NARUTO © Masashi Kishimoto

.

.

BEFORE SUNSET © Uchiha Vnie-chan

.

.

Genre(s) : Romance/General

Rated : T

Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, Hyuuga Neji, Uchiha Sasuke

Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku, SasuSaku; slight NejiHina

Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru, OOCness

.

.

Stand by me... Together make it love, Forever make it your smile.

.

.

Summary : What Should I do? Even now, I live each painful days because of your words... Aku merindukannya. Dan karena cinta tak harus memiliki, maka aku akan melepasmu. Karena Tuhan telah memberiku takdir yang lain.

.

.

.

Pernah mendengar legenda flying clover berhelai empat?

Dalam cerita itu dikisahkan bahwa flying clover berhelai empat yang amat langka dapat mengabulkan permohonanmu. Apapun.

Tapi adakah bagian dari kisah itu yang mengatakan bahwa untuk mendapatkannya, kau harus mengorbankan sesuatu yang lain yang amat berharga?

Karena pada kenyataannya, daun sialan itulah yang telah merebut semua kebahagiaan ini dariku.

.

.

"Dia... Uchiha Sasuke."

Emerald melebar seketika demi sebuah nama yang meluncur dari mulut Sabaku.

Onyx itu.

Onyx yang menatap bosan sekelilingnya. Onyx yang selalu memancarkan ketegasan dalam dingin, datar—namun menyimpan misteri.

Onyx yang lantas terkunci ketika bertemu pandang dengan emerald.

Dan ia berpaling.

"Sudah selesai, 'kan?" sang pemilik onyx melangkah pergi begitu saja, melewati dua kawan barunya—Sabaku dan Hyuuga yang berpandangan sesaat sebelum akhirnya mengikuti langkah pemuda emo itu.

"Tidak mungkin... Sasuke...?" Emerald itu menyipit perlahan.

Apa lagi ini?

Gadis itu lantas menghela napas. Kepalanya tiba-tiba terasa pening.

Oh, Tuhan.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" Di samping gadis itu, Matsuri menatapnya khawatir.

"Ya. Aku baik-baik saja..."

.

.

Tak adakah yang menyadari bahwa sebelum pergi, Sabaku menoleh, sekedar untuk memastikan reaksi gadisnya atas semua hal itu?

Sasuke. Sakura.

Sebuah kepingan masa lalu yang telah berpencar bagaikan puzzle yang tidak lagi tersusun rapi.

Haruskah ia membantu menyatukannya kembali?

Atau justru ia adalah bagian dari mozaik itu?

Tidak tahu.

.

.

Sial!

Ada apa dengan dirimu, Sasuke?

Sial! Sial! Sial!

Kenapa?

Aku tidak tahu.

Kau merasa sakit, 'kan?

Aku tidak tahu.

Kau merindukannya.

Begitukah?

Wajah cantik itu. Rambut merah muda itu. Emerald itu. Semua yang selalu mengganggu tidurmu, mengusik ketenanganmu. Iya, 'kan?

Aku... Merindukannya.

Lantas?

Aku tidak tahu.

Tidak Sasuke, semua ini belum berakhir.

...iya, 'kan?

.

.

"Sasuke?"

"Hn, Gaara. Ada apa?"

Pria berambut merah itu lantas memposisikan diri di antara Ferrari dan kawannya, menyenderkan tubuhnya pada mobil kesayangannya itu.

"Apa alasanmu pindah sekolah kesini?"

Sasuke menoleh sesaat pada pemuda berambut merah itu, lalu kembali fokus pada pekerjaannya sedari tadi—memainkan kunci mobil di antara jemari tangan kanannya.

"Tak ada alasan khusus, kurasa. Kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?"

Hijau teduh itu lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan menemukan merah muda di antara kerumunan, "Hanya sedikit penasaran. Karena kupikir, kau punya alasan kuat untuk itu."

Kunci mobil di tangan Sasuke meluncur ke permukaan tanah. Onyx-nya terpejam sesaat sebelum ia membungkuk dan mengambil kunci Buggaty-nya itu.

