NARUTO © Masashi Kishimoto

.

.

BEFORE SUNSET © Uchiha Vnie-chan

.

.

Genre(s) : Romance/General

Rated : T

Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, Hyuuga Neji, Uchiha Sasuke

Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku, SasuSaku; slight NejiHina

Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru, OOCness

.

.

Stand by me... Together make it love, Forever make it your smile.

.

.

Summary : Love is fire. Cemburu, eh? Biarkan mereka berdua memiliki kenangan untuk malam itu. Sebab setelah ini, semuanya akan berubah. The way you look at me. "Aku, menolak pertunangan ini."

.

Malam segera menguasai bumi dalam gelapnya. Meski ada purnama yang dengan angkuhnya bertahta di langit malam itu, juga dengan milyaran cahaya-cahaya setampak titik yang bertebaran di langit, malam tetaplah gelap, sebab tak ada yang dapat mengalahkan sinar matahari—yang meski hanya seorang diri dapat memberikan cahayanya untuk menerangi planet ini dalam keadaan terang.

Tapi pemuda itu sesungguhnya lebih menyukai malam. Malam yang gelap, malam yang sepi. Dan malam yang penuh bintang.

Seperti malam itu, sang pemuda tampan berambut merah yang dimaksud menghabiskan waktu beberapa menitnya untuk berdiri di balkon. Mata hijau teduhnya menengadah ke langit, dan terdiam. Tak sedikitpun fokusnya terbagi untuk hal yang lain.

Ia amat menyukai bintang.

Pemuda itu dapat menghabiskan waktu berlama-lama dengan duduk di balik teleskop bintangnya, mengamati satu per satu rasi bintang.

Tapi tidak dengan malam ini. Ia hanya menyempatkan waktu untuk melihat bintang, tanpa teleskop atau pengamatan.

Sedikit resah.

"Gaara? Sedang apa kau di sini? Bukankah kita harus segera pergi ke kediaman Hyuuga?" suara seorang wanita berhasil mengusik fokusnya yang semula hanya tertuju pada benda langit itu.

"Hn," respon pemuda itu—Gaara, lalu berbalik, mendekati wanita itu, "Ayo."

Wanita yang mengenakan gaun malam yang menunjukan keindahan tubuhnya itu, mengikuti Gaara yang berjalan mendahuluinya. "Adakah yang mengganggu pikiranmu, Gaara?"

Hanya gelengan singkat dari pemuda itu yang ia dapatkan sebagai jawabannya.

Wanita itu lantas menghela napas.

Rambut pirang yang biasanya terikat empat bagian itu kini ia biarkan tergerai sepenuhnya. Sedikit bergelombang, dan menambah kecantikan wanita itu.

Lantas kedua kakak-beradik itu berjalan menuju Porsche hitam yang terparkir di halaman rumah mereka yang sangat luas.

Gaara yang mengenakan setelan formal: jas putih, celana putih, dan dasi berwarna merah, memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasa.

Walaupun sebenarnya, perasaannya tak setenang itu.

Ada sesuatu yang mengganjal. Tapi entah perasaan macam apa.

Ia telah berada di balik kemudi Porsche itu, dengan kakak perempuannya yang berada di kursi di sampingnya.

Semoga ini bukan pertanda buruk.

Dan Porsche itu melaju meninggalkan kediaman Sabaku.

.

.

Kediaman Hyuuga telah ramai oleh para tamu undangan. Sebagian besar dari kalangan penting, dan sebagian lagi adalah remaja-remaja yang berpenampilan tak kalah mewah—mereka adalah kawan-kawan dari Neji maupun Hinata.

Ruang tamu milik Hyuuga itu telah disulap menjadi tempat pesta, sebagai saksi atas masa depan dua pewaris salah satu perusahaan terbesar itu.

Tawa-tawa anggun khas kalangan atas terdengar dari setiap penjuru ruangan, beberapa dari mereka memanfaatkan momen ini untuk berbisnis, berbincang tentang saham, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perusahaan—kekayaan mereka.

