Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
"We shouldn't doubt Dumbledore again"
.
"Tentu saja pernah," jawab Harry. "Aku membacanya di buku yang kamu pinjamkan itu."
"Bagus. Jadi, begini," kata Hermione. Dia menarik napas, lega karena dia tak perlu menjelaskan panjang lebar lagi kepada Harry. "Kamu tahu kan, kalau ada tujuh dosa. Gluttony-kerakusan, Greed-keserakahan, Sloth-malas, Lust-nafsu, Pride-kesombongan, Envy-iri, dan Wrath-amarah, semuanya tertulis di buku itu."
Harry mengangguk, mempersilakan Hermione untuk melanjutkan. Menanggapi itu, Hermione berkata, "Setiap dari dosa-dosa tersebut melambangkan hal-hal paling buruk dan merusak yang ada di dunia. Setiap dosa tersebut mewakili hal-hal terburuk yang sanggup dilakukan manusia. Dan juga-"
"-Aku masih bisa mengerti garis besarnya kok, Hermione," kata Harry, memotong penjelasan Hermione. "Aku masih ingat, sungguh. Hanya saja... Yang aku masih tidak mengerti, apa hubungannya tulisan dari literatur sastra dengan pembunuhan yang terjadi terhadap Michael, Su, dan Cornish?"
"Oh, Harry! Masa belum sadar, sih!" kata Hermione sebal. "Ingat tidak, di pintu lemari sapu tempat kita menemukan Michael dan Su, tertulis huruf 'L' besar dengan warna merah darah?"
"Ya, aku ingat. Itu mengingatkanku akan..." Harry mengangkat sebelah alisnya. Mengingatkannya akan apa?
Rasanya dia pernah melihatnya sebelumnya... Atau melihat sesuatu yang mirip dengan itu. Dimana?
"Ya, benar. Huruf 'L' dari 'Lust'! Harry, Michael dan Su dibunuh saat mereka dalam kondisi berhubungan seks! Saat mereka masing-masing memiliki Lust!" kata Hermione cepat. Dia mencengkeram tangan Harry, ekspresinya semakin liar, dan melanjutkan, "Kemudian Cornish! Cornish tewas dengan kondisi mengerikan, isi perutnya diburai keluar! Ukiran 'G' di punggungnya mengacu pada 'Gluttony'! Dia rakus, dia suka makan banyak, mungkin lebih banyak daripada Ron sekalipun. Makanya dia dibunuh!"
Lust... Gluttony...
Tunggu.
"Hermione, jika itu benar, berarti sudah ada dua pembunuhan... Yang berdasar dua dosa dari tujuh dosa paling mematikan?" tanya Harry.
Hermione mengangguk, menggigit bibirnya. Matanya kini tampak semakin cemas dan khawatir, sesuatu yang membuat Harry mendapatkan kesadaran bagaikan petir yang menyambarnya. Dua dari tujuh? Baru dua?
"Berarti masih akan ada lima pembunuhan lagi?" bisik Harry.
"Ya, itulah yang paling kukhawatirkan," jawab Hermione pelan.
Mereka menahan napas masing-masing, membiarkan pengetahuan akan kemungkinan terjadinya lima pembunuhan lagi meresap ke dalam kepala mereka.
"Beritahu Profesor McGonagall," bisik Harry.
Hermione menatapnya penuh-penuh. Setelah beberapa detik, dia mengangguk.
Harry tak menyia-nyiakan waktu sedikitpun, langsung mengambil langkah seribu. Hermione mengikuti di belakangnya.
Pintu kamar Hermione menutup di belakang mereka. Mereka tak mendengar angin yang berdesau masuk melalui jendela yang masih terbuka, tak sempat mereka tutup.
.
-XXXXX-
.
Desember tiba, bersamaan dengan jatuhnya butiran salju pertama ke atas permukaan tanah Hogwarts.
Tibanya Desember dan musim dingin biasanya dibarengi oleh dua hal: Pertama, perasaan tegang yang berdiri dari para murid-murid, terutama murid kelas atas, karena berarti ujian untuk semester pertama akan tiba. Ini benar-benar terjadi, karena McGonagall sendiri telah mengumumkan bahwa terlepas dari fakta tiga murid tewas, Hogwarts harus tetap berlanjut, dan karena itu ujian tetap diadakan. Sama seperti di tahun kedua Harry dan Hermione dulu, dimana ujian tetap direncanakan diadakan walaupun ada Basilisk yang berkeliaran tanpa diketahui.
Yang kedua, spesial untuk tahun ini. Tewasnya tiga murid, dan belum tertangkapnya pelaku yang melakukannya, membuat Hogwarts berada dalam kondisi internal yang buruk.
