Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"Magic works in mysterious ways"

.

Hermione memandangi Profesor McGonagall, ternganga. Otaknya yang biasanya bergerak dengan kecepatan tinggi bagaikan kecepatan terbang Thestral, untuk sesaat, berhasil melambat karena hantaman informasi tersebut. Butuh waktu beberapa detik sampai apa yang dikatakan oleh Profesor McGonagall meresap seluruhnya, dan dicerna serta diolah dengan benar oleh saraf-saraf otaknya.

Sangat mengherankan, karena Harry-lah yang berhasil memfungsikan kembali organ-organ komunikasinya terlebih dahulu.

"Menghilang?" tanya Harry bingung.

"Ya, menghilang, Mr Potter," kata Profesor McGonagall.

"Tunggu. Tunggu sebentar," kata Hermione buru-buru, mengangkat tangannya. Dia membuka mulutnya, namun tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, dia memilih mengatakan sesuatu yang sudah ada di pikirannya lebih dulu: "Apa maksud Anda dengan menghilang? Tolong jelaskan dengan lebih lengkap!"

McGonagall menghela napasnya, memijat-mijat dahinya dengan lelah. Hemione berpendapat dia sangat mirip dengan Dumbledore jika melakukan hal tersebut, dan dia baru menyadari bahwa, terlepas dari segala hal, Profesor McGonagall tidaklah muda. Kerutan-kerutan di wajahnya kini bisa dilihat semakin jelas, seiring dengan usianya yang semakin membungkuk.

"Salah satu murid Gryffindor, bernama Stephen Cornish, telah menghilang," kata McGonagall dengan jelas. "Dia... Tidak ada di asramanya."

"Stephen... Cornish?" tanya Harry. "Prefek Gryffindor yang gendut itu?"

McGonagall dan, anehnya, Demelza menatapnya dengan pandangan mencela. McGonagall mengangguk, dan berkata, "Benar, Mr Potter. Mr Cornish menghilang, dia tidak ada di asramanya pagi ini."

Mengangkat sebelah alisnya, Hermione menanyakan pertanyaan logisnya yang pertama: "Bagaimana ceritanya... Bisa terjadi?"

McGonagall menoleh kepada Demelza, dan Harry serta Hermione juga menoleh. Demelza, yang sampai saat itu masih diam, tampak mengkeret sedikit di bawah tatapan mereka bertiga.

"Kupikir Miss Robins akan lebih... Tepat untuk bercerita mengenai hal tersebut, daripada aku sendiri," kata McGonagall. "Bagaimana Miss Robins?"

Demelza menatap McGonagall, ekspresinya menjadi yakin. Dia mengangguk, dan menarik napas dalam, berkata,

"Aku... Semalam aku dan Stephen ada di Ruang Rekreasi sampai larut sekali, mengerjakan... Tugas Transfigurasi kami. Profesor... Menugaskan sebuah tugas yang harus dikerjakan secara berpasangan, dengan partner latihan kami masing-masing."

Demelza memandang Harry dan Hermione sebentar, menggigit bibirnya dengan agak ragu. McGonagall, tampak sudah menyadari keragu-raguan Demelza tersebut, berkata, "Ceritakan."

"Y-Ya," kata Demelza buru-buru. "K-Kami... Kami selesai mengerjakan PR kami pukul 12 malam tepat. Kami... Kami mau... Kami mau..."

Hermione dan Harry mengernyit. Mau apa?

"Mau... Kami mau langsung... Seperti malam-malam biasanya, kami mau bermesraan-"

Harry menganga lebar sekali, efeknya nyaris komikal. Hermione membelalak, dan berkata, "Bermesraan?"

"Er...ya..."

"Tunggu sebentar di situ! Kamu adalah... Kamu... Berpacaran dengan Cornish?" tanya Hermione dengan nada tinggi.

"Ya..."

"Dengan cowok gendut tukang makan tanpa tatakrama itu?" kata Hermione, nyaris menjerit sekarang.

"Dia tidak tanpa tatakrama, dan meskipun gendut dia selalu manis dan baik!" seru Demelza galak.

