Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
"He's here."
.
"Tenang, Harry, Ginny," kata Hermione, mengangkat sebelah tangannya.
Harry dan Ginny menoleh menatapnya dengan bingung, namun Hermione tidak mengacuhkan mereka. Dia mengayunkan tongkatnya seraya berkata, "Homenum revelio!"
Gelombang sihir memancar dari ujung tongkat Hermione, merambat bagaikan aliran air. Gelombang tersebut melewati Harry dan Ginny, membuat mereka gemetar sedikit, dan akhirnya mencapai dinding.
Ujung tongkat Hermione, yang menyala semenjak gelombang tersebut mulai mengalir, memadam begitu mantra tersebut berhenti sepenuhnya. Dia mengernyit sedikit, menoleh ke kanan kirinya, sebelum akhirnya menurunkan tongkatnya perlahan.
Harry bertanya, "Bagaimana? Ada orang... di sini?"
Hermione menggigit bibirnya, berkata pelan, "Aneh... tidak ada."
Alis Ginny terangkat tinggi. Dia bertanya pelan dengan heran, "Tidak ada?"
"Ya, tidak ada," kata Hermione, menurunkan tongkatnya sepenuhnya. Dia menoleh menatap Ginny dan Harry, lalu berkata, "Mantra tersebut berfungsi untuk memperlihatkan kepada kita mengenai keberadaan manusia di ruangan ini. Aliran mantra tersebut mengalir sampai ke lantai atas juga. Jika ada orang lain selain kita di sini, apalagi jika mereka bersembunyi, mantra tersebut pasti sudah memberitahuku mengenai keberadaan mereka."
Mengernyit kecil, Harry melangkah mendekat ke Hermione. Tongkat sihirnya masih setengah terangkat di depannya, dia bertanya, "Kamu... Yakin? Bagaimana jika mereka... Bersembunyi di bawah jubah gaib?"
"Seharusnya tak ada pengaruh. Jubah gaib hanya membuat kita tidak terlihat, tidak membuat kita menjadi tidak ada. Mantra itu mendeteksi keberadaan kita, tak terpengaruh apakah kita terlihat atau tidak," jawab Hermione.
Melihat ke sekeliling ruangan sekali lagi, Ginny akhirnya menurunkan tongkatnya juga, dan memasukkannya ke dalam sakunya. Dia menoleh kepada Hermione, dan berkata, "Mantra yang praktis... Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya."
"Itu adalah level NEWT. Kupikir wajar jika kamu tidak pernah mendengarnya. Bahkan tidak semua kelas tujuh semester akhir pernah mendengarnya," kata Hermione, mengantongi tongkatnya juga. Dia menoleh kepada Harry, yang masih tampak agak kaku dan ragu-ragu.
"Kenapa, Harry?" tanya Hermione pelan.
Tongkat Harry, yang tadinya mulai menurun, berhenti dalam posisi mengacung ke samping. Hermione melihat ujung tongkatnya mulai menyala redup, pertanda sihirnya mulai bekerja. Dia mengerjap, dan mendongak menatap Harry lagi.
"Harry, tenang."
"Ada orang yang menerobos masuk ke sini, naik ke kamarku, mengambil Peta Perampok dan pergi lagi," kata Harry pelan. Dia menoleh memandang Hermione dengan pandangan tajam, dan mendesis, "Kamu menyuruhku tenang?"
"Tenang, Harry! Tenang!" kata Ginny keras-keras, menyambar lengan Harry yang memegang tongkat dan mendorongnya turun. Tangan Harry turun, meski masih tampak kaku, dan Ginny menatapnya dengan kesal. "Kamu kenapa sih? Mungkin saja kamu yang lupa meletakkannya! Jangan malah emosi kepada kami!"
"Aku tidak lupa! Aku ingat aku mengeluarkannya semalam!" kata Harry.
"Y-ya, kamu mengeluarkannya semalam untuk melihat titiknya Ginny," kata Hermione cepat. Dia mendekat ke Harry, menambahkan, "T-Tapi, apakah kamu benar-benar ingat dimana kamu meletakkannya?"
