Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"I love you... You are my best friend"

.

Garis-garis cahaya kuning menembus melewati sela-sela jendela. Orang-orang berlalu-lalang di jalanan, mengendarai mobil, bus, ataupun berjalan kaki. Mereka semua sudah berangkat untuk melaksanakan kegiatan mereka masing-masing di pagi hari yang sejuk ini. Entah apakah itu untuk pergi ke sekolah, ke kantor, mencari nafkah dan bahkan mungkin merencanakan kejahatan, semua berjalan. Singkat kata: sebuah pemandangan yang biasa, sehari-hari, di setiap bagian kota London.

Hal yang sama tidak dapat dikatakan di sebuah rumah. Rumah ini, berbeda dengan rumah-rumah lainnya, penghuninya baru sedikit yang sudah terbangun dari mimpi mereka. Sisa-sisa pesta masih berserakan di mana-mana, belum dibereskan sama sekali, bergeletakan sebagai sampah. Suara-suara dengkur pelan terdengar dari kamar-kamarnya, memberitahu bahwa orang-orang di dalamnya masih tidur. Kelelahan karena pesta, ditambah dengan terlalu banyak minum alkohol dan melakukan hubungan fisik di malam hari memang bisa membuat keluarga manapun di dunia, bahkan yang paling disiplin, untuk belum bangun walaupun matahari sudah mulai meninggi di langit.

Namun tetap saja, di tengah-tengah kesunyian tersebut tetap ada yang sudah bangun. Orang-orang seperti ini biasanya bergerak perlahan, berusaha menghindari membuat suara-suara keras. Mereka berjalan perlahan menuju kamar mandi, atau melihat keluar jendela, melihat pemandangan di luar, mungkin juga sembari menggaruk rambut mereka dan menguap.

Hari ini Harry mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu dari orang-orang tersebut.

Memandangi Hermione yang telah dia selimuti, dia tersenyum. Semalaman suntuk dia dan Hermione tertidur di sofa, kepala terkulai sementara mereka duduk berdekatan, mencoba mencari kehangatan dari perapian yang redup. Dia tidak ingat kapan tepatnya dia benar-benar terlelap, yang dia ingat hanyalah melihat Hermione tertidur lebih dulu mendahuluinya. Hermione tampak damai tertidur di sofa seperti itu, rambutnya yang lebat terurai berantakan di sekeliling kepalanya, napasnya naik turun perlahan.

Dia sesungguhnya bisa memilih untuk merayakan Natal bersama orangtuanya, tapi dia memilih datang ke sini...

Harry berjalan ke dapur, membuka pintunya dan mulai menuangkan air untuk membuat kopi. Entah sejak kapan dia menjadi suka dengan kopi di pagi hari. Dia tidak pernah merasakan kopi di Hogwarts... Dia bahkan tak bisa mengingat kapan dia benar-benar mulai menyukainya. Mungkin dulu saat bersama keluarga Dursley, saat dia akan diam-diam menyeruput kopi Paman Vernon. Atau mungkin sejak dia menginjak Grimmauld Place lagi, mendapatkan suguhan kopi dari Kreacher.

Apapun itu, dia menyadari satu hal yang dari kesukaannya yang baru ini: Dia sudah bukan remaja lagi.

Dia mendengus. Ulang tahunnya yang kedelapanbelas sudah lewat. Dia benar-benar sudah dewasa secara legal, baik di dunia sihir maupun di dunia Muggle.

Delapan belas... Tujuh tahun sudah lewat sejak dia duduk di atas lantai tanah gubuk reyot lepas pantai, saat Hagrid memberitahunya sejak dia penyihir. Tujuh tahun telah berlalu, tujuh tahun yang tak bisa dianggap ringan dan menyenangkan sepenuhnya. Banyak hal telah dia lalui... Dan akhirnya hari ini dia dapat berdiri di sini, di dapur rumah ini, menyeduh kopi hangat di pagi hari yang cerah. Voldemort telah dia kalahkan, para pelahap maut sedang ditangkapi satu per satu. Orang-orang yang terdekat dengannya masih ada di sisinya, bersamanya.

Semuanya baik-baik saja...

Ingatan akan mayat Michael dan Su kembali ke pikirannya, bagaikan ditekan oleh slideshow yang berputar dengan paksa. Bagaimana posisi mereka saat tewas, dipasak begitu saja...

Orang-orang mati setiap hari. Semuanya baik-baik saja...

Luna mengatakan bahwa ada kemungkinan pelakunya berusaha menjadikan dia dan Hermione sebagai tersangka... Membuat mereka saling mencurigai satu sama lain. Pelakunya memiliki Akses yang sama seperti mereka, dan benar kata Luna: Cepat atau lambat, pencarian akan pelakunya pasti akan mengarah kepada dia dan Hermione. Para Auror bukanlah orang-orang bodoh, mereka pasti bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu dengan cepat.

Tenang. Semuanya pasti bisa baik-baik saja. Tenang...

Tangannya gemetar sedikit, Harry menarik napas dalam-dalam. Dia meletakkan kembali cangkir kopi yang sudah diangkatnya, khawatir cangkir tersebut akan jatuh. Tangannya mulai terasa mati rasa, perasaan yang sama seperti yang dulu dia alami saat menghadapi Voldemort di tengah hutan terlarang.

