And the title has changed.
Dua minggu pertama musim gugur telah terlewati. Dan Jack baru 'dilepas' setelah dua minggu pertama musim gugur dilewatinya dengan hampa. Jack benar-benar mati kutu. Sejak kejadian dirinya berhasil meloloskan diri, para pelayan meningkatkan kewaspadaan dan selalu siaga di tempat-tempat yang sekiranya memungkinkan untuk menjadi tempat Jack meloloskan diri.
Dan selama itu pula menjadi neraka sesaat bagi adiknya, Oz. Bagaimana tidak, jika ia ditugaskan untuk menjaga Jack dan memastikannya untuk tidak kabur, dan selama itu pula ia terus mendengar kakaknya itu mengeluh tanpa henti. Seperti waktu itu…
"Aku bosaaaaaan! Aku ingin main ke tempat Glen!"
"Oniisama! Kau berisik! Tidak bisakah kau sehari saja tanpa mengeluh? Telingaku sudah cukup panas untuk mendengar keluhanmu setiap hari, bahkan setiap saat!"
"He? Kalau kau bosan, kenapa kau tidak keluar saja? Dan aku akan meloloskan diri lagi," kata Jack yang lalu menghasilkan mulutnya diikat dengan kain oleh Oz.
Dan hari ini, hari dimana 'surga' milik kakak beradik itu untuk kembali ke pelukan mereka masing-masing. Jack, yang sudah diperbolehkan keluar istana, dan Oz yang telah terbebas dari suara-suara menyebalkan yang didengarnya lebih dari satu minggu.
Cake Factory Present
A Pandora Hearts Fanfiction
For Infantrum "4 Season" Challenge
Jack / Will of Abyss (Alyss)
Chapter 2: Autumn
Prompt: Moonlight
Warning(s): AU, a little OOC
Disclaimer
Pandora Hearts © Mochizuki Jun
The Two of Them © Cake
Enjoy!
Hawa dingin menyapa kulit Jack saat ia keluar dan berdiri di bawah pohon yang ada di halaman belakang mansion Vessalius. Jack menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya, lalu membuangnya. Merasakan oksigen dari musim yang berbeda.
Jack berjalan menyusuri halaman belakang mansionnya. Melihat dedaunan di pohonnya yang mulai berganti warna dan meranggas. Angin berhembus pelan dan membuat beberapa lembar daun maple berwarna coklat menari dengan bebas.
Sepasang iris emerald milik Jack kemudian menangkap sosok adiknya yang paling kecil, Ada. Gadis berusia sepuluh tahun itu sedang asik bermain dengan seekor tupai. Lalu matanya menangkap sesosok kuda putih kesayangannya itu—sepertinya—sedang memandangnya.
Jack berjalan menghampirinya dan mengusap kepalanya.
"Hei, bagaimana kabarmu, teman? Sudah lama aku tidak menunggangimu. Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke tempat Glen?" Jack berbicara pada kuda kesayangannya. Memang aneh, tapi sudah kebiasaannya.
Dengan cepat, Jack naik ke punggung kudanya dan kemudian meninggalkan mansion Vessalius menuju mansion Baskerville.
-
"Jack?! Kemana saja kau? Beberapa minggu ini kau menghilang. Kukira terjadi sesuatu yang buruk padamu," sambut Glen saat ia melihat Jack datang.
"Memang terjadi sesuatu yang buruk. Beberapa minggu yang lalu, tanganku patah karena terjatuh dari pohon. Lalu aku dikurung di kamar seperti tahanan. Tidak boleh kemana-mana. Menyebalkan," kata Jack sambil memajukan bibirnya.
"Dikurung, eh? Kau seperti anak-anak saja, hahaha," sahut Glen yang mulai berjalan dengan membawa serta Jack dengannya menuju tempat mereka biasa berkumpul.
Jack mendudukkan dirinya pada kursi yang ada di sudut ruangan yang di sampingnya terdapat jendela besar. Jack menerawang melalui jendela di sampingnya, dan ia mendapati pelayan Glen—yang memiliki rambut merah jambu cerah—berjalan dengan ditemani seorang lainnya yang tidak dikenal Jack.
Jack lalu kembali teringat dengan gadis verambut silver cerah yang sebelum ini pernah ditemuinya secara tidak sengaja musim panas lalu.
Karena Jack terlalu sibuk melamun, ia tidak sadar kalau Glen sudah duduk di depannya. Dan karena merasa diacuhkan, Glen melempar kerikil kecil pada Jack.
"Apa sih?" sahut Jack sambil mengusap dahinya yang terkena kerikil Glen.
"Kau asik melamun dengan duniamu dan meninggalkanku sendirian di dunia nyata," kata Glen kemudian terkekeh pelan.
Mata Jack melebar, "heh, cara bicaramu seperti kau ini penyuka sesama jenis saja," sambung Jack kemudian balas melempar kerikil pada Glen.
