Rhyme A. Black

-

PresenT

-

Belajar Atau bla-bla-bla??

-

…NaruHina, The Greatest Pairing…

-

Naruto Belongs to Masashi Khisimoto-sensei

-

WARNING : OOC, OOC, OOC, AU, ABAL BIN GAJE. CERITA… KURANG SERU??

-

1…2…3… TAKE… ACTION!!!

-

-

PREV. CHAPTER :

"Nih, kalau gitu coba kerjain nih soal. Kalau kamu bisa nanti aku traktir es krim deh!" Naruto-kun menunjukkan soal-soal yang berhubungan dengan materi yang tadi dibahasnya kepadaku. Ada lima nomor soal, dan menurutku itu semua mudah. Apa lagi ketika dia mengiming-imingiku dengan es krim, wah senangnya. Padahal tanpa es krim pun aku akan merasa senang. Karena ini pertanda bahwa ia menyayangi dan selalu memperhatikanku.

-

-

Akupun mulai mengerjakan soal-soal itu. sebenarnya cukup mudah kalau saja seandainya aku tidak menghiraukan Naruto-kun yang terus-terusan mengamati cara kerjaku. Aku begitu gugup. Bahkan lebih gugup ketika aku di suruh untuk maju kedepan beberapa hari yang lalu. Keheningan membuai kami berdua. Dan Naruto tak memecah keheningan itu sampai aku mengerjakan soal yang kedua.

Dia kembali menghela nafasnya. Mungkin berusaha untuk rileks, dia memperbaiki duduknya yang sedikit lurus, menjadi menyerong ke arahku. Sambil menumpukan siku pada kedua lututnya diapun mulai membuka dialog lagi denganku.

"Hina-chan... aku ingin bertanya. Tapi harus kau jawab deangan jujur ya..?" ungkapnya tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Aku mengangguk pelan dan menaruh daguku di atas permukaan meja kaca yang penuh dengan buku-buku yang terbuka dan berserakan. Aku masih menunduk tanpa mengalihkan perhatianku dari soal nomor dua ytang baru kukerjakan separuhnya, aku masih belum bisa menatap matanya yang begitu indah.

"Apakah hubungan kita ini mempenaruhi nilai-nilaimu?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar sedikit khawatir dan sedih. Aku bisa menemukan apa maksud dibalik pertanyaannya. Dia pasti berpikir bahwa hubungan kami berdua menggangu konsentrasiku belajar. Sungguh tidak. Selama ini kau selalu berusaha meningkatkan nilai-nilaiku karena dia, dan juga karena ingin membuat ayahku bangga. Aku ingin Naruto-kun senang bisa punya pacar sepertiku, yang setidaknya setara dengannya dalam hal pelajaran. Yeah, asal tahu saja. Meskipun tampangnya kurang meyakinkan, tapi dia baru-baru ini mewakili sekolah dalam ajang olimpiade matematika tingkat sekolah. Dan dia berhasil maju ke tingkat nasional dan akan segera berangkat ke Iwa bulan depan.

Dia masih menungguku menjawab pertanyaannya dengan sabar. Tanganku masih membeku ditempat. Lalu aku menarik nafas panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang sudah terlontar beberapa menit yang lalu.

"T-Tidak ..Kkok." Jawabku lirih dan singkat. Naruto-kun semakin mengerutkan keningnya tanda dia tidak puas akan jawabanku tadi yang terdengar begitu singkat. Dia semakin menghujamkan tatapannya padaku, dan itu membuatku menggepalkan tangan kiriku yangs edari tadi di atas meja dan tangan kananku yang bisa-bisa membuat bolpoin hello kitty yang kupegang menjadi remuk.

"Beneran nih? ... karena aku nggak mau konsentrasi ke pelajaranmu itu buyar Cuma gara-gara aku." Ucapnya dengan nada bicara yang menasehati dan terdengar seperti berjarak-jarak itu. "atau sebaiknya aku..."

"Nnggak!! Nggak kok!!" tukasku cepat bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Aku sudah banyak melihat hal ini dimana-mana. Dimana ketika setiap pasangan remaja harus berpisah karena masalah nilai dan pelajaran dan segala tetek bengeknya itu. Dan satuhal, aku tidak ingin hal itu terjadi padaku dan juga Naruto-kun. Hubungan ini sama sekali tidak menggangguku, yang ada hanyalah sikap anehku saja sehingga menghalangiku untuk maju. Dan jujur, aku malu akan hal itu. aku malu pada perasaan maluku.

