Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING : OOC tingkat tinggi, GAJE, GARING, SHOUNEN-AI!! Bagi yang tidak suka warning tersebut, TINGGALKAN PAGE INI DENGAN MENEKAN 'BACK'!!

Hope you enjoy it! ^u^

0o0o0o0[Kostum Naruto]0o0o0o0

Malam harinya di kediaman Namikaze.

"Taraaa!! Ini dia kostum-kostumnya!!" seru Deidara sambil membawa sebuah kardus besar. Kemudian dia menjatuhkannya di lantai.

"Waaah!! Banyak banget kostumnya!!" seru Naruto girang, matanya berbinar-binar. Ryo dan Gaara hanya melihat kedua blonde itu dengan tatapan ingin tahu. Sedangkan Sasori masih merasakan firasat buruk.

"Naru-chan, kita cobain dulu satu-satu ya!! Nanti baru dinilai sama aniki-anikimu ini!!" kata Deidara. Kemudian dia mengambil beberapa kostum dan mendorong Naruto masuk ke kamarnya yang di lantai bawah.

"Ngomong-ngomong, aneki dapat kostum itu dari mana? Beli?" tanya Sasori. Gaara mengelengkan kepala. Sedangkan Ryo memasang tampang memikir.

"Mungkin dia ambil dari gudang? Atau dia simpan di kamarnya? Bukankah dulu dia juga pernah ikutan kontes kostum? Ingat kan, waktu itu dia meminta kepada Tousan dan Kaasan buat beli banyak banget kostum cewek? Mataku sampai silau melihatnya." Jelas Ryo. Kemudian dia, Gaara dan Sasori terbelalak.

"Tunggu… kostum cewek…? Jangan-jangan…" Sasori berkeringat dingin. Sedangkan Ryo manggut-manggut gugup. Gaara langsung ngacir ke kamarnya.

"ANEKIII!!! JANGAN BIKIN NARU-CHAN JADI BELEEENG (BENCIS KALENG)!!!" teriak Ryo dan Sasori bersamaan sambil menggedor-gedor pintu kamar Deidara. Deidara dengan otak cemerlangnya ternyata sudah memasang dinding kedap suara agar tidak bisa mendengar suara sekeras apapun dari luar.

"Aduuh!! Gawat nih!! Naru-chan emang manis, tapi aku nggak mau kalau dia jadi beleng!!" seru Ryo. "Sas, kamu ada alat buat ngedobrak ni pintu nggak?"

"Ya nggak ada lah, aniki!!! Bisa-bisa aku dimarahin Okaasan dan Otousan!!" seru Sasori.

Kemudian pintu kamar itu terbuka. Terlihatlah Naruto dengan kostum a la maid yang berwarna biru cerah. Baju itu berlengan pendek dengan rok selutut yang sedikit mengembang. Belum lagi renda-renda berwarna putih serta pita berwarna putih a la maid di lehernya plus topi a la maid yang berwarna putih juga. Bener-bener persis cewek tulen!!

"Gimana? Manis banget kan?" tanya Deidara. Ryo dengan sigap langsung memencet hidungnya. Mata Sasori terbelalak.

Hening.

"Err… aniki… gimana?" tanya Naruto gugup. Ryo dan Sasori masih terdiam. Deidara mulai memutar-mutar tubuh Naruto, kemudian tersenyum puas.

"Hmm… lumayan siih. Tapi kita coba dulu kostum yang lain ya? Bisa aja yang lain malah lebih bagus." Seru Deidara semangat. Kemudian mereka masuk lagi ke kamar.

"Gilaaa!!! Manis bangeet!! Itu Naru-chan kan?" tanya Sasori.

"Ya iyalah itu Naru-chan!! Siapa lagi?! Gila! Bisa-bisa incest nih kita!!" seru Ryo sambil mengambil tisu yang ada di dekatnya. Buat apalagi kalau bukan buat ngelap MIMISAN.

"KITA?? Lo aja kali, gue enggak!! Udah ada orang yang gue sukain kok!!" seru Sasori. Terbentuklah seringaian dari bibir Ryo. 'Ups… keceplosan nih…'

"Hehehey~ siapa tuh, Sas~?? Kok gue nggak tahu?? Kasih tahu dong~" ujar Ryo sambil nyenggol-nyenggol pundak Sasori. Kemudian adiknya itu menghela napas pasrah.

"Iya deh entar gue kasih tahu. Tapi jangan ditaksir ya! Gue nggak mau punya saingan." Jelas Sasori.

"Emang anaknya gimana sih? Cantik?"

"Banget!! Cantik banget!! Eh, mendingan nggak usah gue liatin ke elo deh! Entar elo pasti bakalan naksir! Ogah gue!!"

