NARUTO © Masashi Kishimoto
.
.
BEFORE SUNSET © Uchiha Vnie-chan
.
.
Genre(s) : Romance/General
Rated : T
Main character : Haruno Sakura, Sabaku no Gaara, Hyuuga Neji, Uchiha Sasuke
Pairing(s) : STRAIGHT : GaaSaku, NejiSaku, SasuSaku; slight NejiHina
Warning : OOCness, AU, terdapat beberapa bahasa kasar yang tidak baik untuk ditiru, OOCness
.
.
Stand by me... Together make it love, Forever make it your smile.
.
.
Summary : Without Words. Seharusnya sejak awal aku berpura tidak mendengar cintamu. Tidak membiarkanku jatuh cinta padamu. Kau tahu, sekarang aku terluka. Karena semua itu datang dan pergi, tanpa sepatah kata.
.
.
"AKU menolak pertunangan ini."
Meski lirih, sebuah kemantapan dapat dipastikan kala wanita itu menyuarakannya. Walaupun tangannya gemetar dan bersusah payah menahan cairan bening di pelupuk matanya, ia yakin atas keputusannya.
"Apa?"
Hening sejenak saat semua orang berusaha mencerna kata-kata yang dideklarasikan beberapa detik lalu itu. Menolak. Tapi kenapa?
"Bercandamu sudah keterlaluan, nona Hyuuga," berusaha menyembunyikan getaran dalam nada suaranya yang memberat karena amarah, Hizashi menatap keponakannya itu.
"Maaf, Paman. Aku tidak bercanda. Aku sudah berpikir ribuan kali untuk ini. Dan menemukan jawaban yang terbaik dari dalam diriku," wajah wanita berambut indigo itu tak lagi tertunduk. Tersenyum tulus, dengan lavender yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Atau berkaca-kaca?
"Semua ini tidak bisa diteruskan," menoleh pada kedua lelaki di sampingnya, "Maafkan aku, Ayah, Neji-nii-san."
"Hinata," Neji yang masih berkutat dalam keterkejutannya menatap Hinata dengan pandangan yang tak terdefinisikan.
"Hinata, jangan mempermainkan kami," Hizashi telah sampai pada batas kesabarannya, "Neji, cepat sematkan cincin itu di jari Hinata."
"Tidak, Paman. Aku tak pernah berniat mempermainkan siapapun. Maaf atas keegoisanku."
"Ini tidak bisa terjadi. Neji, kubilang pasang!"
"Cukup. Hentikan semua ini."
Semua menoleh pada sang Hyuuga yang terhormat—Hiashi. Suaranya terdengar tenang. Tak sedikitpun ekspresi marah atau apapun dalam wajahnya yang tegas berwibawa. Seolah dirinya tak terguncang dengan semua ini.
"Tapi, kak," Hizashi berusaha membantah.
"Para hadirin yang terhormat, maaf, pertunangan ini dibatalkan," tanpa sepatah kata lagi, Hyuuga Hiashi berbalik pergi meninggalkan manusia-manusia yang tengah menyusun rekaman adegan itu menjadi sesuatu yang dapat mereka terima dalam akal pikiran mereka.
"Ini semua benar-benar membuatku muak," menyusul sang kakak yang telah mundur dari arena, Hizashi pun meninggalkan ruangan yang beratmosfer menyesakkan baginya itu.
"Hinata," bahkan sampai saat ini, Neji masih tak habis pikir. Kenapa wanita itu begitu cepat berubah pikiran?
"Maaf, Neji-nii. Maaf sudah mengacaukan semua ini."
Perlahan, langkah kaki wanita itu membawanya menjauh dari kerumunan.
Tuhan, tolong. Jangan biarkan aku menangis di sini...
.
.
SEPASANG mata emerald tak berkedip sedikitpun menyaksikan apa yang tertangkap retina matanya, masuk ke dalam otaknya, terproses, namun hanya menghasilkan kebingungan dan keterkejutan luar biasa.
Kenapa jadi seperti ini?
Sekarang, kepalanya benar-benar terasa pening.
.
.
PEMUDA berambut coklat panjang itu akhirnya memutuskan mengejar sang adik setelah menggumamkan kata maaf pada semua.
Sebenarnya, kepada siapakah ia harus minta maaf?
