Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
.
"Jadi, kesimpulannya adalah si pelaku belum juga tertangkap?"
"Ya, benar," kata Hermione. Dia menghela napas pelan, dan berkata, "Aku tak mengerti. Saat pengamanan diperketat sampai sekuat kemarin, dia benar-benar langsung tidak berbuat apa-apa lagi. Rasanya... Entahlah..."
Dia menggigit bibir bawahnya, mengernyit ke arah perapian. Menggeleng, dia berkata, "Aku tahu ini salah, tapi tadinya aku berpikir si pelaku bukanlah... Bukan..."
"Orang yang akan menyerah begitu saja hanya gara-gara penjagaan diperketat, kan. Kamu berharap dia akan berusaha menerobos penjagaan, sehingga bisa diketahui siapa pelakunya itu."
"Ya, ya, benar sekali, Luna," kata Hermione. "Tadinya aku mengira si pelaku akan melakukan hal itu. Tapi ternyata tidak."
"Mungkin saja, dia sedang menunggu kesempatan," kata Harry. "Menunggu para Auror dan semua orang lainnya lengah."
"Atau mungkin menunggu saat yang tepat, Harry," kata Luna, mengalihkan matanya yang perak bundar kepada Harry.
Harry diam sejenak, sebelum akhirnya mengangkat bahunya. Dia berkata, "Itu juga mungkin saja."
"Yang aku tidak tahu, sebenarnya apa alasannya ini semua terjadi," kata Hermione, menggeleng-geleng. "Semuanya sudah selesai, kan? Pelahap Maut sudah nyaris tak bersisa, seluruh sisa-sisa dari Voldemort sudah hampir lenyap seluruhnya. Kenapa malah sekarang?"
"Bukan. Pertanyaan yang lebih penting, menurutku, tetap siapa pelakunya," kata Luna. "Coba pikirkan ini, Harry, Hermione. Pernahkah kalian benar-benar mencoba memasukkan semua orang ke dalam daftar tersangka?"
"Tentu saja pernah," jawab Hermione. "Namun semuanya juga tidak mungkin. Tidak ada orang lain yang memiliki Akses selain Profesor McGonagall, aku, dan Harry! Well, setidaknya tidak ada orang yang kutahu."
"Kalau begitu, aku heran kamu dan Harry belum saling tuduh satu sama lain," ujar Luna lancar.
Harry menoleh padanya dengan tajam. Apa yang - apa maksud -
"Apa maksudmu?" tanya Harry. "Kenapa aku harus menuduh Hermione sebagai pelakunya?"
"Well, begini lho," kata Luna, melambaikan tangannya yang bersarung tangan berbulu. "Kita mencoba mencari orang yang memiliki Akses, dapat berjalan-jalan di malam hari dengan bebas, dan kemungkinan besar memiliki pengetahuan tentang kastil sangat bagus, jika dia tak pernah ketahuan dan tak pernah ditemukan. Nah, di Hogwarts, hanya ada sedikit orang-orang yang seperti itu. Namun tetap ada. Misalnya, ya, kalian berdua."
Bagian dalam tubuh Hermione terasa membeku. Dia sama sekali, benar-benar tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti itu. Dia mengerjap, mundur sedikit di kursinya, sementara Luna tetap menatap mereka berdua dengan mata peraknya yang terasa menusuk. Harry juga menegakkan diri, merasa dirinya terbanting keras sekali akan pengetahuan ini. Tak pernah, sekalipun tak pernah, dia memikirkan adanya kemungkinan tersebut.
Dan perlahan, hal yang dikatakan Luna tersebut membuat bulu kuduknya berdiri.
"Itu tak mungkin," ujar Harry pelan.
"Kenapa tak mungkin?" tanya Luna, mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Harry.
"Karena-karena-" Harry mengernyit, mencoba memfokuskan kembali pikirannya kepada topik yang ada di depannya ini. Kepada masalah ini. "Karena - kalau salah satu dari kami yang melakukannya, kami pasti akan ingat. Dan kami jelas tidak ingat pernah melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan cara sekejam itu!"
Harry menoleh kepada Hermione, meminta dukungan. Namun Hermione tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan dengan ragu-ragu.
Hal tersebut tak luput dari Luna dan Harry, yang langsung menatapnya. Kesenyapan menerpa mereka bertiga, menyelimuti dengan sangat erat seperti pelukan raksasa yang sangat kuat. Bulu kuduk Harry terasa berdiri lagi, dan dia tak bisa menahan keinginan untuk menelan ludahnya.
"Ada apa, Hermione?" tanya Harry. "Ada yang... Aneh?"
"Hermione, apakah kamu adalah pelaku? Kamu pernah ingat melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut?" tanya Luna.
Harry sudah tahu sejak lama bahwa Luna bisa sangat frontal kalau menanyakan sesuatu, tidak menahan apapun sama sekali, namun bahkan untuk kali ini dia berjengit kaget. Dia menatap Luna dengan tidak percaya, kemudian menoleh ke Hermione, yang sedang menatap Luna dengan intensitas luar biasa.
Harry setengah menduga Hermione akan berteriak, atau, lebih buruk lagi, menampar Luna di tempat. Betapa kagetnya ia menyaksikan Hermione menjawab, "Aku tidak tahu."
Tidak tahu?
"Kamu tidak tahu?" tanya Luna.
"Ya... Aku..." Hermione menelan ludahnya, menjawab lagi, "Aku tidak tahu."
"Apa maksudmu tidak tahu? Hermione, kamu tentu saja tidak pernah membunuh siapapun. Apa maksudmu kamu tidak tahu?" tanya Harry dengan cepat.
"Maksudku, Harry, adalah bahwa di dalam ingatanku tentu saja aku tak ingat bahwa aku telah membunuh. Tapi... Tapi..." Hermione menatap Harry dengan pandangan ngeri. Dia berkata, "Tidakkah kamu memikirkan satu kemungkinan lagi?" kata Hermione.
"Apa?"
"Bahwa... Bahwa mungkin... Aku membunuh, tapi aku tidak menyadarinya?" tanya Hermione berbisik.
Harry membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi. Dia membukanya, sebelum pemahaman merasuki dirinya. Masa sih...
Masa itu bisa terjadi lagi?
"Ada satu hal yang bisa membuat seseorang membunuh, tapi tidak ingat pernah melakukannya, Harry," kata Luna dengan pelan.
