NARUTO © Masashi Kishimoto

BEFORE SUNSET © Uchiha Vnie-chan

.

.

Genre(s) : Romance/General

Rated : T

Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, , Hyuuga Neji

Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku; slight SasuSaku, NejiHina

Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru

.

.

Stand by me... Together make it love, Forever making you smile.

.

.

Summary : Wish you're my love. Pertemuan, awal dari segalanya. Melody indah itu sanggup menghipnotisnya untuk melihat keindahan sesungguhnya dari sosok itu. The Prodigy. Cinta dan kebencian datang pada saat yang bersamaan.

.

.

Hijau bertemu dengan hijau emerald.

Dan tangan pemuda itu terangkat, lalu melayang.

Sakura memejamkan matanya.

"Gaara! Hentikan!"

Sakura membuka matanya. 'Apa yang terjadi? Kenapa dia tak jadi menamparku?'

"Beginikah caramu memperlakukan seorang wanita? Kau sudah keterlaluan, Gaara."

Mata hijau emerald Sakura melebar, menatap sosok yang telah menyelamatkan pipinya dari pukulan telak pemuda psycho berambut merah.

"K, kau, kau 'kan yang waktu itu..."

"Oh, kau rupanya. Tak ku sangka, kita akan bertemu pada situasi seperti ini."

Sakura-lagi-lagi- menatap takjub sosok itu. Bukan hanya karena ketampanannya yang luar biasa, tapi juga karena kebaikannya—bahkan sudah dua kali membantu.

"Aku tak suka kau mencampuri urusanku..." desis Gaara—lalu menepis tangan yang mencengkramnya. "Neji..."

"Neji? Jadi namamu Neji? Tunggu, tunggu. Rasanya nama itu familiar. Tapi siapa ya..."

"Dasar wanita bodoh. Idiot."

"Jangan sembarangan memanggilku idiot, baka!"

"Beraninya kau memanggilku baka?"

"Gaara, hentikan. Ayo kita pergi," dan sosok itu—Neji menyeret Gaara, pergi.

"Awas kau! Kalau kita bertemu lagi, akan ku pastikan kau tidak akan selamat dariku. Ingat itu!" Gaara masih melontarkan ancaman-ancamannya pada Sakura.

"Kau pikir aku takut?"

Gaara masih berkutat dengan umpatan-umpatannya.

Fokus Sakura kini beralih pada sosok pria berambut coklat panjang.

"Hey! Bahkan aku belum mengucapkan terima kasih padamu!"

Neji menoleh, lalu melemparkan senyum tipisnya. "Sama-sama. Ja matta!"

"Neji! Lepaskan aku!"

.

.

"Kau mengenal wanita sialan itu?"

Neji memutar bola mata lavendernya, "Hati-hati bicaramu, Gaara."

Gaara mendengus. "Kau mengenalnya?"

"Aku sempat bertemu dengannya. Memangnya kenapa?"

"Jangan sok pahlawan di hadapan gadis macam dia. Bisa-bisa dia jatuh hati padamu."

Neji menatap Gaara, tak mengerti maksud pemuda itu.

"Kau akan repot sendiri kalau hal itu sampai terjadi."

"Memangnya kenapa kalau dia jatuh cinta padaku?"

"Dia tak pantas untuk itu," Gaara mengalihkan perhatiannya yang sedari tadi tertuju pada PSP-nya. "Dia terlalu kurang ajar."

"Gaara, kau tidak boleh..."

"Berhenti membelanya di hadapanku. Aku peduli padamu, Neji. Jangan sampai kau lupa, dalam waktu dekat, kau akan bertunangan."

Neji tersenyum kecut, "Aku tahu."

.

.

"Boleh aku duduk di sini?"

Sakura—yang sedang menikmati makan siangnya yang sempat tertunda akibat insiden dengan pria menyebalkan berambut merah; menoleh. Mendapati seorang gadis berambut coklat pendek yang tersenyum ramah kepadanya.

"Oh, tentu saja. Silahkan," Sakura membalas senyuman gadis itu.

"Kau Haruno Sakura, 'kan? Aku Matsuri. Salam kenal," gadis itu memperkenalkan dirinya.

"Kau tahu namaku?"

Gadis itu—Matsuri tak menghilangkan senyum dari wajah manisnya. "Kita satu kelas, Haruno-san."

