NARUTO © Masashi Kishimoto

BEFORE SUNSET © Uchiha Vnie-chan

Genre(s) : Romance/General

Rated : T

Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, , Hyuuga Neji

Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku; slight SasuSaku, NejiHina

Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru

.

.

Stand by me... Together make it love, Forever make it you smile.

.

.

Summary : We'll have a bad feeling... Terkadang rasa berubah secepat angin yang berhembus. Ya, 'dia' adalah seperti angin, dan angin tak akan pernah kembali ke tempat dia berasal...

.

.

"Hey, pria brengsek!"

Gaara menoleh, mendapati sosok gadis yang memberikan death-glare kepadanya. "Cih," ia mendengus, "Kau lagi..."

Hening sesaat.

Gaara terlalu malas untuk meladeni satu lagi gadis menyebalkan. Dan Sakura terlalu dikuasai amarah—yang bahkan tak bisa ia letupkan saking besarnya; hanya tangannya yang mengepal kuat dan giginya yang gemeretuk cukup menggambarkan emosinya saat ini. Ia mencoba untuk bersabar.

Bersabar? Yang benar saja.

Karena hanya sebentar, sebentar saja keheningan itu tercipta.

Dengan kecepatan cahaya, sebuah pukulan telak menyebabkan tersungkurnya pemuda berambut merah. Oh, sekaligus memberinya cendramata berupa memar di pipi mulusnya. Sebuah hadiah yang tak akan terlupakan.

"Itu karena kau telah menyakiti temanku..."

Semua pasang mata yang menjadi kesaksian sebuah fenomena mulai mengerjap-ngerjap—tak percaya apa yang telah ditangkap oleh retina mereka sendiri. Beberapa menganggapnya hanya fatamorgana, bahkan ada pula yang segera berpikir untuk mengunjungi dokter mata setelah pulang sekolah.

Tapi ini adalah nyata. Terlampau nyata.

Sabaku no Gaara. Sang Penguasa. Dipukul. Seorang gadis nekat.

Oh, Tuhanku! Apa gadis itu cari mati?

"Kau tidak tahu ya, betapa Matsuri telah susah payah membuat kue itu? Apa kau tidak mengerti apa itu arti ucapan terima kasih? Tidakkah kau merasakan ketulusan darinya? Kau ini..." suara itu terdengar mendesis mengerikan.

"Sakura, sudahlah..."

Tapi permintaan itu hanya terdengar sebagai bisikan lirih, parau, mengiringi butiran kristal yang siap meleleh dari sudut matanya, mengalir ke wajahnya yang bahkan tak karuan lagi.

"Tapi Matsuri..."

Dan gadis itu pun memilih pergi daripada menambah luka dihatinya.

"Kau lihat itu, Gaara? Apa sekarang kau puas?"

"..."

"Kau lukai temanku yang tulus menyukai pria sepertimu..."

"..."

"Kalau kau tak suka, kau bisa menolaknya baik-baik, 'kan? Kau benar-benar bajingan!"

"..."

"Bahkan seribu tamparan pun tak sebanding dengan hancurnya hati Matsuri!"

"..."

"..."

"Sudah cukup bicaranya?"

Pria itu mengusap ujung mulutnya yang ternodai merahnya darah, lalu berlalu, setelah sebelumnya membisikan sesuatu yang sukses, sekali lagi membuat Sakura menggeram penuh amarah : "Pukulanmu lumayan juga. Mungkin lain kali aku juga harus rasakan ciumanmu, apa sama bagusnya dengan tinjumu?"

"GAARA!"

.

.

Suasana taman itu tak pernah berubah, selalu saja menyimpan ketenangan. Angin yang berhembus perlahan, selaras dengan daun-daun menguning yang jatuh perlahan ke permukaan tanah, lalu berhenti; mati.

Segala yang diinginkan pria itu ada di sini. Semua yang begitu sulit ditemukan di antara kemewahan dan kebisingan sekolah ini. Dan semua itulah yang selalu berhasil menjerat pria itu untuk menghabiskan waktunya yang terbuang percuma di tempat ini. Neji.