"Che, belagu lo! Sama aniki sendiri medit banget!"

Krek.

Pintu kamar terbuka lagi. Sekarang Naruto dipakaikan baju gothic lolita. Masih menggunakan rok. Apakah Anda tahu Misa Amane dari Death Note? Baju yang Naruto kenakan sekarang sangat mirip dengan apa yang Misa kenakan sewaktu pertama kali di rumah Light. Rambutnya juga dikasih bando warna hitam. Tangannya dari tadi sibuk membetulkan roknya yang terlalu pendek itu.

"NGGAK COCOK!!!" teriak Ryo dan Sasori.

"Terlalu terbuka!! Bisa-bisa Naru-chan diperkaos sama orang lain!! Nggak boleh!!" seru Ryo. Sasori manggut-manggut cepet.

"Kalau Misa Amane yang makai sih nggak apa-apa!! Dia tuh ada shinigaminya yang bisa ngelindungi dia!! Lha, Naru-chan??" seru Sasori menambahi. Ryo dan Sasori lumayan menyukai komik Death Note.

"Eh bukannya ada ya, shinigaminya…" gumam Ryo sambil memikirkan seseorang yang selalu galak dengan orang lain yang dekat dengan Naruto dan Deidara. Siapa lagi kalau bukan…

"Heh!! Gitu-gitu adik kamu juga!! Lagian Gaara kan kecakepannya nggak bisa dibandingin dengan shinigami yang mukanya ancur-ancuran itu!!" balas Deidara. Ternyata Deidara juga suka komik Death Note!!

"Aneki… lepasin…" pinta Naruto. Deidara langsung terburu-buru mendorong Naruto masuk ke kamar. Sementara itu Ryo dan Sasori menghela napas lega.

"Aneki emang gila!! Bener-bener dijadiin manekin idup dah Naru-chan sama aneki!!" seru Sasori.

"Berikutnya kostum apalagi ya?" gumam Ryo sambil memasang pose berpikir. Kemudian pandangannya beralih ke kotak kostum yang dikeluarkan Deidara. Masih banyak kostumnya di sana. "Liat-liat dulu deh. Sapa tahu ada yang cocok buat Naru-chan." Ryo mulai mengobrak-ngabrik kotak itu. Semakin banyak yang dia keluarkan dari kotak itu, semakin pucat pula kulitnya. Sasori pun tak jauh berbeda.

"APAAN NIH BAJU!!! KECEWEKAN SEMUA!!! DAN APA LAGI INI?! TELINGA KELINCI??!" Ryo langsung melempar telinga kelinci itu—dan tidak sengaja nemplok di wajah Sasori. "Iiih… gue nggak nyangka kalau aneki pakai baju beginian!"

"Enak aja!! Bukan aku yang makai baju itu tahu!!" Deidara udah berdiri di depan pintu kamarnya, tanpa Naruto. "Yang makai itu temenku, si Konan!!"

"Hoooh… pacarnya Pain-senpai itu? Trus aneki pakai baju yang mana?" tanya Sasori. Wajahnya pucat membayangkan anekinya memakai salah satu baju-baju itu.

"Aku nggak ada makai baju itu kok!"

"Hee?? Trus baju-baju ini buat apaan?"

"Buat kusewa, lumayan kan uangnya." Sasori dan Ryo langsung sweatdrop.

'Jadi dia sampai merengek-rengek dibelikan ini semua hanya untuk disewakan?' batin mereka.

"Lho, mana Naru-chan? Kok nggak keluar?" tanya Ryo celingak-celinguk.

"Noh, dia di dalam. Nggak mau keluar." Deidara menunjuk ke dalam kamar, diikuti tatapan 'kenapa?' dari kedua adiknya.

Di dalam, Naruto duduk di lantai dengan bersimpuh. Dia menggunakan baju CATMAID berwarna kuning yang sewarna dengan rambutnya. Pakaian itu amat sangat minim dan tanpa lengan. Perut datarnya terekspos jelas. Sebagian besar paha mungilnya pun juga ikut terlihat. Dia memakai sarung tangan berbulu yang panjangnya sampai setengah lengan atasnya. Kakinya pun juga diberi sepatu boots lengkap dengan bulunya. Tak lupa dengan kuping kucing di kepalanya. Wajahnya sangat pucat.

CROOTT!!

Darah segar segera mengalir dengan deras (kalau tidak mau dibilang menyembur) dari hidung sang aniki tertua. Wajahnya merah padam. Keadaan Sasori juga tidak jauh beda dari anikinya. Wajahnya juga merah padam. Tangannya dengan sigap menekan hidungnya agar tidak keluar darah seperti anikinya. Sedangkan Deidara di luar tertawa terkikik-kikik.

