Katakan Sejujurnya

.

.

.

.

Disclamer ©Sukitte Innayo by Kanae Hazuki

Hallo para readers semua, pertama saya ucapkan selamat bagi kalian yang baru memasuki tahun ajaran baru maupun baru menjadi murid baru hehehehe.

Semoga kalian nyaman dan betah di kelas maupun sekolah kalian yang baru. Tetep akrab sama teman, nikmati kebersamaan karena pengalaman sekolah adalah pengalaman sekali dan tidak akan terlupakan seumur hidup kalian. Weseeeh

Selanjutnya, kita tidak menyangka sudah memasuki chapter tiga fanfic ini. Jujur ini masih awal dan konflik sebenarnya masih belum terlihat di depan mata guys. Namun, sebagai penambahan agar hati kalian tidak kecewa. Yuka-chan menambah beberapa adegan kesemsem yang bisa membuat hati readers doki doki sendiri.

Lihat aja sendiri nanti, baiklah langsung saja scroll dibawah nak...

Good Reading

.

.

.

Peringatan : TYPO, Cerita Karakter Gaje, Cerita Gaje, Kata kata Author yang nyelip, Salah Kata, OOC, Salah EYD, dsb

.

.


Sehabis menerima pelajaran yang melelahkan di sekolah saatnya untuk diriku beristirahat di rumah sejenak melepaskan penat dan juga dahaga. Namun, saat aku akan meminum kopi manis buatanku slruuuuup, mamaku dengan enaknya berteriak kencang menyuruhku untuk membeli keperluan rumah membuatku yang sedang meminum kopi hampir tersedak.

Tidak lupa mamaku memberi daftar berlanjaan. Awalnya aku menolak membeli keperluan rumah seperti sabun, deterjen, telur, dll. Tetapi aku mengurungkan niatku tersebut karena mamaku akan mengancam tidak akan memberikan uang saku lagi. Karena uang saku adalah segalanya bagiku mau tidak mau aku harus menuruti perintahnya.

Aku segera mengenakan jaketku karena suhu diluar sana sangat dingin di malam suntuk begini. Sesekali mulut menganga lebar menguap saat aku keluar rumah, aku sangat mengantuk apalagi tadi aku tidak sempat meminum kopiku. Rencananya aku mau menonton film semalaman di kamar, jadi tertunda gara gara ini.

Aah, sudah tiga hari semenjak kejadian menegangkan itu. Melelahkan dan menyebalkan bagiku apalagi Kenji sahabat Yamato yang sekelas denganku tadi pagi sempat menyapaku meskipun menyapa seperti siswa kebanyakan, tetapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang menyapa selamat pagi padaku. Aku membalas sapanya meskipun sedikit ragu ragu karena merasa kurang yakin apakah dia beneran menyapaku.

Dan Yamato kalian masih ingat laki laki tinggi bongsor kelas sebelah yang dulu pernah tidak sengaja aku menabraknya sampai ia hampir terjatuh di jendela, saat istirahat makan siang, ia menyapaku di kelas.

Lalu ia mendekatiku tidak lupa dengan senyumannya dan aku hanya membalasnya dengan wajah datar namun tiba tiba kerah bajunya langsung ditarik Kenji keluar kelas, tidak memperdulikan gadis gadis di kelasku yang sudah terpesona dengan ketampanan dan senyum Yamato.

Laki laki yang menyebalkan, Yamato selalu saja menganggu waktu sendirianku di kelas maupun di luar kelas. Ia sering bertanya seperti berapa nomor handphoneku, alamat rumahku, akun sosmedku. Hal itu membuatku jengkel, Aku tidak tahu niat dia sebenarnya mendekatiku, tetapi aku tetap tidak berniat untuk berteman dengannya.

Cukup sudah aku menyerah, kurasa aku akan menegurnya dan bilang jujur padanya. Meskipun hal itu akan menyakiti hatinya namun aku tetap akan bilang bahwa aku tidak nyaman berada di dekatnya dan ingin agar dia tidak mendekatiku lagi.