"Yee, ngak usah ngebentak kayak gitu dong." Dia berkata santai sambil meminum orange jusnya yang tinggal setengah gelas itu sampai habis. Lalu dia melanjutkan. "jadi karena apa kalau begitu? Karena aku nggak yakin kamu nggak ngerti masalah masalah seperti 'gelombang dan oliptika'. Pasti ada hal lain dan aku nggak mau kalau itu karena aku."

Kata-katanya yang penuh tekanan dan bicaranya yang panjang lebar semakin membuat kepalan tanganku menjadi lebih kuat. Sekarang dia menuntutku untuk memberitahukan ada masalah apa sebenarnya. Masalah yang membuatku hanya memiliki sedikit teman—dan itu bisa dihitung dengan sebelah tangan—, dan mengapa aku bermasalah dengan kumpulan-kumpulan sosial lainnya.

Aku kembali melakukan hal yang biasanya aku lakukan bila sedang gugup. Melakukan terapi pernapasan. Tarik, hembuskan, tarik, hembuskan, begitu berulang-ulang sampai aku cukup yakin aku bisa balas memandang Naruto-kun dan dia belum jamuran menungguku melakukan terapi pernapasan. Aku mendonggak, menatap mata biru cerahnya dengan susah payah karena juga harus menahan gejolak aneh di dadaku setiap bertemu pandang dengannya. Setiap sentuhan yang diberikan Naruto-kun padaku, entah itu tatapannya, pelukannya, ataupun senyumannya mmapu membuatku serasa diserang demam mendadak. Wajah yang bersemu merah dan juga jantung yang seperti meloncat-loncat didalam rongga dadaku. Meskipun begitu, aku senang sekali bila hal itu terjadi padaku.

Naruto-kun masih menungguku untuk berbicara, namun rasanya mustahil bila tatapan kami masih saja bertemu. Aku merasa tidak akan pernah tidak tergagap bila berhadapan dengannya. Seperti kali ini.

"Enggg i-i-itu karenna.. karena.." aku menelan ludah, rasanya aku telah mebuang banyak waktu Naruto-kun. Jadi aku melanjutkan. " k-kkarena aku... terlalu.. mmalu dan guggup bbila di-diperhatikan bbanyak oorang.."

Hah.. akhirnya ku ucapkan juga. Lewat mataku aku bisa meliaht dia sedang berpikir keras, dahinya berkerut dan matanya menerawang dengan tangan kanannya yang sedang memijat-mijat pelipisnya.

"Jadi itu masalahmu?" akhirnya suara bariton yang terdengar merdu ditelingaku itu keluar juga. Huhf, semoga saja dia tidak menganngapku aneh. Aku mengangguk keras, rasanya susah sekali mengeluarkan suara dimana seluruh isi perutmu bergolak di antara rasa senang dan rasa malu yang berlebihan.

Dia menghela nafas lagi. Dan aku kembali menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang sudah memenuhi wajah sampai ke telingaku. Aku bisa-bisa berubah menjadi kepiting rebus bila terus-terus menatapnya.

"Hmm, kau punya masalah dengan rasa malu yang berlebihan itu?" aku kembali mengangguk." Yah mungkin ini sedikit tidak nyambung tapi aku ingin mengatajannya padamu. Dulu, sewaktu aku masih SMP, aku tuh paling beeegooo banget sama pelajaran yang pakai hitung-menghitung. Aku tuh benci banget sama pelajaran itu. bahkan guru-guru dan teman-temanku pun ragu kalau aku bisa ngerjain soal yang paling mudah. Sampai aku baca pada sebuah artikel yang mengatakan bahwa 'kamu jangan pernah malu dan ragu pada kemampuan yang kamu miliki. Kamu harus buktikan bahwa kamu nggak seperti yang dipikirkan oleh orang-orang disekitarmu. Selalulah mencoba dan berusaha, agar mereka menyesal telah menduga yang tidak-tidak padamu.'"

Dia berhenti sejenak dan aku masih memperhatikannya dengan seksama.

"Dan kau tahu apa yang akhirnya terjadi? Sejak saat itu aku mulai giat belajar. Aku terus percaya pada diriku bahwa aku itu mampu melakukannya. Dan pada akhirnya... seperti yang kau lihat sekarang itu. aku sudah bisa jalan-jalan ke Iwa karena matematika. Pelajaran yang dulu paling aku benci"

"Jadi, hime-chan. Yang harus kamu lakukan adalah... meyakini kemampuan dirimu, kamu mesti mencoba dan berusaha untuk tampil ke depan dan menunjukkan pada teman-teman kamu bahwa kamu itu bisa dan nggak seperti yang mereka pikirkan. Ngerti?" tanyanya setelah berkata panjang lebar dan menatapku. Entah karena perkataannya atau karena rasa percaya yang dia berikan kepadaku rasa penuh keyakinan itu timbul dan untuk pertama kalinya aku sudah tidak terlalu gugup lagi untuk mengangguk padanya.