Harry mengernyit kesal. Dia membuka mulutnya, berniat berteriak kepada Hermione, memberitahunya bahwa dia tidak lupa, bahwa dia benar-benar ingat dimana dia meletakkan peta tersebut setelah dia mengamatinya, bahwa dia meletakkannya di dalam koper. Namun, kesadaran lain perlahan datang merayapinya-
Kesadaran mengenai kenyataannya: Dia tidak benar-benar ingat.
Dia mengerjap kaget.
Harry ingat bahwa dia mengeluarkannya, ya, itu benar. Namun dia tidak ingat dimana dia meletakkannya setelah itu. Biasanya sih, dia mengembalikannya ke dalam koper, namun untuk semalam dia tidak bisa ingat persis dimana dia meletakkannya. Makanya dia tadi... Sempat mencari-cari di antara buku-buku. Dia sempat berpikir bahwa mungkin saja petanya terselip di sana.
Dia tidak ingat.
Bisa saja peta itu terjatuh, terguling, keluar dari sela-sela jeruji jendela dan dibawa angin...
Karena dia tidak ingat, dimana dia meletakkannya.
Sial...
Harry mendongak, menatap Hermione yang tampak was-was, dan Ginny yang tampak khawatir tapi siaga. Memandang mereka berdua, dia sadar bahwa dia baru saja bertindak emosional, sama seperti yang sudah-sudah dulu. Dia merasa menyesal karena hampir saja meledak kepada mereka.
"Oke... maafkan-"
"-Tidak, tidak, Harry, tidak usah minta maaf," kata Hermione. "Mungkin saja kamu benar. Mungkin saja ada orang, atau apapun, yang benar-benar datang ke sini dan mengambil Peta Perampokmu, kemudian pergi tanpa ketahuan oleh kita sama sekali."
"Yeah," kata Ginny, mengangguk. "Kamu bilang... Kamu mengamati titik berlabel aku di malam hari, kan?"
Harry mengangguk, dan Ginny melanjutkan, "Kalau begitu, bisa saja... Kalau benar-benar ada yang mengambil, dia bisa masuk dan pergi. Ada waktu panjang dari malam sampai pagi hari."
Menatap mereka berdua, Harry mengangguk-angguk. Dia bergumam, "Ya..."
Mereka berdiri diam bertiga selama beberapa saat. Hanya terdengar suara desau pelan angin yang masuk melalui jeruji jendela. Akhirnya, Hermione maju dan berkata, "Ayo, Harry. Para Profesor menunggu kita untuk pencarian."
Harry menoleh kepadanya. Dia menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri, kemudian berkata, "Oke... Oke. Ayo kita berangkat."
"Eh, tunggu!" kata Ginny tiba-tiba. "Kalian mau ikut bersama para guru untuk mencari Cornish di seluruh kastil?"
Mereka mengangguk. Ginny berkata lagi, "Kalau begitu, boleh aku ikut? Aku bisa membantu kalian."
Harry baru mau berbicara untuk melarang Ginny ikut, namun Hermione sudah menjawab lebih dulu, "Boleh. Kamu ikut bersama kami, kalau begitu. Dan kalau kami berpencar, kamu bersama Harry, ya."
"Hermione-" Harry mau memprotes-
"Harry, kupikir kita sebaiknya memasukkan Ginny bersama kita di sini," kata Hermione cepat. Dia menggigit bibir bawahnya, menambahkan dengan pelan, "Aku punya firasat tidak bagus mengenai ini..."
Ginny mengangkat alisnya dengan bingung, dan Harry mengernyit tidak mengerti. Namun Hermione menarik mereka berdua keluar dari ruang rekreasi sebelum mereka sempat menyusun kalimat untuk menanyakan maksud sebenarnya dari Hermione.
Hermione benar-benar merasakan firasat buruk.
.
-XXXXX-
.
