Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"So strange..."

.

Ruang kantor kepala sekolah sudah absen dari segala jenis peralatan perak aneh sejak Dumbledore berhenti menjadi kepala sekolah. Sejak saat itu, perasaan sepi dan senyap terasa menggantikan suara-suara tersebut, yang malah sudah menjadi familiar di telinga Harry.

Saat ini, Harry sedang berdiri di tengah-tengah ruangan tersebut, menyaksikan matahari terbit. Cahayanya menyusur membentuk garis-garis menembus jendela, menerangi seluruh ruangan dengan cahaya kuning yang menghangatkan. Sisa-sisa badai semalam masih tampak di daratan yang berkilauan: setiap butiran air yang ada di rerumputan memantulkan cahaya matahari, membiaskannya menjadi ribuan pelangi. Tambahkan dengan danau yang tenang, tampil bagaikan cermin raksasa, dan langit yang berawan putih garis, dan juga dengan kicau burung di pagi hari yang bersahut-sahutan.

Ajaib, benar-benar ajaib.

Sebuah pemandangan seindah itu bisa disaksikan oleh Harry, tidak sampai 24 jam setelah peristiwa menggegerkan terjadi di Hogwarts.

Seluruh murid telah diperintahkan untuk kembali ke asrama masing-masing, dimana disana mereka akan mendapatkan penjagaan dari Prefek, hantu, dan kepala asrama mereka. Namun Harry tidak mau mematuhi. Tidak seperti Hermione, yang menjalankan tugasnya dengan bertanggungjawab dan membantu para staf menjaga murid-murid Gryffindor. Dia memilih untuk keluar dari ruang rekreasi dan menunggu seseorang di sini.

Meskipun ada kemungkinan bahwa, mungkin saja, penantiannya ini sia-sia. Mungkin saja kementrian dan dewan sekolah langsung mengeluarkan perintah pemecatan McGonagall, karena tak berhasil mencegah kejadian seperti semalam terjadi.

Tapi dia tetap menunggu. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat ganjil di sini, sesuatu yang sangat aneh. Dia merasa ada sesuatu yang terus mengganggunya, mengusik kepalanya, mengenai berbagai keanehan yang telah terjadi. Sangat ganjil, jauh lebih mengganggu dibandingkan dengan saat tahun keduanya, saat Basilisk berkeliaran di dalam kastil.

Pintu terbuka di belakangnya, dan Harry langsung berbalik badan.

Memasuki ruangan berturut-turur, adalah Profesor McGonagall sendiri, Kingsley, Madam Pomfrey, dan seorang pria mengenakan jubah seragam Auror. Mereka semua berwajah suram, dan tampak sedang terlibat dalam pembicaraan pelan satu sama lain.

Namun mereka semua berhenti begitu melihat Harry.

Adu tatap yang terjadi antara empat penyihir biasa versus Harry berlangsung cukup lama, sampai Harry bisa merasakan punggungnya yang terekspos cahaya mentari mulai terasa panas.

"Harry! Bagaimana kamu bisa masuk? Aku sudah mengganti kata kuncinya," tanya Profesor McGonagall, seperti biasa berhasil mengendalikan diri lebih dulu.

Harry mengangkat bahunya, dan menjawab, "Aku meminta gargoyle di bawah untuk minggir, dan dia minggir. Aku dan Hermione 'kan bisa membuka semua pintu dan jalan di kastil. Kecuali kamu memerintahkan si gargoyle untuk tidak minggir kepada siapapun, mungkin barulah aku tidak bisa masuk ke sini."

Si Auror menganga sedikit, tampaknya dia tidak begitu mengerti akan apa yang dikatakan oleh Harry. Kingsley juga tampak tidak mengerti, namun dia hanya diam. McGonagall, yang mengerti sepenuhnya, kini tampak berang.

"Potong dua puluh poin dari Gryffindor atas penerobosan ke dalam kantorku!" kata McGonagall.

"Aku tak peduli," kata Harry, melangkah maju, matanya terpancang kepada McGonagall. Dia berhenti dalam jarak dua meter darinya, sebelah tangannya di dalam saku. Menarik napas dalam, dia melanjutkan, "Dua orang anak Ravenclaw baru saja ditemukan mati malam ini. Aku tidak mungkin peduli akan poin asrama."

