LOVE TASK

A/N : I'm back… makasih banyak ya yang udah nge-review "LOVE TASK". Maaf banget yah, sepertinya saya terlalu lama meng-update ceritanya (bukan sepertinya lagi, tapi emang telat banget :D), biasa.. terlalu sibuk dengan urusan sekolah plus kehilangan ide menulis di tengah jalan yang berliku (alaaaaaaaaah). Buat para review-ers, terimakasih banyaaak banyaak banyaaak. Doumo Arigatou Gozaimasu… Banyak juga ternyata yang mendukung saya untuk terus nulis cerita ini. hehehe .

Daripada kelamaan ba bi bu here's the new chapter of LOVE TASK, please enjoy reading…


Chapter 2

Ichigo's POV

"Okay class, I would like you to perform your dialogue in our beautiful school garden!! It's really fit place when you guys confess your love feeling…fufufufufu" kata Ochi-Sensei berbunga-bunga. Kedua tangannya saling menggenggam, kacamatanya berkilat-kilat dan pipinya ikut merona merah.

Aku tak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi wanita itu bisa berbunga-bunga juga dalam hal ini, ya? Kukira, dia hanyalah orang yang maniak memukul kepala oranye-ku ini. Biarlah, tak usah terlalu aku pikirkan. Tapi… tampil di taman sekolah?? Itu… itu… kan memalukan! Dilihat berbagai pasang mata??! Kuso!! Lagipula, aku belum pernah melakukan hal semacam ini! Mau ditaruh dimana mukaku ini nanti?! Mulutku mulai bersungut-sungut. Sungguh sialan wanita itu!

"Kurosaki-kun, kau tak apa-apa?" Tanya Inoue keheranan.

"Uhh… uuhh… aku tidak apa-apa, Inoue. Ayo kita lanjutkan, lagi membuat dialognya"

"Dialognya sudah jadi kan? Kau ini kenapa? Tampaknya kau kalut sekali" wajahnya semakin mendekat. Entah mengapa pipiku terasa panas. Ahh.. Inoue, sebaiknya jangan terlalu mendekat seperti itu.

"Ahh..ti..tidak.. biasa saja, kau ini kenapa sih Inoue?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alis mataku pertanda keranan.

"Kurosaki-kun, mukamu merah. Kau sakit??" wajahnya cemas.

"Dia hanya gugup… tenang saja Inoue, dia tidak apa-apa. Dia cuma takut image yang sudah ia bangun bertahun-tahun hancur…. Fufufufufu" kata Rukia tiba-tiba menghampiri kami berdua with her wicked smile off course.

"Heh Teme! Lebih baik kau urus saja dialogmu itu!" kataku kesal.

"Aku kemari hanya karena penasaran saja. Wahh.. ternyata tuan penjaga image sebentar lagi harus rela kehilangan image yang sudah ia bangun bertahun-tahun yah??" matanya memicing penuh kemenangan.

"Ahh aku tak peduli! Aku sudah muak melihat mukamu itu! Cepat kembali ke tempatmu sana!!" bentakku.

"Wah.. kau jahat sekali! Tak seharusnya aku sebagai wanita kau perlakukan seperti itu!! Hiks.. Kurosaki-kun jahaaaaaaaaaaaaaat!!" balas Rukia sambil berlalu.

Biarlah ia pergi, sepertinya kehadirannya sangat menggangguku saat ini. Hari ini benar-benar hari yang kurang beruntung bagiku. Benar apa kata Rukia. Image yang sudah kujaga bertahun-tahun akan hancur hari ini. Tapi, siapa peduli? Sepertinya anggapan menjaga image harus aku hapus dari kehidupanku.

"Kurosaki-kun, bukankah sebaiknya kau minta maaf? Kasihan Rukia-chan kau bentak seperti itu" kata Inoue mengejutkanku.

"APA?! Kenapa aku harus minta maaf??! Sudahlah Inoue, jangan terlalu kau pikirkan. Rukia memang seperti itu"

"Tapi… sama saja kau tak sepantasnya berkata itu kepada Rukia-chan. Dia itu kan perempuan. Tak semestinya sebagai laki-laki kau perlakukan seperti itu" bela Inoue.

Aku heran, kenapa di saat seperti ini Rukia masih saja dibela.

"Yayaya, aku bisa minta maaf nanti di rumah. Kau sudah hafal semua dialognya kan Inoue?" tanyaku, berusaha mengganti topik.

"Ya, lumayan. Kurosaki-kun, ternyata kau pandai juga ya membuat dialog seperti ini" puji Inoue.

Sanjungannya benar-benar membuatku kalut sekarang.