"ANEKIIIIIII!!!" mereka berseru kesal terhadap sang aneki. Pemandangan di depan mereka benar-benar amat sangat—yaa… you know laah~! Deidara berlari sambil tertawa. Senang rasanya dapat melihat wajah konyol dari adik-adiknya itu.

***

Gaara sedang menonton TV di ruang keluarga. Memindah-mindah channel dengan bosan. Sampai dia menemukan channel dengan menampilkan kartun Inuyasha. Yah lumayan lah daripada nggak ada.

"Wehehey!! Udah ada Inuyasha toh!? Nonton ah!" seru Sasori. Sementara itu Ryo dan Deidara sedang berdebat mengenai kostum Naruto.

"Sudah kubilang! Jangan pakai kostum aneki itu!! Walaupun Naru-chan manis, dia itu tetap cowok, tahu!!! Jangan bikin dia malah tambah cewek lagi!!" seru Ryo. Deidara yang nggak mau kalah langsung membalas.

"Tapi Naru-chan itu manis!! Bakal lebih manis lagi kalau dia pakai baju itu!!"

"Nggak!! Pokoknya nggak boleh!! Dia itu cowok, aneki!! COWOK!!" Ryo tetap bersikeras. Terkadang matanya menatap tangan anekinya, takut-takut Deidara udah megang jarum bius.

"Tapi kalau pakai yukata boleh kaaann~?"

"Yukata? Boleh juga tuh. Tapi kalau pakai yukata jadinya apaan?"

"Hmm… apa ya…" tanpa sengaja, mata Ryo tertohok pada apa yang sedang ditonton Sasori, Gaara dan Naruto—jangan tanya sejak kapan Naruto ada di situ. Yang dilihat Ryo adalah gambar yang menampilkan seluruh penampilan Inuyasha. Melihat telinga rubah itu, bibir Ryo langsung membentuk seringaian. Otak Deidara langsung menerjemahkannya menjadi tanda danger. "Ehem! Apa yang sedang kau pikirkan, wahai adikku tercinta?" tanya Deidara sarkastik. Ryo menoleh sebentar ke kakaknya, masih dengan seringaiannya yang khas.

"Ide yang sangat menarik, wahai kakakku tersayang." Langsung saja Ryo lari menuju kamar sekaligus lab pribadinya dan menguncinya dengan kunci sidik jari, kornea mata, sampai gembok besi—yang tentu saja akan sulit ditembus Deidara.

"Anak itu!! Pasti idenya bakal aneh-aneh!" Deidara yang bingung segera menghampiri adik-adiknya yang lain untuk ikut bergabung menonton film kartun. Ya, paling tidak untuk melepas penat. Dan ternyata gambar Inuyasha memang memberi inspirasi bagi orang yang bingung seperti Ryo dan Deidara. Sang aneki tertua itupun mendapatkan ide dan langsung menghampiri Naruto.

"Naru-chan…" panggil Deidara. Naruto menoleh ke arah anekinya sambil tersenyum ceria. "Tentang kostummu… gimana kalau siluman rubah aja…? Kayak Inuyasha itu…" wajah Naruto tampak tampak senang. Dia bersyukur anekinya tidak lagi memakaikannya pakaian-pakaian cewek itu. Memikirkannya saja membuat Naruto bergidik ngeri.

"Boleh aja, aneki!! Tapi jangan kayak cewek ya!!"

"Tentu aja! Naru-chan tinggal pakai yukata, trus kuping dan ekor rubah. Sederhana tapi pasti cocok buat Naru-chan!" Naruto memandang anekinya sumringah, Gaara melihat mereka dengan sedikit minat, sedangkan Sasori kembali merasakan firasat buruk. "Sasori, kamu yang nyariin telinga ama ekor rubahnya ya!!"

JDERR!! Serasa ada petir menyambar di belakang Sasori.

"NGGAK MAU!! Nanti aku dijadiin manekin sama mbak-mbak jijay itu!!" seru Sasori nggak terima. Dia teringat lagi kejadian dimana ketika dia ikut-ikutan anekinya untuk membeli kostum, mbak-mbak di sana gemas dengan Sasori dan langsung memakaikannya dengan pakaian-pakaian yang 'wah!' Tidak, terima kasih. Dia sudah cukup trauma akan hal itu, walaupun itu sudah delapan tahun yang lalu. "Kenapa nggak aneki aja yang membelikan!?"