Dan juga tempat ia bisa mewujudkan tidur siangnya.

Namun entah mengapa, hari ini, semua itu : ketenangan, angin, gemeresik daun; tak bisa mengantarkannya ke alam mimpi. Ke dalam kebahagiaannya yang paling penting—tidur siang.

Dan kini ia tahu apa penyebabnya.

Gadis itu.

Gadis itu begitu menganggu pikirannya.

Sosoknya, senyumnya, suaranya, semua yang ada pada diri gadis itu tak jua menghilang dari pikirannya. Tak bisa.

Hhh.

'Apa yang terjadi padaku?

Perasaan apa yang begitu menyesakan di dadaku?

Kenapa semuanya terasa berputar-putar dalam bayangan gadis itu?'

Sekali lagi dia menghela nafas.

Tak bisa. Ia tak bisa lupa.

'Apa mungkin aku, aku... jatuh cinta?'

Tak boleh.

Ia tak boleh jatuh cinta. Tidak setelah semua yang terjadi. Tidak karena pertunangannya hanya tinggal menghitung hari.

'Dan mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk bahagia bersama orang yang ku cintai.

Lagi-lagi tidak...'

.

.

Pemuda berambut merah itu tengah tersenyum dalam kesendiriannya saat Neji datang. Dan tatapan heran Neji pun tercipta dengan segera, bagaimana tidak, Sabaku no Gaara yang dikenalnya semenjak mereka duduk dibangku taman kanak-kanak, pria yang tak pernah sekalipun menunjukan senyumnya—tentu saja menyeringai tidak termasuk kategori tersenyum, saat ini justru tampak begitu bahagia dan sumringah.

Dan alis Neji terangkat semakin tinggi saat melihat sahabat karibnya itu tertawa pelan.

"Gaara...?" dengan hati-hati Neji menyapa.

"Kau kenapa, Gaara? Kau sakit? Kau tidak salah makan obat, 'kan? Atau kepalamu terbentur sesuatu?"

"Kau ini, Neji. Tidak bisa melihat sahabat sendiri senang, ya?"

Neji masih diam dalam kebingungannya.

"Kau belum juga bisa menangkapnya?"

"Apa?"

"Kau tahu, Neji, aku itu benar-benar genius! Betapapun aku memikirkannya, aku yakin gadis itu benar-benar menyukaiku." Dan Gaara menutup semua tanda tanya besar di benak Neji dengan seringai penuh kemenangan. Oh tidak, malah membuat pria itu makin tidak mengerti.

"Darimana kau bisa berspekulasi seperti itu?"

"Tentu saja, apa lagi? Selama ini, begitu banyak wanita yang mencoba menarik perhatianku. Tapi tak satupun yang berhasil. Mungkin belajar dari pengalaman itu, si rambut merah muda memilih cara yang lain, menarik perhatianku dengan membuatku kesal padanya. Ya harus ku akui, dia cukup berhasil dengan percobaannya."

"Tidakkah kau berpikir itu adalah pernyataan bodoh?"

"Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi kejadian tadi membuatku sadar. Dia cemburu saat ada wanita lain yang mencoba mendekatiku."

"Tapi..."

"Aku tidak mungkin salah, Neji. Aku tidak pernah salah."

"Bukan begitu," Neji menarik nafas, disadari atau tidak, dia sedikit merasa gusar, "Bukankah kau sendiri yang bilang padaku, akan jadi repot kalau gadis itu sampai jatuh cinta padaku—yang artinya juga berlaku untukmu. Dan kau juga yang bilang gadis itu tak pantas untuk orang seperti kita?"

Gaara memutar bola matanya, lalu mendengus. "Entahlah. Mungkin harus ku tarik lagi kata-kataku tempo hari. Menurutku, dia cukup menarik, meskipun aku benci mengakui ini, tapi, hanya dia satu-satunya wanita yang berhasil menyentuhku, memukulku lebih tepatnya. Lagipula, kau 'kan lebih berpengalaman dariku dalam urusan wanita."

"Tapi..."

"Akan menjadi tantangan tersendiri bisa menaklukan wanita liar seperti dia."