"Just call me Sakura," Sakura mencoba mengingat-ingat wajah gadis itu dalam ingatannya. Tapi ia tak menemukan nama maupun wajah gadis itu dalam daftar teman-teman barunya. "Tapi rasanya aku tak bertemu denganmu, tadi."

Matsuri tersenyum maklum, "Aku duduk di pojok belakang. Mungkin kau tidak melihatku. Tapi aku melihatmu memperkenalkan diri."

Sakura merasa tak enak. Melupakan teman baru itu sebuah kesalahan fatal! "Maaf, aku memang benar-benar tidak melihatmu. Sekali lagi maaf ya."

"Tidak apa-apa," Matsuri menatap mata emerald gadis di hadapannya, "Kau gadis polos dan baik hati.. Kau tahu, sesungguhnya aku tak memiliki teman. Pasti rasanya menyenangkan sekali jika aku memiliki teman sepertimu."

Sakura tampak terkejut mendengar pengakuan Matsuri. "Kau benar-benar tidak memiliki teman?"

"Aku selalu sendiri."

Sebuah senyum tulus terukir di bibir gadis berambut merah muda itu saat mengatakan, "Kalau begitu, sebuah kehormatan bisa menjadi teman pertamamu."

Dan senyum cerah mengembang di wajah Matsuri.

.

.

"Jadi namanya Matsuri? Hm, seperti apakah rupanya?"

"Dia manis. Tapi yang terpenting, dia baik hati."

Kini, Ino dan Sakura tengah duduk santai di salah satu bangku taman. Sekedar melepas lelah karena menjalani rutinitas sekolah selama 5 hari, kini saatnya bersenang-senang di akhir pekan; refresing. Dan mereka lebih memilih untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat—juga hemat: Olahraga pagi. Keputusan yang bijak, daripada menghambur-hamburkan uang untuk shopping.

"Baguslah kalau begitu. Akhirnya kau cepat mendapat teman juga. Padahal aku sempat khawatir kalau kau sulit beradaptasi dengan lingkungan barumu," ujar Ino sebelum meneguk sebotol soft drink sampai hanya tersisa setengahnya saja.

"Oh ya, Ino. Kau tahu tidak..."

"Tidak," Ino menjawab mantap.

"Aku belum selesai bicara, Ino-pig! Dengarkan aku dulu."

"Oh, jadi begitu..."

"Jangan dulu berkomentar! Aku bahkan belum memulai."

"Kalau begitu cepat katakan, apa yang ingin kau katakan Sakura."

Sakura merogoh sesuatu di dalam tas pinggangnya. Sapu tangan putih. "Kini aku tahu siapa pemiliknya."

Ino terlihat antusias sekarang, "Siapa namanya?"

Sakura tampak berpikir sebelum mengatakan, "Neji. Ya, namanya Neji."

"Neji... Neji... Neji..." gumam Ino berulang-ulang. Alisnya terlihat berkedut, pertanda ia sedang berpikir keras. "Ah! Jangan-jangan yang kau maksud itu Hyuuga Neji! Ya, Hyuuga Neji! Aku sampai lupa kalau dia bersekolah di tempat yang sama denganmu."

Giliran Sakura yang terkejut. "Maksudmu, dia Hyuuga Neji—musisi muda itu?"

"Aduh, Sakura. Masa kau tidak mengenali pria tampan populer seperti dia? Kamu ini tidak tahu teknologi yang namanya internet dan televisi, ya?" Sakura mendelik. "Lagipua kau pikir ada berapa Neji di sekolahmu?"

"Ah, kau benar. Aku baru menyadarinya."

Ino tertawa sinis, "Apakah pesonanya begitu menyilaukanmu sampai-sampai kau jadi bodoh seperti ini?"

Sakura tak menanggapi pertanyaan—lebih tepat dikatakan sindiran Ino.

"Oh, satu lagi yang belum aku ceritakan. Ini tentang seorang pria psycho berambut merah yang super-mega-giga menyebalkan. Pria brengsek! Aku tidak mengerti kenapa dia bisa menjadi teman dekat Neji padahal sifat mereka benar-benar bertolak belakang. Sangat bertolak belakang!" raut wajah Sakura berubah mengerikan saat mengatakan kalimat itu. Semua amarah yang tak sempat dikeluarkannya seakan siap meledak kapan saja. Mengingat kejadian menjengkelkan di hari pertama sekolah sungguh membuat kepalanya terasa sakit, sampai ke ubun-ubun.

