Detik demi detik yang kemudian berganti menjadi menit. Menit demi menit yang kemudian maju menjadi jam. Satu jam, dua jam, tiga jam—dan seterusnya— yang menuju ke pergantian hari. Hari demi hari. Siang menuju malam. Malam menuju pagi, pagi menuju siang—dan seterusnya—terus bergulir hingga beberapa bulan telah berlalu semenjak kejadian itu.
Glen tahu. Charlotte tau. Semua orang pun tahu bahwa hubungan atara Jack dan Alyss kini sangat dekat. Beberapa bahkan berani mevonis bahwa mereka berdua menjalin hubungan. Tapi bukan begitu kebenarannya. Mereka memang dekat, tapi masih belum menyadari perasaannya satu sama lain.
Mereka berdua cukup polos dalam hal yang satu itu. Yang mereka tahu hanyalah saling merasa nyaman jika bersama. Merasakan dibutuhkan dan membutuhkan. Tapi, kembali pada masalah awal. Bahwa mereka masih rabun soal cinta.
Chapter 3
Winter: In Front of Fireplace
Glen merasa matanya teriritasi melihat kawannya dan adik angkatnya itu bagaikan perangko dan suratnya. Selalu terlihat bersama. Glen merasa sebal, tentu saja. Bagaimana mungkin, Jack kini datang ke mansion Baskerville hanya untuk bertemu dan bermain bersama Alyss. Bukan untuk mencarinya dan mengobrol dengannya seperti bulan-bulan sebelumnya.
Kau tahu? Glen benar-benar merasa seperti patung hidup jika Jack dan Alyss bertemu.
Pernah suatu ketika, saking sebalnya Glen pada Alyss yang selalu 'merebut' Jack darinya, ia sampai memaksa Vincent untuk mengambil Alyss dan membawanya ke mansion Nightray. Tapi sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Setengah mati Glen menahan malu—karena harga dirinya yang sedikit tercoreng akibat 'pemakasaanya' pada Vincent.
Glen yang memaksa dan memohon-mohon pada orang lain—terlebih Nightray—bukanlah Glen yang dikenal orang-orang. Setengah mati ia menahan diri untuk tidak menghunuskan pedang pada pelayan Nightray. Dan ini semua demi hubungannya dengan Jack—sebagai sahabat maksudnya.
Dan setelah ia berhasil memaksa Vincent untuk mengajak Alyss bermain, Alyss malah menolak ajakan Vincent mentah-mentah. Bahkan setelah dipaksa, Alyss tetap saja kekeuh menolaknya. Yang lebih membuat Glen mendidih, Jack juga membela Alyss dan malah menyuruh Vncent pulang. Ingin rasanya Glen merobek perutnya, lalu memakan organ dalam perutnya sendiri.
"Brengsek! Kenapa aku terlihat seperti gay di sini, hah?!"
Oh maaf, Glen. Hanya sekedar selingan. Lima paragraf di atas hanya bercanda. Hehe.
#
Gumpalan salju terlihat di beberapa sudut. Menutupi tanah, bebatuan, juga ranting-ranting pohon. Pemandangan terlihat begitu luas saat salju menutupi semuanya. Hati pun merasa sangat ringan saat memandang hamparan putih itu.
Jack, Glen, juga Alyss sedang berjalan bersama. Mereka menyusuri hutan untuk mencapai suatu tempat yang hanya bisa dikunjungi hanya pada saat musim salju. Jack dan Glen berjalan beriringan. Sementara Alyss melangkah dengan riang di depan mereka.
Jack melihat sekeliling. Ia terpesona dengan sekumpulan bunga yang hanya tumbuh pada musim salju. Jack berjongkok untuk melihat bunga itu lebih jelas. Begitu indah dan anggun.
Saat sedang asik mengagumi bunga-bunga itu, Jack dikejutkan oleh benda yang lembut namun basah yang mengenai kepalanya.
"Hei!"
"Musim salju berarti perang bola salju. Terima ini, Jack!" teriak Glen sambil melemparkan bola-bola salju pada Jack.