Semuanya tampak bahagia di sana, mungkin.

Tapi tahukah kalian bahwa pusat dari pesta ini tak sedikitpun merasakan kemewahan itu?

Kamar milik pemuda berambut coklat panjang itu sepi. Hanya seorang diri. Menatap cermin yang memantulkan wajah tampannya. Wajah yang selama ini selalu dipuja kaum hawa, beberapa menit yang akan datang telah dimiliki seorang wanita.

Tubuhnya boleh saja dimiliki Hinata. Tapi hatinya tidak.

Ia mendesah.

Haruskah semua ini benar-benar terjadi?

Menutup lavendernya sejenak.

Semua ini terlalu menyesakkan.

.

.

Porsche hitam itu kini berhenti di depan sebuah rumah berarsitekturkan khas Jepang. Rumah yang cukup besar.

Keluarga Haruno.

Setelah mengantar Temari ke kediaman Hyuuga, ia memutar balik untuk menjemput wanitanya. Ya, wanitanya. Setidaknya untuk malam ini.

Siapa lagi kalau bukan gadis berambut merah muda bernama Sakura?

Seulas senyum samar terbentuk di wajah Gaara.

Keluar dari mobilnya, ia lantas memasuki halaman rumah gadis itu.

Baru saja ia akan mengetuk pintu rumah itu, tiba-tiba seorang gadis muncul dari baliknya.

'Manis.'

Tubuh mungil gadis itu terbalut gaun sebatas lutut berwarna putih dengan aksen bunga sakura di bagian bawah gaun itu. Tidak terlalu mewah, memang. Tapi begitu menimbulkan kesan anggun, cantik.

Bahunya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kulitnya yang putih dan mulus. Rambut merah mudanya yang panjang digelung—dihiasi jepit berbentuk bunga sakura, bagian depannya dibiarkan sedikit menjuntai—membingkai wajah gadis itu yang menggunakan make-up natural.

Benar-benar cantik.

Mau tak mau, Gaara tersenyum tipis karenanya.

"Kau benar-benar menjemputku, ternyata," desis gadis itu. Sungguh, sangat berlainan dengan penampilannya yang begitu manis.

"Sudah kubilang, 'kan? Malam ini, kau milikku," senyum tipis—yang tak terlihat Sakura itu berubah menjadi seringai menggoda.

"Cih," Sakura membuang muka dari pemuda itu, "kau tahu, aku benar-benar terpaksa melakukan semua ini."

"Terserah apa katamu lah," Gaara mengulurkan tangannya kepada gadis itu, "siap untuk pergi, nona bangau?"

Mendengar panggilan dari pemuda itu, Sakura tertawa kecil, "bukankah maksudmu, nona angsa?"

Akhirnya tangan mungil gadis itu menyambut uluran tangan Gaara, yang kemudian membimbingnya menuju Porsche.

Kau tahu, setelah ini, semuanya akan berubah.

.

.

Pintu kamar itu berderit. Seseorang muncul setelahnya. Hinata.

Tanpa membalikan tubuhnya, Neji bertanya pada wanita itu, "ada apa, Hinata?"

"Acaranya akan dimulai sebentar lagi," wanita itu sesungguhnya adalah wanita yang cantik, Neji. Bagaimana mungkin kau tak tergoda olehnya?

Rambut indigo milik wanita itu dibiarkan tergerai dengan model curly. Gaun lavender yang senada dengan matanya benar-benar cocok di tubuhnya, kesan mewah yang semakin mempercantik dirinya.

"Tidakkah kau ingin keluar sekarang? Mereka menunggumu."

Neji tak menjawab.

Cukup, Neji.

"Hinata..." wanita itu berjalan mendekatinya dengan ekspresi keingintahuan.

"Aku ingin membuat satu pengakuan padamu."

Hinata—yang kini berada di samping Neji, menatap pria di sampingnya dengan tatapan tak mengerti.

"Mungkin ini sudah terlambat," Neji menoleh pada wanita itu.

Lavender bertemu lavender.

Tak akan ada lagi kebohongan.