Tidak jauh dari toko swalayan yang kutuju ternyata di depannya sedang ada diskon pakaian besar besaran sampai ada orang orang saling berdesakan memenuhi pintu masuk toko. Mau tidak mau aku harus masuk ke dalam diantara orang orang yang menginginkan harga diskon tersebut.

Di dorong kesana kemari menyenggol tubuhku yang pendek, aku kadang kesal dengan tinggi badanku ini. Namun, aku senang juga karena aku dapt dengan mudah masuk disela sela para penggila belanjaan tersebut.

Akhirnya setelah melewati perjuangan, aku dapat masuk ke dalam toko. Cukup banyak orang di waktu malam suntuk seperti ini. Banyak orang berlalu lalang membawa berlanjaan maupun ada yang akan masuk ke toko seperti diriku.

Aku membeli kebutuhan rumah sesuai dengan daftar belanjaan yang mamaku beri sebelum aku berangkat tadi. Setelah berjalan kesana kemari mencari barang di rak rak toko, sekarang tinggal barang terakhir di bagian belakang toko. Saat aku mau membaca daftar belajaannya tiba tiba angin kencang lewat dari jendela dekatku lalu menerbangkan kertas daftar belajaanku.

Kertas itu terbang cukup jauh sampai jatuh tepat di depan seorang laki laki yang masih mengenakan seragam sekolahku. Wajahku tidak bisa menyembunyikan rasa tidak percaya dan kesalku. Laki laki itu tidak lain adalah Yamato, laki laki yang hobi mendekatiku akhir akhir ini.

"Wah, halo Mei, aku tidak percaya kita bertemu disini ya" ujar Yamato menyapaku sambil tersenyum tentunya. Aku hanya tersenyum kecil sambil pasrah menanggapi salamnya lalu segera aku mengambil kertas dibawah kaki Yamato. Melihatku sedang melihat kebawahnya, ia ikut ikutan lihat kebawah dan melihat secarik kertas dibawah kakinya dan mau mengambilnya. Bersamaan tangan kami saling bersentuhaan saat mengambil kertas tersebut.

"Eeh, maaf, ini punyamu?" tanya Yamato mengambil kertas itu duluan, dia terlihat berwajah merah, sial aku kalah cepat dengannya. Akupun mengangguk kemudian ia memberikan kertas daftar itu padaku.

"Anu..., terima kasih" ucapku, andai saja aku mengambil kertas itu duluan aku akan segera cepat cepat pergi dari tempat ini meninggalkannya. Kalau begini, terpaksa aku harus mengucapkan terima kasih atau sekedar berbasa basi dulu. Menyebalkan padahal aku ingin segera ingin pulang ke rumahku istanaku.

"Hehehehe, ehm kamu sedang ngapain disini?" tanyanya, sudah mulai nih basa basinya, ya sudah jelas aku sedang belanja disini masak sedang nguci baju. Bikin kesel aja nih cowok dan lagi seharusnya aku nanya ke dia kenapa ia ada disini masih memakai seragam sekolah.

"Ini..., aku sedang berlanja untuk keperluan rumah" jawabku pelan pelan sambil menunduk. Jujur aku agak capek harus menengadah keatas melihat wajahnya yang tinggi, beginilah derita remaja pendek.

"Keperluan rumah, berarti kamu rumahnya kost ya?" tanyanya lagi, wah macam macam ini jangankan rumah kost, aku aja masih umur segini masih harus dibangunin mama pake toa lagi. Bagaimana pun aku masih belum siap mandiri hidup di suatu tempat sendirian jika aku masih begitu?

Aku menggelengkan kepala lalu menunduk kebawah sambil memandang berlanjaan di keranjang di bawahku. Kami diam sebentar karena tidak ada bahan pembicaraan sampai Yamato mengajakku untuk ke kasir.

"Baiklah..." jawabku masih menunduk

.

.


.

.

Lokasi kasir lumayan jauh dari tempat berdiri tadi, Yamato membawa beberapa minuman dan snack. Ia juga mengobrol denganku di perjalanan, menceritakan dirinya tadi sedang ada acara klub disekolah dan acara bersama Kenji yang sedang menunggu di rumahnya.

