Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.


"People die everyday. Everything's going to be fine."

.

"Hei, Jack?"

"Ya?"

"Bagaimana menurutmu mengenai hal ini?"

Auror yang bernama Jack menoleh kepada rekannya tersebut. Dia menatapnya sejenak, masih dalam posisi berlutut di atas karpet. Menghela napasnya, dia menjawab,

"Aku tidak tahu, Rox. Ini... Aku hanya bisa mengatakan..." dia memandang ke langit-langit, tempat dimana horor berada hingga sejam lalu, sebelum akhirnya berhasil diturunkan. "...Ini... Sadis."

"Yeah, benar," gumam Rox, menatap karpet yang bernoda darah merah tua pekat. "Sangat sadis..."

"Bagaimana caranya seseorang bisa melakukan ini, aku tidak tahu," kata Jack, bangkit berdiri. "Terlalu kejam."

"Ya, tapi mungkin wajar saja. Korban anak Slytherin, kan? Keturunan Darah-Murni juga, pastilah dia menjilat jubah Kau-Tahu-Siapa sementara kita bertempur di sini pada malam hari itu," kata Rox dingin.

"Kalau motifnya hanya untuk balas dendam, semuanya bisa masuk akal. Tapi sayangnya tidak," kata Jack. "Padahal tadinya pembunuhan-pembunuhan ini mengikuti sebuah pola tertentu, yang mana bisa kita telusuri."

"Ya, tadinya kukira ini semua berhubungan dengan yang dikatakan oleh McGonagall. Apa namanya... Tujuh benda... Mematikan?"

"Seven deadly sins - tujuh dosa mematikan," koreksi Jack.

"Ya, apalah namanya," kata Rox tak sabar. "Apapun itu, adanya dari buku sastra karangan Muggle. Kukira pelakunya adalah Kelahiran-Muggle, karena bisa mengetahui hal-hal seperti itu."

"Ya, benar! G untuk Gluttony, L untuk Lust... Tapi, sekarang..." Jack menggeleng, menunduk menatap tulisan huruf yang ada di karpet, tertulis dengan kejamnya. "...sekarang, aku tidak mengerti."

"Selain Gluttony dan Lust, yang tersisa hanyalah Greed, Pride, Sloth, Envy, dan Wrath, kan? Berarti itu G, P, S, E, atau W, seharusnya yang tertulis di sini," kata Rox, mengernyit.

"Entahlah. Mungkin... Kita semua salah sejak awal," kata Jack ragu-ragu.

"Mungkin saja," gumam Rox setuju. Mereka diam beberapa saat lagi, sampai akhirnya Rox menghela napas, dan menatap langit-langit ruangan.

Lima pasak masih terdapat di sana, berwarna hitam legam, kejam, dan tampak kokoh. Sepertinya diproduksi dengan sihir tingkat tinggi, dan ditancapkan dengan kekuatan besar. Masing-masing pasak tertempel darah kering di permukaannya, bekas darah anak tidak beruntung dari Slytherin tersebut. Sisa-sisa daging masih menempel di sana, berasal dari lima titik tusukan di tubuh anak tersebut: Kepala, dua tangan dan dua kaki. Posisinya sangat mengerikan, seperti disalib.

Tambahkan dengan seluruh organ dalamnya yang sudah dicairkan, kemungkinan dengan suatu ramuan yang sangat asam. Kondisi anak itu saat ditemukan sangat mengenaskan.

"Kita bahkan tak bisa mencabut pasaknya tanpa menghancurkan langit-langitnya. Entah bagaimana bisa sekuat itu," kata Jack pelan.

"Sebenarnya bisa saja sekuat ini. Aku bisa, kamu juga bisa, 'kan," kata Rox.

"Ya, memang. Tapi kita membicarakan mengenai kemungkinan bahwa pelakunya adalah murid, dan..." Jack merendahkan suaranya, seolah takut pembicaraan mereka dicuri dengar oleh orang lain. Hal yang tak perlu sesungguhnya, karena di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua, yang ditugaskan khusus oleh Kingsley untuk menjaganya sebagai TKP.

"...Dan.. Kamu tahu. Kemungkinan bahwa pelakunya adalah... Salah satu dari mereka berdua?" bisik Jack.

"Oh, tidak ini lagi," kata Rox kesal. "Kupikir kita berdua sudah cukup mencurigai dan berprasangka buruk kepada mereka berdua! Masa masih ditambah ini lagi?"

"Tapi, akuilah! Kamu bahkan merasa aneh, kan?" kata Jack kepada seniornya tersebut. "Siapa lagi yang memiliki Akses ke seluruh tempat di kastil? Siapa yang kemungkinan mengetahui seluk beluk kastil dengan sebegitu baiknya, sehingga dapat menghindari penjagaan kita, menyergap korban dan membawanya ke dalam sini tanpa ketahuan sedikit pun?"

Rox diam, menatap Jack dengan kernyitan di dahi. Rupanya dia sedang berpikir, mempertimbangkan semua yang baru saja dikatakan Jack. Bersemangat karena tidak langsung disanggah, Jack melanjutkan, "Jika ada murid yang memiliki cukup kekuatan untuk mengkonjurasi pasak seperti ini, dan menancapkannya begitu dalam ke langit-langit, kukira hanya mereka orangnya. Dan tambahkan lagi dengan fakta bahwa kita sedang berada di markasnya mereka. Hanya mereka, selain McGonagall, yang memiliki Akses ke dalam sini, kan!"

"Oke. Aku bisa melihat logika di sana, Jack," kata Rox. Masih mengernyit, dia mendongak menatap Jack dan berkata lagi, "Tapi kita selama ini sudah terlalu banyak mencurigai Harry Potter dan teman-temannya. Akui itu!" Nada Rox meninggi, saat melihat Jack memutar bola matanya. "Akuilah! Kita sudah terlalu banyak memperlakukan Potter dengan tidak baik, kementrian kita sampai masyarakat kita banyak sekali memperlakukannya dengan tidak sepatutnya! Untunglah Potter tidak merubah hatinya sama sekali untuk mengalahkan Kau-Tahu-Siapa! Seandainya aku adalah dia, aku pasti sudah memunggungi dunia yang memperlakukanku seperti itu! Mungkin aku bahkan akan bergabung dengan Kau-Tahu-Siapa sendiri!"

