Katakan Sejujurnya
.
.
.
.
Disclamer©SukitteInnayo by KanaeHazuki
Tidak kusangka yak sudah hampir dua tahun Fanfic ini masih ongoing wkwkwkwk, yaa factor terbesar fanfic ini agak kelamaan karena selain sibuk, liburan, juga antri dengan fanfic lain jadi yaa bergini deh
Tapi its okay, jangan sedih, aku akan berusaha menyelesaikan fanfic dan lebih rajin untuk menulis ceritaku untuk para readersku tercinta XD
Siapa yang penasaran bagaimana hubungan Yamato dan Mei selanjutnya?
Ayoo, kita scroll ke bawah guys
.
.
Good Reading
.
.
.
Sekali lagi aku melihat sekeliling kelasku, sangat heboh dan beberapa kali dari mereka berkeliling di hadapanku tanpa menyadari keberadaanku disini, ingin sekali aku berkata dengan suara keras pada mereka "Woy, aku manusia disini , duduk dihadapan kalian, bukan patung yaa"
Yaa begitulah manusia saat mereka sibuk dengan suatu hal, apapun disekitarnya akan berubah menjadi buram karena mereka terfokus hanya satu. Kadang sampai mereka rela mengorbankan waktu untuk keluarga maupun teman temannya.
Halah, aku mikir apa ya, teman teman sekelasku sedang heboh mau ulangan harian nanti di jam pertama.., Pagi pagi yang seharusnya diawali dengan senyum semangat, obrolan ringan, ataupun saling bercanda ( tidak berlaku untukku ) namun kalo sudah ada yang namanya Ulangan di jam pagi, dijamin kelasku berubah menjadi ramai sekali seperti pasar karena teman teman saling bertanya satu sama lain.
Di saat mereka sedang sibuk dengan aktivitas mereka, kuhanya bisa terdiam dan sambil memikirkan laki laki itu, sangat aneh sekali ya, kenapa sih aku harus memikirkan cowok aneh dan capernya kebangetan sama aku.
Aku heran kenapa dari semua cewek, ia malah lebih sering menyapa dan jalan denganku. Berada disamping membuatku jantungku berdetak kencang setiap hati termasuk hari ini. Padahal aku baru pertama kali dekat sama cowok setelah sekian lama.
Juga tumben cowok itu, tidak datang ke kelasku seperti biasanya. Apa dia juga ulangan sama sepertiku?
"Halo Tachibana-san"
Seseorang membangunkanku dari lamunan yang penuh dengan tanda tanya, ternyata Asami teman sekelasku yang selalu ceria dan kuakui dia manis juga baik hati, tumben ia menyapaku.
"Ehm…, halo..," jawabku singkat malu malu karena baru pertama kali Asami bertegur sapa denganku.
"Eeh.., Tachibana-san, bolehkah aku duduk disini?" tanyanya sambil menunjukkan bangku kosong di depannya.
"Terserah kau" jawabku ketus sambil mengalihkan pandanganku ke lain, bukannya aku sombong cuman aku tidak terbiasa memandang langsung lawan bicaraku
"Terima kasih, oh ya aku ingin belajar bersamamu, bolehkah? Teman temanku yang lain sangat berisik dan kadang membuatku tidak bisa berkonsentrasi belajar" ucapnya sambil membuka beberapa lembar buku yang ia bawa, padahal ia juga berisik sama seperti lainnya tetapi ia juga butuh ketenangan rupanya. Aku hanya mengangguk lalu melanjutkan aktivitasku melamun
"Kau tidak belajarkah?" tanya Asami melihatku tidak belajar seperti lainnya
"Aah tidak, aku sedang tidak mood belajar hari ini" aku bahkan tidak tahu ada ulangan hari ini, karena saat guruku bilang kalo ada ulangan saat ini aku sedang tidur karena ngantuk sehabis maen handphone sampai tengah malam ( jangan ditiru kawan kawanku )
Bukan kebiasaanku kalau belajar mendadak karena aku tidak suka melakukan sesuatu tiba tiba dan harus dilakukan dengan waktu singkat…
"Hihihihi, kau tidak seperti murid lainnya yaa, kadang aku merasa iri denganmu Tachibana-san kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, tanpa takut dengan komentar jelek orang lain, bisa bebas kesana kemari melakukan hal semuanya sendiri" ujar Asami menutup bukunya kembali, aku kaget sampai wajahku tidak bisa menyembunyikan raut wajahku saking kagetnya, ia berkata seperti itu baru pertama kalinya lagi ada seseorang yang iri denganku.
Kehidupanku yang menyedihkan dan hampa ini dilihat sebagai kebebasan dan kesenangan olehnya, untukku yang belum pernah berteman dengan siapapun, memang bagaimana sih kehidupan berteman berkelompok itu?
Aku hanya tertawa kecil palsu menanggapinya
"Aku ingin sekali merasakannya.., eeh Tachibana-san kalau kau mau aku ingin mengajakmu untuk ke kantin bersamamu nanti, sudah lama sih aku ingin mengajakmu namun maaf sekali aku selalu sibuk dengan banyak kegiatan dan kadang teman temanku lain sering mengajakku ke kantin duluan sebelum aku mengajakmu" tambah Asami sambil menunjukkan senyumnya
Mendengarnya aku merasa sangat kaget dan terharu ternyata ada seseorang di kelas ini yang diam diam peduli denganku bahkan sampai menganggumiku, "Baiklah, aku akan ikut denganmu nanti"
"Asyiik, eeeh.., gurunya sudah datang, aku duduk dulu yak, dah dah Tachibana-san" Asami kembali ke bangku depannya. Aku lihat dia sangat senang dan terlihat merasa lega setelah duduk.
