Musim semi baru saja berjalan sekitar tiga hari, dan sisa-sisa salju masih dapat terlihat di sudut-sudut maupun yang tertinggal di atas ranting. Udara masih terasa cukup dingin, namun terasa segar. Khas udara musim semi.

Gravitasi bumi menarik gumpalan salu yang telah meunmpuk di ranting pohon, dan menimbulkan suara pelan yang lembut. Cicit burung pun terdengar nyaring. Seakan bernyanyi untuk menyambut musim semi yang telah tiba. Bunga-bunga belum ada yang mekar, mengingat saat ini baru tiga hari berakhirnya musim salju.

Seorang gadis berlari menyusuri taman yang mulai 'menghijau' itu. Rambut silver cerahnya melambai karena langkahnya yang bersemangat serta karena pengaruh angin yang saat itu berhembus pelan. Seorang pria berambut pirang panjang yang dikepang, berjalan di belakangnya.

"Alyss, jangan berlari seperti itu. Kau bisa terjatuh nanti!" serunya.

Gadis itu berhenti berlari dan berbalik badan menghadap pria di belakangnya, "tapi udara hari ini sangat segar. Aku ingin menikmatinya."

"Tapi jangan berlari seperti itu. Bisa-bisa kau terperosok lubang yang tertutup salju," kata pria itu lagi. Langkahnya semakin mendekat pada gadis di hadapannya. Setelah jaraknya cukup dekat, pria itu mengusap kepala gadis—yang dipangil Alyss—itu. "Tidak usah berlari, berjalan juga bisa, kan?" pria itu tersenyum.

Alyss mengerucutkan bibirnya, "tapi kalau hanya berjalan, udaranya tidak terlalu terasa, Jack."

Pria—yang dipanggil Jack—tertawa pelan. Ia tersenyum. membuat wajah Alyss merona merah walau sangat tipis.

"Tapi kan masih bisa dinikmati," Jack mengambil napas panjang lalu membuangnya. Dengan terpaksa, Alyss menuruti kata-katanya.

Langkah kaki mereka membawa mereka pada taman kota yang saat itu cukup ramai dengan anak-anak yang bermain. Mereka terlihat begitu gembira menyambut musim semi. Alyss yang melihatnya tersenyum. Wajah anak-anak yang sedang tertawa memang terlihat berkilau.

Anak-anak yang berlarian dengan semangat kesana-kemari, membuat Alyss berjalan ekstra hati-hati supaya tidak tertabrak. Namun, ada seorang anak yang berlari tanpa melihat sekeliling. Anak itu tersandung dan terhuyung. Kebetulan di sebelahnya ada Alyss, maka, tubuh anak itu mengenai Alyss—yang kemudian juga ikut terhuyung.

Kaki Alyss mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan badannya. Namun, sebelum Alyss mendapatkan keseimbangannya kembali, kakinya terperosok ke dalam sebuah lubang yang dalamnya sekitar empat puluh senti.

"Kyaaaaa!"

Alyss meringis menahan sakit yang ada di kakinya. Mukanya memerah menahan tangis.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Jack yang langsung berusaha mengeluarkan Alyss dari lubang yang 'menelan' sebelah kakinya.

Alyss tidak menjawab, hanya meringis. Dan setelah kakinya berhasil dikeluarkan, Jack mendapati kaki Alyss membiru dan bengkak.

Last chapter

Spring: Prairie

Warning(s): fluff abal, maksa

"Sudah selesai. Lain kali, kalau berjalan hati-hati. Kalau begini, kau tidak bisa berjalan dengan leluasa, kan?" kata Sharon—selaku dokter di mansion Vessalius.

Alyss hanya mengangguk lemah. Kaki kirinya dibebat perban. Ia harus menggunakan tongkat kalau berjalan. Apa boleh buat. Tak ada yang bisa dilakukannya.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Sharon diketuk. Setelah Sharon mempersilahkan masuk, pintu terbuka dan muncul sesosok Jack dari balik pintu. Ia lelu berjalan menghampiri Alyss.

"Sudah selesai?" tanya Jack pada Sharon. Dan Sharon mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, terima kasih banyak, Sharon. Oh iya, katanya, besok, Oscar ojisan akan mengadakan pesta minum teh, dan ia menyuruhku untuk mengajak beberapa orang. Sharon, kau—"

"Aku pasti ikut, kok," potong Sharon.

