The Rule's of Angel and Demon

A PANDORA HEARTS FANFICTION

Written by Hatsune juLie Michaelis

Disclaimer : Jun Mochizuki kan?

Pair : OLice, VinceAda slight ElliDa and ElliCho, BreaSha, JackLyss.

Warning : OOC, aneh, AU, gaje. DON'T LIKE, DON'T READ!

Rule 5 : Angel or Demon must not nearby with a human who will die, except Shinigami.

Terkadang, pada beberapa masa ada beberapa Malaikat atau Iblis yang di beri kemampuan untuk melihat batas hidup-mati seorang manusia dan mereka di beri kemampuan untuk mencabut nyawa manusia tersebut sesuai waktunya, mereka di kenal sebagai Malaikat pencabut nyawa, atau Shinigami.

Rule'S

"Selamat pagi!" ucap seseorang ceria –kelewat ceria malah- sambil membuka pintu ruang keluarga kediaman Vessalius.

Alice, yang sedang menuangkan teh untuk Oz, dan Oz, yang sedang membaca Koran pagi-nya, menatap seseorang yang mendobrak rumah mereka itu dengan tatapan bengong.

"Apa yang aku lakukan disini, Jack?" tanya Oz setelah berhasil mengembalikan kesadarannya. "Bukankah kau seharusnya jadi juri di pengadilan Eida?"

Orang yang dipanggil Jack tersebut malah diam. "Eh? Ada pengadilan ya? Aku tidak tahu tuh, tak ada panggilan dari Glen," katanya sambil berjalan menuju kursi di samping Oz. "Aku kesini karena ini kan masih Bloody Valentine Day."

Oz memutar matanya. Alice hanya cuek sambil meletakkan teko teh di atas meja kemudian keluar ruangan.

"Kau tidak mencemaskan adikmu yang sedang disidang?" tanya Jack.

"Untuk apa? Vincent ada bersamanya," jawab Oz.

"Hoo,… kau mulai mempercayai Vincent rupanya," komentar Jack. "Kurasa penyakit sister complex-mu sudah sembuh."

"Itu sih karena dari dulu Eida hanya menganggap Vincent seperti kakak," kata Oz sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Aaahh, Oz sama sekali tak tahu menahu mengenai kejadian selanjutnya, bersyukurlah dia bukan paranormal.

"Ternyata belum sembuh," kata Jack pelan.

Dan ruangan itu kembali di selimuti keheningan.

"Jack-sama," panggil Alice, membuat pria pemilik rambut pirang panjang berkepang itu menoleh, menatap Alice yang baru saja memasuki ruangan sambil membawa nampan berisi kue. "Anda mau kue?" tanyanya sambil menunjukkan nampan yang dia bawa.

"Aku mau," ucap Oz mendahului Jack. Dasar rakus!

"Ahh,…" yang ditanya malah sok berpikir. "Kurasa tidak perlu, aku mau jalan-jalan setelah ini."

Alice meletakkan nampan kue di meja, kemudian melontarkan pertanyaan lain pada Jack. "Perlu kupanggilkan pelayan untuk mendampingi dan menunjukkan jalan?"

"Kurasa itu juga tidak perlu," jawab Jack. "Kalau pun aku tersesat, aku pasti tak akan mati, dan bisa langsung kembali ke dunia sana."

Alice mengangguk sekali tanda mengerti. Oz sibuk mencomot kue buatan istrinya itu dengan rakus, sampai-sampai Alice harus memukul tangan pria berumur ratusan tahun itu.

"Baiklah kalau begitu," kata Jack sambil berdiri dari kursi. "Aku kesini Cuma mampir, mungkin saja aku bisa melihat Vessalius Junior."

BRUUSSHH

Oz yang sedang minum teh jadi menyemburkan teh-nya. Bahkan Alice-pun ikut merona.

"Apa maksudmu? Pergi sana!" ucap Oz dengan muka merah padam sambil menendang Jack keluar rumah.