"Hei! Curang! Kau menyerangku saat aku belum mempersiapkan diri!" protes Jack yang mulai kewalahan menghindar dari serangan bola salju Glen.
"Tidak ada kata tidak siap dalam perang. Ayo, kau sudah menyerah?" kata Glen dengan nada merendahkan. Ia menyeringai.
"Awas kau!" Jack membalas Glen.
"Kyaaa! Kenapa kalian berdua ikut menyerangku? Aku kan tidak ikut," protes Alyss saat Glen melemparnya dengan bola salju.
"Semua yang ada di sini adalah musuh, tidak ada kecuali. Bersiaplah!"
Dan perang bola salju tak dapat terhindarkan. Mereka bertiga bermain dan tertawa lepas. Merasakan indahnya waktu bersama yang dilewati dengan tawa. Glen pun lega. Jack pasti akan menjaga Alyss. Glen yakin akan hal itu. Jadi ia tidak khawatir lagi akan kedekatan sahabatnya itu dengan adik angkatnya. Yah, walaupun mereka berdua masih sangat polos.
Dan hal terakhir itu yang membuat Glen sebal. Seberapa besar kepolosan yang dimiliki Vessalius berkepang itu sampai-sampai ia tidak menyadari sama sekali dengan perasaannya?
.
"Jack, menurutmu, Alyss itu bagaimana?" tanya Glen di suatu waktu saat mereka hanya duduk berdua.
"Hm? Alyss orangnya lembut. Senyumnya juga hangat," jawab Jack sekenanya.
"Maksudku, kau menganggapnya seperti apa?"
"Hm… aku menyayanginya seperti aku menyayangi adikku sendiri," jawab Jack. Matanya menatap lurus pada pepohonan yang berada jauh dari tempatnya duduk. Suasana diam. Jack kemudian menoleh pada Glen. Dahinya mengernyit saat melihat perubahan ekspresi Glen. "Kenapa kau?"
"K-kau… menyayangi Alyss seperti kau menyayangi Oz? T-tidak kusangka kalau kau ini incest—"
"Tentu saja bukan, dasar bodoh!"
.
Glen hanya tersenyum menahan tawa saat ia kembali mengingat percakapan aneh waktu itu. Dalam hal menggoda Jack, Glen ahlinya. Sudah hobinya menggoda Jack seperti itu. Sangat menarik dan menyenangkan.
Srak!
Gumpalan salju telak mengenai wajahnya.
"Hei kau! Orang tidak waras yang suka senyum-senyum sendiri! Kalau sedang perang dilarang berpikir hal mesum! Bisa mati cepat kau!" teriak Jack sambil menunjuknya.
"Hal mesum katamu?!"
"Kalau bukan hal mesum, lalu apa?" tanya Jack dengan wajah tanpa dosa.
"Aku hanya membayangkan bagaimana rasanya mematahkan tulang-tulangmu dan mendengar kau merengek minta 'dilepaskan' dari penjara Vessalius-mu yang megah itu. Pasti rasanya sangat sangat sangat menyenangkan," balas Glen dengan nada datar. Walaupun begitu, Glen menyeringai.
Jack mundur beberapa langkah. Ia memasang kuda-kuda untuk mencegah Glen yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya. Glen melangkah pelan seperti zombie yang sedang mengintai mangsanya. Jack semakin merasa dirinya terancam, maka ia dengan segera berlari untuk menghindar dari Glen.
Alyss hanya tertawa melihat dua orang itu asik dengan dunianya sendiri.
#
Hari sudah menjelang malam. Awan-awan berwarna orange yang menyebar di langit membentuk pola yang indah. Menyebar dengan anggun namun tidak terlihat rapuh. Awan-awan itu seperti mengiringi berlalunya sang surya yang akan menyapa belahan bumi yang lain.
Warna orange muda yang lama-kelamaan berubah menjadi lebih gelap dan pada akhirnya berubah menjadi hitam pekat. Langit malam yang indah dengan berbagai kerlip-kerlip kecil yang menggantung dengan bebas di bawahnya.