Langkahnya sedikit terseok karena tak fokus, berbagai pikiran melintas dalam otaknya, spekulasi-spekulasi bermunculan dalam benaknya.
Semua ini karena keegoisannya 'kah?
Melihat Hinata berkorban seperti itu membuat dadanya terasa sesak.
Sungguh, ia tak pernah bermaksud menyakiti wanita itu. Ia menyayanginya. Ya, ia menyayanginya seperti seorang kakak pada adiknya.
Lantas sebentuk penyesalan terbentuk dalam hatinya.
Kenapa ia tak jatuh cinta saja pada wanita itu? Wanita yang telah begitu tulus mencintainya. Dan seseorang yang dapat ia miliki seutuhnya tanpa penghalang apapun?
Mengapa ia tidak bisa?
Mengapa ia malah menyerahkan hatinya kepada yang lain yang jelas tidak bisa disentuhnya?
.
.
WANITA itu menengadah, menatap ribuan cahaya serupa titik yang bersinar di antara pekatnya malam. Beruntung malam ini awan-awan gelap tak menutup pemandangan menakjubkan dari antariksa itu.
Ia juga menyukai bintang.
Sejak kecil, jika ia ingin menangis karena kesepian, yang dilakukannya adalah berdiam di balkon kamar. Duduk bersandar pada dinding, dan melihat bintang dengan kedua lavendernya. Dengan begitu ia akan merasa tenang, nyaman. Dan berakhir dengan tertidur pulas dan demam di esok harinya akibat diterpa angin sepanjang malam.
Ia menyukai bintang. Amat menyukainya.
Bintang baginya bukan hanya benda langit yang ia pelajari dalam bab tata surya, bukan pula sekedar objek yang dinyanyikan dalam lirik lagu. Bintang adalah teman; sahabat.
Begitukah, Hinata?
Bukankah bintang juga adalah cintamu?
Di antara malam yang sunyi dan angin yang membuat wanita itu kedinginan saat menatap bintang, lantas seorang duduk di sampingnya, memberikan sandaran untuknya. Sedikit membagi kehangatan dalam kesepian. Dan bersama mengamati cahaya berpendar itu.
Dia adalah bintang yang paling terang bagimu.
Neji.
Kau begitu menyayangi bintangmu. Begitu mencintainya. Sampai ada pikiran untuk memilikinya—seutuhnya.
Lavender wanita itu menutup sejenak.
Dan kau tau, itu salah, Hinata.
Walau bagaimanapun, bintang itu—
"Hinata."
Sedikit tersentak wanita berambut lavender itu berbalik. Mendapati sosok jangkung pemuda yang beberapa saat lalu ada dalam pikirannya.
Ralat. Sosok itu selalu ada dalam pikirannya.
"Neji-nii."
Sosok itu—Neji, mendekat. Menempatkan dirinya di samping Hinata.
Dan hening lagi.
"Kau baik-baik saja?"
Menarik napas sebelum wanita itu menjawab, "Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja."
Berdiri bersebelahan, seperti yang selalu mereka lakukan semenjak dulu.
Lavender milik pemuda itu mengikuti arah tatapan Hinata, menjadikan cahaya di langit sebagai fokusnya.
"Entah apa yang harus—atau ingin aku katakan padamu. Tapi," pemuda itu berdiam sejenak, "aku minta maaf."
"Kenapa harus minta maaf?" mengeluarkan suara sehalus mungkin, Hinata menahan getaran yang mungkin tercipta dalam suaranya. Neji tak boleh melihatnya menangis.
"Mungkin, aku menyakitimu."
"Mungkin?"
"Jadi aku memang menyakitimu, ya?" Kini Neji benar-benar mengalihkan pandangannya pada wanita itu. Menemukan wajahnya yang pucat.
"Jangan bodoh, Neji-nii," tersenyum tipis, "Kau tahu jawabannya."
"Apa kau menyesal melakukan semua ini?"
Pandangan Hinata mulai kabur oleh air mata yang sebisa mungkin ditahannya agar tidak jatuh.
Jangan... menangis...
"Tidak. Aku tidak menyesal menghentikan semua kebohongan ini. Kalaupun ada yang harus kusesali, itu adalah keegoisanku yang ingin memilikimu. Tanpa mempedulikan apapun lagi."