Pencarian terhadap Cornish berlangsung sepanjang hari, dengan pengerahan seluruh guru, peri-rumah, dan para hantu. Beberapa anak asrama lain bahkan ikut bergabung, sebagian besar adalah anak-anak Hufflepuff yang dikerahkan oleh Profesor Sprout. Sudut-sudut kastil ditelusuri, begitu juga dengan beberapa koridor-koridor rahasia dan jalan-jalan sempit yang tampak terlupakan.
Namun efek dari absennya Peta Perampok sangat terasa. Mereka semua tak berani menelusur ke jalan-jalan yang lebih gelap dan lebih rumit tanpa pengetahuan utuh mengenai jalur-jalur tersebut. Para guru melarang murid-murid untuk masuk ke sana, dan sebagai gantinya mereka yang masuk. Dan karena tak ada sarana untuk mengetahui dengan persis lokasi setiap orang, maka sangat sulit untuk bisa mengkoordinir tenaga pencari.
Saat sore hari tiba, para murid yang ikut membantu mencari kembali ke asrama masing-masing, menyisakan hanya para anggota original dari tim pencari, termasuk dari para original tersebut adalah Harry, Hermione, dan Ginny. Mereka ikut mencari sampai jam makan malam tiba, saat akhirnya tim pencari dibubarkan.
Para guru, hantu, dan peri-rumah disuruh untuk berkumpul di kantor kepala sekolah setelah pembubaran tersebut. Hermione menatap punggung mereka semua yang berjalan ramai-ramai menjauh, merasa ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
"Kenapa kita tidak ikut bersama mereka?" tanya Ginny, menyuarakan salah satu pertanyaan yang terdiam di kepala Hermione. Hermione menoleh menatapnya, dan menggeleng pelan.
"Aku juga tidak begitu mengerti... Seharusnya mereka minimal menyuruh Ketua Murid laki-laki untuk ikut bersama mereka," kata Hermione. "Meskipun itu tidak wajib, sebenarnya."
Mereka berjalan memasuki Aula Besar, dan langsung menyadari bahwa Aula Besar telah terisi penuh ramai akan anak-anak. Mereka semua berbisik dan berbicara seru, terutama meja Gryffindor, yang jelas sangat penasaran akan keberadaan Cornish. Harry, Hermione, dan Ginny memilih untuk duduk di tengah-tengah anak-anak Gryffindor, tempat dimana akan sedikit yang mau memperhatikan mereka di tengah-tengah keramaian.
"Muffliato," gumam Harry, mengayunkan tongkatnya sambil lalu, memasang mantra yang membuat semua suara di sekita mereka menjadi seperti dengung pelan tidak jelas-berguna untuk membentengi mereka dari suara-suara berisik, dan juga mengurangi risiko siapapun mendengar mereka. Dia memasukkan lagi tongkatnya ke dalam sakunya, dan melihat Hermione memandangnya mencela.
"Apa? Aku harus melakukan sesuatu, kan?" tanya Harry, membela diri.
Hermione menggeleng-geleng, berkata, "Suatu hari, kamu akan mengetahui tidak baiknya mengasingkan diri kita dari kontak luar..." dia menghela napasnya panjang-panjang, bergumam, "Aku punya firasat buruk... Aku punya firasat buruk..."
Ginny mengernyit kecil. Dia tadi ikut pencarian penuh bersama Harry dan Hermione, dan dia merasa lapar. Dia melihat piring-piring bahkan belum terisi makanan sama sekali. Menoleh ke Harry, dia bergumam, "Menurutmu kenapa para peri-rumah belum menghidangkan makan malam?"
"Mungkin karena mereka tadi ikut mencari bersama kita, jadi mereka belum sempat memasaknya?" kata Harry ragu-ragu. Dia memandang berkeliling, melihat anak-anak yang masih mengobrol dengan seru.
"Aku hanya berharap tidak ada yang macam-macam lagi di sini... Semoga Cornish ini hanya bermain lelucon... Atau tersesat di dalam kastil..." ujar Harry.