McGonagall menahan napasnya karena nada suara Harry. Menatapnya, Harry tahu bahwa tampaknya dia tak akan bisa menjawabnya selama beberapa waktu. Dia mengalihkan tatapannya kepada Kingsley, yang menatapnya balik dengan diam.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Harry.

Mengerjap sekali, Kingsley bertanya balik, "Apa maksudmu?"

"Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?" desis Harry, menekankan pada kata 'tempat ini'. "Jelaskan padaku! Semuanya! Termasuk mengenai Cornish! Sekarang!"

Kingsley menjilat bibirnya. Itu satu-satunya gestur yang Harry ketahui dari Kingsley yang memberitahu bahwa dia sedang gelisah. Kingsley menoleh kepada McGonagall, yang menatap Harry dengan tatapan tidak wajar - entah apakah itu sedih atau menyesal. Atau mungkin sedang mempertimbangkan semua kemungkinan?

Harry sudah cukup memainkan peran sebagai anak baik yang sabar nan terpuji. Dia menatap McGonagall dengan berang, dan menggeram, "Beritahu aku, Profesor! Beritahu aku, apakah Stephen Cornish sudah ditemukan?"

Menunggu beberapa detik, Harry menyangka McGonagall akhirnya akan jujur dan menjawab 'Belum'. Betapa kecewanya dia, melihat McGonagall mengangguk, dan berkata, "Sudah. Mr Cornish sudah kami temukan."

"Profesor..." geram Harry -

"... Tapi tidak dalam keadaan hidup," kata Kingsley, menyelesaikan kalimat dari McGonagall.

Harry menoleh menatapnya, alisnya mengangkat tidak percaya. Dia merasa dunia kembali bergerak dalam kecepatan super lamban di sekelilingnya, otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.

Stephen Cornish sudah ditemukan.

Profesor McGonagall tidak bohong dalam satu hal itu...

Namun Cornish tidak ditemukan dalam keadaan hidup.

"Mati?" tanya Harry pelan.

Ajaib udara masih berkenan menghantarkan suaranya tersebut.

Kingsley mengangguk pelan, sementara McGonagall menghela napasnya panjang-panjang. Mata mereka semua mengikuti McGonagall, yang berjalan mengitari mejanya dan duduk di kursi. Dia mencopot topi dan kacamatanya, memijat-mijat dahinya yang berkerut. Tindakan yang sama masih Harry ingat dia lakukan juga, begitu juga dengan Dumbledore. Sesuatu yang membuat mereka tampak menjadi puluhan tahun lebih tua, sesuatu yang menampilkan usia mereka yang sesungguhnya ke permukaan fisik.

Sayangnya, Harry tetap tidak dalam kondisi mau beriba hati karena pertunjukkan usia McGonagall tersebut. Otaknya telah berfungsi lagi, dan kali ini, telah mencerna informasi mengenai tewasnya Cornish. Semua saraf-sarafnya menyalurkan berita itu, impuls-impuls bertabrakan, Harry merasa seluruh sarafnya bergerak dengan kecepatan tinggi, menerobos semua lampu merah...

Untunglah tidak ada satupun yang bertubrukan dengan telak. Kalau saja ada, Harry yakin dia sudah menjadi gila.

Berita kematian datang dua kali berturut-turut, dalam jangka waktu 24 jam?

"Kenapa Anda menutup-nutupi hal ini?" tanya Harry, dengan suara yang sangat tenang - tidak wajar.

McGonagall menghela napas rendah lagi, dan bersandar di kursinya. Dia menatap Harry, dan menjawab pelan, "Kupikir... Ini untuk kebaikan semuanya. Jika sampai ketahuan bahwa... Ada murid tewas di dalam kastil, walaupun pengamanan yang ketat telah diberlakukan... Itu akan menimbulkan kepanikan masal."

"Kepanikan?" tanya Harry.

"Ya," sambung McGonagall, memejamkan matanya sejenak. Begitu dia membukanya lagi, dia melanjutkan, "Kondisi saat ini masih labil, Harry... Kepanikan masih bisa muncul kapan saja, dengan sangat mudah. Bayangkan apa yang akan terjadi... Jika berita tewasnya Cornish tersebar..."

"Tapi toh sekarang usaha Anda gagal seluruhnya," kata Harry. "Dua mayat lagi ditemukan."

Si Auror, yang dari tadi hanya menoleh-noleh dari Kingsley, Harry, ke McGonagall, berdeham pelan. Mereka semua menoleh kepadanya, bahkan Harry.