"Dan mulai saat ini, aku, Sabaku no Gaara, bertekad untuk mendapatkannya, apupun caranya."

"Terserah kau sajalah, Gaara."

.

.

"Matsuri?"

Yang pertama kali dilihat gadis itu adalah lorong kelas yang sepi, juga kawannya yang tengah tertunduk lesu di sudut ruangan. Langkah-demi-langkah yang diciptakannya tak mampu mengusik keheningan tempat itu—tidak juga dengan tangisan kawannya yang tak bersuara.

"Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu?"

"Aku baik-baik saja, Sakura," Suara itu masih terdengar lemah seperti sebelumnya.

"Caramu menjawab pertanyaanku semakin membuatku yakin kalau kau tak baik-baik saja, Matsuri. Kau menangis," gadis itu lalu duduk di samping kawannya, mencoba lebih dekat—setidaknya dia ingin meredakan tangis itu.

"Ah, mungkin aku salah memasukkan bubuk cabe ke dalam kue itu, jadi terasa pedih di mataku."

Sakura tertawa kecil, "Aku tahu kau tak mungkin salah. Kuemu enak kok."

Kini, kawannya itu menatap wajah gadis itu, mencari kesungguhan di matanya.

"Aku tidak bohong. Tadi aku sempat memakan sedikit kue yang kau letakan begitu saja di mejamu," gadis itu tersenyum tulus. Senyum yang disukai Matsuri.

"Benarkah? Kalau begitu, lain kali aku pasti buatkan kue untuk Sakura-chan."

Lalu mereka tertawa bersama.

"Kau bisa berbagi kesedihanmu padaku. Kau bilang kita adalah teman, 'kan? Teman selalu berbagi saat suka maupun duka. Kau tak perlu menyimpan kesedihanmu sendiri, Matsuri."

Jemari Matsuri bergerak menghapus aliran air yang membekas di wajahnya, "Kau benar, kita adalah teman. Maafkan aku, Sakura."

"Kau tak perlu minta maaf. Hhh, kau tahu, kita adalah dua orang gadis yang bernasib sama. Disakiti oleh cinta..."

"Sakura-chan pernah patah hati?"

Sakura mengangguk tipis, "dan aku tahu, rasanya sakit sekali. Lebih sakit daripada lututmu terluka ataupun kulitmu tersayat-sayat dan dilumuri garam. Rasanya seperti jantungmu ingin loncat keluar dan paru-parumu tiba-tiba saja mengecil, lalu kau sulit untuk bernafas, sesak sekali."

"Ya, kau benar. Aku juga merasakannya sekarang. Di sini, rasanya sakit sekali," Matsuri menyentuh dadanya, lalu tersenyum kecut. "Bagaimana Sakura bisa patah hati? Laki-laki macam apa yang bisa menyia-nyiakan gadis luar biasa sepertimu?"

Mata emerald itu menerawang, "Dulu, aku pernah menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Sasuke..."

.

.

Malam yang indah dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit hitam nan luas. Tak tersentuh jemari kotor manusia—mereka yang hanya bisa memandang takjubku ke atas sana, juga menabur harapan dan keinginan yang begitu banyak tercipta dibenak mereka. Saat yang sangat tepat untuk bersantai dengan teropong bintang di balkon kamar.

Namun tidak bagi seorang Sabaku no Gaara.

Malam ini : tidak ada bintang, tidak ada malam yang indah, tidak ada permohonan.

Makan malam dengan rekan bisnis adalah hal yang lebih penting dari semua itu. Tentu saja ia sadar, sebagai seorang pewaris perusahaan besar, tak ada waktu untuk bersantai-santai, atau bahkan sekedar tidur nyenyak sambil memeluk Teddy Bear kesayangan; meskipun terkadang dirinya ingin berontak, lepas dari semua ini. Namun tidak pernah bisa.

"Tuan muda Gaara, relasi yang akan kita temui malam ini adalah pewaris perusahaan Uchiha, salah satu perusahaan besar di negeri ini. Dia sebaya dengan Anda, mungkin Anda tidak akan bosan dengan meeting kali ini," disamping sang tuan muda, sekretaris keluarganya membacakan jadwalnya hari ini.

