Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
"Some things best left forgotten"
.
Sangat berbeda dengan yang terjadi di tahun kedua Harry dulu, suasana kastil tidak menunjukkan perubahan dengan absennya Cornish dari jajaran murid. Malah, kalau boleh dikatakan, suasana semakin baik. Cuaca cerah, membawa angin musim gugur dan daun-daun berguguran, menghembuskan angin sejuk ke dalam ruang-ruang kelas. Langit senantiasa bersih, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu gelap mendekati musim dingin.
Ditambah dengan mendekatnya Hallowe'en. Tak perlu dikatakan lagi, mood setiap penghuni kastil meningkat hingga ke level yang tak pernah terlihat selama bertahun-tahun.
Bahkan para Profesor ikut tertular suasana tersebut. PR dikurangi, beban para murid NEWT juga semakin sedikit, beriringan dengan tercapainya kemampuan adaptasi mereka semua terhadap rutinitas sebagai murid kelas tujuh.
Karena itu, di akhir pekan ini, Harry, Ginny, Hermione dan Ron duduk berempat di sebuah meja bundar Three Broomstick. Sama seperti murid-murid lainnya, yang menikmati hari dengan minum-minum dan mengobrol bersama teman-teman mereka, Butterbeer dan Mead panas di hadapan mereka masing-masing, mereka duduk dengan santai. Para murid lain menjauh dari meja mereka, sembari sesekali melemparkan pandangan kagum dan berbisik seru mengenai mereka berempat. Tidak setiap hari mereka bisa melihat empat orang yang terlibat langsung dalam pertempuran melawan Pangeran Kegelapan, dalam pertempuran legendaris di Hogwarts, duduk bersama seperti itu.
Ya, tidak setiap hari.
Harusnya kesempatan langka tersebut mereka gunakan untuk melepaskan penat setelah belajar selama seminggu penuh, dan (bagi Ron) bekerja setiap harinya. Harusnya mereka bisa mengobrol santai, bersenda gurau dan mungkin bermesraan bersama partner masing-masing.
Sialnya, kesempatan langka ini mereka gunakan untuk membicarakan apa yang telah terjadi di Hogwarts minggu lalu: Kejadian yang bahkan lebih langka.
Ron telah mendengarkan seluruh cerita dari Harry, Hermione, dan bahkan Ginny. Butuh waktu beberapa saat dan beberapa pengulangan penjelasan sampai dia benar-benar mengerti mengenai kegawatan tersebut sepenuhnya.
"Tapi..." Ron menelan ludahnya, menatap Harry dan Hermione bergantian. "Masa sih, ada kejadian-kejadian seperti itu lagi? Maksudku-"
Ron diam beberapa saat, menggaruk kepalanya sedikit. Dia menunduk memandang meja, tampak agak bingung. Setelah beberapa lama, akhirnya Harry semakin penasaran.
"Apa?" tanya Harry.
"Maksudku-ayolah," kata Ron putus asa. "Siapa lagi yang melakukan itu, kalau Kau-Tahu-Siapa sudah tidak ada? Enam tahun kita di Hogwarts, dan nyaris setiap masalah yang terjadi di tahun-tahun itu adalah perbuatannya Kau-Tahu-Siapa, kan? Masa sih ada penyihir hitam lain yang sekarang... Apa? Berkeliaran di kastil, menyantap anak-anak? Menurutku itu tidak mungkin!"
Hermione, yang dari tadi diam saja, menggeleng pelan. Dia berkata, "Itu mungkin saja, Ron. Kita..." dia mengerling sedikit kepada Harry, dan melanjutkan, "Kita membicarakan mengenai ratusan orang, dalam satu tempat tertutup, yang masing-masing dari mereka sanggup melakukan sihir."
Ron mengernyit kecil, berusaha mencerna kata-kata Hermione. Tapi rupanya dia tidak begitu paham, karena dia berkata pelan, "Er... Bukankah itu sudah biasa? Bukannya memang kita semua bisa melakukan sihir?"