Ulangan tidak bisa dihindari, kamipun mengerjakan ulangan yang sudah dibagi dan aku kembali pusing melihat soal ulangannya. Meskipun begitu aku tidak sabar lagi untuk jajan bersama Asami nanti, padahal aku sudah menyiapkan bekal makanan untuk kumakan sendiri di kelas. Tetapi tidak masalah, aku ingin merasakan makan bersama dia dengan bekal yang kubawa ini.
.
.
.
.
Sudah jam 12 siang, saatnya untuk jam makan siang. Aku mengambil bekal makananku dari dalam tasku, wajahku menunduk. Sambil memegang bekal makan siangku menunggu Asami datang kepadaku untuk makan siang bersama. Jujur aku agak malu kalo aku mendekatinya duluan karena aku belum pernah melakukan hal seperti itu.
5,10,15 menit dia masih belum mendekatiku, aku bisa melihat dirinya masih mengobrol dengan temannya yang lain, "Kenapa dia masih belum datang padaku? Barusan beberapa jam yang lalu ia mengajakku untuk jajan di kantin bersama tapi ia masih mengobrol" dasar batinku mulai bergelojak hebat.
Aku berusaha menenangkan hatiku agar tidak menimbulkan masalah lebih di kelas ini, meskipun pikiranku sudah kacau dengan banyak hal negative yang menyelimutiku. Wajar untuk seseorang yang introvert dan pendiam sepertiku.
Asami bersama beberapa temannya mulai keluar dari kelas, aku memandangnya dengan wajah tanpa ekspresi. Aku menghela nafas panjang memang apa yang diucapkan Asami cuman bualan berkala masak ia mau jajan bersama dengan gadis lemah pendiam culun sepertiku.
"Tidak apa apa Mei, kau masih bisa makan bekal makanan buatan mama yang tidak kalah enak dari masakan kantin" batin menenangkan diriku sendiri, aku mulai membuka bekalku.
Seperti biasa makanan ibuku yang dimasak seadanya namun entah kenapa sangat lezat mungkin ada racikan khusus dari kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang membuat semua makanan buatan ibu begitu lezat.
Saat aku akan memasukkan nasi sosis ke dalam mulutku, Asami menepuk punggungku sembari memanggilku. Tentu saja aku kagetlah dan hampir saja aku tersedak dan mengumpat tapi untungnya aku bisa menahan mulutku.
Asami mengajakku untuk makan bersamanya sesuai janjinya di tempat rahasianya. Ia sudah menyiapkan bekal yang ia saja aku menyiakannya. Kami berdua pun keluar kelas bersama.
Ternyata tempat yang dimaksud Asami adalah gang dekat belakang sekolah. Namun saat kami datang sudah ada beberapa cewek disana yang mengenakan baju seragam minim, bermake-up tebal, dan gaya sok cantik mereka. Aku bersembunyi dibalik tembok bersama Asami yang juga diam diam melihat mereka.
Asami menyuruhku untuk menunggu sebentar, lalu ia menegur gadis gadis itu untuk segera pergi dari tempat tersebut.
Namun, Asami malah gantian dilabrak dan cewek cewek itu sempat menghina bentuk tubuh Asami yang seksi dan mengejeknya beberapa kali. Asami mendengarnya tentu saja merasa sakit hati, iapun menundukkan kepalanya. Seketika ia teringat masa lalu yang pernah menimpanya sewaktu SMP.
Melihat teman pertamaku dipermalukan seperti tentu saja aku merasa tak terima sambil mengumpulkan keberanianku aku maju di hadapan mereka dengan wajah tenang namun penuh emosi.
Aku langsung menyindir cewek cewek itu tidak lupa aku mengancam mereka pada guru karena terlibat dalam kasus pembullyan kepada murid dan pelanggaran beberapa aturan sekolah seperti pengenaan seragam sekolah tak sesuai aturan, penggunaan make up berlebihan, dan merokok.
Cewek cewek itu tertawa dan menanyakan bukti apa yang bisa aku laporkan tentang mereka. Akupun terdiam lalu aku mengambil handphone dari sakunya dan menunjukkan foto mereka sedang membuly Asami dan salah satunya ada yang sedang merokok.
Aku bilang, aku mengambil foto itu saat mereka sedang tidak melihatnya. Cewek cewek itu merasa sudah terpojokkan salah satu dari mereka ingin menghajar Mei namun dihentikan oleh Yamato yang kebetulan berada disana.
Yamato memegang tangan cewek yang akan menghajar Mei, melihat aksi mereka dengan cowok bertubuh tinggi lagi, mereka ketakutan dan langsung lari meninggalkan Mei, Asami, Yamato apalagi tatapan Yamato mengancam cewek cewek itu.
Meskipun Yamato sangat terkenal krn sifatnya sangat ramah dengan cewek manapun, tetapi ia bisa seram saat sedang berurusan dengan seseorang entah itu cowok maupun cewek.
"Tidak kusangka, dirimu yang terlihat polos dan manis begini, bisa secerdik dan sepemberani ini, Mei-ku sayang" ucap Yamato memandang Mei sambil tersenyum
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa favorite, follow, dan review yak