Sialnya, Hermione bukanlah orang yang bisa mundur begitu saja tanpa perang. Hermione baru mau membalas berseru, namun Profesor McGonagall berkata tegas, "Miss Granger, Miss Robins, aku pikir kita di sini untuk membahas hilangnya Mr Cornish, bukan membahas pendapat kalian masing-masing mengenai fisik dan sifat Mr Cornish! Miss Robins, lanjutkan!"

Hermione tampak memburu, namun diam. Demelza, wajahnya merah padam, menunduk malu karena ditegur McGonagall. Dia menarik napas beberapa kali untuk mengendalikan dirinya, dan berkata, "M-maafkan saya, Profesor."

"Tidak apa-apa. Teruskan ceritamu, Miss Robins!" kata McGonagall.

"Y-Ya..." Demelza menarik napas dalam terakhir, dan melanjutkan, "Jadi... Kami mau bermesraan, tapi... Stephen menyarankan agar kami membereskan dan membawa perkamen-perkamen kami ke atas dulu, sehingga ruang untuk kami bisa lebih luas. Aku setuju, dan aku menyarankan agar kami membersihkan diri dulu dan berganti baju, agar... Agar..."

"Agar kalian tidak usah menghabiskan waktu dengan mencopot terlalu banyak baju saat bermesraan," kata Harry.

"Ya-Ya! Benar!" kata Demelza, mengangguk bersemangat ke Harry. McGonagall dan Hermione menoleh ke Harry, alis masing-masing terangkat. Harry mundur sedikit, bertanya, "Apa?"

Menggeleng-geleng, Hermione menoleh kembali ke Demelza, dan berkata, "Sudah. Teruskan saja."

Demelza tampak tidak senang karena disuruh-suruh oleh Hermione, namun dia tidak protes. Dia melanjutkan, "Jadi... Kami naik ke kamar masing-masing, membawa seluruh perkamen dan barang-barang kami untuk kami bereskan, dan kemudian aku berganti pakaian dengan gaun malamku, kemudian aku turun kembali, dan mendapati bahwa dia belum turun. Aku duduk menunggu dengan sabar, menunggu, dan menunggu... Tapi... Tapi..."

Menelan ludahnya, Demelza tampak akan mengalami breakdown lagi. Harry mengernyit kecil, dia berkata pelan, "Tapi dia tidak turun-turun juga."

Mengangguk cepat-cepat, Demelza berkata, "Ya, dia tidak turun-turun juga. Dan begitu aku naik ke kamarnya, tempat tidurnya kosong. Semua barang-barangnya masih berserakan di atas kasurnya, tapi dia tidak ada! Bahkan di kamar mandi, di dalam lemari... Tidak ada sama sekali! Kupikir dia sedang bermain lelucon yang tidak lucu, jadinya aku naik ke kamarku lagi, dan tidur dengan kesal. Tapi sampai pagi hari juga... Tidak ada lagi yang melihatnya!"

...

Hening, sementara hanya suara anak-anak di luar yang terdengar...

Hermione mengernyit bingung. Bukan karena dia tidak mengerti apa yang terjadi, dia sangat mengerti apa yang telah terjadi. Namun... Pertanyaannya adalah...

Adalah...

"Cukup. Miss Robins, silakan kembali ke asrama Gryffindor, bergabung dengan teman-temanmu, dan sampaikan kepada Prefek mengenai kehadiran dirimu. Seharusnya Profesor Doge sudah ada di sana sekarang. Pergilah," perintah McGonagall tegas.

Mengangguk cepat, Demelza melirik ke arah Harry dan Hermione untuk terakhir kalinya, sebelum keluar melalui pintu ruang kantor. Begitu pintu tersebut menutup, Hermione langsung memandang McGonagall, berkata, "Bagaimana mungkin?"

"Itulah, yang justru sedang diselidiki, Miss Granger," kata McGonagall.

"Tapi Anda sendiri yang mengatakan, bahwa pintu setiap asrama selalu dikunci jika masuk jam malam. Dan itu berlangsung sampai pagi hari," kata Hermione. "Tidak mungkin dia bisa menghilang begitu saja."

McGonagall menghela napasnya panjang-panjang, menggeleng pelan. Dia berkata, "Aku juga... Tidak mengerti."