Apakah aku benar-benar tidak akan pernah mendapatkan apa yang kuinginkan? Sebuah kehidupan sederhana, menyenangkan, tanpa masalah-masalah dan horor seperti ini...?

Selama ini dia hanya tertolong keberuntungan. Dia tahu hal itu, oh dia sungguh-sungguh tahu. Dari Batu Bertuah, menghadapi Basilisk, hingga ke duelnya yang terakhir dengan Voldemort. Semuanya berhasil dia lalui hanya karena keberuntungan. Mungkin hanya di tahun ketiga, saat dia menghadapi ratusan Dementor itu, dia benar-benar berjaya. Selainnya? Dia hanya beruntung.

Keberuntungan akan habis suatu saat, itu salah satu hal paling pasti di dunia. Itu bagaikan hukum Fisika, bagaikan peraturan Phytagoras, sama seperti aturan Gravitasi.

Tenang... Semuanya oke. Semuanya baik-baik saja. Semuanya akan kembali normal...

"Harry?"

Semua suara-suara dan pikiran tersebut lenyap dari kepalanya, tersapu dalam sekejap seperti angin meniup dedaunan kering. Harry mengerjap sekali, menatap ke cermin konter di hadapannya.

Kekosongan mengisinya, dan ini dimanfaatkannya dengan menarik napas dalam-dalam. Degup jantungnya telah kembali normal, dan dia juga berhenti gemetar.

Apa yang...

"Harry? Kamu tak apa-apa?"

Dia menatap ke cermin, melihat orang yang berdiri di pintu dapur, menatap punggungnya dengan tatapan khawatir. Dia mengerjap sekali lagi, dan melihat rambut merah.

Ah, ya... "Tidak apa-apa, Ginny," jawab Harry. Suaranya tidak bergetar, normal. Bagus.

Dia meraih cangkir kopinya, dan berbalik badan, berjalan dan meletakkan cangkir tersebut di atas meja. Dia baru mau menarik kursi untuk duduk, ketika Ginny, yang telah berjalan mendekat dan kini dapat melihat wajahnya dengan jelas, mengernyit kepadanya.

"Kamu pucat sekali," katanya.

Harry mendongak, dan melihat Ginny sudah berdiri dekat dengannya. Sebelah tangan Ginny terangkat, menyentuh pipinya - perasaan elektris menjalar di dalam diri Harry, dan dia harus menahan keinginan untuk memejamkan mata karena sentuhan tersebut.

Ginny, yang tangannya menyentuh pipi Harry, menyadari bahwa wajah Harry agak basah - dia berkeringat dingin. Dia menatap Harry, dan bertanya pelan, "Ada apa?"

Suara tersebut membuat Harry mengembalikan fokusnya kepada Ginny. Dia menarik napas, dan berpikir selama seperkian detik. Sejenak dia mau memberitahukan Ginny apa yang ada di dalam pikirannya, sesuatu yang sudah sangat mengganggunya - namun melihat mata cokelat tersebut, dan wajahnya, Harry menahan lidahnya sendiri.

Dan seolah otaknya sudah terbiasa melakukan hal itu, dia menjawab pelan, tapi lancar, "Tidak apa-apa kok."

"Masa'?" tanya Ginny, mengernyit. "Wajahmu pucat sekali, tahu. Kamu sudah bercermin belum?"

Harry menggigit bibir bawahnya sejenak. Dia memutuskan untuk melanjutkan kebohongannya, berkata, "Er... Sudah. Mungkin tidak apa-apa kok. Cuma... Tidur dengan posisi tidak enak... Mungkin."

Kernyitan di dahi Ginny berkurang sedikit. Namun sesuatu melintas di dalam mata Ginny. Hanya sekilas, namun Harry sempat melihatnya.

Harry punya firasat aneh di sini.

"Oh..." kata Ginny pelan. "Kamu tidak tidur di kasurmu semalam?"

"Ya, memang," jawab Harry, mengangguk.

"Di mana kamu tidur?" tanya Ginny.

"Di... Sofa," jawab Harry pelan. Sesuatu terasa menggedor di dalam otaknya, namun dia buru-buru mendorong firasat aneh itu jauh-jauh dari dalam kepalanya.

"Ada hubungannya dengan Hermione yang tertidur di sofa?" tanya Ginny.

Nada suara normal, artikulasi jelas, dan terlantun seperti pertanyaan ringan sehari-hari. Namun Harry bahkan bisa mendengar ada sesuatu di dalam suara tersebut, sesuatu yang membuatnya diam sejenak dan memutuskan untuk berbicara lebih hati-hati lagi kepada siapapun di masa depan.

"Ya..." bubur sudah menjadi nasi, ekspresi Ginny mengatakan dengan jelas bahwa dia meminta kejujuran. Jadi, Harry menghela napas pelan, dan menjawab, "Ya, aku semalam tidur di sofa bersama Hermione."