Fakta bahwa tak ada satupun dari tiga murid yang tewas berdarah-murni membuat semua mata langsung menunjuk ke Slytherin dalam bentuk kecurigaan yang tidak tanggung-tanggung. Gesekan-gesekan kembali terjadi, berupa mantra-mantra yang 'tak sengaja' diucapkan di koridor hingga ke pengepungan. Anak-anak Slytherin kini mengisolasi diri mereka lebih jauh lagi dari seluruh sisa murid Hogwarts. Beberapa anak tahu bahwa mereka jelas berusaha berlindung dengan cara melindungi satu sama lain, namun anak-anak yang lain, yang mana mencakup mayoritas penghuni kastil, menganggap mereka tampak seperti sedang berkomplot, merencanakan kejahatan lagi.
"Mereka harusnya bersyukur, masih diperbolehkan kembali ke sini setelah apa yang mereka lakukan di pertempuran Hogwarts!"
"Tidak semua dari mereka pergi kabur! Beberapa orang... Kembali. Kakakku kembali!"
"Yeah, tapi ayolah, lihat mereka! Sebagian besar dari mereka berlindung di bawah pantat Voldemort sementara kita bertempur!"
"Tapi... Masa sih mereka mau melakukan hal-hal jahat seperti ini? Bukankah... Ini justru akan merugikan mereka, seperti yang sedang terjadi sekarang?"
"Mungkin ada maksudnya pembunuhan-pembunuhan itu terjadi dengan selalu meninggalkan huruf! Pertama Cornish, dengan huruf 'G' kan? Kemudian 'L'."
Hermione menggeleng-geleng pelan. Gosip jelas menyebar dengan cepat, dan ajaib sekali bagaimana gosip-gosip tersebut bisa selalu hampir sama dengan fakta.
DIa menyuap buburnya sembari membaca buku tebal di depannya. Orangtuanya telah membeli satu eksemplar lagi buku Dante's Purgatory: Divine Comedy, dan telah mengirimkannya padanya minggu lalu. Dia menginginkan buku ini untuk bisa mempelajari maksud-maksud sepenuhnya dari Seven Deadly Sins, dan kalau mungkin, menemukan petunjuk untuk menghentikan kemungkinan terjadinya lima pembunuhan lagi.
Belum ada yang mengetahui mengenai arti huruf-huruf tersebut selain Dia, Harry, McGonagall dan para Auror serta staf. Untuk itu dia sangat bersyukur. Dia tak mau membayangkan apa yang terjadi jika pengetahuan ini bocor. Bisa-bisa si pelaku sanggup melarikan diri.
Kesempatan terbesar mereka untuk bisa menangkapnya hanyalah jika si pelaku benar-benar tidak mengetahui bahwa ada yang telah mengetahui arti dari huruf-huruf yang dia tulis, sehingga si pelaku akan berkeliaran, menurunkan penjagaannya.
Tapi jika memang si pelaku tak ingin dirinya diketahui, kenapa dia menuliskan huruf-huruf itu?
Hermione berhenti membaca.
Dia tak percaya dia tak pernah memikirkan ini sebelumnya.
"Kenapa si pembunuhnya menulis huruf-huruf itu, ya?" tanya seorang anak perempuan beberapa meter dari Hermione.
"Mungkin dia ingin menyampaikan pesan," jawab anak perempuan yang duduk di sebelahnya. "Atau mungkin..."
"Cuma lelucon?"
"Untuk mengejek kita?"
"Atau untuk peringatan?"
Ajaib. Murid-murid biasa ternyata sanggup berpikir sejauh itu dalam satu pembicaraan sarapan sebelum ujian.
"Ataukah..." seorang anak berkulit hitam mendongak dari buku Pertahanan Terhadap Ilmu Hitamnya, wajahnya penuh horor. Ekspresi wajahnya tersebut tak luput dari perhatian teman-temannya.
"Atau apa?" tanya temannya, si anak perempuan yang tadi bertanya pertama kali.
"Ataukah... Si pelaku berniat... Menggunakan sebuah sihir, dengan mengumpulkan tumbal-tumbal untuk membangkitkan kembali... Kalian tahu..."
Mereka semua tercekat dan menahan napas mereka. Begitu juga dengan Hermione.
Apakah benar-benar ada sihir yang bisa melakukan itu? Membunuh dengan sesuai berdasarkan tujuh dosa yang ditulis sejak zaman kuno, untuk membangkitkan yang sudah mati?
"Konyol! Tak ada penyihir yang bisa hidup lagi jika sudah mati," gumam Hermione pelan. Dia melihat kelompok anak-anak tersebut mulai berdiskusi seru mengenai apa jenis sihir yang bisa membangkitkan orang mati.
Merasa tak bisa berkonsentrasi lagi, di menutup buku Divine Comedy di depannya dan menjejalkannya ke dalam tasnya. Dia menghela napas, dan mengeluarkan buku Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.
Pelajaran ini kini telah ditingkatkan intensitasnya. Profesor Doge, guru mereka sekaligus kepala asrama Gryffindor, jelas ingin agar mereka semua siap menghadapi NEWT sekaligus siap jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang mengharuskan mereka mengangkat tongkat mereka, kalau-kalau si pelaku mengincar mereka.