Diam sejenak, semantara McGonagall tampak berpikir keras. Hermione menunggu, dan tidak lama kemudian, McGonagall menegakkan dirinya dan berkata, "Yang jelas, aku ingin kalian membantu para staf untuk mencari Cornish di seluruh kastil. Aku sudah mendengar bahwa kamu memiliki barang yang bisa sangat membantu dalam hal ini, Mr Potter," Harry mengangguk, dan Hermione tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Profesor McGonagall adalah Peta Perampok. "Pergilah... Ke sayap utara dan temui Profesor Flitwick di sana."

"Tunggu. Apa yang membuat Anda sangat yakin... Bahwa Cornish masih ada di dalam kastil?" tanya Hermione.

"Aku..." McGonagall tampak ragu-ragu, sebelum melanjutkan, "Aku dan seluruh anggota Orde telah memasang sistem pengaman yang mengelilingi Hogwarts, nyaris sama kuatnya dengan pertahanan yang dipasang oleh mendiang Profesor Dumbledore sendiri dua tahun lalu. Dengan sistem itu, siapapun yang berusaha masuk atau keluar kastil pasti akan ketahuan olehku... Jika ada yang berusaha keluar atau masuk kastil, semacam alarm akan berbunyi di ruangan ini, memberitahuku langsung. Tak peduli mereka melewati jalan manapun, bahkan jalan rahasia."

Alis Hermione meloncat ke atas. Itu baru berita baru. Kenapa kami tak tahu?

"Sejak kapan... Dan kenapa Anda memasang pelindung itu tanpa memberitahu kami, Profesor?" tanya Hermione.

"Sejak Hogwarts selesai diperbaiki seluruhnya, dan mulai aktif penuh sejak seluruh murid kembali datang ke sini. Aku memasangnya karena aku merasa harus melakukan sesuatu untuk melindungi murid-murid di sini dari bahaya para Pelahap Maut yang masih berkeliaran di luar sana," kata McGonagall.

Hermione mengangguk kecil, mengerling ke arah Harry. Dia tahu, bahwa sepertinya yang dimaksudkan oleh Profesor McGonagall adalah untuk melindungi Harry dari para Pelahap Maut yang ingin membalas dendam...

Tapi...

"Jika Cornish, bagaimanapun caranya, berhasil menerobos pengamanan yang Anda pasang di setiap pintu asrama, tidakkah mungkin baginya untuk lolos dari pengaman yang Anda pasang di sekeliling kastil?" tanya Hermione.

Kali ini, Profesor McGonagall mengernyit. Dia berpikir, ekspresinya tampak ragu-ragu. Kemudian, dia menjawab pelan, "Aku... Yakin sistem pengamanan yang ada sudah sangat... Baik. Tapi... Melihat kondisi yang berhasil dilolosi ini... Aku jadi tidak yakin. Mungkin saja Mr Cornish memang dapat menerobos semua pertahanan tersebut... Entah bagaimana caranya."

Hermione mengangguk lagi, menyerap semua informasi dan kemungkinan-kemungkinan yang ada dan sudah bermunculan di kepalanya ke dalam otaknya. Dia akan memproses semuanya nanti. McGonagall tampak selesai juga, dia berkata,

"Baik Mr Potter, Miss Granger. Aku ingin kalian-"

"Profesor, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Harry, maju selangkah. McGonagall menyadari nada di suara Harry tersebut, begitu juga dengan Hermione, membuat perhatian mereka berdua serentak tertuju kepadanya.

"Ya, silakan," kata McGonagall.

"Baik. Malam itu, malam pertama kami tiba di Hogwarts di awal tahun pelajaran ini, Anda langsung memanggil kami dan memberitahu kami untuk mengumumkan akan adanya peraturan baru. Peraturan yang keras, memaksa, dan sangat tidak wajar. Itu sangat mirip dengan..." Harry memiringkan kepalanya sedikit, "Aturan yang kami dengar saat kami kelas satu."

Hermione tahu ke arah mana pertanyaan yang akan diucapkan Harry tersebut. Dia berusaha berkata ke Harry untuk tidak bertanya sekarang, tapi gagal. Harry bertanya, "Kenapa?"