"Tak usah dipikirkan. Kita pergi," kemudian Gaara masuk ke dalam Ferrari-nya dan berada di belakang kemudi, membuat kecepatan yang menyebabkan benda itu bergerak meninggalkan lapangan parkir.

Sebuah helaan napas. "Ya. Aku punya alasan untuk itu..."

Dan Bugatty itupun mengikuti jejak Gaara.

.

.

"Sakura..."

Suara yang sangat ia kenal. Suara yang setidaknya selama beberapa waktu terakhir yang telah dilaluinya, menjadi begitu akrab di indera pendengarannya. Suara yang sempat melambungkan hatinya tinggi-tinggi.

Namun juga menghempaskannya sekeras-kerasnya.

"...ya, Neji?"

Berbeda. Neji tahu itu—ia merasakannya. Sangat merasakannya.

"Apa kau ada waktu, sebentar saja? Mungkin sepuluh menit," tampak keraguan di wajah Sakura sebelum kemudian gadis itu mengangguk.

Dan mereka berdua yang kini berada di salah sudut sekolah itu.

"Bicaralah," Sakura yang telah bosan menunggu pemuda di hadapannya yang sedari tadi membisu akhirnya berinisiatif membuka mulut.

Pemuda di hadapannya masih terdiam. Beberapa kali ia meneguk ludahnya sendiri dengan gugup. Lavender-nya juga bergerak-gerak gelisah.

Lalu menghela napas.

"Sebelumnya, aku ingin meminta sesuatu kepadamu, Sakura. Apapun yang aku katakan, dengarkan aku."

Akhirnya berbicara.

"Aku tidak tahu harus memulai semua ini darimana, tapi aku benar-benar harus mengatakannya..." Dan dibiarkan mengambang kalimat itu.

Sakura hanya diam—memberikan kesempatan pemuda berambut coklat panjang itu meneruskan.

"Aku... Aku ingin mengucapkan terima kasih."

"Untuk?"

"Terima kasih atas kebahagian yang telah kau bagi bersamaku selama ini. Terima kasih untuk semuanya, Sakura," lavender yang sedari tadi gelisah, tatapannya kini melembut.

Dan Sakura melihatnya. Tatapan yang sama seperti di hari pertama pertemuan mereka.

Mau tak mau, segaris senyum tipis terbentuk pada keduanya.

"Kenapa tiba-tiba mengatakan ini? Seperti kau akan meninggalkanku saja. Atau kau benar-benar akan menghilang dari hadapanku?" mencoba menemukan nada pembicaraan yang tepat, Sakura memaksakan tertawa kecil. Meski lebih terdengar sebagai sesuatu yang miris.

Tak usah dijawabpun, dia sudah tahu.

"Mungkin."

Tak ada keterkejutan yang ditunjukan gadis itu.

Karena ia sudah tahu, semuanya akan jadi seperti ini.

Sejak awal, dia sudah tahu.

"Apa aku melakukan suatu kesalahan padamu sehingga kau minggat begitu dari hidupku?" Sakura masih mempertahankan ketenangan dalam bicaranya.

Sesungguhnya ia ingin menangis.

Tapi tidak boleh. Ia sudah berjanji.

"Kau tidak pernah melakukan kesalahan apapun padaku, Sakura. Tidak sama sekali. Dan kau tak perlu khawatir, sebenarnya. Aku bukan mau meninggalkanmu, hanya saja..."

Dan Neji menghela napas lagi. "Tuhan memberiku takdir yang lain."

"Aku tidak mengerti."

"Terkadang aku ingin bersikap egois. Aku ingin bahagia dengan caraku sendiri, tanpa campur tangan Tuhan. Tapi nyatanya, aku selalu tak bisa seperti itu."

Tangan pucat pemuda itu terulur, membelai rambut gadis itu perlahan.

Ingat Neji. Ini yang terakhir kali...