"Maafkan saya, tapi... Saya rasa saya harus kembali saat ini. Pak Menteri, tadi... Anda memerintahkan saya untuk mulai menulis laporan sebelum jam delapan, dan sekarang sudah jam setengah delapan," kata Auror tersebut.

Dari suaranya saja, Harry sudah bisa mengetahui bahwa Auror ini pastilah Auror baru. Mungkin termasuk dalam orang-orang yang direkrut oleh Kingsley dan kementrian setelah pertempuran Hogwarts. Harry masih ingat, karena dia sendiri ditawarkan untuk menjadi Auror tanpa tes lagi. Syarat yang dibutuhkan hanyalah telah ikut serta dalam pertempuran di Hogwarts, dan berhasil melaluinya dengan sukses.

Wajar, semua orang yang berhasil melalui pertempuran malam itu pastilah memiliki kemampuan duel dan bela diri yang cukup tinggi. Namun itu tidak menjamin bahwa mental orang-orang tersebut sudah terbentuk untuk profesi sebagai Auror.

"Ya, pergilah, Rivers," kata Kingsley. Auror tersebut, Rivers, baru saja berbalik badan dan mau pergi ketika Kingsley berdeham keras-keras, dan berkata, "Tapi fotonya jangan dibawa, Rivers. Taruh di atas meja ini."

Rivers berhenti di tengah langkahnya, dan berkata pelan, "Oh!"

Benar-benar amatir... Batin Harry, sementara Rivers, dengan terburu-buru, meletakkan amplop berwarna cokelat di atas meja McGonagall. Sesuatu menyembul dari ujung lipatan mulut amplop tersebut.

Beberapa detik kemudian, Rivers sudah keluar dari ruangan, dengan kepala menunduk dan langkah yang cepat. Kingsley menggeleng-geleng kepadanya, dan Madam Pomfrey berkata pelan, "Merlin. Kingsley, tidak bisakah kamu mencari Auror lain yang lebih kompeten untuk menjadi pengawalmu?"

"Jack Rivers adalah Auror yang kompeten, dia bertempur bersama adiknya di sini saat pertempuran Hogwarts. Mereka termasuk dalam orang-orang yang datang kemari melalui Hogsmeade, dan dia berdiri di garis depan, di halaman kastil, ikut serta dalam menghadapi gelombang pertama serangan para Pelahap Maut. Dia peduel hebat, namun ya... Mungkin memang mentalnya saja yang belum terbentuk," kata Kingsley. Dia menatap ke Madam Pomfrey kembali, kemudian ke McGonagall, yang menghela napas panjang-panjang.

"Baiklah, Minerva, sekarang aku ingin kamu melihat ini dengan jelas. Para Auror telah mengambil foto-foto dari TKP dengan sangat bagus, sebelum mayat kedua anak tersebut dipindahkan," kata Kingsley, menjulurkan tangannya ke tempat amplop tersebut tadi dia letakkan, hanya untuk menemukan bahwa amplop itu tak ada di sana.

Tiga orang dewasa mengerjap bingung.

Harry mengeluarkan suara jijik, melihat salah satu foto yang memperlihatkan posisi dan kondisi kedua jenazah. Dia tidak sempat melihatnya secara jelas dan detil, karena dia dalam kondisi shock saat itu, serta kekurangan cahaya. Namun tidak saat ini.

Para Auror harus diberikan salut, karena kemampuan mereka mengabadikan momen tersebut.

Jelas, ketiga orang dewasa itu melupakan bahwa Harry masih bersama mereka. Karena itu mereka juga nyaris jantungan melihat Harry telah mengambil amplop tersebut, dan sedang melihat-lihat foto-foto tersebut dengan seksama.

"Harry!" seru McGonagall. "Apa yang - letakkan semua foto itu sekarang juga!"

"Tentu, Profesor," jawab Harry. Dia melemparkan semua foto itu ke atas meja McGonagall, membuat mereka tersebar di atasnya. Jumlahnya kurang lebih selusin, semuanya diambil dari dua belas posisi berbeda. Madam Pomfrey menahan napasnya, sementara McGonagall tercekat pelan.

"Aku tak tahu orang macam apa yang bisa melakukan ini..." bisik McGonagall, menyentuh salah satu foto.

"Menusuk dua orang anak lurus-lurus di kedua titik dimana tubuh mereka sedang berhubungan? Dengan begitu akurat, detail, menggunakan sebuah tonggak kayu? Tentu saja banyak yang bisa melakukannya," jawab Kingsley suram.