"Oke! Oke, oke, oke," kata Jack, mengangkat tangannya. "Tenang. Aku hanya mengemukakan pendapatku 'kan? Dan lagi memang benar kan semua logikaku. Wajar saja kan jika mencurigai mereka berdua."

Diam sejenak, Rox mengambil waktu semenit penuh untuk berpikir sebelum menjawab, "Ya, memang wajar. Mungkin itu sebabnya Kingsley dan McGonagall setuju untuk menginterogasi mereka berdua."

"Padahal tadinya mereka yang paling menentang adanya kecurigaan kepada mereka. Sekarang...?"

"Entah apakah karena mereka tidak konsisten, atau karena mereka tak punya pilihan lain," kata Rox. "Tekanan sangat besar. Pembunuhan ini ibarat pukulan sangat keras terhadap seluruh elemen penjaga dan pembangun masyarakat sihir Inggris saat ini. Termasuk Kementrian dan Orde Phoenix. Mereka mungkin hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan."

"Ya. Tapi jujur, aku tetap berpendapat bahwa mereka, atau minimal salah satu dari merekalah pelaku semua ini," kata Jack.

Rox tidak menjawab. Dia mengernyitkan dahinya lagi, memandang berkeliling ruang rekreasi yang luas dan megah. Tak tersentuh, dan tak bernoda, minus sisa-sisa kekejaman yang tertempel di langit-langit ruangan.

Hanya orang gila yang sanggup melakukan perbuatan sekejam ini...

.

-o0o-

.

"Ya. Akan kami kabari lagi Anda, Mrs. Zabini. Selamat malam," kata McGonagall. Dia menarik kepalanya keluar dari perapian, dan bangkit berdiri, merapikan kembali jubahnya. Menghela napas dengan sangat lelah, dia berbalik badan.

Kingsley, Harry, Hermione, dan empat Auror lagi berdiri di kantornya. Dia menatap ke Kingsley, yang mengangguk pelan.

Sudah saatnya.

Menggeleng sedih, McGonagall mengalihkan tatapannya kepada Harry dan Hermione. Mereka berdua berdiri berdekatan, tangan mereka saling menggenggam mencoba mencari kehangatan dan ketenangan. Hermione bisa merasakan tangan Harry tidak mencengkeramnya begitu keras, dia hanya seperti mengulurkannya, seolah mempersilakan Hermione untuk mencari ketenangan darinya.

Setelah ragu-ragu di awal, Hermione akhirnya menyerah. Dia mencengkeram tangan Harry keras-keras, berusaha menghilangkan gemetaran yang ada di tubuhnya. Siapapun pastilah akan gemetar jika melihat apa yang baru saja mereka berdua lihat, tak peduli sudah separah apapun pengalaman yang telah mereka lalui.

Tak peduli.

Hermione menatap McGonagall dengan ragu-ragu, sebelum mengerling sedikit ke Harry. Harry, wajahnya kaku dan pucat, mengangguk pelan.

"Baik... Baiklah, Harry, Hermione..." kata McGonagall lemah. Dia tampak sangat sedih, kerutan di wajahnya membuatnya tampak setua Dumbledore, bahkan mungkin lebih tua lagi. "Kalian... Kalian akan kami tanyai dengan Veritaserum. Kumohon bekerjasamalah."

"Jangan khawatir. Kalian bisa memegang kata-kataku," kata Kingsley. "Aku berjanji, ini hanya formalitas. Setidaknya agar beberapa pihak merasa puas dan kami bisa melapor ke Dewan Sekolah. Dengan begini, setelah ini semua selesai kalian akan terlepas dari segala kecurigaan."

Diam sejenak, sebelum Harry dan Hermione mengangguk kembali.

Kingsley menghela napasnya, dan berkata, "Baik, kalau begitu, kita akan melakukannya sekarang -"

"Di sini?" tanya Hermione.

"Tidak, tidak di sini. Kami sudah menyiapkan ruangan khusus, bersama dengan beberapa saksi utusan dari Dewan Sekolah juga," kata Kingsley cepat-cepat.

"Oh, baiklah..." Hermione mengangguk pelan. Dia menggigit bibirnya, dan berkata, "Kalau begitu... Kami pergi sekarang?"

Kingsley sekarang tampak tidak nyaman. Dia bergerak-gerak dengan gelisah, menoleh ke McGonagall dengan tatapan bertanya. McGonagall hanya memiringkan kepalanya ke arah Harry dan Hermione, mengindikasikan bahwa Kingsley harus menyampaikan pada mereka.

Menoleh kembali ke Harry dan Hermione, Kingsley berdeham. Dia berkata, "Sesuai permintaan para anggota Dewan Sekolah, kami meminta tongkat sihir kalian berdua untuk disimpan di sini sebelum interogasi dimulai -"

"Apa?" tanya Harry keras. Hermione membelalak, menatap Kingsley dan McGonagall dengan tidak percaya. Meninggalkan tongkat sihir mereka? Lelucon apa ini? "Yang benar saja!"

"Kumohon, Harry. Hermione. Bekerjasamalah. Mereka merasa khawatir jika yang diinterogasi membawa senjata! Khususnya..." Kingsley menatap Harry, melanjutkan, "Khususnya kamu, Harry. Mereka khawatir. Dan kupikir wajar, karena kamulah yang mengalahkan Voldemort dengan tongkat sihir semata!"

"Tapi melepaskan tongkat sihir kami -"

"Jika mereka melihat semuanya sudah terpenuhi, Harry, mereka akan puas. Dan kalian tidak akan dicurigai lagi!" kata Kingsley.

Harry menyipitkan matanya. Memang benar, berdasar penjelasan dari Kingsley dan McGonagall selama sejam sebelumnya, ternyata mereka berdua sudah dicurigai sejak lama. Persis seperti kata-kata Luna. Pelakunya ingin menjadikan mereka berdua sebagai tersangka. Dan situasi seperti ini, mungkin yang sangat diinginkan pelakunya. Saat-saat mereka berdua tak berdaya, tak bersenjata.

Namun di luar dugaan, Hermione maju lebih dulu. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, tongkat sihirnya yang lama yang dia dapatkan kembali dari kediaman Malfoy setelah pertempuran usai berbulan-bulan lalu. Mengacungkannya, dia bertanya, "Ini. Dimana ditaruhnya?"

