Siblings-Complex

Fandom : Naruto

Story by : Yuuri Uchiha-Namikaze

Rate : T

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Summary:

Waw!! Sepertinya Sasori sedang jatuh cinta untuk yang PERTAMA KALINYA dengan seseorang!!! Biasanya dia sering jatuh cinta sama besi, obeng, sekrup, dan benda-benda mati lainnya.

Warning:

OOCness tingkat tinggi, GAJEness, GARINGness, SHOUNEN-AI!! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!!

have a nice read and hope you enjoy it!(^u^)


0o0o0o0o[Chap. 2 Berkumpul Kembali!]0o0o0o0

Normal POV

Pagi hari di kediaman Namikaze.

"Naru-chan!! Cepat turun!! Sarapan udah siap!!" panggil Sasori dari ruang makan.

"Iya, niichan! Sebentar lagi!"

"Hhh… dasar lambat." Gumam Sasori. Kemudian dia duduk sambil mengambil se—Genggam? Ekor? Buah? Tangkup? Orang??— roti dan mengoleskannya dengan selai coklat. Gaara udah menghabiskan separuh rotinya. Tak lama kemudian Naruto keluar dari kamarnya dan langsung menuju meja makan.

"Ohayou aniki!"

"Ohayou, Naru-chan." Jawab 'aniki' berbarengan.

"Naru-chan ikut niichan nggak?" Tanya Gaara sambil beranjak dari kursinya, bersiap-siap pergi ke sekolah.

"Hari ini Naru pergi sama Sasuke, niichan!" Jawab Naruto riang sambil mengoleskan selai kacangnya.

Twitch.

"Sasuke? Si bungsu Uchiha itu?" Tanya Gaara.

"Iya."

Twitch. Twitch!

"Yang rambutnya kayak pantat ayam itu."

"Hu-uh." Naruto mengangguk sambil mengunyah rotinya yang tinggal sedikit.

Twitch! Twitch!!

"Sekarang di mana dia?" Tanya Gaara dengan aura hitam di sekelilingnya. Naruto—yang tidak peka terhadap suasana—menggelengkan kepala tanda tak tau. Sasori udah dapat firasat nggak enak berusaha mencari topik pembicaraan lain.

"Eh, ngemeng-ngemeng Gaara dipilih jadi sekretaris OSIS ya?" Tanya Sasori santai, padahal dalam hati udah panik banget tuh. Otaknya juga sedang membuat pertanyaan-pertanyaan lain yang akan dilontarkannya nanti.

"Hn." Singkat. Aura hitamnya perlahan-lahan menghilang. Sasori menghela napas lega.

"He? Gaara jadi sekretaris OSIS ya? Enak nggak?" Tanya Naruto antusias. Gaara menggelengkan kepala. "Lho? Kenapa?"

"Banyak tugasnya. Ketua OSIS-nya juga pemalas." Naruto mengangguk paham. Kemudian pergi meninggalkan meja makan.

"Dah aniki! Naru pergi dulu!"

"Eeh! Tunggu!" panggil Gaara. Tapi Naruto tidak mendengarnya dan langsung pergi ke luar.

***

Suasana di luar…

'Duuh…! Naruto lambat banget sih! Dasar Dobe!' Sasuke melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.45 a.m. 'Udah 10 menit aku nungguinnya. Dasar lambat.'

"Sasuke!! Sorry! Lama nunggu ya?" Tanya Naruto polos.

"Ya iyalah! Udah sepuluh menit aku nungguin kamu tau!! Dasar Dobe lambat!!" jawab Sasuke kesal.

"Teme!! Kamu jadi orang nggak sabaran banget sih!! Lagian aku kan udah minta maaf!!" ujar Naruto sambil menggembungkan pipinya tanda kesal.

"Ya ya, ayo jalan. Nanti kita telat lagi."

"Tunggu dulu, Uchiha." terdengar suara dingin nan tajam menusuk telinga.

'Glek! Suara itu…'

"Eh, Gaara-niichan? Mau ikutan?" Tanya Naruto sambil memiringkan kepala. Gaara menggeleng pelan.