Tangan Neji terangkat, membelai rambut Hinata. Seperti yang selalu dilakukannya dulu. Dan sentuhan seperti inilah yang membuat wanita itu nyaman.
"Kau tahu, bagiku, kau adalah bintang yang paling terang."
Lavender milik Neji melembut mendengar wanita itu berucap.
"Dan aku ini adalah seperti bulan. Yang hanya bisa bersinar atas bantuan cahayamu."
Masih dalam belaian tangan hangat pemuda itu, "Dan aku begitu bodoh, karena sempat berpikir untuk memiliki cahayamu sepenuhnya."
"Lantas aku menyadari, kau memang bintang paling terang. Dan berada terlalu dekat denganmu, membuatku merasa sakit. Terlalu menyilaukan."
Angin membuat helaian rambut kedua sosok itu bergoyang mengikuti arus.
"Sejak dulu, aku selalu bergantung padamu. Bersembunyi di balik tubuhmu, menangis dalam pelukanmu. Aku ini memang benar-benar menyusahkan."
Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang nyaris keluar dari bibirnya.
"Dan mungkin, aku selamanya akan jadi seperti itu. Menjeratmu dalam ikatan kita, membatasi langkahmu. Aku tidak mau seperti itu terus," air matanya semakin mendesak dari pelupuk matanya.
"Kuputuskan untuk melepasmu. Dan biarkan aku, sang bulan, tetap menikmati cahayamu sebagai pemujamu."
Neji tersenyum tipis, "bulan juga bukan tidak ada gunanya."
Hinata menoleh pada kakaknya. Wajah pemuda itu sangat indah ditimpa cahaya rembulan. Benar-benar mempesona.
"Karena dari sekian banyak bintang di langit malam. Bulanlah yang terlihat paling jelas di mataku. Tanpa perlu teleskop, atau alat bantu lainnya."
Setetes cairan bening meluncur sebagai tanda pertahanan gadis itu telah roboh.
"Kau tahu aku selalu menyayangimu, 'kan? Dan selamanya, itu tidak akan pernah berubah. Tak akan ada bisa menggantikan posisimu, di sini," Neji menunjuk dadanya, mengisyaratkan letak hatinya, "sebagai adik yang sangat aku sayangi. Lebih daripada adik manapun di dunia ini."
"Neji-nii..." bening mengalir semakin deras.
"Hinata," senyuman Neji yang selalu menenangkan, "terima kasih."
Dan pelukan.
Biarkan seperti ini, sebentar saja...
Mencintaimu.
Semakin erat.
—tak dapat kau miliki.
.
.
"...RA. SAKURA," Gaara menggoyangkan bahu gadis berambut merah muda di sampingnya. Selembut mungkin.
Yang sedari tadi terdiam seperti mayat hidup.
"Sakura," apa gadis itu sudah menjadi tuli?
"Hmmm?" tersentak dari alam bawah sadarnya, gadis itu menoleh cepat pada pemuda berambut merah di sampingnya. "Apa?"
"Sudah sampai, bodoh."
Emeraldnya mengerjap sebentar sebelum menoleh lagi pada jendela.
Di halaman rumahnya.
Ok, dia memang benar-benar kehilangan kesadarannya tadi.
"Kalau begitu, terima kasih sudah mengantarkanku kembali ke rumah dengan selamat, Gaara," tangannya bergerak untuk melepas sabuk pengaman, lalu bersiap beranjak membuka pintu mobil itu.
"Tunggu."
Sakura menghentikan gerakan yang dibuatnya, "Apa lagi?" sahutnya malas.
Menatap gadis itu, Gaara bertanya, "kau kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" mencoba memasang wajah sepolos mungkin, gadis itu balik bertanya.
"Sikapmu aneh hari ini."
"Apa aku terlihat tidak menikmati malam ini bersamamu? Kalau itu tebakanmu, selamat, kau tepat sekali."
"Justru sebaliknya," Gaara berkeras menahan Sakura yang tampak ingin cepat keluar dari dalam Porsche miliknya, "kalau kau bersikap seperti itu, aku tidak akan seheran ini. Kau tidak seperti dirimu, Sakura. Kau diam. Kau membiarkan aku menyentuhmu. Kau bahkan tiba-tiba memelukku. Dan sekarang kau berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa."