"Di-di atas meja saja," kata McGonagall, agak terbata-bata.

Hermione menggigit bibirnya lagi, sebelum meletakkan tongkat sihirnya itu di atas meja McGonagall. Dia menoleh ke Harry, dan melihatnya masih tidak rela.

Kumohon, Harry, pinta Hermione, menatapnya langsung di mata.

Kamu yakin akan hal ini?

Jujur... Tidak, Hermione menunduk sedih. Dia menggeleng kecil, tapi semoga saja ini terakhir. Ayolah...

Menatap Kingsley dan McGonagall, serta empat Auror yang mundur sedikit karena tajamnya pandangannya itu, Harry maju. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, dan meletakkannya di sebelah tongkat sihir Hermione di atas meja.

Setelah itu, dia mundur dan kembali berdiri di samping Hermione, tangannya secara otomatis menggenggam tangan Hermione kembali. Hermione menatapnya dengan diam selama beberapa saat, sebelum menunduk lagi.

"Kuharap kalian mengerti," kata Kingsley. "Tongkat disimpan di sini karena para saksi ingin keamanan penuh. Dan kantor Kepala Sekolah adalah tempat yang sangat aman."

"Kenapa sepertinya kita jadi patuh sepenuhnya kepada para Saksi ini, sih?" tanya Harry sengit. "Kepala Sekolah Hogwarts dan Menteri Sihir, kenapa tidak melawan mereka, kalau Anda berdua memang membela kami?"

"Harry!" seru Hermione memperingatkan.

"Memang, kami membelamu! Percayalah kepada kami, Harry," kata McGonagall cepat-cepat. Dia menatap Harry dengan mata bergetar, sebelum menambahkan, "Tapi para anggota Dewan Sekolah memiliki kekuasaan apa yang tidak aku dan Kingsley miliki: Mereka berkuasa menutup sekolah ini. Mereka bisa memutuskan untuk mengeluarkan murid, menghentikan Hogwarts... Dan kami hanya mencoba melakukan hal yang seharusnya kami lakukan!"

Hening beberapa lama, sampai akhirnya Kingsley berdeham. Nyaris semua mata menoleh kepadanya, dan dia berkata, "Sudah saatnya kita turun. Mereka sudah menunggu kita cukup lama. Mari."

Kingsley berjalan lebih dulu, keluar dari ruang kepala sekolah diikuti oleh empat Auror yang bertugas menjadi bodyguard-nya malam ini. Harry berjalan juga, menarik Hermione, namun Hermione tidak bergerak.

Harry menoleh menatapnya dengan bingung. Hermione masih menatap McGonagall dengan tatapan mata yang intens, sementara McGonagall menatapnya balik dengan pandangan letih dan lemah.

"Hermione?" tanya Harry.

"Turunlah duluan, Harry," kata Hermione pelan. "Aku akan menyusulmu. Janji."

Harry tampak akan protes. Dia membuka mulutnya, namun menutupnya lagi dengan cepat. Menatap McGonagall untuk terakhir kalinya, dia menghela napas panjang-panjang, melepaskan jari-jemarinya dari tangan Hermione. Hermione merasakan dingin dan kekosongan saat tangan tersebut meninggalkannya, namun dia tidak menunjukkan reaksi fisik. Harry berjalan keluar dari kantor kepala sekolah, menutup pintu di belakangnya.

"Ada apa, Hermione?" tanya McGonagall.

Hermione menggeleng-geleng. Dia sudah menduga McGonagall tidak akan membuang-buang waktu. Jadi sepertinya dia tidak perlu lagi mengulur-ngulur. Langsung saja bertanya.

Menarik napas dalam untuk menenangkan diri, Hermione mengambil beberapa detik tambahan untuk diam sebelum berkata, "Profesor, Anda mengetahui siapa yang ada di belakang semua ini."

Hermione diam. Itu dia, hal yang ingin dia katakan telah terucap. Itu bukanlah pertanyaan, itu lebih ke arah tuntutan, tuduhan. Semua selama ini, keanehan yang terjadi bahkan sejak Cornish dirahasiakan di awalnya, membuatnya sampai pada titik ini. Seseorang pasti telah mengetahui semua ini, dan memutuskan untuk mencoba menutupi semua rahasia kebenaran dari dunia luar selama dan serapat mungkin.

Siapa lagi orang yang sanggup melakukan itu selain Kepala Sekolah Hogwarts?

McGonagall tampak shock. Dia menarik napas tajam, dan bertanya, "Bagaimana - bagaimana kamu bisa menuduh begitu, Hermione?"

"Tolong, jawab saja saya, Profesor," kata Hermione pelan. "Kami akan diinterogasi sebentar lagi, sesuatu ketidakadilan sangat besar demi menyelamatkan..." dia tercekat sedikit, entah kenapa pikiran akan apa yang harus mereka hadapi ini menyerbunya bagaikan serbuan Troll. Kesadaran, bahwa lagi-lagi ujungnya benar-benar kena ke Harry... Dan dia. "...jawab saya, Profesor. Kumohon..."

McGonagall menatapnya dengan sangat sedih. Begitu juga dengan semua lukisan kepala sekolah di ruangan tersebut, walau tak disadari oleh mereka berdua. Butuh waktu beberapa detik, sampai McGonagall menemukan suaranya kembali. Dia berkata pelan,

"Aku tidak tahu, Hermione. Sungguh, aku tidak tahu. Tapi..." McGonagall mengangkat tangannya. Kali ini dengan gerakan lebih cepat, lebih yakin dan lebih tegas, membuat Hermione menghentikan pembukaan mulutnya di tengah jalan. "Tapi... Aku berjanji. Aku akan mencari tahu. Aku janji!"

Hermione menatap McGonagall dalam diam. Dia menarik napasnya dengan tenang beberapa kali, mencoba menghilangkan semua perasaan tertekan di dalam dadanya. Akhirnya, dia berkata, "Baik, Profesor. Saya dan Harry akan datang ke sini secepat mungkin untuk mengambil tongkat kami setelah interogasi."

Tak berkata apa-apa lagi, Hermione berbalik badan, meninggalkan ruangan tersebut.

.