Dia meringis sedikit dalam hati, sejenak mengira Ginny akan mulai mengernyit dan... Siapa tahu apa yang akan terjadi. Namun yang dilihatnya membuatnya nyaris membelalak tidak percaya.

Ginny mengangguk.

"Kalian mengobrol sepanjang malam? Sampai ketiduran di sofa?" tanya Ginny, yang berjalan ke konter dan mengambil cangkir.

Harry mengangkat kedua alisnya dengan bingung, sementara Ginny mulai menyeduh kopi hangat, menyendok gula dan krim ke dalamnya. Dia bahkan tidak bereaksi lagi, sampai Ginny mulai mengaduk kopinya, dan menoleh kepadanya.

Sebelah alis terangkat, Ginny bertanya, "Well?"

"Ya, memang," jawab Harry, masih menatapnya dengan bingung. "Kami mengobrol, dan tertidur di sofa, dan... Begitulah."

"Mmm-hmm," angguk Ginny. "Dan kalian sudah membereskan masalah di antara kalian?"

"Bagaimana kamu tahu-"

"Oh, ayolah," kata Ginny tidak sabar. "Setiap orang yang hadir di pesta bisa merasakan ada keanehan sedikit di antara kalian berdua. Kalian tidak berbicara sedikitpun selama pesta berlangsung, kan?"

"Ya, memang," jawab Harry. Dia mendengus pelan, dan menjawab, "Oke, kami sudah... Baikan. Bisa dikatakan begitu."

"Kalau begitu, aku turut senang. Cheers," kata Ginny, nyengir. Dia mengangkat cangkir kopinya sedikit ke atas, tanda bersulang.

Menatap Ginny yang menyeruput kopinya dengan santai dengan tak percaya, Harry berkata pelan, "Er... Jadi, kamu tidak apa-apa dengan hal itu?"

"Dengan apa?" tanya Ginny.

"Dengan... Kamu tahu... Aku tadinya..." Harry menggeleng-geleng. Dia menarik napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan, "Aku tadinya berpikir kamu akan... Well, marah kepadaku karena aku... Dan Hermione..."

Ginny mengerjap, menatapnya dengan bingung selama beberapa detik. Perlu tambahan beberapa saat lagi baginya sampai semuanya dia mengerti, dan saat hal tersebut terjadi, dia mendengus.

"Kamu berpikir aku akan cemburu? Karena Hermione?" tanya Ginny, nyengir geli.

"Ya, memang," jawab Harry.

Suara tawa dari Ginny terdengar merdu, geli, dan lepas. Kombinasi unik yang sangat khas, Harry mendapati perasaan aneh di dirinya mulai mengendur dan lepas.

Ginny menggeleng, menyibakkan rambut dari wajahnya. Dia menatap Harry dengan tersenyum, berkata, "Merlin, tentu saja tidak. Darimana kamu mendapatkan ide seperti itu?"

"Hei, aku masih ingat beberapa bulan lalu, kamu langsung melompat mencegahku pergi bersama Cho ke menara Ravenclaw -"

"Itu berbeda," jawab Ginny, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Dia berkata, "Tidak seperti dengan Cho, aku percaya pada Hermione."

"Benarkah?" tanya Harry. Dia merasa lega mengetahui ini, namun tetap ada pertanyaan yang masih mengganjal. Maukah dia melanjutkan?

Mengangkat bahunya, dia menyerah. Toh nanti dia juga pasti akan menanyakannya suatu saat. Menarik napas, dia menanyakan pertanyaan sederhana yang baru saja muncul dari perutnya barusan:

"Kenapa?"

"Sori?" tanya Ginny.

"Kenapa kamu percaya pada Hermione... Tapi tidak pada Cho?" tanya Harry.

Ginny mengernyit kecil. Dia bersandar ke lemari es, matanya menatap ke langit-langit, ekspresinya tampak berpikir. Harry menunggu dengan sabar, hingga Ginny akhirnya berbicara,

"Tahukah kamu Harry, apa alasan aku tak pernah mencoba... Apa istilahnya ya..." Dia mengernyit lebih dalam lagi, sebelum melanjutkan, "Mencoba bisa bergaul denganmu, hingga tahun kelima tiba?"

"Tidak," jawab Harry.

"Alasannya sederhana: Hermione," kata Ginny.

Mengerjap bingung untuk yang kesekian kalinya di pagi hari ini, Harry terdiam sejenak. Butuh waktu beberapa saat hingga dia bisa bertanya lagi, "Maksudmu?"

"Jadi begini," kata Ginny, tersenyum kecil sekarang. "Aku dari dulu, sejak saat aku melihatmu di Hogwarts saat tahun pertamaku, dan tahun keduamu, selalu berpikir bahwa ada sesuatu antara kamu dan Hermione."

"Apa?" tanya Harry tidak percaya. "Masa sih kamu juga..."

"Serius, Harry," kata Ginny. "Ayolah. Apalagi di tahun keempat, saat kamu baru saja diumumkan sebagai juara keempat! Kamu hanya bersama Hermione saja, terus-menerus, konstan, tanpa henti. Ron sedang bertingkah seperti orang bego saat itu, kan? Hermione bahkan seolah melupakan Ron saat itu, dia juga terus bersamamu, seolah dia menjadi partner permanenmu."