"Duh, kejam sekali," kata Jack sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit karena salah mendarat. "Tapi sebaiknya aku segera pergi saja deh, liburan tinggal tiga hari."

Rule'S

Jack berjalan di sepanjang jalanan di kota pinggiran Sabrie.

"Wah, tempat ini beda jauh sekali dengan Sabrie," batin Jack sambil memperhatikan sekeliling.

Rupanya Jack telah memasuki wilayah perkampungan kumuh di Sabrie. Di sekeliling Jack banyak orang-orang berpakaian lusuh dan puing-puing rumah yang hancur. Bisa dikatakan, tak terurus.

Setiap orang di jalanan berbisik-bisik begitu melihat Jack. Bagaimana mungkin tidak? Jack berpakaian indah dan mewah. Setiap orang pasti menganggapnya seorang bangsawan, dan untuk apa seorang bangsawanan berada di kota kumuh ini.

"Hei, minggir," ucap seseorang sambil mendorong pundak Jack, membuatnya terhuyung sedikit.

Dilihat oleh Jack orang yang menabraknya tadi, seorang anak perempuan dengan rambut berwarna putih, dia juga memakai gaun putih, yang sama seperti Jack, tidak cocok dengan perkampungan kumuh itu.

Jack memandang gadis itu tak berkedip. Tapi, lima detik kemudian dia harus melihat kegelapan. Setelah gadis itu menabraknya, ada dua orang lain lagi yang menabraknya, membuat Jack jatuh terjungkal, tertindih oleh si penabrak.

Jack mengerang kesakitan. Orang di atasnya menggerutu dan mengomel, sementara yang lain membantu orang di atasnya berdiri.

"Sudahlah tuan Elliot, jangan menggerutu saja," ucap seseorang yang membantu menyingkirkan orang di atas Jack. "Salah anda juga tak mengawasi nona Alyss dengan baik."

Begitu Elliot menyingkir dari tubuh Jack, Jack bangkit, menatap orang yang membuatnya terguling-guling di tanah. Keduanya adalah pria muda, salah satunya berkacamata dengan rambut panjang sebahu yang berantakan, sedangkan yang lainnya berwajah merengut dan kesal.

"Maafkan saya Tuan," kata pemuda yang berkacamata sambil membungkuk hormat pada Jack.

'Tak apa kok," ucap Jack sambil tersenyum ramah.

"Elliot, Minta maaf!" ucap pemuda berkacamata itu sambil menjitak kepala Elliot.

"Apa-apaan sih Reo!" protes Elliot.

"Minta maaf!"

"Tanpa kau suruh pun aku juga tahu," kata Elliot.

Jadi, dia membungkuk kea rah Jack kemudian berkata. "Maafkan aku." Dengan sedikit enggan.

"Kau puas?" ucap Elliot kepada Reo, sedangkan yang ditanya hanya tersenyum.

"Ya sudah, sekarang ayo kita cari Putri Alyss," ucap Reo.

Kedua pemuda itu pun berjalan –setengah berlari- beriringan, menjauh tempat Jack berdiri dan Jack hanya bengong memperhatikan kepergian kedua pemuda itu.

Rule'S

Gadis tadi, batin Jack, umurnya tinggal sedikit.

Sesungguhnya, Jack bukanlah Malaikat biasa, dia adalah seorang Shinigami, jadi dia memiliki kemampuan melihat batas hidup-mati manusia. Dan karena dia sudah terlanjur melihat batas hidup gadis itu, dia-lah yang harus mengambil nyawa gadis itu.

Sebagai informasi, nyawa manusia yang meninggal bisa saja menjadi Malaikat, atau Iblis, atau reinkarnasi sebagai manusia, atau juga menjadi sumber energi kehidupan di langit.

"Permisi, boleh aku tahu ini dimana?" tanya Jack pada seorang gadis berambut perak sebahu dan memakai mewah berwarna biru dan putih, raut wajahnya sangat datar.