Penjagaan di dalam kastil telah ditingkatkan sampai batas yang nyaris tak bisa dipercaya. Sekitar tiga lusin Auror berkeliaran di dalam kastil di malam hari, bertampang sangar dan siap untuk menangkap siapapun yang berkeliaran di luar jam malam. Seluruh murid diperintahkan untuk selalu berada di dalam asrama jika sudah jam delapan malam, membuat jam kunjungan perpustakaan dibatasi hingga hanya sampai jam tujuh - sesuatu yang membuat Hermione sangat kesal.
Situasinya mirip dengan ketika tahun ketiga dulu, ketika dicurigai Sirius ada di dalam kastil. Namun bedanya, jika dulu diketahui bahwa Sirius pastilah sudah meninggalkan kastil, kali ini tidak. Sistem keamanan yang dipasang membuat semuanya yakin bahwa tak ada satupun penghuni kastil yang telah meninggalkan wilayah Hogwarts sejak peristiwa lenyapnya Cornish. Yang berarti bahwa siapapun yang telah membunuh Cornish, kemungkinan besar masih ada di dalam kastil - prospek yang sangat mengerikan.
Bahkan setiap burung hantu kini diperiksa, dicek kalau-kalau si burung hantu adalah Animagus yang menyamar. Kementrian dan Orde belajar dari apa yang dilakukan Sirius, yang berhasil menerobos masuk dalam wujud Animagus.
Karena dilarang keluar, seluruh tim Quidditch juga tak bisa berlatih. Turnamen Quidditch pun dibatalkan.
Bisa dikatakan, nyaris tak ada lagi hal yang menyenangkan di Hogwarts untuk sebagian besar murid. Namun apa boleh buat. Tidak boleh ada pembunuhan lagi, karena itu akan sangat berbahaya bagi Hogwarts. Ancaman untuk penutupan memang belum ada, namun para anggota Dewan sekolah sudah merasa gelisah juga.
Untunglah Daily Prophet sama sekali belum menyentuh mengenai berita ini. Kalau saja sudah disentuh, bisa gawat.
Suara bel jam kastil membuat Hermione mendongak kaget. Dia tidak sadar dia sudah duduk lama sekali, membiarkan pikirannya berkeliaran kesana kemari. Aula Besar kini sudah nyaris kosong, hanya ada beberapa anak yang makan dengan terburu-buru karena terlambat. Dia juga tidak sadar bahwa buku Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di hadapannya sama sekali belum berganti halaman selama berpuluh-puluh menit. Panik, dia memasukkan bukunya ke dalam tasnya dan berlari cepat menuju ke ruang kelas untuk ujian. Dia tak mau terlambat di hari terakhir ujian.
.
Untung bagi Hermione, dia sampai di kelas tepat waktu. Profesor Doge sudah mulai membagikan kertas ujian ketika dia masuk. Setelah permintaan maaf yang terburu-buru, dia duduk di kursinya yang biasa di sebelah Harry.
"Ada apa? Kenapa kamu lama sekali?" bisik Harry.
"Aku..." Hermione mengatur napasnya yang masih memburu, dan menjawab, "Aku... Tidak sadar waktu. Terlalu banyak... Berpikir..."
Harry menatapnya selama beberapa saat. Dia mengerling sedikit, dan melihat Profesor Doge sekarang sedang memarahi dua anak Hufflepuff yang terlambat masuk - sepertinya itu Hannah dan Justin.
Dia menoleh kembali ke Hermione, dan berkata, "Ini hari terakhir ujian. Bagaimana jika kita mengunjungi Hagrid? Sudah lama sekali sejak kita terakhir mengunjunginya kan?"
Hermione menatap Harry, alisnya terangkat sedikit. "Bukankah... Kita tidak boleh berkeliaran begitu saja di halaman kastil tanpa pendamping?"
"Itu kalau malam hari, kan... Ini siang hari. Lagipula... Kupikir..." Harry merendahkan suaranya, berbisik di telinga Hermione, "Mungkin saja... Hagrid mengetahui sesuatu."
Hermione mengernyit kecil. Dia tak pernah memikirkan kemungkinan bahwa Hagrid mungkin mengetahui sesuatu mengenai ini. Dia menatap wajah Harry yang hanya beberapa sentimeter di depannya, menatap jauh ke dalam mata hijau tersebut.
"Kamu terlalu memikirkan ini. Ini bukan masalahmu, Harry," bisik Hermione.
"Ini juga bukan masalahmu," bisik Harry ke wajah Hermione. "Tapi aku lihat kamu juga sangat ngotot mengenai ini. Aku yakin ini bukan mengenai status darah...
"Kamu mengetahui sesuatu, dan menyembunyikan sesuatu, Hermione. Aku lihat itu di matamu dan sikapmu. Aku sadar sejak lama, sejak di perpustakaan malam itu, dan aku tak pernah menekan jawabannya darimu lebih lanjut. Tapi sekarang, beritahu aku," bisik Harry.