"Tunggu. Kau bilang pria berambut merah, teman dekat Neji? Apakah dia memiliki tatoo dengan kanji 'ai' di dahinya?"

"Ya, benar! Rasanya aku ingin mencakar mukanya yang sok charming itu, membakar habis rambut noraknya, juga menguliti dahinya yang bertatoo itu. Sebuah kekeliruan akan tatoo 'ai', karena sesungguhnya dia sama sekali tidak punya cinta!"

"Tenang, sobat. Jangan jadikan aku sasaran amarahmu," Ino mencoba menenangkan Sakura yang benar-benar berada pada level waspada. "Kalau pria itu yang kau maksud, berarti Sabaku no Gaara."

"Gaara atau apalah itu namanya, aku tidak peduli. Aku benar-benar ingin meghabisi orang bajingan sepertinya."

"Wew! Jadi benar, dia Sabaku no Gaara, pewaris perusahaan Sabaku—perusahaan terbesar di seantero negara Hi? Wah, aku bahkan lupa kalau sekolah tempatmu menimba ilmu saat ini adalah milik cowok yang baru saja dinobatkan sebagai remaja paling terkenal di negeri ini! Sakura...! Kau sangat beruntung bisa bertemu langsung dengannya!"

"A... Ap... Apa katamu barusan, Ino?"

"Wew! Jadi benar, dia Sabaku no Gaara, pewaris perusahaan Sabaku..."

"Bukan yang itu!"

"Sekolah tempatmu menimba ilmu saat ini adalah miliknya."

Dan Sakura nyaris saja terkena serangan jantung.

"Kau bercanda 'kan, Ino?"

"Oh. My. God. Hello, Sakura! Kamu sebenarnya hidup di jaman apa sih? Masa tidak tahu..."

"Ternyata pecundang itu..."

"...aku benar-benar bernafsu untuk menghabisinya!"

"Kau yakin, Sakura? Kau yakin kalau kau memilih menjadikannya musuh dibanding, ummh, gebetan?" Ino mendapat balasan tatapan 'yang-benar-saja'. "Dengar Sakura. Kalau kau benar-benar ingin melupakan Sasuke, sudah saatnya kau membuka hatimu untuk pria lain..."

"Tapi bukan dengan pria macam dia."

"Tapi dia tampan, Sakura. Sangat. Kaya, pintar, punya segalanya..."

"Cukup Ino! Berhenti membicarakannya di hadapanku, atau aku benar-benar meledak di sini."

"Ok. Kalau kau tidak ingin membicarakannya, kita ganti topik lain saja."

"Bagaimana hubunganmu dengan Shikamaru?"

"Sudah berakhir."

Sakura menatap Ino tidak percaya. "Bagaimana bisa?"

"Dia mencintai gadis lain. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap di sampingku. Itu tidak adil untuknya, juga untukku."

Sakura ingin mendekap sahabatnya itu, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, sama seperti saat Ino menghiburnya ketika dia terperosok lubang kedukaan beberapa waktu yang lalu.

Tapi tangan Ino menepisnya. Dan Sakura tak melihat satu pun kristal bening yang mengalir dari kedua sudut mata Ino. Tak ada satupun. Semuanya terlihat baik-baik saja—sangat biasa. Kecuali samar-samar Sakura melihat gurat kesedihan di wajah cantik Ino.

"Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir. Aku tidak selemah kau dalam hal percintaan."

Ah, Sakura sadar. Ino lebih kuat darinya—dalam hal macam begini. Dia jadi malu sendiri mengingat kelakuan konyolnya: menangis, murung, muram; saat putus dengan Sasuke.

"Syukurlah kalau begitu. Tapi aku selalu ada untukmu saat kau membutuhkanku."

...Teman selalu ada disaat senang maupun sedih. Iya 'kan, Ino?

.

.

Terkadang rasa benci yang berlebihan bisa berubah menjadi cinta...

Atau justru kebaikan hatilah yang lebih unggul dari apapun?

"I hate Monday..."

Terkadang terdengar seperti lagu pembuka minggu ini.

Setelah memanjakan diri di akhir pekan, memang berat rasanya kembali pada rutinitas sehari-hari : belajar; bekerja. Inginnya sih setiap hari adalah akhir pekan. Tapi mau bagaimana lagi, toh itu sudah menjadi sebuah kewajiban—juga kebiasaan.

Tapi kalimat itu bermakna lain bagi seorang Haruno Sakura.

