Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

-

-

-

=x=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=

-

-

Shikamaru tak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Pada sore ketika ia terbangun, Nara Yoshino menghambur heboh ke pelukan anak semata wayangnya itu. Memulai kebiasaan berbicara tanpa berhenti seraya menciumi kedua pipi Shikamaru. Yoshino tidak datang sendirian. Shikaku juga ikut berada disana. Tapi berbanding terbalik dengan reaksi berlebihan dari sang istri, Shikaku hanya tersenyum singkat dan mulai mengupaskan buah untuk putra kesayangannya.

"Kau benar-benar membuat kami khawatir, Shikamaru!" ujar Yoshino, "Ibu sampai tidak bisa tidur berhari-hari karena memikirkanmu. Untunglah kau baik-baik saja. Aku hampir menangis di kaki putri cantik itu sewaktu mendengar kabar bahwa kau sekarat karena melindunginya."

Semua ucapan Yoshino tak didengar Shikamaru barang sedikit. Pandangannya berkeliaran memutari ruangan. Mencari-cari sosok gadis pirang berkuncir empat yang saat ini begitu ingin ia lihat. Agaknya Shikaku memahami maksud dari gerakan bola mata si pemuda bermata tajam. Ditegurnya pelan sambil bertanya, "Siapa yang kau cari?"

"Temari," jawab Shikamaru lirih di tengah keadaannya yang masih lemah, "Dimana Temari?"

Shikaku mengernyit sementara Yoshino spontan mengoreksi pertanyaan itu, "Tidak sopan. Kau harus memanggilnya dengan sebutan Tuan Putri."

"Dimana dia?" tanya Shikamaru lagi seakan tak peduli.

"Tentu saja dia ada di istana," lanjut Yoshino, "Tuan Putri tidak akan diijinkan bertemu siapapun sampai hari penobatannya sebagai ratu."

Dipingit, maksudnya?

Shikaku menambahkan, "Yang Mulia Kazekage sangat berterima kasih atas jasamu mengawal kakak perempuannya. Tuan putri sebenarnya sempat bersikeras untuk menungguimu di sini, tapi kedua adiknya berkata lain. Setelah menitipkan sepucuk surat, beliau segera dibawa ke istana Hokage."

"Surat apa?"

Shikaku menarik keluar sesuatu dari saku dibalik bajunya. Menyerahkan sebuah amplop biru tua dengan lak bercap lambang Suna.

"Isinya pasti ucapan terima kasih secara resmi," tebak Yoshino begitu yakin. Selanjutnya wanita itu terus mengoceh tentang upaya penyerangan balik pasukan Kazekage dimana ribuan prajurit Konoha ikut terlibat di dalamnya. Juga tentang rencana Hokage menunjuk Shikamaru sebagai salah satu penyusun strategi pada pertempuran nanti. Tentunya kalau kondisi kesehatan Shikamaru sudah cukup baik ketika saat itu tiba.

Tetapi Shikamaru masih tak mendengarkan perkataan ibunya sama sekali. Tangannya tergerak membuka amplop surat yang ia pegang, kemudian melafalkan dalam hati kata demi kata yang tertulis di atas sehelai kertas biru bertinta merah darah.

-

Telah kubuang berulang kali

Kucampakkan tiada arti

Ke dasar telaga berbuih sunyi

Ke dalam kawah gunung berapi

.

Telah kusembunyikan debaran ini

Kukubur dalam tertatih sepi

Di balik angkuh senyap semesta

Di bawah didih kerak neraka

.

Namun kau tetap menemukannya

Menemukan seonggok asaku tentang cinta

Sebait sabdaku akan asmara

Sebulir harapku berkubang duka

.

Bukan salahku, bukan pula dosamu

Salahkan cinta yang tak mau dipaksa

Dosalah cinta yang selalu memaksa

Malaikatpun pasrah berserah diri

Untukmu ku mati seribu kali

-

Shikamaru terpukau dalam diam. Jauh di relung hatinya ia membatin, "Dan untukmu sang waktu menghambakan diri."