Hermione membelalak. Dia sama sekali tak menduga Harry sangat memperhatikannya seperti itu. Dia menahan napasnya, mempertimbangkan apakah sebaiknya dia memberitahu Harry atau tidak. Dia menggigit bibirnya, mencoba memutuskan...
"Mr Potter! Miss Granger! Ujian akan segera dimulai, dan jika kalian tak berhenti berciuman, aku terpaksa memisahkan tempat duduk kalian!"
Suara Profesor Doge menyambar mereka berdua, membuat mereka berjengit. Mereka memang duduk di paling kanan kelas, dengan sisi kanan mereka adalah dinding. Memang kalau dilihat dari sisi kiri mereka, mereka tadi tampak sedang berciuman - wajah mereka dekat sekali. Anak-anak lain sekarang memandangi mereka dengan ingin tahu.
Hermione baru mau membantah, mau mengatakan bahwa mereka tidak berciuman, namun Harry hanya berkata cepat, "Ya, sir!"
"Bagus. Ujian dimulai dalam tiga... Dua... Satu..." Profesor Doge mengeluarkan arloji dari dalam sakunya, dan menekannya. "Sekarang!"
Hermione mengerling ke Harry, yang masih menatapnya, tidak memedulikan soal ujian di depannya. Menggigit bibirnya lagi, Hermione mengangguk.
"Baiklah," bisiknya.
.
-XXXXX-
.
Berakhirnya ujian biasanya berarti saat-saat santai telah tiba. Salju kini membentang di sepanjang wilayah Hogwarts, dari atap menara tertinggi kastil hingga ke pegunungan biru di kejauhan. Di saat-saat seperti ini, biasanya murid-murid melepas penat mereka dengan turun ke halaman dan bermain lempar bola salju hingga matahari terbenam. Membangun patung salju, bermain Skating di atas bagian danau yang beku, kadang ditemani oleh tentakel si cumi-cumi raksasa. Namun hari ini tidak ada satu anakpun di halaman. Mereka semua memilih kembali ke asrama masing-masing, berusaha melindungi diri dari siapapun-atau apapun-yang menjadi pelaku pembunuhan tersebut, yang kemungkinan besar masih berkeliaran.
Memang ada kemungkinan bahwa pelakunya adalah murid, namun mereka juga tahu bahwa si pelaku sangat kecil kemungkinannya untuk nekat membunuh di dalam asrama yang penuh murid.
Karena itu Harry dan Hermione mendapati mereka berjalan berdua saja sepanjang jalanan yang menuju ke rumah Hagrid. Hermione menjelaskan kepada Harry segalanya mengenai apa yang dia lihat saat malam hari di perpustakaan, berminggu-minggu lalu. Dia menjelaskan bagaimana genangan-genangan air tersebut beriak dengan tidak normal, dan menghilang begitu saja ketika Harry datang.
Seolah-olah itu semua hanya mimpi, hanya khayalan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku mengenai ini sejak awal?" tanya Harry.
"Karena... Aku sendiri tidak yakin apakah yang kulihat itu benar-benar riil. Aku pikir itu hanyalah khayalanku, dan aku tak mau membebanimu dengan masalah-masalah aneh yang hanya terjadi padaku," jawab Hermione pelan.
Harry menatapnya sementara mereka berjalan. Dia menggeleng, dan berkata, "Jadi itu alasannya kamu terus menerus mencari tahu sebanyak mungkin mengenai kasus ini."
"Ya, benar," jawab Hermione, mengangguk. Mereka berjalan dalam diam sepanjang jembatan kayu, angin musim dingin bertiup dari kanan mereka. Harry mengeratkan syalnya, dan Hermione mengerling padanya sedikit.
"Maafkan aku," kata Hermione, memecahkan keheningan di antara mereka.
Harry menoleh padanya. Dia menghela napas, berkata, "Kamu tak perlu menyembunyikan hal-hal seperti itu dariku, Hermione."
"Kupikir itu hanya hal aneh yang terjadi pada diriku... Karena kelelahan belajar?" kata Hermione, berusaha terdengar bercanda.
"Tidak. Jika yang kamu katakan benar, kamu mungkin menjadi incaran pertama si pelaku... Mungkin hari itu juga. Aku tak mau membayangkan apa yang akan terjadi jika aku tidak datang ke perpustakaan saat itu," kata Harry.
Hermione menatapnya, tersenyum kecil. Dia menyelipkan tangannya ke tangan Harry, dan menggenggamnya. Harry menoleh kepadanya, tampak agak bingung harus berkata apa. Dia mengangguk pelan.
Kini menuruni jalanan berbatu, Hermione bertanya, "Kalau kamu? Apa yang menjadi alasanmu mencari tahu mengenai ini terus-menerus?"
Harry menoleh kepadanya, menatapnya sejenak. Dia menjawab, "Ada yang aneh... Perasaan aneh akhir-akhir ini yang menimpaku."
Hermione mengangkat alisnya sedikit, dan bertanya, "Aneh... Bagaimana?"