"Apa maksudmu?" kata Madam Pomfrey ngeri. "Manusia... Manusia macam apa yang bisa melakukan ini?"

"Kamu akan terkejut mendapati banyaknya orang yang bisa melakukan ini," kata Kingsley pelan, mengambil salah satu foto dan menatapnya. Di sana, tubuh Michael dan Su, keduanya masih utuh, minus sebuah tonggak kayu berujung runcing yang menembus tubuh mereka berdua.

"Ini sekolah! Siapa yang... Siapa yang tega melakukan hal semacam ini kepada mereka?" bisik McGonagall, mendekap mulutnya.

Harry mengernyit kepada McGonagall. Dia meletakkan satu foto yang dari tadi dia pegang, dan bertanya pelan, "Profesor, apa yang terjadi pada Cornish? Bagaimana kondisinya saat dia ditemukan?"

McGonagall menoleh kepada Harry, kemudian kembali kepada Kingsley dan Madam Pomfrey. Melihat mereka berdua mengangguk kecil, dia menarik napas dalam-dalam, seolah menyiapkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya dia sangat tidak ingin melakukannya.

Dia mengulurkan tangannya ke dalam laci mejanya, menariknya, dan mengeluarkan dua lembar foto. Dengan perlahan dia letakkan kedua foto tersebut di atas meja, memperlihatkannya kepada Harry.

Dan Harry merasa mau muntah melihat kedua foto itu.

Dia diam selama beberapa saat, mengatur napasnya dengan sangat perlahan hingga dia yakin bahwa jika dia membuka mulutnya, dia tidak akan muntah.

Hal yang sangat sulit untuk dia lakukan, tapi pengalaman telah berhasil membuatnya kuat.

"Jadi, menurut Anda," kata Harry pelan, menunjuk ke tubuh Cornish di foto tersebut, "Apa yang menurut Anda... Bisa membuatnya menjadi seperti ini? Tengkurap... Dan... Tampak dilumuri... Muntahan naga?"

Kingsley menggeleng-geleng, mengambil foto tersebut dari Harry. Dia menjawab, "Bukan muntahan naga. Itu... Isi perutnya sendiri."

"Oh, ya. Ya, terima kasih. Menurut Anda, apa yang mampu membuat seperti itu? Karena menurutku..." Harry meringis, melihat foto itu lagi, "Sepertinya... Bagian perutnya dibalik, sehingga semua organ dalamnya, termasuk usus... Menjadi ada di luar?"

"Dirobek, dan diburaikan," kata Madam Pomfrey. Bergidik, dia melanjutkan, "Sia... Siapapun pelakunya, benar-benar... Sangat kejam. Aku tak bisa membayangkan... Ada orang, selain... Kau-Tahu-Siapa... Yang sanggup melakukan ini."

Harry menyipitkan matanya, melihat punggung Cornish, atau apa yang tersisa dari Cornish, di foto tersebut. Di sana, dalam huruf kapital besar, tertoreh sebuah huruf.

"'G'...?" bisik Harry.

L? G? Apa yang terjadi? Kenapa setiap korban... Disertai dengan satu huruf kapital?

Terlalu banyak yang kurang...

Informasi. Aku butuh informasi! Itu alasan aku datang ke sini! Aku harus mencarinya!

"Profesor," kata Harry, napasnya mulai tersendat karena tempo detak jantungnya bertambah dengan cepat, "Profesor, dimana Anda menemukan mayat Cornish? Apakah di koridor lantai tiga juga? Kenapa Anda menutup-nutupinya? Dan dimana dia sekarang?"

"Sudah cukup, Mr Potter!" seru McGonagall.

Dia mendadak berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan kekuatan dan kecepatan yang sulit dipercaya. Harry berjengit, mundur sedikit, kaget karena ledakan dari Profesor McGonagall yang sangat mendadak tersebut.

Tapi dia tidak mau mundur semudah itu.

"Profesor, dengar -"

"Aku tidak mau dengar, Mr Potter! Aku adalah Kepala Sekolah Hogwarts! Kamu hari ini sudah melakukan banyak pelanggaran! Dari mengumpulkan banyak anak tanpa persetujuan kepala asrama, mengorganisasi pencarian tanpa sepengetahuanku, menerobos masuk ke dalam sini, dan bersikap tidak sopan dan tidak menghargai kami! Kamu beruntung sudah mendapatkan apa yang seharusnya tidak boleh kamu ketahui! Sekarang, keluar dari sini!" teriak McGonagall.