"Partner permanen?"

"Itu apa yang digosipkan anak-anak cewek dulu," kata Ginny tak sabar. "Kenyataannya adalah, semuanya memang terlihat begitu, Harry. Bahkan dengan adanya gosip dari Daily Prophet, kamu dan Hermione tidak menjauh dan berusaha menutupi kedekatan kalian satu sama lain. Kalian terus bersama, tak memedulikan ejekan-ejekan dari Slytherin. Aku dan teman-teman angkatanku juga seringkali melihat kalian keluar dari Aula Besar paling pertama, berjalan mengelilingi danau berdua saja, beberapa kali, membicarakan entah apa. Semuanya terlihat seperti itu.

"Makanya, tahun keempat itu, aku sudah berniat... Kamu tahu... Yah..." Ginny mengangkat bahunya, "Melepas harapan. Aku lihat kamu tampak sudah cocok sekali dengannya, dan... Sebagainya.

"Tapi menjelang pesta dansa natal, saat aku dan Hermione menjadi semakin dekat karena kamu dan Ron sedang menikmati masa buddy-buddy kalian kembali, kami sering berbicara dan mengobrol mengenai banyak hal. Salah satunya... Mengenai kamu."

"A-Aku?"

"Ya, kamu," jawab Ginny, mengangguk agak malu. "Di salah satu pembicaraan itu, Hermione bercerita padaku mengenai hubungan kalian berdua. Dia membantah habis-habisan semua yang kukatakan dan kutanyakan, mungkin nyaris mengacungkan tongkat sihirnya dengan mengancam kepadaku karena aku kebanyakan bertanya 'Jadi, kamu bukan pacar Harry?'. Dan... Dari situlah dia mulai memberiku nasihat-nasihat. Mengenai... Kamu. Aku sudah bilang padamu mengenai ini tahun lalu, kan?"

Harry menganga sedikit, mencerna semua yang dikatakan Ginny tersebut. Kemudian otaknya mulai bekerja, mengingat yang dikatakan oleh Ginny tahun lalu, saat pemakaman Dumbledore, saat dia berkata bahwa 'Hermione yang memberinya saran...'

Akhirnya semuanya menyala di kepala Harry, seolah seseorang memasangkan bola lampu besar nan terang di dalamnya. Dia terkekeh.

"Ah, anak pintar, Hermione itu," kata Harry, masih terkekeh. "Benar-benar pintar... Sekarang aku mengerti apa maksudmu."

"Ya. Aku sangat percaya kepada Hermione, karena dia justru orang pertama yang memberiku saran-saran mengenai... Kamu tahu..."

"Cara menarik perhatianku, kan?" cengir Harry.

"Yap, seratus persen benar," kata Ginny, nyengir balik. "Aku tak bisa mencari kata-kata yang lebih bagus lagi, jadi anggap saja itu sudah yang terbaik."

"Dia benar-benar cerdas dalam hal itu," kata Harry, menggeleng-geleng geli. "Aku heran... Tapi kok..."

"Apa?" tanya Ginny.

Harry tersenyum jail. Dia bersandar ke lemari es juga, dan bertanya, "Tapi kok kamu tak khawatir kalau Hermione suatu saat akan mencoba 'menarik perhatianku' dengan cara yang sama?"

Tampak jelas bahwa Ginny menyadari nada jail dari Harry tersebut. Dia memasang wajah serius, dan menjawab, "Hmm... Mungkin karena aku yakin kamu sudah 'tertarik' kepadaku?"

"Oh ya?" tanya Harry. "Dan darimana kamu tahu?"

Ginny mengangkat bahunya. "Aku tak tahu. Tapi kan..." dia tersenyum, maju selangkah mendekat ke Harry. "...Aku bisa mencari tahu mengenai itu."

Bibir mereka bertemu. Harry nyengir kecil dalam ciuman mereka, sementara mereka berdua memejamkan mata. Menggerakkan bibir sedikit, berusaha meraba lebih banyak, Harry maju mendekat, membuat tubuh mereka juga bersentuhan.

Mungkin seharusnya dia tak melakukan hal tersebut.

Tangan Ginny dalam sekejap terangkat ke bahu Harry, sementara Harry ke pinggangnya. Tanpa memutus ciuman mereka sedikitpun, Harry membelai sisi tubuh Ginny, membuatnya mengeluarkan suara desahan. Cukup, sangat cukup untuk membuat suatu bagian tertentu dari tubuh Harry terbangun.

"Apa itu?" bisik Ginny.

"Itu... Namanya pagi hari," jawab Harry, melanjutkan ciuman mereka.

Panas mulai melanda mereka berdua, namun mereka tidak berhenti. Harry mendorong Ginny sedikit ke samping, membuat mereka berputar sedikit hingga punggung Ginny menubruk pintu lemari es, dengan suara lumayan. Beberapa perabot di atasnya bergoyang sedikit, membuat suara-suara.

"Uups," bisik Harry.

Ginny terkikik, dia mengalungkan sebelah lengannya ke sekeliling leher Harry. "Hmm... Sepertinya jawabannya sudah jelas."

