Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
"I never thought I'll live long enough to see this scenery"
.
"Berada di luar... Saat jam malam?" tanya Ginny pelan, mengulangi kata-kata Terry dalam versi lebih singkat.
Terry mengangguk sekali. Harry mengernyit, otaknya yang tidak secepat otak Hermione dipaksanya untuk bekerja ekstra. Informasi yang aneh... Sangat ganjil ini harus dia simpan.
"Tunggu. Tunggu dulu," kata Harry kepada Terry. "Kamu bilang... Michael mengatakan bahwa dia tahu caranya untuk bisa berada di luar saat jam malam tiba?"
"Ya, ya, benar!" kata Terry.
"Apakah maksudnya itu... Dia dapat keluar dari asrama saat jam malam tiba? Apakah dia mengatakannya dalam bentuk seperti itu?" tanya Harry.
"Er..." Terry berpikir sejenak, ekspresinya menampakkan konsentrasi yang sedang difokuskannya. "Er... Tidak. Tidak, kalau kuingat-ingat lagi, sepertinya Michael tidak mengatakannya seperti itu. Dia hanya berkata bahwa dia tahu caranya bisa ada di luar saat jam malam."
Kernyitan Harry bertambah. Dia bergerak sedikit, memalingkan wajahnya menghadap dinding koridor tempat mereka berada, berpikir keras.
Michael mengatakan bahwa dia bisa berada di luar saat jam malam...
Tapi sudah jelas bahwa siapapun tidak akan bisa ada di luar setelah jam malam tiba. Hermione sendiri yang mengatakan itu. Perintah Kepala Sekolah Hogwarts tak dapat dibantah...
Tapi Cornish telah membuktikan bahwa dia sanggup melakukannya. Padahal menurut Demelza, Cornish sudah ada di dalam ruang rekreasi setelah jam malam tiba. Tapi dia bisa keluar juga.
Kalau begitu, kemungkinannya ada dua:
Satu. Michael benar-benar melakukan hal yang sama seperti Cornish, sanggup untuk keluar dari ruang rekreasi setelah jam malam tiba. Atau...
"Kami sempat berpikir bahwa Michael memang sejak awal tidak kembali ke ruang rekreasi," kata Padma. "Bahwa dia dan Su memang terus ada di luar, sampai jam malam tiba. Bahwa mungkin mereka memang ingin menghabiskan malam berdua saja, di luar asrama."
"Ya, itu juga baru saja muncul di kepalaku," kata Harry, berjalan ke sebelah kanannya, masih menatap dinding koridor. Dia mendongak setelah dua langkah, dan menoleh kembali ke Terry dan Padma.
"Sejak kapan kalian sadar bahwa mereka tidak ada? Bahwa mereka menghilang?" tanya Harry.
Padma dan Terry bertukar pandang, sebelum Padma menjawab dengan lancar, "Pagi ini."
Sebelah alis Ginny meloncat ke balik poninya. Dia bertanya, "Pagi ini?"
"Ya, pagi ini," jawab Padma.
"Berarti ada kemungkinan bahwa mereka berdua menghabiskan malam di luar asrama, sampai menghilang... Tak ada yang tahu kemana perginya?" kata Ginny. "Dan kalian belum melapor ke guru?"
"Kami tidak bodoh, tahu," kata Padma, mengernyit kepada Ginny. "Kami tahu, bahwa jika melaporkan kepada guru, ini semua... Belum tentu benar-benar berakhir bagus."
"Apa maksudmu, belum tentu berakhir bagus?" tanya Ginny.
Padma menghela napas dengan sebal, dan Terry mengambil alih. Dia berkata, "Jadi begini. Ada gosip di antara anak-anak Ravenclaw, bahwa sebenarnya Cornish itu masih menghilang. Dan bahwa sebenarnya McGonagall berbohong, bahwa McGonagall sebenarnya membiarkan begitu saja menghilangnya Cornish tanpa menindaklanjuti lebih jauh."
"Ya, kalian sudah mengatakan itu tadi. Tapi apa hubungan..." mulut Ginny berhenti bergerak, dan membentuk bulatan yang cukup menggambarkan bahwa dia paham. "Oh."
"Ya, benar. Bagaimana kalau kami melaporkan kepada mereka, dan hasilnya hanyalah kami diberitahu bahwa mereka sedang 'berlibur bersama, ditarik oleh keluarga, atau kawin lari?'" kata Padma dengan sinis. Dia mendengus, melanjutkan, "Kami tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak selama kami masih bisa mencegahnya. Kami masih bisa berpikir lebih jauh, tidak seperti kalian, yang membiarkan begitu saja menghilangnya salah satu teman asrama kalian tanpa menanyakan lebih jauh."