Mendengarkan perkataannya aku hanya manggut manggut saja sesekali dengan senyuman kecil. Aku hanya sebagai pendengar saja, walaupun aku ditanya soal kegiatanku disekolah aku hanya menjawab seadanya.

Di kasir, setelah dihitung total semua berlanjaan. Aku mengeluarkan uang dari saku jaketku dan memberikannya dengan jumlah uang pas setelah itu kami berdua keluar dari toko. Untung saja sudah selesai obral diskon tadi jadi aku tidak perlu berdesak desakan lagi.

"Mei, kau kelihatannya keberatan membawa berlanjaanmu, perlu aku bantu" Yamato menawari bantuaan, huh karena harus menuruti permintaan mama dari kertas daftar tersebut membuatku harus membawa belanjaan yang empat plastik ada. Mau tidak mau aku menerima tawarannya apalagi Yamato sudah menyaut dua plastik yang kubawa sambil tersenyum.

Kamipun berjalan berdua di trotoar, kami tidak luput dari pandangan cewek cewek yang memandang kami tentu saja lebih memandang Yamato tentunya. Membuatku yang disamping semakin minder apalagi aku mendengar dari mereka kalau aku dikira adik Yamato.

"Yamato...ehm.., anu.., kita berpisah disini saja, biar aku yang membawa berlanjaanku sampai ke rumah" Tidak terasa kamipun sampai di tiang jalan utama, aku sudah cukup merepotkannya. Lagipula jaraknya disini tidak jauh dari rumahku.

"Tidak apa apa Mei, biar aku antar ini semua sampai ke rumah, kalo bisa empat empatnya aku bawa semua" ujarnya semangat, tapi aku merasa kurang yakin apalagi tadi di perjalanan ia tidak kuat mengangkat dua plastik milikku ditambah dua plastik kecil miliknya.

"Jangan Yamato, aku merasa tidak enak nih, aku bisa sendiri kok, lagipula katamu tadi, Kenji sedang menunggu di rumahmu" ucapku dengan Kenji sebagai alasan dia segera pergi.

"Eh...iya..., Kenji..., aduh..., hampir lupa.., baiklah aku pergi dulu ya Mei, maaf ya aku tidak bisa bantu kamu" ia memberikan dua plastik yang ia bawa dan segera lari bersebrangan denganku. Akupun menghela nafas lega akhirnya sekarang aku bisa sendirian tanpa cowok tinggi itu.

Aku melanjutkan perjalananku pulang. Perlahan, jalannya yang dipenuhi orang orang berlalu lalang di jalan trotoar sekarang sudah sepi, hanya lampu lampu jalanan saja sekarang yang menerangi jalanan.

Untuk gadis sendirian berjalan kaki di malam begini agak aneh memang tapi itu sudah hal biasa untukku yang sering pulang malam sehabis berkerja dari toko roti.

Namun, malam ini aku merasakan suatu keanehan. Aku merasa aku sedang diikuti seseorang dari belakang. Terdengar dari saat aku mendengar suara kaki yang berjalan di belakangku namun saat aku menengok ke belakang tidak ada siapapun.

Tentu saja aku sangat gugup ketakutan, jantungku berdetak kencang, badanku juga gemetaran saat aku terus berjalan. Siapa yang harus kuminta tolong, sangat sepi di sekitar jalan ini. Tidak ada tanda tanda kehidupan.

Aduh apa yang harus kulakukan, orang itu semakin lama semakin mendekat. Aku takut akan diapa-apain nanti. Karena hatiku semakin resah dan aku tidak bisa berpikir panjang lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berlari kencang.

Kepalaku menengok sedikit ke belakang, aku bisa melihat orang yang mengenakan pakaian kantoran itu juga mengejarku dari belakang.

"Haaah, dia juga mengejarku, kalau begini ini lebih seram daripada dikejar anjing" batinku kuatir setelah melihat kebelakang. Tiba tiba Yamato lewat di depanku, otomatis aku menubruk tubuh Yamato tapi untungnya dia tidak jatuh. Aku tidak tahu mengapa ia tiba tiba bisa ada di depanku tapi aku bisa melihat dari toko di dekatnya ternyata dia habis membeli sesuatu disana.