"Ya, tapi ingat, sihir bisa melakukan apa saja, Ron. Apa saja. Mungkin ini tidak masalah untukmu," kata Hermione, sebelum Ron sempat menyela, "karena kamu tumbuh bersama dengan sihir. Namun bagi beberapa orang, di antaranya aku, Harry, dan beberapa kelahiran-Muggle, bagi kami sihir bukanlah hal yang tidak bermasalah. Bayangkan potensi yang dimiliki setiap orang yang memiliki tongkat sihir di dalam kastil. Demi Merlin, mereka bisa membunuh teman kamar mereka saat mereka tidur, dan tidak akan ada yang tahu! Semua orang di dalam kastil sebenarnya berbahaya!"
Hening menyelimuti mereka berempat selama beberapa detik. Harry mengecek sekeliling, bersyukur karena dia sudah memasang mantra Muffliato di sekeliling mereka dengan sempurna. Volume suara Hermione barusan mungkin dapat didengar oleh seluruh isi Three Broomstick, seandainya saja mantra tersebut tak terpasang. Murid-murid yang lain buru-buru memalingkan wajah mereka begitu Harry memandang berkeliling, takut ketahuan sedang mengamati mereka.
"Merlin, tenang Hermione!" kata Ron, mengangkat tangannya dengan ngeri. Dia menoleh ke Harry dan Ginny, meminta pertolongan, namun mereka hanya membalas menatapnya dengan agak ngeri juga. Akhirnya, Ron menurunkan tangannya, dan diam saja.
Setelah beberapa menit, Ron mendongak. Dia menatap Hermione, dan berkata, "Oke. Kalau kita lihat dari sisi itu, memang sepertinya semua orang di kastil menjadi berbahaya. Hell, kalau kita melihat seperti itu, menurutku tidak ada penyihir yang aman!"
"Tepat! Jadi tidak bisakah kamu lihat?" desis Hermione.
Harry meringis. Hermione sudah mendesis, menandakan bahwa pertengkaran antara Hermione dan Ron yang biasa akan dimulai. Dia baru mau mencegahnya, namun Ron berkata lebih dulu, "Tapi-tapi-ayolah, Hermione. Jangan terlalu paranoid... Seperti itu!"
"Aku? Paranoid?" tanya Hermione, nadanya melengking sekarang. Harry buru-buru mengecek mantra Muffliato-nya, menambahkan beberapa lapis perlindungan lagi. "Paranoid?"
"Ya! Kupikir kamu hanya paranoid! Maksudku... Kita membicarakan McGonagall di sini! Kepala Sekolah Hogwarts! Mungkin saja... Mungkin saja semua yang dikatakannya itu benar!" kata Ron cepat. Dia menoleh ke Harry dan Ginny, sebelum kembali ke Hermione yang wajahnya memerah marah. Mengumpulkan nyalinya, dia melanjutkan, "Pernahkah kalian memikirkan kemungkinan... Bahwa McGonagall sesungguhnya tidak berbohong? Bahwa sebenarnya Cornish ini, benar-benar sakit, apapun nama penyakitnya itu? Bahwa dia benar-benar dikirim ke rumah sakit Muggle, karena Madam Pomfrey merasa menyembuhkannya di sini benar-benar mengambil risiko? Mungkin saja itu yang sebenarnya terjadi, kan?"
Hermione langsung menyambar dengan berkata, "Terlalu banyak lubang dan kesalahan dalam kemungkinan itu, Ron! Terlalu ganjil! Apalagi dengan kata-kata dari McGonagall... Yang sangat aneh dan sangat tidak seperti biasanya!"
"Yeah, bagaimanapun dia bukanlah orang sempurna, kan? Tidak setiap orang dapat mengatur kata-kata mereka secara sempurna dalam setiap kalimat. Begitu juga dengan sikap mereka. Mengenai keganjilan... Bukannya kalau memilih kemungkinan Cornish masih menghilang, justru keganjilannya lebih banyak?" kata Ron.
"Tapi itu masuk akal!" kata Hermione.
"Menurutku lebih masuk akal bahwa McGonagall mengatakan sebenarnya, Hermione!" kata Ron.
Hermione tampak bergetar sekarang, seperti siap meletus kapan saja. Harry bahkan sudah menyiapkan tongkat sihirnya, kalau-kalau dia harus melancarkan mantra penenang.