Harry mengalihkan pandangannya kepada Luna, yang menatapnya balik tanpa reaksi sedikit pun. Luna menunggu jeda selama dua detik, sebelum menjawab, "Kalau Heliopath merasuki seseorang, Heliopath akan mengendalikan orang itu di saat-saat tertentu. Nah, si orang yang dirasuki tak akan memiliki ingatan mengenai ketika dia dirasuki, tentu saja. Ingatannya akan membentuk semacam-"
"Blank-out," bisik Harry. Pelan, sangat pelan, hingga nyaris tak tertangkap oleh Luna dan Hermione. Ada saat-saat seseorang tidak ingat dimana dia berada sebelumnya, atau apa yang telah dia lakukan. Itu terjadi pada orang yang dirasuki. Dia masih ingat dengan jelas cerita dari Ginny di tahun kelimanya dulu, saat Ginny mendeskripsikan keadaannya dan apa yang terjadi padanya selama dia dirasuki oleh Voldemort dulu. Tapi...
"Tapi aku tak pernah mengalami itu. Kita tak pernah mengalami itu, Hermione. Kita selalu memiliki ingatan lengkap terhadap apa saja yang kita lakukan, kan!" kata Harry. "Kamu dan aku bukanlah pelakunya! Kita tak dirasuki oleh apapun!"
Hermione menggigit bibir bawahnya, dan mengangguk pelan. Harry menghela napas, bersandar kembali di sofanya. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Hermione tadi. Membuat panik saja...
Tapi Hermione sebenarnya tidak semudah itu berhenti. Dia sesungguhnya tahu, bahwa ada satu saat dimana dia tidak begitu mengingatnya. Dia ingat, namun terasa kurang nyata, seperti mimpi. Sesuatu yang mengambang, antara ada atau tiada. Sesuatu yang tertancap dalam-dalam di otaknya bagaikan dipasak oleh pancang terkuat, namun di saat bersamaan juga begitu lemahnya hingga seperti air yang digenggam di telapak tangan.
Yaitu saat dia ada di perpustakaan.
Malam itu, saat dia melihat genangan-genangan air tersebut. Saat itu terasa nyata, dan sangat teringat. Tidak mungkin itu hanyalah khayalan. Namun jika diingat lagi, saat dia berputar semua genangan air itu sudah tidak ada.
Seolah-olah hanya mimpi.
Mungkinkah itu termasuk di dalam kategori yang dikatakan oleh Luna? Bahwa saat itulah...
Mungkinkah? Mungkinkah saat itu, aku sesungguhnya tidak ada di perpustakaan? Mungkinkah saat itu aku sebenarnya ada di tempat lain, sedang... Sedang... Melakukan entah apa?
Kemudian bagaimana dengan setiap malam? Bagaimana dengan buku-bukuku yang hilang? Bagaimana jika ternyata aku yang menghilangkannya? Aku dapat melakukannya dengan mudah... Begitu juga dengan Peta Perampok. Aku dapat dengan mudah ke kamar Harry, mengambil peta tersebut dengan mantra panggil, dan membakarnya dengan melemparnya ke perapian.
Lalu bagaimana dengan akses ke seluruh tempat di kastil?
Aku memilikinya. Aku bahkan sudah jauh mengetahui bahwa aku memiliki Akses, jauh sebelum Harry tahu. 'Kan aku yang menjelaskannya ke Harry.
Tak ada motif!
Aku merasa jijik kepada Cornish, karena dia datang ke ruang rapat Prefek dengan membawa makanan.
Bagaimana dengan Michael? Su?
Entahlah...
Tapi Hermione tidak dapat menyangkalnya. Dialah yang mungkin paling mengetahui mengenai Seven Deadly Sins. Dialah yang memiliki pengetahuan bahwa dia mendapatkan Akses sejak awal.
Tangan Hermione bergetar pelan, dia harus menggigit lidahnya untuk menghentikan gemetarannya tersebut. Dia berdoa semoga Harry dan Luna tidak menyadarinya.
Untunglah Harry, saat itu, memilih untuk memalingkan wajahnya kembali kepada Luna. Harry menghela napas panjang-panjang, dan menatap Luna dengan senyum kecil.
"Oke... Sekarang ganti topik. Bagaimana denganmu, Luna?" tanya Harry.
"Aku? Baik, tentu saja," jawab Luna, mengangkat bahunya sedikit. "Oh, dan kamu sudah menanyakan itu padaku saat aku baru masuk tadi, Harry."
Harry mendengus, dan menggeleng. Dia berkata, "Bukan itu, Luna. Yang kutanyakan adalah mengenai bagaimana perjalananmu."
"Oh," kata Luna, tersenyum.
Dan dia mulai bercerita mengenai perjalanannya ke berbagai tempat untuk mencari hewan-hewan gaib. Harry mendapati dirinya sangat tertarik akan cerita tersebut. Di bulan Juli, Luna telah memilih untuk tidak kembali ke Hogwarts untuk menyelesaikan tahun ketujuhnya. Dia memilih untuk ikut bersama ayahnya untuk berkelana. Ke berbagai tempat, dari pegunungan di Inggris hingga danau Loch Ness, menyaksikan sendiri Kelpie terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah. Luna memperlihatkan kepada Harry foto-foto perjalannya, termasuk di antaranya foto Luna yang menggendong seekor burung berwarna hitam yang pastilah Augurey bayi - entah bagaimana dia bisa menemukannya.
"Dan siapa ini?" tanya Harry, menunjuk ke satu foto yang menampilkan tiga orang berpose dengan latar belakang pohon besar sekali. Dua orang di antaranya pastilah Luna dan ayahnya, namun Harry tak mengenali satu orang lagi. Seorang pria, berambut pirang pendek dan bertubuh gempal. Penampilannya mengingatkan Harry akan Malfoy dan Charlie Weasley sekaligus digabung.
"Oh, itu. Dia Rolf," jawab Luna.
"Rolf?"
"Rolf Scamander. Seorang penduduk dari desa yang kami singgahi. Dia tidak pernah bersekolah di Hogwarts, namun dia penyihir juga kok. Dia menunjukkan kepada kami jalur menuju ke sarang Augurey," jawab Luna datar.
Harry mengangkat sebelah alisnya kepada Luna. Kalau telinganya tidak menipunya, dia baru saja mendengar Luna berbicara dengan nada datar.
Huh. Itu aneh. Luna Lovegood tak pernah berbicara dengan nada datar.
"Dia berharap suatu hari lagi kami akan ke desanya lagi. Entahlah. Dia mengirimiku hadiah natal," tambah Luna.
Harry nyaris terkekeh, dan dia menahannya. Namun dia tak bisa mencegah cengiran yang sudah terpancang di wajahnya.