Begitu pintu menutup, McGonagall berbalik badan, menatap potret Dumbledore dengan tajam. Dumbledore menggeleng-geleng, menatapnya balik dengan sedih, tak sanggup berkata-kata.

Dia secara sederhana tak dapat memberitahu jawaban yang diketahui Dumbledore asli, jawaban yang dikunci oleh Dumbledore, mencegah lukisannya untuk memberitahu jawaban tersebut.

"Beritahu aku, Albus!" desis McGonagall berang.

"Aku tidak bisa... Maafkan aku, Minerva," bisik potret Dumbledore lemah. "Maafkan aku..."

McGonagall menggeleng-geleng, menunduk sedih. Dia harus memenuhi janjinya, dia sudah berhutang banyak kepada Harry dan Hermione. Tidak... Dunia sihir sudah berhutang banyak kepada mereka berdua. Dia tak mau membiarkan ketidakadilan ini terus berlanjut, dia tidak mau mereka berdua terus menerus mengalami hal-hal seperti ini.

Tidak kepada mereka berdua. Tidak boleh lagi...

Tapi bagaimana caranya?

"Minerva."

McGonagall mendongak dengan kaget. Suara itu - dia sudah berbulan-bulan menempati kantor tersebut, dan selama ini dia tidak pernah berbicara dengannya. Bahkan dia tak pernah terlihat atau terdengar berada dalam kondisi selain tidur di dalam piguranya, dia tak pernah ikut serta dalam semua ini.

Namun dia baru saja berbicara.

"Severus?" bisik McGonagall.

Potret Snape menatapnya balik dengan sepasang mata hitam yang dingin dan datar. Dia mengerling sedikit ke potret Dumbledore di sebelahnya, kemudian berkata, "Aku tidak bisa memberitahumu jawabannya. Aku yang asli telah memblokir pengetahuanku sendiri akan hal ini."

Apa? "Apakah... Kamu bermaksud mengatakan bahwa..." McGonagall menelan ludah. "Bahwa... Kamu mengetahui mengenai jawaban ini juga? Selain Dumbledore?"

"Ya, benar. Tapi dulu. Fokus, Minerva. Aku tak bisa memberitahumu jawabannya," kata Snape. McGonagall mulai menunduk sedih lagi, namun potret Snape dengan cepat berkata, "Tapi aku bisa menyarankanmu sesuatu."

Diam, sementara McGonagall mendongak perlahan, mempertemukan tatapannya dengan tatapan potret Snape di depannya. Potret Snape diam juga selama beberapa detik, membiarkan McGonagall mencoba mengumpulkan fokusnya dan pikiran jernihnya.

Akhirnya, Snape berkata, "Lemari tempat penyimpanan Pensieve. Rak kedua dari paling atas."

McGonagall menoleh tajam ke arah lemari yang dimaksud. Lemari yang dari dalamnya tampak cahaya keperakan aneh memancar lemah. Cahaya dari cairan Pensieve...

"Itu adalah rak mengenai ingatan-ingatan Dumbledore, sepenuhnya, dari tahun kelima Potter dan Granger di sini. Tuangkan semuanya, carilah di dalamnya. Kamu akan menemukan di dalam sana -" Potret Snape berhenti berbicara.

"Kemudian apa?" tanya McGonagall cepat.

Potret Snape mencoba berbicara lagi, namun dia tak mengeluarkan suara apa-apa. Akhirnya, dia menggeleng-geleng dan berkata, "Maafkan aku, Minerva. Memori imprint-ku hanya mengizinkanku memberitahumu sampai titik itu. Kamu harus mencari sendiri di dalamnya... Carilah apa yang kamu cari."

McGonagall memandangi Snape dengan diam, sebelum menoleh kembali ke lemari Pensieve. Kesempatan untuk mendapatkan jawaban semua ini, kemungkinan besar ada di dalam alat sihir memori tersebut. Sangat sederhana, sangat mudah, dan selama ini duduk di dalam kantornya sendiri. McGonagall menggeleng-geleng, dia tidak menduga ternyata seperti ini...

"Tolong jaga agar tak ada yang memasuki ruangan ini sebelum aku selesai," kata McGonagall pelan.

Lukisan Snape dan beberapa lukisan lainnya mengangguk. Aliran sihir merambat dari sisi-sisi pigura, berjalan di sepanjang dinding ke arah tangga berjalan, hingga ke patung gargoyle di bawah. Tangga berhenti bergerak, patung gargoyle merubah posisinya menjadi kuda-kuda berjaga.

Kantor kepala sekolah sudah terkunci rapat.

McGonagall tak menghabiskan waktunya. Hanya ada satu hal yang paling dipedulikannya saat itu, yaitu membongkar semua ini secepatnya. Sepenuhnya. Agar Harry dan Hermione tidak harus diperlakukan seperti ini lagi, agar tidak ada lagi anak yang tewas di bawah pimpinannya, agar semua ini berakhir. Agar tidak ada lagi mimpi buruk di dalam kastil ini.

Dia mengeluarkan Pensieve dari lemarinya, lalu mengayunkan tongkat sihirnya. Seluruh botol-botol perak di rak kedua dari atas melayang, dan mereka memiringkan diri perlahan - menuangkan seluruh isi dari mereka ke dalam Pensieve.

McGonagall menunggu sampai penuangan selesai. Dan itu tidak lama. Segera setelah tetesan terakhir bergabung ke dalam Pensieve, dia langsung masuk ke dalamnya.

.

-o0o-

.

Mengikuti dua Auror di depannya, Hermione memasuki sebuah ruangan kelas di dekat kantor Kepala Sekolah. Saat dia masuk, hal pertama yang dia rasakan adalah atmosfernya yang sangat menekan. Ada dua orang anggota Dewan sekolah di dalam, duduk dengan posisi dan leher yang super kaku. Wajah mereka menyiratkan kelelahan, dan kedutan-kedutan kaku yang menampakkan usia tua mereka yang tertekan.

Ada sebuah meja di tengah ruangan, dengan dua kursi yang disusun berhadapan. Satu kursi berwarna hitam, sedangkan satunya lagi berwarna putih. Kursi putih tersebut sudah terisi oleh seorang pria setengah baya berjubah resmi kementrian.