Sedikit tersentak atas perlakuan pemuda itu, namun tak membuat Sakura menepis atau melakukan penolakan atas sentuhannya. Karena bagaimanapun gejolak yang melandanya kini, tak bisa dipungkiri bahwa gadis itu menginginkan sentuhan ini. Sangat membutuhkannya.

"Neji..."

"Maafkan aku."

Dan satu pelukan.

Terlalu tiba-tiba.

Emerald itu benar-benar terkejut sekarang.

Ini tidak benar, Sakura. Ini tidak benar.

"Neji, lepaskan."

Semakin erat. "Kumohon, biarkan seperti ini, sebentar saja. Sebentar saja..."

Hening.

Dan emerald itu meredup.

Ini yang terakhir.

Dan setelah ini, kau harus benar-benar melepasnya.

Karena cinta tak harus selalu memiliki.

...iya, 'kan?

.

.

Gadis berambut indigo itu melangkahkan kakinya dengan gelisah. Entah sudah berapa lama ia menunggu, berapa kali ia mengitari ruangan itu dalam kecemasannya.

Lavender-nya tak memiliki ketenangan seperti biasa.

"Bisakah kau hentikan langkahmu sekarang juga, Hinata? Aku pusing melihatmu seperti itu," pemuda di sampingnya mendengus.

"Kau ini bagaimana sih, Gaara? Kau harus bertanggung jawab. Karena seharusnya Neji-nii pulang bersamamu, tapi sampai sekarang dia tidak muncul juga. Dan bukannya menunjukan rasa bersalah, kau malah semakin memperparah keaadaan dengan komentar-komentarmu itu," mendelik marah, lalu gadis itu kembali melanjutkan aktifitasnya—berjalan berkeliling ruangan yang tak bisa dibilang sempit itu.

"Ini seperti bukan kau saja. Dan kau harus tahu, Hinata, aku bukan baby sitter Neji. Dia bukan tanggung jawabku."

Lalu hening. Hanya ada suara hak sepatu gadis itu yang beradu dengan lantai marmer putih.

"Kurasa kau tak perlu sekhawatir ini, Hinata. Neji tak mungkin kabur dengan wanita lain, setidaknya dia tidak senekad itu," lagi, Gaara mendengus. Kelakuan teman masa kecil sekaligus calon tunangan sahabatnya itu menguras kesabarannya yang memang tipis.

"Aku harap juga begitu."

"Ah, atau mungkin saat ini Neji sedang mengurus kepergiannya ke Amerika untuk menyusul Tenten..."

"Aku harap juga... Eh? Gaara! Berhenti membuatku semakin cemas. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Neji-nii tidak mungkin kabur dengan wanita lain."

"Tenten bukan 'wanita lain' kalau kau lupa akan hal itu," lsavender gadis itu kini benar-benar tertuju pada Gaara. Menatapnya tajam.

"Maksudmu apa?"

"Cih. Pura-pura tidak tahu."

Emosi pemilik lavender itu semakin terpancing. "Kalau maksudmu Tenten yang sekarang ini adalah wanitanya Neji-nii, kau salah Gaara. Dia hanya bagian dari masa lalunya."

"Lalu kau sendiri apa?" Gaara menantang lavender yang terbakar cemburu itu, "Pernahkah kau bisa memastikan tempatmu dalam kehidupan Neji? Kau bahkan tak pernah tahu posisimu di hati Neji, Hinata. Sebaiknya kau sadari itu, demi kebaikanmu sendiri juga..."

Gadis berambut indigo itu sudah akan membuka mulut lagi jika saja Sasuke tak memutus komunikasi kedua makhluk di hadapannya, sebelum semuanya bertambah panas. "Diamlah. Dia sudah pulang."

Dan sosok lelaki berambut cokelat panjang muncul dari balik pintu yang dibukanya.

Sedikit kacau.

"Neji-nii, kau darimana saja?"

Lavender bertemu lavender.

"Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, jadi aku terlambat. Maaf membuat kalian menunggu lama."

"Dan bisakah, kalian meninggalkanku sendiri? Aku lelah, ingin beristirahat."