Bukankah kembali ke sekolah akan membuatnya menemukan sosok yang sangat ingin dihindarinya di dunia ini selain Uchiha Sasuke. Apalagi setelah menyadari fakta yang sangat menyakitkan bahwa sekolah itu berada dikendalinya. Menyebalkan pangkat 10!

Tapi jika takdir telah memutuskan, tak ada satupun orang yang dapat menolaknya. Iya, 'kan?

Alunan melody yang menyayat hati menjadi daya tarik tersendiri bagi gadis berambut merah muda untuk segera menemukan sumber suaranya.

Dan di sinilah gadis itu berada, sekarang. Taman yang agak terpencil; seolah tempat yang hilang di antara modernisasi sekolah itu. Gadis itu tak yakin kalau tukang kebun sekolah bekerja sampai tempat ini. Bunga-bunga dan rumput-rumput liar yang tumbuh tak karuan cukup menjadi bukti.

Tapi itu tak lagi menjadi perhatian gadis itu, semenjak kini di hadapannya ada objek yang lebih menarik untuk dinikmati.

Jemarinya menari di atas papan jari, menekan nada. Tangan kanannya menggesek alat musik berdawai itu dengan busurnya, menghasilkan gerakan yang dinamis—juga melody yang sangat indah. Mata lavendernya tertutup, begitu menikmati dan meresapi permainannya; hasil karyanya. Jika diibaratkan, dia adalah August Rush modern.

Bahkan mata emeraldnya tak ingin melewatkan sedetik pun, sampai-sampai ia lupa berkedip.

Dan Sakura masih menatap kagum—terhanyut dalam suasana saat melody itu telah berakhir. Dan pelakunya menatap gadis itu, tak tahu harus beraksi apa.

Sebuah tepukan halus di pundak gadis itu cukup membuatnya kembali dari dunia khayalnya. Dan betapa terkejutnya gadis itu saat menyadari wajahnya dan wajah sang pelaku hanya berjarak beberapa sentimeter. Pipinya lantas memerah alami.

"Kau sedang apa di sini?"

Dan Sakura pun tak punya alasan lain selain mengatakan yang sebenarnya, "Aku mendengar seseorang memainkan biolanya dengan sangat indah hingga berhasil menghipnotisku untuk mendengarkannya lebih dekat Tapi aku tak terkejut melihat ternyata kau lah yang memainkannya. Neji-the prodigy."

Neji tersenyum tipis, "Terima kasih atas pujiannya."

Lalu pria itu melangkah menuju sebuah kursi putih yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mendudukan dirinya dan memberi isyarat agar Sakura juga duduk di sana—di sampingnya.

"Kenapa kau memilih menggelar konser tunggalmu di sini? Bukankah lebih baik jika kau bermain di aula atau kantin, karena dengan begitu banyak orang yang bisa menikmati permainanmu. Kau semakin terkenal, jadinya."

"Aku tak suka pamer."

Sakura tertawa kecil. Lalu tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

"Ini, aku mengembalikan sapu tanganmu. Terima kash telah membantuku waktu itu."

"Aku tak butuh lagi," Neji menngembalikan sapu tangan itu ke genggaman Sakura, "Untukmu saja. Siapa tahu kau membutuhkannya lagi saat kau menangis."

"Sudah kuputuskan untuk tidak menangis. Tidak akan pernah lagi."

Neji menatap wajah gadis di sampingnya. Dilihatnya kepolosan juga kesungguhan. "Benarkah?"

Dan gadis itu pun mengangguk mantap.

"Kalau begitu, anggaplah sapu tangan ini hadiah dariku, karena kau mau berusaha untuk tidak menangis lagi."

Sakura tersenyum ceria mendengarnya. "Arigatou, Neji. Kau sangat membantu. Yang kemarin juga, terima kasih, ya. Kau telah menyelamatkanku dari temanmu yang gila itu."

"Tak perlu dipikirkan."

Sakura melirik jam tangan yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. "Nampaknya aku harus pergi sekarang."

Neji mengangguk. Dan setelah kalimat 'Sampai jumpa', hanya punggung gadis itu yang dilihatnya makin menjauh, sebelum akhirnya gadis itu berbalik.

"Apa aku harus memanggilmu : Neji-senpai?"

'Kenapa rasanya jantungku berdebar tak karuan saat melihat senyum manis di wajah cantiknya, yang dia berikan untukku?'

.

.

