Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
-
-
-
-
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x
-
-
Kisame Goshigaki. Begitulah nama yang diberikan Baki kepada Shikamaru. Pria berwajah pucat itu adalah nahkoda sebuah kapal penyeberangan yang berangkat dua kali seminggu dari Amegakure. Tanpa kesulitan berarti Shikamaru berhasil menemuinya di sebuah kedai kopi tak jauh dari pelabuhan. Kedai kopi itu berada di tengah pasar yang berbatasan langsung dengan pelabuhan tersebut. Hanya perlu beberapa menit bagi Shikamaru untuk meyakinkan Kisame agar menyeberangkan mereka berdua tanpa diketahui. Tentu saja dengan sedikit membual tentang saudari perempuannya yang mengidap gangguan jiwa, epilepsi, dan sejenis penyakit menular yang hanya dapat diobati di Konoha. Itulah alasannya Shikamaru menyuruh Temari mengenakan sebuah jubah coklat bertudung kepala. Selain untuk menghindari prajurit utusan Sasori yang tentunya telah mengenali wajah gadis itu.
Shikamaru menggandeng Temari dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menggenggam tali kekang kuda. Ketiganya berjalan melewati pasar yang ramainya tak terkira di pagi itu. Sesekali Shikamaru terpaksa menarik tangan Temari karena gadis itu sepertinya tak berkonsentrasi pada jalanan yang mereka lalui. Dari tadi ia malah sibuk mengedarkan pandangannya kesana-kemari.
"Sebenarnya apa yang kau perhatikan?" tegur Shikamaru, "Kapalnya berangkat sebentar lagi. Kalau ketinggalan yang satu ini kita harus menunggu kapal berikutnya tiga hari lagi."
"Aku-aku tak pernah melihat orang sebanyak ini seumur hidupku," jawab Temari dengan tampang terheran-heran tanpa dosa.
Dengan begini Shikamaru tidak akan sampai hati menegur putri itu lebih jauh. Gadis muda yang seumur-umur berada di pengasingan tentunya sangat asing dengan keramaian seperti ini. Selama hidupnya ia hanya pernah bertemu dengan orang yang jumlahnya tak lebih dari jumlah jari di kedua tangannya.
"Setelah sampai di Konoha nanti kau akan bertemu dengan lebih banyak orang lagi," ujar Shikamaru berusaha menjanjikan sesuatu yang mungkin terdengar menarik bagi Temari. "Kalau sudah saatnya, kau juga akan bertemu dengan seluruh rakyatmu," tambahnya lagi.
-
=x=x=x=x=x=x=x=x=x
-
Konoha, dua hari kemudian
Gaara berdiri mematung di dekat jendela. Pandangannya terlempar keluar, kearah barisan prajurit yang berpatroli mengelilingi istana Hokage tempatnya berada. Telinganya menangkap dengan jelas suara derap sepatu Kankuro yang mondar-mandir di tengah ruangan tanpa henti.
"Ini sudah terlalu lama. Kenapa Temari belum sampai juga?" gerutu Kankuro entah yang keberapa kalinya, "Harusnya kita mengirim lebih banyak orang untuk mengawalnya!"
"Aku tahu, Kankuro," Gaara menyahut tanpa menoleh ataupun mengubah air mukanya yang tetap datar, "Aku sudah salah memainkan bidak. Mengalah dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik memang rencana yang sempurna. Tapi aku tak mengira Sasori akan memburu Temari juga. Padahal kupikir ia justru akan lebih aman di pengasingan, karena tempat itu sangat jauh dari Suna."
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Temari? Aarrggh! Aku cemas sekali, Gaara!"
Tok-tok-tok!
Kicauan Kankuro terhenti saat tiga rentet ketukan mendarat di pintu mereka. Shizune si pelayan istana meminta izin masuk dan menyampaikan pesan dari Hokage.
"Selamat pagi, Yang Mulia Kazekage dan Pangeran Kankuro" sapa Shizune sambil membungkuk.