"Ini di Sabrie," jawab gadis itu. "Apakah anda melihat seorang gadis berambut perak dan memakai gaun putih?" gadis itu balik bertanya.

Jack mengangkat alisnya, bertanya-tanya mengapa gadis-yang-mau-mati itu dicari-cari. "Aku melihatnya tadi, dia sedang diekjar-kejar oleh dua pria," jawab Jack.

Sepertinya, percakapan diantara Jack dan gadis itu berjalan lancar, sampai,…

"Echo!" seru seseorang.

Echo dan Jack menatap si pemanggil, Elliot, yang sedang berjalan ke arah mereka berdua sambil setengah menyeret seorang gadis, di sebelah Elliot berjalan Reo.

"Ah, tuan Elliot berhasil menangkap nona Alyss rupanya," kata Echo sambil mendatangai tempat Elliot dan Reo.

Diam-diam dalam hati Jack berkomentar, "Mirip dengan Alice."

"Iya, dia benar-benar sulit ditangkap, mirip belut," kata Elliot.

Gadis bernama Alyss tadi cemberut. "Jangan samakan aku dengan makhluk tak jelas begitu," katanya.

Echo mendekati Alyss kemudian memakaikan sebuah mantel yang sedari tadi dibawa-bawanya pada Alyss. "Anda kan tubuhnya lemah, harus dijaga baik-baik," kata Echo lembut, tentu saja masih dengan wajahnya yang datar.

"Aku tak selemah itu sampai tak diizinkan jalan-jalan sendiri," kata Alyss membela diri.

Jack angkat bicara, "Halo nona manis, namamu Alyss ya?"

Alyss memandang Jack bingung. "Kau siapa?" tanyanya.

Jack tersenyum ramah. "Namaku Jack Vessalius, nona manis," jawab Jack. "Kau kenal Oz Vessalius tidak?"

"Eh?" seru Elliot dan Alyss. "Kau saudaranya orang tak berguna itu?" tanya keduanya bersamaan dengan nada suara yang sama serta kekesalan yang sama.

Jack bingung dan bertanya-tanya, apa yang sudah dilakukan sepupunya itu. "I-iya, aku sepupunya."

"Pantas saja mirip," sindir Elliot, membuatnya mendapat jitakan dari Reo.

"Mau sama-sama ke Vessalius manor?" tanya Echo sopan. Sebagai pelayan yang baik dan benar serta berbakti pada majikan, dia haruslah bersikap sopan pada seseorang yang jelas-jelas dan tidak diragukan lagi memiliki hubungan darah dengan majikannya. "Setelah ini kami akan kesana."

Jack berpikir, memang sih dia rencananya ingin mengelilingi Negara ini tapi dia juga punya kewajiban terhadap gadis bernama Alyss itu. Oleh Jack diliriknya Alyss yang sibuk adu mulut dengan Elliot, sepertinya hubungan keduanya tak akur walaupun keduanya sepakat bahwa Oz Vessalius itu tak berguna.

"Baiklah nona Err,…"

"Echo."

"Ya, nona Echo. Baiklah, mari kita kesana sama-sama."

Reo menengahi pembicaraan. "Pakai kereta kuda Nightray saja ya, cukup kok untuk menampung liam orang sekaligus," katanya.

Echo dan Jack mengangguk setuju tanpa banyak protes, sementara Elliot dan Alyss menggerutu dan mengeluh tentang keharusan duduk dalam satu kereta dengan orang nggak guna.

Rule'S

"Selamat pagi semua," kata Jack dengan hyperbole saat memasuki ruang makan, dimana dalam ruangan itu sudah duduk orang-orang lain yang dikenalnya : Oz, Alice, Alyss, dan Elliot.

Jack celingukan. "Mana Reo dan Echo?"