"Aku tidak mencintaimu."

Hening.

"Aku sudah tahu," Hinata berpaling dari lavender milik pemuda itu, "Aku sudah tahu. Tapi aku tidak peduli."

"Bukankah ini hanya akan menyakitimu?"

"Sudah kubilang, aku tidak peduli. Aku akan membuat Neji-nii jatuh cinta padaku setelah ini," Hinata tersenyum, "Aku yakin."

"Dengarkan aku, Hinata. Sungguh aku tidak ingin menyakitimu," memaksa wanita itu kembali menatapnya, "Aku... tidak bisa jatuh cinta padamu."

Lavender di hadapan Hinata sedikit bergetar.

"Kau bohong, Neji-nii."

"Aku tidak bohong, Hinata. Justru adalah sebuah kebohongan apabila aku mengatakan aku akan jatuh cinta padamu."

"Kenapa?"

"Karena aku mencintai wanita lain."

Hinata sedikit mendengus, "Tenten?"

Mendengar nama mantan kekasihnya disebut, Neji menggeleng pelan, "Bukan dia lagi."

"Lalu?"

"Aku mencintai Sakura."

Hinata melepaskan pegangan Neji di bahunya, "Ayo cepat, kita turun. Ayah dan Paman Hizashi pasti sudah menunggu kita."

"Hinata, dengarkan aku," lagi, ia memaksa wanita itu menatapnya, "Aku sudah membuat pengakuan. Masihkah kau ingin meneruskan semua ini?"

Senyum di bibir Hinata membalas tatapan gusar pemuda itu, "Sudah kukatakan, aku tidak peduli. Kau tetap akan jadi milikku."

"Oh, Ya Tuhan. Hinata, pertimbangkan lagi semua ini."

Tidak, Hinata mulai tidak menyukai pembicaraan ini.

"Apa maksudmu?"

"Kumohon, batalkan pertunangan ini," suara Neji benar-benar terdengar lirih sekarang.

"Kau bilang batalkan? Tidak. Kita tidak bisa lagi kembali. Terlambat."

"Tapi, Hinata, kau sudah tahu aku mencintai wanita lain—"

"AKU TAK PEDULI!" suara wanita itu biasanya terdengar halus dan menenangkan. Tapi kini ia membentak.

"Tapi aku peduli pada perasaanmu, Hinata. Aku tak mau kau terluka."

"Sudah cukup, Neji! Aku tak mau dengar!"

"Aku tak mau membuat kau menyesal di kemudian hari atas pertunangan ini..."

"CUKUP!" gadis itu menjerit , "Kau tahu, Neji. Aku sudah meninggalkan Naruto demi kau. Kau pikir sekarang aku akan menyudahi semua ini? Tidak. Aku akan memilikimu, dan setelah ini, semua masalah akan selesai."

"Tidak, Hinata, kau salah! Ini hanya akan menambah masalah—"

"Aku tak mau dengar lagi!" kedua tangan Hinata membuat gerakan untuk menutupi kedua telinganya, "Lalalala... Aku tidak bisa dengar," ia bersenandung sendiri, berteriak-teriak.

Dan melangkah pergi dari kamar itu.

"Hinata..."

Argggh!

Sebuah erangan frustasi dari pemuda itu.

Dan kamar itu kembali hening. Hanya sesekali, terdengar desahan putus asa dari mulut Neji.

Sudah terlambat, Neji. Sudah terlambat.

Andai saja kau tak jatuh cinta pada gadis merah muda itu...

.

.

Sakura menatap keluar jendela saat Porsce itu masih melaju dalam diam, bosan.

Tak ada yang berniat membuka topik untuk sekedar mengeluarkan suara. Dan Sakura benci semua ini. Ia benci harus menyadari bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dan keras dari biasanya.

Gaara—yang tengah mengendalikan Porsche itu hanya melirik gadis berambut merah muda di sampingnya. Lalu kembali fokus pada jalanan.

"Kau tahu," ternyata pemuda itu yang pertama kali membuka mulut, "Sebenarnya hari ini, bukan hari terbaik bagi Neji."