"Katakan itu sekali lagi, dan kupastikan besok kau tidak akan diperbolehkan datang ke sini selama dua bulan karena patah tulang di tiga bagian tubuh sekaligus," kata Glen santai sambil menyesap tehnya.
Bulu kuduk Jack meremang seketika. Tidak lagi. Ia tidak akan mau dikurung selama dua bulan. Dikurung selama dua minggu lebih saja sudah membuatnya uring-uringan. Apalagi dua bulan? Bisa gila.
Pikiran Jack kembali pada gadis yang ditemuinya.
"Glen… di mansion Baskerville ini… apakah ada gadis yang memiliki rambut silver cerah?" tanya Jack.
Glen memandang Jack sesaat. Terlihat berpikir. "Maksudmu Alyss?"
"Entahlah. Memangnya ada?"
"Kalau yang kau maksud adalah Alyss, dia memang tinggal di sini. Memangnya kenapa?" Glen balik bertanya.
"Tidak apa-apa, sih. Beberapa hari terakhir musim panas lalu, saat aku berusaha kabur dari mansion, aku berjalan ke sini. Di depan, aku ditabrak seorang gadis dengan warna rambut silver cerah dan… warna matanya violet, kalau tidak salah. Lalu ia masuk ke dalam mansionmu. Dan aku tidak pernah melihat anak itu sebelumnya," terang Jack.
"Oh, iya. Dia memang Alyss. Kalau masalah kau tidak pernah melihatnya sebelumnya, itu mungkin karena saat kau kemari, dia sedang pergi ke tempat Nightray," jelasnya yang kemudian membuat Jack lebih penasaran.
Jack memajukan badannya sehingga mempersempit jarak wajah mereka berdua. Refleks, Glen memundurkan badannya hingga ia bersandar pada kursi yang didudukinya.
"Untuk apa dia ke tempat Nightray? Lalu, apakah dia juga anggota keluarga Baskerville?"
Glen mengangkat bahunya, "diajak main, sepertinya, dengan anak angkat Nightray. Dan ia bukan anggota keluarga asli di sini. Dengan kata lain, aku menemukannya dan membawanya ke rumah. Dia adik angkatku."
Jack diam. Ia masih berusaha mencerna kata-kata sahabatnya itu. Dan setelah mendapat penjelasan dari Glen, Jack memundurkan badannya lalu kembali duduk.
"Kenapa kau sepertinya begitu penasaran dengan Alyss? Kau jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, ya—ups! Jangan melempar buku sembarangan, kawan," goda Glen yang kemudian mendapat sambutan buku dari Jack.
Dan saat Jack akan kembali bertanya, Glen menyahut terlebih dahulu seperti ia bisa membaca pikiran sahabatnya. "Dia tinggal di menara di halaman belakang kalau kau ingin tahu. Dia juga tidak sedang pergi hari ini."
Suasana hening sejenak. Tidak ada yang berbicara, hingga Glen membuka suara.
"Tenang saja, aku merestui kalian, kok, kalau seandainya kau memang jatuh cinta padanya—hei! Kumaafkan kau kalau kau hanya melempar bukuku, tapi jangan cangkirnya! Itu cangkir kesayanganku!"
-
Hari mulai gelap. Sang Surya pun mulai kembali ke peraduannya. Memberi semburat warna merah di langit. Hawa dingin pun juga mulai menyelimuti kota.
Sudah menjelang malam dan Jack tidak berniat untuk pulang. Glen pun sudah terbiasa dengan sikap sahabatnya ini. Dan jika Jack belum beranjak dari mansionnya, padahal hari sudah mulai malam, berarti Jack akan menginap. Glen hapal betul kelakuan sahabatnya jika sudah berada di tempat tinggalnya.
Glen hanya maklum. Mungkin alasannya menginap hari ini karena ia sudah lama tidak berkunjung ke mansion Baskerville, atau karena Jack masih penasaran dengan Alyss. Yah, dua-duanya juga tidak masalah untuk Glen.
Saat ini, matahari sudah tenggelam total dan langit juga telah bertransformasi menjadi gelap pekat dengan kerlip-kerlip yang menggantung bebas di bawahnya. Membuat setiap orang yang memandang langit kala itu menjadi terbuai sesaat.
Jarang sekali langit tampak begitu indah saat malam. Dan malam ini, langit pun tidak sedang malu, karena di atas sana, tidak ada awan yang menutupi. Langit seperti sedang mood untuk menunjukkan keelokannya pada makhluk hidup di bawah sini.
Begitu juga dengan dewi malam. Saat ini, ia juga dalam keadaan yang menawan. Sosoknya sekarang tidaklah hanya tampak sebagian kecil atau hanya separuh, tapi bulat penuh. Suatu kebetulan pula, di atas sana sedang tidak ada awan yang menutupi. Seakan ingin menunjukkan sosok asli mereka saat malam. Begitu indah dan menawan. Membuat Jack—yang saat itu sedang mengamati langit dari luar mansion Baskerville—tidak bisa melepaskan padangannya.