Jack menghela napas, "baiklah kalau begitu. Alyss, kau ikut juga, ya? Nanti aku juga akan mengajak Glen—beserta Lotti kalau perlu. Bagaimana?"

Tanpa berpikir panjang, Alyss pun mengangguk mengiyakan. Mana mungkin ia menolak, bukan? Ia jelas tidak mau ditinggal sendirian di dalam kastil, sementara yang lain bersenang-senang.

-

Hari benar-benar cerah ketika Glen dan Charlotte datang ke mansion Vessalius. Sementara Alyss, sejak kemarin, ia berada di mansion Vessalius. Jack memaksanya untuk menginap, karena kakinya yang terlihat tidak memungkinkan Jack untuk melepasnya. Padahal ia bisa mengantarnya pulang, tapi sepertinya alasan Jack menahan Alyss di sana, bukan karena itu. Tapi sesuatu yang lain.

Alyss menunggu di depan, sementara Jack masih ada di belakang untuk membantu persiapan.

"Kau ini, ternyata suka dengan anak kecil, ya? Dasar pedofil," sindir Oz.

Guratan tipis muncul di dahi Jack, "kau kenapa? Cemburu? Tidak punya yang seperti itu, heh?"

"Tidak! Siapa juga yang cemburu dengan kau! Tidak sudi!" teriak Oz.

"Oh, benar juga. Kau kan sudah punya yang lebih cool. Jadi, kau tidak boleh melirik pada gadis lain, Oz," Jack balas menyindir.

"Apa maksudmu?" balas Oz tajam.

"Siapa namanya, ya? Hum… pelayan Nightray yang suka memakai baju biru dan irit bicara. Siapa ya, namanya? E… Siapa ya? E..— aduh! Brengsek! Jangan melempar sendok sembarangan, dasar adik tidak tahu diri!"

Oz terengah-engah menahan marah—ah, atau menahan malu?—wajahnya juga memerah. Mungkin ia malu karena 'ketahuan'.

"Aku tidak naksir dengan Echo!" sadar ia menyebut nama sang gadis, dengan cepat, Oz menutup mulutnya dan berbalik.

Jack hanya tercengang di tempatnya melihat Oz yang berlari meninggalkannya saking malunya. Senyum jahil terkembang di wajahnya. Jack tertawa geli.

Jack berjalan ke ruang tamu di mansion Vessalius, dimana banyak orang yang sudah berkumpul. Jack mengedarkan pandangannya lalu menangkap sesosok gadis yang sudah tidak asing di matanya. Senyum terkembang di wajahnya. Setelah itu, ia berbalik badan, meletakkan sebelah tangannya di pipi, dan berteriak.

"Oz! Echo sudah datang! Kau tidak mau menyambutnya?!"

Dan sebuah vas bunga melayang tepat ke arah Jack. Refleks, Jack menghindar dan menyebabkan vas itu pecah.

"Brengsek! Vas-ku!" teriak Jack.

"Tutup mulutmu! Jika tidak, seluruh koleksi bukumu kubakar!!" teriak Oz dari dalam kemudian membuat suaranya menggema.

Jack menggeram menahan marah. Tangannya terkepal erat sampai ia bisa merasakan kukunya menancap di telapak tangan.

Sadar kalau ia masih ada di ruang tamu, Jack menahan amarahnya dan berbalik badan. Kedua mata emeraldnya menangkap ekspresi Echo yang sudah merah padam. Ia menyeringai puas.

-

Perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam di kereta kuda, membuat mereka meregangkan badan setelah sampai di tempat tujuan. Orang-orang itu terlihat tidak sabar untuk segera duduk di halaman mansion Vessalius—yang ke dua—dan menyesap teh yang disediakan.

Jack meregangkan badannya, mengangkat kedua tangannya dan menarik napas dalam lalu membuangnya. Paru-parunya terasa sejuk. Menghirup udara musim semi memang menyegarkan.

Matanya berkeliling, dan mendapati sosok Alyss yang sedang duduk di atas batu besar di halaman belakang. Rambut silvernya berdansa dengan angin. Jack tersenyum melihatnya.

Jack berkeliling, menyapa setiap tamu yang hadir. Sesekali menanyakan apakah rasa tehnya enak atau tidak.

Lelah, Jack memutuskan untuk duduk sambil menyesap tehnya. Ia begitu menikmati suasana kali ini. Duduk di ruang terbuka, menghirup udara segar yang aromanya telah bercampur dengan aroma khas bunga yang sedang mekar sambil meminum teh.