"Pagi," sahut Kankuro.
"Saya datang untuk menyampaikan pesan," lanjut Shizune, "Kapal dari Amegakure akan berlabuh malam ini. Yang Mulia Hokage sudah mengutus tiga pengawal terbaiknya untuk bersiaga di perbatasan."
"Terima kasih, Shizune" sambung Kankuro, " Semoga kakakku ada di kapal itu."
-
=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-
Itulah cintaku
Yang bertengger di puncak tertinggi
Yang tak gentar di jalan berduri
Dan yang menangkup bumi menantang matahari
.
Itulah kasihku
Yang bergaung di senyap belantara
Yang berpusar di palung samudra
Dan yang berikrar di relung para dewa
.
Demi belaimu kan kureguk pahit dunia
Kurambah jamah pedihnya luka
Meski sukmaku dirundung durja
.
Cintaku padamu, kasihku untukmu
Biarkanlah hanya Tuhan pernah yang tahu
-
Satu lagi puisi pendek dari Shikamaru untuk Temari. Tertulis di balik nampan yang digunakan seorang awak kapal untuk mengantarkan makan malam ke kabin mereka. Shikamaru mengukirnya dengan ujung lancip pisau belati. Tak ayal, butuh lebih dari seharian untuk menulis puisi itu sampai selesai.
"Aku akan membawa nampan ini," ujar Temari sambil memasukkan nampan itu bersama barang bawaan yang lain.
"Maksudmu kau mau mencurinya? Itu milik kapal," kata Shikamaru.
"Siapa suruh kau menuliskan puisiku dibaliknya."
"Aku bisa menuliskan lagi puisi itu setelah kita sampai. Di atas kertas."
"Tapi aku tidak mau," Temari berkeras, "Aku mau yang diukir di nampan ini."
"Ya sudah, terserah kau saja" Shikamaru mengalah, "Cepat pakai jubahmu. Kapalnya akan merapat sebentar lagi."
"Syukurlah," balas Temari singkat. Agaknya ia sudah lebih dari sekedar jenuh berada di kapal itu. Karena sejak angkat sauh sampai sekarang, Shikamaru tak mengijinkannya untuk keluar barang selangkahpun.
Sambil bergandengan tangan keduanya keluar dari kabin. Mengambil kuda putih di dek barang, lalu bersama-sama dengan puluhan penumpang lainnya menuruni kapal yang telah resmi berlabuh selepas matahari terbenam.
Bulan bersinar dengan terang. Cukup jelas bagi Shikamaru untuk mengamati keadaan sekeliling sambil membantu Temari naik ke atas kuda. Hilir mudik dan lalu lalang di pelabuhan memang tak pernah mengenal waktu.
Konoha. Ya, Konoha. Dari sini Konoha hanya tinggal beberapa puluh mil lagi. Namun sial memang tak dapat ditolak. Baru sesaat setelah keluar dari pelabuhan dan menikung ke arah jalan yang membelah hutan, Shikamaru melihat segerombolan penunggang kuda dengan jubah berwarna kelabu dan bergambar kalajengking di bagian punggung. Parahnya, pandangan Shikamaru bertemu dengan salah seorang dari mereka. Hitung mundur adegan kejar-mengejar tak terelakkan lagi. Shikamaru mengumpat kasar sebelum memacu kuda putihnya berlari secepat mungkin.
"Ada apa?" tanya Temari menyadari laju mereka yang tak biasa.
"Kita ketahuan," jawab Shikamaru ketika Temari berusaha memutar lehernya untuk menoleh, "Jangan lihat kebelakang!"
Shikamaru tak tahu pasti berapa banyak orang yang mengejar mereka. Tapi yang jelas posisi pemuda itu kalah jumlah.
Serang menyerang dimulai dari sini. Enam anak panah yang terlesat meleset tanpa sengaja dan menancap di batang pohon. Shikamaru mendorong tubuh Temari untuk merunduk demi menghindari dua anak panah berikutnya.
