Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

-

-

-

-

-

-

-

-

Kuda putih yang ditunggangi Shikamaru dan Temari melaju tanpa henti sepanjang malam. Menuruni bukit, melewati sungai, membelah gelap dan pekatnya malam tak berbintang. Sesekali Shikamaru memekik di telinga Temari. Melarangnya untuk menoleh kebelakang meski cuma sekedipan saja.

Temari tak membantah. Tidak sedikitpun. Bagaimana mungkin ia mau membantah kalau otaknya penuh dengan rentetan pertanyaan yang berjubel membingungkan. Chiyo. Sasori. Gaara. Shikamaru. Masih jelas dalam ingatannya bayangan jasad Chiyo yang terkapar bersimbah darah. Juga tentang kabar kudeta yang digulirkan pamannya sendiri. Kalau benar ada kudeta, lalu bagaimana keadaan Gaara sekarang? Kankuro? Baki?

Tali kekang si kuda putih tertarik sentak seiring naiknya matahari. Cahaya menyusup samar-samar dari sela daun dan pohon-pohon tinggi yang tumbuh lebat. Shikamaru menurunkan tubuh Temari yang dingin dan kaku dari atas kuda, memapahnya perlahan lalu membimbingnya masuk kedalam gua di tengah hutan itu. Sang putri bersandar pada dinding batu sambil memeluk kedua lututnya setengah meringkuk. Tak seinchi pun ia bergeming tatkala Shikamaru mengulurkan padanya sebuah selimut.

Temari hanya menoleh. Memperhatikan pemuda bermata tajam yang kini sedang menurunkan beberapa barang dari punggung kuda, lalu membawanya masuk ke dalam gua. Selimut, jubah, kantung tidur, pisau belati, pemantik api, peta jalan, busur, anak panah, dan dua bilah pedang. Tidak ada buku. Sekali lagi, tidak ada buku.

"Aku tidak berani mengambil resiko berkuda di siang hari," kata Shikamaru sambil membereskan barang-barang tadi, "Aku juga tidak berani mengambil resiko berkuda di jalan terbuka. Karena itu kuharap kau tak keberatan kupaksa menerobos hutan setelah matahari terbenam."

Yang diajak bicara tak menyahut. Shikamaru melanjutkan lagi, "Sekarang istirahatlah, aku mau…"

Ucapannya terputus. Temari menangkap tangan pemuda itu dan menariknya kuat-kuat. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya memaksa.

"Sudah kubilang, pamanmu melancarkan kudeta. Dia berusaha menggulingkan pemerintahan keluarga Sabaku dan mengambil alih Sunagakure."

"Bukan itu maksudku. Yang kumaksud, siapa kau sebenarnya? Mana ada seorang pengajar bahasa tiba-tiba tahu soal kudeta? Tampaknya kau juga sudah menyiapkan semua barang-barang itu sejak awal. Pisau belati, pedang, panah, dan-" Temari menarik jeda "-kuda siapa pula yang diluar sana itu?"

Shikamaru menatap balik kearah Temari yang memandanginya dengan dahi berkerut. Dengan tangan masih dicengkeram ia menjawab, "Kau benar. Aku bukan pengajar bahasa. Aku adalah anggota khusus pasukan elite Konoha. Kami bertujuh ditugaskan untuk mengantisipasi kemungkinan kudeta."

"Bertujuh? Antisipasi?" Temari menyela, "Berarti Konoha sudah tahu soal kudeta ini sebelumnya? Lantas dimana keenam temanmu itu?"

"Keenam temanku disusupkan sebagai pelayan di istana Sunagakure untuk mengawal kedua adikmu jika terjadi sesuatu. Sedangkan aku dikirim kemari. Sebenarnya sudah sejak dua bulan terakhir rencana kudeta ini terendus. Konoha juga sudah menawarkan bantuan resmi pada Kazekage. Tapi adikmu menolak dengan alasan tidak ingin memulai kemelut politik di istana. Karena itulah Hokage menugaskan kami bertujuh secara diam-diam."

"Sebab jika sepasukan penuh dikirimkan secara terang-terangan, artinya Konoha melanggar kedaulatan kami. Itukah maksudmu?"

"Tepat sekali. Apalagi bantuan yang kami tawarkan sebelumnya memang tidak diterima oleh adikmu."

"Lalu kenapa Konoha masih berkeras mengirimkan kalian kemari?"

"Karena Kazekage keempat bersahabat baik dengan Hokage kami."

"Aku sudah dengar itu dari Gaara. Tapi hanya itukah? Tak ada alasan lain?"

Shikamaru menerangkan dengan malas, "Suna adalah sekutu Konoha. Sementara Sasori condong ke pihak Iwagakure. Sedangkan Iwagakure memiliki paham yang bertolak belakang dengan Konoha. Kalau Suna jatuh ke tangan pamanmu, Konoha menghadapi ancaman berseteru dengan dua negara."

"Kalau begitu, harusnya saat ini Konoha sudah punya alasan untuk mengirimkan pasukannya ke negeri pasir," Temari berpendapat.