"Tapi bagaimana dengan..."

"Aku akan menghubungi kau dan Sasuke nanti. Jadi kalian bisa pulang sekarang. Dan Hinata, kita akan bertemu pada jam makan malam nanti," dan bahasa tubuh Neji kali ini benar-benar menunjukan bahwa ia ingin ditinggalkan sendiri di kamarnya itu. Pengusiran dengan cara halus.

"Baiklah. Sampai jumpa pada makan malam kalau begitu, nii-san."

Hanya tersisa Neji.

Neji yang benar-benar lelah.

"Apa aku sanggup menjalani semua ini, Kami-sama? Aku sudah lelah..."

.

.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celai tirai. Mengusik tidur gadis yang tengah mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Dan memperlihatkan emerald yang begitu memikat saat terbuka sepenuhnya.

Jam 06.00 a.m.

Sekolah.

Sial.

Sesungguhnya ia belum siap untuk pergi ke sekolah lagi. Belum siap bertemu Sasuke lagi. Benci jika harus bertemu Gaara. Dan juga tidak mau bertemu Neji...

Sial.

Apa yang telah terjadi antara ia dan Neji kemarin telah membuat gadis itu semakin tak karuan.

Bukankah ia telah bertekad melepas pemuda itu? Toh, ia tak berhak mengikat cinta sepihaknya pada Neji, bersikukuh mempertahankannya.

Tapi, apa yang Neji katakan, apa yang pemuda itu lakukan padanya hari itu benar-benar membuat ia semakin tak mengerti dengan kondisinya. Mempersulit keadaannya.

Kenapa dia memelukku? Semakin membuatku sulit untuk menghapus sesak ini, rasa sakit aku sulit untuk melepaskannya.

Aku harus bagaimana?

Sebelah tangannya bergerak mengacak rambutnya sendiri, sedikit meluapkan rasa frustasinya.

Langkah gadis itu membawanya ke kamar mandi. Menyalakan shower yang menjatuhkan tetes air dingin yang menimpa tubuhnya, membiarkan dingin itu menembus hingga ke dalam tulangnya.

Rambut merah mudanya benar-benar telah basah seutuhnya, sebagian menutupi wajah cantik yang nampak pucat itu.

Merasa lebih baik, gadis itu lantas mematikan shower, membalut tubuhnya dengan jubah mandi. Dan kini sibuk mengeringkan rambutnya dengan selembar handuk.

drrrt-drrt-drrrt

Tangannya menggapai I-phone-nya yang bergetar di atas meja rias.

1 new massage

'ok'

From : Matsuri-chan at 06.25 a.m

Kau masih di rumah, Sakura-chan? Bisakah kau datang lebih pagi? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.

'reply'

To : Matsuri-chan

Aku baru selesai mandi. Hmm, aku akan ada di sekolah 20 menit dari sekarang.

'send'

Segera ia memakai seragam sekolahnya, melapisinya dengan sweater berwarna senada dengan rambutnya. Dan memakaikan make-up tipis pada wajahnya.

Sempurna.

Membawa tas, I-phone, dan kunci mobil, lalu memakai sepatu.

"Pagi, ayah, ibu," kecupan singkat mendarat di pipi pasangan suami-istri Haruno.

"Pagi, sayang."

"Aku langsung berangkat saja ya, bu."

"Tidak sarapan dulu, Saku?"

"Tidak usah. Aku sarapan di sekolah saja."

Sekali lagi ia mendaratkan kecupan singkat itu pada kedua orangtuanya. Dan berlari kecil menuju Honda Jazz-nya yang ia akan kemudikan.

Menuju sekolah.

.

.

"Sakura!"

Emerald milik gadis itu menemukan sosok sahabat berambut coklatnya yang tengah tersenyum lebar.

"Maaf membuatmu harus datang lebih pagi, Sakura-chan."

Tersenyum, Sakura memukul pelan bahu sahabatnya, "Itu bukan masalah. Bukankah ada yang ingin kau katakan padaku, Matsuri?"