"Aduuh~ Sasori, aneki mau nyiapin yukatanya Naruto! Ryo juga nggak mungkin mau disuruh. Kalau Gaara, dia udah sibuk jadi panitia pesta. Kan tinggal kamu yang senggang! Tolong ya, Sasori!!" pinta Deidara memelas. Tapi Sasori tetap pada pendiriannya.

"Sekali nggak mau, tetap nggak—" perkataan Sasori terpotong ketika dia merasakan sesuatu yang sedikit lagi akan 'menyentuh' lehernya. Ya, itu adalah jarum bius temuan baru Deidara. Warna merah jarum itu menandakan zat kimia yang terkandung lumayan berbahaya.

"Ini obat bius temuan baruku. Kamu akan 'mati suri' selama tiga minggu." Deidara memberitahukan hal itu seperti mengatakan 'Do or Die for a while!'. Sasori menelan ludah secara paksa. Tiga minggu tentu bukan waktu yang sebentar. Selain dia ketinggalan kuliah, dia juga nggak jadi bertemu dengan Haku yang rencananya akan ketemuan seminggu lagi. Sebelum Sasori menjawab tatapan Deidara, Ryo turun dari tangga dengan santainya.

"Aneki, jangan maksa Sasori gitu dong. Dia kan masih trauma. Nanti dia nggak bisa kencan deh." Ujar Ryo. Dia membawa tabung kecil berisikan cairan berwarna biru muda. Sedikit bergidik ketika melihat jarum merah yang dipegang Deidara; 'Pasti itu temuan barunya yang oh-so-dangerous.' Pikir Ryo.

"Tapi mau gimana lagi? Dan apa yang ada di tanganmu itu?!" tatapan Deidara menyipit. Ryo dengan bangga menunjukkan cairan itu lebih dekat lagi.

"Oh ini? Namanya cairan 'henge'. Dengan mengkonsumsi ini, beberapa bagian tubuhnya bakal berubah sesuai dengan DNA yang dimasukkan." Sasori manggut-manggut senang, tetapi Deidara semakin curiga. "Tapi ini mungkin belum sempurna. Jadi, bagian tubuh yang berubah belum tentu sesuai dengan yang kita inginkan."

"Jadi bisa aja yang berubah bukan ekor dan telinga, begitu?" Ryo mengangguk pelan. Wajah Sasori memucat. Kalau experiment anikinya itu gagal, tamatlah riwayatnya di tangan mbak-mbak jijay itu.

Sepertinya mereka melupakan sesuatu.

Gaara dengan tatapan dinginnya memandang saudara-saudaranya yang sedang berdebat. Sebenarnya dia sangat tidak setuju dengan ide Ryo. Tetapi kepalanya terlalu pusing sekarang. Sangat banyak yang dia pikirkan. Kegiatan OSIS, panitia acara, mencari sponsor, membuat undangan untuk tamu-tamu penting, dll. Segera dia masuk ke kamarnya di lantai atas. Menyiapkan diri untuk menghadapi pekerjaannya besok.

Kembali ke RyoSasoDei.

"Tapi kamu kok cepet banget bikinnya?" tanya Deidara sambil melihat cairan biru yang sekarang berada di tangannya.

"Sebenernya sih udah bikin dari dulu. Cuman belum sempurna banget. Yang ini udah kuperbaiki dikit, dan hanya bisa bertahan 4 jam."

"Bagus sih. Tapi, siapa yang bakalan nyari DNA rubahnya?" Sasori, Ryo dan Deidara berpikir sejenak. Kemudian muncullah sebuah nama dari hati sanubari mereka yang terdalam.

"Itachi."

***

"A-apa?! Kau memintaku untuk berburu rubah?!?" semprot Itachi di telepon, membuat Sasori harus menjauhkan sumber suara dari telinganya.

"Ya… ini untuk Naru-chan juga sih. Rencananya mau pakai kostum rubah dengan 'ramuan' aniki. Jadi mesti ada DNA rubah…" jawab Sasori sambil mengelus-elus telinganya.

"Tapi kenapa harus aku yang nyariin?? Kenapa nggak kamu aja??" Sasori menghela napas. Oke, ganti strategi!

Sasori meletakkan teleponnya di meja, masih dalam keadaan tersambung. Kemudian dia memasang raut wajah kecewa sambil menghela napas kasar dan mendatangi Deidara.

"Aneki, Itachi nggak mau tuh…"

Deidara langsung mengambil gagang telepon. Wajahnya benar-benar memelas, agar lebih menghayati. "Tachi-kun, tolong ya~?"

JLEB!! Suara Deidara yang memelas itu tentu amat sangat menusuk kalbu seorang Itachi Uchiha. Ingin nolak, susah. Ingin nerima, susah juga nyari rubah.