Mendengar nama pemuda berambut coklat yang sempat ada di pikirannya itu membuat Sakura menoleh, sedikit bingung dengan kalimat Gaara.

"Maksudmu?"

Masih fokus pada laju Porsche-nya, "Mungkin semua orang berpikir, bahwa Neji sangat bahagia hari ini," meski wajahnya datar, ada sedikit emosi di mata hijau teduh yang biasanya dingin itu, "Dia tidak bahagia. Tidak sama sekali."

Wajah gadis di sampingnya pun berubah ekspresi, meski tak diperlihatkannya secara eksplisit. "Memangnya, kenapa?"

"Neji tidak mencintai Hinata," Gaara menghela nafas, "Neji tidak pernah mencintai sepupunya itu."

Deg!

"Kurasa, dia mencintai wanita lain," lanjut Sabaku itu.

Deg! Deg!

'Apa maksud dia waktu itu?'

"Lalu, kenapa dia menerima pertunangan ini?"

"Tak ada pilihan. Ia sama sekali tak diberi kesempatan untuk memilih."

Hening lagi.

Sakura terlalu sibuk dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk dalam jiwanya.

'Neji, mencintai wanita lain? Siapa?'

"Maafkan aku."

"Kumohon, biarkan seperti ini, sebentar saja. Sebentar saja..."

Neji...

"Sudah sampai," suara berat Gaara membuyarkan lamunan gadis itu.

Pemuda itu keluar dari Porsche-nya.

Dan saat Sakura akan mengikuti jejak pemuda itu untuk membuka pintu, pintu itu telah lebih dahulu terbuka. Dan pelakunya, Sabaku no Gaara.

Mau tidak mau, gadis itu harus merasakan wajahnya menghangat. Mungkin berubah merah, sekarang.

Dan tiba-tiba pula, tangan gadis itu telah berada di genggaman Gaara.

Tak ada kata-kata.

Gaara merasa tak perlu kata apapun untuk mengungkapkan perasaannya.

Begini saja sudah cukup, 'kan?

Dalam kondisi biasa, Sakura pasti sudah menghempaskan tangan itu dan mendaratkan satu tamparan telak di pipi pemuda berambut merah itu.

Tapi tidak kali ini.

Dan pasangan Sabaku-Haruno itu berjalan berdampingan—dengan tangan yang saling berkaitan.

Ya, biarkan saja. Setidaknya, biarkan mereka memiliki kenangan tentang malam itu.

.

.

Today was a fairytale

You were the prince

I used to be a damsel in distress

You took me by the hand and you picked me up at six

Today was a fairytale

.

Today was a fairytale

I wore a dress

You wore a dark grey t-shirt

You told me I was pretty when I looked like a mess

Today was a fairytale

.

Time slows down whenever you're around

.

But can you feel this magic in the air

It must have been the way you kissed me

Fell in love when I saw you standing there

It must have been the way

Today was a fairy tale

.

.

Sosok Neji menuruni anak tangga.

"Itu dia, mempelai prianya sudah datang," pria setengah baya yang diketahui bernama Hyuuga Hiashi tersenyum lebar melihat keponakannya itu.

Di hadapannya ada beberapa rekan bisnis penting, seperti pemilik Yamanaka shop, Uchiha corp, Akimichi resort, Sabaku Industries; dan tentu saja saudara kembarnya, Hyuuga Hizashi.

Hizashi menatap anaknya, merasa ada kejanggalan yang tersembunyi dalam wajah dingin pemuda itu. Menyelidik.

"Maaf saya terlambat turun," sedikit membungkuk, Neji memberi salam hormat pada orang-orang penting itu.

"Tidak apa-apa, paman mengerti. Kau tentu harus mempersiapkan penampilan terbaik untuk malam ini," Hiashi tertawa kecil, maklum.

Hanya senyum tipis dari pemuda berambut coklat itu.

Lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Dan mendapati sosok sahabatnya sedang bersender pada dinding di pojok ruangan itu, melipat tidak terlalu menyukai ke'ramai'an di tempat itu. Sasuke.