Ginny meletakkan tangannya di atas tangan Harry, menggenggamnya. Harry memejamkan matanya dengan lelah, membiarkan tangan mereka tetap saling genggam, berusaha menyerap kenyamanan dari satu sama lain. Ginny menyandarkan kepalanya di bahu Harry, bukan bersandar dalam gestur lelah, namun dalam gestur yang mengatakan bahwa 'aku ada di sini... Tenanglah.'
Tenang...
...
Beberapa menit kemudian, akhirnya pintu di belakang meja guru terbuka, dan para guru masuk satu per satu melalui pintu tersebut. McGonagall masuk paling belakangan, tampak tegap dan tegas seperti biasanya.
Bagi Hermione, dia tampak seperti berusaha tegar.
Sesuatu tidak beres.
Suara denting gelas dari Profesor McGonagall memberitahu semua murid bahwa sudah saatnya untuk diam. Kesenyapan mengalir di sepanjang Aula, seolah-olah sebuah gelombang air dingin mengalir dan menerpa mereka semua. Harry mengayunkan tongkatnya di bawah meja, menghilangkan mantra muffliato di sekeliling dirinya, Hermione, dan Ginny. Hermione mengubah posisi duduknya, sehingga dapat memperhatikan McGonagall dengan lebih jelas dan seksama. Harry dan Ginny mengikutinya.
Setelah semuanya sudah benar-benar tenang, Profesor McGonagall berdeham. Dia memandang ke seluruh wajah anak, dan berkata, "Hari ini, seperti yang mungkin telah kalian semua ketahui, telah terjadi sebuah insiden. Yaitu hilangnya seorang murid Gryffindor, atas nama Stephen Cornish, dari asramanya."
Harry mengernyit, dan bertukar pandang singkat dengan Hermione. Tentu saja semua murid sudah tahu. Apa yang maksud dari Profesor McGonagall, mengumumkannya secara terbuka seperti ini?
Memandang seluruh wajah murid sekali lagi, McGonagall melanjutkan, "Aku dan Mr Filch telah menemukan murid yang bersangkutan, Mr Cornish, di koridor lantai tiga. Bagaimana dia bisa ada di sana, dia sendiri tidak mengetahuinya."
Hermione mengerjap kaget, dan Harry terdiam. Otaknya kaku sejenak. Ginny, satu-satunya yang tidak terkaget-kaget di antara mereka bertiga, berkata pelan, "Bukankah... Koridor lantai tiga adalah koridor tempat dulu Fluffy berada? Yang dulu terlarang itu?"
Ya, benar. Hermione mengangguk pelan, dia memang tadi sama sekali tidak menyentuh area tersebut. Wilayah pencariannya bersama Harry adalah lantai-lantai atas, terutama lantai lima yang memang paling banyak terdapat jalan-jalan rumitnya. Lantai tempat paling dimungkinkan seseorang tersesat.
Tapi Cornish ditemukan di sana. Dan yang menemukan hanya Profesor McGonagall dan Mr Filch..
Tunggu...
"Jangan-jangan..."
Bisikan Hermione terpotong oleh suara Profesor McGonagall yang sekali lagi berkumandang, berkata, "Mr Cornish yang malang ditemukan dalam keadaan menderita Hypothermia parah, sebuah penyakit Muggle. Sekarang dia sedang dibawa oleh Mr Filch untuk ke rumah sakit Muggle bersama orangtuanya, karena rumah sakit sihir, termasuk rumah sakit kita, tidak memiliki cukup sarana untuk pengobatan penyakit Hypothermia, salah satu penyakit yang tergolong langka. Kini Mr Cornish ada di bawah pengawasan Mr Filch dan kedua orangtuanya."
Banyak anak mengangguk mengerti, dan beberapa bahkan bergumam "Oooh," pelan. Beberapa murid yang berasal dari keluarga penyihir menoleh ke teman-teman mereka yang Kelahiran-Muggle, menanyakan mengenai Hypothermia tersebut.
"Penyakit yang... Diakibatkan oleh udara dingin. Organ-organ akan mengalami pembekuan, dan kadang gagal fungsi," jawab Dennis Creevey kepada temannya.
