Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"We live in a world of dreams... A world of fantasy, where everything can happen"

.

Kesenyapan.

Sesuatu yang tidak wajar mendampingi Harry dan Hermione dalam patroli mereka malam ini. Sesuatu yang sangat tidak wajar dan tidak lumrah bagi mereka berdua. Jika biasanya mereka akan berpatroli sembari mengobrol, berbagi cerita mengenai pengalaman mereka hari tersebut, malam ini tidaklah demikian.

Ada kesenyapan di antara mereka, bahkan sesuatu yang terasa seperti kecanggungan. Sudah ada sejak mereka meninggalkan perpustakaan, dimana Hermione baru saja mengalami salah satu kejadian teraneh yang pernah dialaminya di dalam hidup.

Hermione diam saja, karena dia khawatir apabila memulai pembicaraan lebih dahulu akan menjurus ke arah pembicaraan mengenai apa-apa yang ada di perpustakaan tadi. Sedangkan Harry... Hermione tidak tahu kenapa, tapi dia terus menerus diam. Hermione bahkan mulai merasa diamnya Harry karena dia merasa dirinya tak dipercaya oleh Hermione sendiri.

Mungkin... Aku sebaiknya bercerita pada Harry, batin Hermione.

Baru saja dia selesai berpikir seperti itu, dia tersandung sesuatu. Bagai gerakan lamban, dia merasa melihat permukaan lantai mendekat padanya, tangannya mengembang, dia terjatuh-

Harry menangkapnya dengan sigap, mencegahnya jatuh mencium lantai.

Dia mengerjap.

Dia ternyata tersandung tangga.

Tangga. Ternyata mereka telah berbelok untuk menaiki tangga menuju ke lantai tujuh, dan Hermione, yang dari tadi hanya berjalan di sebelah Harry tanpa menyadari ataupun memperhatikan kemana dia pergi, tersandung begitu saja.

Dia mendongak menatap Harry, yang menatapnya balik dengan tatapan khawatir.

"Er..." Hermione ragu-ragu sedikit, sebelum melanjutkan, "Sori."

"Kamu yakin kamu tak apa-apa?" tanya Harry.

"Ya, aku tak apa-apa, hanya tersandung-"

"Bukan itu maksudku, Hermione," kata Harry, memotong kalimat Hermione.

Hermione mengerjap, lagi. Kemudian dia paham.

"Sejak keluar dari perpustakaan kamu terus menerus diam..." ujar Harry pelan.

Hermione menahan napas. Harry akan menanyakannya lagi mengenai apa yang tadi dia lihat di perpustakaan... Apakah sebaiknya menjawab jujur sekarang?

"...Kamu kelihatan sangat lelah... Apakah kamu sudah sangat mengantuk?"

Bahkan sebelum otaknya memberinya waktu untuk berpikir jernih, Hermione langsung menyambar kesempatan ini dan menjawab, "Ya!"

Harry mundur selangkah, tampak agak kaget karena nada suara Hermione. Dia mengangkat sebelah alisnya sedikit, dan tersenyum kecil.

"O...ke? Apakah sebaiknya kita sudahi patroli kita malam ini? Toh kita sepertinya tak akan menemukan siapa-siapa, sama seperti hari-hari sebelumnya?" tanya Harry.

"Oh! Tidak!" kata Hermione keras, membuat Harry mundur sedikit lagi. "Tidak! Tidak tidak tidak tidak tidak! Kita sudah mendapatkan tanggung jawab dari Profesor McGonagall, sebagai Ketua Murid, dan aku tak akan menyalahgunakan kepercayaan untuk memegang jabatan ini dengan memotong waktu patroli! Tidak!" seru Hermione, mengakhiri penjelasannya.

Dengan satu jari telunjuk menusuk di dada Harry, yang mengangkat tangannya dan meringis.

"Buset. Rileks, Hermione," kata Harry. "Aku hanya... Menawarkan."