"Tidak, PROFESOR! AKU SUDAH MUAK TIDAK DIBERITAHU AKAN HAL-HAL SEPERTI INI! BERITAHU AKU, APA SEBENARNYA YANG SEDANG TERJADI DI SINI?" balas Harry, sama kerasnya.

"POTTER! AKU PERINTAHKAN KAMU UNTUK KELUAR DARI SINI, SEKARANG JUGA!"

"Dengar, McGonagall," desis Harry, begitu sengitnya sampai-sampai dia nyaris menyangka itu adalah Parselmouth. "Dengar! Aku sudah menghadapi banyak hal, dan aku tidak mau lagi dianggap anak kecil! JANGAN ANGGAP KALIAN MEMBERIKAN HAL BAIK KEPADAKU DENGAN MENAHAN INFORMASI-INFORMASI! BERITAHU AKU!"

"Keluar, Potter-"

Tangan McGonagall mendadak sudah mengacungkan tongkatnya, namun Harry juga sama cepat. Mereka berdua saling mengacungkan tongkat.

Kingsley juga mengeluarkan tongkatnya, mengacungkannya kepada Harry.

Harry menatapnya. Harusnya dia tahu bahwa Kingsley pastilah akan memihak McGonagall. Tentu saja, semuanya pasti akan kembali kepada siapa yang memimpin di Orde. Dia menjilat bibirnya dengan sengit, dan menarik napas dalam-dalam, menyiapkan dirinya.

"Aku membunuh Voldemort," bisik Harry.

"Dan aku yakin kamu sanggup membunuh kami," kata Kingsley dengan suram. Dia menarik napas, lalu melanjutkan, "Itukah yang kamu inginkan? Harry, turunkan tongkatmu, dan keluarlah dengan tenang. Kami akan memberitahumu, kami janji, tapi tidak sekarang."

Suara Kingsley memang suram, namun dalam, berwibawa, dan menenangkan. Tidak seperti McGonagall yang memberi perintah dengan galak dan super tegas, Kingsley memerintahkan dengan baik. Harry menggigit teriakan yang sudah mau dia keluarkan untuk membalas Kingsley, dan memaksa akal sehatnya bekerja lagi.

Duel di kantor ini, di ruangan ini, tidaklah bagus untuk dilakukan. Dia tidak yakin dia bisa mengalahkan dua anggota senior Orde Phoenix, apalagi salah satunya adalah Menteri Sihir dan satunya lagi Kepala Sekolah Hogwarts. Dan kalaupun dia menang...

Tanggungannya jauh lebih besar.

Tenangkan kepalamu, Harry... Tenangkan...

Menghela napasnya, Harry berkata, "Baiklah... Aku pegang janji itu."

"Terima kasih, Harry," kata Kingsley, menurunkan tongkatnya perlahan. Mereka bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Kingsley berkata lagi, "Kami janji."

Harry menatapnya terus, sebelum mengangguk pelan. Dia melemparkan pandangan benci dan sengit terakhir kepada McGonagall, sebelum berbalik badan dan berjalan keluar dari kantor kepala sekolah.

.

Begitu pintu menutup di belakangnya, McGonagall jatuh terpuruk di kursinya, membenamkan wajahnya di tangannya. Kingsley menggeleng-geleng, menatap ke balik kursi McGonagall.

"Kami percaya padamu," kata Kingsley. "Tapi bahkan kepercayaan kami ada batasnya. Kamu berhutang penjelasan!"

"Aku tahu... Maafkan aku..."

"Maaf saja tidak cukup, Albus," kata Kingsley, maju dan berdiri di depan lukisan tersebut. Dia menatapnya dengan intens, sesuatu yang tidak dibalas oleh lukisan Dumbledore yang hanya duduk sedih di dalam piguranya. "Harry tidak bodoh. Murid-murid tidak bodoh. Jika kita menahan informasi lebih lama lagi di pihak kita, mereka akan menebak-nebak, dan hasilnya justru akan lebih mengerikan daripada sekarang ini!"

Lukisan Dumbledore menghela napas panjang, dan menggeleng-geleng. Dia menatap Kingsley dengan pandangan sedih, kemudian berkata, "Tapi... Ini demi Harry sendiri, Kingsley. Semua ini... Jika diketahui pelakunya... Harry akan..."