"Mmm..tidak juga.. ini dialog yang hanya tiba-tiba keluar dari pikiranku saja" kataku, berusaha menyembunyikan pikiranku yang kalut.

"Wah begitukah?? Mmm.. ano, Ichigo-kun… mungkinkah Ichigo-kun…" kata-katanya terputus sesaat

"Kenapa Inoue? Memangnya ada apa denganku??" tanyaku lagi, penasaran. Pasti ada sesuatu yang ingin dia katakan.

"Ahh.. tidak, tidak. Itu tidak penting" jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya yang mungil di depan dadanya yang besar.

"Kau ini membuatku penasaran, Inoue"

"Maaf, Kurosaki-kun. Aku tidak bermaksud membuatmu heran atau bingung seperti-"

"oke..oke.. aku mengerti. Sudahlah tak usah dipikirkan lagi"

!!! Bel yang menandai akhir pelajaran di sekolah pun berbunyi. Semua murid bergegas membereskan barang-barangnya.

"Baiklah semuanya. The class is over. Kita lanjutkan pelajaran ini besok. Aku harap, kalian sudah siap untuk menampilkan dialog kalian besok. Paham?"

"Paham, Sensei" jawab kami serentak

"Ja, matta ne minna!" pamit Ochi-sensei dari kelas diikuti murid-murid yang lainnya. Dengan sekejap seisi kelas terlihat agak kosong. Di beberapa bangku, masih ada beberapa murid yang duduk dan mengobrol dengan murid yang lainnya. Terdengar sayup-sayup pembicaraan mereka yang masih berdiskusi menyelesaikan tugas ini.

"Ano… Kurosaki-kun" panggil Inoue.

Sambil sedikit menggigit bibir merah mudanya Inoue menghampiriku. Tingkahnya terlihat malu-malu.

"Mungkin, kita perlu sedikit latihan lagi. Apa hari ini kau ada acara?" tanyaku tanpa basa-basi.

Inoue terperanjat. Matanya membulat seperti yang terkaget-kaget mendengar pertanyaanku.

Orihime's POV

"Mungkin, kita perlu sedikit latihan lagi. Apa hari ini kau ada acara?"

Pertanyaan itu sontak membuatku terperanjat kaget. Bukannya aku tidak ingin berlatih bersama Kurosaki-kun, tapi... tapi aku...

Ah sudahlah! Kenapa aku jadi berbalik kalut seperti ini?? Aku tidak mungkin menolak ajakan Kurosaki-kun untuk berlatih hanya gara-gara Aku menyukai Kurosaki-kun kan? Dengan segenap keberanian yang kumiliki, Aku berusaha menjawab pertanyaan Kurosaki-kun.

"I.. Iya.. Ah! Umm.. Tidak. Maksudku, hari ini Aku tidak ada acara sama sekali. Jadi... jadi kita bisa berlatih" kataku terputus-putus

"Oh.. baiklah. Bagaimana kalau kita berlatih di rumahmu nanti malam, Inoue?"

"Di rumahku??!!"

Sontak nada bicara yang keluarkan meninggi, kali ini Aku lebih kaget lagi. Kurosaki-kun langsung mengerutkan dahi-nya keheranan.

"Kau keberatan, Inoue?"

"Ah..Uhh.. Ng.. te... tentu saja tidak Kurosaki-kun" jawabku pasrah.

"Baguslah kalau begitu. Maaf merepotkanmu Inoue. Tapi, Aku lebih tidak mau merepotkanmu lagi jika kau berlatih di rumahku. Keluargaku pasti akan mengganggu acara kita" jelasnya

Aku hanya manggut-manggut paham. Eh, tunggu. Tadi dia bilang "acara kita?" pikiranku mulai melayang membayangkan sesuatu. terlihat di pikiranku, Aku dan Kurosaki-kun duduk bersebrangan pada meja makan dikelilingi oleh kolam ikan yang penuh dengan tarian ikan-ikan koi yang menggemulai. Di tengah meja makan kayu yang memisahkan kami, terdapat hiasan lilin-lilin kecil berwarna merah yang ditempatkan pada gelas mungil. Bisa dibilang, acara kami ini acara candle light dinner. kami saling melempar senyum di dalam suasana romantis itu. Eh, tunggu...Aku berkencan bersama Kurosaki-kun??!!

"Inoue..." panggilnya sambil melambaikan sebelah tangannya di hadapan mukaku

"Kau ini melamun terus dari tadi. Ngga bosan yah? Kebanyakan melamun itu ujung-ujungnya rugi loh"

"Ahh.. Gomennasai Kurosaki-kun!" jawabku seraya membungkukan badanku di hadapannya.