"Kamu menawarkan untuk melanggar peraturan? Urgh!" kata Hermione, mengangkat tangannya ke udara dan mulai menaiki tangga dengan kesal. Dia menggeleng-geleng, menggerutu, "Kamu makin mirip dengan Ron!"

Harry mengerjap, sebelum terkekeh akhirnya dan berlari mengejar Hermione menaiki tangga menuju ke lantai tujuh. Dia akhirnya berhasil merendengi Hermione yang masih menggerutu pelan, dan nyengir.

"Itu baru Hermione yang kukenal," kata Harry dengan nada jail. Hermione menoleh memandang Harry, dan dalam sekejap dia ingat kembali suasana di antara mereka beberapa menit yang lalu. Dia merasa agak malu, karena dia yang ternyata membuat kecanggungan dari tadi. Dia menunduk, dan berkata, "Maaf."

"Tak masalah," jawab Harry.

Mereka mencapai lantai tujuh, memandang satu sama lain, sebelum mendengus bersamaan. Hermione menggeleng-geleng, dan merasa langkahnya lebih ringan. Serahkan pada Harry untuk menemukan cara membuatnya senang - dia jenius dalam hal itu, lebih ahli daripada Ron.

"Eh tapi yang kukatakan benar lho," kata Harry, memulai pembicaraan. Hermione menoleh memandangnya.

"Apa? Yang mana?"

"Dengan aturan baru yang dijalankan oleh Profesor McGonagall tersebut, akan sangat sulit bagi siapapun untuk bisa menyelinap dan berjalan-jalan di luar asrama pada jam segini. Kupikir sia-sia saja kita patroli, toh kita tak akan bertemu dengan siapapun. Siapa yang mau menghabiskan waktu di luar asrama di malam hari yang dingin?"

"Yah..." Hermione mengangkat bahunya. Yang dikatakan Harry ada benarnya.

Salah. Yang dikatakan Harry sangat benar.

"Hei, Harry..." gumam Hermione.

"Ya?"

"Pernahkah kamu memikirkan, kenapa Profesor McGonagall memberlakukan peraturan baru tersebut di menit-menit akhir sebelum tahun ajaran dimulai?" tanya Hermione.

Harry diam selama beberapa detik, wajahnya memperlihatkan bahwa dia sedang berpikir. Dia menjawab, "Entahlah. Aku tak pernah terlalu memikirkan hal tersebut. Aneh juga sih... Di tahun-tahun sebelumnya tak pernah ada aturan jam malam seketat ini."

"Ya. Dan bahkan membuat setiap pintu masuk ke setiap asrama terkunci sampai pagi datang?" tanya Hermione.

Harry mengernyit, sementara mereka berbelok di koridor panjang yang menuju ke lukisan Nyonya Gemuk-lukisan yang sama yang menjaga pintu masuk ke asrama mereka selama enam tahun. Mereka berhenti di dekat lukisan tersebut. Rute patroli mereka selalu berakhir di lukisan Nyonya gemuk, tempat mereka biasa menyandar di dekat jendela tinggi di sebelah lukisan dan mengobrol ringan.

Sama dengan malam-malam sebelumnya, mereka kali ini juga menyandar di jendela, namun tidak seperti biasanya, mereka memikirkan hal yang sama, sesuatu yang ternyata cukup mencurigakan.

Mengenai aturan baru tersebut...

"Satu-satunya..." Harry bergumam pelan, "Satu-satunya aturan keras yang pernah kudengar, yang terasa sekeras ini, hanyalah saat tahun pertama kita: Saat Profesor Dumbledore menjadikan koridor lantai tiga sebagai koridor terlarang karena disimpannya Batu Bertuah di sana."

"Ya," kata Hermione. "Ya, itu sih... Masuk akal. Ada Fluffy di balik pintu itu, jadi jelas siapapun tidak boleh masuk ke sana kecuali mau mati..."