"Kamu pernah menderitanya?" tanya temannya tersebut. Dennis mengangkat bahunya, menjawab, "Tidak. Aku tidak pernah."
"Sepertinya itu memang penyakit langka, ya," kata murid lainnya. Murid-murid lain juga mengangguk setuju.
Ginny mengangguk mengerti, dan menoleh kepada Harry. Dia berkata, "Jadi, itu benar? Mengenai Hypothermia tersebut?"
Namun Harry tidak menjawab, dia hanya menatap McGonagall dengan pandangan tak terbaca. Ginny mengernyit, melihat matanya, namun Harry tetap tak bergeming. Dia mencolek bahunya sedikit, dan menyadari badan Harry kaku.
"Harry?" tanya Ginny khawatir.
"...jadi, sekarang, tidak ada berita lain. Selamat makan!" seru Profesor McGonagall.
Makanan mendadak muncul begitu saja di piring-piring depan mereka. Murid-murid langsung menyerbu seluruhnya, mereka sudah merasa sangat lapar karena penguluran jam makan malam sampai sejam lebih. Para staf bahkan mulai menyendok kaserol dan sosis ke piring mereka, bersiap untuk makan juga.
Namun Harry, Hermione, dan Ginny tidak ikut serta dalam keramaian tersebut.
Hermione masih menatap McGonagall, sama seperti Harry. Mereka berdua sangat kaku. Ginny, yang mulai merasa cemas, berkata lebih keras, "Ada apa, sih, kalian berdua? Wajah kalian mengerikan!"
Serentak, Harry dan Hermione menoleh kepada Ginny, membuatnya berjengit kaget. Mereka menatapnya selama beberapa detik, sebelum mereka saling pandang satu sama lain selama beberapa detik.
Harry mengernyit.
Hermione mengangguk pelan, mengernyit juga.
Setelah beberapa saat dalam diam, mereka menoleh ke Ginny. Harry berkata, "Ginny, malam ini pasang beberapa mantra pengaman yang sudah kuajarkan di sekeliling tempat tidurmu. Mantra penolak gangguan, mantra pelindung, alarm-semuanya."
"Oke...?" kata Ginny, ekspresinya memperlihatkan bahwa dia sangat bingung. Dia mengernyit, akhirnya, dan berkata dengan nada agak kesal, "Kalian tahu sesuatu kan? Jelaskan padaku dong!"
Menghela napasnya, Harry menoleh kepada Hermione, yang mengangguk pelan. Hermione menarik napas, dan berkata, "Oke, jadi, Ginny... Apa yang kamu ketahui mengenai Hypothermia?"
Ginny mengernyit. Dia diam sejenak, sebelum menjawab, "Aku tak tahu sama sekali. Bahkan ini pertama kalinya aku mendengar nama penyakit tersebut. Kupikir sesuai kata Profesor McGonagall, itu adalah penyakit Muggle?"
"Oke. Dengar," kata Hermione. Harry, sambil lalu, mengayunkan tongkatnya di bawah meja, memasang kembali mantra Muffliato di sekeliling mereka. Kali ini Hermione bahkan tidak repot-repot melemparkan pandangan mencela kepadanya. Hermione melanjutkan, "Hypothermia itu bukan penyakit Muggle. Itu adalah penyakit manusia. Siapa saja bisa terkena penyakit itu. Hypothermia itu adalah penyakit... karena kedinginan. Jika seseorang berada di suatu tempat dingin cukup lama, tanpa perlindungan tubuh yang memadai, seseorang bisa terkena penyakit ini. Efeknya sama seperti yang dikatakan Dennis: Seseorang itu bisa hanya menggigil, sampai bisa saja organ-organ dalamnya membeku dan mengakibatkan gagal fungsi organ dalam."
Ginny diam sejenak, tampak sedang menyerap semua itu. Dia berkata pelan, "Mengerti. Terus?"