"Pinjam Uchihanya sebentar." Lalu Gaara menarik lengan baju Sasuke dengan—umm… sedikit kasar, menjauh dari Naruto.

"Uchiha, elo jangan macam-macam dengan Naruto! Pokoknya kalau sampai dia kenapa-napa…" suara Gaara makin nyeremin. Sasuke bergidik. "Gue bakal ngerubah muka elo jadi mirip Bakoro! Ingat lo!" ancam Gaara. Yaah~ sebenarnya sih, tiap kali Sasuke jemput Naruto di rumahnya pasti kena ancam sama Gaara. Tapi tetap aja ancamannya itu bikin ngeri setiap kali dengar. Gimana enggak? Buktinya aja udah bertebaran! Siapapun yang berani-beraninya ngeganggu, nggodain, ngolokin, etcetera Naruto mukanya bakalan ancur! Tubuhnya pun gak jauh beda sama wajahnya, sama-sama ancur! Tapi kayaknya Sasuke harus sedikit bersyukur nih, coz walaupun dia selalu manggil Naruto dengan nama sayang—Dobe, dia cuma kena ancam doang. Soalnya ada kejadian, waktu Naruto digodain sama kakak kelas—seangkatan dengan Gaara dan waktu itu Gaara nggak ada—Sasuke nggak tanggung-tanggung langsung nendang mereka dengan jurus karatenya (Note: Sasuke udah sabuk itam) sampai pingsan!! Jadinya Gaara merasa berutang budi ama Sasuke. Tapi!! Itu bukan berarti Gaara bakal menyerahkan Naruto kepada Sasuke. Poor Sasuke.

"Iya. Nggak bakal deh." jawab Sasuke tenang. Padahal dalam hati udah perasaannya kacau campur-aduk. Kemudian dia mendekati Naruto yang menunggunya dari tadi.

"Daah Gaara-niichan!!" seru Naruto sambil melambaikan tangannya ke arah Gaara yang membalasnya sambil tersenyum tipis. Setelah bayangan mereka menghilang, Sasori nongol keluar.

"Gaara~ kamu tuh kok kasar banget sih sama Uchiha itu? Lagian kan dia pernah nolongin Naru-chan. Dan aku yakin dia pasti sayang banget sama Naru-chan." Komentar Sasori.

"Aku cuma nggak mau kalau dia berbuat macam-macam sama Naru-chan, aniki." Jawab Gaara.

"Maksud kamu dia bakal mesum-mesuman sama Naru-chan, gitu? Ya ampun Gaara~! Mereka itu masih kecil! Masa' udah ngerti sama yang begituan? Kamu berlebihan banget sih!"

"Kenapa enggak? Yuu yang masih umur 13 tahun aja udah sering baca fanfic atau doujin rate M." Balas Gaara.

(Yuu: Aiih~ Gaara buka aib nih…)

"Hhh… terserah kamu deh. Udah cepet pergi sana. Entar telat baru tau." Ujar Sasori sambil berjalan masuk ke rumah.

"Aniki nggak kuliah?"

"Hari ini aku libur. Nanti aku mau jalan-jalan keliling Konoha. Mungkin sampai sore. Kamu bawa kunci cadangan kan?"

"Iya. Dah aniki." Gaara langsung menaiki motor merahnya dan meluncur ke arah sekolahnya.

***

Di kelas Naruto dan Sasuke.

"Teme, tolong periksain PR Metikku dong, Pliiiss…" pinta Naruto dengan menggunakan jurus andalannya. Sasuke mana mungkin nolak?

"Iya deh, mana PR-mu? Sini!" perintah Sasuke. Naruto dengan riang memberikan tugasnya kepada Sasuke. Ini memang kebiasaan Sasuke dan Naruto kalau mereka ada tugas. Pasti Sasuke selalu memeriksa pekerjaan Naruto dan jika ada yang salah, dia bertugas untuk menjelaskan penyelesaian yang benar. Makanya nggak heran kalau mereka ini rangkingnya selalu berdekatan. Bukan karena nyontek, tapi karena pintarnya sebanding.