"Dan kenapa sekarang alih-alih dilarang memasuki suatu tempat tertentu, murid-murid malah dilaran keluar dari asrama mereka dengan sangat keras?" tanya Harry, mengernyit kepada bulan di atas. Dia menggigit bibirnya, bergumam, "Aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya..."

"Aku juga tidak."

Harry mengangkat alisnya dengan kaget, menoleh menatap Hermione.

"Tidak pernah?"

"Tidak pernah."

"Tapi tadi kamu-"

"Aku baru kepikiran pertanyaan itu saat malam ini, Harry, percayalah," kata Hermione cepat. Dia tak mau kecanggungan akan 'perpustakaan' muncul lagi. Harry tampaknya mengerti, dia tak menuntut penjelasan dari Hermione.

Mereka berdiri diam selama beberapa menit, sampai Hermione berkata pelan, "Semua murid... Tak diperbolehkan keluar dari asrama mereka sampai pagi. Kecuali kita..."

"Kecuali kita..." gumam Harry. Dia mengerjap, dan menoleh ke Hermione.

Hermione menyadari tatapan aneh dari Harry, dia memandang Harry balik dan bertanya, "Apa?"

"Aneh. Kenapa kita dibiarkan di luar... Sementara murid-murid lain tidak boleh? Apa karena..." Harry menelan ludah. Masa sih... "... Apa karena kita Ketua Murid, jadi Profesor McGonagall menganggap kita akan aman? Tak akan apa-apa di malam hari, begitu? Makanya kita disuruh patroli terus?"

"Kalau mengenai alasan kenapa kita disuruh patroli, aku tak tahu. Mungkin karena semata-mata itu adalah kewajiban umum sebagai Ketua Murid," jawab Hermione. "Namun mengenai satunya lagi... Kita dibiarkan di luar, karena Profesor McGonagall tak dapat melarang kita."

Harry mengerjap.

Dia mengernyit sedikit, agak bingung akan susunan kalimat Hermione, khususnya yang terakhir. Profesor McGonagall tak dapat melarang?

"Apa maksudmu, Hermione?" tanya Harry.

"Well, begini," kata Hermione, menarik napasnya, menyiapkan dirinya untuk masuk ke mode ceramah. Sekali ini, Harry tak bereaksi, malah dia penasaran.

"Aku sudah membaca Sejarah Hogwarts, dan aku membaca bahwa jabatan sebagai Ketua Murid bukanlah sebuah jabatan main-main, Harry. Benar-benar bukan untuk main-main. Siapapun yang menjadi Ketua Murid haruslah sanggup untuk diberi kepercayaan dan tanggung jawab penuh, karena sejumlah besar keistimewaan yang kita terima dari jabatan ini.

"Pertama," Hermione membuka telapak tangannya, dan melipat jempolnya. "Pertama, kita diberikan akses ke seluruh Ruang Rekreasi asrama di Hogwarts. Semuanya. Tanpa terkecuali, dan aku tak membicarakan Kata Kunci di sini. Ada asrama yang tak menggunakan Kata Kunci-"

"-Yeah, aku tahu. Seperti Ravenclaw, kan?"

"-dan Hufflepuff," tambah Hermione.

Harry mengangkat alisnya. Hermione berkata, "Oh, kamu belum tahu? Ya sudah... Yang jelas, kita bisa mengakses ke setiap Ruang Rekreasi tersebut. Tak perlu kata kunci, karena kita bisa memasukinya dengan perintah."

"Kalau itu, aku juga tahu," kata Harry. Dia memiringkan kepalanya sedikit, bertanya, "Tapi aku masih belum bisa melihat dimana istimewanya-"

"Oh, Harry, itu benar-benar istimewa!" kata Hermione dengan nada tak sabar. "Tahukah kamu, siapa selain Ketua Murid yang bisa melakukan hal tersebut?"