"Aku baik, Gaara. Tak usah mengkhawatirkanku. Sekali lagi, terima kasih," ingin mengakhiri pembicaraan itu, Sakura memberikan penekanan.
"Apa karena Sasuke?"
"Apa?"
"Apa kau jadi seperti ini karena Sasuke?"
Kini Sakura yang menahan diri, "Apa maksudmu, Gaara?"
Hijau teduh milik pemuda itu menatap lurus pada jalanan, "Aku tahu semuanya."
Mendengus, "jadi sekarang kau benar-benar sok tahu tentang kehidupanku, begitu?"
"Aku tahu tentang hubungan kalian."
Emerald Sakura membulat, berusaha tidak menampakan keterkejutannya, gadis itu berujar, "hubungan macam apa yang kau maksud?"
"Kekasih," jemari pemuda berambut merah itu mengetuk-ngetuk kemudi, "atau lebih tepatnya, mantan kekasih."
"Begitu?" ujar gadis itu tak peduli.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Tak ada hubungannya denganmu."
"Ada."
"Tidak."
"Kubilang ada."
"Tidak."
"Kau masih mencintainya."
"Tidak—"
Hening.
Emerald membelalak saat sesuatu menyapu bibir mungil miliknya. Semakin kuat. Menekan kepala gadis itu ke jok mobil saat ia mulai melakukan perlawanan.
Ciuman yang begitu basah, panas, kasar. Pemuda berambut merah itu sudah benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya. Erangan gadis itu semakin membuat dirinya menggila. Ia seperti kesetanan sampai—
PLAK!
"Apa yang ada dipikiranmu, brengsek?"
Seketika Gaara terpaku, menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya.
Wajah gadis di hadapannya memerah, bibirnya berdarah. Dan emerald yang mengeluarkan air mata dengan deras.
Kau bodoh, Gaara.
Sekuat itukah efek cemburumu?
"Maaf."
Ia sungguh tidak mengerti kenapa ia melakukan semua itu.
"Kau benar-benar bajingan, Gaara. Aku benci padamu!" Sakura membuka pintu mobil dengan paksa. Berlari meninggalkan Sabaku yang masih berdiam diri di kursinya.
Sungguh, gadis itu benar-benar merasa sakit. Ia merasa dipermalukan, dilecehkan.
Apakah aku ini hanya mainan baginya? Atau lebih parah, aku dianggap sampah?
Baru saja ia merasa simpati pada pemuda itu. Merasa sesuatu yang ganjil saat pemuda itu menggenggam tangannya, tersenyum padanya. Dan membiarkannya menikmati kehangatan pelukan pemuda itu saat ia merasa kalut karena patah hati.
Baru saja ia menyadari ada getaran lain saat ia berada di dekat pemuda itu.
Tapi sekarang?
Persetan dengan semua itu.
Aku benci Sabaku no Gaara.
.
.
MALAM yang sungguh melelahkan bagi gadis berambut merah muda itu.
Semalaman ia tidak bisa tidur, terjaga bahkan sampai matahari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur.
Matanya yang memerah dan membengkak cukup untuk menjelaskan kegiatan yang dilakukannya sampai pagi.
Rambut merah mudanya terlihat sangat kusut, senasib dengan wajahnya yang memucat. Belum lagi, bibirnya yang masih menimbulkan bekas lecet.
Sialan.
Bahkan kondisinya lebih parah daripada saat pertama kali patah hati.
Ia mengacak rambutnya, frustasi.
Pukul 06.30.
Harus segera bersiap untuk berangkat sekolah. Atau lebih baik membolos saja?
Tidak, tidak boleh pada option kedua. Sekacau apapun, dia tidak boleh melakukan tindakan bodoh dengan membolos sekolah.
Kau bisa menghadapi semua ini, Sakura.
Kau pernah berjanji untuk tidak akan menangis lagi.
Tapi ini terlalu menyakitiku, bodoh.
.
.
UCHIHA SASUKE mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas normal dalam keheningan. Untunglah jalanan masih lengang, setidaknya pemuda itu terhindar dari risiko kecelakaan lalu lintas.
Wajah yang selalu membuat wanita manapun yang melihatnya tergila-gila, tetap teguh tanpa ekspresi. Datar, nyaris tak ada emosi yang nampak.