"Benarkah?" tanya Harry, memberikan ciuman kecil dan ringan, membuka matanya untuk menatap Ginny. Api membara di dalam bola mata mereka berdua, penuh akan gairah. "Aku masih meragukannya."

"Wah, kita bisa melanjutkannya, kok," bisik Ginny, mencium dagu Harry dengan menggoda. Harry menggigit lidahnya untuk mencegahnya mengeluarkan suara-suara aneh, namun dia bahkan nyaris tidak bisa menahannya lagi. Merlin, kemana semua kekuatan tekad yang dulu dia miliki saat pertempuran?

"Oh?" desah Harry. "Di sini?"

"Kecuali kamu mau di... Tempat yang lebih empuk?" tanya Ginny.

Api sudah berubah menjadi kilatan, dan Harry mengangkat sebelah alisnya.

"Kupikir lebih cepat kita mengetahui jawabannya, lebih baik," katanya.

Mereka berdua melanjutkan ciuman mereka, gaya tarik seolah menarik mereka berdua bagai dua kutub magnet berlawanan. Tangan mereka bekerja, meraih bagian bawah baju masing-masing, Ginny mulai menarik kaus yang dikenakan Harry ke atas, dan Harry sudah hampir berhasil menyingkap gaun tidur Ginny, di balik sweaternya -

"Hei, selamat pagi."

Rasanya tak pernah Harry bergerak secepat itu.

Dia melepaskan diri dengan kecepatan luar biasa dari Ginny, berbalik badan, membetulkan kausnya, merapikan bajunya, sekaligus menahan agar kacamatanya tidak terjatuh - semuanya dalam waktu kurang dari satu detik. Dia menoleh ke arah pintu, menatap ke orang yang baru saja masuk melewatinya.

Ron.

Mengantuk, jalan agak sempoyongan, mata setengah-terpejam, namun jelas sudah bangun, adalah Ron. Dia berjalan terpatah-patah ke konter, mengambil gelas dan mulai mengisinya dengan air putih.

Harry dan Ginny diam, menatapnya dengan mulut setengah terbuka, sementara Ron berjalan ke meja, menghenyakkan diri ke satu kursi dan menghela napas panjang-panjang - ah, bukan. Dia menguap lebar-lebar.

"Kalian... Berdua... Bangun... Pagi... Sekali... Ku... Masih... Ngantuk..." ujar Ron, sembari menguap. Dia meminum air putihnya perlahan-lahan. Setiap tegukan tampak membangunkannya, membuatnya semakin segar dan bugar.

Harry menoleh ke Ginny, bertukar pandang.

Mereka berdua mendengus bersamaan.

"Oke... Jadi..." kata Ginny.

"Tidak, jawabannya belum ketemu," kata Harry, nyengir.

Tawa dari Ginny membuat Ron mendongak menatap mereka berdua. Dia bertanya lemah, "Hei... Apa yang lucu?"

.

-o0o-

.

Desau angin mengalir di atas lembah-lembah. Matahari pergantian tahun telah turun kembali sejak beberapa hari lalu, menandakan masa-masa liburan natal yang telah usai. Di sebuah desa kecil bernama Hogsmeade, seluruh penduduknya mulai beraktivitas kembali. Absennya murid-murid Hogwarts dari kunjungan desa selama setahun penuh tak mengurangi kehidupan dan aktivitas perekonomian sama sekali. Mereka tetap saling membantu memulihkan desa mereka, bepergian ke berbagai tempat untuk berdagang, dan lain-lain.

Beberapa kilometer dari desa tersebut, kastil Hogwarts juga telah aktif kembali. Murid-murid kembali dari rumah mereka, menyeret kaki mereka yang terasa enggan meninggalkan rumah. Namun ada yang sedikit berbeda dari mereka.

Jika biasanya anak-anak tersebut enggan kembali karena merindukan suasana enak dan kenyamanan di rumah mereka, bersama keluarga mereka, kali ini mereka enggan kembali karena fakta bahwa ada beberapa hal yang belum terselesaikan di Hogwarts. Seolah tak memedulikan anggota-anggota Auror kementrian yang telah berusaha mencari setiap sudut dan petunjuk di dalam kastil, tetap saja satu hal belum terpecahkan.

Yaitu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan beruntun yang menarik nyawa tiga orang murid tersebut.

Kejadian-kejadian seperti itu dalam suasana penyembuhan masyarakat paska-teror Voldemort memang terasa sangat mengganggu. Di satu sisi, orang-orang berhak mendapatkan kabar dan detil yang lebih jelas mengenai apa saja yang sudah berhasil ditemukan. Baik petunjuk, identitas korban, situasi, dan lainnya. Namun di satu sisi lain, menyebarkan semua itu ke banyak orang, pastilah akan berbuntut pada penyebaran secara luas di masyarakat.

Efeknya akan seperti bom: Kepanikan, kekhawatiran, dan kekacauan bisa-bisa terjadi lagi.