Kalau yang dihadapinya benar, dia menduga Luna sedang menjadi berbeda karena seorang pria.
Dia menggeleng-geleng geli, menyandar kembali di sofa, sebelum dia mengerling ke jam di dinding.
"Kok mereka belum datang juga, ya?" tanya Harry.
"Yah... Kamu tahu bagaimana Ronald," kata Luna, menengadah memandangi langit-langit yang sudah dihias oleh Harry dan Kreacher.
Harry terkekeh, dan menggeleng-geleng. Tentu saja, Ron pastilah akan tetap menjadi Ron.
Menghela napas, Harry bangkit dari kursi dan memandang berkeliling. Ruang keluarga Grimmauld Place sudah dirombaknya habis-habisan, berdua bersama Kreacher, dalam rangka menyambut hari natal ini. Pohon cemara yang masih menyisakan butiran-butiran salju, sengaja disihir agar tidak meleleh, berdiri di satu sisi. Harry sendiri memasang wallpaper di seluruh dinding ruang keluarga, untuk mengurangi kesan suram ruangan tersebut. Dia bahkan membeli radio baru dari toko elektronik terdekat, dan menyihirnya sehingga dapat menerima sinyal radio sihir.
Makanan-makanan sudah siap. Diantara hidangan yang sudah disiapkan adalah kalkun berukuran besar yang nyaris tak bisa dipercaya, Butterbeer berjumlah kurang lebih tiga lusin botol, dan Egg Nogg.
Singkat kata, persiapan untuk perayaan hari natal di Grimmauld Place sudah sempurna.
"Kamu bahkan memasang mistletoe, Harry," kata Luna dari belakangnya.
Harry mendengus, mendongak ke langit-langit juga. Pengalamannya yang sudah-sudah dengan mistletoe memang bukan pengalaman bagus, namun juga tidak terlalu buruk. Mungkin kali ini dia bisa memanfaatkannya untuk berciuman dengan Ginny, dan kalau bisa, saat semuanya tidak memperhatikan, membawa Ginny ke atas-
"Kadang mistletoe yang banyak Nargle-nya bisa membuat pikiranmu tidak beres, Harry," kata Luna dengan nada khasnya. "Kadang bisa membuat pikiranmu menjadi ngeres."
Oh, sial! Semua pikiran Harry (yang sudah mencapai di bagian memasuki kamar) lenyap seperti gelembung sabun dipecahkan dengan kekuatan tinggi. Dia menggeleng pelan, dan berjalan ke ruang depan. Kalau mau menunggu, mungkin lebih baik di sana.
Saat dia melewati dapur, dia melihat Hermione keluar dari sana. Harry mengangkat alisnya. Dia tidak memperhatikan Hermione dari tadi, dia tidak sadar bahwa Hermione sudah meninggalkan ruang makan.
"Hermione?" tanya Harry.
Hermione berhenti berjalan, menolehkan wajahnya perlahan kepada Harry. Harry mengernyit sedikit kepadanya, firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres.
Firasatnya tersebut terbukti benar saat dia melihat ekspresi di wajah Hermione. Dia langsung menghilangkan kernyitannya, dan berjalan dua langkah mendekat ke Hermione.
"Ada apa?" tanyanya.
Hermione menunduk, tidak mau menatap Harry langsung. Hal tersebut membuat Harry semakin gelisah, dia menggenggam bahu Hermione, kedua-duanya, membuat gadis itu menatapnya. Yang dia lihat di dalam sepasang mata cokelat tersebut adalah sesuatu yang khas, yang biasa dia lihat, bahkan dia rasakan sendiri:
Kecemasan.
"Ada apa, Hermione?" ulang Harry, kali ini dengan lebih perlahan.
Hermione menggigit bibir bawahnya, dan mengangkat bahunya. Dia menatap Harry, dan menjawab, "Tidak ada apa-apa."
"Hermione, kamu mau menyembunyikan rahasia lagi?" tanya Harry.
"Kenapa? Aku tidak boleh memiliki rahasia, begitu?" kata Hermione, nadanya meninggi.
Harry mundur sedikit, dan dalam sekejap Hermione menyadari kesalahannya. Dia buru-buru menutup mulutnya, dan menggeleng pelan. Menahan napasnya, dia berkata, "Sori, Harry. Sori. Aku - bukan maksudku untuk -"
Terus menatap sahabatnya tersebut, Harry memilih untuk diam, menunggu Hermione menyelesaikan kalimatnya. Namun Hermione ternyata tidak menyelesaikannya, karena dia menggeleng-geleng, dan menghela napas panjang-panjang.
"Sori, Harry. Sori. Tapi... Bisakah kita tidak membicarakannya sekarang? Kumohon? Aku..." Hermione menelan ludahnya, menarik napas lagi sebelum melanjutkan, "Aku janji, aku akan menceritakannya padamu... Tapi kumohon, jangan sekarang. Jangan hari ini..."
Mendongak menatap Harry, ekspresi Hermione kembali lembut dan tampak merasa bersalah. Dia berkata berbisik, "Please?"
Harry mengangguk. Setelah saat-saat diam yang agak canggung di antara mereka, Hermione tersenyum kecil.
Bersamaan dengan bel pintu depan yang berbunyi, diikuti dengan suara yang sudah sangat mereka kenal.
"Harry! Hermione! Kami sudah datang!"
Hermione mengangkat sebelah alisnya, sebelum memutar bola matanya. Dia tersenyum, berbalik badan dan berjalan ke ruang depan untuk membukakan pintu. Sementara itu, Harry hanya berdiri di tempat, terpaku dan masih menatap punggung Hermione yang menjauh.
"Jangan memaksanya, Harry," kata Luna, yang entah bagaimana muncul begitu saja di samping Harry.
Nyaris terlompat kaget, Harry hanya menatap gadis tersebut, yang tersenyum samar padanya. Luna mendongak, dan kembali melanjutkan kegiatannya - menghitung jumlah mistletoe.
Sementara, keluarga Weasley masuk satu per satu melewati pintu depan, masing-masing setelah menyalami dan memeluk Hermione yang berdiri membukakan pintu. Rambut merah yang sama, bintik-bintik yang sama, serta wajah-wajah yang familiar.
Ron, yang paling depan, menghampiri Harry dengan lengan terbuka. Dia berkata, "Hei, bung! Lama sekali tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Ronald," jawab Luna, yang lagi-lagi muncul begitu saja dari balik Ron. Berbeda dengan Harry, Ron sama sekali tak menyembunyikan kekagetannya: dia melompat kaget.