-

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=

-

Lima belas hari berikutnya

Dua minggu. Kurang lebih hanya dua minggu. Ternyata banyak hal bisa terjadi dalam waktu dua minggu. Penyerangan balik pasukan Suna yang dibantu Konoha, terbunuhnya Sasori, dan redamnya kudeta. Namun Temari terpaksa melewatkan semua itu. Hari demi hari dilaluinya dengan mempelajari tata krama kebangsawanan dan sopan santun istana dari balik tembok tinggi.

Kabar-kabar yang bersliweran mengenai telah kembalinya pasukan Konoha makin menggolakkan batin Temari. Itu berarti kepulangannya ke Suna sudah semakin dekat. Tidak. Dia tidak ingin pulang. Tidak saat ini. Begitu ia pulang penobatan akan segera digelar. Dan semakin dekat Temari dengan penobatan itu semakin jauh pula ia dari Shikamaru.

Shikamaru. Ya, Shikamaru. Bukankah harusnya seseorang diatas sana tahu betapa Temari ingin menemui pencuri hatinya itu?

"Saya cukupkan sampai disini saja," ujar seorang gadis bermata lavender kepada Temari. Hyuuga Hinata, namanya. Putri sulung dari keluarga bangsawan yang sebentar lagi menjadi permaisuri Hokage. Gaara memintanya untuk mengajarkan Temari segala hal yang berkaitan dengan tingkah laku keningratan.

Temari tak menyahut. Melamun, tampaknya. Seseorang di luar sana benar-benar membuatnya kehilangan akal.

Hinata yang heran hampir saja menegur putri itu kalau tak didengarnya suara ketukan dari arah pintu. Shizune meminta izin masuk. Dengan mempertimbangkan pikiran Temari yang sedang melayang, Hinata beranjak membukakan pintu tanpa mengucap apa-apa.

"Ada titipan untuk Putri Temari," kata Shizune sembari menyerahkan sebuket bunga.

Ketika bunga tersebut beralih tangan, Hinata melihat sesuatu terselip dibalik kelopak bunga. Secarik kertas yang terselip diantara bunga itu menjawab tuntas keheranan Hinata. "Terima kasih, Shizune. Kau boleh pergi," ujarnya.

Shizune membungkuk dan meminta diri. Sedangkan Hinata bergegas menutup pintu kembali setelah menoleh ke kanan kiri guna memastikan tak seorangpun mendengar apa yang akan disampaikannya pada Temari.

Lamunan sang calon ratu pupus perlahan sewaktu Hinata menyela imajinasinya dengan menyerahkan sebuket bunga. Bunga yang diterima nona bangsawan itu dari Shizune. Temari pun menengok dengan tatapan salah tingkah.

"Untuk anda, Putri Temari."

"Dari siapa?"

"Saya rasa anda sudah tahu."

Temari mengerutkan dahinya sesaat tanda penasaran. Tak lama setelah bunga tadi mendarat di pelukan lengannya, Temari menarik secarik kertas yang terselip disela-sela tangkai bunga. Sesuatu tertulis diatas kertas itu. Sesuatu yang singkat dan membuatnya terpaku.

-

Bagaikan oase ditengah hamparan gurun pasir yang membentang luas.

Laksana seekor kupu-kupu putih yang beterbangan di musim dingin, mengalunkan nada benturan sayap dengan sayap.

Kaulah setangkai mawar merah yang merekah diantara duri-duri tajam.

-

Bongkahan rindu di dada Temari serasa mendidih. Kedua bola matanya bergetar tak tentu arah. Gadis itu merasa terpojok tanpa tahu apa yang mesti ia perbuat. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang penting dan bermakna. Sesuatu yang menyesakkan dan menjalarinya tanpa sungkan.

Pada saat itulah Hinata seakan membaca pikiran Temari dan berkata, "Pergilah."

Temari mendongak kearah gadis muda di hadapannya. Memandang bingung sambil berusaha mencerna sepatah kata yang baru saja ia dengar. Hinata menoleh ke arah jendela kamar yang tertutup tirai sutra berwarna merah marun, berpikir sejenak lalu menyambung lagi, "Apakah sebelumnya anda pernah memanjat turun lewat jendela, Putri Temari?"