"Sepertinya Aku lelah, butuh istirahat. kalau begitu, sampai ketemu nanti malam!" kataku sambil tergesa-gesa keluar dari kelas.

"INOUE TUNG-gu!!" Panggil Kurosaki-kun.

Dari luar kelas, teriakannya menggema di kedua telingaku meskipun telah lenyap dilahap udara. Gomen, Kurosaki-kun... aku harus menghindar untuk sementara waktu darimu. Rasanya Aku ngga berani memperlihatkan wajahku yang mungkin saat ini memerah bagai buah tomat.

Normal POV

Sembari memasukkan dompet merah jambunya ke dalam tas cokelatnya, Orihime menenteng kantung plastik berwarna putih berisikan bahan-bahan makanan yang dibelinya. Bahan belanjaan yang dibelinya dari minimarket tadi, kali ini tidak seaneh yang biasanya. Sambil berjalan menuju apartemen kecilnya, Orihime memeriksa bahan-bahan makanan yang tadi Ia beli untuk sajian makan malam kali ini.

"Fillet ayam, bokcoy, bawang bombay, saus teriyaki, 1 bungkus plain jelly, dan 1 kaleng manisan buah.... semuanya lengkap!" lirihnya sambil berjalan.

Gadis berseragam Sekolah Karakura itu kembali melangkahkan kedua kakinya dengan riang melewati jalan yang memebentang melewati sungai jernih nan bening tempat favoritnya. Dari kejauhan, terlihat sosok pemuda berambut oranye yang berdiri tepat di pinggiran sungai itu.

"Kurosaki-kun?!"

Ichigo membalikkan badan tegapnya ke arah gadis yang memanggil namanya lirih. Kemudian, Ia menghampiri gadis itu dengan menenteng malas tas sekolah di belakang langkah kakinya yang panjang, pemuda berambut oranye itu berada di hadapan Orihime dengan cepatnya.

"Sudah ku duga kau pasti kemari Inoue. Padahal dari minimarket ke rumah mu itu lebih jauh jika melewati jalan ini"

"Kurosaki-kun, sedang apa kau disini?"

"Tentu saja menunggumu. Lagipula ini kan tempat favoritku" ujarnya sambil berusaha merebut plastik belanjaan yang dibawa Orihime.

"Ku.. Kurosaki-kun, kau tak usah repot-repot membawa barang belanjaanku" sanggahnya.

"Inoue, mana mungkin Aku membiarkanmu membawa barang belanjaan ini sementara kau juga membawa barang lagi pada tanganmu yang lainnya. Kau terlihat kerepotan. Mari, biar ku bawa belanjaanmu"

Orihime mengangguk pelan dan menyerahkan plastik belanjaannya yang tidak terlalu berat itu pada lelaki yang menampakkan sejuta kelembutan padanya.

"Terimakasih, Kurosaki-kun. Lagi-lagi Aku merepotkanmu"

"Tch.." desis Ichigo

"Inoue, kau tau? Ucapan terimakasihmu itu sudah banyak menumpuk dan sepertinya sudah tidak muat lagi jika kusimpan di dalam tas ku ini" lanjutnya sambil melemparkan senyum hangatnya pada Orihime.

"Ah.. .Kurosaki-kun ini bisa saja" balasnya, sambil mencubit lengan Ichigo yang berotot padat.

"Aww!" Ichigo meringis kesakitan.

"Ah! Maafkan Aku Kurosaki-kun!! Ma Maaf Aku benar-benar tidak bermaksud-" katanya panik.

"Tenang , Inoue. Barusan Aku cuma bercanda" katanya tersenyum jahil.

"Tuhh kaaaaan. Kurosaki-kun dari tadi bercanda terus nih...." cetus Orihime, manja.

Ichigo tertawa puas melihat tingkah Orihime yang manja. Perasaannya kali ini berbeda dari biasanya. Jarang sekali Ia tertawa seperti itu di hadapan seorang gadis. Ia membiarkan tawanya lepas, membiarkan image-nya yang terlampau serius menghilang untuk sementara waktu. Lain lagi dengan Orihime. Setelah merasa diledek Ichigo, Ia membiarkan tawa kecilnya meluncur dari kedua belah bibirnya. Pikirnya, Ia baru pertama kali melihat orang yang serius seperti Ichigo akhirnya bisa tertawa di hadapannya seperti saat ini. Di bawah sinar matahari senja, terlihat siluet panjang mengiringi tawa mereka. Keduanya saling berpegangan tangan, menyusuri jalanan di pinggir Kota Karakura yang tampak lengang saat itu.

I've got the best thing in the world
Coz' I got you in my heart
And this screw little world
Let's hold hand together
We can share forever
Maybe someday the sky will be coloured with our love