McGonagall mundur sedikit di kursinya, menatap Harry dengan datar. Dia berkata pelan, "Kenapa... Apa, Mr Potter?"

"Kenapa Anda memberlakukan peraturan seperti itu? Ada apa sebenarnya?" tanya Harry.

Nada suara Harry memberitahukan bahwa pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang Harry ingin untuk dijawab dengan sejujurnya. Hermione bisa mengerti, selama tujuh tahun di Hogwarts, telah banyak sekali yang disembunyikan dari Harry. Banyak sekali yang tidak diberitahukan kepada Harry, padahal Harry-lah yang biasanya harus berurusan dengan hal-hal yang tidak diketahui tersebut.

Biasanya Harry-lah yang harus... Berurusan dengan hal-hal tersebut.

Berurusan...?

McGonagall mengernyit kecil, dan menjawab, "Tentu saja untuk meningkatkan standar keamanan di kastil ini, Mr Potter. Pengalaman yang sudah-sudah membuktikan bahwa pengamanan jam malam yang ada di kastil ini tidaklah cukup efektif dan kuat, jadi aku meningkatkannya sedikit. Apakah itu salah?"

Hermione memandangi Profesor McGonagall. Cuma perasaannya sajakah, atau memang barusan jari-jari Profesor McGonagall bergetar sedikit di atas meja?

Harry, setelah diam beberapa detik, mengangguk singkat dan berkata, "Baik, Profesor. Kami permisi."

"Ya, silakan," kata McGonagall. Harry dan Hermione berbalik badan, dan berjalan keluar dari ruangan.

.

Setelah pintu kantor menutup, McGonagall melepas topinya dan menghela napas panjang-panjang. Suara helaan napas dari belakangnya membuatnya memiringkan kepalanya sedikit, memejamkan matanya.

"Sudah lewat masanya mereka bisa dibohongi dengan alasan-alasan semacam itu, kamu tahu," kata McGonagall pelan.

"Ya," jawab orang di belakangnya dengan suara mendesah.

"Kita harus menceritakan alasannya kepada mereka. Kamu harus menceritakan alasan mengenai latar belakang penerapan aturan tersebut kepada mereka... Dan kalau bisa ceritakan juga padaku," kata McGonagall.

"Aku..." orang itu ragu-ragu, berusaha memilah-milah kata. Dia melanjutkan, "Aku pikir... Semua bisa aman. Namun... Aku sama sekali tak menyangka..."

"Tak menyangka apa? Sebenarnya kamu mau mereka aman dari apa?" tuntut McGonagall, berdiri dan berbalik badan, menatap orang itu penuh-penuh.

Orang itu ragu-ragu lagi, memilin-milin janggutnya dengan gelisah. Dia berkata pelan, "Aku tak bisa memberitahumu, Minerva, maafkan aku..."

McGonagall melotot kepadanya selama beberapa detik lagi, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dia berkata, "Aku percaya padamu. Tapi sebaiknya kamu memiliki alasan bagus untuk menyuruhku menerapkan aturan-aturan semacam itu di sekolahku ini."

Dia mengangguk pelan kepada McGonagall. McGonagall sendiri, setelah menghela napas sebal, mengenakan kembali topinya dan bersiap-siap untuk ikut membantu pencarian.

.

-XXXX-

.

Harry dan Hermione berjalan cepat menuju ke Ruang Rekreasi mereka berdua, jubah mereka melambai-lambai di belakang mereka. Mereka mencapai sebuah koridor panjang, ketika akhirnya Hermione berkata,

"Kamu tak percaya yang baru saja dikatakan Profesor McGonagall?"

Harry menoleh menatapnya, berkata sengit, "Kamu percaya?"

"Tidak.." kata Hermione pelan, menggeleng. "Tidak. Aku lihat dia agak ragu-ragu saat berbicara, dan jari-jarinya bergetar sedikit meskipun nada suaranya tegas. Dia jelas menyembunyikan sesuatu, Harry."

"Lagi," ujar Harry dengan kesal.