Jack, yang tanpa sadar melangkah menjauh dari mansion Baskerville, tetap memandang langit. Langkahnya membawanya menjauh. Seakan langit menuntunnya menuju suatu tempat, dan Jack tidak menyadarinya.
Sampai suara kerincing pelan membuat Jack tersadar. Jack mengedarkan pandangan ke sekeliling dan merasa seperti tersesat. Bagaimana tidak, kalau ia berjalan cukup jauh dari mansion Baskerville.
Lagi, suara kerincing kembali terdengar. Jack mencari-cari asal suara itu. Dan kedua iris emeraldnya menangkap seekor kucing hitam dengan pita merah di lehernya. Kucing itu menoleh pada Jack dan berlari. Seakan menyuruh Jack untuk mengikutinya.
Merasa disuruh mengikuti, Jack ikut berlari mengejar kucing hitam itu. Jack tidak peduli seandainya ia tersesat, karena Jack kini hanya mementingkan rasa penasarannya. Urusan kembali pulang, itu nanti saja.
Dan sampailah ia di depan sebuah danau yang permukaannya bersinar keemasan. Mungkin karena pantulan dari bulan purnama yang sedang menunjukkan sosoknya dengan tidak malu-malu.
Jack tercekat. Bahkan ia tidak tahu kalau ada danau di dekat mansion Baskerville—lebih tepatnya di halaman belakang mansion Baskerville.
Jack melangkah, berusaha melihat keindahan danaunya lebih dekat. Jack kembali berhenti saat ia melihat seorang gadis yang pernah ditemuinya sebelum ini. Gadis itu menghadap pada danau. Sedikit ragu, Jack menghampirinya.
Jack membungkukkan badannya dan menyapa gadis itu, "permisi, apakah aku boleh duduk di sini?"
Gadis itu—yang diketahui Jack bernama Alyss—menoleh dan memasang ekspresi terkejut.
"Kau kan…"
Jack tersenyum, "hai. Jadi, bolehkah aku duduk di sini?" tanya Jack sekali lagi.
"Ah, iya. Silahkan," Alyss menggeser duduknya supaya Jack bisa duduk di sebelahnya.
"Rupanya kita bertemu lagi, ya?" kata Jack setelah sebelumnya saling diam.
Alyss menoleh pada Jack dan tersenyum—senyum yang membuat Jack lupa bernapas—lalu mengangguk. Setelah itu, Alyss kembali melihat pada danau yang bersinar.
"Aku tidak menyangka kalau kau ternyata tinggal di mansion Baskerville. Karena sebelumnya pun, aku tidak pernah melihatmu di sini."
Alyss menoleh lagi, "sebelumnya? Jadi kau pernah ke sini?"
"Bukan pernah lagi, kurasa. Tapi aku sering kemari," jawab Jack kemudian terkekeh. "Oh iya, ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Aku Alyss," jawabnya sambil tersenyum lagi. Dan hal serupa kembali terjadi pada diri Jack—mendadak susah bernapas.
"Begitu? Namaku Jack, Jack Vessalius. Salam kenal, nona Alyss," Jack juga membalas senyumnya.
Suasana menjadi hening kembali. Mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing. Termasuk Jack yang benar-benar merasa aneh, karena ia merasa susah bernapas tiap ia melihat Alyss tersenyum. Pasti ada sesuatu yang salah pada dirinya.
"Padahal aku sudah sering mengunjungi mansion ini, tapi aku tidak tahu kalau ada danau di sekitar sini," Jack membuka suara.
Alyss mengangguk, "ini salah satu tempat favoritku. Jika bulan purnama, aku suka duduk di sini dan memandang permukaan air yang bersinar. Indah sekali."
Suasana hening kembali. Jack iseng menoleh pada Alyss yang duduk di sebelahnya. Kali ini, pandangannya seperti terpaku. Dan napasnya kembali tertahan.
Melihat Alyss yang bersinar karena ikut terkena pantulan cahaya bulan. Gadis itu… terlihat indah.
Jack menghela napas pelan dan kembali memandang pada danau. Ia tersenyum. Banyak hal yang terjadi hari ini. Dan ia belum pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
Bahkan, tidak ada seorang pun dari mereka yang sadar kalau sedari tadi ada seseorang yang mengawasi.
"Cih! Harusnya dia tadi jujur saat kukatakan ia jatuh cinta pada Alyss. Dasar Vessalius," sosok itu tersenyum dan beranjak pergi.
To be Continued
Well, akhirnya saya bisa juga menyelesaikan chapter dua, dengan nyuri-nyuri waktu di tengah kesibukan ujian praktek. Saya stress karena ujian praktek yang kerjaannya hapalaaaaan melulu. Bisa berasap otak saya =_=. Dan saya ngetik ini adalah sebagai pembalasan dendam saya karena ketidak sanggupan otak saya yang disuruh ngehapalin terus-terusan *headbang*
Next chapter: Winter – In Front of Fireplace
Review? :3
April, 14th 2010
Cake S. Vessalius