"Jadi, aku sebaiknya percaya pada McGonagall, padahal ada kemungkinan Cornish masih belum ditemukan?" bisik Hermione dengan nada mencekam.
Ron meringis lagi, dan agak mengkeret sementara Hermione semakin siap meletus. Ginny buru-buru berkata, "Mungkin maksud Ron di sini adalah bahwa kita selama ini terlalu mengesampingkan kemungkinan bahwa McGonagall berkata jujur, Hermione. Bagaimanapun juga, dia dan seluruh staf... Tak mungkin kan membiarkan seorang anak menghilang begitu saja? Pasti mereka akan mencarinya. Mereka tidak bodoh, dan mereka bukanlah... Gerombolan penyihir hitam! Tak mungkin mereka akan mengabaikannya begitu saja!"
"Tapi bagaimana kalau iya?" tanya Hermione, beralih sepenuhnya pada Ginny dan melupakan Ron yang buru-buru menghela napas lega. "Bagaimana kalau mereka benar-benar... Bertindak seperti itu? Ada yang aneh, tahu...
"Sangat aneh..." gumam Hermione, menunduk menatap meja dengan letih.
Harry, yang dari tadi diam saja selama Hermione berbicara, berkata, "Mungkin yang dikatakan Ron benar. Kita agak terobsesi akan hal ini. Kamu agak terobsesi akan hal ini."
Hermione menoleh memandang Harry dengan pandangan tidak percaya. Harry tetap di tempatnya, tak terpengaruh akan tatapan Hermione tersebut. Dia berkata, "Aku akui, memang aku juga... Sangat penasaran... Karena ini menyangkut nyawa, kalau si Cornish itu benar-benar masih hilang. Tapi... Masa sih... Para staf dan McGonagall benar-benar mengabaikannya?"
Mereka diam selama beberapa saat, sementara Hermione menenangkan dirinya, Ginny menatap Hermione dengan cemas, dan Harry memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang ada tersebut dengan keras. Yang dikatakan Ron masuk akal, mereka selama ini selalu mengesampingkan kemungkinan McGonagall yang benar.
Ron bergerak sedikit ke sebelah Hermione. Dia menarik napas dalam-dalam, dan dengan berani meletakkan tangannya di atas tangan Hermione, mengatupkannya dalam gestur menenangkan. Hermione tidak mendongak akan sentuhan tersebut, namun sepertinya tidak juga melawan. Ron menghela napas pelan, bertanya, "Ada apa denganmu, Hermione? Sebenarnya ada masalah apa yang berkaitan denganmu, mengenai anak bernama Cornish ini?"
Hermione menggeleng pelan. Dia masih mengingat dengan jelas apa yang dia lihat di perpustakaan malam itu. Genangan-genangan air itu... Sesuatu yang sangat tidak wajar... Itu semua nyata. Tapi...
Semuanya juga menghilang begitu saja, seolah-olah dia hanya bermimpi.
Dia yakin penjelasan akan kejadian tersebut ada hubungannya dengan hilangnya Cornish selama beberapa jam di dalam kastil Hogwarts sendiri. Tapi... Mendengar kata-kata Ron, dia justru menjadi agak khawatir.
Ya, khawatir... Bahwa dia benar-benar terobsesi pada memecahkan ini semua, sampai mengabaikan banyak hal-hal lainnya.
Genangan air... Yang beriak...
Yang beriak...
Dia mengerling sedikit ke Harry, yang memandanginya dengan cemas. Dia tak tahu harus melakukan apa. Harry saat itu ada bersamanya di perpustakaan, namun saat dia datang, semua genangan air itu hilang. Kalau saja Harry sempat melihat genangan-genangan air tersebut...
Dia mempertimbangkan sedikit untuk menceritakan semua yang dilihatnya kepada mereka semua.
Tapi...
"Begini saja," kata Ron, nyengir. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke hutan saja? Udara sangat cerah, dan mungkin kita bisa sekalian mendinginkan kepala kita masing-masing. Kalian bertiga kan sudah menghabiskan seminggu penuh belajar NEWT. Dan kalian juga sudah cukup lama... Memikirkan si Cornish ini kan. Ayo kita refreshing dulu."