"Ya, lagi," kata Hermione, setuju dengan Harry. Mereka menuruni tangga lagi, dan Hermione berkata,

"Entah apa lagi yang mereka sembunyikan kali ini dari kita. Masa sih mereka berharap kita tidak akan curiga? Sudah terlalu banyak keanehan sejak aturan itu diberitahukan ke kita!"

"Selain latar belakangnya? Kamu juga menyadarinya?" tanya Harry.

"Ya," kata Hermione. "Salah satunya, kenapa Profesor McGonagall menyuruh kita untuk mengumumkan melalui para Prefek? Bukankah akan lebih mudah jika peraturan baru tersebut dia umumkan sendiri saat acara Pesta Penyambutan?"

Harry mengernyit, mengangguk pelan. Dia berkata, "Kalau... Mungkin benar-benar ada makhluk yang berkeliaran di malam hari... Di luar asrama... Mungkin Profesor McGonagall benar-benar meletakkan sesuatu lagi di dalam kastil..."

"Dan dia percaya bahwa kita berdua tidak akan diapa-apakan oleh makhluk tersebut? Memangnya ada makhluk yang khusus tidak akan menyerang Ketua Murid?" kata Hermione dengan cepat. "Belum lagi kekonyolan menyuruh kita berpatroli di malam hari, padahal kalau dia sangat yakin akan sistem keamanan tersebut, seharusnya dia tak perlu menugaskan kita patroli lagi!"

"Terlalu banyak lubang, terlalu banyak keanehan..." gumam Harry. Dia menggeleng-geleng, berkata, "Ada sesuatu yang sedang terjadi di sini, dan apapun itu, Profesor McGonagall tak mau memberitahu kita. Bagus sekali..."

Hermione memandang Harry dengan agak khawatir, namun rasa kesalnya kepada Profesor McGonagall juga sedang tinggi. Sesuatu yang aneh dan kurang wajar, karena Hermione sangat jarang merasa tidak suka kepada Profesor manapun (minus Umbridge). Hermione biasanya sangat respek kepada mereka, namun kali ini dia sudah merasa cukup. Dia juga memiliki batasan.

"Peta Perampok masih kamu pegang, kan, Harry?" tanya Hermione.

"Tentu saja," kata Harry. Mereka berjalan terus, hingga mencapai ke pintu menuju Ruang Rekreasi mereka. Hermione mengucapkan kata kuncinya dengan tidak sabar, dan mereka masuk ke dalamnya.

Ginny sudah duduk di salah satu sofa saat mereka masuk. Begitu mereka mendekat, dia langsung melompat berdiri menghampiri mereka, tampak tidak sabar.

"Akhirnya. Apa sebenarnya yang terjadi? Profesor Doge menyuruh kami semua untuk tetap di asrama sampai Profesor McGonagall tiba, dan aku harus memberi alasan mengenai kalian menungguku agar bisa keluar-"

"Sebentar. Ginny, bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Hermione, agak bingung.

"Aku memberitahunya kata kunci untuk masuk ke sini," jawab Harry cepat, sebelum Ginny sempat membuka mulutnya. "Ginny, kami minta maaf, kami harus melakukan sesuatu setelah ini. Kamu bisa menunggu di sini, tidak apa-apa. Sebentar."

Kata-kata Harry tidak tersusun dengan benar, dia langsung berlari dengan cepat menaiki tangga ke kamar tidurnya. Ginny menatap punggungnya yang menghilang dengan cepat, sebelum menoleh ke Hermione, meminta penjelasan.

"Dia tidak dalam kondisi emosional yang... stabil," kata Hermione.

Ginny diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Hermione. Dia mengangguk pelan.

.

Harry berlari memasuki kamarnya, tak menyadari bahwa pintu kamarnya membuka sendiri secara magis begitu dia mendekat. Dia langsung berhenti di depan kopernya, dan membukanya dengan cepat. Dia masih ingat, dia selalu menyimpan Peta Perampok di dalam kopernya, sekedar sebagai tindakan pengamanan. Pengalamannya yang sudah-sudah memberitahunya bahwa menyimpan Peta Perampok di udara terbuka akan sangat berbahaya.