"Ya, memang," Terry berkata, memotong Ginny yang baru mau berbicara, "Kami melihat... Kalian seperti itu. Aneh sekali, kalian terlalu percaya kepada Profesor McGonagall."
"Sebenarnya, kami malah tidak mempercayainya selama seminggu penuh ini," kata Harry dengan datar.
Terry dan Padma mengalihkan pandangan mereka kepadanya, kedua mengernyit kecil. Padma lagi-lagi yang berkata lebih dulu, "Kalau begitu, kenapa kalian tidak bertanya soal ini lebih jauh kepada Profesor McGonagall? Kalian tidak tampak berusaha mencarinya!"
"Kami berusaha," kata Ginny. Dia mengerling sedikit ke Harry, dan berkata, "Tapi... Kami..."
"Tidak maksimal, yeah," kata Harry, menyelesaikan kalimat Ginny. Dia diam sejenak, dan melanjutkan, "Aku dan Hermione sesungguhnya sudah bertanya kepada Profesor McGonagall mengenai hal ini-"
"Benarkah?" tanya Terry, bersemangat. "Lalu? Apa katanya?"
Harry menggeleng pelan, dan ekspresi bersemangat di wajah Terry pudar. Dia menggeleng, sementara Harry berkata,
"Ya, dia tidak mau menjawab kami dengan jelas. Dia hanya mengatakan bahwa hal ini telah diurus olehnya dan sekolah, dan bahwa kami sebaiknya tidak ikut campur dengan hal ini."
"Aku jelas akan ikut campur terhadap apa saja yang menyangkut pencarian temanku yang keberadaannya tidak diketahui sekarang!" kata Padma berang. Dia menoleh ke Terry, berkata kasar, "Sudah kuduga, kan, mereka tak akan mau membantu kita! Ayo kita cari lagi-"
"Tunggu," kata Harry tegas. Dia menatap mereka berdua yang kini memandanginya dengan intens, dan berkata, "Aku akan membantu."
Alis Terry dan Padma naik. Mereka menatap Harry dengan ekspresi tak terbaca, dan seolah meragukan. Tapi mereka tidak berkata apa-apa.
Ginny maju juga, dan berkata, "Aku akan membantu kalian juga."
Kali ini pandangan Terry dan Padma berpindah ke Ginny, yang tetap berdiri tak terpengaruh. Harry mengangguk, dan berkata, "Ya. Lebih banyak pencari lebih baik..."
Terry mengangguk kecil, dan berkata, "Oke... Terima kasih. Kalau begitu... Mulai mencari?"
"Ya, mulai," jawab Harry. Dia menatap kepada mereka berdua lagi, dan bertanya, "Jadi, dimana dan kapan kalian terakhir kali melihat mereka berdua?"
.
-XXXXX-
.
Mereka berjalan bersama-sama, hingga mencapai ke tangga yang menuju ke koridor lantai tujuh yang terpisah dari tubuh utama kastil. Sebuah koridor yang Harry ingat menuju ke Menara Ravenclaw, tanpa cabang dan tanpa jalan tambahan kemanapun juga. Dinding yang kokoh dan tinggi di kanan-kiri mereka tampak tak tersentuh dan tak terjamah, mulus, tanpa tambahan lemari sapu, lukisan, atau apapun.
Tidak mungkin Michael bisa berada di sini tanpa ketahuan.
"Kamu yakin semalam kamu terakhir melihat Michael di sini?" tanya Harry.
"Pasti. Aku yakin," kata Terry, mengangguk. "Aku sedang berjalan membawa beberapa buku dari perpustakaan, kamu tahu, tugas untuk Transfigurasi level NEWT dan semacamnya, dan saat itu berpapasan dengan Michael. Aku bertanya kepadanya, 'mau kemana, Michael?'
'Mau bertemu seseorang, Terry!', jawab Michael. Kemudian aku bertanya lagi, 'Kamu tidak kembali ke asrama? Sudah mau jam malam, lho!'"
'Ah, aku tidak peduli,' jawab Michael," kata Terry, menelan ludahnya. Dia menarik napas, dan melanjutkan, "Dia bilang 'Aku tahu caranya untuk bisa ada di luar ruang rekreasi saat jam malam tiba! Yang penting aku ada di asrama pagi-pagi, kan? Bye!'
"Dan dia pergi, sebelum aku sempat bertanya lagi," kata Terry, mengakhiri penjelasannya.