"Apa yang - bloody hell! Sejak kapan kamu di sini - bagaimana kamu bisa - Luna -"
"Ah, mistletoe, Ronald," kata Luna, mendongak menatap untaian di atas kepada mereka berdua. Ron mendongak juga, dan buru-buru melompat menjauh, mengeluarkan suara "Eeep!"
"Sebaiknya begitu, Ronald. Cara terbaik menghindari pengaruh Nargle adalah dengan menjauhi mistletoe," kata Luna sambil lalu. Dia kemudian berbalik badan, dan melanjutkan menghitung mistletoe.
Menganga, Ron menatap punggung Luna yang menjauh, sebelum menoleh kepada Harry, minta penjelasan lengkap.
Harry, melihat ekspresi di wajah Ron, melakukan satu hal yang paling masuk akal dilakukan orang manapun jika mereka menghadapi ekspresi tersebut.
Dia tertawa.
.
-o0o-
.
Acara natal berlangsung meriah, seperti yang dulu berlangsung di The Burrow, pada tahun keenam Harry, Hermione, dan Ron. Para ibu-ibu, dalam hal ini Mrs. Weasley dan Fleur, menyiapkan meja dan membagi-bagikan semua makanan, tak memedulikan sama sekali fakta bahwa semuanya sudah Harry letakkan di atas meja dan tinggal diambil sesuka hati. Kreacher, untuk hari spesial ini, memilih untuk tidak bekerja. Dia duduk di lantai, bermain dengan Teddy yang sudah bisa merangkak. Teddy dibawa oleh Andromeda, yang datang juga, dan kini sedang berdebat seru dengan Angelina mengenai mode jubah.
Angelina dibawa oleh George. Tampaknya mereka berdua telah menjadi teman akrab, sangat akrab. Kematian Fred telah mendekatkan mereka berdua. Mr. Weasley tentu saja berkali-kali mengganggu obrolan Harry dengan Ginny, dalam rangka meminta penjelasan mengenai radio baru yang Harry beli.
"Jelaskan, kalau tidak ijinku akan kucabut untuk hari ini, Harry," kata Mr. Weasley dengan ekspresi super serius.
Harry meringis, tahu benar bahwa ijin yang dimaksud adalah ijin untuk berdua dengan Ginny sepanjang hari. Dia buru-buru menjelaskan kepada Mr. Weasley, lengkap dan rinci - bahkan memberikan buku panduan mengenai radio tersebut.
Ron dan Hermione duduk bersebelahan, tampaknya sudah memulai pertengkaran baru - tampaknya mengenai fakta bahwa Ron baru saja mengambil jatah makanan dengan kapasitas setara untuk satu minggu makan siang orang normal. Tapi pertengkaran mereka tidak tampak berbahaya. Harry dan Ginny berpandangan satu sama lain, sebelum mengangkat bahu masing-masing.
Hermione dan Ron tidak tampak ingin mengakhiri hal tersebut dalam waktu dekat, jadi lebih baik biarkan saja mereka berdua.
Kejutan berikutnya, atau sebenarnya sudah sejak awal, adalah Fleur yang mengumumkan bahwa dia sudah hamil tiga bulan. Tidak seperti keluarga Weasley, Harry (bersama dengan Hermione dan Andromeda) sama sekali belum mengetahui mengenai berita ini. Mereka langsung menyalaminya, dan memberinya selamat.
"Kalau sudah tiga bulan, berarti kemungkinan lahir bulan Juni?" tanya Harry. Fleur mengangguk, nyengir.
"Wah, kalau begitu, akhirnya Teddy bisa dapat teman main! Satu lagi bayi dalam keluarga!" seru George, matanya berkilat-kilat.
"Jangan ajak anakku menaiki sapu sebelum dia mencapai umur 4 tahun, George!" kata Bill, meringis. "Dan jangan ajak dia terbang, jangan berikan dia barang-barang dari toko lelucon, dan - pokoknya jangan aneh-aneh!"
Harry mengangkat sebelah alisnya, dan kali ini yang menjawab pertanyaannya yang tak terucap adalah Mrs. Weasley.
"Jangan bermain-main hal-hal berbahaya dengan bayi, George! Itu tidak bagus!" bentak Mrs. Weasley.
"Aku tidak pernah bermain-main berbahaya, kok!" kata George, membela diri. Dia menoleh ke Teddy, dan berkata meminta dukungan, "Ya kan, Ted? Kita tidak pernah bermain yang berbahaya kan?"
Teddy, yang tidak mengerti, hanya menatap George dengan polosnya. Rambutnya berubah menjadi ungu, tanda bahwa dia bingung.
Harry mendengus, dan meraih Teddy, menggendongnya. Tentu saja, pastilah George sudah bermain-main banyak dengan Teddy. Mungkin itu pula salah satu alasan Teddy mengenakan kaos bertulisan 'WWW Rocks!'
"Aku kurang setuju Teddy dibawa main-main aneh-aneh, George, sori," kata Harry.
"Hei, ayolah! Anak laki-laki akan bosan kalau cuma bermain bola-bola kecil di atas lantai!" kata George. Dia menoleh ke Fleur, dan berkata lagi, "Ya kan, Fleur?"
Fleur memutar bola matanya, dan Angelina memukul bahu George dengan kekuatan lumayan. Semuanya memutar bola mata mereka masing-masing, minus Kreacher dan Teddy, yang tampaknya tak mengerti. Dia malah menatap Harry, dan mencoba menirunya memutar bola mata - hasil yang didapatkan adalah dia menggoyangkan kepalanya.
Lagu di radio berganti, menjadi sebuah lagu yang sangat diingat Harry dan seluruh keluarga Weasley. Serentak, seluruh pria berjuang menahan diri masing-masing dari keinginan kuat untuk mengeluh.
"Sekali Penuh Cinta Panas!" seru Mrs. Weasley, senang sekali. "Arthur, mereka masih menyiarkannya!"
"Setelah dua puluh tahun lebih, ya," gumam George. "Aku tak tahu bagaimana mereka masih menganggap lagu ini mode..."
Harry mendengus lagi, sementara lagu tersebut terus berlanjut. Harry menoleh ke Ron dan Hermione, yang kedua-duanya langsung sadar ditatap olehnya.
Hermione baru mau bertanya ada apa, namun Ron mendahuluinya. Dia berdeham, dan mengulurkan telapak tangannya kepada Hermione.
"Er... Yuk dansa," kata Ron.
Ekspresi di wajah Hermione luar biasa, sampai-sampai Harry menyesal habis-habisan tidak membawa kamera untuk bisa mengabadikan ekspresi tersebut. Dia nyengir lebar, sementara Hermione mengangguk, menggenggam tangan Ron yang terulur. Keduanya bermuka merah, berdiri dan berjalan ke tengah ruang keluarga.