Ah, Ron. Selalu begitu. Selalu memilih jalan yang mudah, selalu berpikir sederhana. Makanya dia memilih untuk mempercayai bahwa McGonagall benar, karena itu lebih mudah. Karena itu lebih pas dan gampang, tidak perlu keruwetan lebih banyak. Tapi dia juga selalu berusaha mencerahkan suasana. Dalam kondisi-kondisi seperti ini, pasti dia yang nyengir lebih dulu dan mencoba mencairkan atmosfir yang pekat. Dia sangat ahli dalam hal itu. Mungkin ada hubungannya dengan mata birunya yang berseri-seri, senada dengan wajahnya yang nyengir lebar.
Mungkin itu sebabnya aku jatuh cinta padanya, pikir Hermione, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng.
Mereka berempat keluar dari Three Broomstick, berjalan menuju ke dalam hutan Hogsmeade. Akan butuh waktu beberapa jam bagi mereka sampai mereka selesai di sana, dan mereka cukup senang akan hal tersebut.
.
-XXXXX-
.
Matahari sudah condong ke tepian, perlahan-lahan bergerak bagai hendak menghunjam ke pegunungan tinggi di sebelah barat kastil. Para murid berjalan meninggalkan Hogsmeade, kembali menuju Hogwarts dan lingkungan sekolah dengan belanjaan dan tentengan di tangan-tangan mereka. Permen-permen, cokelat, dan bermacam-macam belanjaan lelucon.
Agak aneh sebenarnya, melihat seorang pahlawan sihir yang sangat populer, pewaris nama resmi Potter, berjalan kembali ke kastil tanpa belanjaan satupun. Tangan kirinya hanya memegang tangan kanan Ginny, namun dia tak tampak keberatan akan absennya suvenir sama sekali. Dia tertawa-tawa bersama Ginny, wajah mereka masih agak merah, daun-daun musim gugur menempel di jubah dan mantel mereka.
"Tadi itu hebat," kata Ginny, tertawa-tawa. "Kamu hebat."
"Yea, aku harap Ron tidak mendengar kita," kata Harry, nyengir.
"Oh, memangnya kalau Ron dengar, kenapa?" tanya Ginny, matanya berkilat jail. Harry mengangkat sebelah alisnya, menambah lebar cengiran di wajahnya.
"Jangan khawatir," kata Harry, terkekeh kecil. "Aku yakin Ron sedang sangat sibuk dengan Hermione juga. Setelah semua ketegangan dan intens yang kita miliki seminggu ini, aku yakin bahkan Hermione butuh suatu pelepasan juga."
"Ya, benar," kata Ginny, terkikik. "Dan apa maksudmu 'pelepasan' itu?"
"Kamu tahu maksudku," kata Harry, mendadak serius.
Mereka bertatapan selama beberapa detik, sebelum tertawa lagi bersama. Mereka menaiki undakan panjang yang menuju ke kastil. Anak-anak lain menyingkir sedikit saat mereka lewat. Begitu mereka sampai di pertengahan jalan, barulah mereka berhenti dan menatap ke jalur jalan setapak menuju ke Hogwarts yang baru saja mereka telusuri.
Semua lembah di sana, ditambah dengan cahaya lembut matahari musim gugur yang bergerak ke barat... Ditambah dengan danau yang bening dan berkilauan... Semua pemandangan tersebut membuat mereka menahan napas mereka sejenak,
"Cantik," bisik Ginny.
"Ya," bisik Harry. Dia maju selangkah, tersenyum menatap semua pemandangan tersebut. Ginny menoleh menatap Harry, yang masih menatap jauh ke pemandangan tersebut.
"Aku tak pernah menyangka aku akan masih hidup untuk melihat semua ini," kata Harry pelan.
Angin bertiup pelan, membuat rambutnya melambai pelan. Mata hijaunya menyapu lembah di depannya, mulutnya membentuk senyuman kecil. "Dan lagi... Terlepas dari masalah kemarin, aku tak menyangka... Semuanya masih normal dan tenang sampai saat ini."