Hermione mengerti. Dia berjalan ke kursi yang berwarna hitam, dan duduk di sana. Lima pasang mata menatapnya dengan intens, campuran antara curiga, waspada, dan - anehnya - takut. Mungkin wajar bagi mereka semua untuk takut, bagaimanapun dia adalah salah satu pejuang yang ikut berduel dalam pertempuran besar Hogwarts.

Dia sendiri berusaha tidak memedulikan mereka. Tangannya gemetar pelan, dia mengepalkannya keras-keras untuk menyembunyikan serta meredamnya. Tidak sesukses jika dibandingkan dengan saat dia menggenggam lengan Harry, tapinya.

Harry.

Pikiran Hermione berganti lagi, dari yang tadinya mengkhawatirkan dirinya sepenuhnya menjadi khawatir akan sahabatnya tersebut. Dia berharap semoga Harry tidak mengalami yang separah dirinya, semoga Harry tidak apa-apa dan bisa menjaga kepalanya dingin.

"Kita mulai kalau begitu, Miss Granger," kata si penyihir di depan Hermione. "Namaku Paul Greengrass, aku adalah interogator malam ini. Pertama-tama -"

"-kami meminta maaf terlebih dahulu," kata salah satu dari dua dewan sekolah yang dari tadi hanya duduk diam. Hermione menoleh kepadanya, agak bingung.

"Maaf?"

"Ya, maaf," kata pria tersebut, mengangguk pelan. "Kami sangat menyesal harus menempatkanmu dalam situasi seperti ini, Miss Granger. Tapi harap kamu mengerti, kami mendapatkan tekanan banyak sekali dari para anggota keluarga dan orangtua. Mereka semua menuntut ini untuk mulai dikerjakan, dan kami tidak dapat melawan mereka seluruhnya, tentu saja."

Hermione menatap pria tua tersebut selama beberapa saat. Tentu saja, pikirnya. Semuanya pasti kembali pada hal ini. Semuanya demi permintaan orang banyak, semuanya demi kelangsungan sekolah...

Semuanya demi kebaikan yang lebih besar.

"Langsung mulai saja, kalau begitu," kata Mr. Greengrass. Dia mengeluarkan botol kecil dari dalam laci meja, dan mendorongnya ke arah Hermione. Botol tersebut terbuat dari kristal, dan warnanya bening. Dia belum pernah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri ramuan tersebut di dalam botol, namun dia sudah pernah membaca mengenai ramuan tersebut di begitu banyak buku. Dia bisa mengenalinya hanya dari lirikan saja.

Veritaserum.

Hermione menggigit bibirnya, ragu-ragu sedikit. Dia mendongak menatap Mr. Greengrass, yang mengangguk, menyuruhnya meminum ramuan kebenaran tersebut.

Namun tetap saja dia masih ragu.

Anggota dewan sekolah yang satu lagi rupanya menyadari keragu-raguannya. Dia berdiri, dan berkata, "Mengenai pertanyaan-pertanyaannya, Miss Granger. Kami menjamin kami hanya akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kasus. Kami berjanji kami tak akan menanyakan apapun yang pribadi. Kamu bisa memegang kata-kata kami."

Menatapnya, Hermione berpikir sejenak. Dia ingat pernah membaca salah satu deskripsi bagaimana rasanya meminum veritaserum. Peminumnya akan merasakan kesadaran penuh, namun dia tak akan bisa mengontrol tubuhnya selama beberapa lama. Apapun yang ditanyakan kepadanya pasti akan dia jawab sejujur-jujurnya, tak akan bisa dicegah. Dia juga tak akan bisa lari, karena dia akan kehilangan kendali tubuhnya selama beberapa saat, meskipun tidak total.

Namun Hermione juga mengerti apa maksud dari 'memegang kata-kata'. Kesadarannya akan tetap ada selama dia ditanyai, dan kalau-kalau ada sesuatu yang ditanyakan, yang terlalu pribadi, dia akan mengingatnya. Dia bisa menuntut para penginterogasi tersebut, dan dijamin hukumannya akan sangat-sangat tinggi bagi mereka.

Hermione mengangguk, dan meraih botol veritaserum tersebut. Dia menelan dua tetes dari dalamnya, dan memejamkan matanya.

Perlu waktu beberapa menit sampai ramuan tersebut berfungsi seluruhnya, menjalar hingga ke nadi-nadinya. Dia membuka matanya, dan mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Perasaan keram dan kesemutan menyelubungi setiap alat geraknya, membuatnya merasa agak tidak nyaman. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya.

Percobaan tersebut berhasil, namun kini dia merasakan kesemutan yang parah.

Akhirnya, dia memilih untuk tenang. Melemaskan tubuhnya, bersandar ke kursi dan menatap Mr. Greengrass tepat di mata.

"Baik..." kata Mr. Greengrass, mengangguk. Dia menarik napas perlahan, dan berkata, "Baik, Miss Granger. Kita akan mulai..."

.

Di sebuah tempat, dalam sebuah media dan mungkin dunia yang benar-benar berbeda, McGonagall mendarat dengan mulus di sebuah ruangan.

Sama seperti belasan memori yang sudah dia datangi sebelumnya, semuanya serba kabur di sekelilingnya, hanya terdiri dari asap-asap perak dan kelabu. Kemudian, lingkungan mulai termaterialisasi. Asap-asap mulai menghilang, mengumpul atau memadat, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya, meninggalkan McGonagall berada di sebuah ruangan yang tak asing lagi.

Albus Dumbledore, tua dan tampak lelah, namun hidup sepenuhnya, sedang duduk di belakang mejanya. Tumpukan perkamen sedang dikerjakannya, berbagai hal yang harus dia urusi: Dari mengenai rencana-rencana kurikulum sekolah, jadwal-jadwal pelajaran, hingga beberapa laporan dari anggota Orde.

Tanggal di salah satu perkamen menunjukkan tanggal saat itu: Januari 1996.

Menit demi menit berlalu, dan McGonagall mulai agak bingung. Memori-memori yang sebelumnya dia datangi sangat berbeda dibandingkan memori yang satu ini. Memori-memori yang sebelumnya menunjukkan hal-hal signifikan, hal-hal penuh urgensi dan setidaknya bernilai. Namun memori ini hanya menunjukkan Dumbledore yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor.

Tentunya Dumbledore tidak mungkin akan menyimpan memori yang hanya berisi dirinya sedang menulis di perkamen, mengerjakan formalitas, dalam sebuah cairan memori, kan?