Diiringi dengan tepuk tangan dan suitan dari George, Percy, dan Bill, dan juga teriakan "Keren, Ron!" dari Angelina, mereka berdansa. Jelas dansa yang tak terlatih dan spontan, karena kaki mereka berkali-kali bersilangan - tapi mereka tak tampak keberatan, membuat Harry nyengir.
Andromeda menghampirinya, mengangkat sebelah alisnya. Harry tersenyum malu-malu, dan menyerahkan Teddy kembali ke gendongan neneknya tersebut.
"Sana, ajak gadismu," kata Andromeda.
Harry mengangguk, menoleh ke Ginny, yang tersenyum sembari mengangkat sebelah alisnya.
Segera, jumlah pasangan di tengah ruang keluarga berjumlah empat pasang. Hermione dan Ron, Harry dan Ginny, Angelina dan George, beserta Mr. Dan Mrs. Weasley. George berkali-kali memotret mereka, dan Teddy menjulurkan tangannya, tampaknya ingin ikut bergabung. Luna berdiri di sebelah Percy, tersenyum dan bergumam-gumam pelan sendiri, membuat Percy merasa agak bingung.
'Oh, don't you know that it can't be undone?
What I've get in this high
And you keep get your job all done
By holding my heart very tight.'
Di tengah-tengah itu semua, Harry melihat Ron menarik Hermione ke atas tangga. Dia mengangkat sebelah alisnya kepada punggung kedua sahabatnya yang menjauh tersebut, sebelum menoleh ke Ginny.
"Apa?" tanya Ginny, membiarkan dirinya diputar perlahan oleh Harry.
Harry mengedikkan kepalanya ke arah tangga, persis ketika Ron dan Hermione menghilang. Ginny melihatnya sekilas, dan kembali menatap Harry, senyum yang sangat khas di wajahnya. Harry nyaris nyengir seperti orang idiot melihat senyum tersebut.
"Mau... Mencari sedikit privasi juga?" tanya Harry, berbisik di telinga Ginny.
"Tergantung," kata Ginny, menempel kepada Harry, sementara mereka bergerak miring dengan mulus.
"Tergantung apa?" tanya Harry.
"Tergantung kamu mau membawaku mencari privasi untuk apa," kata Ginny, nyengir.
Merlin... Harry bisa merasakan wajahnya memanas, dia berharap semoga tak ada yang menyadari ekspresinya sekarang. Ginny mengangkat sebelah alisnya, dan Harry tahu persis bahwa lampu hijau sudah menyala.
Akhirnya! Monster di dada Harry, setan di bahunya, dan bahkan mungkin termasuk Nargle yang menghinggapinya, berseru-seru dan berteriak-teriak menyemangati. Harry tersenyum lebar, menarik Ginny ke arah tangga -
Hanya untuk mendapati bahwa dia berhadapan langsung dengan Mr. Weasley.
Yang mengangkat sebelah alisnya.
"Maafkan aku, Harry, namun aku mau berdansa sedikit dengan anak perempuanku di sini," kata Mr. Weasley, tersenyum dengan ramah dan kebapakan.
Bagi Harry, itu terdengar seperti "Mau kemana kau, bocah ingusan? Apa yang mau kau lakukan dengan anakku?"
"Dad!" keluh Ginny.
"Sekarang, Ginny. Kapan lagi kamu bisa berdansa dengan Ayahmu yang sudah tua ini? Ayolah," kata Mr. Weasley.
Yang didengar telinga Harry: "Oh tidak, young lady! Kamu masih ingusan, sini sama Ayah dulu!"
Menghela napasnya, Ginny bergabung dengan Ayahnya, melempar pandangan 'Nanti-saja!' kepada Harry.
'Siap!' jawab Harry dengan anggukannya.
Mr. Weasley tampaknya menyadari bahasa isyarat yang mereka berdua perbuat, karena dia menarik Ginny lebih cepat kembali ke tengah ruang keluarga, mungkin berniat untuk menjaganya tetap di sampingnya sampai malam hari berakhir.
Harry menghela napas panjang-panjang dengan kecewa, berjalan dengan agak lunglai ke meja makan, tempat Luna tampaknya sedang mengamati Egg Nogg dengan penuh antusiasme. Harry meraih gelas Butterbeer dengan lemas, dan meminumnya.
Dia bahkan berani bersumpah baru saja mendengar suara berdebum pelan dari lantai atas.
Dasar... Batin Harry, meskipun demikian dia tetap tersenyum. Jika ada orang yang paling bisa membuat Hermione bahagia dari kondisi kesal dalam sekejap, itu adalah Ron. Dia paling sanggup untuk melakukan hal tersebut.
'Oh, come and stir my cauldron,
And if you do it right
I'll boil you up some hot, strong love
To keep you warm tonight.'
Bersandar ke meja, dia mengamati semuanya. Ginny dan Mr. Weasley kini sedang berdansa, tampaknya sama-sama senang. George dan Angelina berdansa dengan perlahan, mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Di sini Harry mengangkat alisnya sedikit, namun memutuskan untuk tidak memikirkannya. Dia mengalihkan pandangannya kepada Percy, yang sudah terlibat adu minum melawan Bill. Ajaibnya, tampaknya Percy sedang unggul.
"Sulangan - Kedelapanbelas!" seru Percy, mengacungkan gelasnya. "Untuk - bayimu nanti!"
Harry meringis, kemudian melihat ke Andromeda dan Mrs. Weasley. Keduanya sedang berbicara dengan Fleur, tampaknya mengenai bayi, melahirkan, dan perawatan bayi. Teddy merangkak mengejar-ngejar Kreacher, yang tampaknya senang bermain dengannya - terlepas dari fakta bahwa Kreacher tak pernah tampak bersenang-senang sebelumnya. Mungkin bisa bertemu lagi dengan keturunan dan pewaris darah keluarga Black membuatnya bahagia.
"Semuanya sangat senang, ya? Tak terasa kamu tadi pagi baru saja menceritakan mengenai kejadian-kejadian di Hogwarts," kata Luna dari samping Harry.
"Ya," jawab Harry, menyeruput Butterbeer yang digenggamnya. Dia menghela napas, dan berkata pelan, "Sama sekali... Tak terasa..."
Debum pelan terdengar dari lantai atas. Harry meringis kecil, untunglah tampaknya hanya dia yang mendengar. Yang lainnya sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
"Mereka sedang asyik sepertinya di atas," kata Luna, mendongak menatap tangga.