Kemudian, ada lagi pertimbangan bahwa jika penyelidikan terus dilakukan secara diam-diam, kemungkinan untuk bisa menangkap pelakunya bisa lebih besar. Analoginya seperti ini: Bayangkan kita mengejar seorang pencuri di sebuah jalanan sempit di antara dua gedung. Jalan sempit tersebut sepi, lenggang, dan mudah untuk dilalui. Sekilas sepertinya kita memberi kesempatan kepada si pelaku untuk bisa lari sekencang-kencangnya dari kita, memang. Namun di sisi lain kita juga bisa ikut berlari kencang, dan dengan posisi kita yang sebagai pengejar, kita bisa melakukan hal-hal yang lebih ekstrim dibandingkan si pelaku.

Melemparkan kutukan kepadanya dari belakang, misalnya.

Dan sekarang mari bayangkan kita mengejar si pelaku di tengah-tengah jalanan pedestrian yang ramai. Orang-orang berlalu lalang, berjalan kaki. Si pelaku memang jadi tidak bisa lari dengan leluasa, namun siapa yang butuh itu? Yang perlu si pelaku lakukan hanyalah berbaur dengan keramaian, menghilangkan jejak. Kita mengenal wajahnya? Dia bisa mengambil sandera.

Penerapannya kepada Hogwarts bisa dianggap sebagai berikut: Jika kita menyebarluaskan kabar mengenai tewasnya murid-murid, masyarakat akan ribut. Mereka akan menarik anak-anak mereka dari kastil. Dengan demikian, si pelaku menjadi memiliki alasan sangat bagus untuk bisa keluar dari Hogwarts tanpa cela, tanpa masalah. Tambahkan dengan fakta bahwa dia akan kembali ke masyarakat.

Bayangkan apa yang bisa dilakukan orang yang sanggup melakukan pembunuhan sangat kejam seperti yang dilakukan kepada Michael, Su, dan Cornish, kepada orang-orang tak bersalah di lingkungan masyarakat luas.

Jika dia melakukan hal macam-macam, akan sangat sulit untuk bisa menangkapnya.

Sihir dan pengamanan dari McGonagall telah menjamin bahwa tak ada orang lain yang keluar dari Hogwarts selama liburan natal kecuali seluruh murid. Tak ada staf yang keluar, tak ada siapapun yang meninggalkan lingkungan kastil. Bahkan para Auror yang berganti Shift jaga selalu diperiksa luar-dalam sebelum mereka bisa pergi.

Singkat kata, kemungkinan bahwa pelakunya adalah salah seorang murid telah meningkat menjadi 100 persen.

Menghela napasnya, Hermione bersandar di kursi dan memejamkan matanya. Puluhan menit dia telah berusaha untuk mengerjakan dan menyelesaikan membaca buku-buku tingkat lanjut, demi kelancaran ujian NEWT. Namun selama puluhan menit itu, yang dia berhasil dapatkan hanyalah kesimpulan barusan.

Dia tidak bisa berkonsentrasi belajar, dia malah menganalisis semua kondisi dan ketegangan di kastil sekarang ini.

Membuka matanya, dia melihat seorang Auror tinggi berotot yang berdiri kaku di dekat pintu perpustakaan. Berkulit hitam, dan mengawasi perpustakaan, matanya berkilat-kilat seperti elang. Jika dilihat sekilas, orang akan bisa menyangka dia adalah Kingsley semasa mudanya. Tatapannya jelas menampakkan bahwa dia bukanlah pemain baru di jagad pertempuran melawan sihir hitam. Dia adalah salah satu bukti bahwa kementrian benar-benar serius dalam membantu pengamanan Hogwarts.

Untunglah Kingsley bisa dipercaya. Kalau saja kekuasaan tertinggi kementrian ada di tangan orang lain, siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Memang keberadaan Auror-Auror yang senantiasa berpatroli di dalam kastil cukup mengganggu dan membuat tidak nyaman, namun setidaknya bisa memberikan keamanan.

Tapi, tetap saja. Bagi Hermione, mereka tetap membuat tidak nyaman. Dan jika dia merasa tidak nyaman, sangat sulit baginya untuk menjaga pikirannya tetap fokus.

Akhirnya, Hermione memutuskan untuk menyerah. Dia membuka tasnya, mengayunkan seluruh tongkat sihirnya sekali. Seluruh buku-bukunya langsung masuk dan membereskan diri, tertata dan tersusun dengan rapi di dalam tas. Dia bangkit dari kursi, menyampirkan tasnya di bahu dan memeluk dua buku tebal tambahan, sebagai bacaan sebelum tidur. Mungkin dia bisa mendapatkan ilmu lebih baik jika membacanya di dalam ketenangan kamarnya.

Saat dia keluar dari pintu perpustakaan, tanpa basa-basi si Auror yang dari tadi berdiri di pintu perpustakaan langsung berjalan merendenginya. Tentu saja hal ini membuat Hermione kaget, dia menghentikan langkahnya dalam sekejap.

"Apa yang Anda lakukan?" tanya Hermione, bingung.

Si Auror tidak bereaksi lebih dalam akan nada di pertanyaan Hermione tersebut. Dia menjawab dengan tenang, "Menemanimu ke Menara, tentu saja."

Hermione mengangkat sebelah alisnya. Dia bertanya, "Kenapa? Aku kira Anda bertugas menjaga perpustakaan."