Mendongak, ia melihat langit cerah yang dihiasi gumpalan awan putih. Dalam pandangannya, beberapa terlihat seperti wajah hewan atau bentuk-bentuk yang lain.

Duduk lama membuatnya bosan. Ia ingin sekali menjahili adiknya. Kau tahu, menjahili seseorang yang—sepertinya—sedang jatuh cinta itu menyenangkan. Hm… sifat Jack yang satu ini sepertinya tertular dari Glen.

Dengan segera, Jack bangkit dari duduknya dan mencari sang adik. Setelah mencari beberapa lama, Jack menemukan Oz sedang duduk di kursi yang berada di bawah pohon. Ia memandangi padang bunga yang sedang akan mekar. Beruntungnya, Oz sedang sendirian. Dan Jack, kembali ke dalam mansion dan mulai menjalankan misinya.

Sebuah kartu dan setangkai mawar diberikannya pada Echo, dan sebuah kertas yang dilipat dengan rapi, ia berikan pada Oz. Dengan wajah tanpa dosa, ia berjalan menghampiri Oz dan memberikan kertas yang dibuatnya. Setelah itu, ia pergi dan mengawasi dari kejauhan.

Jack hanya tersenyum geli saat melihat wajah keduanya yang merona merah. Melihat tingkah adiknya yang gugup itu juga membuatnya tertawa sesekali.

Keasikannya diinterupsi oleh kedatangan Glen yang kemudian mengagetkan Jack dengan menepuk pundaknya. Glen memandang heran pada Jack yang bertingkah aneh. Tertawa sendiri tanpa sebab. Namun saat Glen melihat adik Jack bersama seorang gadis pelayan Nightray, barulah Glen mengerti penyebab Jack bertingkah aneh.

Glen menggeleng lemah melihat tingkah sahabatnya itu.

"Daripada kau melakukan hal tidak jelas begini—"

"Tidak jelas apanya? Aku kan hanya bermaksud untuk 'melancarkan' perasaan Oz dengan Echo," potong Jack.

"Bukan itu, bodoh! Daripada kau mengurusi orang lain, kenapa kau tidak mengurusi dirimu sendiri?" tanya Glen sambil kepalanya menoleh ke tempat Alyss berada.

Jack diam. Tidak bereaksi apa-apa. Sampai Glen menjitak kepala Jack, barulah ia sadar dan terkesiap.

"Ngapain kau? Dasar bodoh! Cepat sana!" kata Glen sambil mendorong tubuh Jack untuk cepat menghampiri adik angkatnya.

Dengan langkah pelan, Jack berjalan menghampiri Alyss yang masih duduk di atas batu sambil menikmati udara segar. Jack berdiri di sebelah Alyss dan ikut memandang sesuatu dari tempatnya berdiri. Alyss—mungkin karena terlalu asik—tidak menyadari jika ada Jack yang berdiri di sebelahnya.

Merasa kalau Alyss tidak menyadari kehadirannya, Jack menyapanya.

"Asik sekali, eh? Sedang melihat apa?"

Alyss—yang tampak terkejut—menoleh. "Tidak sedang melihat apa-apa. aku hanya menikmati udara dari sini. Kau sendiri sedang apa?" Alyss balik bertanya.

"Aku? Tidak sedang apa-apa. Aku melihatmu duduk santai seperti itu membuatku penasaran akan apa yang kau lakukan," jawab Jack. Kemudian keduanya terdiam. "Oh iya, aku punya tempat yang menarik untuk dikunjungi. Kau mau ke sana?"

Alyss memandang Jack sejenak, terlihat berpikir, namun akhirnya ia mengangguk mengiyakan.

Jack membantu Alyss untuk berdiri dan berjalan pelan untuk menyeimbangi langkah Alyss yang tertatih. Langkah mereka terhenti saat melihat jalan yang cukup menanjak.

"Mau kubantu?" tawar Jack.

Alyss menggeleng, "tidak usah. Aku bisa sendiri."

Alyss melangkah perlahan dan hati-hati terhadap langkahnya sendiri. Jack mengikuti di belakangnya, sekalian berjaga jika Alyss terjatuh.

Mungkin karena tanahnya yang licin karena basah atau apa, kaki Alyss tergeincir dan kehilangan keseimbangan. Membuat tongkat yang membantunya untuk jalan terlepas dari tangannya dan jatuh. Begitu pula dengan Alyss. Ia juga terjatuh ke belakang. Untung saja ada Jack yang berdiri di belakangnya, sehingga dengan sigap, Jack menangkap tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Jack.