"Hmm. Bagaimana kalau ke kantin? Kau sudah sarapan?"

Mendapati gelengan sebagai jawabannya, Matsuri menyeret gadis emerald itu mengikutinya hingga ke kantin.

"Duduklah dan pesan makanannya. Aku yang traktir!"

Sebelah alis Sakura terangkat mendengarnya, "Ini bukan hari ulang tahunmu, 'kan? Atau kau baru saja menang lotre?"

"Itu tidak penting. Makan saja sepuasmu, ok?"

Menghabiskan sarapannya dalam waktu 5 menit, setelahnya Sakura memfokuskan diri pada Matsuri yang sedari tadi sabar menunggunya, "Nah, jadi kau mau mengatakan apa?"

"Ah, ano, itu..." keceriaan Matsuri lenyap, dan kini ia gugup.

"Hmm?"

"Sebenarnya, ini tentang pembicaraan kita yang belum rampung waktu itu. Menyangkut hubunganmu dengan Gaara."

"Oh, tentang hal itu. Aku dan Gaara tidak ada..."

"Kyaa~ Gaara-sama!" Keributan itu lagi.

Wajah Sakura berubah masam mendengar nama itu dielu-elukan. "Hhh, mau apa sih dia, pagi-pagi sudah membuat kantin ribut..."

"Sakura."

Dan gadis itu mendongak.

Gaara.

"Mau apa kau?" desis gadis itu.

"Aku mau bicara denganmu. Ikut aku," tangan pemuda itu mencengkram pergelangan tangan Sakura, menariknya pergi.

"Hey! Kau tidak lihat aku sedang bersama berbicara bersama temanku? Dan lepaskan tanganku. Kau membuatnya hampir putus," Sakura berusaha keras melepaskan cengkraman Gaara.

Melihat Sakura yang meringis kesakitan, Sabaku itu melonggarkan cengkramannya. "Baiklah, aku akan bicara di sini," selembar amplop berwarna silver disodorkannya pada gadis yang masih menatapnya sebal.

"Apa ini?" dan mata emerald menangkap tulisan yang terukir di atas kertas tersebut. Sebuah undangan.

"Pesta pertunangan Neji," Gaara menjelaskan.

Sakit.

Tapi Sakura harus membiasakan diri dengan rasa sakit itu.

"Lalu?"

"Aku mau kau datang ke pesta itu."

"Aku jelas akan datang ke pesta pertunangan Neji."

"Sebagai pasanganku."

"Sebagai pasangan— Apa?"

Memutar bola matanya, Gaara tersenyum mengejek, "Rupanya, selain bodoh, kau juga jadi tuli ya?"

"Kau!"

"Kubilang, kau akan datang ke pesta itu sebagai pasanganku."

"Kalau aku tidak mau?" lebih terdengar sebagai penolakan daripada sebuah pertanyaan.

"Aku tidak memberimu pilihan, Nona Haruno. Jadi, jangan membantah, ikuti saja apa mauku," gaya bicara khas Gaara.

"Tapi..."

"Kujemput kau besok malam, di rumahmu. Atau kau mau ke rumahku lagi?" seringai menggoda miliknya itu.

"Aku 'kan tidak bilang setuju, baka!"

"Sampai jumpa besok malam, Nona Haruno," dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, pemuda bertatoo ai itu melangkah pergi meninggalkan Sakura yang masih berusaha menolak pemaksaannya.

"Seenak saja!"

"Ah, aku lupa satu hal," menoleh pada gadis itu, Gaara mendekatkan wajahnya pada telinga Sakura, dan membisikkan, "Itik buruk rupa, kau harus tampil cantik."

Dan,

cup.

Satu kecupan di pipi Haruno Sakura.

"Sampai jumpa," dan pemuda itu benar-benar menghilang dari hadapannya.

"GAARA!"

.

.

Panas.

Sakit.

Mataku terasa panas. Dan hatiku benar-benar sakit.

Gaara dan Sakura.

Aku tidak tahan lagi.

Benar-benar tidak tahan.