McGonagall berhenti mengamati Dumbledore setelah beberapa menit, dan mulai melihat-lihat ke sekeliling kantor dengan cermat. Mungkin sesuatu akan terjadi di dalam kantor tersebut, yang akan begitu penting sehingga menjadi fokus dalam memori ini.

Setelah beberapa detik, McGonagall ternyata tidak salah.

Salah satu alat perak di atas meja berbunyi, berputar dengan sangat cepat seperti gasing yang tidak memedulikan hukum keseimbangan. Tak goyah, tak berpindah tempat - hanya berputar dengan sangat cepat. Dumbledore dan McGonagall menoleh menatap alat itu dengan kaget.

Berpusing semakin cepat, gasing tersebut mulai mengeluarkan suara. Namun bukan suara putaran ataupun suara gesekan, bukan pula suara angin.

Itu adalah suara jeritan.

"Cruciatus... Astaga!" kata Dumbledore tajam. Berdiri dengan kecepatan luar biasa, dia mengeluarkan tongkat sihir Elder dan mengetukkannya ke alat tersebut, yang masih berpusing.

Alat itu berhenti sangat mendadak, namun masih tetap dalam posisi tegak, tidak jatuh berguling-guling seperti gasing pada umumnya. Dari ujungnya keluar asap, yang menunjukkan wajah seseorang, tampaknya perempuan, sedang menjerit-jerit dan meronta-ronta.

Dalam sekejap McGonagall paham. Alat itu adalah salah satu alat unik milik Dumbledore, yang sanggup mendeteksi adanya kutukan tak-termaafkan yang dilancarkan di dalam lingkungan kastil. Dan jika yang didengarnya benar, Dumbledore baru saja mengatakan bahwa ada seseorang yang melancarkan kutukan Cruciatus.

Tak membuang-buang waktu, Dumbledore keluar dari kantornya, jubahnya berkelebat di belakangnya. Aura sihir luar biasa memancar darinya, begitu dahsyatnya hingga memori tersebut pun masih mengandung kekentalan sihir, menekan McGonagall hingga terasa menyesakkan napas.

Dumbledore berjalan dengan kecepatan yang McGonagall tahu tak akan bisa dia ikuti dalam kondisi normal. Namun dia sadar bahwa dia ada di dalam memori, dia tak perlu berjalan. Dia secara otomatis akan seperti melayang, mengikuti Dumbledore di belakangnya menuju ke tempat tujuan.

Ke tempat kutukan Cruciatus baru saja dilancarkan.

Mereka berbelok dan menuruni tangga staircase yang panjang, hingga mencapai lantai bawah tanah. Dumbledore tampaknya sudah mengetahui dengan persis dimana kutukan tersebut baru saja dilancarkan, dia tak ragu-ragu akan setiap langkah kakinya. Mungkin alat barusan yang telah memberitahunya.

Ruang bawah tanah kosong melompong, tak ada seorangpun anak Slytherin, tidak bahkan Snape ada di sepanjang koridor gelap tersebut. Mungkin karena sudah sangat malam, mereka telah merebah ke kasur mereka masing-masing. McGonagall melihat ke kanan kirinya dengan cemas, ke dinding yang panjang, dingin, dan membeku.

Hingga mereka mencapai sebuah pintu di ujung koridor.

Pintu ruang penyimpanan kuali.

Dumbledore berhenti. Dia menatap pintu itu dalam diam sejenak, sebelum mengayunkan tongkatnya ke depan. Sesuatu seperti bunga api memercik, dan McGonagall dalam sekejap menyadari bahwa Dumbledore baru saja menghilangkan mantar silencio yang dipasang di pintu tersebut.

Suara-suara jeritan, yang tadinya dia sangka akan langsung dengar begitu mantra tersebut lenyap, tidak ada sama sekali. Namun McGonagall mencoba mendekat ke pintu, dan menempelkan telinganya ke kayu tebal tersebut.

Ada yang terisak di dalam.

"Alohomora!" seru Dumbledore.

Pintu mengayun terbuka dengan kekuatan luar biasa, menembus tubuh McGonagall sepenuhnya. Debu-debu beterbangan, mengaburkan pandangan. McGonagall melihat Dumbledore mengayunkan tongkatnya sekali lagi, melenyapkan semua debu seperti bernapas: Tanpa masalah sama sekali.

Mereka berdua melihat ke dalam ruangan tersebut, menatap langsung ke sepasang mata yang mendongak menatap Dumbledore dengan tatapan bengis.

"Kamu menemukan aku, Dumbledore..." desis orang tersebut.

Dumbledore tak bisa berkata-kata, dia malah mundur selangkah.

Namun setidaknya tidak separah McGonagall, yang jatuh terduduk dengan kengerian yang tak dapat terkatakan.

Orang tersebut menjilat bibirnya yang penuh darah, terkekeh dan memamerkan cengirannya.

.

-o0o-

.

"Miss Granger. Aku akan bertanya sekali lagi, dan kumohon, tolong jawab ini," tanya Mr. Greengrass, menatap Hermione dengan khawatir. Di belakangnya, dua anggota dewan sekolah sudah tegang, memandangi Hermione dengan tajam. "Apakah ada saat-saat kamu tidak mengingat suatu kejadian... dengan jelas?"

"Ada..." jawab Hermione pelan.

Jawaban yang sama, yang telah diberikan oleh Hermione sebanyak tiga kali berturut-turut. Kesadaran Hermione masih sepenuhnya ada, dan awas, sehingga dia juga sangat sadar akan jawabannya. Dia tahu bahwa ada saat-saat dia tidak mengingat hal-hal dan waktu-waktu dengan jelas.

Dia berharap sekuat tenaga agar para penginterogasi tidak menanyainya, namun sudah jelas, hal tersebut tak bisa dia dapatkan.

"Miss Granger," kata Mr. Greengrass pelan. "Bisakah kamu memberitahu kami, waktu-waktu seperti apa itu? Kapan dan... Dimana?"

"Bisa," jawab Hermione lancar.

"Baiklah. Dimana... Dan kapan? Yang paling berkesan?"

"Yang paling berkesan, meskipun tak terlalu kuingat, adalah di sore hari... Di sebuah kamar..." jawab Hermione, suaranya semakin pelan, lalu menghilang.