Kemudian Naruto pergi ke tempat Kiba, cowok yang demen banget sama anjing. Hampir setiap pulang sekolah dia selalu dijemput anjingnya yang namanya Akamaru, kecuali kalau anjingnya sakit. Sebenarnya Sasuke a little bit nggak suka kalau Naruto pergi. Tapi ya mau gimana lagi? Mereka kan nggak punya hubungan khusus jadi Sasuke nggak punya hak untuk melarang Naruto pergi. Oke, setidaknya belum.

"Hei Kiba!!" sapa Naruto.

"Oh, hai Naruto!" balas Kiba. Mereka langsung bersalaman a la mereka, semacam tinju gitu (bukan tinju beneran!!). Mereka sendiri yang buat gaya-gayanya. Kiba dan Naruto itu sebenarnya sahabat dari SD. Persahabatan mereka murni, bener-bener sahabat. Nggak ada perasaan lebih selain itu. Beda dengan hubungan Sasuke dan Naruto. Mereka pertama kali ketemu waktu masing-masing berumur lima tahun di rumah Sasuke. Waktu itu keluarga Namikaze berkunjung ke rumah keluarga Uchiha. Oke, nggak usah diceritain. Tambah panjang. Intinya waktu itu Sasuke udah falling in love at the first sight sama Naruto. Tapi ya yang namanya anak kecil mah belum ngartos ama yang begituan. Jadinya mereka sampai sekarang cuma sebatas sahabat.

"Oh ya, bro, kamu tau nggak ultah sekolah nanti bakal ada pesta apaan?" Tanya Kiba memulai topik pembicaraan.

"Hee? Memangnya bakal ada apaan?"

"Biasa aja sih… aku denger-denger dari Hinata, katanya bakal diadain pesta kostum. Semuanya musti ikut, pake kostum pastinya." Jawabnya. Sekadar informasi, Hinata itu pacaran sama Kiba.

"Waah! Asyik tuh! Kamu mau pakai kostum apa, Kib?"

"Hmm… mungkin anjing aja kali ya? Biar bisa kembaran sama Akamaru!!" jawab Kiba semangat begitu menyebutkan nama anjing kesayangannya itu.

"Okelah kalau begitu. Tapi kalau aku enaknya pakai kostum apa ya?? Kasih ide dong!!"

"Ohh… kalau kamu sih pakai gaun aja! Supaya—" BUKK! Belum sempat Kiba menyelesaikan kata-katanya, Naruto memukul perutnya dengan lumayan keras.

"ENAK AJA AKU PAKAI GAUN!! ELO AJA SONO!!" teriak Naruto. Udah biasa. Kiba emang suka banget bikin sahabatnya ini kesal. Orangnya emang jahil! Wajah Sasuke jadi memerah sewaktu mendengarnya. Sekarang pikirannya melalang-buana membayangkan Naruto pakai gaun. Kalau Naruto beneran pakai gaun, Sasuke pasti pingin banget pakai jas, supaya serasi gitu.

"Hahaha..!! Becanda bro! gitu aja marah!" kata Kiba sambil meringis kesakitan. "Njrit, sakit banget nih. Pukulanmu makin kuat aja!"

"Iya dong!! Naruto Namikaze gitu loh!!" seru Naruto sambil menunjuk dirinya dengan jempolnya, membanggakan diri, bernarsis ria.

"Iya iya. Dasar narsis lo."

"Dobe!! Ada yang salah nih!!" panggil Sasuke. Naruto langsung menghampiri Sasuke.

"Yang mana, Teme?"

"Nih nomor lima belas. Akar dari tujuh tambah dua akar sepuluh itu hasilnya akar dua tambah akar lima! Kok kamu akar tiga sih!"

"Iya iya sori. Tapi yang lainnya bener semua kan?"

