CHAPPY 4 neeh!~ JENG JENG JENG....

Orang 1 : Apa? –shock-

Orang 2 : gak mungkin....-gak percaya-

Orang 3 : Masa' sih – gigit jari-

Readers : Sebenarnya mereka ini kenapa sih?

–sweetdropped-

Halah! Apa itu! Yang penting sekarang silahkan baca chappy empat ini! XD

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

Masalah Masih Berlanjut

Disclaimer : Sudah pada tahu lah...

Enjoy it! XD

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

Hikari's POV

"Takeru!?" Aku menyapanya dengan nada setengah tak percaya. Terdengar Takeru tertawa dari arah sana.

"Kaget ya?" tanya dia. Bih! Dia bisa baca pikiranku! Atau hanya menebak? Yang pasti aku terkejut.

"Tentu saja. Kita'kan sudah lama tidak saling berhubungan. Orang jadi kaget sama bingung kalau tiba-tiba kayak gini." Jelasku panjang lebar

"Ok, ok. Aku mengerti kok. Hikari, boleh gak sebentar. Err... 2 jam lagi ke apartement kamu?" pinta dia. Aku terdiam sejenak.

"Untuk apa?" balasku.

"Ada yang ingin kuceritakan. Kalau lewat telepon kayaknya kepanjangan deh." Jawab Takeru. Aku masih diam, membiarkan dia untuk terus berbicara. Kalau dipikir-pikir, dia'kan sahabatku sejak kecil. Mungkin masalahnya serius. Gak apa-apalah. Lagian, semenjak kakak pergi aku juga agak kesepian.

"...OK. Aku tunggu di sini." Jawabku

" Thank you Hikari. Aku ke sana sekarang. Bye"

Trek.

Setelah mengucapkan kata 'Bye', Takeru langsung menutup teleponnya dahulu tanpa membiarkan aku membalas katanya dengan 'Bye' juga. Mungkin dia terlalu lega? Atau ingin ke toilet? Atau dia langsung mematikan telepon kemudia baru ingat bahwa aku belum membalas ucapannya? Sudahlah. Aku juga langsung menaruh gagang telepon di tempat asalnya. Kulirik jam mungil yang berada di atas TV. 2 jam lagi kata dia. Lebih baik aku belikan beberapa cemilan di minimarket. 'Kan masih ada waktu. Jadi aku langsung menuju ke pintu depan apartement dan mengunci pintu kemudian berjalan menuju minimarket.

At Minimarket....

Begitu kudorong pintu minimarket, tercium aroma minimarket yang khas dan ber-AC. Aku mengambil trolley (bener gak tulisannya?) kecil dan mendorongnya ke bagian snack dan minuman. Aku mengambil beberapa keripik kentang,satu pack minuman bersoda, dan satu kotak susu vanilla. Tidak ada salahnya'kan? Daripada repot-repot ke supermarket, di sini jauh lebih dekat. Langsung saja kudorong trolley ke meja kasir sambil menunggu untuk di bayar. Masih ada waktu satu setengah jam lagi. Ku rasa cukup untuk membersihkan rumah dan diri sendiri. Langsung saja aku berjalan sambil menenteng tas plastik itu pulang menuju apartement.

At Apartement....

Kutaruh tas plastik itu di atas meja kemudian merapikan beberapa majalah,novel, dan dvd yang ada di atas meja ruang keluarga dan benda-benda lainnya. Setelah itu aku langsung pergi ke kamar mandi dan berganti baju.

TING TONG!

Itu mungkin Takeru. Aku menuju pintu dan membukanya. Di depanku kini ada seorang pemuda berambut pirang masih memakai pakaian sekolah dan tas yang cukup besar menggantung di kedua lengannya.

"Hai Takeru. Ayo, silahkan masuk." Sapaku. Dia membalas sapaanku dengan senyuman dan mengikutiku masuk ke dalam apartement. Entah kenapa ada yang aneh dari penampilannya.

"Umm...Takeru?" panggilku.

"Mm?" jawabnya sambil melepas sepatu. Aku menatapnya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut

"Kenapa kamu pakai baju sekolah? Tumben sekali."tanyaku. Dia langsung terdiam. "Apa jangan-jangan kamu minggat ya?' candaku. Tetapi yang kulihat bukan raut wajah tersenyum atau apapun yang merespon sebuah candaan,Takeru malah terbengong setelah mendengar pernyataan alias candaanku itu.

Sebenarnya ada apa sih?

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

Takeru's POV

"Eh?" aku langsung terbengong ria begitu mendengar pernyataan Hikari. Sepertinya kalimatnya itu langsung nembak ke dalam pikiranku seolah-olah dia mampu membaca pikiranku. Padahal aku belum bicara satu katapun.

Yah....

