hibi ni mayoi komi omoiyari ga muimi ni omoete mo
Nidoto nakushite kara kizuku koto no nai you ni
Konna boku wo aishite kureru kimi ni "arigatou" no uta wo tsukurimashita
Kotoba jya tarinai kitto oitsukenai yo
Kotoba jya tarinai kedo, kedo, arigatou (29)
"Arigatou, Temari..."
"Hei! Kau pulang gak bilang-bilang ya?" teriak seseorang sambil menepuk bahu sang nanas. Spontan, Shikamaru langsung kaget ketika dilihatnya Naruto di belakangnya. Bersama teman-temannya yang lain.
"Hehehe... Kami mengikutimu tadi. Lalu kami juga mendengar kau berbicara sendiri. Tapi ketika itu, baru kami sadar kalau kau berbicara dengan kakakku." Ujar Gaara yang berada paling belakang.
"Sebentar lagi, kembang api akan dinyalakan. Dan kali ini kembang apinya kembang api 12 belas warna, lho!" gumam Sakura.
BLUARRR....
Tak beberapa lama terlihat letusan hanabi no nijuu iro (Kembang api 12 warna). Kembang api yang sangat indah. Membuat semua mata yang memandang terkesima.
"Sayang ya? Warna sang penyuka coklat gak ada." tanya Ino melirik Shikamaru. Lalu melirik pacarnya.
"Siapa?" tanya Shikamaru sambil memiringkan kepalanya. Seperti Luffy One Piece.
"Siapa lagi kalo bukan Temari?" tanya Ino lagi.
"Hahaha..." semua tertawa.
"Sayang ya, coba kalo dia perginya lebih lama sedikit. Dia pasti bisa ngumpul bareng kita sekarang." Gumam Tenten.
"Iya! Hahaha..." semua pun tertawa. Benar-benar hari yang membahagiakan untuk mereke bersebelas. Meskipun kekurangan satu orang teman mereka, namun mereka tak berlarut dalam kesedihan lebih lama. Wong udah 3 tahun. Ya nggak?
OWARI
Hiks hiks... Akhirnya, berakhirlah cerita aneh nan gak nyambung ini! Padahal pengen buat yang lebih sedih lagi, tapi gak kesampean. Ya udahlah. Gak papa deh. Ini juga udah panjang banget. Sebenarnya mau buat ending yang lebih berkesan lagi. Tapi ya malah gini jadinya. Gak papa kan? Langsung aja deh, ke bagian penyebutan (?) judul lagu. Lagu bernomor (27) dengan judul Grip! Yang dinyanyikan oleh... aku sendiri gak tau! *author dilemparin majalah lama ama pembaca* yang merupakan soundtracknya InuYasha Op4. Lalu lagu bernomor (28) berjudul Sepia yang dinyanyikan oleh D-51 (Sori kalo salah, aku sendiri juga kurang tauk.^.^.) dan merupakan soundtracknya Blue Dragon Ed4. Dan untuk lagu terakhir atau nomor (29) berjudul Chiisana Tenohira dari Aqua Timez. Oke deh kalo gitu! Langsung ripyu aja deh kalo abis baca... Pliz... *pinjem puppy eyesnya Naruto*... Terima kasih sudah setia untuk menunggu, membaca, dan meripyu fic ini. Sampai jumpa di fic gaje berikutnya. Matta ashita yo readers-tachi!!! Baibai!!!