"Iya, tinggal yang itu aja." Kemudian tiba-tiba para murid duduk dengan rapi. Ternyata guru udah datang. Penasaran dengan guru itu? Dia adalah guru yang paling tidak diharapkan kehadirannya, yaitu Bakoro, Baka Orochimaru! Guru yang ngeselin, nyebelin, bikin nggak mudeng, dan semua yang nggak bagus lainnya. Anak-anak cuma bisa pasrah deh sama guru ini.

***

Istirahat, di ruang OSIS.

Gaara masih sibuk dengan pekerjaan OSIS-nya. Pekerjaan sekertaris emang banyak dan sulit banget. Walaupun otak Gaara encernya nggak ketulungan, yang namanya banyak ya pasti lama ngerjainnya.

"Namikaze-san, lebih baik kamu sekarang istirahat dulu." Kata Neji Hyuuga, ketua OSIS sekaligus kakak Hinata, yang entah kenapa bisa kecantol sama Gaara. Cuma Gaara kurang peka, jadinya nggak ketahuan deh sampai sekarang.

"Bentar. Dikit lagi." Jawab Gaara datar. Neji hanya bisa menghela napas panjang, pasrah.

"Ya udah. Aku duluan ke kantin. Mau nitip?"

"Nggak usah."

Akhirnya, dengan perasaan lesu, Neji kembali gagal pedekate sama Gaara.

***

Pulang sekolah.

"Teme~!! Nanti di pesta ultah skul kita kamu pakai kostum apa?" Tanya Naruto. Sasuke dan Naruto sekarang sedang berada di jalan menuju rumah masing-masing.

'Maunya sih yang serasi dengan kamu!!' batin Sasuke. "Aku pakai kostum anak sekolah aja." Jawabnya ngasal.

"He? Berarti kamu pakai seragam sekolah aja dong? Yaah~ Teme nggak asik!!" seru Naruto.

"Emangnya kamu bakal pakai kostum apa?"

"Nggak tau sih. Nggak ada ide nih. Kasih ide dong!"

'Pakai bikini aja. Biar aku bisa nge-piiip dan nge-piiip kamu!' batin Sasuke mesum. "Nggak tau. Kamu pakai apapun juga tetep aja Dobe!"

"Huh! Teme jahat!" ujar Naruto sambil menggembungkan pipinya.

'Hmm… pesta kostum… dua minggu lagi ya… baiklah, nanti aku akan menyatakan perasaanku padanya!! Harus!!'

"Daah Sasuke!!" seru Naruto begitu dia sampai di depan rumahnya. Sasuke hanya menjawab 'hn' andalannya.

***

O ow, bagaimana kabarnya Sasori?

"Wuidiih~ ngapain gue di sini?" ternyata saudara-saudara, Sasori sedang berada di stasiun yang ada di pinggir kota! "Hmm, turun dulu deh. Udah lama aku nggak ke sini. Beli minuman aja lah." Kata Sasori. Kemudian dia keluar dari mobilnya dan segera masuk ke stasiun itu. Suasananya lumayan ramai. 'Emang sekarang lagi musim mudik ya?' Tanya Sasori dalam hati. Lalu dia merogoh kantong celananya dan mendapatkan beberapa koin uang untuk dimasukkan ke dalam mesin minuman kaleng. Setelah selesai transaksi pembelian, Sasori membuka teh kalengnya lalu meneguknya sambil memejamkan mata, menghayati banget.

Nggak sadar atau nggak lihat, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Sasori. Kontan aja minuman Sasori nyembur ke wajahnya. Dengan wajah muaarah bin kesel, Sasori membersihkan wajahnya dengan telapak tangannya, sebelum ada sebuah sapu tangan berwarna putih turut serta membersihkan wajahnya. Sasori melihat pemilik sapu tangan itu dan… OH MY GOD!! Ada seseorang yang amat-sangat cantik dengan wajah khawatir terpampang jelas di hadapannya. Orang itu berambut hitam panjang dan bermata—coklat? Abu-abu? Entahlah. Yang pasti matanya itu indaaaaaahh banget bagi Sasori. Tiba-tiba, background di belakang Sasori yang seharusnya adalah orang-orang berlalu-lalang dan kereta yang pulang pergi, kini berubah menjadi warna pink cerah. Tak lupa ada gambar bunga yang berwarna-warni, gambar lope-lope, dan ada segi enam transparan nggak jelas. Waw!! Sepertinya Sasori sedang jatuh cinta untuk yang PERTAMA KALINYA dengan seseorang!!! Biasanya dia sering jatuh cinta sama besi, obeng, sekrup, dan benda-benda mati lainnya.