"Tidak. Terima kasih sudah menahan tubuhku supaya tidak jatuh," kata Alyss.

Mengerti bahwa cukup berbahaya membiarkan Alyss untuk berjalan sendiri, Jack akhirnya memutuskan untung menggendong Alyss sampai ke tempat tujuan yang dimaksud olehnya.

Awalnya Alyss meronta minta diturunkan dan memaksa untuk berjalan sendiri. Tapi Jack bersikukuh untuk tetap menggendongnya dan memastikan dirinya tiba dengan selamat di atas situ. Alyss menyembunyikan wajahnya di dada Jack supaya pria itu tidak melihat rona merah yang muncul di wajahnya. Dan telinganya menangkap suara detak jantung yang berdetak cepat—detak jantung Jack.

-

Jack menurunkan tubuh Alyss dan mendudukkannya pada batu yang cukup besar saat mereka berdua telah sampai di atas. Alyss mematung saat melihat pemandangan sekitarnya. Padang rumput yang sangat luas dengan beberapa tangkai bunga yang tumbuh di beberapa sisi.

"Jack… tempatnya indah sekali. Ternyata di sini ada tempat yang luas seperti ini," gumam Alyss sambil terus mengedarkan pandangannya.

Jack tertawa kecil, "aku juga baru tahu musim panas tahun lalu. Saat itu tempatnya tidak seperti ini. Dan aku berpikir, tempat ini pasti indah saat musim semi. Ternyata benar."

Alyss memandang Jack dan mengerjapkan matanya beberapa kali, "jadi, kau juga baru melihatnya lagi? Tanpa tahu tempat ini baik atau buruk? Dan kau mengajakku untuk melihat ini?" tanya Alyss bertubi-tubi. Dan Jack hanya mengangguk.

"Beruntung sekali kau, alam sedang memihak padamu. Jika tidak, aku pasti akan kecewa sekali," lanjut Alyss.

Jack tertawa, "segala tempat yang terlihat sedikit buruk saat musim panas, kemungkinan besar memang terlihat indah saat musim semi, Alyss."

"Yakin sekali," Alyss menyipitkan sebelah matanya.

"Hanya perkiraanku saja. Dan ternyata tepat, bukan?"

"Ya ya ya. Terserah padamu saja," Alyss mengibaskan tangannya.

Jack berjalan untuk memetik setangkai bunga yang berada tidak jauh dari tempatnya. Setelah itu kembali, dan kemudian berlutut di hadapan Alyss.

"Nona, izinkan saya untuk membawa nona berjalan-jalan di sekitar sini," kata Jack yang menirukan gaya seorang pelayan.

Mendengar itu, Alyss tertawa kecil. "Tapi tuan, saya tidak bisa berjalan tanpa tongkat saya. Dan tongkat itu terjatuh saat saya terpeleset tadi. Bagaimana?"

Jack meletakkan jarinya di depan dagu. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu, "kalau begitu, saya akan menggendong nona. Bagaimana?"

"Oh baiklah, kalau itu yang tuan mau," Alyss kembali tertawa. "Lalu bunga ini?" tanya Alyss sambil menunjuk bunga yang disodorkan Jack kepadanya.

"Hadiah untuk nona. Tadi saya bertemu seorang pria, katanya saya disuruh memberikan bunga ini pada nona. Pria itu mengatakan bahwa, ia menyayangi dan mencintai anda, nona," Jack tertawa.

Alyss memiringkan kepalanya, "mencintaiku? Siapa?" Alyss berpura-pura tidak tahu. Padahal jantungnya berdegup sangat kencang. Sampai ia takut Jack bisa mendengar suara detak jantungnya.

"Tidak tahu, nona. Pria itu tidak menyebutkan namanya dan langsung pergi. Katanya dia akan mengirim pesan melalui saya nanti. Jadi, maukah nona saya temani untuk bejalan-jalan?" Jack mengulangi pertanyaannya lagi.

"Oh baiklah, tuan baik hati," Alyss terkikik. Ia naik ke punggung Jack yang kemudian dibawa berkeliling.

Jack berdiri di depan hamparan bunga yang luas. Bunga-bunga itu rupanya cepat sekali mekar. Dan kelopaknya yang berwarna-warni terlihat begitu mempesona. Harumnya pun menguar dan sampai ke hidung mereka berdua.