Harry memikirkan semua informasi dari Terry tersebut, dan menimbang-nimbang kemungkinannya. Kemudian, memutuskan dia belum mendengar semuanya, dia menoleh ke Padma dan bertanya, "Bagaimana dengan Su? Kamu bilang terakhir melihatnya saat di ruang rekreasi."
"Ya, benar," jawab Padma, menoleh ke gerbang di ujung, yang mana memperlihatkan sebuah tangga spiral yang mengarah ke atas. Pintu menuju ruang rekreasi Ravenclaw, dengan pengetuk burung elang berteka-teki tersebut, ada di atas sana. Dia menoleh kembali ke Harry, melanjutkan, "Dia turun dari kamarnya dengan buru-buru, dan mengatakan bahwa dia mau ke suatu tempat. Dia tidak mengatakan dia mau kemana."
"Berarti, Michael dan Su... Ada kemungkinannya mereka berdua tak bertemu, kan?" tanya Harry.
Padma memutar bola matanya, dan Terry menjawab, "Masalahnya adalah, kami yakin mereka bertemu."
"Kenapa kalian yakin sekali? Ada hubungan apa sebenarnya antara mereka..." Harry berhenti berbicara, matanya melebar sedikit.
"Yap, benar. Eng ing eng, mereka sudah jadian sejak awal tahun ajaran ini, Harry," kata Padma.
Mendadak, Ginny maju dan berkata, "Apa? Bukannya Cho pacarnya Michael?"
"Itulah, mereka putus bulan Juli kemarin. Cho kan sudah lulus NEWT, dia ikut bersama keluarganya kembali ke Cina. Michael tidak terima mereka terpisah satu benua, dan Cho tidak mungkin menunda kepergiannya. Jadilah mereka putus," kata Padma.
"Cukup cepat dia mendapatkan pacar baru," kata Harry.
"Memang dia selalu cepat, kok," kata Ginny, mengangkat bahunya. Harry menoleh kepadanya, dan Ginny melanjutkan, "Lho, memang benar, kan. Ingat tidak, saat kita menang pertandingan Quidditch? Dia memutuskanku begitu saja karena manyun terus, lalu dia langsung pergi menghibur Cho."
Harry menggeleng pelan, dan kembali memfokuskan pikirannya untuk keberadaan Michael dan Su. Dia berkata, "Oke, itu tidak begitu penting sekarang. Yang penting, jadi, ada kemungkinan bahwa mereka bersama selama semalam suntuk, melakukan... Kau-Tahu-Apa-"
"-Seks," sambung Padma.
Harry mengangkat sebelah alisnya, dan Padma berkata tidak sabar, "Oh, ayolah! Kita sudah cukup umur seluruhnya! Aku bahkan yakin kamu dan Ginny sudah-"
"Oke! Pokoknya, ada kemungkinan mereka berdua bersama," kata Harry, menggerutu dalam hati. Demi Merlin, dia tidak tahu Padma sangat repulsif. Dia mendorong keluhannya tersebut ke dalam hatinya, ada hal lain yang membutuhkan fokusnya saat ini. "Mereka bersama semalam suntuk, sampai pagi, dan mereka belum kembali lagi sampai sore begini, kalian sudah mencari-cari mereka di ruang rekreasi dan beberapa tempat di kastil, dan belum bertemu dengan mereka?"
"Ya, benar sekali itu," kata Terry.
"Kami berusaha mencari-cari mereka di lokasi-lokasi yang... Kami pikir lumayan memadai untuk seks," kata Padma. "Dan kami belum menemukan mereka juga. Ruangan-ruangan kelas, koridor-koridor rahasia... Belum juga."
Harry mengernyit kecil. Di sebelahnya, Ginny bertanya, "Kalian sudah memeriksa seluruh tempat di kastil? Semua tempat-tempat... Seperti itu?"
"Belum... Baru bagian Timur kastil, tempat kalian menemukan kami barusan," jawab Terry. Dia menoleh kepada Harry dan Ginny, berkata, "Mau membantu kan?"
"Ya," jawab Harry segera. Dia mengangguk, dan berkata, "Kastil sebelah barat sekarang, kan?"
"Baik," kata Padma, mengangguk juga. Harry berjalan lebih dulu, dengan Ginny di belakangnya. Dia lebih hapal dan mengerti mengenai banyak tempat-tempat di kastil ini, mungkin lebih daripada siapapun yang pernah dikenalnya. Terima kasih berkat Peta Perampok... Yang entah ada dimana sekarang. Mereka berjalan menelusuri jalan yang telah mereka lalui sebelumnya, bergerak dengan agak tergesa-gesa.