Herannya kok bisa dia ada di toko ini padahal tadi kita berpisah dengan arah berlawanan, Apa dia menggunakan kekuatan teleportasi?

Tetapi syukurlah aku bertemu dengannya sekarang, "Hei, Mei, ada apa ini, kenapa wajahmu terlihat ketakutan" tanyanya kuatir melihat keadaanku yang sedang gelisah dan keringatan. Kemudian dia melihat pria kantoran di belakangku yang pura pura melihat jalanan sambil sedikit melirik ke arahku. Wajah Yamato berubah menjadi serius ke arah pria itu lalu ia tersenyum kepadaku.

"Jadi begitu, jangan kuatir Mei, biar aku yang urus, sebaiknya kau tidak jalan jauh jauh dariku" bisiknya di dekat telingaku agar tidak terdengar pria itu. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan lagi pada Yamato dia sudah tahu duluan.

Karena aku berlari berlawanan dengan arah rumahku terpaksa aku harus kembali dan berpapasan dengan pria kantoran itu sambil ditemani Yamato disampingku. Baru pertama kalinya aku memandang Yamato dengan wajah seriusnya biasanya ia selalu terlihat ramah dan tersenyum.

Berjalan pelan namun cepat, kami berdua lewat di belakang pria itu. Yamato terus menggenggam tanganku yang gemetaran dan akupun menunduk ke bawah. Lalu saat pria kantoran itu ia melihat ke arah kami, Yamato menatap tajam ke arah pria itu seakan mengancamnya. Lalu ia menaruh tangannya yang besar diatas pundakku dan menaruh kepalaku di dekat lehernya. Tentu saja hal ini membuat wajahku sedikit merah.

Kurasa Yamato, melakukan seperti ini agar kita dikira pacaran oleh pria itu. Ternyata benar pria itu pergi meninggalkan kami ke arah berlawanan. Yamato bernafas lega, saat ia melihat ke wajahku. Aku tidak bisa membendung air mataku, akupun menangis karena aku benar benar ketakutan.

Kepalaku menunduk ke bawah, jemariku perlahan menghapus air mataku namun air mataku tetap mengalir juga. Sebetulnya aku mempunyai trauma masa kecil diikuti seseorang dari belakang meskipun ternyata itu sepupuku yang sedang mengerjaiku namun karena saat itu aku benar benar ketakutan membuatku sampai sakit panas selama 3 hari.

Namun, tiba tiba Yamato memelukku erat. Aku agak kaget dia melakukan ini namun aku bisa merasakan kehangatan dan juga bau parfum yang harum dibalik baju seragamnya. Tangannya perlahan mengelus rambut cokelatku sambil berkata semuanya baik baik saja.

Jantung terus berdetak kencang, mataku mulai menutup merasakan kehangatan badannya di malam hari yang dingin ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya tetapi aku merasa bahwa malam ini adalah malam yang hangat menjelang musim dingin ini.

.

.


.

.

Kok rasanya masih kurang greget yak adegan romantisnya. ( Ini semua karena Yuka-chan sekarang sedang sibuk tugas dan tidak sempat nonton anime atau film romatis jadi kurang bahan deh huhuhuhu )

Dan agak beda ya sama adegan yang ada di anime aslinya, ya biar para readers nggak bosanlah atau nanti malah dikira plagiat ama animenya. ( Meskipun memang ada bagian yang hampir sama )

Yamato : Hey kok nggak ada adegan ciumannya sih ( Sudah kuduga ada pertanyaan begini )

Yuka : Kau ini, suka suka Yuka-chan dong, sang author berkuasa atas adegan fanfic ini, juga lu ngebet banget pengen ciuman? *mode curiga*

Yamato : Hoo, itu karena bibir Mei itu lembut jadi pengen terus terusan cium dia

Yuka : *bengong di tempat* sialan kau Yamato, jadi itu alasanmu terus mencium Mei di anime

Yamato : *ketawa sendiri sambil nyari Mei yang sudah muntah di belakang*

Yuka : Sekian sudah, akhir yang tidak penting ini. Jangan lupa favorite, follow, da review nih Fanfic okey. Karena klik kalian sangat berharga bagi kami kru pembuat fanfic. Arigatou Minna