Ginny mengeratkan genggaman tangannya di tangan Harry. Dia memang bukan orang yang tepat untuk ahli berkata-kata, namun Harry tahu dan mengerti bahwa sentuhan dari Ginny, gestur kecil seperti itu saja, sudah bisa untuk memberinya perasaan unik di dalam dadanya - sesuatu yang jarang dia dapatkan dari siapapun.
Mereka berdiri diam di sana, tak memedulikan murid-murid yang lewat di belakang mereka, bergerak menuju ke kastil. Sementara matahari makin menurun ke garis puncak perbukitan, angin sore musim gugur bertiup semakin kencang, membawa juga awan berwarna kelabu di langit. Harry mendongak melihat awan-awan tersebut, kemudian teringat akan sesuatu lainnya:
"Dimana Ron dan Hermione?" tanyanya.
Ginny menoleh menatapnya, dan mengerjap. Dia tampaknya juga baru sadar bahwa mereka belum bertemu lagi dengan Ron dan Hermione. Dia menoleh ke kanan dan kirinya, mencari-cari sejenak ke jalan setapak di bawah sana, namun tidak ada lagi murid-murid yang berjalan kembali ke kastil. Dia mengangkat bahunya kecil.
"Entahlah. Aku tak tahu dimana mereka. Mungkin sudah... Kembali ke kastil lebih dulu," jawab Ginny pelan.
"Ya..." ujar Harry, melihat awan gelap yang bergerak dengan cepat, agak tidak wajar. "Ya... Semoga saja. Cuaca sudah sangat buruk."
"Ayo, kita kembali saja ke dalam kastil," kata Ginny, menarik lengan Harry.
Harry melempar pandangan khawatir terakhir ke lembah di bawah, sebelum mengikuti Ginny berjalan naik ke kastil.
Dia berharap semoga Ron dan Hermione benar-benar sudah ada di dalam kastil. Entah kenapa, dia memiliki suatu firasat buruk mengenai absennya mereka berdua.
.
Tampaknya langit memang berniat mengeluarkan semua yang sudah dia tahan sepanjang minggu tersebut. Langit yang cerah kini tampak bagai mimpi belaka. Hujan turun dengan lebat, mengguyur kastil dan seluruh lembah dengan air yang tajam, dingin, dan menusuk bagai jarum-jarum es. Anak-anak berjalan beriringan sepanjang koridor, terutama murid-murid kelas satu dan dua. Mereka mencoba mencari kehangatan, dan saling menjaga satu sama lain dari terpaan angin yang berasal dari jeruji-jeruji jendela yang terbuka.
Harry dan Ginny, yang sudah mengetahui cukup mantra untuk bisa menjaga kehangatan tubuh dan juga menjaga agar angin tidak terlalu menarik mereka, berjalan berdua saja menuju ke Menara Gryffindor. Sudah cukup lama sejak terakhir kali Harry ke sana, dan menurutnya akan bagus untuk melakukan kunjungan sedikit, sekaligus mengantarkan Ginny kembali ke asrama.
Sekaligus mengecek, siapa tahu Hermione sudah ada di sana. Mungkin juga bersama Ron. Dia belum menemukan mereka berdua dimanapun. Di ruang rekreasi Ketua Murid, di Aula Besar... Tidak ada bayang-bayang mereka sama sekali.
"Mungkin mereka berniat menghabiskan waktu dengan bermesraan di depan perapian yang hangat," kata Ginny. "Mereka belum pernah mengalaminya, kan?"
Nada suara Ginny terdengar jail, namun ada setitik rasa khawatir juga - sesuatu yang membuat Harry semakin merasa cemas terhadap keberadaan dua temannya tersebut.
Baru tadi sore dia bersyukur karena bisa merasakan momen-momen tenang... Dan sekarang dia sudah merasa cemas lagi.
Dia dan Ginny menaiki tangga menuju ke lantai enam ketika mereka mendengar suara-suara dari koridor sebelah kanan mereka. Tadinya mereka mau membiarkannya saja, namun ada sesuatu dari nada suara-suara tersebut yang membuat Harry berhenti.
Sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah.
Ginny menyadari hal tersebut, dan menoleh memandang Harry dengan bingung. Dia bertanya pelan, "Ada apa?"
