Akhirnya! XD
Civ bisa update chapter 2! Maaf lama banget updatenya T_T. dan maaf juga buat ceritanya yang gaje ini =_=a. Ok, daripada banyak bacot, Civ langsung aja deh~
THE BREAKER
Chapter 2
CLAMP- OWNER OF CCS
ME-OWNER OF THIS STORY.
WARNING:TYPO, BAD LANGUAGE, OOC, etc.
ENJOY IT~
Mereka, orang-orang berseragam kepolisian itu menggiringku ke dalam sebuah mobil berwarna hijau lumut. Aku terduduk dengan wajah tertunduk memandangi kedua tanganku. Kedua tangan hinaku yang sudah membunuh ibuku sendiri. Walaupun wanita itu bukan ibu kandungku, dan dia nyaris membunuh, aku tetap, merasa teramat sangat bersalah atas kematiannya. Aku melihatnya berlumuran darah dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak habis pikir, kenapa hari ini terjadi hal yang sama berturut-turut? Kenapa mereka bisa seperti itu? Kenapa di tanganku terdapat bercak darah? Sementara aku tidak menyentuh mereka satu kalipun. "Syaoran! Syaoran!"seorang lelaki yg suaranya amat ku kenal berseru sambil mengetuk kaca mobil. Aku langsung menoleh sambil berseru
"Ayah!"
Dan turun dari mobil itu.
"Syaoran! Syukurlah kau baik-baik saja!"ujarnya lagi, sambil memelukku penuh kasih sayang. "Ayah, aku bersumpah, bukan aku yang melakukannya! Bukan aku yang membunuh ibu!".
Ayahku mengangguk pelan. "Ayah tahu nak. Ayah, tahu itu,". Aku menangis tertahan dalam pelukannya. Aku merasa lega, karena akhirnya ada orang yg percaya padaku.
6 tahun kemudian
"Selamat, Syaoran, akhirnya kau bebas !"seru sipir itu sembari menyalamiku.
"Hemn. Terima kasih,". Aku lalu berjalan keluar dari penjara yg pengap itu. Yah, aku akhirnya di penjara karena kasus Itu. Kasus langka, dimana seorang anak tak tahu diri membunuh ibu tirinya sendiri-, setidaknya begitulah yg tertulis di sebuah harian yg kubaca enam tahun yg lalu. Ayahku sudah berusaha mati-matian untuk membebaskan ku darisini, tapi aku menolaknya. Yah, pikirku, daripada aku hidup bebas di luar dan membunuh orang, lebih baik aku mendekam disini saja. Di bawah pengawasan para polisi. Selama enam tahun ini juga aku belajar banyak. Belajar tentang siapa diriku sebenarnya. Belajar tentang masa lalu yang tidak pernah ku ingat. Ayahku menceritakan semuanya padaku. Membuatku semakin malas untuk keluar dari penjara. Tempat yang ku anggap 'aman' ini. Misteri tentang hal itu-pembunuhan ibuku pun mulai terkuak. Memang benar aku yang membunuhnya. Dengan telekinesis. Kau mengerti maksudku kan? Membunuh atau menghancurkan sesuatu tanpa menyentuhnya. Dan aku termasuk ke dalam kaum mereka. Kaum mereka yg paling berbahaya, kaum yang berlevel paling atas. Yaitu, kaum Breaker...
..
..
..
..
"Ayah, selamat pagi,"sapaku saat memasuki ruang makan. "Selamat pagi Syaoran. Bagaimana ? Lebih nyaman tidur di ranjang sendiri kan , di banding dipan penjara?".
Aku hanya mengangguk singkat, lalu duduk dam mengambil roti panggang. Sambil mengunyah, aku membolak-balik halaman koran. "Mencari apa?","Hem? Biasalah yah. Pekerjaan. Aku tidak mau menambah jumlah pengangguran di negeri ini,"
"Tapi, kau, maaf Syao, kau kan punya catatan kriminal, dan lagi, kau bahkan tak punya ijazah smp. Siapa yang mau menerimamu sebagai karyawannya?"