"Memang, tapi kamu akan kembali ke Menara, dan tidak baik jika berjalan sendirian di malam hari pada saat-saat seperti ini, Miss Granger. Kamu tentu tahu apa yang kumaksud," kata si Auror.

"Kenapa cuma aku?" tanya Hermione pelan. "Dari tadi banyak murid-murid yang keluar sendirian juga, kenapa cuma aku yang Anda antar?"

Auror tersebut mengernyit sedikit, raut mukanya yang tadi sangat tenang dan tak bercela berubah sedikit. Ada sesuatu yang tampak sedang mengganggu pikirannya, kemungkinan besar dia sedang berusaha mencegah sesuatu dari terlepas terkatakan. Apakah itu sebuah rahasia, atau sesuatu informasi yang berbahaya, Hermione tidak tahu.

Beberapa detik terlewat, sebelum si Auror akhirnya berkata lagi dengan suara berbeda. Tidak dibuat-buat, tidak diatur atrikulasinya hingga terdengar tenang dan terlatih. Tidak, itu hanya seperti kalimat biasa, "Tidak sebaiknya kamu berjalan sendirian di malam hari. Tidak aman."

Sebuah kalimat yang berisi sesuatu yang intens. Sesuatu yang tidak Hermione kenali. Apakah itu rasa khawatir?

Apakah si Auror itu mau menemani, karena memang semata-mata khawatir akan keselamatannya?

Menghela napasnya panjang-panjang, Hermione menurunkan kewaspadaannya. Dia sadar sepertinya dia bersikap berlebihan, terlalu mencurigai seseorang yang hanya berniat membantu dan memberi pertolongan. Lagipula, sepertinya tawaran untuk teman berjalan kembali ke Menara sangat bagus untuk diterima.

Namun sayang, Hermione juga menyadari bahwa dia hanya bisa memberi sebuah jawaban atas hal itu.

"Terima kasih, sir, tapi saya pikir Anda tidak perlu repot-repot menemani saya," kata Hermione. "Saya mengetahui jalan menuju ke menara, tidak begitu jauh dari sini kok. Dan jangan mengkhawatirkan saya, Anda 'kan tahu saya."

Tatapan dari si Auror terasa sangat dalam dan menusuk, namun itu hanya sekejap. Si Auror mengangguk pelan, dan mundur sedikit, kembali berdiri di depan pintu perpustakaan.

"Hati-hati, Miss Granger," ujar si Auror.

Hermione mengangguk, berbalik badan dan berjalan menjauh. Dia bisa merasakan tatapan si Auror di punggungnya, cukup intens. Dia tahu bahwa sepertinya si Auror hanya mengawasi, berniat menjaga karena merasa khawatir, namun sekali lagi itu tetap saja membuatnya tidak nyaman.

Mempercepat langkahnya, Hermione berjalan setengah berlari menuju ke Menara Ketua Murid.

.

Dia bahkan nyaris tak menyadari bahwa dia melewati empat koridor panjang, naik turun tangga tiga kali, berpindah ke koridor panjang di sebelah Staircase, hingga dia melewati Staircase tersebut.

Dimana dia bertubrukan dengan seseorang, cukup keras pula, yang berjalan turun dari tangga.

Sebenarnya sih, orang itu hanya berjalan biasa. Hermione saja yang berjalan dengan terlalu cepat.

Butuh waktu beberapa detik, dimana mereka berdua mengisinya dengan mengeluh dan meringis. Beberapa detik lagi untuk mendongak, dan melihat satu sama lain, sebelum akhirnya mereka bisa mengidentifikasi siapa penabrak masing-masing.

"Hermione?" tanya Harry.

"Harry! Apa yang kamu - Apa yang -"

"Er - rileks, aku baru saja kembali dari menara Gryffindor," jawab Harry cepat-cepat.

"Menara Gryffindor?" tanya Hermione, dahinya masih agak sakit bekas tubrukan barusan. "Baru balik jam segini? Ngapain saja kamu?"

"Um..." Harry bergerak-gerak gelisah sedikit. Wajahnya bahkan sedikit memerah, membuat Hermione memiringkan kepalanya sedikit dengan penasaran.

"Oke. Oke, akan kujawab," kata Harry, menarik napas dalam-dalam. Dia menatap Hermione sejenak, sebelum menjawab, "Ginny."

Lampu di dalam kepala Hermione, yang senantiasa menyala setiap saat, berubah menjadi lebih terang. Satu kata-jawaban dari Harry tersebut sudah membuatnya mengerti sepenuhnya. Dia mengangguk, berkata, "Ah."

"Er... Yeah," kata Harry, nyengir agak malu-malu. Dia maju selangkah, dan balik bertanya, "Kalau kamu? Tak biasanya kamu berjalan secepat itu, sangat terburu-buru. Darimana, dan ada apa?"

"Itu..." Hermione berniat berbohong, mencari alasan. Namun melihat mata sahabatnya tersebut, dia langsung sadar bahwa dia tak mungkin bisa berbohong. Jadi, dia menghela napas panjang-panjang, dan mencurahkan semua yang mengganggu pikirannya sepanjang malam kepada Harry.