"Entahlah. Itu..." Harry mengacak rambutnya karena frustasi. Dia mengernyit, berpikir keras selama beberapa saat, sebelum menjawab, "Itu... Sangat aneh. Kamu tahu... Perasaan seperti... Pernah melihat sebelumnya? Perasaan bahwa semuanya seolah terulang, sesuatu yang pernah kita lihat terulang lagi?"
"Deja Vu?" tanya Hermione.
"Benar! Itu dia! Dan maksudku bukanlah mengenai masalah-masalah yang datang setiap tahun, bukan," kata Harry buru-buru. Dia menggigit bibirnya sedikit, mencoba mencari kata-kata yang pas.
Hermione menunggu dengan sabar di sebelahnya, walaupun demikian rasa penasaran menguasainya dengan cukup besar juga. Akhirnya, Harry berkata pelan, "Rasanya... Lebih... Spesifik!"
"Aku tidak mengerti," gumam Hermione.
"Begini. Saat aku melihat huruf 'L' di lemari sapu tempat kita menemukan Michael dan Su, aku berhenti sesaat, 'kan?" tanya Harry.
Hermione mengangguk. Harry mengangguk juga, dan melanjutkan, "Aku merasa aku pernah melihat huruf itu sebelumnya. Entah dimana, entah siapa yang menulis. Tapi aku merasa pernah melihatnya - "
" - aku juga merasa begitu kok! Jelas kita pernah, kita dulu melihat tulisan yang ditulis dengan darah yang dimantrai juga kan! Tahun kedua, Kamar Rahasia, ingat?" kata Hermione.
"Ya, aku tahu! Pertama-tama juga aku merasa sepertinya mirip dengan itu. Tapi... Rasanya ini berbeda," kata Harry. Dia menatap Hermione, tahu apa yang akan dikatakannya ini mungkin terdengar agak gila. Dia menarik napas, berkata, "Aku merasa aku pernah melihat tulisan yang persis sama dengan itu di suatu tempat. Aku merasa aku sangat mengenali gaya tulisan itu, huruf itu. Begitu juga dengan huruf 'G' di punggung Cornish, dan juga apa yang terjadi padanya! Rasanya..."
Harry menelan ludah. "Rasanya aku pernah menyaksikan sesuatu, atau melihat sesuatu, yang mirip dengan hal tersebut. Entah dimana..."
Hermione menatap Harry dengan ngeri. Dia menghentikan langkah mereka berdua, dan berkata cepat, "Dimana? Dimana, Harry?"
"Itulah dia, aku tak ingat," kata Harry, memegang kepalanya. Dia merasa pusing sedikit, mungkin karena memaksa dirinya mengingat sesuatu yang nyaris terlupakan seperti itu. "Rasanya... Mirip dengan saat Nicholas Flamel. Aku pernah membacanya di kartu, namun lupa saat namanya sangat butuh untuk diingat!"
Napas Harry menjadi agak memburu karena tegang dan stres. Hermione sendiri sebenarnya merasa sangat penasaran akan petunjuk tambahan, dia ingin tahu secepat mungkin dimana Harry pernah melihat huruf-huruf tersebut, kalau bukan di kamar rahasia.
Tapi Hermione mengeratkan genggamannya di tangan Harry, dan berkata, "Tenang, Harry. Tenang. Kita bisa mencoba mengingat kembali soal itu nanti, oke?"
"Tapi aku yakin aku sudah hampir ingat, hanya saja... Tak tahu!" kata Harry.
"Tenang!" kata Hermione, lebih keras. "Dengar, kita simpan itu sampai nanti, oke? Kita mau ke rumah Hagrid, kamu yang mengajakku, ingat?"
Harry menatap Hermione, dan berusaha menenangkan napasnya yang memburu. Dia menarik napas dalam-dalam setelah beberapa saat, dan menahannya.
Dia merasa malu karena menunjukkan stres yang telah dialaminya selama berhari-hari belakangan, seluruhnya, kepada Hermione. Menggeleng pelan, Harry berkata, "Maaf."
"Tak apa-apa," kata Hermione, tersenyum. "Ayo, kita... Lanjut saja ke rumahnya Hagrid."
Harry menghela napas, mengangguk. Berdua, mereka kembali menuruni jalan berbatu yang tertutup salju tipis menuju rumah Hagrid.
.
Rumah Hagrid, pondok besar berbentuk melingkar dengan kebun labu di halaman belakangnya, memang hancur dan terbakar saat pertempuran Hogwarts. Saat rekonstruksi ulang dan perbaikan besar-besaran antra bulan Juni sampai Juli kemarin, untunglah orang-orang kementrian dan para pembangun ingat untuk memperbaiki rumah tersebut juga. Rumah tersebut dibangun kembali atas petunjuk-petunjuk langsung dari Hagrid, menjadikannya nyaris sama persis dengan sebelumnya.