Tapi Shikamaru menyangkal, "Kedaulatan, Temari. Kedaulatan. Persoalan lintas pemerintahan itu sangat rumit. Betul-betul menyusahkan. Kami hanya punya hak untuk melindungimu jika kau berada di wilayah kami."

"Melindungiku? Aku? Ini bukan soal aku, Shikamaru. Ini soal adikku. Aku hanya seorang putri buangan! Apa pula yang dipikirkan Paman Sasori sampai dia menyerang kemari dan membuat Nenek Chiyo terbunuh seperti itu?"

"Kau lupa kalau Kazekage sudah menandatangani surat pembebasanmu? Sebagai putri sulung Kazekage sebelumnya, saat ini kaulah orang pertama yang berhak naik tahta."

Temari diam. Tak tahu harus berkata apa.

"Sudahlah. Jangan kau pikirkan lagi. Yang harus kita lakukan saat ini adalah secepatnya menuju di Konoha. Dengan begitu kau bisa mendapatkan perlindungan penuh dari kami."

"Lalu bagaimana dengan adik-adikku?"

"Teman-temanku itu tak bisa diremehkan. Tenanglah, mereka pasti baik-baik saja."

Jujur, Shikamaru memang bukan tipe orang yang pandai menghibur orang lain. Tapi disaat seperti ini, saat menghadapi seorang gadis yang tampak bingung setengah mati, ia tak bisa diam saja. Baginya mungkin menyusahkan, namun sebuah senyuman coba ditawarkannya dan cengkeraman Temari di lengan pemuda itupun berangsur melunak.

"Aku akan keluar sebentar," kata Shikamaru, "Kita butuh air, kayu bakar, dan juga makanan. Tunggulah disini, jangan kemana-mana."

Temari mengangguk. Shikamaru lantas bangkit, meraih dua bilah pedang dan busur beserta anak panahnya. Salah satu pedang itu diulurkannya pada Temari. "Gunakan ini untuk menjaga dirimu," ujarnya, "Kalau terjadi sesuatu, berteriaklah sekuat mungkin. Aku takkan jauh dari sini."

Tiga anggukan kembali diberikan si rambut pirang dengan cepat tanda mengerti. Kuda putih di depan gua ikut disembunyikan masuk, menemani Temari yang kalut dalam diamnya.

-

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x

-

Seekor kelinci dengan anak panah tertanam di punggung bergantung di tangan Shikamaru. Diletakkannya begitu saja kelinci itu diatas tanah. Kemudian tangan terampilnya menyusun ranting-ranting pohon dan menyulutnya bersama rumput kering. Api pun menyala, menerangi bagian dalam gua yang remang-remang.

"Lihatlah," kata Temari sembari membentangkan sapu tangan berenda putihnya, "Aku menulis sesuatu untukmu."

Shikamaru menerimanya. Ia membaca rangkaian kata yang tertulis diatas sapu tangan itu sementara Temari beralih menguliti kelinci buruan mereka.

-

Aku tak tahu dimana berpijak

Tak tahu pula dimana berada

Duniaku terpojok di ujung bara

Membaur lebur duka nestapa

.

Pernahkah aku tahu?

Atau kau yang pernah tahu?

Entah khilaf ataukah dosa

Entah hampa ataukah fana

Entah kubawa sampai kemana

Reksa ragaku apalah daya

.

Hanya dirimu tempatku bernaung

Tempatku mengadu dan berkeluh kesah

Andai kau lepas dari pandangku

Berdesir darah kalut membatu

.

Ijinkan aku untuk memohon, ijinkan aku untuk meminta

Jangan tinggalkan aku…

-

"Dengan apa kau menulis ini?" tanya Shikamaru mengingat tak satupun alat tulis mereka bawa.

"Getah meranti," jawab Temari sambil mengarahkan ujung dagunya ke luar gua "Ada pohon meranti yang tumbuh di depan sana."

Shikamaru yang tadinya menunduk langsung mendongak terkesima. Getah meranti. Rupanya Temari termasuk gadis yang cerdas untuk ukuran orang yang seumur hidupnya terkungkung di pengasingan.

"Kau tak mau mengomentarinya?" suara Temari terdengar berharap.

"Ini bagus," ungkap si pemuda, "Kau belajar dengan cepat."

"Tapi kau kan bukan pengajar bahasa," Temari menimpali, "Mana bisa kau bilang kalau aku ini belajar dengan cepat."

"Meski bukan pengajar bahasa, tiga kali seminggu aku memang mengajar di akademi."

"Apa yang kau ajarkan?" Temari setengah menyindir, "Posisi tidur dan cara menguap yang baik?"

"Strategi pertempuran dan pelajaran memanah," jawab Shikamaru tanpa terpengaruh sindiran tadi.

Suara gelegar petir terdengar tiba-tiba. Seketika itu Shikamaru teringat pada awan mendung yang bertebaran di langit sana.

"Lebih baik kita cepat," ujar Shikamaru "setelah makan kita langsung pergi."