"Ya, N-Naruto-kun! Aku mengerti!" jawabku mantab dengan senyuman penuh percaya diri.

"Hmm, bagus.." pujinya sambil mengacak-acak rambut panjangku. "itu baru cewekku.."

Dashyat!! Bahkan ucapan Naruto-kun mampu membuat jantungku bagai keluar dari mulutku, berlari sepanjang satu kilometer bolak-balik dan masuk kembali melewati hidungku. Dia mampu membuat jantungku berdetak di atas normal. Tuhkan, hanya dengan tatapannya saja wajahku sudah merah padam dan tubuhku sudah bergoyang-goyang bagai jelly. Hah, aku mau pingsan..

"Hina-chan! Kamu nggak pa-pakan?" Naruto-kun kini benar-benar berbalik kepadaku dan menggoncang-goncangkan bahuku keras, mencegah agar kesadaranku tidak hilang. Aku menggeleng keras dengan wajah yang sudah lebih baik dan mata yang masih terpaku menatapnya. Aku menemukan secercah sinar sayang dan khawatir dalam mata birunya, dia seolah-olah tak ingin agar aku kenapa-napa.

Ternyata, tanpa kami berdua sadari, jarak antara diriku dan Naruto-kun semakin dekat. Mata kami berdua tetap saling behadapan. Perlahan-lahan, kepala sedikit dia miringkan, dan wajahnya semakin dekat mengeliminasi jarak di antara kami berdua. Aku bahkan tidak tahu apa yang menantiku dan apa yang akan kulakukan. Yang ku tahu hanyalah memejamkan mataku dan menanti apa yang terjadi selanjutnya..

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

Empat detik..

Dan berdetik-detik kemudian.. sungguh apa yang kunanti-nantikan tidak datang-datang juga. Ada apa sih sebenarnya? Perasaanku mulai merasa tidak enak dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Perlahan-lahan aku membuka mataku, dan mataku malah mendapatkan pemadangan yang begitu mengerikan..

Di hadapanku. Tampak. Ayahku. Sedang. Menjewer. Telinga. Naruto-kun!

Tidak!!! Ayahku tampak berang dan terlihat sangat bernafsu ingin mencopot telinga Naruto-kun dari tempatnya. Naruto-kun mengeduh kesakitan dan memohon-mohon kepada ayahku agar segera menghentikan siksaannya itu. tangan kiri Naruto-kun hendak menggapai-gapai telinga kirinya yang sedang dijewer namun sepertinya tak akan dilepaskan itu, sementara itu tangan kanannya melindungi telinga kirinya kalau-kalau menjadi sasaran empuk baru bila telinga kirinya telah berhasil diputuskan oleh ayahku.

"Pa-Pa-Paman a..Aaampun! ampun!" Naruto-kun memohon-mohon sambil sesekali mengaduh kesakitan. Namun tampaknya ayahku masih gencar saja menyiksa telinga Naruto-kun.

"Apa... yang.. kau.. lakukan... pada... PUTRIKU HAH?!!" teriak ayahku yang begitu menggelegar dan amat-sangat memekakkan telinga. Kucingku, Shiro yang tadi numpang lewat di dekat ruang tamu seperti melayang selama beberapa detik di udara, dan langsung kembali kesarangnya karena teriakan ayahku tadi.

"A-A-A-Ampun PA—Eh, Hiashi-sama... AAARRHHHRGG!!" jerit Naruto-kun ketika ayahku semakin kuat memelintir telinganya.

"A..Ayah.." Aku menjerit lirih, tidak kuasa melihat Naruto-kun yang seperti dibunuh pelan-pelan oleh ayahku. Aku hendak berdiri, namun terhenti karena Naruto-kun melarangku dengan isyarat tangan. Maka aku mengurungkan niatku dengan hati yang berdoa agar ayahku segera menghentikan siksaannya.

"GGRHHHRRAAA!!" ayahku semakin beringgas—wah, rupanya dia ganas juga—"Kau..Kau.. berani-beraninya bertindak CABUL pada putriku di rumahku sendiri HHAAH??!!" bentaknya dengan kasar sebelum akhrinya dengan kasar pula dia melepaskan jewerannya. Aku menatap ayahku takut-takut. Dia sedang memasang wajah beringgas+ aura overprotective dan juga sedang dalam keadaan siaga satu. Menjagaku kalau-kalau seandainya—dan tak mungkin terjadi— Naruto-kun nekat menyerangku.