Oz kembali menyantap bacon-nya. Alyss kembali meneguk teh-nya. Elliot kembali membaca korannya. Alice cuek saja sambil tetap memakan sarapannya yang lebih banyak porsinya dari pada yang lain.

"Makan sajalah," kata Alyss sarkastis.

Jack tersenyum cerah setelah sempat muram. "Alyss, bagaimana kalau setelah ini jalan-jalan ke kota, kita belanja," ajaknya.

"Jangan aneh-aneh, Jack," kata Oz. "Alyss itu badannya lemah, tak bisa diajak kemana-mana seenaknya."

"Jangan putuskan seenakmu, orang nggak guna," kata Alyss geram.

Alice cuek saja melihatnya, sudah makanan sehari-hari. Elliot pun sama saja. Jadilah Jack dicuekin lagi.

"Biarkan saja mereka jalan-jalan Oz," kata Alice. "Toh tak akan membuat Alyss mati nanti sore." Muncullah sifat asli mantan Malaikat dengan julukan B-rabbit ini.

"B-rabbit," batin Oz dan Jack.

Oz memandang Jack. "Jangan macam-macam," ancamnya.

Elliot pun mau tak mau memberikan perhatian. "Kok suasananya aneh begini?" batinnya. "Ada apa sih?" tanyanya.

Oz mengangkat bahu kemudian meminum kopinya sebelum beranjak keluar ruangan diikuti Alice, yang sebelumnya dengan terburu-buru menghabiskan minumannya.

"Hati-hati ya Jack-sama," kata Alice mewanti-wanti.

"Apanya?" tanya Jack dan Elliot.

Alyss berdiri dari kursinya. "Jadi jalan-jalan tidak?" tanyanya.

Jack mengalihkan perhatiannya ke Alyss. "Mau?"

Alyss membuang muka untuk menyembunyikan rona wajahnya sebelum berkata, "Tentu saja, sudah rapi begini."

Berangkatlah mereka berdua menuju kota, meninggalkan Elliot yang merana karena diabaikan sendirian.

Rule'S

Tak terasa waktu liburan sudah berakhir sekitar dua hari yang lalu, sebentar lagi waktunya kembali ke dunia atas. Tapi Jack bebas dari kewajiban kembali itu, dia harus menyelesaikan kewajiban yang lain.

Ah, hampir saja lupa menyebutkan keberadaan Gilbert Nightray, sang idola semua orang. Dia memang berada di tempat Oz, tapi dia dan Jack sama sekali tak bertemu, karena selama sisa liburan dia dipaksa Alice membersihkan taman dan merawat bunga-bunganya gara-gara mengejek Alice dan taman bunganya. Ah, walaupun waktu sudah berjalan selama bertahun-tahun, hubungan keduanya tak juga membaik, tak pernah berubah.

Tapi, Jack mengetahui keberadaan Gil, dan dia berpikir besar kemungkinan bahwa Gil adalah utusan yang akan menjemputnya. Dia, Jack, sudah melanggar aturan karena, di luar dugaan, dia merasa sangat nyaman berada di dekat Alyss. Hari-hari yang dia jalani bersama Alyss begitu menyenangkan, walaupun dia tahu bahwa Alyss tak akan pernah menjadi apa-apa setelah mati, Glen sudah memberitahunya saat dia mengunjungi Iblis itu untuk menanyakan keadaan Eida dan Vincent.

"Jack," panggil Alyss membuyarkan lamunan Jack.

Jack mendongak perlahan menatap wajah Alyss. "Ya, Alyss?" tanyanya pelan.

"Kau baik-baik saja?"

Jack mengangguk. "Aku baik-baik saja," jawabnya. "Jadi, ada apa?"

"Begini,… bisakah kau menemaniku ke tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Alyss. "Setiap orang tak mau membiarkan aku pergi sendiri," tambahnya dengan cemberut.

Jack menahan kikihannya. "Baiklah, baiklah," katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. "Aku siap-siap dulu."