"Aah, maaf. Saya menabrak Anda sampai minumannya muncrat seperti ini. Hontouni Gomenasai!!" kata orang itu sambil menunduk. Ada nada perasaan bersalah di dalamnya. Expresi marah Sasori yang tadi udah ngilang entah ke mana. Digantikan dengan expresi lembut.

"Sudahlah. Nggak apa-apa kok." Kata Sasori dengan nada yang lembuuutt banget. Orang tadi langsung menengadahkan kepalanya sambil ber-expresi senang, tersenyum lembut. Bersyukur arteri di hidung Sasori tebal dan kuat sehingga dia tidak mimisan melihatnya. 'Gila!! Manis banget cuy! Lebih manis dari Naru-chan malah!! Minta nomornya aah!' batin Sasori berbunga-bunga.

"Terima kasih. Permisi, saya pergi dulu." Ujar orang itu, tetapi langsung ditahan Sasori.

"Kamu mau ke mana?" Tanya Sasori. 'Ya ke kereta lah!! Atau nyari jemputan!! Dasar Sasori begooooo!! Eh, mudahan dia nggak ada jemputan, trus gue antar deh dia! Kan bisa sekalian minta nomornya tuh!!' pikir Sasori. Otaknya ini masih bisa aja mikirin rencana.

"Nng… saya mau mencari taksi." jawab orang itu, masih dengan senyum manisnya. Yes! Kesempatan untuk Sasori!

"Hmm… mau kuantar? Aku bawa mobil kok." Ajak Sasori. Orang tadi tampak bingung dengan ajakan Sasori. 'Duuh!! Gimana kalau dia nggak mau dengan alasan karena dia nggak mau ikut gue yang masih berstatus orang asing?? Pikirkan Sasori! Pikirkan!!'

"Mmm… apa nggak merepotkan?" tanya orang itu.

"Nggak kok! Sama sekali nggak!!"

"Nng… baiklah. Terima kasih ya!! Dan… boleh saya tau nama Anda? Nama saya Haku Ichihara." Katanya sambil mengulurkan tangannya.

"Namaku Sasori Namikaze. Yoroshiku." Jawab Sasori sambil bersalaman dengan Haku. Haku tersenyum manis.

"Yoroshiku. Lalu, kapan kita jalannya?" tanya Haku polos.

"Oh! Sekarang juga boleh! Ayo! Mana barang-barangmu? Sini biar aku yang bawakan." Tawar Sasori. Haku menggeleng pelan.

"Nggak usah. Cuma satu koper ini aja kok."

"Oh, yaudah deh. Ayo!" ajak Sasori semangat. Mission complete. Yay!

***

Di kediaman Namikaze.

"Niichan, Saso-niichan kok belum pulang?" Tanya Naruto pada Gaara yang sedang nonton berita politik di ruang keluarga.

"Nggak tau tuh aniki. Palingan juga beli bahan-bahan buat alatnya." Jawab Gaara ngasal.

TING TONG.

"Itu mungkin aniki. Tolong bukakan." Pinta Gaara. Naruto langsung pergi ke depan pintu. Dan begitu pintunya dibuka…

Naruto bingung, Gaara yang ada di ruang keluarga—dan mencuri pandang ke pintu, melongo. Nampaknya ada yang salah dengan pemandangan di luar sana.

Sasori, masih dengan rambut merah batanya, masih dengan tinggi yang sama, masih dengan kaos merah yang sama dan masih memakai celana serta sepatu yang sama dengan yang dia kenakan tadi pagi.

Lalu, apanya yang salah?