Saat mereka mendekat, yang pertama kali mereka sadari adalah seorang raksasa besar yang sedang tidur nyenyak. Suara dengkurnya luar biasa, sampai menggetarkan tanah. Dia berbaring miring tepat di sebelah rumah Hagrid, punggungnya menghadap ke Harry dan Hermione.
"Grawp masih di sini?" tanya Hermione.
"Ya, entahlah... Mungkin Hagrid tak ingin melepaskan adiknya untuk pulang begitu saja," kata Harry, tersenyum melihat Grawp. Dia sendiri harus mengakuinya, bahwa Grawp memegang peranan penting dalam pertempuran Hogwarts. Jika tidak ada Grawp, mereka mungkin tak akan sanggup menghadapi dua raksasa yang dibawa oleh pasukan Voldemort.
"Oi!"
Harry dan Hermione menoleh ke arah sumber suara tersebut. Begitu mereka bertatapan mata dengan Hagrid, cengiran identik muncul di wajah mereka berdua.
"Kemana saja kalian berdua? Kupikir kalian lupa dimana aku tinggal!" seru Hagrid, berewoknya yang luar biasa lebat menyibak, memperlihatkan cengiran juga. Dia mengenakan mantel bepergiannya yang besar dan tampak berat, busur panah di tangan kanannya dan bangkai sesuatu yang tampak seperti rusa raksasa di bahunya.
"Maafkan kami, Hagrid, kami sangat sibuk! Ujian dan banyak masalah!" kata Harry, menghampiri Hagrid lebih dulu.
Hagrid terkekeh. Dia berkata, "Tentu saja. Ujian, yah? Wah, ayo masuk! Aku baru mau memasak hidangan untuk menyambut natal!"
Hermione meringis kecil, tapi dia ikut nyengir juga. Hagrid membuka pintu rumahnya, lalu mereka semua masuk bersama-sama.
Bagian dalam rumah Hagrid jauh lebih sepi dan lengang dibandingkan yang dulu diingat oleh mereka berdua. Mungkin karena isinya yang dulu, beragam barang-barang yang dikumpulkan dari hutan, juga ikut terbakar dan hancur saat pertempuran, dan Hagrid belum sempat mengumpulkan yang baru. Tempat tidur tunggal ada di satu sisi, ukurannya cukup besar untuk Harry dan Hermione sekaligus, namun hanya cukup untuk Hagrid seorang diri di dalam pondok ini. Kemudian di satu sisi, terdapat perapian yang menyala, memberi hawa hangat.
"Teh?" tanya Hagrid.
"Ya, terima kasih," kata Hermione. Hagrid tersenyum, menuangkan teh tersebut ke dalam dua cangkir yang masing-masing seukuran mangkok besar.
"Tak masalah, Hermione. Ini..." kata Hagrid, mengulurkan cangkir tersebut kepada Hermione, dan satu lagi ke Harry.
Mereka bertiga meminum teh dalam diam, menikmati kehangatan masing-masing. Hagird yang pertama kali memecahkan kediaman lagi. Dia menurunkan cangkirnya, dan berkata, "Jadi! Bagaimana kabar kalian masing-masing? Sudah lama sekali kan sejak kita bertemu, dan lebih lama lagi sejak kita mengobrol!"
Harry tertawa, dan, berdua dengan Hermione, mereka mulai bercerita. Mereka menceritakan nyaris seluruhnya, dari hal-hal kecil seperti jumlah PR yang bertambah banyak, hingga ke pelajaran dan ujian-ujian yang sulit. Dari hal-hal sepele, sampai ke hal-hal yang menarik seperti kabar mereka dengan Ginny dan Ron. Mereka menertawakan Hermione saat dia bercerita mengenai Ron, dan bagaimana dia dan Ron selama ini hanya berhubungan jarak jauh. Mengenai Harry dan Ginny... Sampai akhirnya mereka mencapainya.
Mengenai pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di Hogwarts, mengenai apa-apa saja yang telah mereka temukan: Seven Deadly Sins, kemungkinan akan adanya lima pembunuhan lagi, dan buku-buku yang telah Hermione baca.
"Tapi itu tetap sangat aneh," kata Hermione. "Kenapa si pelaku meninggalkan petunjuk-petunjuk yang menyatakan bahwa dia melakukan pembunuhan berdasarkan Seven Deadly Sins? Kan dengan begitu dia jadi tidak bisa bergerak leluasa lagi, dan kecurigaan makin lama akan memusat. Kalau dia memang mau... Melakukan lima pembunuhan lagi, harusnya dia tak meninggalkan petunjuk!"
"Mungkin dia memang tidak berpikir dengan akal sehat, Hermione," kata Hagrid, akhirnya. Pertama kalinya dia bicara, setelah Harry dan Hermione menceritakan semuanya mengenai pembunuhan-pembunuhan itu. "Aku juga sudah mendengar mengenai ini dari McGonagall. Memang, rasanya jadi agak aneh - tapi, hei! Yang kita hadapi ini adalah orang yang membunuh tiga orang berturut-turut dengan cara yang sangat mengerikan. Aku tidak yakin di otaknya ada cukup akal sehat dan kewarasan untuk mempertimbangkan semua akibat-akibat dari perbuatannya."