Sepanjang jalan, Harry menoleh ke kanan dan kiri, mengecek kalau-kalau ada lemari, ruangan yang terlewatkan oleh mereka. Namun dia tidak menemukan apapun hingga mereka mencapai lantai tiga, dimana Staircase terbentang kembali di hadapan mereka, bersama ratusan potret yang menggantung di sana. Dia menoleh ke Padma dan Terry, berkata, "Kalian sudah mengecek kastil bagian Barat, kan?"
"Ya, tentu saja. Apa harus kami ulangi lagi kata-kata kami?" tanya Padma sinis.
Harry memilih untuk diam, namun Ginny tidak bisa sesabar itu. Dia menatap Padma dengan sengit, dan berkata, "Bisa tidak kamu berhenti bersikap seperti itu? Kami mencoba membantu kalian, tahu!"
"Oh, ya, terima kasih," kata Padma dengan senyum super palsu. "Berkat bantuan kalian, kita telah menghabiskan waktu sepuluh menit hanya untuk berputar kembali ke dekat menara Ravenclaw, baru mulai ke kastil sebelah timur. Ya, terima kasih deh."
"Kamu-"
"Aku minta maaf, kalau bantuan kami malah memperlambat pencarian kalian," kata Harry dingin. Mereka menuruni tangga, menuju ke lantai satu, sementara Harry melanjutkan, "Tapi kami mendapati kalian belum menemukan Michael dan Su sama sekali. Dan kalian juga tidak mau melapor ke guru, demi kelangsungan pencarian ini. Jadi, kupikir ada baiknya jika kamu diam saja, Padma."
Padma melotot kepada Harry, namun dia diam. Harry mengangguk dalam hati, rupanya Padma masih pantas juga disebut sebagai Ravenclaw. Dia masih bisa berpikir jernih dan tahu bahwa diam adalah hal terbaik yang saat ini sedang sangat diinginkan oleh Harry.
Dia tidak ingin meledak di saat-saat seperti ini, di saat ada dua orang anak yang sedang menghilang entah kemana, dan risiko bahwa pencarian akan dihentikan jika semuanya diketahui oleh McGonagall.
Ada yang aneh dengan McGonagall, dan walaupun kata-kata Ron yang diucapkan kepadanya tadi pagi sangat bagus dan menyadarkannya sedikit, dia tidak bisa mengembalikan keyakinannya kepada McGonagall semudah itu.
Tidak sampai dia juga benar-benar tahu kabar serta kondisi sebenarnya dari Cornish.
Mereka mencapai lantai satu, dan berjalan sepanjang koridor lebar dengan lukisan-lukisan tergantung di dindingnya. Matahari sudah terbenam sepenuhnya sekarang di luar, jendela-jendela hanya memperlihatkan kegelapan dan hujan yang turun deras.
Petir sesekali menyambar, menerangi lembah, namun suaranya redup - petir tersebut menyambar sangat jauh dari Hogwarts.
Mereka mendatangi satu per satu ruangan-ruangan di kastil bagian barat. Awalnya hanya ruang-ruang kelas kosong, namun Harry, yang mengetahui banyak tempat-tempat aneh, membawa mereka ke koridor-koridor berdebu dan tak tersentuh - mencari-cari Michael dan Su. Setiap ruangan mereka sambangi, setiap koridor gelap mereka terangi dan telusuri. Mereka bahkan menaiki tangga spiral yang ternyata menuju ke menara kurungan yang terbengkalai - yang mungkin tak pernah didatangi oleh siapapun selama bertahun-tahun.
Singkat kata, seluruh ruangan telah mereka kunjungi, dan mereka tak menemukan Michael serta Su sama sekali.
Kelelahan, lapar, dan dahaga, mereka berhenti di koridor gelap lantai tiga. Obor-obor yang telah dinyalakan oleh Harry dan Terry tak sanggup menerangi koridor yang sangat luas tersebut secara keseluruhan. Harry menyandar di lemari sapu terdekat, menyeka keringat dinginnya.
Dia berkeringat, padahal dia ada di dalam kastil yang sedang diguyur hujan lebat.
"Mereka dimana, sih?" tanya Terry, mulai panik sekarang. Padma juga mulai panik, ekspresinya tak lagi repulsif dan sinis seperti sebelumnya. Dia tampak khawatir dan sangat cemas. Ginny, sementara itu, juga menyandar di lemari sapu yang sama dengan Harry, mengatur napasnya yang lelah.
Harry berhenti menyeka keringatnya, dan mendengarkan suara hujan turun dari luar. Sudah malam... Dan mereka belum juga menemukan lokasi Michael dan Su.