Harry mengangkat bahunya. Dia berkata, "Well, baguslah."
Menenggak Butterbeernya lagi, Harry tidak menyadari Luna telah menoleh dan kini menatapnya dengan sepasang mata perak tersebut. Saat dia sadar, dia merasa bingung, dan buru-buru bertanya, "Apa?"
"Ah, tidak, Harry," kata Luna. Tapi dia tetap menatapnya, dan Harry menatapnya balik, meminta penjelasan. Akhirnya, Luna berkata, "Aku dari dulu selalu berpikir bahwa di akhir, kamu akan bersama dengan Hermione, bukan dengan Ginny. Tapi sepertinya aku salah."
Dan dengan itu, dia ngeloyor pergi begitu saja, meninggalkan Harry yang menganga kepada punggungnya. Luna bergabung dengan Kreacher, bermain dengan Teddy, yang tampak sangat senang mendapatkan satu lagi teman main.
Harry menggeleng-geleng dengan agak geli, sebelum berjalan ke Mr. Weasley, berniat untuk meminta Ginny kembali berdansa dengannya.
.
-o0o-
.
Suara dengkur Percy dan Bill dapat terdengar hingga ke ujung-ujung Grimmauld Place, begitu juga dengan suara dengkur Mr. Weasley dan Ron dari kamar di atas. Hermione memandang ke sekeliling dengan perlahan di tengah-tengah ruang keluarga yang sudah gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari perapian. Seluruh sisa-sisa pesta masih ada sepenuhnya, bergeletakan dan berantakan, bungkus-bungkus makanan, gelas-gelas, buntelan yang sepertinya kain kotor di sofa dekat perapian...
Keluarga Weasley, seluruhnya, setelah malam dan pesta yang sangat panjang, memutuskan untuk bermalam di Grimmauld Place. Karena jumlah kamar yang luar biasa di rumah tersebut, semua orang mendapatkan tempat mereka masing-masing dan dapat merebahkan diri dengan mudah. Mrs. Weasley dan Andromeda telah sepakat untuk ikut membantu membereskan rumah besok pagi, setelah mereka semua mendapatkan cukup istirahat.
Hermione tersenyum. Hari natal kali ini benar-benar sangat bagus. Dia memang menyesal karena tak bisa menghabiskannya bersama kedua orangtuanya, yang kini tengah berlibur di Australia untuk merayakan bulan madu mereka tanggal 27 Desember nanti. Namun toh itu terbayar oleh semua ini. Ron benar-benar membuatnya kembali merasa ceria, segar, dan senang, setelah kegelisahan yang sangat menumpuk di dalam dirinya.
Luna pulang, karena dia harus berangkat ke Skotlandia lagi. Ayahnya kini tinggal di sebuah desa di sana, dan dia juga sudah berjanji dengan seseorang untuk mengunjunginya. Hermione tak tahu siapa orang tersebut, tapi sepertinya cukup penting.
Kemudian Harry...
Harry.
"Kamu belum tidur, Hermione?"
Sosok yang dari tadi ada di atas sofa depan perapian ternyata bukanlah buntelan selimut, melainkan Harry sendiri. Hermione menatapnya sejenak, sebelum menjawab, "Belum. Kamu juga belum?"
"Well... Kecuali kondisiku ini bisa disebut tertidur, aku pikir aku masih terjaga," jawab Harry.
Hermione tertawa pelan, dan Harry tersenyum. Dia bergeser sedikit, sehingga Hermione dapat duduk di sebelahnya dengan lega. Hermione menyambut tawaran dari Harry, dan duduk di sebelahnya, bersandar di sofa dengan nyaman menghadap perapian.
"Jadi, bagaimana Ron?" tanya Harry.
"Baik-baik saja, dia ada di atas sekarang, tidur seperti vacuum cleaner," jawab Hermione, tersenyum kecil.
"Oh?" kata Harry, kilat jail melintas di matanya. "Apa saja yang kalian lakukan tadi?"
"Beberapa... Hal..." jawab Hermione pelan. Harry terkekeh mendengar hal tersebut, sementara Hermione memerah. Dia memukul bahu Harry, mendorongnya sampai Harry nyaris terjungkal di sofa.
"Ouch! Kekerasan!" kata Harry, memijat bahunya.
Hermione menahan keinginan untuk menjulurkan lidahnya kepada Harry, sementara Harry kembali terkekeh dan mendengus setiap jeda beberapa detik. Dia memutar bola matanya, kadang dia sebal juga akan sikap Harry yang seperti ini. Tidak pikir-pikir panjang, asal ngomong saja... Sangat seperti biasanya. Padahal Hermione tahu, bahwa sikapnya kepada Harry sepanjang hari ini, sejak pagi tadi, tidak terlalu baik.
Dia menunduk, membiarkan keheningan memeluk mereka berdua kembali. Suara-suara dari perapian terdengar semakin lemah, dan tidak ada satupun dari mereka berdua yang membuka obrolan.
Akhirnya, Hermione menarik napas, dan berkata pelan, "Maaf."
"Untuk apa?" tanya Harry, menoleh kepadanya.
"Untuk... Pagi tadi. Karena sudah membentak seperti itu, dan tidak... Berbicara padamu sepanjang hari," lanjut Hermione.
"Oh," kata Harry pelan, paham. Dia mengangguk, menunduk menatap lantai. Titik yang ditatapnya sama dengan titik yang ditatap Hermione, meskipun dia tidak menyadarinya.
Beberapa menit kemudian, Harry mendongak, tersenyum kecil, dan berkata, "Aku juga minta maaf... Karena memaksamu bercerita seperti itu."
"Tidak, kamu tidak memaksa sama sekali. Aku saja yang - agak - repulsif, dan aku... Minta maaf," kata Hermione cepat. Dia mendongak menatap Harry, saat yang bersamaan dengan Harry mendongak - kedua pasang mata bertemu lagi, dan Hermione melanjutkan,
"Kamu tetap... Bersikap biasa padaku walaupun aku sudah berbuat seperti itu... Aku tak tahu apa yang ada di pikiranku... Aku sangat -" Hermione menggeleng-geleng, menghela napas panjang dan berkata, "Sangat... Labil, akhir-akhir ini... Entahlah."
Harry menatapnya selama beberapa lama, membiarkan Hermione mengatur napasnya terlebih dahulu. Kemudian, dia bergeser sedikit, melingkarkan lengannya ke sekeliling bahu Hermione dan menariknya ke dekatnya, merangkulnya. Hermione agak terkejut akan gestur dari Harry tersebut, namun membiarkan Harry menariknya.