Sepuluh menit kemudian, mereka siap berangkat.

.

"Alyss-sama!" seru anak-anak panti asuhan menyambut Alyss.

Tempat yang dituju oleh Jack dan Alyss rupanya adalah sebuah panti asuhan di daerah kota kumuh Sabrie. Tempat itu terlihat cukup terawatt untuk ukuran kota terlontar, bangunannya tak begitu besar namun cukup besar untuk menampung semua orang yang bernaung di bawah atapnya.

"Alyss-sama, dia siapa?" tanya seorang anak yang bernama Philippe West sambil menunjuk Jack.

Jack tersenyum ke arah Philippe begitu merasa ditunjuk, dia pun mendatangi tempat Philippe dan berjongkok di depan anak itu hingga tinggi kepala mereka sejajar.

"Hai Philippe, kenalkan, aku temannya Alyss-sama, namaku Jack Vessalius, terserah kalian mau memanggilku apa," katanya ramah.

"Panggil saja dia cowok pirang," kata Alyss menengahi.

Semua orang tertawa mendengar candaan Alyss.

"Setelah ini, Alyss-sama mau kemana?" tanya pengurus panti.

"Mungkin jalan-jalan di sekitar sini," jawabnya sambil bermain-main dengan si kembar.

Philippe menyentuh pundak Alyss. "Alyss-sama," panggilnya.

"Ya, Philippe?"

"Kenapa tidak datang bersama kak Reo?"

Senyum Alyss tak hilang dari wajah cantiknya. "Hari ini dia sibuk melayani Elliot-sama, jadi dia tak bisa datang."

"Reo juga sering kesini?" tanya Jack.

Alyss mengangguk. "Malahan, dialah yang sudah mengenalkanku pada panti asuhan ini," jawabnya. Tiba-tiba wajah Alyss berubah sendu. "Dia juga dulunya dibesarkan di panti ini," tambahnya.

Jack langsung merasa bersalah karena bertanya. "Maaf."

"Sudahlah," kata Alyss. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang, hari ini agak mendung, aku tak mau kehujanan," ajaknya.

"Baiklah," Jack menyetujui. "Bu pengurus, kami pergi sekarang ya," pamit Jack.

Jack dan Alyss pun pergi diantar lambaian tangan para penghuni panti.

.

Jack dan Alyss berjalan sepanjang jalanan kota kumuh Sabrie dalam diam dan hening. Keduanya sama-sama menoleh ke arah pinggir jalan, tak seorang pun yang ingin memandang satu sama lain.

"Ketemu!" seru seseorang.

Jack menoleh ke belakang, dilihatnya seorang gadis berambut peach sedang berlari ke arahnya diikuti seorang pria berambut perak.

"Sharon? Break?" tanya Jack. "Apa yang kalian lakukan disini?"

Alyss pun ikut menoleh, melihat hal yang sama dengan yang dilihat Jack. "Siapa mereka?" tanya Alyss.

Jack tak menjawab, pria itu membisu. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tanpa perlu menjadi peramal dia tahu pasti apa yang akan terjadi. Sharon dan Break akan menyeretnya ke dunia atas setelah membereskan apa yang seharusnya dibereskan Jack.

"Maaf Jack-sama, bisa anda minggir?" tanya Sharon sopan.

"Maaf, tidak bisa," jawabnya sambil menggeleng.

Break maju. "Minggirlah Ojou-sama, kita tak bisa menyelesaikan tugas dengan baik-baik, pria di depan kita ini keras kepala," kata Break sambil mengeluarkan pedangnya.

Alyss yang ngeri melihat sebuah pedang rasanya ingin berteriak. "Ja-Jack, ada apa ini?"

Lagi-lagi pria itu tak menggubris perkataan Alyss.

