Hai! Aku come back! Yahahahahahahahahahahahahaha! –diseret- sekarang chappy dua akan kutampilkan. Semoga dibaca... Semoga dibaca... Semoga dibaca........... (komat-kamit). Kali ini baru ada Takerunya. Ceritanya di sini mereka masih tinggal satu atap
V
Disclaimer : Masa sih Digimon itu punyaku? XD
Tinggal
Chappy dua : I don't wanna be here
Takeru's POV
Aku baru saja sampai di rumah dan belum sempat mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba aku mendengar suara pecahan barang seperti porselen, atau kaca?Atau.... Entahlah, yang pasti aku langsung berlari tergesa-gesa menuju arah suara tersebut. Begitu sampai di tempat asal suara itu, aku melihat suatu keadaan yang paling tidak kuinginkan dalam hidupku. Ibu dan ayah sedang berdiri dan saling menatap dengan marah. Dan aku langsung mengerti apa yang terjadi begitu melihat sebuah gelas pecah di bawah meja dekat mereka berdiri.
Mereka sedang bertengkar....
"Sudah kubilang berhenti meminum bir!" bentak ibu. Seolah-olah tidak mendengar. Ayah hanya menatap ibu tanpa ekspresi.
"Mana bisa aku berhenti sementara kamu hanya mengeluh dan mengeluh di depanku tanpa memberi tindakan sedikitpun?" balas ayah. Ibu semakin menggertakkan giginya
"Aku yang selama ini merawat Yamato dan Takeru sampai sekarang tanpa bantuanmu! Kamu sendiri yang tidak pernah membantuku dalam mengurus kedua anak itu!" Ibu berkata setengah teriak pada ayah. Mendengar hal itu ayah langsung menggebrak mejanya hingga piring-piring di atas meja bergetar.
"Bagaimana kamu bisa merawat mereka kalau tanpa aku yang bekerja sehingga kita bisa tinggal di rumah ini membuat mereka berdua mampu bersekolah sampai sekarang!?" jawab Ayah
" Hentikan"
Ayah dan Ibu langsung menoleh ke arah kakak yang tiba-tiba berbicara dari arah kamar mandi dekat dapur, aku juga sedikit melirik ke arah kakak yang menatap ayah dan ibu dengan dingin.
"Kalau akhirnya begini sebaiknya kalian dari awal tidak usah menikah saja." Lanjut kakak dengan dingin.
Wow......
Pertama kalinya aku mendengar kakak berbicara seperti itu...
PLAKK!
Tamparan dari ibu kena telak di pipi kiri kakak. Kakak hanya menoleh ke arah mana dia ditampar tanpa mengucapkan suatu katapun. Ibu menatap kakak dengan nafas terengah-engah.
" Kamu jangan sembarangan, Yamato" ujar Ibu. Kakak menatap Ibu tanpa ekspresi, lalu Ibu melanjutkan "Sebenarnya kalau tidak ada kamu dan adikmu si Takeru itu, kami bisa berpisah. Kamu tahu!?"
Mendengar kalimat Ibu itu aku merasa waktu berhenti. Jadi selama ini ayah dan ibu hanya pura-pura rukun di depan kedua anaknya agar kami tidak mengetahui bahwa rumah tangga keluarga kami sebenarnya sedang goyah!? Tidak bisa kuterima!
"Jadi......Ternyata begitu..." tanpa sadar aku membuka mulut dan berbicara pelan. Namun hal itu cukup membuat Ibu, ayah, dan Kakak terkejut. Sepertinya mereka baru sadar bahwa aku sudah pulang. Mata ibu perlahan-lahan membelalak begitu melihatku yang terpaku di dekat pintu dapur.
"Oh.....Takeru..." gumam Ibu. Kakiku dengan cepat langsung berlari ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Aku tidak tahan lagi dengan keadaan yang ternyata selama ini ditutup-tutupi. Ku ambil tasku yang besar, beberapa baju, lalu kumasukkan dompet dan handphoneku ke dalam tas itu. Kuambil tas itu lalu berlari menuju pintu depan tanpa mengucapkan selamat tinggal atau pamit dan berlari dengan kencang meninggalkan rumah. Sekilas kudengar ibu memanggil-manggil namaku. Namun aku tidak peduli lagi. Aku tetap melanjutkan langkahku menjauh dari rumah menuju Stasiun Kyoto.