"Hn."

"Ah, itu dia puteraku," seorang pria setengah baya yang tengah duduk bersama beberapa orang lainnya menyambut kedatangan Gaara.

"Selamat malam."

"Gaara, ini adalah Uchiha Fugaku, presiden direktur perusahaan Uchiha," seorang pria—yang juga setengah baya berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Gaara. Raut wajahnya yang terlihat tegas dan berwibawa, sekaligus menunjukan gelar bangsawan yang disandangnya.

"Dan ini adalah pewaris perusahaan Uchiha, Uchiha Sasuke."

Seorang pemuda tampan berambut emo bangkit dari duduknya, kemudian menjabat tangan Gaara.

"Mereka sebaya. Mungkin kita bisa mempererat hubungan kerja ini dengan persahabatan putera-putera kita."

"Anda benar, Kazekage-san. Ku lihat mereka memiliki banyak kesamaan. Sama-sama tampan, sama-sama pintar, dan memiliki aura seorang pemimpin."

Sasuke dan Gaara tersenyum tipis.

"Ah, juga sama-sama cool," tawa pun menggema di restaurant milik Sabaku itu. Tentu saja tanpa tawa dari Sasuke dan Gaara.

"Saya permisi sebentar."

Sasuke melangkah pergi dengan diiringi tatapan Fugaku, "Dia memang begitu, tidak suka dengan keributan."

"Khas Uchiha sekali yang pandai menjaga image, bukan begitu?"

Fugaku tersenyum kecil sebelum kemudian meneguk segelas teh yang dijamukan untuknya.

Gaara merasakan handphone di saku celananya bergetar, lalu kemudian "Maaf, Ayah, Uchiha-san, saya permisi sebentar."

"Ya, nee-chan? Apa? Iya-iya. Nanti aku bilang pada ayah. Dan kau berhutang sekotak coklat padaku sebagai upahnya..."

Gaara berhenti melangkah—begitu juga dengan percakapan yang dilakukannya di telepon, saat kakinya merasa menginjak sesuatu di lantai. "Ok, nee-chan. Jika kau membutuhkan sesuatu, tolong jangan telepon aku lagi. Bye."

Sesuatu yang tergeletak di lantai itu cukup menarik perhatiannya. Oh, sebuah dompet. Tampaknya pemiliknya tak sengaja menjatuhkannya saat hendak ke toilet.

Namun yang lebih menarik perhatian Gaara tentu bukanlah kartu atm dan sejumlah uang yang terselip di dalam dompet itu, melainkan sebuah foto yang tersembul di balik kartu-kartu atm-nya. Dan mata Gaara yang cukup tajam, mengenali sosok di dalam foto itu.

Seorang Uchiha Sasuke. Tengah memeluk seorang gadis bermata emerald.

"Gadis ini... Jadi dia..."

.

.

Sakura...

Nama itu selalu saja ada dalam pikirannya. Bukan, bukan hanya namanya. Tapi semuanya dalam diri gadis itu.

Gadis yang selalu saja ada. Dalam buku pelajaran yang sedang dibacanya, dalam dokumen yang harus ditandatanganinya, bahkan dalam wallpaper handphone-nya.

Dan semua kenangan itu kembali berputar dalam ingatannya.

Bahkan ia tak sanggup hanya untuk sekedar membakar foto-foto gadis itu. Tak juga sanggup membuang video-video kebersamaan mereka.

Mata onyx-nya menatap tajam bayangan di cermin. Bahkan di cermin pun, hanya gadis itu yang dia lihat.

"Argh! Sial!"

Tetesan demi tetesan darah mengalir di cermin yang kini telah hancur, remuk.

Sama seperti hatinya...

.

.

Malam telah berganti pagi, saat mentari dengan segala kharismanya kembali merajai langit.

Dan sama seperti hari-hari sebelumnya—sebuah rutinitas yang menjadi kewajiban bagi para pelajar di seluruh dunia. Sekolah.

Namun, arti pergi ke sekolah bagi seorang Haruno Sakura berbeda.