Temari diam dan tertegun.

"Kalau belum pernah, ini adalah saat yang tepat untuk mencoba," Hinata meyakinkan.

Namun Temari tetap diam tak bersuara. Dipandanginya Hinata seakan tak percaya bahwa gadis itu sedang membujuknya untuk melarikan diri.

"Saya tidak akan mempengaruhi anda untuk kabur ataupun lari, karena karena saya tahu Tuan Putri punya rakyat yang menanti anda," Hinata meralat isi pikiran Temari, "Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa siapapun lelaki yang sedang kita bicarakan ini, anda takkan punya kesempatan lagi untuk menemuinya. Begitu mahkota tersemat di kepala anda, sepanjang sisa hidup Tuan Putri akan ditentukan oleh orang lain. Karena itulah, Tuan Putri harus menemuinya sekarang. Setidaknya katakanlah sesuatu agar ia mengerti."

Temari terengah dalam bimbang dan menimbang. Jendela bertirai merah di ujung sana menjadi sasaran penglihatannya. Tatapan gadis itu berganti-ganti antara jendela tersebut dan sepasang mata Hinata.

Si Nona Hyuuga meyakinkan lagi, "Kalau Yang Mulia Kazekage atau Pangeran Kankurou mencari anda, akan saya katakan bahwa Tuan Putri sedang tidur siang. Tidak akan ada lagi lain waktu. Tuan Putri harus pergi sekarang dan kembalilah sebelum senja."

Temari kembali menunduk dan berpikir. Dilihatnya kembali sebuket bunga mawar ditangannya. Menghitung satu, dua, tiga, empat, lima, enam,...dua puluh satu tangkai bunga mawar merah. Mewakili dua puluh satu hari Shikamaru tanpa Temari di sisinya.

Sebagai pewaris tahta, tak mungkin bila Temari minggat dari rakyatnya demi seorang lelaki. Tapi meski bagaimanapun juga, meninggalkan Shikamaru tanpa berkata apa-apa adalah keegoisan yang lebih besar. Maka dengan tekad bulat Temari bangkit, memeluk Hinata dengan kedua tangannya seraya berujar, "Saya berhutang budi pada anda, Nona Hinata."

-

=x=x=x=

-

Hutan itu sepi seperti biasa. Hanya ada cicit burung, goyangan daun, hembusan angin, bentangan awan, dan seorang Shikamaru yang bernaung dibawahnya. Membaringkan diri di atas rumput sambil menerawang muka langit. Menghabiskan waktu untuk sesuatu yang entah apa.

'srek-srek-srek'

Suara langkah terburu yang bergesekan dengan rumput mengalihkan perhatian Shikamaru dari arakan awan di atas sana. Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara. Kemudian mendapati sesosok gadis cantik yang menyembunyikan wajahnya dibalik jubah bertudung hitam. Sesosok insan yang berhasil membutakan naluri Shikamaru dengan sempurna.

"Temari?"

Niat Shikamaru untuk bangkit dan menyambut kekasihnya ternyata tak kesampaian. Temari sudah menerjangnya lebih dulu. Menindih tubuh Shikamaru dan menciuminya mulai dari pipi, kening, leher, dan kembali ke pipi lagi.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Temari dengan nafas tak beraturan. Kedua telapak tangannya menangkup di wajah Shikamaru. Sorot matanya jelas berkata bahwa gadis itu rindu setengah mati. "Katakan padaku kalau kau baik-baik saja!" ulang Temari dengan nada tinggi.

"Aku baik-baik saja, " jawab Shikamaru akhirnya. Sebuah senyuman cukup untuk meyakinkan Temari bahwa ia tidak berbohong, "Aku bahkan ikut menyerang balik ke Suna, kalau kau belum tahu."

"Aku sudah tahu!" bantah Temari tak terima. Perasaannya yang tengah meluap-luap tampak jelas ketika sekali lagi diciuminya kedua pipi Shikamaru dengan dibarengi pelukannya yang seerat cekikan.