"Pegang ini," kata Shikamaru sembari menggenggamkan tali kekang kuda ke tangan Temari. Kemudian diraihnya busur dan anak panah dari punggung, memalingkan badan lalu membidik.
Empat anak panah terlepas sekali jadi. Semuanya tepat sasaran. Namun sayang, di tangan Temari laju kuda itu tak sebaik sebelumnya. Salah seorang musuh berhasil membarengi mereka dan tanpa ragu segera menghunuskan pedangnya dengan beringas. Bilahan logam itu menancap di lengan kanan Shikamaru sebelum akhirnya si pemuda membalas dengan sabetan yang berujung pada robohnya si penunggang kuda.
Shikamaru mencabut pedang dilengannya seraya meringis kesakitan. Tak ada waktu baginya untuk mengeluhkan darah segar yang mengucur dari sana. Karena sebelum pemuda itu sempat melakukan apa-apa, tiga anak panah kembali terlesat kearah mereka. Kali ini hanya satu yang meleset. Sedangkan dua lainnya menancap di kaki kuda yang mereka tunggangi. Kuda putih itupun kehilangan keseimbangan dan tersungkur dalam hitungan detik tanpa bisa berdiri lagi. Menjungkalkan kedua pengendaranya yang terjatuh mencium tanah.
Padahal perbatasan Konoha sudah begitu dekat. Dengan sigap Shikamaru bangkit, menarik pedang dari sarungnya sembari menyeret Temari lalu menggelandangnya menerobos hutan sambil berlari. Berusaha mencari medan yang cukup sulit bagi penunggang kuda yang masih mengejar di belakang mereka.
Tapi sepertinya usaha itu sia-sia. Anak panah demi anak panah terus ditembakkan. Bukan Shikamaru namanya kalau tidak bisa membaca arah serangan itu. Namun sayang, luka di lengannya tak banyak memberi pilihan. Ditengah-tengah gerakannya untuk menangkis, salah satu anak panah justru menyerempet punggung tangannya hingga pegang pemuda itu terlempar jauh.
Serangan berikutnya betul-betul tak memberi kesempatan. Ketika Shikamaru merasakan lagi terjangan anak panah ke arah mereka, segera ditariknya tubuh Temari yang nyaris menjadi sasaran dan memeluknya dengan satu tangan. Keduanya jatuh tersungkur tanpa basa-basi. Menjadikan Shikamaru tergolek tak berkutik dengan lima anak panah menancap di punggungnya.
Temari kelabakan dalam sekejap. Sekujur tubuhnya dingin gemetaran sewaktu meraih bahu Shikamaru yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari kunjungan ajal.
"La-lari, Temari. Larilah..." ujar Shikamaru lirih dan terbata sebelum kedua matanya menutup sama sekali.
Tentu saja Temari tak bergeming. Bukannya berlari menyelamatkan diri seperti yang dikatakan Shikamaru, sebuah teriakan histeris justru meluncur mulus dari sela bibirnya tatkala gadis itu melihat sosok Shikamaru yang bersimbah darah dan terkapar tanpa daya di pangkuannya.
Teriakan Temari yang menggema di tengah hutan segera diiringi oleh tetesan air matanya yang meleleh tanpa terkendali. Begitu kalutnya gadis itu sampai ia nyaris tak menyadari kedatangan penunggang kuda terakhir yang masih mengejar mereka. Tahu-tahu kedua bola matanya menyalak nanar tatkala berkelebat dihadapannya laju bayangan yang hanya dua hitungan sebelum sebilah pedang memenggal leher putihnya.
DZIIINGGG!!
Pada hitungan berikutnya pedang nista itu terjatuh ke tanah tanpa sempat menjamah leher sang putri. Pemiliknya tergeletak tanpa kepala disamping kuda hitamnya yang terjerembab begitu saja. Temari tertegun, tak sedikitpun bisa membaca keadaan. Semuanya begitu cepat dan terlewat dari pandangannya.