"Ta-tapi Dei… sulit mencari rubah…" Deidara menghela napas. Kemudian dia menyerahkan telepon itu ke Ryo yang dari tadi cengar-cengir sendiri.

"Hei Uchiha, kalau elo mau nyariin ntu rubah, gue kasih tau caranya nembak Deidara! Sampai ngelamar kalau perlu!!" Ryo sedikit berbisik, tetapi memberi penekanan di setiap kata. Itachi benar-benar berada di posisi yang tidak memungkinkan untuk menolak tawaran Ryo. "Tapi elo musti nyari sendiri! Tanpa bantuan bodyguard atau apapun itu. Ngerti?!"

"Oke oke! Fine! Kuusahain deh!" Cklek. Sambungan terputus. Ryo memasang gaya victory. Kemenangan untuk Ryo Namikaze.

'Khekhekhe… asyik juga bisa ngerjain satu orang lagi!' batin Ryo nista.

***

Keesokan harinya.

Gaara udah pergi ke sekolah. Naruto harus tidur di rumah, padahal dia masih bersikeras untuk masuk. Deidara sampai harus menggunakan penutup mata dan telinga agar tidak terpengaruh rengekan sang adik bungsu. Sekarang, Deidara sedang sibuk membongkar-bongkar yukata lama adik-adiknya yang pas untuk Naruto.

"Yap! I got it!!" Deidara merentangkan yukata berwarna putih keruh milik Sasori. Tiba-tiba Ryo muncul dari pintu.

"Lambat banget sih. Tuh cairan merahnya udah aku siapin. Warnanya juga udah mirip banget ama darah."

"Bagus. Tolong suruh Sasori buatkan dengan motif darah bececeran atau apalah namanya itu." Deidara menyerahkan yukata itu ke Ryo yang dengan malas-malasan menerimanya.

TIME SKIP.

"Naru-chaaan~!! Coba pakai ini!!" Deidara mengambil yukata berwarna putih keruh yang sudah diberikan motif bercak-bercak darah oleh Sasori. Naruto melihatnya dengan wajah sumringah. Kemudian Deidara mendorong Naruto masuk ke kamarnya. Di depan pintu, Ryo dan Sasori menunggu hasilnya.

"Kira-kira cocok nggak ya buat Naru-chan??" tanya Sasori.

"Buat Naru-chan, apa sih yang nggak cocok? Tinggal milihin pantes apa nggaknya aja." Jawab Ryo santai.

Pintu kamar Deidara terbuka. Ryo dan Sasori udah pasang mata buat menilai. Kemudian muncullah Naruto dengan yukata yang diberi Deidara. Agak kebesaran memang.

"Hmm… gue kira bakalan ada aura horrornya dikit, eh ternyata…"

"Malah tambah manis lho! Apa bercak darahnya kurang mengerikan ya…??" lanjut Sasori. Deidara memutar-mutar tubuh Naruto.

"Hmm… memang sih. Orang bukannya takut, malah tambah gemes sama Naru-chan. Pinginnya buat horror dikit…" Deidara menyentuh pipinya dengan telunjuk tanda berpikir.

"Oy, gimana kalau pakai softlens aja? Gue punya satu yang warnanya merah." Tawar Ryo.

"Kagak deh. Perasaanku tetap aja nggak ada horrornya. Mungkin karena telinga ama ekornya belum ada kali ya?" komentar Sasori.

"Mungkin. Sasori, kalau experiment Ryo gagal, dengan sangat terpaksa kamu yang membelinya, dengan uangmu." Ujar Deidara tenang. Keringat dingin mulai bermunculan di tubuh Sasori.

'Oh Kami-sama dan Jashin-sama, hamba mohon selamatkanlah nyawa hamba!! Hamba belum ngapa-ngapain sama Haku. Hamba mohon dengan sangat!!' batin Sasori berdoa sekuat tenaga.

***

Seminggu kemudian. Di Uchiha Mansion.

Itachi datang dengan pakaian yang sangat amat lusuh sambil membawa seekor rubah berwarna orange yang sedari tadi meronta-ronta ingin keluar. Sungguh pemandangan yang sangat mengenaskan dan tidak elit. Itachi menyerahkan rubah itu ke salah seorang maidnya dan menyuruhnya untuk mengirimkan ke rumah Namikaze.

"Aniki? Kenapa lusuh begitu?" tanya Sasuke yang kebetulan bertemu Itachi di tangga. Itachi menoleh ke adiknya seperti kakek sihir menemukan mangsa.

"Habis berburu rubah… jangan tanya kenapa…" Itachi menaiki tangga dengan susah payah. 'Yaah… itung-itung ada untungnya juga buat aku dan Sasuke…' batin Itachi menghibur diri.