Shikamaru tentu tak keberatan. Mungkin ia memang bukan tipe orang yang suka mengumbar atau mengekspresikan isi hatinya. Tapi tiga minggu bertahan sudah lebih dari cukup. Buat saja sebuah pengecualian kali ini. Dan atas pengecualian itu Shikamaru merengkuh balik tubuh Temari. Menariknya lebih dalam pada dekapan hangat didadanya yang berdebar tak karuan. Aroma harum anggrek menyeruak, dihirup dengan lembut oleh nafas Shikamaru. Seperti candu yang membuatnya ketagihan.

"Kau juga baik-baik saja, kan?" tanya Shikamaru sambil mengecup kening Temari.

Anggukan di dada Shikamaru menjadi jawabannya, "Aku hampir mati karena merindukanmu," protes Temari.

"Bukankah seharusnya aku yang berkata begitu? Semenjak tiba di Konoha kau terasa jauh sekali."

"Kankuro mengurungku di istana," Temari beralasan.

"Aku tahu. Dan itu berarti harusnya kau tidak ada disini sekarang."

Pernyataan terakhir tadi tak ditanggapi oleh Temari.

"Kau mengendap ke luar?"

Temari masih tak berkata apa-apa. Kepalanya mendongak, sekedar memastikan bahwa hanya ada dirinya dalam batas pandang Shikamaru. Perlahan dan tanpa terasa kedua matanya mulai berkilat bening. Namun Shikamaru tak sempat melihat genangan air mata disana. Sebab Temari bergegas mengambil langkah cepat dengan melumat bibir si pemuda. Menjilat, menggigit, mengulum, merangsekkan lidahnya masuk dan berkelana tanpa henti. Hisapan demi hisapan diresapi Shikamaru tanpa lupa membalas ciuman Temari dengan liarnya. Tinggallah rongrongan hasrat dan gejolak naluri yang berbicara.

Pertautan hangat itu harusnya bisa berlangsung lebih lama. Namun sayang, ditengah desahannya yang tertahan Shikamaru merasakan cairan bening mengalir turun dari mata Temari. Merayapi pipi putih tak bernoda dan bermuara pada rasa asin yang terkecap di sela bibir tuan putri.

Shikamaru terhenyak dalam tanda tanya besar. Ujung-ujung jemari kirinya mengangkat dagu Temari, kemudian memerangkap pandangan mereka berdua dalam hening yang nyata.

Sunyi.

Genap sudah 38 detik Temari membiarkan sepasang mata basahnya menatap Shikamaru tanpa mengujar sepatah kata. Mengacuhkan sepenggal kata maaf dan penyesalan yang entah bagaimana serasa tertahan di pangkal kerongkongannya.

"Besok pagi aku akan kembali ke Suna," bisik Temari dalam bisikan yang nyaris tidak terdengar.

Tapi Shikamaru mempunyai pendengaran yang cukup tajam untuk menangkap bisikan tadi, "Maksudmu?"

Getir menyapa ketika Temari menjawab, "Penobatanku tinggal seminggu lagi."

Suara Shikamaru kembali menghilang ditelan sepi. Mendadak saja Temari terasa begitu jauh dan tak terjangkau lagi. Padahal saat ini gadis itu berdiam tepat di pelukannya. Angan dan pandangan seolah memudar tanpa jejak. Mengasingkan seorang Shikamaru di tengah ketidakpastian yang merajalela.

"Kau mau meninggalkanku?"

"Tidak," sangkal Temari, "aku hanya..."

"Mencampakkanku?"

"Sama sekali tidak!"

"Kalau begitu jangan pergi. Tinggallah disini. Bukankah kau pernah bilang bahwa kau tak tertarik pada tahta?"

"Aku tidak bisa," Temari menegaskan, "Aku ingin bersamamu, tapi aku tidak bisa. Aku harus pergi."

"Kenapa harus?"

"Gaara bilang ini demi rakyatku."

"Rakyat kau bilang?" Shikamaru tak mau menerima alasan Temari, "Mereka bahkan tak pernah mengenalmu!"

"Tapi-"

Bantahan Temari disela Shikamaru, "Jangan gunakan rakyatmu sebagai alasan!"

"Aku tidak beralasan. Mengertilah, aku sungguh tak punya pilihan."