"Er... Guru? Para Staf?"

"Hanya Kepala Sekolah Hogwarts," kata Hermione dengan sedikit mendesis.

Harry diam sesaat, sebelum implikasi dari pernyataan Hermione tersebut menghantamnya telak-telak. Dia menelan ludahnya, berkata, "Apakah maksudmu-"

"Kita memiliki ikatan sihir dengan kastil ini sekarang, ya," kata Hermione. Dia menggeleng-geleng. "Aku tak menduga kamu tak mengetahui sedikitpun mengenai implikasi semua kekuasaan yang kita terima..."

"A-aku tak tahu!" kata Harry buru-buru. "Aku tahu apa saja keistimewaan kita, semua kuasa dan hak yang kita punya, tapi aku tak tahu apa implikasinya."

"Hanya Kepala Sekolah Hogwarts dan kita yang bisa memerintahkan pintu-pintu di kastil untuk membuka, dan mengakses ke seluruh jalan rahasia dengan kata-kata belaka," kata Hermione, mendekat ke Harry. "Sekarang mengerti kan, kenapa saat Sirius dicari-cari di tahun ketiga, saat kita semua di Aula Besar, Percy ikut mencari bersama para guru dan staf? Karena dia, sebagai Ketua Murid, bisa mengakses ke semua tempat di penjuru kastil ini. Tempatkan satu guru dengannya, dan dia menjadi pencari luar biasa."

Mereka diam lagi setelah penjelasan Hermione tersebut. Harry tampak tak sanggup berkata-kata, sementara Hermione menghela napas panjang-panjang, dan menatap ke luar kastil. Dia menunggu sampai Harry berhenti menggeleng-geleng pelan, sebelum melanjutkan,

"Kedua, kita bebas berada di luar ruangan, maksudku dimanapun di kastil ini, walaupun malam telah tiba. Profesor McGonagall tak bisa mencegah kita, karena dia tak bisa mengunci Ruang Rekreasi Ketua Murid. Hanya kita yang bisa mengutak-atik akses Ruang Rekreasi kita. Itu sama saja dengan akses ke Ruang Kepala Sekolah..." Hermione menyadari tatapan Harry yang masih agak bingung, maka dia menambahkan, "Ingat di tahun kelima? Saat Umbridge ingin memasuki Ruang Kepala Sekolah? Dia memiliki kekuasaan sebagai kepala sekolah, karena diangkat oleh Kementrian Sihir. Namun Hogwarts tak mengakuinya. Dumbledore tak mengakuinya. Makanya dia tak bisa masuk ke sana."

"Sedangkan Snape bisa. Aku mengerti..." gumam Harry, mengangguk-angguk. Dia menatap Hermione, berkata pelan, "Aku mengerti sekarang... Ajaib sekali ternyata semua ini..."

"Sihir bekerja dengan cara yang misterius," kata Hermione, mengangkat bahunya.

Mereka diam lagi selama beberapa saat, menatap ke danau gelap yang memantulkan cahaya bulan di langit. Airnya yang beriak pelan setiap beberapa detik, mengindikasikan bahwa cumi-cumi raksasa melambai-lambaikan tentakelnya di bawah permukaan air... Hermione menatap cumi-cumi tersebut...

Dan dia menyadari, bahwa sebenarnya cumi-cumi tersebut, kemungkinan besar adalah salah satu monster yang sangat langka. Hewan tersebut jelas magis, karena termasuk semi-sentient: Memiliki kecerdasan, meski rendah. Namun hewan itu tak tercatat di dalam buku Fantastic Beasts, dan tidak juga tercatat sebagai spesies sihir apapun...

Hewan itu kemungkinan adalah monster, seekor monster kuno, yang berdiam di sana sejak zaman pendiri... Sebuah monster, sama seperti Fluffy, seekor Cerberus, anjing penjaga neraka dalam legenda...