***

Di rumah Namikaze.

Ting tong.

"Ya ya!! Sebentar!!" seru Sasori sambil tergopoh-gopoh menuruni tangga. "Ada apa ya?" tanyanya kepada seseorang di depannya. Orang itu membawa seekor rubah dari Itachi. Setelah selesai basa-basinya, Sasori segera menuju kamar Ryo.

"Aniki! Nih rubahnya dah ada!!" seru Sasori sambil memberikan rubah itu tepat diwajah Ryo yang sedang melakukan experiment.

"Ambil bulunya!! Banyak-banyak juga nggak papa! Tuh guntingnya ada di lemari." Perintah Ryo. Malas mengambil gunting, Sasori langsung mencabut salah satu bulu rubah itu. Walhasil setelah dicabut, si rubah langsung menggigit jari Sasori.

"WADAAW!!"

"Mangkanya… udah gue bilangin kok. Sini bulunya!" dengan tangan gemetar—coz berdarah—Sasori memberikannya. Entah diapakan bulu itu sampai-sampai tercampur dengan ramuan 'henge' Ryo. "Naah~ tinggal uji coba!!"

***

Sore harinya.

"Naru-chaaan!!" Ryo loncat dari lantai dua dan segera menghampiri Naruto. "Cepat minum ini!!" Naruto bengong. "Udah! Minum aja!!" Ryo membuka mulut Naruto dengan paksa kemudian meminumkan cairan 'henge' buatannya.

"RYO!!! Apa yang kau minumkan itu!?!?" teriak Deidara yang baru saja keluar dari kamarnya. "Jangan-jangan itu ramuanmu…" Ryo hanya membalasnya dengan nyengir.

Tiba-tiba Naruto terjatuh. Badannya sedikit bergetar. Deidara panik bukan main. "Naru-chan!!" Deidara mengguncang-guncang tubuh Naruto.

"Khekhekhe… kayaknya berhasil nih~!!" Deidara menatap Ryo tajam. Kemudian dia melihat wajah Naruto yang tertidur. Ada yang berbeda.

"Te-telinga Naru-chan…" benar saja. Telinga Naruto sudah berubah menjadi telinga rubah berwarna orange.

Krek krek.

"Suara apaan tuh??" Ryo dan Deidara mencari-cari asal suara itu. Dan ternyata suara itu berasal dari celana Naruto yang sobek, dan masih terus sobek.

Tuing.

"Ekor??"

"Wahahah!! Bener-bener sukses!!" seru Ryo kegirangan.

Tuing. Tuing. Tuing. Tuing. Tuing. Tuing. Tuing. Tuing.

"HAAH!!!??" Ryo dan Deidara berteriak kaget. Bener-bener nggak nyangka!! Ada Sembilan ekor yang tumbuh!!

"Nng~ aneki…" Naruto terbangun gara-gara teriakan saudara-saudaranya itu. "Kenapa…?" dia heran melihat Ryo dan Deidara melongo kayak orang o'on. Kemudian dia berdiri dan merasakan ada sesuatu di belakangnya. Diraba-raba sebentar dan dia berhasil menggenggam salah satu ekornya. "He? Ekor?"

"NARU-CHAN MANIIISS!!!" seru Deidara kegirangan dan langsung memeluk Naruto dengan brutal. Bisa dirasakan telinga rubah Naruto mendengung sebentar. Ryo tersenyum bangga melihatnya. Lalu Sasori keluar dari kamarnya.

"Apaan seeh!! Berisik tau ngga—" kaget plus cengo. Sasori terdiam membatu melihat Naruto dengan telinga rubah dan SEMBILAN ekor rubah.

"Oi, Sas!! Experiment gue sukses besar!! Jadi elo nggak usah ke tempat mbak-mbak jijay itu!! Terima kasih dong sama gue!!" Ryo menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. Bangga banget deh.

Sasori langsung menerjang anikinya itu dengan suka cita. "Makasih banget, aniki!!! Aku bisa terbebas dari neraka dunia itu!!!" serunya sambil memeluk Ryo erat.

"Anjrit!! Woi!! Jangan sampe meluk gini dong!!" Ryo mendorong Sasori kasar. Yang didorong malah senyam-senyum gajebo.

"Yes!! Kalo gini aku bisa kencan sama Haku dengan hati yang—"

"Kencan??"

DEG!! Suara Deidara yang penuh rasa ingin tahu itu sukses membuat jantung Sasori loncat dan hampir sampai di tenggorokan.

"Kencan dengan siapa, Saso-chan~?" Deidara tersenyum setan sambil menghampiri adiknya yang berkeringat dingin.

