Disclaimer: Bleach punya Tite Kubo dan cerita ini punya saya!
Rate: T
Genre: Romance/Angst
Pairing: IchiRuki
BALAS REVIEW!
Zheone Quin: say? Hmm anda orang yang aneh! hahaha panggil saja saya "Sa" tanpa 'y', kita lihat saja cerita berikut ini.
Ciel : salam kenal juga Ciel-san! Iya saya tidak begitu suka mengedit cerita, jadi saya hanya membiarkannya begitu saja tapi terimakasih atas sarannya!
Riztichimaru: terimakasih atas pujian dan sarannya! Saya akan berusaha memperbaikinya.
Avia chibi-chan: salam kenal juga chibi-chan! Wah nama yang imut! Penasaran? Baca aja kelanjutannya!
Meong: he? Pen name yang singkat, awalnya saya agak aneh membaca pen name anda, tapi terimakasih atas pujiannya! Saya akan berusaha.
Kurochi agitoha: hm penasaran? Kita lihat saja ^-^
Jee-ya Zettyra: salam kenal! Terimakasih atas pujiannya, kalau mengenai pertanyaan Jee-san akan terjawab di dalam cerita berikut.
Hehehe tidak saya duga kalau fic saya bisa membuat penasaran,hm padahal saya hanya iseng-iseng membuat fic angst! Ternyata ada yang menyukai fic saya, terimakasih atas reviewnya, jangan bosan untuk merview ya? Terima kasih!
SAYA MINTA MAAF KARENA TIDAK BISA UP DATE KILAT! Soalnya banyak yang harus dikerjakan selama liburan termasuk berangkat les! Yang membuat imajinasi saya kadang-kadang hilang begitu saja sekali lagi SAYA MINTA MAAF!
Saya ucapkan selamat membaca dan jangan lupa REVIEW!
Aishiteru Rukia
Pagi hari sangat cerah mentari bersinar terik hari ini adalah hari bebas untuk SMU Karakura karena hari ini adalah hari festival olah raga, dari pukul tujuh pagi sampai empat sore para siswa siswi SMU Karakura akan mengikuti pertandingan olah raga antar kelas.
Di dalam kelas Rukia banyak anak-anak yang sibuk mempersiapkan diri mereka yang akan mengikuti pertandingan, Rukia sendiri juga ditunjuk untuk mewakili kelasnya mengikuti pertandingan bulu tangkis bersama Orihime.
"Nih perlengkapan bulu tangkismu" Renji memberikan tas perlengkapan itu.
"Nggak mau" tolak Rukia sambil menggeser tas perlengkapan itu.
"Hey! Kamu sidah ditunjuk ikuti saja!" Renji masih berusaha membujuk Rukia.
"Nggak mau" tolak Rukia lagi.
"Hey adik manis ikuti saja yang aku katakan ya? hm?" kata Renji sambil mencubit kedua pipi Rukia.
"Sa...sakit! iya iya aku main!" kata Rukia sambil mengelus-ngelus kedua pipinya.
"Bagus-bagus anak baik" Renji mengacak-acak rambut Rukia.
Rukia tersenyum masam tangannya mengepal dan tanpa aba-aba lagi Rukia langsung memukul perut Renji.
"He...hey! itu lebih sakit!" Renji memegangi perutnya.
"Hehehe maaf ya?" Rukia mengacak-acak rambut Renji.
"Hahaha balas dendam ya? ayo cepat kita ke lapangan!" Renji langsung menarik Rukia menuju lapangan.
Setelah sampai di koridor lantai satu Rukia baru sadar kalau dia belum membawa tas perlengkapannya akhirnya Rukia kembali lagi ke kelas untuk mengambil tas perlengkapannya.
Ternyata saat Rukia membuka pintu kelas di dalam kelas tidak sepi masih ada satu orang yaitu Ichigo.
"Eh? Ichigo kenapa kamu nggak ke lapangan?" Rukia mengambil tas perlengkapannya.
"Malas...kamu jadi main bulu tangkis?" Ichigo bangkit dari kursinya.
"Iya, ini aku mau ke lapangan. Eh tapi bukannya kamu juga ikut main basket?" Rukia melangkah mendekat Ichigo.
"Iya sih tapi aku malas..." Ichigo duduk di mejanya.
"Sama seperti aku, aku juga malas main bulu tangkis tapi dipaksa Renji ya sudah aku ikut saja. Kamu main basket ya? nanti setelah main bulu tangkis aku mau melihatmu main basket" Rukia sedikit membujuk Ichigo supaya mau bermain basket.
Perlu beberapa menit untuk menjawab keinginan Rukia, tapi pada akhirnya Ichigo mau juga bermain basket lalu mereka berdua pun pergi ke lapangan masing-masing, Rukia ke lapangan bulu tangkis yang ada di dalam gedung olah raga sedangkan Ichigo pergi ke lapangan basket yang ada di sebrang gedung olah raga.
Tepat pada jam 8 Rukia dan Orihime mulai bermain bulu tangkis, Rukia dan Orihime hanya bermain satu partai. Beberapa menit kemudian ternyata Rukia dan Orihime kalah di game pertama, tapi saat memainkan game kedua Rukia dan Orihime menang dan game ketigalah yang menentukan pemenangnya.
Sementara di lapangan basket Ichigo sudah mulai bermain basket, Ichigo melihat kesekeliling lapangan yang dipenuhi oleh pendukung kelas-kelas lain.