Dia mengeluarkan jubah gaibnya dari dalam koper, dan mengeluarkan beberapa pasang kaus kaki lagi. Dia mengira dia akan melihat selembar perkamen tergeletak di dasar koper yang kini telah kosong, namun tidak ada apa-apa di sana.

Tidak ada Peta Perampok.

Harry mengerjap.

Dia menoleh ke tumpukan kaus kaki dan jubah gaibnya. Dengan cepat, dia mengecek semuanya, berpikir bahwa mungkin Peta Perampoknya terselip di antara lipatan-lipatan jubah dan seluruh kaus kaki tersebut.

Namun tidak ada.

...

Mengernyit, Harry berdiri perlahan dan berjalan ke meja belajarnya. Dia ingat semalam sempat mengeluarkan Peta Perampoknya untuk memperhatikan titik berlabel 'Ginny Weasley' selama beberapa menit. Apakah dia lupa mengembalikannya ke dalam koper?

Dia menggeser-geser tumpukan buku pelajaran di atas mejanya, bersama gulungan-gulungan perkamen. Dia membuka gulungan-gulungan tersebut satu per satu, mengeceknya, memastikan bahwa mereka bukanlah Peta Perampok, bahwa mereka hanya perkamen-perkamen biasa yang berisi esai-esai yang baru saja dikerjakannya. Dia tidak dikecewakan.

Tidak ada Peta Perampok di antara gulungan-gulungan perkamen tersebut.

Agak panik sekarang, Harry memeriksa setiap buku-bukunya, termasuk buku tebal berjudul A Divine Comedy yang dipinjamkan Hermione padanya. Dia mengecek halaman buku tebal itu satu per satu, mungkin saja Peta Perampok ada di sana. Bagaimanapun dia telah membaca buku itu, meskipun tidak sampai selesai, dan saat membaca, mungkin saja Peta Perampoknya mendadak terselip-

Namun tidak ada juga.

Selesai mengecek semuanya, Harry berdiri tegak. Dia memandang berkeliling, ke seluruh penjuru kamarnya. Dia mengeluarkan tongkatnya, memfokuskan pikirannya kepada satu objek tersebut.

"Accio Peta Perampok!" ujarnya.

Suara desau angin terdengar, tanda bahwa mantra tersebut bekerja. Dia menunggu, berdiri diam dan menunggu... Mungkin Peta Perampoknya sedang dalam perjalanan...

...

Mengerling ke jam dinding, dia menyadari bahwa sudah dua menit lewat.

Dia masih ingat, dulu dia hanya membutuhkan waktu tiga puluh detik untuk memanggil Firebolt dari kastil ke arena pertarungan dengan naga.

Jadi tidak mungkin Peta Perampok membutuhkan waktu selama itu.

Apakah Peta Perampok dimantrai, sehingga tidak bisa dikenakan mantra panggil?

Tidak. Dulu di tahun keempatnya, Moody palsu pernah memanggil Peta Perampok dengan mantra panggil, dan berhasil.

Menunggu selama dua puluh detik lagi, Harry memandang berkeliling kamarnya dan sampai pada satu kesimpulan.

Kesimpulan yang... Sangat aneh.

Dia menoleh ke pintu masuk kamarnya, yang terbuka, dan suara-suara Hermione dan Ginny dari lantai bawah.

Sial!

Menggenggam erat tongkat sihirnya, Harry berlari keluar kamar.

.

Hermione dan Ginny menoleh melihat Harry berlari turun. Ginny maju lebih dulu, bertanya, "Akhirnya! Kenapa lama sekali Harry-"

Namun dia terdiam melihat ekspresi wajah Harry.

Hermione juga kaget melihat ekspresi wajah tersebut, dia berjalan maju dan berkata, "Ada apa, Harry? Apa yang terja-"

"Diam di tempat, Hermione," kata Harry keras-keras.

Hermione berjengit karena suara tersebut. Sudah sangat lama sejak dia menjadi sasaran suara keras dari Harry tersebut, dan dia bergetar sedikit karena kaget dan agak sakit hati. Ginny mengernyit, dan berkata mencela, "Ada apa sih, Harry? Kamu tak perlu membentak Hermione seperti itu, tahu!"