Dia melihat ke kanan kirinya, mendapati bahwa mereka sekarang berada di koridor lantai tiga, koridor yang sama yang dulu dilarang, koridor yang sama tempat Cornish katanya ditemukan. Tapi mereka tidak menemukan ruangan apapun di dalam sini, tidak ada celah ataupun tempat untuk melakukan hal seperti itu. Selain lemari sapu tempatnya bersandar, dan beberapa peti, tidak ada barang-barang lain di sini.
Bahkan pintu jebakan yang mengarah ke jalur menuju Batu Bertuah sudah dututup dengan batu-batu tebal dan dicor, tidak bisa diakses. Tidak mungkin mereka ada di sana.
"Mungkin sebaiknya kita meminta tolong Profesor," usul Ginny, menghela napas.
Padma menoleh dengan sengit kepada Ginny. Dia menyambar dengan panas, "Sudah lelah? Sudah tak peduli lagi dengan teman?"
Ginny mengernyit, dan membalas dengan sama panasnya, "Bukan itu masalahnya, idiot! Tapi faktanya mereka sudah menghilang selama ini... Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Sekarang siapa yang tidak peduli dengan teman?"
"Hei, hei, hei!" seru Harry keras, suaranya bergaung di koridor gelap tersebut. Dia menatap Padma dengan intens, berkata, "Kupikir sudah saatnya kita benar-benar meminta pertolongan orang lain. Oke, Profesor tidak perlu ikut," katanya, sebelum padma sempat protes. "Tapi minimal salah satu teman-teman kalian bisa ikut. Panggil sebanyak mungkin anak Ravenclaw, dan kita lakukan pencarian lagi."
"Tapi jam malam mungkin sudah mau tiba," kata Terry cemas.
Harry mengangkat bahunya. Dia berkata, "Yah, kalau begitu masalahnya, kita bisa tinggal menuju ke ruang rekreasiku. Kalian bisa menginap di sana malam ini. Bagaimana?"
Terry dan Padma saling pandang. Padma mengangguk, dan Terry berkata, "Oke... Kalau begitu. Kami akan memanggil teman-teman kami. Dimana kita akan bertemu lagi?"
"Di dekat Aula Depan. Bisa? Aku akan langsung menuju ke sana," jawab Harry.
Terry dan Padma mengangguk, dan dengan cepat berjalan meninggalkan koridor tersebut. Harry menunggu sampai mereka berdua hilang dari pandangan, sebelum dia menghela napasnya panjang-panjang.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Ginny.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Harry, menggeleng. "Aku hanya merasa... Kita sangat sendirian dalam masalah ini."
"Kenapa, karena kita hanya berempat?" tanya Ginny.
"Tidak. Karena kita tak bisa meminta bantuan siapapun yang berhubungan dengan staf. Terry dan Padma, mungkin beserta anak-anak Ravenclaw lainnya, jelas-jelas tidak mempercayai mereka," kata Harry. Dia berjalan keluar dari koridor tersebut, Ginny di belakangnya.
Mereka menuruni tangga menuju ke lantai satu kembali. Di tengah perjalanan, Harry menoleh ke Ginny dan berkata, "Kamu bisa kembali ke asrama kalau mau."
"Tidak, Harry," kata Ginny. "Aku akan ikut. Aku juga... Merasa sangat aneh dan tidak enak mengenai semua ini."
"Sama denganku," ujar Harry pelan.
Mereka mencapai lantai dasar, dan menelusuri kembali koridor menuju Aula Depan. Koridor sudah sepi, dan suara-suara dari Aula Besar tidak terdengar - sepertinya jam makan malam sudah lewat. Harry baru saja berpikir untuk mengintip Aula Besar, mengecek kalau-kalau masih ada makan malam yang tersisa, ketika dia mendengar sebuah suara.
Namun kali ini bukan suara ribut, suara seperti yang dia dengar dari koridor sepi gelap tempat Terry dan Padma tadi berada.
Ini terdengar seperti suara kikik teredam.
Dari tengah-tengah koridor tersebut.
Harry menghentikan langkahnya, membuat Ginny nyaris menubruk bahunya. Ginny mendongak dengan bingung kepada Harry, dan berkata,
"Harry, apa yang-"
"Shh..." kata Harry, menyuruh Ginny diam. Dia menajamkan telinganya, dan mendengarkan lagi dengan lebih seksama. Dia yakin dia tidak hanya membayangkannya... Dia memang mendengar suara lain selain suara mereka di koridor tersebut.
Suara debum pelan, dan suara kikik lagi, terdengar.
Harry menoleh kepada Ginny, yang membelalak. Dia juga sudah mendengarnya.