Mr. Greengrass menoleh ke orang-orang di belakangnya, yang semuanya juga mengernyit bingung. Menatap Hermione kembali, Mr. Greengrass bertanya, "Apa yang kamu ingat akan saat itu, Miss Granger? Sedikit detil, mungkin?"

Hermione mengerjap. Mendadak, kilasan-kilasan gambar muncul di depan matanya. Dia tentu saja tahu kapan kejadian itu berlangsung, namun bagaimana persisnya, dia tidak tahu. Sama sekali tidak tahu... Dan semua itu sekarang sedang diputar di depan matanya.

...

Dia merasa sangat pusing, semuanya seperti berputar...

Dia tertawa... Dan dia bisa mendengar seseorang tertawa juga.

Itu tawa Ron.

Kemudian rasa basah, dia agak berkeringat...

Dia ada di bawah sekarang, pandangannya kabur...

Ada sesuatu yang masuk...

Panas lagi, dan tawa kembali...

Tawa lagi...

...

Semuanya diam sementara Hermione menceritakan semua itu.

"Bisa beritahu kami, apa kejadian lain, dan kapan itu, yang agak mengganggumu, Hermione? Sesuatu yang terasa aneh, seperti khayalan belaka, dan seperti kabur? Tidak jelas di ingatanmu?" tanya Mr. Greengrass.

Pandangan mata Hermione beralih kembali kepada penginterogasinya tersebut. Dia menarik napas pelan, dan menjawab, "Ya... Ada satu lagi. Saat itu aku di perpustakaan, dan aku sedang membaca buku... Ketika aku mendengar suara tetesan air di belakangku."

"Tetesan air?"

"Ya... Dan begitu aku menoleh, aku melihat genangan-genangan air," kata Hermione lambat-lambat. Dia menggeleng pelan, berkata, "Entahlah... Semua itu terasa hanya seperti mimpi... Seolah tidak nyata."

"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Mr. Greengrass.

"Karena saat itu Harry datang, dan mendadak semua genangan air tersebut lenyap. Begitu saja, tak menyisakan bekas... Seolah-olah mereka tak pernah ada sama sekali sejak awal," jawab Hermione. "Aku sangat bingung akan hal tersebut..."

Mr. Greengrass menoleh menatap dua anggota dewan sekolah yang ada bersamanya. Dia mengangguk, diikuti oleh mereka berdua.

Interogasi sudah hampir selesai. Pengaruh veritaserum akan habis dalam waktu beberapa detik, jadi sebaiknya kalau mau menyampaikan pertanyaan, yang singkat dan cepat.

"Miss Granger," kata Mr. Greengrass cepat. "Apakah kamu pelaku di balik semua pembunuhan ini?"

Sangat singkat, menusuk, dan tepat sasaran. Jenis pertanyaan yang mungkin seharusnya ditanyakan di paling awal, namun sengaja disimpan di paling akhir untuk beberapa alasan dan sebab.

Salah satu alasan tersebut adalah fakta bahwa kadang jawaban dari pertanyaan semacam ini dapat menjadi penutup dan menjadi kesimpulan akan seluruh pertanyaan yang diinterogasikan.

Hermione sadar betul akan semua hal tersebut. Alam sadarnya jelas mau menjawab bahwa dia bukanlah pelaku dari semua pembunuhan tersebut. Namun jelas, veritaserum menuntutnya untuk senantiasa jujur.

Dan dia menjawab dengan sangat jujur, benar-benar datang dari dalam dirinya, tanpa halangan sama sekali.

"Aku tidak tahu," jawab Hermione lambat-lambat. "Aku tidak... Tahu..."

Mr. Greengrass menatap Hermione dengan intens, sementara efek Veritaserum memudar perlahan-lahan.

.

Menatap punggung Hermione, yang digiring oleh satu Auror kembali ke kantor kepala sekolah, Mr. Greengrass menggeleng perlahan. Dia sudah menuliskan semua laporan dan kemungkinan yang ada, dari hasil interogasi barusan...

Kemungkinan akan apa sebenarnya yang ada di balik semua ini membuatnya bergetar.

Dua anggota dewan, yang sedang membaca analisisnya dengan seksama, mengernyit dengan bingung. Salah satu dari mereka mendongak, dan berkata, "Kamu yakin mengenai ini?"

"Kemungkinan besar," jawab Greengrass.

"Tapi... Kepribadian ganda?" tanya satunya lagi, berdiri dan melangkah mendekat ke Greengrass. "Yang kutahu itu adalah penyakit psikologis Muggle... Dulu aku pernah mempelajarinya sedikit saat pelatihan Penyembuh. Untung bisa menderita hal tersebut, perlu trauma yang cukup berat, atau suatu beban mental yang luar biasa."

"Ajaib kalau Miss Granger tak pernah mengalami trauma. Dia ikut bersama Harry Potter dalam melakukan Merlin-Tahu-Apa tahun lalu, kan? Yang berujung pada jatuhnya Kau-Tahu-Siapa..." Greengrass menoleh menatapnya. "Lagipula semua gejalanya ada. Dia tidak yakin akan jawabannya sendiri, dia mengalami hal-hal seperti halusinasi dan waktu-waktu yang kabur. Ditambah lagi dengan deskripsinya mengenai yang... Di perpustakaan dan malam hari itu."

"Menurutmu, apa itu sebenarnya yang dia lakukan? Yang dia alami?"

"Aku tak bisa memberi jawaban pasti..." jawab Greengrass. "Yang aku tahu, hanyalah bahwa kemungkinan besar, alter ego-nya memberikan ingatan-ingatan palsu ke dalam kepalanya, membuatnya tidak bisa mengingat saat-saat tertentu dengan jelas."

"Meskipun, sir," kata si Auror, yang sampai saat ini baru berbicara sekali. "Meskipun... Kalau saya pikir, wajar jika seseorang tidak bisa mengingat saat-saat tertentu dengan tidak jelas, dengan tidak yakin. Veritaserum bekerja berdasarkan memori, dan kupikir wajar jika Miss Granger tidak mengingat beberapa momen dengan jernih-"

"Kita membicarakan mengenai penyihir yang digadang paling cerdas di sini. Penyihir yang selama bersekolah di Hogwarts ini, tak pernah tergeser satu kali pun dari posisi peringkat satu akademis. Dia hapal nyaris seluruh isi kitab Rune, kupikir tidak mungkin dan sangat aneh jika dia tidak bisa mengingat beberapa momen saja dengan jelas," jawab Greengrass.