Harry menoleh ke arah koridor yang remang-remang tersebut, tempat suara-suara tersebut berasal. Dia mengernyit kecil, dan berjalan memasukinya.
"Harry?" panggil Ginny.
Namun Harry tak memedulikannya. Ada yang aneh di nada suara tersebut... Ada yang aneh..
Itu nada suara panik, cemas, dan khawatir. Nada suara yang sama didengarnya dari Hermione, belum ada enam jam yang lalu.
Dia mengayunkan tangannya yang memegang tongkat sihir, membuat semua obor di koridor tersebut menyala lebih terang, menyebarkan cahaya dan memperluas jangkauan penglihatan. Sejak kapan dia sudah memegang tongkat sihir, dia tidak tahu. Yang jelas, dia berhasil melihat sumber suara tersebut:
Sepasang murid, yang... Dia kenal.
"Terry?" tanya Harry, bingung. "Padma?"
Kedua anak Ravenclaw tersebut menoleh menatapnya dengan kaget. Mereka tampaknya sama sekali tak menyangka bahwa ada Harry di situ.
"Harry?" tanya Terry.
Ginny berlari-lari kecil dan berhenti di belakang Harry, menatap mereka bergantian dengan bingung. Dia mengernyit sedikit, memandang Harry, sebelum memandang Terry dan Padma kembali.
"Terry? Padma?" tanya Ginny. "Apa yang kalian lakukan di koridor remang-remang begini?"
Terry masih tampak sangat kaget, jadi dia tak berkata-kata apapun. Padma, yang berhasil mengendalikan dirinya lebih dahulu, berkata, "Ini... Jalan menuju ke menara Ravenclaw."
Harry mengangguk kecil. Tentu saja dia ingat, jalan ini adalah jalan yang dia tempuh bersama Luna menuju ke menara Ravenclaw beberapa bulan lalu, dalam usaha mereka untuk menemukan wujud Diadem Ravenclaw.
Namun bukan lokasi mereka berada yang membuatnya agak bingung.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Harry datar.
Terry tersadar oleh pertanyaan tersebut. Dia mengerjap dua kali, dan mundur selangkah.
"Er... Tidak apa-apa. Kami tidak... Membicarakan apa-apa... Kok..." ujarnya. Namun Harry menyipitkan matanya, dan menyelanya dengan berkata,
"Aku mendengar kalian berbicara dengan nada yang tidak biasanya tadi. Katakan, ada apa."
Sesuatu di nada suara Harry jelas salah, karena Padma menyipitkan matanya juga. Dia berkata, "Sori, Harry. Tapi ini urusan intern asrama Ravenclaw, dan meskipun kamu Ketua Murid-"
"Padma! Hei, Padma!" kata Terry mendadak, menyela kalimat panjang dari Padma tersebut. Padma menoleh menatap Terry dengan kaget dan bingung, sementara Terry melanjutkan dengan cepat, "Mungkin... Mungkin Harry bisa membantu. Mungkin mereka berdua bisa membantu."
Padma mendengus sinis, menggelengkan kepalanya. Dia mengerling sedikit ke Harry, dan berkata pelan, "Jangan bercanda. Memberitahu mereka? Kamu lihat apa yang terjadi dengan prefek gemuk itu..."
"...Harry Ketua Murid, dia pasti... Bisa membantu-"
"-dan menyerahkan masalah ini kembali kepada McGonagall? Ha! Aku tidak yakin," jawab Padma ketus.
"Apa maksud kalian, sebenarnya?" kata Harry, suaranya susul menyusul semakin tinggi. Di akhir kalimat tanya tersebut, gema dari suaranya yang bagai raungan memantul dan berulang di koridor tempat mereka berdiri. Terry meringis kecil, sementara Padma mundur selangkah, memandang Harry dengan membelalak.
Setelah senyap beberapa saat, akhirnya Terry maju sedikit. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan berkata,
"Baik, Harry. Baik..."
"Terry!"
"Kita tak punya pilihan, kamu tahu kan! Dan kita tak bisa memegang ini sendirian!" kata Terry dengan nada tak sabar.