"Tidak mungkin dia gila, kan?" kata Harry. Dia menoleh ke Hermione, dan berkata, "Kalau dia berhasil menemukan cara untuk tak terpengaruh akan keamanan-keamanan yang dipasang oleh Profesor McGonagall sendiri, berhasil menerobos masuk ke asrama Gryffindor dan menarik Cornish keluar, kupikir dia harusnya cukup cerdas dan waras."
"Aye, itu sebenarnya yang paling mengganggu," kata Hagrid, menggeleng-geleng. "Aku juga tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang sanggup membuka kunci yang dipasang oleh kepala sekolah Hogwarts sendiri. Padahal kalau yang kuketahui benar, harusnya tak ada yang bisa mematahkan perintah langsung dari kepala sekolah Hogwarts -"
"-kecuali Ketua Murid, ya, kami," kata Hermione. Dia menggeleng pelan, menatap Harry dan berkata, "Meskipun... Kalau boleh jujur, aku tak pernah mencobanya secara langsung. Aku tak tahu kebenaran sepenuhnya dari hal ini."
"Aku pernah," kata Harry. "Aku menggunakannya untuk masuk ke kantor McGonagall, beberapa jam setelah jenazah Michael dan Su ditemukan. Aku memerintahkan si gargoyle minggir, dan berhasil. Aku ada di kantornya sepanjang malam."
"Nah, kalau begitu, tinggal mencari siapa lagi 'kan yang memiliki keistimewaan akses seperti itu!" kata Hagrid.
"Tapi masalahnya tidak semudah itu," kata Hermione, menggeleng-geleng. "Akses yang kami dapatkan sesungguhnya seluruhnya diberikan oleh Profesor McGonagall sendiri, saat yang sama beliau memberikan kami jabatan Ketua Murid. Tak ada yang bisa melakukan itu lagi, selain kami, kecuali Profesor McGonagall-"
Hermione menahan napas.
Kecuali Profesor McGonagall -
"Kecuali McGonagall pernah memberikan akses seperti yang kalian miliki kepada orang lain..." bisik Hagrid.
"Ya! Itu benar!" kata Hermione, nada suaranya meninggi. Dia menoleh ke Harry, berkata cepat, "Harry pernah memberikan akses masuk ke dalam ruang rekreasi kami kepada Ginny! Itu bukti bahwa Akses memang bisa ditransfer, dapat dibagi-bagikan kepada orang lain!"
Harry menatapnya bingung, sebelum pemahaman merasuki dirinya. Dia menatap Hermione, dan bertanya ngeri, "A-apakah maksudmu... Ginny mungkin memberikan Akses tersebut... Kepada orang lain?"
"Tidak! Tidak, tidak, tidak, tidak! Akses hanya bisa diberikan dari si pemberi original. Dalam hal ini, akses untuk bisa melanggar keamanan dari Hogwarts secara keseluruhan, harus diberikan oleh kepala sekolah Hogwarts langsung. Harus dari Profesor McGonagall!" kata Hermione, matanya berkilat-kilat penuh semangat.
Harry mengernyit memandangnya. Tetap ada lubang besar di sini... Dia menarik napas, dan berkata, "Tapi Hermione, kalau itu benar, harusnya Profesor McGonagall tahu kepada siapa saja dia memberi akses tersebut, kan? Dia bisa dengan cepat menangkap pelakunya."
Mereka saling tatap selama beberapa saat. Hagrid diam, mengernyit kecil kepada mereka berdua, jenggot berewoknya bergerak-gerak pelan. Akhirnya, Hermione berkata pelan, "Oke... Kalau begitu, andaikan Profesor McGonagall tidak memberi Akses itu kepada siapapun. Siapa yang bisa memberi Akses lagi selain dia?"
"Ada dua kemungkinan kalau begitu," kata Harry. "Mungkin... Dia tidak sadar bahwa dia telah memberikan Akses kepada orang lain -"
"-seperti kamu yang memberikan Akses kepada Ginny, tapi kamu tidak menyadarinya."
"Ya, benar! Atau satu lagi..." Harry mengernyit. "Ada orang yang juga memiliki Akses selain dia, dan memberikannya kepada orang lain. Mungkin orang lain ini sudah memiliki Akses sebelum Profesor McGonagall, dan dia memberikannya kepada orang lain."
"Sudah kubilang tak mungkin, Harry!" kata Hermione agak tak sabar. "Tak ada yang dapat memiliki Akses kecuali Kepala Sekolah Hogwarts! Tak mungkin kan kepala sekolah Hogwarts yang terdahulu membagi-bagikan Akses tersebut kepada orang-orang dengan seenaknya! Akses yang diberikan kepada ketua-ketua murid terdahulu juga telah lenyap, bersamaan dengan lulusnya mereka dari Hogwarts!"