"Masalahnya adalah, Cornish adalah siswa kelas OWL. Tak mungkin kan dia tak bisa menggunakan tongkat sihirnya untuk melancarkan mantra incendio sederhana? Dia harusnya bisa melakukannya. Hypothermia tak akan bisa terjadi jika setidaknya ada penghangat bersama seseorang itu," kata Hermione. Dia menoleh ke Harry, merasa semakin cemas setiap detiknya. Harry mengerti, dia melanjutkan penjelasan tersebut.
"Bahkan, semisal dia memang tak bisa melancarkan mantra tersebut dan benar-benar terkena Hypothermia, harusnya... Harusnya..."
Dia menelan ludah, sementara Ginny menundukkan kepalanya sedikit, tampak khawatir dan penasaran.
"Harusnya?" tanyanya.
"Harusnya Madam Pomfrey saja sanggup untuk menyembuhkannya," kata Harry dengan berbisik. Dia menoleh ke meja staf, dimana Madam Pomfrey sedang makan sembari mengobrol bersama Profesor Sinistra. Dia menghela napas pelan, melanjutkan, "Madam Pomfrey sanggup mengembalikan seluruh tulang di tanganku saat kelas dua. Mustahil dia tidak sanggup menyediakan penyembuh untuk Hypothermia..."
"Memangnya apa obat untuk Hypothermia?" tanya Ginny.
"Penghangat," jawab Hermione pelan.
Ginny menoleh kepadanya, mengangkat sebelah alisnya. Dia mengernyit kecil, bertanya, "Penghangat?"
"Ya, penghangat," ulang Hermione.
"Tunggu. Apa yang kamu maksud dengan penghangat? Penghangat apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk penyakit ini?" tanya Ginny.
"Penghangat biasa," jawab Harry. Dia menggeleng, berkata, "Apapun yang hangat, bahkan air hangat untuk diminum pun bisa menjadi obat yang sangat ampuh."
"Butterbeer, ingat." kata Hermione. "Itu bisa memberikan kehangatan dari dalam tubuh secara alami. Harusnya itu saja sudah bisa menolong... Toh Cornish tidak menderita Hypothermia selama berbulan-bulan kan... Baru malam ini."
"Ya, betul. Tapi Profesor McGonagall berkata bahwa dia menemukan Cornish, mengirimnya pulang ke rumahnya, untuk diobati di rumah sakit Muggle..."
"Cornish adalah kelahiran-Muggle, jadi itu tidak akan mencurigakan," sambung Hermione.
"Apa maksud kalian? Apakah... Maksudmu..." Ginny membelalak pada Harry, pemahaman merasuki dirinya. Harry menatapnya, mengangguk pelan.
"Jaga dirimu malam ini. Pasang mantra-mantra itu," kata Harry.
"Ya, akan kupasang," kata Ginny, mengangguk.
Harry menoleh kepada Hermione, berkontak mata dengannya. Hermione melihat cahaya yang sama di sana, cahaya pemahaman dan pengertian yang sama. Implikasi sebenarnya dari semua yang baru saja dikatakan Profesor McGonagall...
Kita harus segera bertemu dengannya, Harry mengedikkan kepalanya sedikit.
Pasti, Hermione mengangguk kecil.
Bersama Ginny, mereka ikut makan malam.
.
-XXXXX-
.
Berbekal pengetahuan mengenai jalan-jalan rahasia di kastil, meski tidak seluruhnya, Harry dan Hermione berjalan dengan cepat untuk mencapai ruang kepala sekolah sebelum Profesor McGonagall sendiri tiba di sana. Mereka tahu, bahwa ada kemungkinan Profesor McGonagall akan langsung menghindari mereka berdua setelah makan malam tadi, setelah pengumuman aneh yang diberitahukan oleh Profesor McGonagall tersebut. Terlalu banyak lubang, terlalu banyak kejanggalan, terlalu banyak keanehan di sana.
Yang mereka berdua sangat takutkan sebenarnya adalah... Kalau ternyata Profesor McGonagall benar-benar hanya berbohong total.
Bahwa Cornish sebenarnya belum ditemukan.