Tersenyum kepadanya, Harry berkata, "Tenang, Hermione. Kupikir labil itu wajar untuk orang-orang seumuran kita. Aku juga berkali-kali labil, ingat? Saat tahun kelima, tahun lalu, dan bahkan beberapa minggu lalu."
Hermione mendengus mendengar itu, menggeleng lagi. Dia menatap perapian, berkata pelan, "Ya, aku juga..." dia mengangkat bahunya sedikit. "...juga seperti itu akhir-akhir ini."
"Oh, dan di tahun keenam juga," kata Harry. "Aku ingat kamu menjadi sangat tidak kamu."
"Ya. Itu-aku..." Hermione menatap Harry dengan khawatir, dan berkata, "Ya... Aku sedang dikuasai hormon saat itu. Kamu tahu - aku benar-benar menyadari perasaanku kepada Ron di awal tahun tersebut, dan aku benar-benar... Kesal kepadanya."
"Kupikir aku sudah mengalami dan menyaksikan cukup hal mengenai bagaimana jatuh cinta bisa mengubah seseorang," kata Harry, mengangkat bahunya dengan agak geli. "Dan ternyata kamu tidak terkecuali, Hermione."
"Kamu juga tidak!" kata Hermione.
"Hei, setidaknya aku tidak mengajak sembarang orang lain ke pesta Slughorn untuk membuat sahabatku cemburu," kata Harry, membela diri.
Hermione menyikutnya di rusuk, membuat Harry meringis lagi.
"Ouch! Kekerasan lagi. Merlin, Hermione, jangan jadikan aku sansak!" kata Harry.
"Biarin!" Hermione menggerakkan punggungnya sehingga posisi sandarannya lebih nyaman. Yang mana termasuk menyandarkan kepalanya kepada sandaran terdekat yang ada, yaitu Harry.
"Habisnya tidak ada lagi orang yang bisa kuajak!" kata Hermione di bahu Harry.
"Hmm?" tanya Harry, mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kamu tidak mengajakku?"
"Er... Jujur, aku tidak kepikiran hal tersebut. Aku sudah mengatakannya kepadamu, ingat? Di perpustakaan?" kata Hermione ragu-ragu.
"Aku ingat kok," kata Harry, nyengir kecil. "Aku mengajakmu pergi, tapi kamu bilang malah sudah punya kencan lain."
"Ya..." jawab Hermione, menghela napas panjang-panjang. Dia diam selama beberapa saat, sebelum menambahkan, "Maaf."
"Tak apa-apa," jawab Harry, memainkan rambut Hermione sedikit.
Sementara mereka berdua menatap perapian, menyaksikan kayu semakin lama semakin lemah dan api semakin pudar, sebuah kesadaran muncul di kepala Harry. Mengenai apa yang dikatakan oleh Luna, dan mengenai bagaimana kondisi mereka saat ini. Dia menunduk sedikit, melihat Hermione di bahunya, melihat sebelah tangannya yang menyentuh rambut cokelat lebat Hermione, dan sesuatu melintas di kepalanya.
"Hermione?"
"Ya, Harry?"
"Bolehkah aku bertanya kepadamu? Sesuatu... Mungkin agak pribadi, kalau kamu tidak mau menjawab juga tidak apa-apa," kata Harry.
Di sini, Hermione mendongak sedikit, agak penasaran akan nada suara Harry tersebut. Dia berkata, "Boleh. Tanyakan saja."
"Pernahkah kamu berpikir... Mengenai... Kamu tahu. Kemungkinan kamu dan aku...?"
Pertanyaan dari Harry tersebut terputus-putus, dan tidak lengkap. Terlalu implisit. Namun cukup bagi Hermione. Dia mengerti apa yang ditanyakan oleh Harry, dan dia mendongak sepenuhnya, sehingga dia bisa kembali menatap sepasang mata hijau tersebut. Dia memandang ke dalamnya, sebelum dia menjawab,
"Pernah."
Jantung Harry melompat sedikit, dan dia menahan dirinya. Dia bertanya lagi, "Kapan?"
Hermione menatap Harry dalam sekali, sampai seolah semua di sekeliling mereka berdua memudar dan hanya menyisakan mereka. Dia menarik napasnya, dan menjawab, "Dulu... Tahun keempat. Aku memikirkan semua yang telah kita lalui bersama, semua hal tersebut, setiap hari-hari yang kita lalui..."
Mendengus pelan, Hermione melanjutkan, "...tepatnya saat kamu akan menghadapi naga. Aku memelukmu erat-erat, dan aku... Entahlah. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu, aku merasakan sesuatu di dalam dadaku saat itu. Aku tahu bahwa itu bukan hanya sekedar rasa peduli sebagai teman. Itu sesuatu yang lebih."
Hermione mendekatkan wajahnya ke wajah Harry, dan napas Harry tertahan di dadanya. Setiap detil wajah tersebut, mata cokelat hangat yang memantulkan cahaya perapian yang redup... Semuanya kini ada di depannya. Dan dia tidak bisa menemukan napasnya.
"Tapi..."
"Tapi?" bisik Harry ke wajah Hermione.
Hermione memejamkan matanya, dan menunduk, tersenyum. Dia menggeleng, dan berkata, "Tapi aku juga menyadari bahwa perasaan itu tampaknya bahkan melampaui apa yang kurasakan kepada Ron. Melebihi apa yang kurasakan kepada orangtuaku. Melewati batas apapun yang pernah kubuat untuk diriku sendiri, Harry..."
Harry menatapnya. Dari penjelasan awal Hermione tadi, dia setengah-berpikir bahwa Hermione sempat naksir padanya, dan bahwa Hermione memiliki perasaan yang berbeda dengan yang dianggap Harry selama ini. Namun dia masih tidak mengerti, dan karena itu, dia menunggu lagi.
Menunggu Hermione menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tak mengerti mengenai hal tersebut, hingga saat itu, malam itu, malam setelah kita lolos dari Godric's Hollow," bisik Hermione, menggenggam tangan Harry dengan sangat erat. "Mendengar suara-suara gelisahmu saat kamu bermimpi buruk, berusaha dengan susah payah mengangkatmu ke tempat tidur... Aku menyadari alasan kenapa aku mau ikut bersamamu selama ini, menempuh perjalanan tanpa arah, ditinggalkan oleh pria yang kutaksir, meninggalkan keluargaku dan hidup yang seharusnya bisa kudapatkan dengan bahagia di luar negeri. Aku menyadarinya saat aku melihat dirimu, Harry. Dirimu yang terbaring di tenda, terluka, merebahkan dirimu dengan lelah dan sakit... Aku melihat dan menyadari apa yang mungkin tak pernah disadari dan disaksikan oleh siapapun juga. Bahwa kamu, dibalik semua tanggung jawab dan takdir yang kamu pikul... Di balik semua anggapan dan pandangan banyak orang mengenai dirimu, aku melihatmu di sana... Berbaring layaknya orang biasa yang telah lelah akan semua ini, akan apa yang ditimpakan dunia ini ke kedua pundakmu yang masih belia itu. Aku menyadari alasanku saat itu.