"Ng-nggak sa-sama siapa-siapa k-kok, aneki…" jawab Sasori gugup. Deidara tersenyum lembut (dibuat-buat) ke arah Sasori.

"Hee~? Saso-niichan udah punya pacar ya?" tanya Naruto polos.

"Kalau tadi aku nggak salah dengar, namanya Haku bukan sih??" tanya Deidara sambil tersenyum setan.

"Iya, namanya Haku. Katanya sih mereka mau jalan-jalan. Belum jadi pacar kok. Masih inceran." Jawab Ryo santai. Sasori memberikan deathglare ke arahnya, namun tidak mempan. "Udahlah, nggak usah dirahasiain kenapa sih? Dasar anak jaman sekarang."

Tiba-tiba Naruto terjatuh. Deidara langsung menghampiri dengan panik. Telinga dan ekor Naruto telah hilang.

"Wah wah. Bentar banget ya? Besok kupanjangin jangka waktunya 5 jam. Sas, tolong angkat naru-chan ke kamarnya dong!" perintah Ryo. Mau tidak mau, Sasori menurutinya.

"Aku pulang." Gaara masuk dengan wajah letih.

"Oh, selamat datang! Gaara capek ya? Mau langsung ke kamar?" sahut Deidara.

"Iya. Aneki, ini ada dua tiket ke festival nanti." Setelah menyerahkan tiket itu, Gaara langsung duduk di sofa ruang keluarga.

"Lho? Kok cuma dua sih? Tiga dong biar pas!" ujar Ryo Gaara menatapnya tajam.

"Elo nggak dapet. Kasihan nanti yang ikut festival. Pasti bakalan elo kerjain. Kalau mau beli aja sendiri. Hari ini terakhir pembelian tiket." Jawab Gaara datar. Ryo mendengus kesal. Ternyata ketahuan juga rencananya.

"Oh ya, aneki. Minta dong tiketnya. Aku mau ngajakin Haku buat ke festival. Aneki nggak ikut kan?" tanya Sasori.

"Yee! Enak aja! Aku kan juga mau ikut!" seru Deidara.

Kring kring!!

Cklek. "Halo? Dengan keluarga Namikaze." Jawab Deidara.

"Hai Dei! Nanti kamu mau ikut nggak ke festival sekolah Naru-chan? Aku dapet dua tiket nih dari Sasuke." Kata Itachi di ujung telepon.

"Mau banget!! Oh ya, nanti coba kamu lihat deh kostum Naru-chan! Bagus banget lho!!"

"Iya. Oke deh, kujeput besok. Bye." Cklek.

"Sasori!! Ini tiketnya buat kamu aja!! Aku udah diajakin sama Tachi-kun! Dia dapet tiket dari Sasuke." seru Deidara. Kemudian tiket ditangannya langsung hilang disambar Sasori.

"Yupz! Makasih aneki!!"

"Lha? Aku kok nggak dapet seeh??!" tanya Ryo.

"Huh! Kamu nggak usah! Nanti pasti bakalan ngerjain orang." Jawab Deidara santai. Ryo hanya menghela napas pasrah.

***

Malam harinya.

Ryo dapat SMS dari Itachi tentang janjinya waktu di telepon. Dengan cepat Ryo membalasnya dengan pesan yang sangat panjang sampai ke detail-detailnya. Entah apa yang dia tulis. Kemudian Ryo berniat melihat Naruto sebentar untuk mengecek efek samping experiment-nya.

Begitu sampai di kamar Naruto, tanpa basa-basi dialangsung menghampiri si empunya kamar yang tertidur pulas. Mengecek suhu badan, detak jantung, dan lain-lain. Untungnya semua normal. Tiba-tiba ada sebuah pikiran muncul di benaknya.

'Hmm, Gaara dan Sasuke dapat dua tiket. Jangan-jangan Naru-chan juga dapat!!' Ryo langsung mengobrak-abrik tas Naruto. Tepat seperti dugaan Ryo, di kantong depannya terdapat dua tiket festival ultah sekolah. Seringaian mengerikan menghiasi wajah tampan Ryo.

'Khekhekhe… besok malam akan menjadi hari yang mengasyikkan!!'

-

Tbc

Y/N:

Akhirnya!! Kesampaian juga saya mau apdet!! Hehehe, US dah selese! Tinggal UP (Ujian Praktek) nih! Doain saya, minna!! Semoga saya bisa dapet SMA yang diinginkan my mom!!

Balasan review :

Zizi Kirahira Hibiki : Makasih reviewnya!! Kostumnya udah ada kan?? Narunya tambah imut nggak? Pestanya chapter depan bakalan ada deh! Tunggu ya!