Sepertinya yang salah terdapat pada backgroundnya. Seingat Naruto dan Gaara, seharusnya background itu berupa rerumputan dan beberapa pohon yang ada di halaman rumah. Atau paling tidak terlihat jalan setapak. Lha, ini malah jadi warna pinky-winky yang muncul—hampir mirip dengan yang ada di stasiun, hanya saja bunga-bunganya lebih banyak ditambah sound effect lagu orang lagi jatuh cintrong. Mantep.

"Saso-niichan kenapa?" Tanya Naruto sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Sasori. Sebenarnya sedari tadi Sasori tersenyum lebar, wajahnya menampakkan kebahagiaan yang sangat.

"SASO-NIICHAN!!"

"Wuaahh!!" Sasori terlonjak kaget. Background nggak jelas itupun langsung sirna. "Oh Naru-chan toh. Kenapa?" tanyanya o'on.

"Niichan yang kenapa! Dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang gila!" seru Naruto. Gaara cuma bisa geleng-geleng kepala.

"Dasar aneh." Gumam Gaara pelan. Tetapi masih bisa didengar Sasori dan Naruto.

"Heh, wajar aja kalau aku jadi aneh begini! Tadi aku ketemu sama bidadari yang manis dan cantiknya nggak ketulungan! Bahkan mungkin lebih manis dari Naru-chan!!!" seru Sasori menggebu-gebu.

"Aneh kok wajar." Balas Gaara datar. Sasori udah biasa dengan kelakuan Gaara, jadi dia biasa aja.

"Halah!! Kamu nggak liat sih! Ntar aku mau ngajak dia ketemuan lagi!! Supaya bisa deket! YES!! BANZAI!!" Sasori langsung ngacir ke kamarnya dengan semangat jatuh cintrong. Naruto cuma bisa tertawa kecil melihat tingkah kakaknya yang berubah tiba-tiba itu, sedangkan Gaara melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti tadi hanya karena perdebatan kecil dengan kakaknya.

***

Malam harinya.

"Aniki!! Naru Lapaaaaar!!!" teriak Naruto sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi.

"Naru-chan bikin ramen aja! Niichan lupa beli bahan makanan!" jawab Sasori dari atas.

"Yes!! Ramen ramen!!" seru Naruto sambil bersenandung ria.

TING TONG.

"Niichan!! Tolong bukakan pintunya dong! Naru lagi buat ramen nih!" kata Naruto dari dapur sambil meracik bumbu-bumbu ramen instant ke dalam cupnya.

TING TONG.

"Iya iya sebentar!" seru Sasori. 'Huh! Lagi asik-asiknya bayangin wajah Haku, eeh ,alah diganggu!' batin Sasori kesal. Begitu pintunya dibuka…

"Hai otouto!! Lama nggak ketemu ya?!" sebuah suara yang sangat akrab di telinga Sasori. Betapa kagetnya Sasori begitu melihat wajah si pemilik suara. Kaget, heran plus senang.

"Aniki!! Apa kabar!? Tumben pulang?!" seru Sasori kegirangan. Anikinya Sasori siapa lagi kalau bukan seseorang yang jenius dalam mencampurkan bahan kimia sekaligus yang paling jahil di keluarga Namikaze, RYO NAMIKAZE!!

"Hng? Siapa yang datang niichan?" Tanya Naruto sambil melihat seseorang yang sekarang berada di samping Sasori. "Waah!! Ryo-niichan udah pulang!!" seru Naruto senang. "Yaay!! Rumah bakalan rame nih!!"

"Waaah, Naru-chan!! Kamu kok tambah imut sih!? Bikin gemes tau!!" komentar Ryo sambil mencubit pelan pipi kenyal Naruto. Naruto mengaduh kesakitan sambil mengelus-elus pipinya yang memerah sedikit.

"Ryo." Suara yang datar namun mampu merubah atmosfer menjadi lebih berat dari biasanya. Suara itu diperkirakan oleh telinga ketiga orang yang berada di depan pintu berasal dari tangga. Sasori dan Ryo menoleh dengan gerakan slow motion sambil sempat terpatah-patah (?), kalau Naruto noleh ya noleh aja, nggak usah diperlambat.