Mereka berhasil mencapai koridor panjang yang menuju ke patung gargoyle, dan dengan terkejut melihat Profesor McGonagall sudah ada di depan mereka, berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kantornya. Harry terkaget-kaget, namun berhasil menguasai dirinya tepat waktu untuk bisa berteriak keras,
"PROFESOR!"
Teriakannya bergaung di sekujur koridor, bergema dan saling memantul di langit-langit. Profesor McGonagall berhenti mendadak, dan berdiri diam memunggungi mereka. Lagi, Harry maju lebih dulu, sebelah tangannya di saku, menggenggam tongkat sihirnya dengan erat. Dia tidak percaya Profesor McGonagall akan melakukan hal macam-macam, namun instingnya memberitahunya untuk berjaga-jaga.
"Profesor, Anda harus memberi kami penjelasan!" kata Harry, begitu dia sudah cukup dekat, berhenti dalam jarak dua meter dari McGonagall.
Terdengar suara helaan napas, dan Profesor McGonagall berbalik badan. Sejenak Harry mengira dia akan berhadapan dengan wajah Voldemort, atau sepasang mata merah, namun untunglah yang ada di hadapannya benar-benar Profesor McGonagall: Ekspresinya tampak lelah, tua, dan terbebani. Hermione berjalan menyusul Harry, dan berdiri di sebelahnya, menatap Profesor McGonagall dengan agak tidak yakin.
"Profesor...?" tanya Hermione. "Anda tidak apa-apa?"
Helaan napas lagi. McGonagall mencopot kacamata persegi kakunya, dan mengucek matanya sedikit. Dia memasangnya kembali, dan menjawab, "Ya... Kupikir aku tidak apa-apa. Ada apa, Mr Potter, Miss Granger?"
Tidak basa-basi lagi, Harry menyambar kesempatan ini dengan berbicara lebih dulu. Dia berkata, "Profesor, Anda tahu kan bahwa Hypothermia itu hanyalah penyakit karena kedinginan? Yang bahwa penyakit tersebut bisa disembuhkan dengan mudah melalui teknik penghangatan tubuh?"
McGonagall menatap Harry agak lama, kemudian menoleh ke Hermione. Dia kembali menatap Harry, lalu berkata, "Ya, aku tahu, Mr Potter."
"Kalau begitu kenapa Anda membawa Cornish pergi ke rumah sakit Muggle? Pastinya Madam Pomfrey bisa menyembuhkannya dengan mudah, kan?" kata Harry.
"Aku punya alasanku sendiri, Mr Potter," kata McGonagall, menjadi agak galak. "Penyembuhan dengan sihir, seperti yang biasa dilakukan oleh Madam Pomfrey, bukanlah hal sesederhana itu. Cabang penyembuh adalah suatu cabang profesi sihir yang sangat sulit, bahkan lebih sulit dibandingkan dengan profesi Auror. Aku berharap kalian bisa mengerti, Mr Potter, Miss Granger. Keputusanku sudah diambil dengan berbagai pertimbangan matang."
Harry mau membuka mulutnya untuk dijawab dengan pedas, namun dia dihentikan oleh Hermione yang mendadak menggenggam tangannya dengan erat. Dia melihat ke tangannya dengan bingung, kemudian ke Hermione, meminta penjelasan-namun Hermione tidak mengacuhkannya.
Malah, Hermione kali ini maju selangkah, dan berkata, "Maafkan kami Profesor, jika tidak sopan. Kami harusnya tahu mengenai sulitnya penyembuhan, dan rumitnya teknik-teknik sihir pengobatan. Kami harusnya sadar bahwa pengetahuan kami mengenai teknik penyembuhan Hypothermia secara sihir sangat terbatas. Kami harusnya sadar bahwa Anda dan Madam Pomfrey pastilah sudah lebih tahu dari kami, dan pastilah keputusan Anda berdua jauh lebih baik daripada kami."