Benarkah?
Lihatlah tangannya yang memegang kemudi dalam kondisi yang juga tidak normal. Terlalu mencengkram erat.
Sepenggal ingatan semalam tak lepas dari benaknya.
Saat gadis berambut merah muda tenggelam dalam pelukan sahabatnya sendiri, Sabaku no Gaara. Gadis berambut merah muda yang dicintainya.
Damn!
Ia menginjak gas lebih dalam.
Apa ia benar-benar tak ada kesempatan lagi?
Ferrari milik pemuda bermata onyx itu melesat bersama angin.
Ijinkan aku mengajukan satu pertanyaan padamu, Sasuke.
Apa yang akan kau pilih : persahabatan, atau cinta?
Keduanya. Aku tidak akan melepas salah satu atau keduanya. Karena tak ada kata menyerah dalam kamus hidupku.
Egois?
Jawaban yang benar-benar sempurna, Sasuke.
.
.
MENGHIRUP udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi oksigen dalam paru-parunya yang terasa sesak, Sakura lantas melangkah perlahan memasuki gerbang sekolahnya.
Gugup, mungkin. Seperti hari pertama masuk sekolah saja.
Sebenarnya ia sudah mulai terbiasa dengan masalah di sekolah barunya itu.
Siapa yang tidak tahu bahwa gadis Haruno itu adalah musuh terbesar Sabaku no Gaara—sang penguasa? Rasanya tak ada hari yang berjalan tanpa pertengkaran keduanya. Mulai dari adu mulut sampai adu ketangkasan.
Bukankah lebih baik seperti itu?
Karena kini gadis itu telah benar-benar membencinya. Bahkan untuk sekedar melihat sosok berambut merah itu saja, Sakura sudah enggan—muak.
"Sakura-chan," gadis bermata emerald itu mendapati gelombang longitudinal yang tak asing di telinganya, dan dengan cepat ia merespon, "Hai, Matsuri. Ohayo," sebisa mungkin bersikap seperti biasa. Ceria dan ramah. Ia tak mau orang lain terseret masalah hanya karena keegoisannya mempertahankan mood buruknya.
"Kau sehat?" Matsuri mengamati Sakura. Ada yang ganjil dengan gadis itu. "Bibirmu—"
"Aku baik-baik saja. Tak usah khawatir," Sakura menyela dengan senyum lebar seperti biasa.
"Tapi wajahmu juga pucat, Sakura."
"Hanya kurang tidur karena aku harus mengurus beberapa tugasku. Ya, kau tahulah, walau bagaimanapun aku masih tergolong siswa baru, dan aku harus berkerja keras untuk menyesuaikan diri."
Matsuri mengangguk mengerti.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang kelas pertama, Fisika.
Belum jauh mereka melangkah, lagi, sesuatu mengintrupsi langkah Sakura.
"Sakura, aku ingin bicara denganmu."
Tidak. Aku belum siap.
"Neji-senpai?"
Ternyata pemuda itu.
"Tolong."
Tampak ragu sebelum Sakura mengiyakan dengan sebuah anggukan kecil, dan Neji menariknya pergi.
Meninggalkan Matsuri yang tak mengerti situasi. "Ada apa dengan mereka?"
.
.
SETELAH apa yang terjadi sebelumnya, semuanya akan kembali seperti semula. Setidaknya, itulah yang ada dipikiran kedua sosok yang tengah saling berdiam dalam tatapan masing-masing.
Namun ternyata, salah. Atmosfer canggung itu bukannya menghilang, malah semakin pekat. Dan terasa menyesakkan.
Bahkan taman favorit mereka yang biasanya memberikan kenyamanan pun tak sanggup memperbaiki keadaan.
"Neji-senpai, ada apa?" Sakuralah yang berinisiatif mengubah semua kondisi yang terasa mengganggu ini. Ia menatap pemuda di hadapannya yang tak dapat diartikan ekspresinya.
Seperti gelisah, bingung, sakit. Entahlah.
"Aku mencintainya, Neji. Aku mencintainya. Aku mencintai Sakura."
Tangan pemuda itu mengepal kuat.
Aku, harus bagaimana?
"Aku—" diam lagi.