Cerberus, Giant Squid, Basilisk... Banyak sekali monster yang pernah mendiami kastil ini...

Dan semua genangan air di perpustakaan, yang menghilang saat dia mengeceknya lagi... Kemudian peraturan jam malam yang keras, aneh dan memaksa... Namun tak mencegah mereka berdua untuk berjalan-jalan di malam hari. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Harry menguap di sebelahnya, dan Hermione menyadarinya. Dia menoleh menatap Harry, alisnya terangkat sedikit.

"Kupikir kamu tidak mengantuk?" tanya Hermione.

"Aku masih dalam masa pertumbuhan," jawab Harry. Hermione mendengus, dan menggeleng-geleng lagi.

Menarik napas dalam, Hermione berkata, "Kupikir... Kita sebaiknya bertanya kepada Profesor McGonagall dalam waktu dekat ini, mengenai aturan baru tersebut... Aku tak suka informasi-informasi penting disembunyikan dari kita."

"Ya, ya," kata Harry, menggaruk kepalanya. Dia menguap lagi, dan berkata, "Aku akan senang berdiskusi mengenai ini lebih banyak lagi, namun bagaimana kalau kita berdua kembali ke Ruang Rekreasi sekarang? Sudah malam, dan mungkin saja benar-benar ada monster yang dilepas di sini, berkeliaran di kastil di malam hari, sehingga memaksa Profesor McGonagall mengurung murid-murid selain kita di dalam asrama?"

Hermione menggigit bibirnya. Dia tidak begitu mau tidur... Tidak dalam kondisi otaknya sedang sangat aktif begini. Semuanya terasa saling berkait... Namun dia masih belum bisa mengaitkannya dengan tepat. Dia ingin terjaga beberapa jam lagi, untuk berpikir...

Namun dia tak memprotes keputusan Harry. Mengangguk, dia berjalan bersama Harry kembali ke Ruang Rekreasi mereka.

.

-XXX-

.

Walaupun baru saja menjalani malam yang aneh, esok paginya Hermione mendapati dirinya duduk bersama Harry dan Ginny dalam sarapan di meja Gryffindor. Hari ini adalah akhir pekan. Harry dan Ginny telah mengenakan sweater Quidditch mereka, karena mereka akan melaksanakan latihan Quidditch bersama seluruh anggota tim yang baru terbentuk. Mereka mengobrol ringan, seperti hari-hari biasa.

"Kalau Hermione sih enak," kata Harry, nyengir kepada Hermione. "Dia sudah berbulan madu bersama Ron di Australia. Aku, keluar dari The Burrow saja susah."

Hermione memutar bola matanya, sementara Ginny terkikik. Fakta bahwa Ron bersikeras untuk ikut bersama Hermione saat dia pergi ke Australia untuk mencari orangtuanya adalah sesuatu yang sempat membuat Mrs Weasley kalang kabut. Mrs Weasley sangat setuju jika Ron dan Hermione jadian, namun dia belum siap untuk ditinggal pergi satu anaknya lagi-dia menyangka Ron dan Hermione ingin kawin lari begitu saja.

"Aku masih belum mau menikah, kalau boleh kutambahkan," kata Hermione, menyuap buburnya. Dia menunggu tertelannya bubur tersebut sebelum berkata lagi, "Masih terlalu muda."

"Kamu paling tua di antara kita berempat, Hermione," kata Ginny, nyengir. Hermione menoleh perlahan kepadanya, mengangkat alisnya dengan gestur yang khas.

"Eeep!" Ginny berjengit, berusaha berlindung di balik punggung Harry.

"Ayolah. Itu fakta. Kamu lahir tahun 1979. Makanya, kupanggil kamu kakak kan, bukannya adik," kata Harry, nyengir.

"Urg! Kamu juga! Ingin membuatku semakin merasa tua ya!" keluh Hermione, melempar tangan kirinya ke udara. Ginny dan Harry mendengus, sementara Hermione menggeleng lagi, bergumam, "Dasar remaja..."