Harry menatap Hermione dengan tidak percaya. Apa yang- Apakah telinganya menipunya? Hermione baru saja menjilat Profesor McGonagall dengan kata-kata rapi dan terpuji?
Di saat seperti ini?
Profesor McGonagall memberi pandangan setuju kepada Hermione. Dia berkata, "Bagus sekali kamu sudah mengerti, Miss Granger. Sepuluh poin untuk Gryffindor atas pemahaman dan permintaan maafmu yang bagus. Dan Mr Potter, kamu sebaiknya mendengarkan kata-kata Miss Granger lebih banyak lagi, jaga kepalamu saat berbicara."
Harry menggertakkan giginya, memandangi Hermione dengan kesal, sementara Hermione dengan keras kepala masih menolak berkontak mata dengannya. Dia malah mengangguk, dan berkata, "Terima kasih, Profesor."
McGonagall mengangguk juga, dan berkata, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua. Kembalilah ke asrama, atau ke ruang rekreasi kalian. Aku harus melanjutkan kerjaku sekarang. Selamat ma-"
"Satu pertanyaan, kumohon, Profesor McGonagall?" tanya Hermione mendadak.
McGonagall berhenti berbicara, menatap Hermione dengan ekspresi tak terbaca. Setelah beberapa detik, dia berkat, "Silakan."
"Apakah Cornish benar-benar sudah ditemukan?" tanya Hermione.
Harry mengangkat alisnya. Dia tidak menyangka sama sekali akan twist yang dilakukan Hermione tersebut. Memancing orang hingga lengah, kemudian bertanya. Bagus sekali. Harry mendongak, dan melihat Profesor McGonagall masih memasang ekspresinya yang biasa.
McGonagall menjawab, "Sudah kukatakan, serahkan ini padaku dan sekolah, Miss Granger. Beberapa hal lebih baik untuk kalian lupakan dan kalian tinggalkan. Atau kamu belum mengerti juga?"
Suara tegas Profesor McGonagall tersebut sangat berbeda dengan yang didengar oleh Harry dan Hermione tadi pagi. Saking berbedanya, sampai-sampai sejenak Harry yakin bahwa Profesor McGonagall di depannya adalah peniru, orang yang menyamar atau sedang dirasuki. Dia mengernyit, dan mau berbicara lagi, namun Profesor McGonagall telah berkata,
"Baiklah, aku harus kerja sekarang. Selamat malam, kalian berdua."
Dengan itu, Profesor McGonagall berbalik badan dan menggumamkan kata kunci ke si patung gargoyle. Patung itu langsung melompat minggir, dan McGonagall melangkah menuju ke tangga berjalan di depannya.
Namun sebelum kakinya sempat menapak, Hermione mendadak berkata, "Profesor... Anda mengatakan bahwa beberapa hal lebih baik kami lupakan... Kan?"
Tidak menoleh Profesor McGonagall menurunkan kakinya, tidak jadi menapak ke tangga berjalan tersebut. Dia berkata pelan, "Ya."
Hermione maju selangkah lagi, melepaskan genggamannya di tangan Harry. Dia berkata,
"Stephen Cornish bukanlah sekedar hal, Profesor. Dia adalah manusia, murid, penghuni Hogwarts yang memiliki teman, pacar, dan hidup di sini. Jadi, kami mungkin akan sulit untuk melupakannya."
Diam lama sekali, sementara Harry menatap Hermione dengan agak shock. Hermione terus menatap punggung kaku Profesor McGonagall, sementara McGonagall hanya berdiri diam.
Akhirnya, McGonagall berkata pelan, "Terserah kalian," dan melangkah ke tangga berjalan.
Si gargoyle melompat kembali ke posisinya semula, menutupi tangga berjalan tersebut dari pandangan. Harry menatap tempat dimana McGonagall tadi berdiri, sebelum kembali menatap Hermione, yang masih diam.
Kemudian dia mengerti, maksud dari Profesor McGonagall tersebut. Dia merasa air seperti mengalir di lehernya, melalui punggungnya... Dia mengerti sekarang.
Semuanya terserah mereka berdua.
.