Sakura merasakan debaran itu makin kencang di rongga dadanya. Ia benar-benar tak suka situasi ini. Emeraldnya memantulkan bayangan pemuda itu.
Jangan biarkan aku seperti ini terus, Tuhan...
"—Aku tidak tahu—" masih ragu.
Awalnya ia pikir ia bisa melepaskan gadis itu dengan mudah. Tapi ternyata tidak.
"Aku masih mencintai Sakura. Dan tak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya. Termasuk kau, atau Gaara."
Lavender Neji memudar.
Aku harus bagaimana, Gaara, Sasuke? Haruskah aku yang mundur?
"Neji," suara lirih gadis itu semakin membuatnya berat untuk memilih.
Bisakah kali ini aku bersikap egois?
Satu kecupan di bibir gadis itu.
Emerald Sakura melebar sesaat sebelum meredup seiring dengan lembutnya bibir itu memberikan kenyamanan untuknya.
Gadis itu selalu membuatmu kehilangan akal 'kan, Neji?
Manis. Dia begitu manis.
Biarkan aku bersikap egois, sekali ini saja.
"Maaf."
Neji melepaskan ciumannya untuk gadis itu. Menatap emerald yang begitu indah dalam jarak yang begitu intens membuatnya semakin mencintai binar itu. Setiap lekukan wajah gadis itu benar-benar sudah terpatri jelas dalam ingatanmu.
"Maaf."
Ia berbisik lirih.
Biarkan jadi yang terakhir.
"Selamat tinggal, Sakura."
Dan satu lambaian, pemuda itu meninggalkan Sakura yang masih terpaku dalam keterkejutannya.
"Neji!"
Ia memutuskan untuk tidak menoleh. Tidak bisa.
"Aku menyukaimu, Neji! Aku menyukaimu!"
Tidak boleh.
Ia tidak boleh melanggar ucapannya sendiri.
"Neji!"
Maaf, Sakura.
Aku mencintaimu.
Meski bahagia karena perasaan ini, aku tidak bisa memilikimu.
Ternyata aku, memang tidak bisa bersikap egois.
.
.
I shouldn't have done that,
I should have pretended not to know
Like I didn't see it,
Like I couldn't see it.
I shouldn't have looked at you in the first place
.
I should have run away,
I should have pretended I wasn't listening.
Like I didn't hear it,
Like I couldn't hear it.
I shouldn't have heard your love in the first place.
.
Without a word you made me know love
Without a word you gave me love
Because you took just a breath and ran away like this
.
.
"DAPAT."
Beginikah akhir kisah cinta seorang Haruno Sakura?
.
.
TIDAK BOLEH MENANGIS. Aku tidak boleh menangis.
Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat, menimbulkan rembesan darah kembali keluar dari lukanya yang belum sembuh.
Perih.
Tapi masih tak sebanding.
Gadis itu berusaha menciptakan kesakitan fisik luar biasa, agar dapat menggantikan sakit di hatinya.
Tidak bisa. Ini terlalu menyakitkan.
Tuhan, kumohon, jangan biarkan aku menangis lagi...
Sakit. Sakit sekali.
Aku sudah tidak tahan.
Setetes cairan bening nyaris terjatuh dari emeraldnya kalau saja sehelai kain berwarna biru tua tak menahan lajunya.
Sehelai kain?
"Menangislah. Dan aku tidak akan membiarkan seorangpun melihatmu dalam keadaan seperti itu," pemilik kain itu bersuara, "aku akan melindungimu."
"Kau akan melindungiku," suara gadis itu parau, "Sasuke?"
Mengangguk, lantas menarik gadis itu kedalam pelukannya. "Anggap saja aku adalah teddy bear kesayanganmu itu."
Onyx pemuda itu melembut saat Sakura mengeratkan pelukan padanya. Terisak di dadanya. Sesekali ia mengelus rambut merah muda itu.
Sakura semakin membenamkan diri dalam tubuh pemuda itu, mencari ketenangan di sana.
"Aku tidak tahu bagaimana cara untuk menghiburmu."
"Berada di sini bersamaku, itu sudah cukup."
Seulas senyum tulus terukir di wajah kaku pemuda itu.
Aku tahu kau mencintainya, Sakura. Tapi biarkan aku, untuk sekali ini, menjadi tempatmu bersandar.