"Apa itu?" bisik Ginny.
"Aku tak tahu," jawab Harry. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, siap bereaksi untuk menangkis kutukan atau mungkin menghindarinya. Segala pikiran mengenai Michael dan Su untuk sementara menghilang dari kepalanya. Dia menoleh ke kanan kirinya, mencari-cari sumber suara.
Tapi koridor tersebut kosong, jadi darimana suara itu berasal.
Bunyi gerakan pelan dari sebelah kanannya membuatnya nyaris terlompat kaget.
Dia menoleh ke kanannya dengan kecepatan yang luar biasa, hingga jubahnya berkibar. Mengacungkan tongkatnya lurus-lurus, dia melihat sesuatu yang sudah ada di koridor tersebut sejak lama, namun tak dia sentuh dan curigai sama sekali sebagai sumber suara:
Lemari sapu.
Dia mengulurkan tangannya, menyentuh pegangan lemari sapu tersebut, tepat ketika dia mendengar suara kikik itu lagi. Dia harus mengetahui, apa sebenarnya yang ada di balik ini.
Tapi aneh... Suara kikik itu terasa familiar baginya.
"Harry! Jangan-"
Namun peringatan Ginny datang terlambat, karena Harry sudah keburu membuka pintu lemari sapu itu dengan keras dan cepat.
Dia melihat yang ada di dalamnya. Kedua orang di dalam lemari sapu tersebut membelalak dan menganga melihatnya, tampak sangat kaget dan terkejut. Harry menatap mereka berdua selama dua detik, sebelum otaknya kembali bekerja dan memberitahukannya nama kedua orang tersebut.
Dia menutup pintu lemari itu kembali, kali ini lebih keras daripada saat dia membukanya, dan memejamkan matanya, menggeleng-geleng kesal.
"Ngapain sih kalian?" seru Harry, menjedukkan kepalanya ke pintu lemari sapu itu.
"S-So-sori, Harry!" jawab Ron dari dalam, suaranya teredam. "K-kami tak menyangka-"
Harry memejamkan matanya. Hari ini terasa luar biasa sekali sepertinya... Pertama-tama kunjungan ke Hogsmeade yang bisa menyenangkan, kemudian mencari Michael dan Su sampai melewatkan jam makan malam, dan sekarang...
Akhirnya dia mengetahui lokasi kedua sahabatnya. Namun dia tak sekali pun ingin untuk menemukan mereka berdua dalam posisi seperti itu.
Suara debum dan gesekan pelan dari dalam lemari, plus suara-suara dari Ron dan Hermione, jelas memberitahunya bahwa mereka berdua sedang mengenakan dan memperbaiki kembali posisi jubah mereka berdua.
Mereka sebaiknya punya alasan bagus...
.
-XXXXX-
.
Saat Hermione menerima ajakan Ron untuk mencari Harry, dia tidak berpikiran aneh-aneh. Harry dan Ginny memang tidak kembali-kembali juga, walaupun jam makan malam sudah lewat. Ron tidak mau pulang sebelum menyampaikan kepada Harry surat dari George, mengenai saham Harry di Sihir Sakti Weasley. Jadi Hermione setuju menemaninya untuk mencari Harry.
Entah bagaimana, karena lelah mencari, mereka beristirahat di koridor di dekat Aula Depan. Mereka berdua mengobrol, satu hal bersambung dengan hal lainnya, dan mereka mulai berciuman, sampai Ron mendorong Hermione ke dalam lemari sapu, dan mereka melanjutkan kegiatan mereka yang memanas di sana. Hermione tidak menolak sama sekali, dia sangat senang malah. Ron membuatnya merasa seperti memberontak, sesuatu yang dia sangat sukai namun sangat jarang dia lakukan. Bersama Ron, dia bisa menjadi seperti itu tanpa masalah. Dia sangat menyukainya.
Jelas tertangkap basah oleh Harry dan Ginny (yang membelalak kepadanya) tidak termasuk dalam daftar hal-hal yang ada di dalam pikirannya selama dia bersama Ron. Mereka menjelaskan mengenai semua yang terjadi pada Harry, sementara Harry berdiri menatap mereka seperti kakak yang kelewat galak.
Seperti Ron, kalau dia menangkap basah Ginny dan Harry sedang bermesraan di The Burrow. Ajaib, posisi mereka ternyata bisa ditukar-tukar begitu.
"Er, sori, Harry," kata Ron, setelah mereka diam beberapa menit. "Ini... Salahku."