"Hah..." Ichigo menghela nafas lalu Ichigo mulai memasuki lapangan.
Kembali ke lapangan bulu tangkis, ternyata pasangan Rukia dan Orihime unggul di game ketiga jadi pemenangnya adalah mereka berdua. Setelah mengetahui hasil pertandingan Rukia langsung mengambil ta perlengkapannya dan menaruhnya di loker ruang ganti tanpa berganti seragam Rukia langsung berlari ke lapangan basket yang kebetulan cukup jauh untuk mencapainya.
"Hah...hah...hah...capek" Rukia langsung duduk di bangku penonton yang ada di sekeliling lapangan basket.
Pertandingan basket masih bermain di quarter pertama kedudukan masih seri antara kelas Ichigo dan kelas lawan. Di menit ke 10 grup kelas Ichigo meminta waktu istirahat, tapi satu menit kemudian pertandingan quarter pertama dilanjutkan. Beberapa menit kemudian quarter pertama selesai dan hasilnya masih seri sehingga mendapat waktu tambahan yaitu quarter kedua yang akan menentukan pemenangnya.
Waktu istirahat 5 menit diberikan wasit untuk pergantian quarter, semua pemain istirahat sejenak mengambil minuman dan membicarakan strategi menyerang.
Ichigo masih mencari sosok gadis mungil bermata violet yang selama ini dia sayang, tapi tak pernah dia ungkapkan. Terlihatlah sesosok gadis mungil bermata violet di pojok lapangan basket yang sedang duduk sambil melambaikan tangan seakan-akan tahu kalau mata elang itu sedang menatapnya. Sebuah senyum tampak di bibir sang mata elang, senyum itu sulit diartikan.
Ruangan aprtemen itu gelap gulita hanya ada sebuah penerangan cahaya lampu belajar di dalam kamar sang pemilik kamar apartemen, kamar itu didomonasi dengan tempelan-tempelan poster idolanya, terlihat sebuah sosok yang sedang terduduk di sebuah kursi, ternyata sosok itu adalah sang pemilik kamar apartemen, luka lebam banyak terlihat dan sayatan belati pun tak ketinggalan terlukis di kedua lengan pemuda itu. Ya dia adalah seorang pemuda, pemuda itu memiliki banyak tato di sekujur tubuhnya dan dia juga memiliki rambut yang berwarna merah seperti darah yang terus mengalir dari lengannya.
Di depan pemuda itu ternyata ada sosok lain yang masih menyunggingkan seringainya sambil memainkan sebuah belati di tangannya. Pemuda bermata elang itu menatap benci pada sang pemilik kamar apartemen.
"Kau tidak boleh menyentuhnya..."pemuda bermata elang itu menusukkan belatinya ke tangan kiri sang pemilik kamar apartemen.
Sang pemilik kamar apartemen hanya bisa menahan rasa sakit yang menyiksa, belati yang telah menembus tangannya membuat cairan merah kental keluar dengan derasnya sayang sang pemilik kamar apartemen hanya bisa merintih, mulutnya sudah dibekap menggunakan plester sedangkan tangannya diikat mati di peganggan kursi.
"Kau tidak boleh menyentuhnya..." sang pemuda bermata elang mencabut belatinya namun belati itu tidak sekedar dicabut, sang pemuda bermata elang menusukkan belati itu ke tangan kanan sang pemilik kamar apartemen, cairan berbau anyir juga mengucur dari tangan sang pemilik apartemen.
"Kau adalah orang pertama yang telah menyentuhnya...Renji" sang pemuda bermata elang menatap pemuda yang dipanggil Renji.
Alis Renji bertaut, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ini hanya salah paham belaka?
"Kau tahu itu Renji!" pemuda bermata elang itu bertambah geram, ditendanglah kursi dimana Renji terikat sampai menabrak dinding. Pemuda bermata elang melangkah mendekat Renji, belati masih menancap di tangan Renji.
Mata elang itu sudah gelap, tidak bisa menerima siapa pun yang telah manyentuh malaiaktnya. Pemuda bermata elang itu mencabut belatinya dan sedikit memainkan belatinya untuk menggores bagian kening Renji, tidak lama pemuda bermata elang itu sudah bosan bermain-main.
Sang pemuda bermata elang menussukkan belatinnya tepat di tenggorokkan Renji, darah mengalir dari tenggorokkan yang tertusuk belati, tidak ada lagi hembusan nafas yang terdengar dan detak jantung pun berhenti seketika, sang pemuda bermata elang menyeringai puas.
"Dia adalah milikku..."
=======================To Be Countinue======================
Fuih! Akhirnya chapter dua selesai! Hahaha pasti udah tau kan siapa pembunuhnya? Yeyeyeyey! Sang pemilik mata elang!
Sebenernya berlebihan gak sih kalau posesifnya begini?
Kalau berlebihan kasih tau ya?
Hm ternyata ngeri juga lho kalo tangan berdarah! Waktu itu okaasan masih marah terus okaasan mukul pintu kaca pake telapak tangannya uih! Gila daranya nepel di kaca! Trus okaasan sendiri telapak tangannya berdarah-darah! Nggak berhenti-berhenti lagi! Waktu itu aku agak serem ngeliatnya! Tapi itu masa lalu biarlah berlalu hehehe tapi saya tuangkan kisah itu ke sini juga!
Ya saya mohon REVIEW!
REVIEW please!