Bagai dam jebol, semuanya mengalir begitu saja dengan derasnya. Dari sulitnya berkonsentrasi untuk belajar, hingga mengenai si Auror yang bersikap aneh dan membuat tidak nyaman. Harry mendengarkan semuanya, sementara mereka berdua berjalan pelan menuju ke Menara mereka.

"...dan... Maksudku..." Hermione menghela napas lagi. Dia menunduk, memandangi lantai koridor yang mereka sedang tapaki. "..maksudku... Aku tahu bahwa mungkin dia hanya sekedar khawatir dan peduli padaku, tanpa maksud lain. Tapi..."

"Entahlah, Hermione," kata Harry tiba-tiba, memotong kalimat Hermione. Kata pertama yang dikeluarkannya setelah bermenit-menit diam mendengarkan. "Aku tidak akan begitu yakin. Aku tadi juga baru mau kembali ke Menara, saat aku berpapasan dengan seoang Auror yang langsung berbalik badan dan berjalan mengikutiku di belakang. Aku bertanya padanya, dan yah... Sisanya mirip dengan yang baru saja kamu ceritakan."

"Kamu juga mengalaminya?" bisik Hermione.

"Ya," jawab Harry.

Hermione mengernyit, menggigit bibir bawahnya dan berhenti berjalan, menatap Harry utuh-utuh. Tingkah yang agak tidak wajar jika dilakukan dua Auror di saat bersamaan, dengan alasan yang sama juga. Dan itu hanya sekedar berpapasan... Yang dialami Harry.

Harry menunggu, namun Hermione tak memberikan tanda-tanda dia akan segera berbicara dalam waktu dekat. Jadi, dia bertanya lebih dulu, "Apa mungkin... Mereka memang ditugaskan untuk... Menjaga kita?"

Gelengan kepala yang diberikan oleh Hermione membuat Harry merasa bingung sedikit. Hermione menyadari ekspresi Harry tersebut, dan dia berkata, "Terlalu aneh kalau mereka memang ditugaskan untuk menjaga. Mereka jelas baru mencari dan memikirkan alasan untuk menemani kita berdua di tempat itu juga. Jadi mereka tidak tersuruh untuk mengikuti kita demi menjaga. Kan kalau mereka seperti itu, mereka bisa tinggal menjawab 'Oh, kami diperintahkan untuk menjaga kalian. Perintah Kepala Sekolah.' begitu. Tapi ini tidak."

"Jadi mereka mau mengikuti kita karena mereka sendiri yang mau. Kenapa?" tanya Harry, semakin bingung.

"Well, ada beberapa alasan seseorang mau mengikuti orang lain berjalan. Entah karena dia sedang naksir orang itu, dia sedang penasaran akan orang itu, dia memang ingin menjaga orang itu, atau..." Hermione menggigit bibirnya lagi. Ada satu alasan lagi, yang terasa gawat dan mengkhawatirkan sekaligus...

Harry mengernyit, dia mengerti juga. Ada satu alasan lagi, alasan yang sangat bagus.

Sesuatu yang membuatnya mengernyit.

"Aku mengerti," bisik Harry. Dia meraih lengan Hermione, dan menariknya.

"Harry?"

"Kita sebaiknya kembali ke Menara secepat mungkin," kata Harry cepat. "Kalau kita tertangkap di luar begini, kita malah semakin menguatkan alasan mereka. Kita lanjutkan ini di Menara."

Tanpa memprotes sama sekali, Hermione menambah kecepatan berjalannya. Dia langsung merendengi Harry, yang wajahnya kaku.

"Saint Joan," kata Harry cepat ke sepasang baju zirah - kata kunci baru, yang langsung disambut dengan kedua zirah tersebut memberi hormat, dan bergerak menyingkir. Dinding berputar dan bergeser, memperlihatkan gang sempit yang menjadi pintu masuk.

Hermione masuk terlebih dahulu, dengan Hermione sedikit di belakangnya. Dia merasa lega sekali melihat bagian dalam Ruang Rekreasi yang hangat, sofa-sofanya seolah menyambut dengan bahagia dan bersemangat -

Ketika dia menyadari ada yang benar-benar salah.

Karpet basah kuyup, lukisan singa di bagian tengahnya tertutup warna merah yang compang-camping tidak teratur. Seolah ada seseorang yang baru saja menuliskan grafiti di sana, berbentuk, namun karena catnya belum kering maka belum terbaca.

Mengernyit, Hermione menunduk, berniat membaca bentuk yang terlukis di atas karpet keemasan tersebut. Namun mendadak satu tetes air menimpa punggung tangannya yang tak tertutup jubah.

Setidaknya, itu dia sangka air, sebelum dia melihat warnanya merah.

"Merlin..." bisik Harry, penuh horor dan kengerian.

Hermione menoleh ke Harry, melihatnya masih berdiri beberapa meter di belakangnya. Dia sedang mendongak menatap langit-langit, ekspresinya murni ngeri.

Memaksa diri untuk menelan ludah, Hermione menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak kencang - usaha yang sia-sia.

Akhirnya, dia mendongak.

.