Harry menatap Ron selama beberapa detik, sebelum ekspresinya melunak dan dia menghela napas panjang-panjang. Hermione mendongak di situ, karena dia tahu bahwa helaan napas dari Harry berarti tidak akan ada ceramah atau kalimat-kalimat kesal.
Sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Tidak apa-apa, kok," kata Harry, menggeleng-geleng letih. "Itu kan hak kalian. Cuma... Kapan-kapan kunci pintunya."
Ini baru tidak wajar. Harry yang biasanya tidak akan membiarkan ini begitu saja. Kalau tidak mengeluh, minimal Harry akan meledek. Bahkan Ginny tidak mengejek Hermione, ataupun memberikan tatapan mata jail khasnya.
"Ada apa, Harry? Ginny?" tanya Hermione, maju selangkah. "Ada yang... Salah?"
Harry mendongak menatap Hermione. Mata mereka bertemu selama beberapa detik, sementara mereka melakukan lagi pembicaraan khas mereka.
Pembicaraan tanpa berbicara.
Ada apa? Beritahu aku, mungkin aku bisa membantumu
Harry menangkap hal tersebut, dan mengangguk. Dia bertukar pandang dengan Ginny sejenak, sebelum akhirnya, menarik napas panjang-panjang, dia menjawab pertanyaan Hermione tersebut.
Dia menceritakan seluruhnya, dari pertemuannya dengan Terry dan Padma, sampai ke hilangnya Michael dan Su. Dari pencarian mereka di lantai-lantai atas kastil, di ruangan-ruangan yang biasa digunakan, hingga ke koridor-koridor gelap dan tempat-tempat yang sangat jarang dijamah murid. Alis Hermione dan Ron naik makin lama makin tinggi sementara Harry bercerita, dan di akhir kisah Harry, Ron sudah menganga kecil.
"Buset," bisik Ron, menatap Harry ngeri. "Harry, kamu harus segera melapor ke McGonagall!"
"Masa kamu belum mengerti sih?" kata Harry tidak sabar. "Anak-anak Ravenclaw, khususnya Terry dan Padma, tidak mempercayainya. Mereka berpikiran sepertiku, Hermione, dan Ginny! Mereka menganggap McGonagall menutup-nutupi hilangnya Cornish bermoduskan 'pernyataan resmi'! Mereka tidak ingin pencarian terhadap Michael dan Su dihentikan begitu saja karena hal sama!"
"Tapi ini sudah sangat sulit!" kata Hermione, suaranya meninggi. "Mereka berdua sudah lenyap selama nyaris dua puluh empat jam! Banyak hal yang bisa terjadi selama waktu itu! Bisa saja mereka sedang dalam bahaya besar sekarang!"
"Aku tahu itu, Hermione!" jawab Harry. "Makanya mereka memanggil lebih banyak pencari sekarang, kita ingin Michael dan Su ditemukan secepatnya-"
"Kalian sudah mencari sepanjang kastil Barat? Yakin kalian sudah mencari di setiap ruang kelas, baik yang kosong, terkunci, hingga ke sudut-sudut gelap? Sudah lihat di balik meja-meja, di balik plafon dan di setiap kamar mandi?" tanya Hermione cepat, menyebutkan semua tempat yang ada di dalam kepalanya.
"Sudah! Percayalah, sudah! Dan tidak, tidak ada plafon di sana, Hermione! Kita ada di dalam kastil!" jawab Harry dengan frustasi, berjalan mondar-mandir. Dia merasa pusing sekali sekarang, tidak mungkin kan dua anak bisa menghilang, benar-benar menghilang begitu saja di dalam kastil ini? "Kami bahkan sudah memeriksa ke koridor lantai tiga, ke setiap koridor gelap, ke setiap pintu-"
Di kata 'pintu', Harry berhenti. Dia teringat sesuatu.
Dia menatap Ron penuh-penuh, membuat Hermione kebingungan. Ron berjengit, mengkeret sedikit di bawah tatapan mata Harry yang seolah menyala.
"A-Apa?" tanya Ron takut-takut.
"Pintu..." gumam Harry. Dia berjalan mendekati Ron, sementara Ron mundur hingga punggungnya menubruk pintu lemari sapu.
Harry berhenti dalam jarak beberapa belas senti dari Ron, berkata dengan nada liar, "Ron! Kenapa kamu membawa Hermione masuk ke dalam lemari sapu?"
"Er..." Ron mengerjap bingung, dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Er... Agar kami tak ketahuan sedang bermesraan?"
Agar tak ketahuan?
Tak ketahuan oleh siapapun?
Tunggu sebentar. Kalau tidak salah...