Kecuali saat aku menjawab sapaan dan panggilannya sih.

Hikari menatapku dengan heran. Sepertinya bingung padaku yang tiba-tiba membeku.

"Hei, kamu kenapa?" tanya dia. Aku kembai ke poseku yang sebelumnya.

"Tidak apa-apa kok." Jawabku diselingi tawa seadanya. Hikari hanya mengangkat bahunya.

"Baiklah." Ujarnya. "Ayo. Silahkan duduk" ucapnya. Aku menuruti kata-katanya dan menyandarkan diri ke sofa panjang yang empuk itu. Sigh... entah kenapa aku merasa nyaman sekali. Mungkin karena sudah hampir setengah hari aku di sekitar stasiun atau terlalu bingung mau melakukan apa ketika sedang berada dalam kereta, yang pasti aku merasa lebih lega dari yang sebelumnya. Tak lama dari arah dapur kulihat Hikari datang membawa nampan yang terisi dua buah cangkir teh. Kemudian menaruhnya satu persatu dengan hati-hati ke sebuah meja yang berdiri dengan tegak di hadapanku

"Thanks" ujarku, Hikari hanya mengangguk. Lalu duduk di sebelahku sambil menaruh nampannya di atas meja.

"Jadi..." ucapnya sambil menyeruput sedikit teh, lalu melanjutkan "Sepertinya kamu sedang ada masalah."

Aku benar-benar beruntung mempunyai sahabat seperti kubilang dia langsung tahu.

"Umm....Sebenarnya..." ujarku. (Yuri: sama kayak waktu chappy sebelumnya. Diceritain seluruh ceritanya dari mulai awal sampai akhir XD). Begitu aku selesai. Hikari menatapku dengan tatapan prihatin.

"Kamu terlalu kesal ya?" ucapan Hikari yang hanya terdiri dari 4 kata + 1 tanda tanya itu mampu membuat pikiranku berkecamuk. Marah? Tentu saja! Mengapa tidak? Kesal? Oh, ya. Seorang Takeru yang biasanya dilihat sebagai orang yang tenang sekarang benar-benar kesal. Bete? Anda benar sekali! Situasi di rumah tadi membuatku bete. LEBAY? Pasti! Gara-gara ini aku jadi Lebay~.Stress? Nilai 100 untuk yang menjawab seperti itu! Ada kemungkinan aku terkena stress stadium 11. Haus!?

.........

..............

Maaf.

Sebutan itu sama sekali tidak nyambung dengan perasaanku saat ini.

"Takeru?" panggil Hikari. Aku yang baru disadarkan dari alam 'sebutan-sebutan kata' langsung menoleh ke arahnya dengan agak salah tingkah. Apa mungkin dia melihat tampangku saat ngelamun kayak tadi ya?

"Kamu kenapa?" tanya dia. Fiuuh... Syukurlah dia tidak terlalu menyadari hal tadi. Dan mungkin setelah aku mengucapkan sepatah kalimat, maka akan menghasilkan kontroversi pikiran

"Boleh tidak sementara ini aku mengungsi di sini?" ucapku tanpa sadar. YA AMPLOP MY MOUTH!.Hikari langsung terdiam begitu mendengar permintaanku. Sudah kuduga dia bakalan bingung.

Benar'kan?

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

Hikari's POV...

Takeru mau numpang tinggal di sini? Gak salah? Mungkin karena dia gak punya tempat persembunyian yang tepat kali ya. Tapi bagaimana jika suatu hari orang tuanya datang ke sini dengan alasan mau bertemu Takeru. Kebetulan yang membuka pintu adalah Takeru sendiri. Pasti orang tuanya bakal marah kepadaku dengan berkata bahwa aku telah menyembunyikan seorang Ishida Takeru ('kan ortunya belum cerai. Masih berantem aja) dan tidak memberitahukan kabar kepada mereka. Lalu mereka menelepon ayah dan Ibu. Kemudian ayah dan Ibu menganggapku sebagai penculik. Kakak langsung kecewa berat padaku. Semua orang akan menatapku dengan tatapan menyeramkan!

....

Tapi kayaknya tadi itu berlebihan deh. Sepertinya kalimat terakhir itu gak mungkin. Aku menatap takeru. Sebenarnya aku kasihan juga pada sahabtku yang satu ini. Akhirnya setelah membuat dia lama menunggu aku membuka mulutku.

"Boleh saja." ucapku

Bersambung

^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^V^

XD

Di Chappy 4 kali ini aku memfokuskan dulu pada Takeru dan Hikari. 'Kan di sini emang tokoh utamanya mereka berdua. Tapi sepertinya Takeru Hikari di sini terlalu OOC ya. Mereka dibikin sesuai dengan sikapku, Hehehehehehe.

XD

Yuri-chan