Mataku terasa benar-benar panas sekarang.

Apa benar Gaara lebih menyukai Sakura dibandingkan aku?

Dan sakit yang semakin menjadi-jadi.

Aku sudah tidak dapat menahannya lagi.

.

.

"...Matsuri? Matsuri?" Sakura menepuk-nepuk pundak gadis di sampingnya berulang kali. Tak ada respon.

"Hey, kau menangis, Matsuri! Kau kenapa?" Sakura menjadi panik saat kristal-kristal air meluncur bebas dari kedua mata sahabatnya itu.

"Aku... Aku..."

Lari.

Tak ada cara lain. Ia harus lari.

Tak sanggup menerima kenyataan bahwa gadis bermata emerald inilah yang telah menghancurkan cinta pertamanya.

"Matsuri!"

.

.

Besok.

Huh.

Apa kau siap, Neji?

Bukankah dari jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan semua ini?

Tapi sekarang berbeda. Kau. Tidak. Siap.

Memangnya aku bisa apa? Kabur dari pertunangan ini? Mengacaukan pestanya? Lalu kabur dengan Sakura? Begitu?

Huh.

Kau tidak akan berani.

Ya. Aku memang tidak akan pernah berani melakukan hal macam itu.

Pecundang.

Huh.

Aku memang pecundang.

.

.

drrrt-drrrt-drrrt

1 new massage

From : Gaara at 03.04 p.m

Keluarlah.

Neji berjalan mendekati jendela, mencari sosok berambut merah yang mungkin akan terlihat dari sana.

Gaara dan Sasuke.

To : Gaara at 03.04 p.m

Aku keluar sekarang.

.

.

"Yo, Neji."

"Hn."

"Gaara, Sasuke."

Lapangan basket di halaman belakang Mansion Hyuuga itu lama tak digunakan. Terakhir kali, hampir satu tahun yang lalu, saat Gaara, Neji dan Tenten masih sering berlatih bersama—terkadang melakukan battle juga.

Bahkan Neji harus membongkar isi gudang belakangnya untuk menemukan bola basket yang lama tak disentuhnya.

"Ini."

Sasuke menangkap chest pass Neji yang tertuju ke arahnya dengan sempurna.

Lalu sosok emo itu men-dribble bola melewati Gaara yang masih berusaha merebut benda bundar itu dari tangannya.

Masih menguasai bola, Sasuke melakukan lay-up, shoot, dan masuk.

Bola memantul pada lantai lapangan itu, dan berpindah kuasa pada Gaara.

"Kau lumayan juga, Uchiha."

Menunjukan teknik dribbling yang profesional, Gaara mampu mengecoh Neji dan melakukan slamdunk.

"Tapi aku lebih hebat darimu."

"Hn. Aku belum menunjukan kemampuan yang sebenarnya, Gaara. Jangan sombong dulu."

Pemilik onyx itupun melakukan teknik slam dunk walking in the air-nya.

Neji yang tak mau kalah. Dengan teknik slamdunk andalannya—cross over dunk, ia mencetak point berikutnya.

"Aku belum selesai," three point shoot milik Sabaku no Gaara.

Dan permainan basket yang dilakoni pewaris Sabaku-Hyuuga-Uchiha itu berhasil menguras tenaga mereka, menghasilkan jumlah keringat di atas rata-rata pada aktivitas biasanya.

Tapi, bermain bersama sahabat itu menyenangkan, bukan?

Beberapa pelayan membawakan softdrink untuk ketiga tuan muda itu.

Yang meneguk isinya sampai habis.

"Sudah lama aku tak melatih otot-ototku. Jadi sedikit kaku," Neji menggerak-gerakan tangannya yang terasa pegal; akibat sudah lama tak terbiasa dengan basket.

"Kau terlalu sibuk dengan biola-mu itu, 'kan?"

Tersenyum tipis, Neji membuka botol kedua yang akan diminumnya.

"Kau mantan kapten tim basket 'kan, Sasuke?"

"Hn," Sasuke membaringkan tubuhnya di lantai—lelah juga.