"Hei. Tapi serius," kata Harry, setelah mereka menyuap beberapa sendok dari sarapan mereka masing-masing lagi. "Mengenai jalan-jalan."

"Kenapa... Mengenai jalan-jalan?" tanya Hermione.

"Di papan pengumuman Ruang Rekreasi Gryffindor sudah tertempel pengumuman bahwa Sabtu minggu depan akan ada kunjungan ke Hogsmeade. Kita bisa memberitahu Ron, sehingga dia bisa datang ke Hogsmeade juga," kata Ginny. Dia merundukkan kepalanya sedikit, sehingga posisinya menjadi lebih dekat ke Hermione. Nyengir kecil, dia berkata, "Jadinya kita berempat kan bisa kencan ganda lagi."

Harry mendengus, dan Hermione tersenyum. "Aku akan memberitahu ini padanya. Kupikir nanti, saat dia mengirim surat lagi."

"Lha, memangnya kapan terakhir kali dia mengirim untukmu?" tanya Ginny.

"Semalam," jawab Harry dan Hermione bersamaan. Mereka mengerjap, dan menatap satu sama lain, sedangkan Ginny memandangi mereka berdua bergantian dengan bingung. Harry mendengus, dan berkata,

"Burung hantu Ron, Pig, terbang mengelilingi Ruang Rekreasi sebelum naik ke kamarmu untuk mengantarkan suratnya, Hermione. Aku melihatnya, karena aku sedang ada di Ruang Rekreasi saat Pig datang."

"Benarkah?" tanya Hermione, agak kaget. "Kuingat Pig datang sudah malam sekali. Aku saja sudah nyaris tidur. Kamu masih di Ruang Rekreasi, sedang apa?"

Harry mengernyit sedikit, kemudian mengangkat bahunya, nyengir. "Aku lupa ya. Kurang ingat. Sepertinya cuma iseng-iseng tak bisa tidur yang biasa, kan aku biasa menghabiskannya dengan seperti itu. Jalan-jalan tak jelas."

"Ya, aku masih ingat itu," gumam Ginny.

Harry mengangkat alisnya dengan implikatif kepada Ginny, yang mengangkat alisnya balik. Ginny berkata, "Ingat tidak, malam hari di The Burrow, saat kamu 'berjalan-jalan' dan 'bertemu aku secara tak sengaja di dapur'?"

"Ugh," keluh Hermione, memotong mereka berdua. Dia tidak mau mendengarkan detil itu di pagi hari. "Cukup. Oke, yang jelas aku akan memberitahu Ron kali berikutnya kami berkirim surat."

"Atau kamu bisa menggunakan burung hantu sekolah, Hermione," kata Ginny. "Aku bisa mengantarmu ke sana nanti, setelah latihan Quidditch. Bagaimana?"

Hermione memikirkan hal tersebut sebentar. Jika dia menggunakan burung hantu sekolah, tentu saja dia bisa memberitahu Ron mengenai kunjungan Hogsmeade ini lebih cepat. Memang dia tidak dalam status terburu-buru sih, mengingat kunjungan ke Hogsmeade baru akan dilaksanakan minggu depan, bukan Sabtu ini. Tapi jika bisa memberitahu Ron lebih cepat...

Hermione mengangguk, tersenyum, dan berkata, "Boleh. Terima kasih ya."

"Tak apa-apa. Apapun untuk calon ipar, oke?" kata Ginny, nyengir. Hermione memutar bola matanya, lagi, namun juga nyengir.

Pintu Aula Besar dibuka, dan Harry menoleh. Demelza Robins, salah satu chaser tim yang paling handal, masuk. Harry juga melihat Profesor McGonagall berjalan sedikit di belakangnya, namun dia tak memikirkan itu lebih lanjut. Demelza sudah datang, itu berarti seluruh pemain sudah ada di meja Gryffindor. Dia menoleh ke seluruh anggota timnya, yang semuanya sudah selesai makan dan sedang mengobrol, sebelum memandang Ginny.