Berbeda dari apa yang dipikirkannya selama bersekolah di Hi Internasional School.

Sekolah bukan lagi sebuah nereka dunia yang dengan mudah membuatnya naik pitam—seperti hari-hari sebelumnya yang begitu menguras emosi, setidaknya bukan hanya hal menjengkelkan yang ia temukan di sana.

Ada beberapa hal yang menyebabkan Haruno Sakura bertahan di sekolah itu.

Seorang kawan baru bernama Matsuri. Juga seseorang yang diam-diam dikaguminya. Seseorang dengan pesona yang begitu memabukan.

Hyuuga Neji...

"Ohayo, Sakura."

Dan seperti yang diharapkan gadis itu. Sapaan yang membuatnya mendapat semangat berkali-kali lipat.

"Ohayo, Neji-senpai," sebisa mungkin Sakura memberikan senyum termanisnya hari ini.

Namun senyum itu perlahan pudar saat mata emeraldnya menangkap sosok lain di balik tubuh Neji.

"Kau..."

Seringai tipis mencul di wajah tampan Gaara, "Ohayo, Sakura."

"Sejak kapan kau tidak memanggilku dengan panggilan 'wanita bodoh, idiot, dan sebagainya' ? Sejak kapan pula kau bersikap manis dihadapanku?" Sakura membalas sapaan Gaara dengan tatapan sinis.

Gaara tertawa kecil, "Aku tak ingin memulai hari ini dengan bertengkar denganmu, Sakura. Jadi aku harap, kau pun begitu."

"Dengan senang hati."

"Lagipula, kau tak perlu berpura-pura lagi dihadapanku. Aku sudah tahu semua maksudmu. Kalau dilihat-lihat, kau lumayan juga," seringai di wajah tampan itu kian melebar, "Kau wanita pertama yang pantas untuk menjadi pendamping Tuan Muda Gaara. Bukankah begitu, Neji?"

"Hah...?"

"Gaara, ayo kita pergi," 'jantungku berdetak menyakitkan.' "Sakura, kami pergi dulu. Sampai jumpa."

Dan dua sosok itu pergi meninggalkan Sakura yang masih terperangkap kebingungannya, "Apa maksudnya? Pendamping? Hah, dasar orang gila..."

.

.

Bayangan gadis itu ada di antara riak-riak kecil di air kolam. Seolah tersenyum padanya. Dan itu membuatnya makin gila.

"Selamat pagi ikan-ikan. Apa kabar kalian hari ini?" dilemparnya kail yang diikatkan pada pancing ke dalam air. Memancing mungkin cara yang tepat untuk membuatnya sedikit lupa pada gadis itu.

Ikan-ikan itu berenang bebas di air kolam yang jernih, berseliweran di antara kail yang menarik perhatian mereka. Ikan-ikan itu mendekat. Ragu. Berlalu.

"Hari ini hari yang cerah. Tapi entah mengapa aku justru kehilangan sense untuk bermain musik..."

Ikan-ikan itu kembali mendekat. Ragu. Berlalu.

"Benar-benar menyebalkan. Sekarang aku merasa tidak terkontrol. Itu sama sekali bukan aku..."

"...dan juga karena gadis itu."

Riak-riak kecil menghiasi permukaan kolam yang jernih. Ikan-ikan tetap berputar di antara kail. Ragu, lalu pergi.

"Neji-senpai?"

Suara itu tidak terdengar mendengking ataupun sebuah teriakan. Namun tetap sanggup mengalihkan seluruh perhatian lelaki di pinggir kolam itu sepenuhnya.

"Sakura? Bagaimana bisa kau ada di sini?"

Gadis itu lantas duduk di samping si pemancing—Neji, "Sekarang ada kelas Seni Rupa, dan kami disuruh melukis pemandangan. Huh, aku tidak dapat inspirasi. Aku 'kan tidak jago melukis."

Neji mengangguk mengerti saat dilihatnya barang-barang yang dibawa gadis itu : buku sketsa dan pensil, "Seharusnya ku kenalkan kau pada Sai."