"Aku mencintaimu, Harry," kata Hermione, dengan pelan, jelas, dan lancar. Senyum di wajahnya semakin merekah, seperti fajar yang menyingsing. Hermione menunggu beberapa saat, sebelum menambahkan, "Aku menyayangimu. Kamu sahabatku... Yang terbaik yang pernah kumiliki. Dan aku sangat mencintaimu karena hal itu."
...
Keheningan yang menimpa mereka berdua sangat lama dan panjang. Api di perapian kini berkeretak lemah, nyaris padam, namun mereka sudah tidak memedulikannya lagi. Hanya ada mereka berdua, masing-masing, satu sama lain saat ini. Tidak ada apapun lagi.
Karena mereka tidak tahu kapan lagi mereka akan bisa berbicara seperti ini... Berbicara mengenai sebuah topik yang sangat riskan, namun di saat bersamaan, juga sangat dibutuhkan.
Mengambil napas panjang-panjang, Harry menggerakkan sedikit kepalanya. Dia berdeham, dan berkata, "Jadi, intinya kamu pernah berpikir mengenai kemungkinan antara kita. Karena kamu merasakan perasaan aneh tersebut di dalam dirimu di tahun keempat."
"Yap," jawab Hermione.
"Namun kamu akhirnya menyadari apa maksud perasaan tersebut," kata Harry. "Kamu... Mencintaiku."
"Benar."
"Tapi tidak secara romantis. Kamu mencintaiku karena aku adalah sahabatmu."
"Ya, benar sekali!" kata Hermione.
Harry nyaris tertawa mendengar nada cerah di suara Hermione. Dia mendengus, dan mulai terkekeh. Hermione bergabung dengannya, tertawa pelan bersama-sama. Mereka seperti itu beberapa menit, sampai akhirnya Harry berhenti, dan bertanya dengan nada jail, "Kalau begitu, kamu menganggapku kalah ganteng dibandingkan Ron?"
"Yap, benar! Dan kutebak aku juga kalah cantik di matamu, jika dibandingkan dengan Ginny, kan?" tanya Hermione, nadanya juga jail.
"Yeah, benar," kata Harry, menggeleng-geleng. "Aku tak menyangka semudah itu ternyata penyelesaiannya. Ternyata itu, penjelasan... Sesungguhnya juga dari... Perasaanku kepadamu."
"Memang," kata Hermione, kembali bersandar di bahu Harry. Dia tersenyum, dan berkata, "Orang-orang lain mungkin tidak mengerti, karena mereka tidak berbagi persahabatan seperti yang kita berdua alami, Harry."
"Ya, berdua," kata Harry, nyengir. Dia diam beberapa saat, sebelum sesuatu melintas di kepalanya. Dia berkata pelan, "Ron agak di luar ini, kan? Soalnya dia, bagaimanapun juga, agak kurang bergabung... Dan kurang mengerti... Dalam beberapa hal. Dia tidak berlatar belakang kehidupan Muggle seperti kita, dia tidak pernah memiliki sudut pandang seperti kita saat kecil... dan banyak lagi."
"Dan karena dia memang aku taksir, sehingga aku tidak bisa memiliki persahabatan yang benar-benar murni kepadanya," lanjut Hermione. Dia mendongakkan kepalanya sedikit, tersenyum kepada Harry. "Tidak seperti kepadamu."
"Yeah, benar," kata Harry, nyengir. Mereka berdua berangkulan di sofa lebih erat lagi, sebelah lengan Harry menggenggam bahu Hermione, mengelusnya perlahan sementara Hermione memperbaiki posisinya di bahu Harry. Mereka diam kembali, memikirkan semuanya yang telah mereka alami selama seharian ini.
Pertama ketegangan karena menceritakan semua cerita tentang peristiwa-peristiwa di Hogwarts kepada Luna... Kemudian ketegangan lagi, karena Hermione merasa khawatir akan dirinya - hal yang konyol, jika dipikirkan sekarang, rasanya. Lalu, semua acara dan pesta natal sepanjang hari, ditambah dengan hingga kini, berdua dengan sahabat masing-masing, yaitu satu sama lain di depan perapian, di malam natal.
Semuanya sangat baik, sangat luar biasa... Terasa sangat indah.
"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Harry. "Kita akan lulus Hogwarts sebentar lagi, dan kita bisa hidup dengan tenang setelah itu. Pembunuh itu pasti akan ditangkap... Semuanya akan baik-baik saja. Mungkin setelah lulus, aku akan bermain Quidditch saja..."
"...Tidak jadi Auror?" tanya Hermione dengan agak bingung. "Dulu kamu sangat bersemangat..."
"...Ah, tidak usah..." jawab Harry. "Aku mau menjalani hidup yang menyenangkan saja."
Hermione mendengus, dan Harry nyengir. Dia melanjutkan, "Oke. Terus... Aku dan Ginny akan menikah, punya anak, mungkin dua, tiga, lima..."
"Lima? Banyak juga," sahut Hermione.
"Keluarga besar," jawab Harry, nyengir. "Bagaimana denganmu, Hermione? Mau berapa anak?"
"Dua saja," jawab Hermione. Dia mendongak, dan berkata pelan, "Anak-anak kita bisa bermain satu sama lain, kan."
"Oh, ya. Aku jamin, anak-anak kita bahkan mungkin akan cukup untuk membentuk sebuah tim Quidditch," bisik Harry. Hermione tertawa, begitu juga dengan Harry.
"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Hermione, mulai mengantuk. Dia memejamkan matanya sedikit, membiarkan semuanya memudar perlahan.
Harry tersenyum melihatnya. Tepat sebelum Hermione tertidur sepenuhnya, dia merendahkan kepalanya, menciumnya di dahinya.
Senyum merekah di wajah Hermione yang telah memejamkan matanya, dan segera Harry juga tertidur di sofa tersebut.
Menghabiskan sejam lebih malam natal bersama seorang sahabat yang sangat mereka cintai mungkin adalah salah satu hal terbaik yang pernah dirasakan mereka berdua, bersama-sama.
.