"Seharusnya kau bertemu dengan Tenten. Dia lawan yang tangguh—satu-satunya wanita yang pernah mengalahkan aku. Benarkan, Neji?" Gaara melirik sobat berambut panjangnya itu melalui sudut matanya.

"Ya," dan diam.

"Apa kau merindukannya?"

Meneguk lagi isi softdrink dari botol di tangannya, "Tentu saja. Dia lawan yang menyusahkan sekaligus teman yang sangat bisa diandalkan."

"Bukan itu maksudku."

Neji mengalihkan pandangannya pada Gaara.

"Kau merindukannya."

Tertawa kecil. "Aku sangat merindukannya."

"Neji."

"Apa?"

"Kau yakin dengan keputusanmu? Menerima pertunangan ini. Kau dan Hinata..."

"Sudah terlambat untuk menyesalinya."

Sasuke memejamkan matanya saat berkata, "Kau tak mencintainya."

"Cinta. Itu tak penting lagi. Mungkin aku memang ditakdirkan berjodoh dengan adik sepupuku sendiri. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menerima semua ini, 'kan?"

"Kau berhak bahagia."

Lavender milik Neji melembut, "Aku tahu. Tapi mungkin, inilah versi bahagia yang Tuhan berikan padaku."

"Kami akan selalu mendukungmu, apapun keputusanmu, Neji. Kami hanya ignin yang terbaik untukmu. Kau tak perlu khawatir, karena kau punya kami."

"Hn."

Menahan tawa, Neji mendengus, "Sejak kapan kau pandai merangkai kata-kata manis seperti itu, Gaara?"

"Sialan kau, Neji..."

.

.

Besok.

Bukankah kau menanti hari esok?

Berharap esok adalah bahagiamu.

Ataukah esok adalah bencana yang Tuhan sisipkan dalam kisah hidupmu?

Tak pernah ada yang tahu.

Rahasia tentang esok hari.

.

.

ToBeContinued~

.

.

A/N : Hwa~ Minna-san! Akhirnya saya menepati janji saya untuk update fic ini. Molor berapa lama? Setelah sekian lama, akhirnya saya menemukan pegangan untuk melanjutkan kisah ini. (Halah) Bagaimana? Apa ada peningkatan dari chapter-chapter sebelumnya? Ataukah justru semakin memburuk? *pundung dipojokan*

Meleset dari dugaan, sebelumnya direncanakan bahwa chapter ini adalah chapter klimaks-nya : pesta pertunangan NejiHina, scene SasuSaku, scene GaaSaku, dan konflik-konflik pokok lainnya. Tapi ternyata tidak bisa. Karena jika dibuat seperti itu, kesannya terlalu dipaksakan, alurnya juga jadi terlalu cepat. Padahal chapter ini juga alur-nya sedikit acak-acakan.

Artinya, chapter depan bukan last chapter dong.

Masih butuh dua atau tiga chapter lagi untuk merampungkan cerita ini. Semoga minna-san tidak bosan membacanya, ya.

Saya berjanji untuk tidak mentelantarkan fic ini lagi. Semoga bisa update kilat masa liburan~

Maaf saya belum sempat membalas review satu-per-satu. Tapi saya telah membaca semua review minna-san dan itu benar-benar berarti untuk saya. Review adalah penyemangat saya dan memberi saya kesadaran akan tanggung jawab untuk menyelesaikan fic ini. Terimakasih yang sedalam-dalamnya. Saya sayang kalian~ *peluk-peluk semuanya* :D

Untuk silent-reader juga tak lupa saya ucapkan terima kasih telah bersedia membaca fic saya. Tapi alangkah baiknya jika Anda meninggalkan jejak berupa review. :) *ditampol. Ngarep!*

p.s : Fic saya yang lain segera update. SasuSaku fans, review fic oneshot saya : I SEE YOU, dong. Silahkan cek di profile saya. :D

Kritik dan saran Anda sangat saya butuhkan untuk memperbaiki kualitas fic ini.

Review?