Harry menatap Ginny, kemudian kembali ke Hermione, sebelum kembali ke Ginny. Dia berkata pelan, "Ginny, apakah tadi ada orang yang ikut masuk bersamamu ke dalam Ruang Rekreasi ini?"

Ginny mengerjap bingung. Dia mengernyit, menjawab, "Tidak. Aku masuk ke sini sendirian."

"Dengan kata kunci yang kuberitahu padamu?"

"Ya."

Harry maju selangkah. Dia bertanya pelan, "Apakah kamu memberitahu orang lain mengenai kata kunci tersebut?"

Ginny mengernyit utuh-utuh sekarang. Dia berkata sengit, "Tentu saja tidak! Aku cukup bisa memegang kepercayaan, tahu!"

Harry mengangguk pelan, kemudian menoleh ke Hermione. Dia bertanya pelan, "Hermione, apakah kamu memberitahu siapapun mengenai kata kunci?"

"T-Tidak," jawab Hermione cepat.

Harry mengangguk lagi, kali ini memandang berkeliling ruang rekreasi, tongkat sihirnya terangkat. Ginny mundur sedikit, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sementara itu, Hermione, yang lumayan tahu, maju dan berkata pelan,

"Ada apa... Sebenarnya ada apa, Harry?"

Harry memandang mereka. Dia tidak menjawab malah bertanya, "Kalian berdiri di sini terus sejak aku naik ke kamarku kan? Ginny, sejak kamu datang, tidak ada tanda-tanda pintu ini terbuka sendiri, kan?"

Tak berkata-kata, Hermione dan Ginny mengangguk.

"Bagus," kata Harry. Dia menarik napas dalam untuk menenangkan diri, kemudian berkata, "Peta Perampok hilang."

Hermione memekik kaget, sementara Ginny berkata, "Hilang?"

"Ya, hilang," kata Harry pelan, memandang berkeliling ruang rekreasi dengan intens. Dia berhenti sejenak, mengerling ke Ginny dan berkata, "Aku masih ingat terakhir menggunakannya semalam setelah patroli untuk mengamati namamu, Ginny, jadi aku yakin peta itu masih ada sampai semalam. Dan aku masih ingat menaruhnya di dalam koperku, aku tak pernah membawanya keluar dari ruang rekreasi hari ini."

Diam lagi, sementara Hermione dan Ginny menyerap informasi tersebut. Hermione menggeleng pelan, berkata, "Apakah berarti... Seseorang..."

"...telah mengambilnya dari kamarmu pagi ini," kata Ginny.

"Ya, benar," kata Harry. "Dan karena tidak ada orang lain yang tahu cara masuk ke sini selain kita bertiga-"

"-Dan pintu ruang rekreasi tidak dibuka sejak tadi pagi-" kata Hermione, menyambung kalimat Harry-

"-hanya ada dua kesempatan masuk, yaitu saat Ginny masuk, atau saat aku dan Hermione masuk-"

"-dan pintu ini belum terbuka lagi selain saat-saat itu, dan tidak mungkin keluar saat kami masuk, karena pintu itu lumayan sempit dan menutup secara otomatis begitu siapapun masuk-"

"-berarti seseorang harus menunggu sampai ada orang lain yang keluar, agar dia bisa ikut di belakang orang itu-"

"-Sama halnya jika mau masuk, satu-satunya cara hanyalah dengan mengikuti di belakang orang yang masuk. Kalau mau keluar, harus ikut di belakang orang yang keluar. Jadi jika ada orang yang menyelinap masuk, naik ke kamarmu dan mengambil Peta Perampok pagi ini, dia pasti..."

"Masih ada di sini," kata Ginny, mengakhiri pembicaraan sambung-kalimat Harry dan Hermione tersebut. Hermione mengerti, dia mengeluarkan tongkat sihirnya dan dia memandang berkeliling ruang rekreasi dengan khawatir.

Ginny mengeluarkan tongkatnya juga. Dia maju selangkah dan memandang berkeliling, berkata, "Siapapun yang mengambil Peta Perampok, dia masih ada di dalam ruangan ini."

.