"Sai? Maksud senpai Sai—pelukis no.1 di Jepang itu?"

"Hm. Dia juga sahabatku. Sama seperti Gaara."

Mendengar nama Gaara, Sakura tersenyum kecut. "Senpai sendiri sedang apa di sini? Bukankah seharusnya senpai sedang berada di kelas?"

Lirikan Neji pada pancing di tangannya membuat Sakura tertawa malu, "Hahaha. Tentu saja senpai sedang memancing."

Sakura mengamati ikan-ikan yang berseliweran di antara kail, lalu mata emerald indahnya melebar. "Bagaimana mungkin senpai memancing tanpa umpan?"

Neji tersenyum tipis, "Kau lupa atau memang tidak membaca tata tertib sekolah ini? Seluruh hewan yang berada di lingkungan sekolah dilindungi. Lagipula aku tak benar-benar ingin memancing. Hanya sekedar berbagi cerita bersama mereka. Mungkin dengan begini, mereka bisa mendengarkanku."

Sakura tertawa geli mendengarnya. Tawa yang terdengar merdu di telinga pria itu.

Dan kini ikan-ikan itu pun tahu, mengapa Neji memancing tanpa umpan.

"Kau yakin tak perlu ku antar pulang, Sakura?" Neji sedikit menatap cemas gadis di hadapannya.

"Tak perlu, senpai. Aku bisa pulang sendiri," Sakura tersenyum meyakinkan.

"Tapi kau bilang supirmu tak bisa menjemput," Neji masih bersikeras mengkhawatirkan gadis itu.

"Aku bisa pulang naik bis, kok. Sesekali, aku juga pulang menggunakan bis. Senpai tak perlu khawatir. Gadis kuat sepertiku akan sampai rumah dengan selamat," Sakura memutar bola matanya jenaka.

"Kalau begitu, ya sudah. Hati-hati," Neji akhirnya mengalah. Tak ingin memaksakan kehendaknya. Meskipun ia masih merasa sedikit khawatir.

"Ja matta, Neji-senpai!"

Dan detik berikutnya, langkah gadis itu terus menjauhi sosok Neji yang tengah berdiri di samping Ferrari-nya.

Namun gadis itu tak pernah pergi kemana-mana. Karena gadis itu telah tertanam kuat di dalam hatinya...

.

.

Langkah Sakura menuju halte yang terletak tak jauh dari gerbang sekolahnya, terhenti. Terhenti demi seseorang yang berdiri di hadapannya saat ini.

Dia.

"Sakura..."

"Kau mau apa, Sasuke?" Mata emerald-nya menatap tajam sosok pemuda itu. Pemuda tampan yang sempat begitu dicintainya. Bahkan sampai saat ini, cinta itu masih tersisa di dalam hatinya.

Jarak antara mereka semakin menipis saat Sasuke mendekati gadis itu, mencoba menyentuh tangannya.

Tapi Sakura menepisnya.

"Tak cukup apa yang kau lakukan padaku dulu? Tak cukup membuatku merasa sakit? Sasuke?"

"Maafkan aku."

Sakura masih menatap sosok itu, tajam. Dadanya naik turun; menghirup oksigen yang semakin sulit didapatkannya.

"Jadi, apa maumu?"

Titik-titik air mulai jatuh dari langit; membasahi jalanan yang sepi.

"Aku pikir keputusanku adalah yang terbaik. Aku pikir aku sanggup melupakanmu. Tapi ternyata tidak. Kau bagaikan udara bagiku. Aku tak bisa bernafas tanpa udara itu. Aku membutuhkanmu dalam hidupku."

"Lalu apa?"
"Kembalilah padaku."

Sakura tertawa getir. "Semudah itu? Semudah itu kau minta aku untuk kembali? Kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan wanita pewaris perusahaan Oto itu?" Suara gadis itu meninggi. Ia mencoba meredam amarah, namun gagal. Rasa itu sakit, sampai tidak tertahankan.

"Itu yang mau aku jelaskan padamu..."