Alisku mengkerut. "Benar juga kata-kata ayah,"batinku lagi.
"Hei! Jangan kecewa nak! Mungkin kau bisa kerja freelance!"
"Freelance?"
"Ya. Begini, teman ayah sedang butuh tambahan tukang cat, mungkin kau bisa membantunya,"ucap mantan tukang pos itu lagi.
"Uhm, sepertinya, kedengaran cukup bagus,"
"Baiklah. Nanti akan ayah telpon teman ayah itu. Tapi, ingat, jangan terlalu menarik perhatian 'mereka', dan jangan melukai siapapun,"
"Jangan terlalu menarik perhatian 'mereka', dan jangan melukai siapapun,"ucapan ayah saat sarapan masih mengiang-ngiang di telingaku. "Jangan terlalu menarik perhatian 'mereka,'"ucapku pelan. Yah, mereka, para hunter. Oh, apa aku belum menjelaskannya pada kalian?
Ok, secara umum saja, setiap makhluk berbahaya dan unik pasti diburu kan?
Contohnya saja serigala gunung, ataupun beruang grizzly. Karena mereka dianggap berbahaya dan unik, mereka terus diburu. Populasi mereka yang semula beribu-ribu, atau bahkan berjuta-juta, kini hanya tinggal hitungan jari.
Nah, begitu juga dengan kami. Para Hunter itu senantiasa memburu kami. Dimanapun, kapanpun. Mereka akan menembakkan sejenis laser, dan itu akan mengubahmu jadi debu. Keren kan? Tapi maaf, aku tidak mau berakhir menjadi abu. Ayahku-,yang juga seorang breaker, sudah beribu-ribu kali mereka buru, dan beribu kali juga hampir terbunuh. O' yeah, untungnya selama aku ini aku tidak pernah mengalaminya. Karena para tahanan membuat 'bau'ku tersamarkan. Maksudku, para hunter itu menemukan kami dengan cara membaui. Kata ayahku, para breaker mempunyai bau yang khas. Walaupun aku tidak pernah mencium baunya, kuharap baunya itu tidak seperti bau kaus kaki yang sudah setengah tahun tidak kau laundry. "Hikaru! Awas!"jerit seseorang yg memecahkan lamunan ku. Aku refleks langsung menoleh. Seorang anak lelaki bermata sayu nyaris tergilas ban mobil. Untungnya dia..-Hei, tunggu ! Bukankah ia tadi ada di tengah jalan? Kenapa saat ini dia malah berdiri di pinggir jalan. Maksudku, aku bahkan tidak melihatnya berlari ataupun beranjak darisitu. Aku masih tercengang saat melihat seorang wanita berstellan putih menghampiri anak itu dan memeluknya. Wanita itu mengenakan stellan putih bersih, rambutnya coklat mengkilap, ditimpa cahaya mentari musim dingin. Aku masih memperhatikan mereka berdua. Saat sang ibu tiba-tiba berdiri dan balik memperhatikanku
"Ah,-eh, tadi saya cuma.."
"Tidak apa-apa."jawabnya sambil tersenyum.
Waw! Entah kenapa sekarang aku jadi merasa sudah mengenalnya dalam waktu lama. Dugaanku makin kuat saat melihat namanya yang tercetak rapih di kartu anggota yang di kenakannya itu.
"Sakura?"
"Maaf?"
"Maksud ku, namamu Sakura Kinomoto kan ?"
Ia mengernyitkan alisnya lalu menatapku dengan bingung dari ujung kaki sampai kepala. "Benar. Anda,-maaf, siapa yah?"
"Aku, em-, Syaoran! Kau ingat tidak? Kita dulu satu sekolah saat smp!"
Ia masih tampak kebingungan. Ya ampun, apakah aku memang sudah di lupakan semua orang?