"Kamu mau mengatakan, bahwa semua ini lagi-lagi berhubungan dengan Harry? Sesuatu yang... Membahayakan nyawanya?" tanya Madam Pomfrey, maju dan berdiri sedikit di belakang Kingsley.

Dumbledore mengangguk, membuat Madam Pomfrey meringis kesal. Dia berkata, "Merlin, Albus! Bukannya kita sudah belajar bahwa menahan informasi dari Harry justru akan mengakibatkan bencana! Kenapa kamu malah menahannya, malah mengenai pembunuhan-pembunuhan... Yang mungkin akan mencapainya! Bagaimana jika si pembunuh mengincarnya?"

"A-Aku..." lukisan tersebut melakukan gerakan seperti menelan ludah, sebelum melanjutkan, "Aku... Sama sekali tak menyangka Harry akan kembali ke sini untuk mengulang tahun ketujuhnya. Aku... Aku kira dia akan langsung menjadi... Auror."

"Dan karena dia sudah ada di sini, kewajiban kita untuk memberitahunya, kalau-kalau akan ada pembunuh gila yang akan mengejarnya, Albus," kata Kingsley tak sabar.

Dumbledore mengalihkan tatapannya ke Kingsley. Dia diam sejenak, tampak berpikir keras.

Kingsley tampaknya menyadari ekspresi Dumbledore tersebut, karena dia berkata pelan, "Albus?"

"Harry tidak akan terluka," bisik Dumbledore. "Dia tidak akan apa-apa... Selama kita bisa menahan informasi... Mengenai siapa pelaku sesungguhnya semua ini. Dia tidak akan apa-apa."

"Albus, dengar! Gunakan akal sehatmu!" bentak Kingsley.

"Dia tidak akan apa-apa, selama tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya," ulang lukisan tersebut dengan nada yakin. Seperti sebuah rekaman yang diputar berulang-ulang.

Kingsley bingung sekali, namun McGonagall menyediakan jawaban dengan berkata pelan, "Percuma... Kingsley. Seminggu lalu juga aku terus menanyainya... Tapi jawabannya selalu sama. Seperti itu."

Menghela napasnya, McGonagall melanjutkan, "Lukisan tersebut bukanlah Dumbledore. Dia hanyalah sekedar imprint dari Dumbledore, mengandung semua memori dan pikirannya saat dia dilukis. Lukisan itu tidak sanggup memberikan alasan... Tidak akan sanggup berakal sehat.

"Kita hanya tahu, bahwa Dumbledore dulu mengetahui rahasia siapa pelaku semua ini, dan pengetahuan itu diwariskan ke lukisan ini. Namun Dumbledore tak ingin siapapun mengetahui pelakunya, agar keselamatan Harry terjaga..."

McGonagall menunduk, sementara Madam Pomfrey, bergidik, berkata ngeri, "Kalau begitu... Apa yang bisa kita lakukan?"

"Tidak tahu... Poppy. Percayalah, aku sendiri tidak tahu," kata McGonagall. Dia mendongak, menatap lukisan Dumbledore lagi, dan melanjutkan, "Kita hanya bisa percaya pada Dumbledore. Dulu dia berpendapat bahwa hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menjaga rahasia ini. Kita harus menjaganya juga."

"Percaya? Kemudian... Berarti kita akan membiarkan si pelaku tetap bebas?" bisik Kingsley.

"Apa boleh buat. Kita sudah pernah sekali tidak percaya pada Dumbledore, yaitu mengenai penilaian kita terhadap Severus. Terbukti kita salah, dan Dumbledore benar..." McGonagall memasang kemantapan dalam wajah dan dirinya. Dia berkata pelan, "Sebaiknya kita tidak meragukan Dumbledore lagi."

.

-XXXXX-

.

Hermione duduk diam lama sekali bersama Harry di sofa.

Mereka telah kembali ke ruang rekreasi mereka berdua sejak sejam lalu. Sejam lalu juga, Harry telah selesai menceritakan semuanya kepada Hermione. Mengenai Cornish, Michael, Su, posisi mereka masing-masing, bagaimana mereka bisa tewas, dan kondisi mereka saat ditemukan...

Semuanya telah dia ceritakan.