"Berarti dengan ini sudah lengkap, kan?" tanya Harry.

"Yap. Tujuh orang, ditambah dirimu, aye, kapten," jawab Ginny, melakukan hormat satu tangan. Hermione mendengus, dan Harry menggeleng-geleng. Sekarang yang harus dia lakukan hanyalah menunggu Demelza selesai makan. Dia bisa mendengar langkah kaki Demelza yang makin lama makin dekat, terasa seperti buru-buru... Mungkin karena dia sadar bahwa dia yang paling terlambat...

Namun dia sangat kaget saat mendapati bahwa yang berbicara padanya dan menepuk bahunya bukanlah Demelza, melainkan sebuah suara yang lebih familiar lagi.

"Selamat pagi, Mr Potter, Miss Granger."

Harry buru-buru menelan pudingnya, begitu juga dengan Hermione yang langsung meletakkan cangkir susunya. Mereka menjawab, "Pagi, Profesor McGonagall."

Mereka melihat Profesor McGonagall mengangguk, dan Hermione, yang mendapatkan posisi duduk lebih enak karena bisa memandang Profesor McGonagall lebih nyaman, mengamatinya. Profesor McGonagall tampak seperti biasanya, namun bibirnya tampak berkedut sedikit. Profesor McGonagall adalah salah satu guru favoritnya di Hogwarts, dan salah satu guru yang paling dekat dengannya, jadi dia langsung sadar bahwa sepertinya ada masalah. Menoleh, Hermione menatap Demelza, yang ternyata berdiri persis di sebelah Profesor McGonagall.

Dia agak terkejut melihat Demelza bermata merah, sepertinya baru menangis.

Dugaan tersebut semakin diperkuat saat dia melihat Demelza juga agak sesenggukan.

Apa yang...

"Mr Potter, Miss Granger, aku membutuhkan kalian berdua di kantorku. Sekarang juga," kata Profesor McGonagall dengan tegas.

Hermione mengerjap, dan Harry tercekat sedikit. Harry buru-buru mengendalikan dirinya, dan berkata, "T-Tapi saya baru saja mau memimpin tim untuk latihan Quidditch, Profesor!"

"Latihan juga dibatalkan," kata Profesor McGonagall keras, membuat seluruh anak Gryffindor kaget dan seluruh anggota tim mengerjap bingung. "Seluruh murid Gryffindor, kembali ke asrama sekarang juga. Kalian akan dihitung oleh para Prefek di sana."

Keluhan-keluhan dan suara-suara protes terdengar, namun Profesor McGonagall tidak mengindahkan. Dia malah berkata, "Lima puluh poin dari Gryffindor jika dalam waktu lima menit masih ada anak Gryffindor yang di meja ini. Sekarang bubar!"

Mendengar itu, bagai semut semua anak buru-buru bangun dan berjalan bergerombol menuju pintu Aula Besar. Asrama-asrama lainnya memandangi dengan bingung dan tak mengerti. Harry, Hermione, Ginny dan Demelza merapat ke meja agar tidak tertabrak aliran anak-anak Gryffindor tersebut.

Akhirnya, Profesor McGonagall berkata lagi, "Kalian berdua, ke kantorku. Sekarang ikut. Kamu juga ikut, Miss Robins. Miss Weasley, kembali ke asrama."

Ginny tampak mau protes, dia tak mau disuruh kembali. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi. Harry menggenggam tangannya dengan cepat, berkata, "Kembalilah ke asrama. Setelah penghitungan jumlah selesai, datang ke Ruang Rekreasi Ketua Murid. Kamu sudah tahu lokasi dan kata kuncinya, kan?"

Mengangguk, Ginny berkata, "Hail Mary?"