Sepotong jeda diciptakan Shikamaru pada detik berikutnya. Dengan tatapan tak percaya ditatapnya lurus kearah sepasang mata yang masih berkilat bening karena air mata. Sepasang mata yang pernah menunjukkan padanya lengkungan indah singsingan fajar. Rasanya seakan ada sesuatu yang dirampas dari dirinya secara paksa. Bagaikan seisi dunia ini tiba-tiba membenci dan mengutuknya tanpa alasan.

Seuntai kata maaf coba dilontarkan Temari dalam kebungkaman sepi. Namun usahanya berakhir sia-sia.

"Bukankah kau pernah memintaku untuk tak meninggalkanmu?" tanya Shikamaru memulai konfrontasi, "kenapa sekarang kau yang berniat meninggalkanku?"

"Demi Tuhan, aku tak pernah berniat meninggalkanmu."

"Jangan bawa-bawa nama Tuhan diatas kebohonganmu," sergah Shikamaru, "Kau cuma mempermainkanku saja."

"Tidak," Temari membantah sekali lagi, "Aku tak pernah mempermainkanmu."

"Bohong!"

"Tidak, aku tidak berbohong."

"Tentu saja kau berbohong!"

"Tidak!! Aku bilang tidak!" Temari membentak tanpa disadarinya. Pelukan Shikamaru terurai tiba-tiba. Pemuda itu memalingkan wajah ke kiri tanpa peduli pada Temari yang masih menelungkup diatasnya. Ingin sekali Temari memekik. Ingin sekali Temari berteriak. Berteriak meminta sebuah pengertian dan pembenaran. Namun teriakan itu sirna dalam khayal. Kalimat selanjutnya yang dilontarkan Shikamaru membungkam mulut gadis itu rapat-rapat.

"Pergilah," dingin menusuk tatkala Shikamaru berujar, "Atau kau ingin aku diseret ke penjara karena dituduh melarikanmu?"

Sebaris tanya terakhir tadi diucapkan Shikamaru tanpa melirik sedikitpun ke arah Temari. Seolah mengungkapkan betapa kecewanya pemuda itu pada keputusan yang dibuat sang tuan putri. Bukan salah Temari jika kemudian ia merasa tak punya alasan untuk berkata apa-apa lagi. Mau tak mau ia tetap harus kembali sebelum senja, seperti yang dikatakan Hinata.

Shikamaru sendiri tak sadar kapan persisnya Temari berlalu. Ia hanya menyadari sisa hembusan angin dingin yang menorehkan luka dihatinya. Dunia terlihat demikian gelap. Terlampau gelap hingga ia merasa semuanya sudah berhenti dan berakhir tepat disini, saat ini juga.

-

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

=x=x=x=x=x=x=x=x=x=x=

-

-

Entah kenapa pagi terasa hadir begitu cepat. Terlalu cepat, malah. Suara terompet dan derap kaki kuda penarik kereta terdengar samar-samar di telinga Temari. Ditambah lagi dengan sibuknya lalu lalang para pelayan yang menyiapkan keberangkatannya. Mengingatkan kembali pada pedih dan perih yang merambat di luar kehendak gadis itu.

Temari berdiri termangu menghadap sebuah cermin besar yang terdapat di sudut kamar. Memandangi bayangannya sendiri di depan kaca dengan tatapan hampa. Gaun panjang berwarna ungu muda menjuntai anggun hingga ke mata kakinya. Potongan bahu terbuka dipermanis dengan aksen tali spageti yang melilit hingga siku di kedua lengan gaun tersebut. Lengan yang berujung lebar itu disambut serasi oleh sebuah obi berwarna merah yang melingkari garis pinggang gadis itu. Sulaman benang emas berpadu dengan sepasang anting mutiara dan seuntai kalung nirmala. Sementara sebuah tiara bertahtakan permata tersemat diatas rambutnya yang pagi itu disanggul rapi.

Cantik. Anggun. Menawan.

Namun sayang Temari merasa bahwa bayangan yang terpantul di cermin itu bukanlah dirinya.