"Jack-sama, anda sudah melanggar aturan, beberapa aturan sekaligus," kata Sharon. "Dilarang keras membiarkan seorang manusia hidup melebihi batas waktunya, peraturan nomor 13 buku aturan Malaikat dan Iblis."

Semakin lama pembicaraan ini terjadi, semakin jauh topik yang dibicarakan, semakin Alyss tak mengerti.

"Alyss," panggil Jack yang mengetahui kegelisahan Alyss. "Pergilah duluan, aku akan pergi dengan teman-temanku ini sebentar."

"Ta-tapi,…" bantah Alyss.

"Tidak ada tapi-tapian, pergilah ke tempat Oz dan ceritakan apa yang terjadi padanya," perintah Jack.

Alyss tak bisa membantah, jadi dia hanya mengangguk sebelum pergi ke tempat mereka meninggalkan kereta kuda mereka.

"Jadi," ucap Jack setelah Alyss tak terlihat lagi. "Tolong bawa aku menemui Lacie," katanya.

"Mau bertemu Dewa, he?" tanya Break sinis.

Sharon mencubit pinggang Break, membuat pria itu mengaduh. "Baiklah Jack-sama, saya rasa beliau berdua tak akan keberatan menemui anda berhubung anda adalah teman dekat mereka," kata Sharon. "Mari pergi sekarang kalau begitu, kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara kita, pengadilan."

Rule'S

Putri Alice dan Oz dibaptis dengan nama Alicia Augusta Vessalius.

Upacara pembaptisan Alicia dihadiri banyak orang, terutama kawan-kawan Oz dan Alice, dari manusia biasa hingga para penghuni dunia atas dan dunia bawah. Bahkan, Eida dan Vincent yang sejak 2 tahun yang lalu menetap di dunia manusia juga datang, Gil pun menyempatkan dirinya mengatur jadwalnya yang sibuk hanya untuk mengunjungi perayaan itu, dan yang tak dapat dipercaya adalah bahwa Lacie dan Glen pun datang menghadiri pesta itu.

"Dia cantik sekali," puji Jack. Semenjak kematian Alyss dia menjadi sedikit pendiam dan tenang. Sebagai informasi, Jack kini hanyalah manusia biasa.

"Tentu saja, dia kan putriku," kata Oz bangga sambil ebrmain-main dengan jari mungil Alicia. "Dia memiliki mata yang sama dengan ibunya, dan memiliki rambut keemasan khas Vessalius."

"Ya, warna amethyst yang indah," ucap Jack, sesuatu yang tak asing berkelebat dalam sinar matanya, sesuatu yang telah lama hilang dan kembali lagi.

"Kau jangan macam-macam ya kakek tua," kata Oz waspada dan curiga.

"Bagaimana pun, dia reinkarnasi Alyss," kata Jack.

"Dan mengorbankan kehidupanmu sebagai Malaikat hanya agar gadis itu terlahir kembali sebagai putriku dan Alice, menjadi manusia biasa seperti kami saat ini," kata Oz. "Bahkan kau mengorbankan kemampuanmu melihat batas-hidup orang mati hanya demi supaya Alyss terlahir kembali."

Jack terseyum dan kini mengelus-elus kepala mungil Alicia. "Aku tak butuh semua itu, di dunia ini yang kubutuhkan hanya Alyss, dalam bentuk apapun, asalkan nyata." Kemudian dikecupnya tangan mungil Alicia, membaut Oz membeku sejenak kemudian mengeluarkan handgun-nya.

"Berani skeali kau, kaket tua," katanya seram sambil meodongkan moncong pistol ke dahi Jack.

Dan dimulailah acara tembak-tembakan di sana, yang untungnya tak ada satu pun korban jiwa.

OWARI

Author's Note:

Seri terakhir 'The Rule of Angel and Demon' akhirnya selesai juga.

Terima kasih pada anda sekalian yang sudah membaca fic ini, apa lagi yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mereview.

See you next time on my new Fanfic

~Julie Anggraeni~