"Ya. Sekarang, kembalilah," kata Harry. Ginny mengangguk lagi, dan berjalan cepat mengikuti anak-anak Gryffindor lainnya menuju ke Ruang Rekreasi. Setelah itu, dengan Profesor McGonagall di depan, Harry, Hermione, dan Demelza berjalan menuju ke Kantor Kepala Sekolah.

.

-XXX-

.

Kantor kepala sekolah sudah berubah.

Semua peralatan perak yang dulunya ada di ruangan tersebut telah tiada, digantikan dengan perabot-perabot kuningan yang Harry dan Hermione tidak kenali. Jika dalam kondisi santai, Harry dan Hermione akan dengan senang hati menghabiskan waktu mereka untuk mengamati perabot-perabot tersebut. Namun sikap dari Profesor McGonagall jelas mengatakan bahwa ini bukanlah kondisi santai.

Profesor McGonagall berjalan cepat ke mejanya, mengetuk salah satu peralatan perunggu yang ada di sana dengan ujung tongkat sihirnya. Mendadak, dari peralatan perunggu tersebut, keluar sebuah bentuk badan orang, diikuti wajah, rambut, dan detil-detil tangan. Harry mengamati dengan takjub, dia seperti melihat sebuah hologram yang muncul begitu saja dari sebuah alat yang pernah dia tonton di salah satu film Muggle.

"Bagaimana Filius?" tanya Profesor McGonagall.

"Tidak ada, Minerva. Aku dan Pomona telah mencari-cari di sepanjang sayap barat, namun kami tidak juga menemukannya," jawab hologram-Flitwick.

"Terus cari. Suruh seluruh Peri-Rumah dan para zirah untuk ikut mencari. Kalau perlu, ajak lukisan-lukisan juga. Aku akan segera mengirim kedua Ketua Murid untuk membantu pencarian," kata Profesor McGonagall cepat. Si hologram-Flitwick mengangguk, kemudian lenyap dalam desau asap.

Harry masih memandangi titik dimana si hologram tadi ada dengan menganga sedikit, ketika Hermione sadar lebih dahulu dan berjalan mendekat ke meja McGonagall. Dia bertanya cepat, "Profesor, ada apa? Apa maksud Anda dengan mengirim kami untuk mencari?"

Harry tersadar dari lamunannya, dan mengerjap. Dia menutup mulutnya dengan keras, dan berjalan untuk berdiri di samping Hermione. Dia mendengar Demelza terisak pelan, dan dia mengernyit kecil. Sebenarnya apa yang terjadi?

Profesor McGonagall memandangi mereka berdua dengan intens, seolah sedang menilai mereka berdua. Harry dan Hermione, yang sudah cukup mengenal Profesor McGonagall, membiarkannya melakukannya. Akhirnya, Profesor McGonagall menarik napas pelan, menjawab mereka akhirnya.

"Baiklah... Ada kabar buruk, Mr Potter, Miss Granger," kata Profesor McGonagall. Dia mengerling sedikit ke Demelza, sesuatu yang tidak luput dari perhatian Harry dan Hermione. Apakah yang terjadi ini berhubungan dengan Demelza? Profesor McGonagall menghela napasnya, dan berkata,

"Akan kuberitahu saja langsung... Seorang murid menghilang malam ini."

.


A/N: Kadang kupikir jabatan Ketua Murid hanya dianggap seperti jabatan main-main saja, seolah siapapun bisa mendapatkannya, menikmati ruangan Ketua Murid, hanya berpatroli, dan sebagainya. Kupikir harusnya ada pendalaman lebih lanjut mengenai bagaimana Ketua Murid dipilih, bagaimana mereka diangkat, dan bagaimana mereka berbeda dari murid-murid lainnya. Namun, karena JKR tidak sempat menuliskannya di canon, maka pendalamanku di sini sepenuhnya fanon, kusesuaikan dengan plot cerita.