Neji memutuskan menghampirinya, "Hai."

"Hn," hanya itu respon dari pemuda bermata onyx itu.

"Kau datang sendiri?" Sasuke menunjuk ayahnya yang sedang berbincang bersama Hyuuga Hiashi dan pebisnis lainnya.

"Bukan itu maksudku. Apa kau membawa pasangan ke pesta ini?"

"Kau tahu aku tak punya kekasih."

Dan diam lagi. Sulit memang apabila berteman dengan orang yang sama-sama irit bicara.

"Gaara belum datang?" Neji akhirnya bertanya lagi.

Sasuke menggeleng. "Tadi aku melihat ia bersama Temari, lalu pergi."

"Kemana anak itu?" gumam Neji, sampai—

"Yo."

Lavender dan onyx sedikit membelalak.

Bukan, bukan karena takut Gaara akan marah karena mereka telah dibicarakan.

Tapi sungguh, gadis yang digandeng Gaara lah, yang membuat mereka terkejut. Sangat terkejut.

"Gaara—" "—dan Sakura?"

"Hai," sapa gadis itu sambil meringis kecil.

Tuhan, tolong, jangan biarkan Neji dan Sasuke menatapku seperti itu...

"Kenapa?" Gaara kini memandang bingung dua karibnya, "Apa ada yang salah?"

Menghela napas, gusar, "Kau, dan Sakura. Bagaimana bisa?"

Sasuke benar-benar tak bisa menyembunyikan kegusarannya.

Pemuda berambut merah itu menyeringai, "Dia milikku."

Dan Sakura yang tak bisa mengelak, "Ya, ya, ya. Setidaknya, malam ini saja."

'Karena aku akan membutuhkan orang di sampingku agar aku dapat menahan tangis malam ini.'

"Aku mau ke toilet," pemuda berambut raven yang bersuara, "bisa kau tunjukkan dimana?"

"Dari sini, jalan terus, lalu belok kiri."

"Hn." Dan pergi.

'Cukup.'

Lepas dari onyx itu, Sakura sedikit merasa lega.

Tapi lavender masih memandangmu, Sakura. Dengan tatapan kecewa.

"Neji-senpai, selamat ya, atas... atas pertunanganmu dengan Hinata," suara gadis itu sedikit bergetar saat menyebut nama wanita yang akan menjadi pendamping Neji, "Semoga kalian bahagia."

'Tolong jangan katakan itu, Sakura...'

"Ya. Terima kasih," susah payah pemuda itu tersenyum.

Gaara melirik Sakura. Seperti ada yang salah dengan gadis itu. Tapi, apa?

'Mungkinkah, karena Sasuke?'

'Sakura, jangan membuat aku semakin sulit untuk melupakanmu...'

'Jangan menatapku seperti itu, Neji. Kau membuat rasa sakit ini semakin menyerangku.'

Dan tenggelam dalam jiwanya masing-masing, berpikir akan perasaan yang menguasai mereka.

"Bukankah sudah saatnya kau menunjukan kebolehanmu bermain musik, Neji?" suara ayahnya membuat pemuda itu menghentikan perenungannya, beranjak, "Baiklah."

Di salah satu sudut ruangan itu, sebuah grand piano berwarna putih bertengger manis. Piano kesayangan Neji. Piano yang sering ia mainkan bersama mendiang ibunya, dulu.

Dan kini, pemuda bermata lavender itu menempatkan diri pada alat musik itu, jemarinya yang lihai memainkan nada dalam tuts-tuts piano itu telah bersiap pada posisinya.

Keadaan ruangan yang semula riuh rendah, kini benar-benar sepi saat pemuda itu mengeluarkan suaranya, "aku persembahkan lagu ini untuk seseorang. Bahwa aku, sangat mencintainya."

"Tentu saja untuk tunangannya," begitu pikir orang-orang.

Salah. Kalian salah.