Menjadi seorang putri yang terbuang jelas bukan hal yang menyenangkan. Tak terhitung lagi sudah berapa kali dalam hidupnya Temari berdoa agar sang ayah mau menerima kehadirannya. Membiarkannya merasakan kehangatan keluarga dan mewahnya kehidupan istana. Tapi sekarang, saat tinggal selangkah lagi doanya terkabul, Temari justru berharap ayahnya masih hidup saat ini. Sehingga ia bisa tetap berada di pengasingan tanpa perlu berpikir untuk menjadi ratu. Karena kedudukannya sebagai seorang ratu justru mendorongnya jauh dari gelimang cinta.

Cinta yang memabukkan.

"Hey, kau kenapa?" sebuah suara terdengar berbarengan dengan mendaratnya tepukan pelan di pundak Temari. Yang ditanya kontan menoleh. Lalu didapatinya sang adik menatapnya dengan heran. "Aku sudah memanggilmu tiga kali," tambah Kankuro.

Temari mengucap maaf dengan lirih dan singkat. Kemudian segera mengekor dibelakang sang adik untuk melangkah keluar dari kamar itu. Bersama dengan Gaara yang sudah menantinya di depan pintu, mereka bertiga berjalan keluar dari istana. Menuju kereta yang telah disiapkan di depan sana dengan diiringi para pengawal setia mereka.

Suna sudah semakin dekat.

Jejeran kereta kuda, sambutan para bangsawan, dan barisan sejumlah pasukan. Itulah tiga hal yang pertama dilihat Temari ketika kakinya menyusuri jalanan yang membelah halaman utama istana Hokage. Tak jauh dari sana, Naruto berdiri tegap sambil menggandeng calon permaisurinya, Hyuuga Hinata. Di sebelah kiri tempat sang Hokage berdiri, tampaklah sosok Uchiha Sasuke. Seorang jenderal angkatan perang Konoha yang berjasa besar atas digagalkannya kudeta di negeri pasir. Semua orang tersenyum dan bertepuk tangan seolah mewakili ucapan selamat mereka atas kembalinya tampuk kekuasaan Sunagakure ke tangan dinasti Sabaku.

Ramai dan riuhnya suasana tak berpengaruh pada Temari. Basa-basi singkat antara Gaara dan Naruto juga tak digubrisnya sama sekali. Gundah menyambanginya di tengah ratusan orang yang menyampaikan rasa suka cita.

Karena hatinya sedang berduka.

Temari betul-betul lebih mirip sesosok mayat hidup yang berjalan daripada seorang putri yang akan naik tahta. Setidaknya sampai Shizune merapat kearahnya, persis di depan pintu kereta. Diam-diam Shizune menyelipkan secarik kertas kedalam genggaman Temari. Temari yang terkejut hanya mendapatkan dua suku kata sebagai jawaban atas pertanyaan yang belum sempat diucapkannya.

"Nara."

Mendengarnya saja Temari sudah gelagapan. Pandangannya melayap ke sana-sini. Mencari-cari seorang pria dengan nama keluarga yang baru saja ditangkap oleh telinganya. Tepatnya di barisan depan pasukan Konoha, Temari mendapati sosok Shikamaru yang bukan kebetulan tengah menatap balik ke arahnya.

Tapi sudah terlanjur sampai di titik ini. Apa yang bisa dilakukan oleh Temari?

Kankuro dan Gaara yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kereta memanggil Temari untuk segera naik. Tak ada bantahan ataupun sahutan kali ini. Temari hanya menurut meski pergolakan dihatinya tak kunjung reda. Dan pergolakan itu semakin menjadi-jadi ketika Temari membuka lipatan secarik kertas yang tadi diselipkan Shizune ke tangannya. Kira-kira hanya sesaat setelah kereta mulai bergerak, Temari membaca tulisan yang mengisi permukaan kertas itu.

-

Haruskah kau tinggalkan aku?

Mengejar sebongkah titian maya

Sepotong patah anggukan tahta

Menjejak injak sandaran jiwa

.

Tegakah kau gores luka hatiku?

Meremuk rapuh pedih dadaku

Mematahkan sayap-sayap cintaku

Hingga rembulan bersenandung pilu

.