"Kau bilang harus tunggu sampai matahari terbenam. Ini kan masih siang."

"Bagaimana kalau hujan turun? Kalau kita berangkat setelah hujan, jejak kita akan terlihat jelas. Tapi kalau kita berangkat sebelumnya, atau pada saat hujan itu turun, jejak kita akan terhapus dengan sendirinya."

Sore harinya ucapan Shikamaru terbukti benar. Persis setelah mereka berdua keluar dari hutan, hujan mengguyur begitu deras. Terlalu deras sampai Shikamaru tak berani meneruskan perjalanan yang mungkin justru akan membuat Temari mati kedinginan. Karenanyalah ia segera memilih untuk berteduh sewaktu mereka berdua telah sampai di sebuah perkampungan sepi.

"Ini sudah masuk wilayah Amegakure. Kuharap jalanan disini tidak terlalu licin karena hujan," kata Shikamaru sambil menarik Temari kedalam pondok jerami yang tampak kosong.

"Bagaimana kalau pemilik pondok ini datang?"

"Biar nanti kucari alasan yang masuk akal. Lagipula aku tak yakin ada orang yang mau datang di tengah hujan selebat ini."

Temari memeluk erat selimutnya sambil melihat Shikamaru yang duduk bersila sambil membuka selembar peta. "Sampai dimana kita?" tanya gadis pirang itu.

"Sudah kubilang, ini wilayah Amegakure. Pemerintah disini sealu bersikap netral. Jadi kita tetap belum aman betul sebelum tiba di Konoha."

"Masih butuh berapa lama untuk sampai kesana?"

"Kita sudah setengah jalan," Shikamaru menjawab, "Tinggal menyeberangi laut dan berkuda beberapa jam saja. Pelabuhan terdekat hanya 36 mil dari sini."

"Lalu dengan cara apa kita akan menyeberang? Pelabuhan itu pasti sudah dijaga oleh orang-orang Paman Sasori."

"Baki memberiku sebuah nama. Kuharap kita bisa minta tolong padanya," ujar Shikamaru sambil mengeluarkan secarik kertas dan sehelai daun dari sakunya. Diulurkannya daun itu pada Temari. Sehelai daun talas yang terlipat.

"Aku juga menulis sesuatu untukmu," katanya ketika Temari menerima daun itu dengan wajah penasaran.

Tanpa pikir panjang sang putri langsung membaca.

-

Sudahkah kau lihat?

Diatas karang yang menahan ombak

Di wajah awan yang tanpa cacat

Dan dihatiku yang terpasung jerat

.

Disanalah namamu tertulis

Terukir, terpahat dalam kekal

.

Sudahkah kau dengar?

Dari gelak petir yang menggelegar

Dari deru angin yang membahana

Dan dari rinai hujan yang teguh meronta

.

Disanalah cintaku berkumandang

Berdengung dan bertasbih tanpa keraguan

.

Apakah kau percaya?

Nyawapun kan kuberi jika kau minta

Apakah kau percaya?

Nafasku kan putus bila kau tiada

Apakah kau percaya?

Aku memujamu diatas segala fana

-

"Dengan apa kau menulis ini?" tanya Temari setelahnya.

"Dengan lidi," Shikamaru menjawab sambil tersenyum, "dan juga dengan hati tentunya."

Sejurus kemudian wajah Temari merona merah. Sayang sekali saat ini ia tak punya sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul kepala nanas dihadapannya itu.

Shikamaru terlihat belum puas pada rona merah yang menjalari wajah sang putri angkuh. Karena itu ditambahkannya, "Kali ini aku benar-benar bermaksud merayumu."

Temari spontan kelimpungan. Salah tingkah. Baru kali ini ada orang yang berani berkata seperti itu padanya. Jantungnya berdegup kencang. Mukanya makin merah tak karuan. Berusahalah ia membuang pandang dari pengawalnya yang sudah sengaja mengguratkan kerlingan nakal tanpa malu.

Debaran dada Temari yang telah berada diatas ambang batas normal kini semakin menjadi-jadi setelah Shikamaru berhasil membaca situasi dengan amat baik. Tanpa aba-aba diraihnya kepala Temari dengan tangan kiri. Menariknya tenggelam dalam ciuman yang lembut pada detik berikutnya. Melumat-lumat seulas bibir merah tipis yang memberikan kehangatan luar biasa di tengah dinginnya terpaan hujan di luar sana. Diluar dugaan, Temari membalas ciuman itu. Padahal tadinya Shikamaru sempat berpikir bahwa lehernya akan segera digorok oleh si tuan putri.

Bibir dengan bibir. Lidah dengan lidah. Mulut dengan mulut. Semuanya beradu tanpa basa-basi. Menjelajah liar tanpa menyisakan setitikpun celah yang tak terjamah.

-

-

-

-

TBC

-

-

-

a/n:

Hijau warnamu buatku gila

Kehadiranmu tiada dua

Inilah hamba si author nista

Menunggu review dari pembaca