Aku ada di sampingmu, untuk apa kau ulurkan tanganmu kepada yang lain?
Terima kasih, Sasuke.
.
.
Why does it hurt so much?
Why does it hurt continuously?
Except for the fact that I can't see you anymore
And that you're not here anymore
Otherwise it's same as before.
.
.
SESEKALI pemuda berambut merah itu menatap sekeliling, seperti mencari sesuatu. Sedikit tergesa-gesa ia melangkah. Dan saat ia melihat seorang gadis berambut coklat sebahu yang dikenalinya sebagai teman terdekat Sakura, tanpa pikir panjang ia menarik gadis itu, mengintrogasinya.
"Dimana Sakura?"
Gadis itu terkejut melihat Gaara yang menatapnya tajam. Tak sanggup menjawab, gadis itu hanya meneguk ludahnya sendiri, gugup.
"Aku, tidak tahu. Tapi, tadi ia bersama Neji-senpai, di taman," akhirnya susah payah ia mengeluarkan suara.
Sebersit perasaan tak nyaman membuat Gaara berpikir cemas.
Neji dan Sakura?
Apa ada yang disembunyikan dariku?
Tanpa sepatah kata atau ucapan terima kasih, Gaara pergi meninggalkan gadis itu. Kembali berlari menuju taman belakang sekolah.
"Bahkan ia tidak ingat siapa aku," gadis itu bergumam, "selalu Sakura yang ada dipikirannya."
Ia mengambil sebuah benda kotak kecil dari dalam saku roknya.
Haruskah aku melakukan semua ini?
.
.
Bangku putih itu hanya terisi seorang manusia yang tengah terduduk diam, menatap helaian daun mample yang menari di tiup angin di hadapannya.
Maple memang paling indah di musim gugur.
Tapi sayangnya, ini musim semi. Lebih tepatnya, musim semi akan segera berakhir dan berganti menjadi musim panas.
Dua hari lagi, ya?
Ia tersenyum kecut.
Bagaimana mungkin aku bisa menemukan cinta sejatiku sebelum musim semi ini berakhir?
Kenyataannya, ia baru saja patah hati.
Apa nasibku memang sudah ditakdirkan malang seperti ini? Inikah balasan atas kecerobohanku di masa lalu?
Angin khas pengantar musim panas kembali bertiup.
Gadis itu lantas mengalihkan pandangannya pada langit biru yang begitu luas. Mengamati satu per satu awan yang terbentuk di atas sana.
Ternyata Shikamaru benar. Mengamati awan dapat membuat perasaan lebih nyaman.
"Sakura!"
Gadis itu terusik oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Rambut merah itu...
"Mau apa kau, brengsek?"
"Menyelesaikan semua ini."
Gadis itu mendengus, "semuanya memang sudah selesai, Gaara. Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
"Aku bosan seperti ini. Kau selalu ada dalam pikiranku. Kau datang, lalu pergi begitu saja. Tapi itu semua tak lantas membuatmu tak lagi berkutat dalam benakku!"
"Aku tidak peduli, itu urusanmu," gadis itu bangkit dari duduknya, menghentakan kakinya dan berniat untuk pergi—
"Aku mencintaimu!"
Sakura terhenyak mendengar teriakan itu. Ia berbalik. Melihat pemuda itu menatap lurus kepadanya. Dan kata-katanya itu...
"Aku mencintaimu," ulangnya lagi.
Berusaha tak menghiraukan, gadis itu memutuskan untuk meninggalkan Gaara. Tapi belum tiga langkah, lengan Sakura ditahan Gaara, dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu, Haruno Sakura," bisiknya lirih dalam dekapan.
Debaran ini... Perasaan ini...
Terdiam sejenak sebelum gadis itu membalas pelukan pemuda itu, seerat pelukan Gaara padanya.
Terbaik untukku?
.
.
SEPASANG lavender itu meredup.
Walau sakit, ia tahu pilihannya adalah tepat.
Kau tahu, Sakura, aku akan selalu mencintaimu, di sini. Meski tak bisa berada di sampingmu, melihatmu bahagia, itu sudah cukup bagiku.
Dan kali ini, ia benar-benar rela melepasnya.
Selamat tinggal, cintaku.
.
.
Without a word love leaves me
Without a word love abandons me
Wondering what to say next, my lips were surprised
Because it came without a word
.