"Ah! Iya. Aku ingat. Ya ampun, Syaoran? Kau sudah bebas yah? Aduh, maafkan aku tadi tidak sempat mengenalimu," ucapnya lagi.
Aku tercengang. Ternyata dia memang tidak berubah. "Seperti yang kau lihat. Mereka akhirnya membebaskanku,"jawabku.
Sakura tersenyum. "Oh, sebelumnya kenalkan, ini anakku. Namanya Hikaru,"Sakura mengulurkan tangan putranya itu. Tunggu. Putra? Jangan bilang, dia sudah.. Menikah..
Aku mengecat tembok didepanku perlahan. Selain takut berbuat kesalahan, sebenarnya aku daritadi melamun. Pertemuanku dengan Sakura tadi kembali mengingatkan cinta pertamaku padanya. Cinta-cintaan anak smp. Hemp, aku tersenyum mengingatnya. "Syaoran! Kalau kerja jangan melamun!"tegur seseorang tiba-tiba. Aku menoleh. Di belakangku berdiri sesosok laki-laki bersahaja. "Ah, maaf tuan,"akupun kembali bekerja dengan cepat.
Tanpa terasa, mentari sudah tinggi. Akupun memutuskan untuk duduk sejenak, walaupun mentari tidak terik saat itu, -saat musim dingin-. Teringat kembali olehku percakapan tadi siang..
Flashback
"Jadi, ini anakmu?"aku bertanya dengan mata terbelalak. Aku yakin itu.
Sakura tersipu. Membuat pipinya merona dan menjadi sepuluh kali lebih manis di mataku.
"Eh, iya. Tapi cuma anak angkat,"
Dan kata 'angkat' itu membuatku amat lega. Bagaimana tidak? Artinya dia belum menikahkan?
Tapi.. Bisa saja yang ia maksud itu.. Anak ini anak suaminya...
"Kau.. Sudah menikah?"tanyaku dengan gugup. Oke, tidak salahkan aku berharap?
Sekali lagi Sakura menggeleng. "Belum. Dia ini anak kerabatku.."
Aku bersorak dalam hati. Kau tahu artinya? Aku masih punya kesempatan. Yah, itu kalaupun dia mau dengan lelaki macam aku begini. Lelaki yang mungkin ada di urutan satu, 'top ten worst boyfriend' yang akan di majalah. Freelance, mantan napi, tidak berpendidikan, dan lain-lain. Lengkap sudah kekuranganku.
Waktu kerja kembali di mulai. Akupun kembali berdiri dan mengambil peralatan kerja. "Selamat siang.. Bisa saya bertanya, rumah sakit dekat sini dimana ya?"
DEG
Aku menoleh. Ternyata tadi suara seorang pemuda sebayaku, yang tersenyum penuh arti. Ooh, rupanya dialah sang penanya tadi. "Eeh? Ah, mungkin 3 km ke arah barat,"jawabku dengan gugup.
Gugup? Ya, aku merasa gugup berhadapan dengan pemuda aneh ini. Aku merasa takut, dan waspada saat bertatapan dengannya. Pemuda berambut biru itu lalu mengangguk, dan berkata, "Baiklah. Terima kasih,". Dan ia pun kembali berjalan.
Normal POV-
Pemuda berambut biru itu kembali berjalan. Meninggalkan sang pemuda pengecat yang kebingungan.
Dan tanpa di ketahui sang pemuda lain, pemuda berambut biru itu berbisik lirih.
"Lee Syaoran, aku.. Menemukanmu!"
TBC
Ok, sebelum nutup cerita, Civ mau berterima kasih banyak kepada OICHI TYARA NO SASORI, EVERLASTING VIC, PAISHAL, ESTOBERIA, CUTTIECATZ, SAKURA025, STARLIGHT!_SHINEEEEEE, DAN SPYWARE CATZ
Dan maaf buat updatenya yang telat =_=
Dah ah, salam persahabatan,~
CIVET