Assassin Cross : Makasih reviewnya!! Waah~ senpai pingin nyium Naru ya? Sama dong! Tapi… *ngelirik SasuGaaDei* banyak penghalangnya! Pair SasuNaru emang beken abis! Tapi di chap ini belum ada… mungkin di chap depan ada. Tunggu ya!

Cinara Hatake : Makasih reviewnya!! Udah tau kan hasil karya Dei? Kostum princess? Ntar Ryo ama Sasori marah lagi. Mereka protektip bgt ma Naru. Tunggu chap selanjutnya ya!

C0coNdvl78 : Makasih reviewnya!! Buseet! Susah banget nulis namanya! Udah nggak penasaran kan? Maaf apdetnya kelamaan… tunggu chap depan ya! (tapi pake lama, hehehe)

Yufa Ichibi's : Makasih reviewnya!! Telat? Nggak papa kok! Yang penting review! Hehehe… keliatan kok dari penname-nya. Ichibi = Gaara. Maaf, Gaara ma Naru nggak saya jadiin pairing. Semoga nggak mengecewakan.

Inuzuka eun yufa : Makasih reviewnya!! Kok yang namanya Yufa ada dua ya? Sasu mah mana mau nunjukin semangat muda macam Lee. Kalau dia semangat jatuh cinta *halah!* Tunggu chap depan ya!

85foxy : Makasih reviewnya!! Kok bisa manis? Padahal nggak saya kasih gula lho… pengen makan Naru? Waaah~ mesti lewatin mereka dulu! *nunjuk-nunjuk SasuGaaDeiRyoSaso*

chaz no danna : Makasih reviewnya!! Yang chap ini suka nggak? SasuNaru-nya nggak muncul nih. Nggak bisa cepet-cepet coz suka males. Hehehe…

CCloveRuki : Makasih reviewnya!! Bayangan Anda terkabul!! Hehehe… tapi nggak seksi-seksi amat. Oh ya, jawab ya siapa itu Ruki~ *noel-noel gaje*

Ao-Mido : Makasih reviewnya!! Nggak papa kok. Saya juga sering begitu kok. Hehehe… *ditimpuk* penasaran ama pair aneh bin ajaib itu? Tunggu chap depan. Kostum Naru bukan cat maid kok. Para aniki nggak rela tuh. Slight NejiGaa? Mungkin sih… tunggu chaps berikutnya!

Uchiha Nata-chan : Makasih reviewnya!! Udah diizinin!! Yatta!! Di chap ini SasuNaru nggak ada. Alhamdulillah, ujiannya bisa. Nata-chan juga sukses kan? Tunggu chap berikutnya!!

Meiffany : Makasih reviewnya!! Chap ini juga humornya kurang. Maaf banget ya!! Tunggu chap berikutnya!

Uchiha Aichan Drarrya : Makasih reviewnya!! Sasuke dikerjain? Hmm… kalau sama Gaara sih nggak mungkin. Sama Ryo… tunggu chap berikutnya!!

sasunaru lover : Makasih reviewnya!! Gomenasaiiii!!! SasuNaru-nya nggak ada di chap ini!! Ryo dibanyakin? Hmm… kita liat di chap depan!!

kucingperak : Makasih review dan izinnya Senpaaiiiii!!!!! Duh, saya seneng banget begitu tahu senpai ngereview fic gaje ini. Sueneeeeeeng banget!!! Ryo emang baik ama Naru. Kyuu-sama tetep keren kok!! Sekali lagi, makasih review dan izinnya!!!

Minamicchi : Makasih reviewnya!! Chap 3 nggak di review? *wink wink* Mau jadi adik mereka? Nunggu Kushina kebobolan kali ya? *Ditabok Kushina*

aMiciZia Vi miRacOLi : Makasih reviewnya!! Ini udah lanjut! Semoga nggak mengecewakan. Mudahan kita lulus dengan nilai yang baik! Amin!!

Kuronekoru : Makasih reviewnya!! He? Ini bukan Yaoi lho! Ini Shounen-ai/BL! Nggak sama tuh! Saya belum berani bikin Yaoi. Tenang, bukan gaun kok!! Wah, saya nggak bisa apdet cepet nih! Tergantung mood aja, hehehe…

*ngeliat ke atas* Wuiidiih!! Capek juga ngebales atu-atu. Tapi seneng banget coz banyak gini. Hehehe… saya terharu plus bingung juga. Kok bisa ya, fic gaje begini?? Saya benar-benar minta maaf kalau fic ini kurang memuaskan minna. Saya berharap fic ini tidak terlalu membuat minna kecewa berat. Dan saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada minna yang membaca dan mereview fic ini.

Akhir kata, salam beruntung dan fujoshi!!