Jack tiba-tiba mendudukkan Alyss di samping pohon.

"Ada apa, tuan?" tanya Alyss.

"Saya mohon nona untuk menunggu sejenak. Saya ada urusan sebentar dengan pria itu," kata Jack sambil menunjuk setangkai bunga yang dipegang Alyss.

Alyss tertawa, "baiklah."

Alyss berusaha menenangkan jatungnya selagi Jack pergi. Begitu banyak kejutan yang diberikan Jack hari ini. Tapi ia sudah merasa begitu senang, tanpa mengetahui kejutan luar biasa berikutnya.

Angin sepoi-sepoi membuat perasaan Alyss sedikit tenang. Ditatap dan diputar-putar setangkai bunga di tangannya. Bibirnya mengulas sebuah senyum. Rona merah muncul di kedua pipinya. Jantungnya kembali berdetak kencang.

"Oh ayolah, jangan berdebar-debar seperti ini," gumam Alyss sambil memegang dadanya tepat di jantung.

"Maaf membuatmu lama menunggu, nona," secara tiba-tiba, Jack muncul dan menyodorkan sebuket bunga mawar.

"Mawar? Darimana kau mendapatkannya?"

"Kan sudah saya bilang, pria itu memberikannya padaku," Jack mengedipkan sebelah matanya.

"Aku penasaran. Siapa pria itu?"

"Hum.. dia hanya mengatakan, 'saya adalah seseorang yang memberimu cincin nantinya' hanya itu," jawab Jack.

Dan permainan ini membuat Alyss merasa gila. Sedikit aneh, tapi menyenangkan. Begitu banyak kejutan yang ia dapatkan. Dan kejutan itu, semakin lama, semakin luar biasa.

Alyss tertawa, "pria itu sungguh misterius sekali."

"Begitulah."

Mereka berdua terdiam cukup lama. suara yang terdengar, hanyalah suara cicitan burung dan suara angin yang berhembus pelan. Suasana saat itu begitu damai dan tenang.

"Nona, maukah anda saya ajak untuk berdiri di tengah ladang bunga itu?" Jack membuka suara.

"Baiklah," jawab Alyss sembari tersenyum, memikirkan kejutan apalagi yang akan ia dapatkan.

Setelah mereka berdua ada di tengah ladang bunga, Jack menurunkan Alyss dalam keadaan berdiri.

"Kau bisa berdiri, kan?" tanya Jack, dan Alyss hanya mengangguk.

"Baiklah, kita sudahi permainan ini. Dan sekarang, aku adalah Jack, dan bukan pelayan yang mengantarmu untuk berkeliling, mengerti?" kata Jack.

"Eeh? Sudah selesai? Tapi aku masih penasaran," Alyss mengerucutkan bibirnya. Terlihat kecewa.

Jack tertawa, kemudian mengusap kepalanya pelan, "permainan perannya memang sudah selesai, nona manis. Tapi ceritanya masih berjalan."

"Alyss, bagaimana jika saat ini, ada seseorang di depanmu yang berkata…" Jack tidak melanjutkan perkataannya. Melainkan memakai sebuah topi yang terlihat seperti topi pendeta. Ia lalu berdeham, dan melanjutkan perkataannya tadi, "Alyss-san, apakah anda bersedia mencintai dan menyanyangi pria di samping anda dan bersedia untuk selalu berada di sisinya baik saat sedih maupun bahagia?"

Alyss tercengang. Ia masih tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Jack tadi. Dan setelah Jack menyikut lengannya, barulah Alyss tersadar dan buru-buru mengangguk.

Jack kembali berdeham, "Jadi, apakah anda bersedia menerima pria di samping anda sebagai suami anda?"

Alyss mengangguk lemah. Masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jack.

Jack melanjutkan, "dan anda, Jack, apakah anda bersedia menerima wanita di samping anda sebagai istri anda?" entah mengapa, kalimat yang ditujukan pada Jack—dirinya sendiri—lebih pendek dari kalimat yang ditujukan pada Alyss.

Jack berpindah posisi. Kini ia berdiri tepat di samping Alyss.

"Tentu saja saya bersedia," jawab Jack mantab.

Jack berpindah posisi lagi. Ia kembali berdidi di depan Alyss, "sekarang, kalian berdua dipersilahkan untuk bertukar cincin."