"Jangan sentuh aku Sasuke," tangan gadis itu kembali menepis Sasuke. "Tak ada yang perlu dijelaskan, toh aku tak peduli sekarang. Jangan pernah temui aku lagi dengan peran seperti ini, karena jika kita bertemu kembali aku ingin semuanya baik-baik saja dan kau adalah temanku. Dan satu hal lagi Sasuke. Kau salah menilaiku. Aku bukan udara. Aku adalah angin. Dan angin yang berhembus, tak akan pernah kembali ke tempat dimana dia berasal..."

Tak ada air mata. Tidak lagi. Sakura tahu ia tidak boleh menangis.

Dan gadis itu kembali melangkah, ditengah hujan yang semakin lebat mengguyur bumi. Namun ia tak gentar. Dan tak ada tangis yang mengiringi langkahnya.

Sasuke merasa dadanya menjadi sesak sampai ia tak mampu lagi berdiri dengan kedua kakinya. Dan membiarkan air hujan menghakimi dirinya.

"Kau tak tahu Sakura. Aku terpaksa. Aku lakukan semua itu untuk keluargaku... Untuk Uchiha... Tapi aku malah menyakiti orang yang paling aku cintai. Aku benar-benar bodoh," bisikan itu terdengar lemah.

"Aghhhh!"

Dan teriakan itu tak ada gunanya. Dan tak juga bisa membawa angin kembali ke tempat asalnya. Tak akan pernah bisa.


Eotteokhanya

Chakku nappeun ma-eumeul meokge dwae

Mianhae

Ireomyeoneun andoeneungeol ara

Keojitmal keojitmalira marhamyeon

Marhamyeon nae ma-eumi dasi tolagarkka

Nunmulina

Neomu mianhaeseo nungil motjugo

Kaseumap'a

Ch'eotmadireul mweollo hae

Saenggakanna...


Lagi-lagi langkah Sakura terhenti. Kini oleh sosok-sosok berbaju hitam yang menghadangnya. Sosok-sosok yang berpakaian layaknya para bodyguard. Atau mereka memang benar-benar bodyguard?

"Nona Sakura, ikut kami."

Dalam ingatan Sakura yang begitu kuat, tak pernah ada tampang-tampang seperti ini dalam barisan bodyguard keluarganya. "Kalian bukan anak buah ayahku, 'kan?"

Salah satu dari mereka menggeleng. "Sebaiknya nona ikut kami. Ada seseorang yang ingin menemui Anda."

Sakura memasang tampang curiga. 'Apa aku akan diculiknya? Oh tidak Kami-sama! Lindungi aku!' Dilihatnya sekeliling, jalanan itu tampak sepi. Percuma mengharapkan pertolongan. Ia lalu mencoba mengingat beberapa jurus karate yang diajarkan Sasuke. Lumayan untuk pertahanan diri.

Seseorang membius Sakura dengan saputangan saat gadis itu menyiapkan kuda-kuda. Tubuh tinggi langsingnya langsung ambruk, untungnya ditangkap sebelum menyentuh tanah. Dan mereka memasukan Sakura yang dalam keadaan tak sadarkan diri kedalam Jaguar silver yang kemudian melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan daerah itu...

~ToBeContinued~

Fight the Bad Feeling © T-Max

A/N: Hohoho. Berjumpa lagi dengan saya, Uchiha 'Kim Bum' Vnie chan! Lama tak ada kabar di dunia , membuat saya begitu merindukannya. Hhh. Apa daya, tahun pertama di program IPA ternyata begitu menyita waktu saya, termasuk membuat fic. Tapi untunglah, akhirnya diberi kesempatan untuk liburan. Update-an pertama : BEFORE SUNSET. Sebuah chap—yang lagi-lagi tak jelas. Hhh, tak apalah. Yang penting hasrat untuk update fic terlaksana juga. Semoga fic yang lain segera menyusul.

Saya juga ingin mengucapkan :

"Merdeka Indonesia! Akhirnya Noordin M Top mati juga!" *dikemplang*

dan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Mohon maaf lahir batin.

Terima kasih telah membaca fic saia.

Saya tunggu kritik dan sarannya.

Keep or Delete?

Uchiha Vnie-chan