"Hai Gaara. Lama nggak ketemu ya?! Kamu masih dendam sama aku?" Tanya Ryo langsung ke pokok masalah. Sekarang dia udah terbiasa dengan suasana yang mengerikan tersebut. Masa' kakak kalah sama adik? Kan nggak etis banget.

Gaara nggak beranjak dari tempatnya, masih menatap Ryo tajam. Ryo nggak takut. Dibalasnya dengan tatapan santai namun tajam juga. Sasori dan Naruto hanya bisa terdiam menyaksikan perang dingin antar saudara itu. Pingin melerai, entar kena getahnya juga. Dibiarin juga nggak bagus. Pilihan yang sulit.

Dan ternyata satu-satunya orang yang bisa menghentikan perang itu telah datang.

PAK! Ada yang memukul pundak Ryo. "Kalian ini lagi ngapain sih?! Lama nggak ketemu kok malah perang dingin begini. Udahan tatap-tatapannya!" ujar sebuah suara lembut tapi tegas. "Dasar. Sama sekali nggak berubah!"

"EEH?" semuanya menoleh ke arah suara tersebut. Dan tampaklah seorang wanita berambut pirang dan bermata biru cerah bersama seorang pria berambut hitam dengan warna mata yang hitam juga.

"ANEKI??!" teriak semuanya berbarengan.

"Iya. Ini aku. Aneki kalian." Jawab Deidara sambil tersenyum lembut.

-

Tbc


Y/N:

Hmm… sepertinya untuk chapter ini nggak kerasa humornya. Pokok permasalahanpun belum keliatan. Intinya GARING BANGET!!! Pendek pula!! Bagi reader yang kurang puas, tolong maafkan saya. Di chap depan bakal ada pokok permasalahannya deh. Tapi saya nggak janji lho…

Balasan review :

Baby chii hime no hikari : Makasih reviewnya^^!! Duuh… saya sebenarnya saya terinspirasi dari fic KucingPerak-senpai yang judulnya 'Hero apa Heroine ?' itu. Jadi chap pertama bukan ide saya seutuhnya. Salutnya sama KucingPerak-senpai yang sudah memberikan saya inspirasi lewat ceritanya. Jangan salut ke saya. Tapi untuk chap ini dari pemikiran sendiri kok. Dibantu sama temen juga sih~

chaz no danna : Makasih reviewnya^^!! MISS JILL!!! Hahaha.! Itu aja namanya! Kan biasa dipanggil kayak gitu. Oh ya, thanks banget udah ngasih ide pairing SasoHaku. Tapi Haku-nya nggak kujadiin female. Biarin aje keluarga Namikaze banyak yang nggak normal! Hehehe…

Eikaru : Makasih reviewnya^^!! Hahaha… unik dan ancur pastinya! Kalau Dei-nya cowok siapa yang bakal nerusin keturunan keluarga Uchiha? Ya nggak? Maaf ya untuk SasuNarunya, di chap ini nggak terlalu banyak (malah bisa dibilang hampir nggak ada!!). mungkin di chap berikutnya. Tapi saya nggak janji!!

SasuNaru Lover : Makasih reviewnya^^!! Wah, kalau diliat dari namenya ketahuan banget kalau Anda sangat menyukai SasuNaru! Saya juga lho!!*wink wink* Maaf sebesar-besarnya karena adegan SasuNaru nggak terlalu keliatan… mungkin di chap berikutnya ada…

Uchiha Nata-chan : Makasih reviewnya^^!! Tuh kan bener!! Emang saya yang salah kok!! Tapi… udah terlanjur niih… apa saya hapus aja ya?? Kalau chap ini gender familynya keliatan nggak? Waaahh~ saya benar-benar butuh saran nih!!

Meiffany : Makasih reviewnya^^!! (hehehe… padahal hasil maksa!) Chap ini gimana? Ngakak nggak? Kayaknya nggak deh coz nggak ada yang lucu. Nanti review lagi ya~ Harus!!!

Overall, Thank you Minna!!!