^V^V^V^V^V^
Yamato's POV
"Takeru!" teriak ibu sambil berjalan menuju ruang tamu, berusaha menyusul Takeru. Namun sepertinya Takeru sudah tidak peduli lagi karena mendengar perkataan Ibu yang sebelumnya. Pasti itu sangat menyakiti hati Takeru yang selama ini mengira keluarganya baik-baik saja. Ibu langsung terduduk di lantai dengan lemas begitu menyadari bahwa anak bungsunya benar-benar serius minggat dari rumah.
"Lihat." Ayah mulai berbicara "Inilah akibatnya." Lanjut ayah. Ibu langsung menatap ayah dengan berang. Ow ow....Sepertinya akan dimulai lagi pertarungan mereka. Untuk menghindari tamparan kedua, sebaiknya aku menghindari mereka. Aku langsung berjalan menuju kamarku di lantai dua. Saat kakiku masih di anak-anak tangga, masih kudengar cacian dan bentakkan yang saling mereka lemparkan. (Karena ini bukan Rated M jadi gak mungkin Aku tulis apa aja caciannya XD)
Kurebahkan diriku di atas tempat tidur begitu sambil menatap langit-langit kamar. Sebetulnya aku sudah tahu sejak 5 tahun yang lalu rumah tangga di keluarga kami mulai goyah. Tapi aku tak menyangka puncaknya akan ada pada saat ini. Dan Takeru sudah menjalankan apa yang paling terbaik bagi dirinya, ingin rasanya aku ikut minggat dari sini. Tapi pasti keadaan akan bertambah parah jika mereka menyadari bahwa kedua anaknya pergi dari rumah di saat mereka mulai 'rentan'?
BLAM!
Sepertinya itu suara ayah yang menutup pintu kamar dengan keras, berarti pertengkaran sudah selesai. Atau dihentikan sementara? Yang pasti aku keluar dari kamar dan menuju dapur, kulihat ibu sedang menangis tersedu-sedu. Meja yang dijadikan pelampiasannya sudah setengah basah, sekilas kudengar ibu berbicara pelan
"Takeru....."
"Maafkan ibu, nak...."
Ibu benar-benar terguncang. Dengan agak canggung aku menghampiri ibu yang terus menangis.
"Ibu..." panggilku. Ibu langsung menghentikan tangisnya dan melihat ke arahku. Aku semakin salah tingkah.
"Aku....Minta maaf...." ujarku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal
"Yamato...."
"Aku tak menyangka perkataanku membuat Ibu marah dan membuat Takeru pergi..."
"Yamato..."
"Aku benar-benar menyesal....Aku..."
"Yamato."
"Ya?" Aku baru sadar kalau Ibu sudah memanggilku tiga kali. Kayak di film-film Horor yang kalau tidak salah judulnya ...'Panggil Namaku Tiga Kali'... Ibu menatapku dengan matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis.
"Ibu....Minta tolong padamu..." ucap ibu dengan lirih. Aku hanya mengangguk untuk mempersingkat percakapan.
"Bisa....Kamu mencari Takeru.....dan membawanya pulang?"
Aku mengangguk sekali lagi
.........
WHAT!? Mencari Takeru!?
Err......Bukan berarti aku tak mau mencari dia sih. Tapi'kan dia benar-benar menghilangkan jejak. Berarti 90% dia tidak mungkin kutemukan.
10% nya? Kalau beruntung atau Takeru sendiri yang pulang ke rumah.
Ya amplop!
^V^V^V^V^V^V^
Takeru's POV...
Aku duduk di atas kursi di stasiun Kyoto. *sigh* Sekarang aku benar-benar bingung. Ingin rasanya aku pulang ke rumah dan baca komik di kamar, tapi....
Jaga Gengsi dong.....
Tapi gimana!? Kalau mau bener-bener minggat sekarang kemana coba? Sekarang giliran aku yang bingung.
......
Hei.....
Tunggu dulu....
Kan bisa minta tolong dia ya! Langsung saja aku mengambil handphoneku dan menekan beberapa angka di sana.
Bersambung....
Bersambung! Ta-da! *dimakan*
Aduh.....Aku Cuma kuat sampai segini. Entar kalau diterusin malah tambah rusak.
Doakan aku supaya dapat inspirasi kembali! XD
YURI-CHAN