'Aku tahu caranya untuk bisa ada di luar ruang rekreasi saat jam malam tiba! Yang penting aku ada di asrama pagi-pagi, kan?'
'Yang penting ada di asrama pagi-pagi.'
Yang penting tidak ketahuan siapapun, yang penting pagi hari sudah di asrama lagi...
Sembunyi-sembunyi, semalaman suntuk, dan tempat yang biasanya jarang aku dan Hermione periksa.
"Harry?" tanya Hermione. "Ada apa?"
Harry mengalihkan pandangannya ke lemari sapu yang tertutup di belakang punggung Ron. Dia mengerti sekarang. Ada satu tempat lagi, di kastil bagian Barat, yang belum dia cek.
Tapi tempat itu ada banyak sekali, terlalu banyak...
Coba sempitkan lagi. Tempat untuk bersembunyi dan bermesraan sampai pagi, tempat yang aman dan jarang dijamah...
Hanya ada sedikit jumlahnya.
"Ginny, Ron," kata Harry. "Suruh anak-anak Ravenclaw, yang mungkin sekarang sudah menunggu di Aula Depan, untuk mengecek setiap lemari sapu yang ada di kastil ini."
"Boleh," kata Ginny, mengernyit kepada Harry. "Tapi apa yang-"
"Nanti! Aku pergi duluan! Suruh mereka ke Bagian Barat lebih dulu!" seru Harry. Tanpa menoleh lagi, dia langsung ambil langkah seribu ke kastil bagian Barat tersebut.
Sembari berlari, dia menyentuh sedikit jubah bagian belakangnya. Dan dia merasakan sesuatu yang aneh, sensasi sesuatu yang menempel...
Sensasi sesuatu yang lengket.
Kenapa dia tidak menyadarinya dari tadi?
Saat berbelok dan mulai menaiki tangga, dia mendengar suara-suara langkah berlari dari belakangnya. Dia tidak perlu menoleh untuk menebak suara langkah siapa itu, untuk mengetahui siapa pemilik napas terengah-engah itu. Dia sudah hidup cukup lama bersama sahabatnya tersebut untuk bisa mengenalnya dengan mata tertutup.
"Kenapa kamu ikut?" tanya Harry, mengurangi kecepatan larinya.
"Harus ada yang ikut denganmu!" jawab Hermione tegas, merendengi Harry. "Kondisimu sangat aneh, Harry! Sangat aneh!"
"Karena semuanya memang sangat aneh!" seru Harry, menaiki tangga menuju ke koridor lantai tiga. "Aku tidak tahu bagaimana bisa aku tidak sadar sejak awal..."
Suara Harry menurun hingga menghilang, bersamaan dengan tibanya mereka di koridor gelap tersebut. Satu ayunan tongkat dari Harry, dan semua obor koridor tersebut menyala. Tak terang, namun cukup sebagai sumber cahaya.
Lemari sapu itu masih ada di sana, berdiri sendiri, menempel di dinding koridor. Harry masih ingat menyandar di lemari tersebut tadi.
Dan dia tidak terpikir sama sekali untuk memeriksanya.
"Lumos!" seru Harry, mengangkat tongkat sihirnya.
Cahaya putih menerangi lemari tersebut, dan Harry bisa melihat apa yang tadi tidak dia lihat saat menyandar di lemari tersebut bersama Ginny: Sebuah huruf 'L' besar, tertulis di sana dengan sesuatu berwarna merah kecokelatan.
"'L'?" bisik Hermione, membaca huruf tersebut. Dia meraba huruf tersebut, dan mendapati bahwa huruf itu, apapun bahan untuk menulisnya, bukanlah bahan biasa. Huruf itu lengket, namun tidak menempel sepenuhnya. Tebal, namun tidak terlalu tipis.
Di antara mereka berdua, hanya Harry yang pernah melihat dan memeriksa sendiri tulisan dengan warna sejenis ini. Maka kepalanya memberinya suara alarm keras, dia menggenggam tongkatnya lebih erat lagi, mengulurkan tangannya ke pegangan pintu.
Tangannya bergetar, dan dia harus menenangkan dirinya sebelum membuka pintu lemari sapu tersebut.
Mental sudah siap, dia membukanya.
Cahaya dari ujung tongkatnya langsung menerangi bagian dalam lemari itu, memperlihatkan dengan jelas isinya.
Hermione tercekat, menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Harry hanya menatap isi lemari tersebut dalam diam.
Sementara cairan berwarna merah mulai mengalir dan menetes, keluar dari dalam lemari sapu. Merembes dari dalamnya, seolah bergerak sendiri mencari udara dan kebebasan.
Badai di luar bergemuruh semakin keras.
.