Harry diam, memikirkan semua ini. Ya, benar... Tak mungkin kepala sekolah Hogwarts mau seenaknya saja membagi-bagikan hal-hal semacam itu. Benar...
Kecuali...
"Tapi dulunya kupikir Dumbledore cukup sinting. Mungkin saja dia membagi-bagikannya?" tanya Harry pelan.
Hermione memutar bola matanya, namun dia berhenti di tengah jalan. Karena matanya menangkap Hagrid, yang ekspresinya berubah.
"Apa?" tanya Hermione, menoleh ke Hagrid. "Ada apa, Hagrid?"
"Huh? Apa?" kata Hagrid. Dia menoleh ke Hermione, sehingga Hemione dapat melihat ekspresinya seluruhnya. Dan dia melihatnya lagi.
"Kamu tahu sesuatu? Sesuatu mengenai Akses ini? Mengenai bagaimana penyalurannya, mengenai transfernya?" tanya Hermione cepat.
Hagrid bergerak-gerak gelisah di kursinya, menunduk dan berkata, "Uh..."
"Hagrid, kamu tahu? Apakah pernah ada Kepala Sekolah Hogwarts yang mentransfer Akses kepada seseorang yang tidak semestinya?" tanya Harry.
"Uh... Tidak! Jelas tidak!" kata Hagrid cepat-cepat.
"Hagrid," kata Harry pelan, berusaha menjaga agar suaranya tak bergetar. Dia menatap Hagrid dalam-dalam, dan melihat kegelisahan di dalam sana. "Hagrid, apakah Dumbledore pernah memberikan Akses kepada seseorang, atau sesuatu, yang tidak semestinya?"
Dumbledore! Tentu saja! batin Hermione.
Hagrid berdiri dengan cepat, dan berdeham keras-keras. Dia berkata dengan suara kelewat bersemangat, "Wah, sepertinya matahari sudah mau terbenam, Harry, Hermione! Aku sangat senang kalian di sini, tapi sayangnya kalian tidak terkecuali dari peraturan baru mengenai larangan di luar kastil saat malam hari! Sebaiknya kalian berdua kembali ke kastil!"
"Hagrid!" seru Harry. "Hagrid, beritahu kami!"
"Selamat malam, kalian berdua!" kata Hagrid, tersenyum lebar. Senyum yang tak mencapai matanya yang penuh kekhawatiran. Dia meraih bahu Harry dan Hermione, dan mendorong mereka berdua keluar dari pondoknya. Mereka berusaha melawan, tapi tak berguna - tenaga Hagrid tidak tanggung-tanggung. "Dan salam untuk Ginny dan Ron dariku! Juga untuk Neville! Dan Luna! Sayang sekali anak itu tidak kembali ke sini untuk tahun ketujuhnya!" seru Hagrid keras-keras, mengeluarkan mereka.
Hermione nyaris terjatuh di pintu. Untung baginya, dia sempat menyeimbangkan diri sehingga dapat mendarat di kedua kakinya. Harry berbalik badan dengan cepat kepada Hagrid, tepat sebelum Hagrid menutup pintu pondoknya.
"Hagrid, TIGA ORANG SUDAH TEWAS!" seru Harry keras.
Hagrid menghentikan gerakannya menutup pintu. Dia membukanya lagi sedikit, menatap Harry dengan ekspresi tak terbaca.
Mereka hanya saling tatap. Harry, dengan napasnya yang agak memburu, dan Hagrid yang diam. Hermione memandangi mereka berdua dengan khawatir.
"Dengarkan aku, Harry," kata Hagrid pelan. "Jauhi masalah ini. Jauhi. Kamu sudah tahun ketujuh di sini, sebentar lagi akan lulus. Biarkan masalah ini diurus oleh yang berwenang!"
"Apa?" kata Harry tidak percaya. "Diurus yang - jauhi - Hagrid! Yang benar saja!"
"Kumohon, Harry. Percayalah," kata Hagrid. Ekspresinya berubah menjadi memohon, sesuatu yang sangat jarang Harry lihat. "Percayalah... Ini demi kebaikanmu. Berhenti mencari-cari... Berhentilah."
Setelah selesai berkata seperti itu, Hagrid menutup pintu pondoknya keras-keras. Salju berjatuhan dari atap pondoknya.
.
Harry menatap pintu pondok tersebut dengan tidak percaya. Menit demi menit berlalu, dengan mereka berdua masih berdiri di sana sementara cahaya matahari semakin lama semakin tenggelam di cakrawala.
Hermione berjalan menghampiri Harry, dan menggenggam tangannya lagi. Dia menariknya sedikit, berkata, "Ayo... Kita kembali. Jam malam akan tiba sebentar lagi."
Harry mengangguk pelan, dan berdua, mereka menjauhi pondok Hagrid, kembali ke kastil.
Sementara itu, Hagrid mengintip dari jendela pondoknya, memandang mereka berdua dengan cemas dan khawatir.
.