Seorang gadis berambut coklat berdiri di tengah ruangan yang cukup luas, namun terasa sempit karena begitu banyak orang yang hadir di dalamnya.

Dan saat Sakura tiba, yang dilihatnya di antara celah-celah desakan siswa-siswi yang lain adalah gadis berambut coklat yang berdiri di tengah ruangan itu, seseorang yang dia kenal, Matsuri.

Ah, dan satu sosok lagi yang akhir-akhir ini cukup familiar baginya.

Pemuda berambut merah dengan tatoo kanji 'ai' di keningnya.

Siswa-siswi mulai berbisik-bisik, mencoba menebak hal apa yang akan terjadi beberapa menit lagi.

Sakura mencoba menerobos kerumunan itu, ingin melihat lebih dekat.

Dan kini, Matsuri mulai membuka suaranya—meskipun tercekat dan tampak sangat gugup. "Gaara-senpai, aku membuatkan kue khusus untukmu. Ini buatanku sendiri. Semoga perasaanku tersampaikan melalui setiap potong kue ini. Harap senpai menerimanya..."

"Aku tak suka makanan manis," suara Gaara terdengar dingin dan menusuk. "Tapi, karena kau telah membuatnya dengan sepenuh hati, apa boleh buat."

Kini Gaara hanya berjarak beberapa sentimeter dari gadis berambut coklat itu. Tangannya meraih kotak yang berisi kue tart.

Beberapa siswa-siswi menjerit tidak rela, ada yang marah karena pujaan hati mereka—Gaara harus jatuh ke tangan gadis itu, atau karena kalah taruhan.

Dan Sakura benar-benar melihat semuanya dengan jelas. Termasuk adegan beberapa detik kemudian, saat tangan Gaara yang memegang kue itu melayang dan menjatuhkannya tepat di wajah Matsuri.

Mata emerald Sakura melebar, berkilat berbahaya.

"Hey, pria brengsek!"

Gaara menoleh, mendapati sosok gadis yang memberikan 'death-glare' kepadanya. "Cih," ia mendengus, "Kau lagi..."

ToBeContinued~

A/N : Minna-san! Fic ini mendapatkan sambutan yang *cukup* baik. Oleh karena itu, saya usahakan update cepat! Oh ya, ada sedikit perubahan dari rencana awal. Fic ini tidak jadi two shot. Hal ini dikarenakan setelah saya mengembangkan cerita dari plot awal, ternyata cukup panjang juga ceritanya. Tapi tenang saja, fic ini tidak sepanjang fic Oyasumi, Forever dan D'KIRA yang akan mencapai belasan—bahkan puluhan chapter. BEFORE SUNSET akan berakhir di chapter 5 atau 6.

Saya ingin mengomentari character pemeran utama. Beberapa orang merasa Gaara OOC, mungkin. Tapi perlu saya luruskan, menurut saya, Gaara tidak terlalu OOC ko. Melihat sifat sadisnya, mungkin akan mengingatkan kita pada Gaara beberapa tahun yang lalu di AniManganya. Saat-saat dimana Gaara benar-benar menjadi makhluk yang haus darah. Tapi kemana sifat coolnya? Ada koq. Gaara tidak selamanya bersikap childish. Ada saatnya dia juga bisa berpikir dewasa!

Mengenai Sasuke, tenang saja. Dia akan tetap muncul di chapter-chapter selanjutnya. Tapi dalam konteks peran yang berbeda. Bukan lagi sebagai 'kekasih Sakura'. Dan penyebab putusnya hubungan SasuSaku juga akan diperjelas seiring berjalannya cerita.

Balas review anonymous :

Faika Araifa : Lagu ya... Hmm, saya usahakan tidak hanya menggunakan lagu-lagu BBF, tapi juga menambahkan lagu-lagu lainnya sebagai pemanis. Untuk plot cerita ini, saya tetap menggunakan OST BBF sebagai soundtrack utama.

Green_Yuki_chan : Sikap Gaara berbeda? Hmm, insiden Sakura tak sengaja menumpahkan jus stawberry-nya di pakaian Gaara adalang pertemuan pertama mereka. Mungkin yang kamu maksud adalah pertemuan Neji dan Sakura. Yang ngasih sapu tangan, 'kan? Ini udah saya update.

Terima kasih telah membaca fic saia.

Saya tunggu kritik dan sarannya.

Keep or Delete?

Uchiha Vnie-chan