Namun terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, terlalu banyak informasi yang masih terputus dan mata rantai yang tidak tersambung. Pecahan-pecahan yang hilang belum mereka temukan, membuat semuanya masih tidak bergandengan satu sama lain.

Dan itu sangat amat membuat frustasi, karena mereka tak dapat melakukan apapun mengenai ini. Tak ada petunjuk yang bisa mereka telusuri.

"Bagaimana keadaan di asrama?" tanya Harry pelan. Suaranya serak, tak digunakan setelah lama sekali diam. Dia bahkan tak susah-susah menyembunyikan serak tersebut.

"Sangat buruk," jawab Hermione, sama seraknya. "Anak-anak mulai bergosip, dan isu-isu menyebar. Salah satunya... Mengenai kemungkinan-kemungkinan pelaku. Mereka berpendapat bahwa pastilah pelakunya anak Slytherin."

"Mereka... Anak-anak Gryffindor?"

"Semuanya, Harry," kata Hermione, menghela napas panjang-panjang. Dia menatap perapian yang sudah semakin lemah nyala apinya selama beberapa detik, sebelum berkata lagi, "Semua anak kini menunjuk dan menatap ke asrama Slytherin. Tinggal tunggu waktu saja... Sampai keributan pecah."

"Sial," geram Harry, berdiri dan berjalan mondar-mandir di belakang sofa. Hermione mengalihkan pandangannya dari perapian ke Harry, merasa khawatir dan cemas.

Perlu beberapa menit, tapi Harry akhirnya berhasil berhenti dan mengendalikan dirinya. Dia menarik napas dalam-dalam, dan berkata, "Oke. Kita tidak punya petunjuk, selain foto kondisi Michael, Su, dan Cornish masing-masing. Kita sudah mengetahui bahwa Cornish tewas dengan perutnya terburai di luar sepenuhnya, dan Michael serta Su... Ditusuk tepat di... Titik mereka masing-masing."

"Kita mungkin bisa mencari tahu kenapa... Mereka harus tewas seperti itu," bisik Hermione. "Kenapa... Ada orang yang begitu kejam, hingga menghunjamkan pasak menembus Michael dan Su di..." Hermione kehilangan kata-katanya, bergidik pelan.

Harry mengangkat bahunya dengan frustasi. Dia berkata, "Mana bisa kita tahu? Terlalu banyak hal yang bisa menjadi alasan, dan penyebab, Hermione. Bisa saja, pelaku hanya sembarang pilih cara? Bisa saja, si pelaku hanya ingin mengejek Michael dan Su, ingin mengabadikan momen penuh gairah mereka dalam bentuk terkejam..."

Hermione mengangguk pelan, sementara kata-kata Harry meresap di dalam kepalanya. Dia memikirkannya lagi, memikirkan kemungkinan...

Eh, tunggu.

"Momen penuh gairah mereka?" bisik Hermione.

Harry mendenarnya, dan melempar kedua tangannya ke atas dengan frustasi. Dia berkata, "Well, kamu tahu, bisa saja kan maksudnya gairah seksual, si pelaku bisa saja hanya sekedar cemburu, bisa saja-"

"Tunggu. Tunggu, Harry," kata Hermione, berdiri. Harry berhenti mengoceh, menatap Hermione dengan bingung.

"Apa?" tanyanya.

"Gairah. Harry, huruf yang tertulis di lemari tempat kita menemukan Michael dan Su itu..."

"Huruf 'L'. Kenapa dengan huruf itu?" tanya Harry, masih sangat bingung.

"Gairah, Harry. Gairah. Lust," kata Hermione, berjalan mendekat ke Harry, dan berhenti beberapa sentimeter di depannya, membuat Harry merasa tidak nyaman.

"Er-Hermione-"

"-dan kemudian... Huruf 'G' di Cornish... Mungkinkah..." kata Hermione ke wajah Harry. Matanya berkilat-kilat penuh pemahaman, yang tidak Harry pahami. Mengangkat alisnya dengan bingung, Harry bertanya,

"Ya, tapi aku tidak paham, Hermione. Mungkin apa?"

"Aku... Sebentar. Aku ingat ada di kedua bukuku, yang waktu itu..."

Hermione mundur, dan berjalan dengan cepat ke tangga. Harry, setelah diam selama sedetik, langsung berlari mengejarnya, bingung sekali. Hermione masih bergumam pelan, dan Harry memutuskan bertanya lagi.

"Hermione, buku apa? Apa yang kamu bicarakan?" tanyanya.