Ginny sekarang tampak semakin bingung. Dia baru mau membuka mulutnya untuk bertanya, namun Harry mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya di bahu Ginny, mencegahnya untuk berbicara. Ginny menutup mulutnya dalam sekejap, mengernyit kepada Harry.
"Ceritakan," ujar Harry tenang.
Terry menghela napas panjang, menyibakkan rambut hitamnya dengan lelah. Dia menunduk sejenak, menggigit-gigit bibirnya. Akhirnya, dia berkata, "Baiklah ini... Mengenai Michael dan Su."
Michael Corner dan Su Li, ingatan Harry mensuplai nama lengkap kedua anak Ravenclaw tersebut, dua anak Ravenclaw yang seangkatan dengannya. Harry bertanya, "Kenapa mereka berdua?"
"Well, mereka..." Terry mengerling kecil ke Padma. "Mereka... Mereka menghilang."
.
Hening.
Sunyi, menyambut pemberitahuan dari Terry tersebut.
Perlu beberapa saat sebelum akhirnya otak Harry sanggup bekerja lagi. Dan efeknya bukanlah seperti mobil yang dinyalakan dan digas pelan-pelan, melainkan bagai mobil yang menjejak tanah dari udara dengan putaran roda sudah sangat tinggi.
Efeknya: bagai kejutan listrik.
"Bagaimana bisa?" tanya Harry, hanya berhasil mempertahankan ketenangannya sedikit - dia sudah agak gemetar.
"Mereka... Hilang sejak semalam," bisik Padma, maju selangkah untuk berdiri di sebelah Terry. Dia menatap Harry dengan mata yang tampak tegas, namun ekspresinya tampak khawatir - sesuatu yang aneh, terbalik. "Mereka... Tidak terlihat lagi sejak jam malam dimulai."
Jam malam dimulai...?
"Kami tidak mau memberitahumu, karena kami khawatir pencarian terhadap mereka berdua akan dihentikan begitu saja dengan menggunakan alasan mengada-ada, seperti yang dilakukan McGonagall terhadap Cornish. Aku tahu, Cornish pastilah belum ditemukan, tidak mungkin, soalnya banyak sekali keanehannya -"
"Hei-hei, Padma!" kata Terry tegas, memotong kata-kata Padma. Padma melotot pada Harry selama beberapa detik, sebelum memalingkan wajahnya dengan kesal. Terry menghela napas, melanjutkan,
"Itu hanya... Kecurigaan. Ada kecurigaan di antara kami, anak-anak Ravenclaw. Bahwa Cornish sebenarnya belum ditemukan... Karena terlalu banyak keanehan. Makanya kami... Jadi kurang... Begitu percaya pada para guru sekarang."
Ternyata bukan hanya aku dan Hermione yang berpikir seperti itu! Pikiran Hrry berteriak keras-keras. Jantungnya berdegup kencang, dia mulai khawatir napasnya akan terputus.
"Dan ada lagi yang aneh..." kata Terry. Dia mengerling sedikit ke Ginny, kemudian kembali ke Padma dan Harry, berurutan. Ginny menyipitkan matanya kepada Terry, dan bertanya dengan nada mendesak, "Apa yang aneh?"
Terry menoleh kembali ke Ginny, dan sejenak mereka bertatapan. Kemudian dia kembali memandang Harry, dan berkata, "Michael mengatakan sesuatu yang aneh semalam... saat dia mengerjakan PR bersamaku di ruang rekreasi Ravenclaw."
Aneh... apa?
"Ya, apa itu?" tuntut Ginny, semakin tidak sabar.
Terry menelan ludahnya, menarik napas dalam. Dia menatap Harry kembali, dan menjawab pertanyaan tersebut.
"Michael bilang... dia mengetahui cara untuk bisa ada di luar ruang rekreasi saat jam malam tiba."
.
A/N: Su Li dan Michael Corner adalah anak Ravenclaw, seangkatan dengan Harry. Michael Corner adalah mantan pacarnya Ginny (OotP), sedangkan Su Li adalah anak perempuan Ravenclaw yang terdaftar dalam daftar nama murid di Harry Potter and Me. Ditulis tangan sendiri oleh JKR.