.
KEDUA telapak tangan milik pemuda berambut raven itu terkepal kuat.
Ingin sekali ia berlari kesana, menghancurkan semua adegan romantis itu.
Tapi ia tahu, itu hanyalah tindakan bodoh.
Bukankah melihatnya menangis akan membuatmu terluka, Sasuke?
Jadi, biarkan dia menemukan kebahagiaannya.
Onyx milik pemuda itu menutup sejenak, merasakan segala yang berkecamuk dalam dadanya.
Jika ini yang terbaik, tidak apa 'kan?
Perlahan, kepalannya mengendur.
Ini yang terbaik.
Walau tak bisa memilikimu lagi, asalkan kau tersenyum, meski aku harus terluka, aku akan melepasmu bersamanya.
Semoga kau bahagia, cinta pertamaku.
.
.
Without a word, tears starts falling down
Without a word, my heart is broken
Without a word, I waited for love
Without a word, love hurts me.
.
.
ToBeContinued
.
.
Without Words © Park Shin Hye
.
.
A/N : Ternyata saya tidak bisa menepati perkataan saya untuk menamatkan BEFORE SUNSET di chapter ini. Maafkan saya. Tapi ternyata memang terlalu panjang jika chapter ini adalah penghabisan. Terkesan maksa. Segini saja sudah maksa. :p
Maaf karena plot terasa tergesa-gesa, minim deskripsi. Saya hanya tidak mau fic ini terlalu bertele-tele seperti fic saya yang lain. Maaf jika itu mengecewakan. :)
.
Pembahasan tentang fic :
.
Adegan Gaara mencium Sakura itu, wajarkah ada di rated T?
Hmm, masih wajar 'kan? Saya rasa itu masih termasuk kategori rated T. Atau haruskah saya mengubahnya menjadi rated M?
.
Kok kesannya Sakura di sini maruk banget ya? Dan terkesan murahan. Pindah dari cowok satu ke cowok lain.
Adu, bukan seperti itu. Maksud saya bukan seperti itu. Memang chapter ini Sakura berinteraksi dengan tiga chara cowok sekaligus, tapi bukan berarti Sakura itu murahan. Yang ingin saya tekankan di sini justru, saya ingin menunjukan sebesar apa rasa sayang yang dimiliki masing-masing cowok itu terhadap Sakura. Sehingga minna-san bisa menilainya sendiri, siapa yang sebenarnya memiliki cinta paling dalam dan tulus untuk Sakura.
Lagipula, sebenarnya Sakura bukannya mudah jatuh cinta. Sejak awal dia memang mencintai Sasuke, tapi setelah mereka putus, Sakura kehilangan rasa itu. Sampai dia menemukan Neji yang ia anggap sebagai malaikat penolong yang akhirnya membuat ia jatuh cinta pada pemuda itu. Dan hubungannya dengan Gaara, sebenarnya sejak awal mereka sudah saling tertarik, namun tak mereka sendiri tak mau mengakui hal itu.
Jdi, bukan berarti Sakura itu orang yang senang menjadikan cowok sebagai pelarian loh.
.
Konflik sudah selesai?
Saya sudah meng-clear-kan konflik satu per satu.
Neji sudah benar-benar ikhlas melepaskan Sakura. Karena sebelumnya Neji memang sempat "melepaskan" Sakura (di chapter 5), tapi dia belum sepenuhnya rela. Tapi kali ini, dengan penuh kesadaran, untuk kebahagian Sakura, dia membiarkan gadis itu lepas darinya.
Begitupun dengan Sasuke. Saya tidak mau dia bersikap egois terus. Jadi saya membuat ia juga menyadari bahwa cinta dan kebahagiaan Sakura bukanlah bersamanya lagi.
Tapi masih ada satu konflik terakhir sebelum kisah ini berakhir. Apa? Temukan jawabannya di chapter terakhir! #plak
.
.
Terima kasih sudah membaca fic ini.
Dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan yang diberikan untuk saya selama ini.
Maaf tak sempat membalas review kalian, tapi sungguh, semua itu sangat berarti bagi saya. :D
(Ucapan terima kasih secara khusus di last chapter saja ya. :p)
.
.
See you in the last chapter and others fic.
.
.
Review?