Satu per satu jari pemuda itu menekan tuts-tuts piano,

"No one ever saw me like you do

All the things that I could add up to

I never knew just what a smile was worth

But your eyes say everything without a single word..."

Dengan penuh penghayatan Neji menyampaikan isi hatinya itu.

Untukmu. Gadis yang telah membuat aku jatuh cinta.

"Cause there's something in the way you look at me

It's as if my heart knows you're the missing piece

You make me believe that there's nothing in this world I can't be

I'd never know what you see

But there's something in the way you look at me..."

Gadis bermata emerald memejamkan matanya. Sungguh, melodi yang dimainkan Neji, lirik yang dinyanyikan pemuda itu, benar-benar mengiris hatinya.

'Tuhan, jangan biarkan aku seperti ini...'

"If I could freeze the moment in my mind

Be the second that you touch your lips to mine

I'd like to stop the clock make time stand still

Cause baby this is just the way I always wanna feel..."

Suara pemuda itu memang benar-benar indah.

"Cause there's something in the way you look at me

It's as if my heart knows you're the missing piece

You make me believe that there's nothing in this world I can't be

I'd never know what you see

But there's something in the way you look at me..."

Cermin membentuk bayangan wanita berambut indigo itu. Wajahnya yang begitu sempurna, tampak pucat. Bulir-bulir air mata perlahan mengalir dari lavendernya.

Suara Neji terdengar sampai kamar wanita itu begitu merdu, membuat ia menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam sakit yang menyerang ulu hatinya..

"Dan bukan untukku..."

"I don't know, how or why

I feel different in your eyes

All I know is that happens everytime..."

Melodi yang semakin indah dalam naungan pesona seorang Neji. Sang prodigy.

Gaara tersentak saat menyadari sesuatu. 'Ini bukan untuk Tenten. Dan tak mungkin untuk Hinata.'

"Cause there's something in the way you look at me

It's as if my heart knows you're the missing piece

You make me believe that there's nothing in this world I can't be

I'd never know what you see

But there's something in the way you look at me..."

Menghela napas,

"The way you look at me..."

Dan applause meriah sebagai penutup penampilan menakjubkan itu.

Kau tahu, lagu itu penuh emosi.

Membuka lavender-nya yang sempat menutup, Neji menemukan emerald yang tengah menatapnya, sendu.

Sakura mengeratkan genggamannya pada pemuda di sampingnya. "Gaara, aku ingin ke toilet, sebentar."

"Perlu kuantar?"

"Tidak perlu. Aku hanya tinggal mengikuti arahan Neji untuk Sasuke tadi."

Gaara mengangguk tipis.

Apa-apaan ini? Sakura, apakah kau seperti itu demi Sasuke? Tunggu, di toilet ada Sasuke. Damn!

Baru saja ia akan mengejar gadis itu—ia tak akan membiarkan Sakura bertemu Sasuke hanya berdua saja, Neji menahannya, "Mau kemana, Gaara?"

Berpikir, Gaara. Ayo, berpikir.

Diurungkannya niat untuk menyusul Sakura. Ada yang hal lain saat ini.

"Neji, untuk siapa kau nyanyikan lagu itu?" to the point sekali.

Sahabatnya itu hanya tersenyum kecut, "seperti kataku tadi."

"Jawab yang jelas!" Gaara mulai menuntut, "Aku tahu itu bukan untuk Tenten, atau Hinata."

"Kurasa, itu bukan urusanmu," berniat menyudahi semua itu, Neji menoleh saat dilihatnya Hyuuga Hinata yang begitu anggun menuruni satu per satu anak tangga didampingi oleh ayahnya. "Pertukaran cincinnya akan segera dimulai."

"Ck. Baiklah. Tapi kau punya satu hutang penjelasan padaku, Neji."

Tak menghiraukan kalimat terakhir yang diucapkan Gaara, Neji menghampiri ayahnya yang memberikan isyarat untuk mendekat.

Pujian-pujian terlontar dari para tamu undangan, mengagumi begitu sempurnanya wanita pewaris perusahaan Hyuuga itu. Dan betapa ia cocok menjadi pendamping Hyuuga Neji yang begitu mempesona.