Lalu kemudian aku menatap iba pada Naruto-kun. Dia sepertinya sangat terguncang oleh tingkah laku overprotectie ayahku tadi.

"Kau. KELUAR DARI RUMAHKU!!" teriak ayahku mengusir Naruto-kun. Naruto-kun balas menatapku dan sedikit mengangkat bahunya tanda pasrah. Akhirnya dengan terburu-buru ia mengambil tasnya dan segera beranjak dari duduknya. Dia menatap dan tersenyum pasrah padaku sebelum akhirnya berpamitan pada ayahku yang masih saja memasang tampang garang.

"Sa..saya ppper..permisi pa—" belum sempat Naruto-kun menyelesaikan kalimatnya, ayahku sudah melotot kepadanya dan Naruto segera berlari dari tempatnya berdiri tadi sambil berteriak.

"SAYAAA PERMISIII DULUUU PAMAN!!" namun tiba-tiba dia berhenti di depan pintu rumahku, lalu Naruto-kun berbalik dan tersenyum padaku."HINATA-CHAN! I LOVE YOU!"

Ya tuhan Naruto-kun, sempat-sempatnya...

-

-

Hah, berkat hari itu, aku tidak pernah malu lagi ketika berhadapan dengan orang banyak. Aku bahkan mampu memukau mereka semua. Sekarang tidak ada lagi yang saling berbisik-bisik di belakangku ketika aku maju kedepan kelas, sekarang mereka malah memberikan applause yang meriah karena keberanianku. Sempat, Anko-sensei bahkan tidak percaya pada kemampuanku yang tersembunyi itu. Ketika aku mengacungkan tangan dan maju ke depan untuk menuliskan jawabanku kedepan kelas, dia bahkan butuh waktu beberapa detik untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau jawaban yang kutuliskan itu benar.

Dan, ngomong-ngomong soal janji Naruto-kun, dia benar-benar mentraktirku es krim. Katanya sih, untuk merayakan keberhasilanku, yang menurutku tidak jelas itu. Telinganya masih belum sembuh benar, masih sedikit memerah karena jeweran ayahku waktu itu. Katanya sih dia sudah kapok berhadapan sama ayahku lagi.

"Hei Hina-chan.." panggilnya ketika kami sedang berboncengan naik sepedanya ketika pulang sekolah. Tangan kananku memeluk pinggangnya erat, sedangkan tangan kiriku sedang memegang es kirm coklat yang tadi ia belikan.

"A-ada apa Naruto-kun?"

"Aku tidak mau menyinggungmu Hinata-chan. Tapi jujur saja, jeweran ayahmu itu lebih buruk daripada kematian.." ucapnya sambil bercanda.

"DA-DA…dasar!!!"

Memang sih, gugupku terhadap orang lain itu perlahan mulai menghilang. Tapi kalau pada Naruto-kun.. lain lagi ceritanya…

-

-

THE END

-

AUTHOR'S SIDE

HUAWAAKKAKAKKAKAKKA…..

Rhyme si author bla-bla-bla balik lagi!!!

Heu-heu..

Maaf nih sodara-sodaraku sekalian… saia telat.. *telat apa coba??*

Maaf yaahh, beberapa scene terakhir rada gaje. Tapi… wuakakakkak… seru hatiku liat Naruto-niichan disiksa sama Hiashi-sama. Wuuhhh.. mana Hiashi-sama kolot banget lagi. Mau dicium kok udah bilang 'ehem-ehem'.

*seseorang berkata.. : alah elu, bilang aja lo kagak mampu bikin scene kemesraan antara N dan H*

Sorry banget. Rhyme mesti mempersiapkan mental dulu kalau mau nulis scene NH yang super duper mesra. Saia tidak mampu!! Saia Cuma mampu bikin scene cium pipi saja, selebih KAGAK. Wkwkwk..

Nah, gimana chapter kali ini? Gajekah? Anehkah? Kerenkah *ngarep dah*? Atau… hihiiii, nanti minna-sama saja yang menentukan lewat ripiu.

Yossh!! Sebagai sodara yang baik, RIPIU YAK!!

Narsiezz dikit gak papa yahpzz :

..NaruHina, The Greatest Pairing

Ever After…

*gak suka? Hmm, bakar laut.. heheheu.. just kidding!*