Lagi, Jack kembali berdiri di samping Alyss. Ia memutar bahu Alyss untuk berhadapan dengannya. Ia menarik tangan kiri Alyss dan memasangkan cincin yang terbuat dari tangkai bunga yang ia bentuk menjadi sebuah lingkaran kecil. Di atasnya, bunga berwarna putih berperan sebagai permatanya.

"Puh, ahahaha! Permainan ini benar-benar seperti permainan anak-anak," Jack tertawa. Ia membaringkan tubuhnya di tengah hamparan bunga itu.

"Dasar kau, memalukan sekali. Tapi lucu juga," Alyss kemudian terkikik. Ia ikut duduk di samping Jack yang sedang berbaring.

"Jadi, kau sudah mengerti siapa 'pria itu'?" tanya Jack.

Alyss terdiam. Terlihat berpikir. Dan tak beberapa lama, semburat merah menghias pipinya. "J-jadi, itu kau?!"

Jack hanya tertawa menanggapinya.

"Kalau kau mau memberikan cincinnya, tidak usah pakai cara seperti itu! Argh! Aku maluuuu!" Alyss menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Jack tersenyum puas karena rencananya berhasil.

"'Cara seperti itu' apa maksudmu?" Jack pura-pura tidak mengerti.

"Tidak usah berpura-pura!" Alyss melempar setangkai bunga pada Jack.

"Baiklah, aku tidak tahu apa yang dilakukan alter-ego ku padamu—"

"Alter-ego?"

"Iya, namanya Jackie."

Hening. Diam. Sepi. Senyap.

"Bodoh," kata Alyss dengan nada datar dan tanpa ekspresi.

Jack tertawa lepas, "oh baiklah, aku hanya bercanda, nona. Tapi aku benar-benar ingin berdiri di altar berdua denganmu."

Kata-kata Jack itu benar-benar membuat Alyss berhenti bernapas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Rasanya seperti akan keluar dari rongga dadanya jika saja tulang rusuknya tidak menghalangi.

"S-sama denganku…" kata Alyss dengan suara pelan, namun bisa didengar Jack dengan jelas.

Jack tersenyum lebar. Terlihat sekali kebahagiaan terpancar dari wajahnya. "Oh iya, ritualnya tadi kan belum selesai."

"Belum selesai? Memangnya apa lagi?"

Jack berdeham, lagi, "Baiklah, kalian berdua dipersilahkan untuk mencium pasangan anda masing-masing."

Jack menoleh pada Alyss dan tersenyum. Sementara Alyss, wajahnya kini benar-benar memerah seperti kepiting rebus. Melihat itu, Jack terkekeh. Tanpa peduli jantung Alyss yang sudah akan keluar—hal yang sama terjadi padanya—Jack meletakkan telapak tangannya di pipi Alyss dan mendekatkan wajahnya. Hingga ia dapat merasakan sesuatu yang lembut dan manis menyambut bibirnya.

Seandainya ada peri yang kebetulan lewat, Alyss pasti meminta kalau kebahagiaan ini akan terus berlanjut sampai kapanpun. Tapi sang peri yang dimaksud tidak akan pernah lewat, karena itu hanyalah dongeng belaka. Namun, walaupun sang peri tidak pernah lewat, tapi harapan itu telah terkabul.

End

Omake.

Sesosok pria berdiri di balik pohon. Ia mengawasi semuanya. Dari awal sampai akhir. Dan kini, pohon yang dijadikannya sebagai tempat bersembunyi, kulitnya terkelupas. Membentuk lima garis lurus.

"Glen-sama, apakah kuku anda tidak sakit mencakar pohon sampai seperti itu?" tanya Charlotte yang berdiri di belakang Glen.

Glen tidak menjawab, dan ia kembali mencakari pohon di hadapannya.

"Alyss-ku! Beraninya Jack merebutnya dariku! Alyss-kuuuu!"

'Glen-sama ternyata sister complex,' kata Charlotte dalam hati.


Okelah, saya gak mau banyak omong menanggapi tulisan abal saya di atas ini *headbang*. Dan buat yang bilang kurang puas sama scene Jack/Alyss nya, tuh, saya kasih Jack/Alyss lumayan banyak—walaupun lebay—.

Ya sudah lah, saya mau ber-euforia menyambut kelulusan saya X) *ditampar*

Oh iya, dan terima kasih banyak sudah membaca sampai akhir. Juga buat yang mereview. Arigatou gozaimasu!

April, 26th 2010

Cake S. Vessalius