Hembusan dari angin, seperti mengangkat tirai untuk sang dewi malam. Angin meniup gumpalan awan yang kemudian muncul sang dewi dari balik sana. Bukan bulan purnama yang bulat sempurna, namun tetap indah dan menyenangkan untuk dipandang, walaupun banyak awan hitam di atas sana. Sang dewi bagaikan bermain di sebuah opera. Muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
Jack memandang langit dari balik jendela di mansion Baskerville. Seperti terbuai dan terhipnotis akan keindahannya. Jack begitu menikmati, begitu pula saat angin berhembus. Mengajak rambut pirangnya untuk menari sejenak. Walaupun angin malam saat musim salju terasa sangat dingin, Jack tidak peduli.
Barulah saat ia bersin, Jack menutup jendelanya dan duduk di sofa di depan perapian. Tubuhnya menggigil karena ia terlalu lama terkena angin malam. Jack menyandarkan punggungnya di sofa. Merasakan gelombang hangat dari perapian.
Malam itu Jack hanya duduk sendirian. Glen sudah tidur daritadi. Karena Glen merasa akan terserang flu, ia minta ijin tidur duluan. Dan hanya ada Jack sendirian di sana. Jack ikut menyandarkan lehernya. Ia memejamkan mata.
Suara pintu yang terbuka membuatnya kembali menegakkan tubuh. Jack melihat Alyss yang berdiri di ambang pintu.
"Alyss? Kenapa kau ada di sini?"
Alyss bergerak menutup pintu dan berjalan menghampiri Jack. Pakaiannya sedikit kotor—mungkin karena terkena salju saat ia berjalan menuju kastil utama.
"Aku takut. Banyak suara-suara aneh di luar sana. Aku tidak berani untuk tidur. Jadinya aku kemari," jawab Alyss lemas. Ia lalu duduk di sebelah Jack.
Alyss bersandar pada tubuh Jack di sebelahnya. "Sepi sekali…" gumamnya.
"Ya, begitulah. Glen sudah tidur lebih dulu. Katanya ia flu. Dan di luar sepertinya akan hujan salju. Mungkin juga badai," sahut Jack.
Setelah itu, suasana menjadi hening. Keduanya saling diam. Terasa mencekam jika seperti itu. Terlebih lagi suara angin di luar sana yang berhembus dengan kencang.
"Alyss… kau—ah, sudah tidur ternyata," Jack menghela napas pelan lalu tersenyum.
Ia mengangkat tubuh Alyss dan membawanya ke kamar—kamar yang disediakan Glen khusus untuk Jack. Dan saat Jack akan melangkah, Alyss menggumamkan sesuatu. Suaranya sangat pelan, hingga Jack hanya mendengar bagian akhirnya saja.
"… suki," suara Alyss terdengar lirih.
Jack terdiam sejenak. Berusaha mencerna apa yang barusan diucapkan oleh Alyss. Tak menemukan jawabannya, Jack kembali melangkah. Ia menidurkan Alyss di atas ranjang dan menyelimutinya dengan selimut yang cukup tebal.
Jack tersenyum melihat wajah Alyss yang sedang tertidur. Terlihat begitu polos dan… manis. Menghela napas pelan, Jack kemudian mengecup kening Alyss dan kemudian pergi meninggalkan kamar.
To be Continued
-cengo-. Haduh! Kenapa chapter tiga jadi berantakan begini, sih? Sumpah, isinya ngaco semua. Gak beneeeeeer! *headbang*
Terus, kenapa jadi ngehint GlenJack? Harusnya kan JackAlyss! DDX *headdesk*
Terus lagi, bagian terakhir itu. Saya ngetik sambil bingung sendiri. Kaya banyak kata yang menimbulkan kalimat ambigu *apadeh*. Yah, yang jelas, di sini ga akan ada lemon. Jadi, hilangkan semua pikiran negatif kalian semua (sebenarnya yang berpikiran negatif itu authornya).
Review! Ok, ok, ok? XD
*kabur sambil teriak* Glen gaaaaaaaaaaaaaaaaaaay!
Glen: Brengsek kau!
Last chapter: Spring
April, 17th 2010
Cake S. Vessalius