Menarik napas panjang, Neji mengulurkan tangannya, membantu wanita itu menuruni anak tangga terakhir, dan menempatkan wanita itu di sampingnya.

"Baiklah. Karena kedua mempelai sudah hadir, kita mulai saja acara pertukaran cincinnya," Hizashi berbicara, membuat semua fokus benar-benar teralih pada sepasang manusia yang akan segera mengikat janji dalam keseriusan menjalani sebuah hubungan itu.

Sebuah box perhiasan kecil telah berada dalam genggaman Neji.

Tepat saat pemuda itu membukanya, Sakura kembali. Dan emeraldnya menangkap cahaya berkilau dari sepasang cincin indah itu.

'Kalian berdua memang berhak memilikinya.'

Sakit.

"Kau kenapa, Sakura? Kau tampak pucat," mata hijau teduh Gaara menatapnya cemas, "Kau sakit?"

Gelengan lemah gadis itu, "Aku tidak apa-apa."

Jemari mereka kembali bertautan.

'Gaara, beri aku kekuatan.'

Neji mengeratkan genggamannya pada kotak itu, 'Jadi, aku benar-benar harus melakukannya, ya?'

Ia mengalihkan pandangannya pada wanita di hadapannya.

Lavender yang sama dengan miliknya. Namun sembab.

"Kau menangis, Hinata?" bisiknya.

Tak ada jawaban dari wanita itu. Hanya sebuah senyum.

"Neji, cepat sematkan cincin itu di jari manis Hinata, dan biarkan ia melakukan hal yang sama padamu."

Neji mendengus, meski tak terdengar. Ia memang harus melakukannya.

Saat tangannya bergerak mengambil salah satu cincin yang berukuran lebih kecil—untuk Hinata tentu saja, dan meraih tangan wanita itu—

"Tunggu," suara Hinata memotong, "Sebelumnya, aku ingin menyampaikan sesuatu."

Mengambil napas panjang, gadis itu menarik tangannya dari sentuhan Neji. Dan mencengkram erat gaun malamnya. "Aku, menolak pertunangan ini."

"Apa?"

.

.

ToBeContinued~

.

.

A/N : Update lumayan cepat, senangnya~ Setidaknya satu beban saya berkurang lagi. Uh. Lega. Oh iya, rencananya, chapter selanjutnya adalah LAST CHAPTER! Tapi apabila terlalu panjang, saya akan membaginya menjadi dua bagian. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.

.

Saatnya membahas chapter ini~

Kenapa sikap Sakura jadi baik sama Gaara? Bukannya mereka musuhan ya?

Sakura memang bersikap baik, setidaknya untuk malam ini. Dia mau dijemput Gaara, digandeng, intinya jadi pasangan Gaara, bukan karena dia tidak konsisten. Tapi bukankah terkadang perasaan itu terkadang berubah secepat angin. Lagipula, Gaara bersikap main. Cewek mana yang bisa menolak pesona Gaara kalau so sweet kayak gitu~ Tidak mungkin juga Sakura main gampar Gaara, 'kan?

Hinata kok egois ya?

Eh! Sumpah, saya tak bermaksud mem-bashing Hina-chan di sini. Saya juga sayang Hina-chan kok. Cuma kalau sikapnya agak ngeselin di sini, Cuma disesuaikan sama cerita aja. Ingat, ini AU. Dan di Warning sudah ditekankan : OOCness.

Nasib Neji?

Lihat saja di chapter depan, ok? #nyengir

Sasuke kok lama ya, di toiletnya?

Hahaha. Saya juga tidak tahu dia lagi ngapain. Karena tidak mungkin saya mengintipnya!

Anggap saja, Sasuke lagi bertapa -?- di dalam sana.

Meredakan emosinya yang benar-benar terbakar cemburu.

.

.

Terima kasih telah menyempatkan waktu membaca karya saya.

Kritik dan saran Anda sangat saya butuhkan untuk memperbaiki kualitas fic ini.

Review?