"Buku yang waktu itu kuperlihatkan padamu, Harry. Kamu bahkan meminjam salah satu di antaranya, ingat? Aku baru saja membaca keduanya lagi tiga hari lalu, aku masih ingat..."

"Canterbury Tales dan Divine Comedy? Kenapa memangnya dengan kedua buku tersebut?" tanya Harry lagi, frustasi dan emosi perlahan menguasainya karena Hermione tidak juga menjawabnya.

.

Mereka memasuki kamar Hermione. Hermione bergerak dengan cepat ke lemari bukunya, yang terletak tepat di sebelah tempat tidur. Dia ingat tiga hari lalu baru saja membaca kedua buku tersebut, dan meletakkannya kembali di lemari. Tepat di sebelah buku Arithmancy-nya.

Kenapa sekarang malah tidak ada?

Mengerjap, Hermione mengecek buku-bukunya sekali lagi. Harusnya dua buku itu ada di dalam sini, kan? Kenapa tidak ada?

"Hermione?" tanya Harry pelan dari belakangnya.

Dia tidak memedulikannya, dan mulai menggeser-geser buku-buku di lemari itu. Mungkin saja terselip, tercecer. Tapi kedua buku itu cukup tebal, bukan tipe buku yang dapat terselip di antara buku-buku lainnya.

Mengeluarkan tongkat sihirnya, dia berkonsentrasi penuh kepada kedua buku tersebut.

Accio buku!

...

Detik demi detik berlalu.

"Buku itu... Keduanya tidak ada?" tanya Harry, mengeluarkan tongkat sihirnya juga. Dia berjalan menuju jendela yang terbuka, melihat ke bawah. Tidak ada penyangga, tidak ada alas untuk berdiri. Tidak mungkin ada yang bisa masuk dan keluar dengan memanjat dinding ini.

"Ya..." jawab Hermione. Dia menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya.

Hal yang sama tidak berhasil dilakukan Harry. Dia mengumpat keras-keras, dan duduk di tempat tidur Hermione dengan berang. Kedua tangannya gemetar karena emosi.

"Tenang, Harry. Tenang," kata Hermione.

"Ada yang berhasil masuk ke sini, menerobos ke kedua kamar kita, dan mengambil barang-barang kita, Hermione!" kata Harry garang. "Beritahu aku caranya untuk bisa tenang!"

"Marah-marah tidak akan mengembalikan barang-barang tersebut," kata Hermione, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar. Jujur, dia juga merasa ngeri, takut, dan sangat khawatir. Seseorang berhasil memasuki tempat mereka berdua dengan mudahnya, dengan gampangnya, dan pergi tanpa menyisakan jejak.

Bagaimana mungkin?

"Oke, Harry," kata Hermione, duduk di atas tempat tidurnya juga. Dia menunggu sampai Harry cukup tenang untuk bisa mendengarnya, sebelum dia, dengan berani, menarik wajah Harry sehingga mereka berdua bertatapan penuh.

"Dengarkan aku, Harry! Dua buku tersebut..." dia menarik napas dalam-dalam. Seseorang harus mengetahui ini lebih dulu. Dia tak mungkin bisa menjaga semua ini seorang diri saja. "Di dua buku tersebut... Terdapat suatu hal, yang sama-sama dibahas di dalamnya dengan cukup intens. Sesuatu yang... Sepertinya, menurutku, bisa menjadi petunjuk mengenai ini semua. Mengenai Cornish, Michael, dan Su."

Harry menatapnya tajam, ekspresi bingung lenyap sepenuhnya dari wajahnya. Dia memperbaiki posisi duduknya, sehingga dia bisa berhadapan dengan Hermione, mendengarkan kata-katanya dengan jelas.

"Apa?" tanya Harry pelan.

Ini dia. "Baiklah, Harry... Yang sama-sama dibahas di Canterbury Tales dan Divine Comedy... dan berhubungan dengan... petunjuk huruf di mereka bertiga..."

Hermione membuka mulutnya, namun dia menutupnya lagi. Dia mencoba lagi, membukanya, namun dia menutupnya kembali. Dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Harry, yang sudah semakin tidak sabar, bertanya dengan lebih kasar, "Apa?"

Mengatupkan mulutnya, Hermione menarik napas dalam, sebelum berkata dengan pelan dan jelas.

"Harry, pernahkah kamu mendengar mengenai Seven Deadly Sins?"

.