Apakah kasihmu sepintas lalu?

Terkikis habis diredam waktu

Laksana kabut melingkup semu

Ataukah salahku mencintaimu?

.

Sembilu mengiris menyayat sungguh

Menerkam rejam tanpa kumau

Kurajut sengsara berujung bisu

Tertoreh sesak sesal menyatu

.

Disini, tepat di hulu nadi

Ingkar menikam mengulum nyeri

Mengorek luka menabur duri

Mengiring sepenggal keringkihan hati

.

Demi buah rayuan senja

Kutekuk lututku dihadapanmu

Demi hangatnya seuntai tawa

Kutautkan janji atas namamu

Mengais duka mengemis cinta

Mendera derita rengkah menganga

.

Kini sampailah datangnya hari

Dimana malam memudar lara

Dimana mimpi bersimpuh percuma

Dimana seantero kahyangan menangisiku sebagai pencinta

.

Tidakkah kau sadari?

Pekik melengking jerit samudra

Dinginnya beku mencekik surya

Setangkai mawar berbalur dusta

Dustamu atas cinta

-

Runtuhlah sudah pertahanan Temari. Seketika itu sang calon ratu gemetar kelimpungan. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu, dan pandangannya bergetar tak tentu arah seiring luapan hasrat yang tak lagi sanggup ia bendung. Dadanya serasa dikoyak dan dicabik-cabik.

Tidak. Temari benar-benar tak sanggup lagi. Seolah tak menaruh peduli pada situasi yang jelas tak mendukung, Temari menggedor-gedor dinding kereta dari balik bilik penumpang.

"Berhenti!" perintah Temari, "Berhenti sekarang juga! Turunkan aku!"

Kankuro memandang bingung raut wajah kakaknya yang tampak kelabakan dan gelisah, menoleh ke belakang sambil meneriaki kusir kereta tanpa henti.

Temari memekik lagi, "Aku bilang hentikan keretanya! Aku mau turun!!"

Spontan saja Kankuro menarik pergelangan tangan kakaknya yang masih sibuk menggedor-gedor bilik kereta, "Apa-apaan kau ini?!"

"Lepaskan aku!" pinta Temari, "Biarkan aku turun!"

Kankuro mengerutkan dahinya melihat Temari yang bertingkah gugup seperti orang gila. Sementara sang kusir di luar sana menghentikan laju kereta kuda itu karena kaget dan kebingungan.

"Kau ini kenapa?" tanya Kankuro tanpa melepaskan cengkeraman tangannya meski sang pemilik tangan sudah mencoba membebaskan kembali gerakan tangan itu.

"Turunkan aku!!" Temari masih saja berteriak-teriak dan meronta. Kankuro hampir saja melepaskan sebelah sepatunya dan menggunakan benda itu untuk menyumpal mulut Temari. Pikir pemuda itu, kakaknya pasti sudah tidak waras.

Tapi tentu saja adegan tak masuk akal itu tak sampai terjadi. Entah karena dorongan apa, tangan kiri Gaara menghentikan tangan kanan Kankuro yang sudah berhasil melepas sebelah sepatunya. Kankuro kaget, lantas menengok ke arah Kazekage muda yang masih tetap memajang wajah dinginnya. Bahkan ditengah situasi seperti ini.

"Lepaskan dia, Kankuro" ujar Gaara, "Biarkan dia pergi."

Kankuro terperanjat bengong. Temari juga sama tak percayanya.

Gaara melanjutkan setelah mengalihkan pandangan pada kakak perempuannya, "Biar aku yang menghadap para tetua dan dewan penasehat. Jangan pernah lagi kau berpikir untuk mengendap keluar lewat jendela."

Saat itulah pikiran Kankuro seperti dijejali pertanyaan-pertanyaan tak berguna. 'Jendela katanya? Jendela apa? Apa yang sebenarnya sudah kulewatkan?' batin pemuda itu.

Sudahlah. Akan sangat bodoh jika kali ini Temari sampai membuang waktu. Tanpa pikir panjang gadis itu melangkah turun dari kereta, lalu berlari dengan gaun panjang yang berkibar tertiup angin melewati ratusan pasang mata. Ya, ratusan pasang mata. Ratusan pasang mata yang menatapnya keheranan. Dan ratusan pasang mata itu termasuk Kankuro yang melongo dengan sebelah sepatu terpegang di tangan kanannya.