Dua orang prajurit berkuda tiba-tiba menyeruak muncul dari kegelapan hutan. Satu berambut coklat panjang dan satu berpakaian mencolok serba hijau. Kemudian muncullah satu orang lagi melompat turun dari atas pohon. Separuh wajahnya tertutup masker dan rambut peraknya terlihat jelas meski sekeliling mereka gelap gulita.
Dengan tenangnya orang ketiga itu menoleh ke arah Temari sambil berkata, "Selamat datang di Konoha, Yang Mulia."
-
-
=x=x=x=x=x=x=x=
=xx=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=
-
-
Konoha, hari berikutnya
Atas satu alasan yang tak juga diutarakannya, Temari berkeras untuk tetap menunggu Shikamaru di rumah sakit. Jadilah Gaara dan Kankuro yang harus berlari kesetanan menyusul kakaknya kesana. Wajah Kankuro mendadak pucat pasi melihat penampilan Temari yang kusut dan pakaiannya yang compang-camping. Noda tanah di wajahnya memperburuk sejumlah luka lecet dan memar yang terlihat di tangan dan kaki. Tatapan terpuruk dan gambaran cemas melapisi raut mukanya yang terlihat suram bukan main.
"Ya Tuhan, Temari! Bagaimana keadaanmu? Sakitkah? Mana yang luka? Kau lapar? Haus? Wajahmu pucat sekali. Lebih baik kita cari dokter. Gaara, dimana dokternya? Kubilang dokter, Gaara! Hey! Dokter! Mana dokternya?!" Kankuro terdengar meracau panik seperti orang gila. Celingukan kekanan-kiri dengan ekspresi bingung setengah mati.
"Kau tak apa?" tanya Gaara tanpa mempedulikan racauan kakak lelakinya. Pertanyaan itu memang sangat singkat, tapi semua orang yang mengenal Gaara dengan baik pasti tahu betapa khawatirnya pemuda itu.
"Aku tak apa," ujar Temari seraya memeluk kedua adiknya bergantian.
"Oh, syukurlah" gumam Gaara pelan.
"Kalian sendiri bagaimana?" Temari bertanya lagi, "Bagaimana keadaan Suna? Adakah yang terluka?"
"Kau tak perlu khawatir soal itu," Gaara menerangkan, "Semuanya terkendali. Maaf sudah membuatnya terlibat seperti ini. Aku telah memperhitungkan semuanya dari awal. Dalam beberapa hari kudeta itu akan segera jadi sejarah."
"Mana Nenek Chiyo?" tanya Kankuro setelah sadar dari paniknya.
Temari tak sanggup menjawab. Dua kali gelengan tampaknya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan.
Hening menyerbu tiga bersaudara.
"Semua memang selalu ada harganya," lanjut Gaara, "Tapi akhirnya setelah sekian lama aku akan bisa mengembalikan apa yang seharusnya kau miliki sejak lahir. Hakmu atas tahta."
Temari terhenyak tanpa mengucap apa-apa. Mendadak saja ia merasa ada sesuatu yang selama ini terlewat dari pikirannya. Sesuatu yang baru ia sadari setelah mendengar ucapan Gaara tadi. Haknya atas tahta. Tahta? Haruskah? Bukannya Temari tak ingin pulang ke tanah airnya. Ia justru ingin sekali. Bukan pula karena ia tak ingin berada ditengah rakyatnya dengan duduk diatas singgasana.
Tapi dengan alasan apapun juga, baik Gaara maupun Kankuro, serta para tetua dan segenap dewan penasehat negeri pasir tidak akan pernah merelakan ratu mereka menjalin hubungan dengan rakyat biasa dari negeri tetangga.
Lalu bagaimana dengan Shikamaru?
-
-
-
-
TBC
-
-
-
a/n : Chapter depan mungkin tamat. RnR?