Temari menghentikan larinya di barisan depan pasukan Konoha. Persis diharapan Nara Shikamaru gadis itu berhenti. Persis di dada Nara Shikamaru gadis itu menghamburkan diri. Setengah meracau sambil menangkap wajah Shikamaru dengan kedua belah tangannya, lalu membenamkan diri dalam pelukan hangat si pemuda.

Ketika itu dikatakannya, "Aku mencintaimu, Shikamaru! Aku benar-benar mencintaimu! Dan aku tidak pernah berdusta!"

Ratusan orang terdiam saat itu juga. Sejalan dengan Shikamaru yang juga ternganga menampilkan ekspresi kaget tak terkira. Sedangkan emosi Temari makin tak tertahan lagi. Air matanya mulai mengalir, menganak sungai di kedua pipinya.

Bayangkan betapa bodohnya tampang Naruto sewaktu menyaksikan pengakuan di luar dugaan ini. Bukan mencela, tapi memang itulah adanya. Saat orang mulai berbisik dan berkasak kusuk, Hinata segera menyikut lengan Naruto. Memberi isyarat agar calon suaminya itu segera tersadar kembali ke dunia nyata.

Hinata berhasil. Setelah celingukan sejenak saja, Naruto menoleh ke arah Gaara yang melongokkan kepalanya dari balik jendela kereta. Begitu mendapati anggukan singkat dari Kazekage muda, Naruto memulai peranannya. Memulai tepukan tangan yang kemudian diiringi ratusan orang lainnya. Suara tepukan tangan yang berderai itulah penyebab sadarnya Shikamaru dari sejuta lamunan di otaknya.

"Aku juga mencintaimu," ujar pemuda berambut nanas itu seraya membalas pelukan Temari.

Sorak sorai dan tepuk tangan masih berderai mengiringi ikrar setia sepasang sejoli. Dengan ini Temari telah memilih untuk meninggalkan tahtanya demi hidup bahagia sebagai orang biasa, dan bersama orang biasa pula, yang dicintainya.

-

-

-

-

Sementara itu, nun jauh diatas sana seorang dewi tengah duduk bergelayut gemulai. Mengintip fana dunia dari balik awan yang berarak menyanding langit biru. Sang dewi mengedarkan pandangan ke semua sudut yang tak bercela. Melontarkan sepatah senyum surgawinya sebelum bersenandung.

-

Masihkah kau bersedia mencintai cinta?

Meskipun cinta mendustai cinta

Meskipun cinta membutakan cinta

Menyesatkan cinta menjadikannya gila

.

Masihkah kau bersedia mencintai cinta?

Meski pencinta harus memohon untuk dicinta

Meski hadangan gemuruh topan menghantam karam

Menyingkirkan cinta di muara keputusasaan

.

Masihkah kau bersedia mencintai cinta...

-

Sampai disini senandung sang dewi putus terhenti. Diliriknya manja ke arah seorang dewi lain yang dengan lantang menyahut senandungnya tadi.

-

Aku bersedia

Mencintai cinta dalam nistanya cinta

Mencintai cinta dalam gelapnya buta

Mencintai cinta dalam igauan gila

.

Ya, aku bersedia

Biarpun ratapan tangis memohon meminta

Biarpun topan menghadang menghantam karam

Biarpun terdampar di muara keputusasaan

.

Camkanlah ikrarku penghuni nirwana!

Dengan ini kukatakan bahwa aku bersedia

Meski hidupku terpuruk nelangsa tiada guna

Terseok-seok di muka altar suram dunia

Aku akan tetap bersedia

Hanya demi menyaksikan sebentuk lengkungan fajar yang menyingsing di matanya

-

-

TAMAT

-

-

-

Masihkah anda bersedia memberikan review?

Meski romansa berhenti di chapter ini

Meski pembaca tak puas hati

Janganlah author dilempar dengan panci

-

kalau pake duit ga pa-pa