"Ya, memang aneh..." kata si Auror. "Tapi, sir. Dia tidak berarti langsung harus diapa-apakan, kan, setelah ini?"

"Hanya tingkatkan saja pengawasan kepadanya dan Mr. Potter, dia tidak serta-merta menjadi tersangka kok -"

Belum selesai Greengrass mengucapkan kalimat tersebut, mendadak sebuah bola cahaya perak muncul begitu saja di tengah-tengah ruangan. Empat tongkat sihir langsung dicabut keluar, mengacung bersamaan-

Ketika mereka melihat cahaya apa itu sebenarnya.

"Patronus?"

"Bentuk burung merpati..." kata si Auror, maju selangkah. "Itu milik Rivers!"

"Rekanmu yang tadi membawa Miss Granger ke kantor McGonagall?"

"Ya, benar!"

Patronus burung merpati tersebut berhenti bergerak-gerak, dan melayang pelan di tempat. Mulutnya terbuka, dan sebuah suara, panik dan penuh rasa takut, terdengar nyaring.

"Bantuan! Bantuan! Bantuan! Kantor Kepala Sekolah! Bantuan!"

Kemudian patronus itu lenyap.

Mereka berempat diam sejenak, saling tatap satu sama lain. Sampai maksud pesan tersebut menghantam mereka seperti godam, dan mereka langsung berlari cepat ke kantor kepala sekolah.

.

-o0o-

.

Hermione berjalan dalam diam. Dia merasa tidak enak badan, berkeringat dingin, dan kepalanya agak pusing. Dia sadar bahwa itu mungkin efek samping dari Veritaserum. Pada beberapa orang, memang pengaruh ramuan kejujuran lebih kuat dibandingkan dengan orang lain. Dan oleh karena itu, juga bisa memberi efek samping yang lebih menekan.

Dia membenci dirinya sendiri karena tidak cukup kuat, hanya menghadapi ramuan seperti ini saja...

"Anna-Marietta," ujar Rivers, si Auror, kepada patung gargoyle penjaga.

Alih-alih meloncat minggir, gargoyle tersebut menggeleng-geleng. Dia berkata, "Kantor Kepala Sekolah sedang tidak bisa diakses."

Tidak bisa? "Apa maksudmu? Kenapa tidak bisa?" tanya Hermione, mendahului Rivers.

"Alasan rahasia. Kalian tidak bisa masuk," jawab si gargoyle, terkekeh.

"Hei, tunggu dulu!" seru Rivers, maju selangkah. "Kepala Sekolah sudah memerintahkan kami untuk kembali begitu interogasi selesai!"

"Hmm... Tapi, yang baru saja memberiku perintah ini bukan kepala sekolah, kok," kata gargoyle.

Menarik napas tajam, Hermione membelalak pada patung berbicara tersebut. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang, namun usahanya tidak begitu membuahkan hasil.

"Hah...?" tanya Rivers bingung. "Siapa, kalau begitu?"

"Ooops! Aku kelepasan! Tidak bisa kasih tahu, sori," kekeh si gargoyle.

Menelan ludahnya, Hermione maju sebelum Rivers bahkan sempat mencegahnya. Dia berkata tegas, dan lantang, "Buka jalan menuju ke kantor kepala sekolah. Aku, ketua murid perempuan Hogwarts, memberimu perintah!"

Kekeh si gargoyle berhenti dalam sekejap. Dia membungkuk menghormat, dan berjalan minggir, memperlihatkan tangga di belakangnya yang juga langsung mulai berputar pelan ke atas. Hermione menggigit bibirnya, dia punya firasat sangat buruk akan hal ini. Sangat buruk.

Bukan kepala sekolah yang memberi perintah...

Bukan Harry, dia pasti masih diinterogasi...

Kalau begitu siapa?

"Mundur, Miss Granger," kata Rivers, suaranya agak bergetar. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, dan maju di depan Hermione. "Mundur."

Hermione mematuhi perintahnya. Dia berdiri di belakang Auror junior tersebut, membiarkannya naik tangga terlebih dahulu. Sementara mereka menaiki tangga, dia menyadari noda-noda dan bercak-bercak di dinding yang gelap. Bercak-bercak yang dia yakin tak ada di sana sebelumnya. Dia ingat benar. Dia turun paling belakangan, lagipula, tadi saat meninggalkan kantor kepala sekolah.

Dia merabanya, dan menyadari bahwa bercak tersebut masih basah. Terkejut, dia mengangkat tangannya yang baru saja dia sentuhkan, ke depan matanya.

Yang ada di sana adalah warna merah.

"Oh, tidak..." bisik Hermione. Dia berlari cepat, melewati Rivers, yang berteriak padanya, melewati beberapa anak tangga lagi, hingga mencapai ke pintu ruang kepala sekolah -

Dan dia membukanya.

.

"PROFESOR!" jerit Hermione.

Tak peduli akan apapun, Hermione berlari dengan sangat cepat menyeberangi ruangan, ke tubuh McGonagall yang terbaring di lantai. Darah membanjiri ruangan tersebut, menyelimutinya dalam warna merah segar. Dia mencapai tubuh tersebut, dan mencengkeram jubahnya.

Dia berteriak, memanggil-manggil nama McGonagall dengan suara serak, bercampur dengan suara tangisnya.

Menggoyang-goyangkan tubuhnya, berusaha membangunkannya.

Rivers akhirnya mencapai ruangan juga, dan dia tampak mau muntah melihat apa yang ada di dalamnya...

"P-Profesor..." sengal Hermione, terisak tidak terkendali. "Profesor McGonagall! PROFESOR!"

Wajah pucat tersebut tidak bereaksi. Hermione menangis tersedu-sedu lagi, merapatkan wajahnya di dada kepala sekolahnya tersebut, kepala asramanya selama enam tahun, guru favoritnya, yang senantiasa mengajarinya banyak sekali hal... Yang kini hanya terbaring di sini...

Di tengah-tengah kubangan darah ini, yang terus mengalir merembes dari torehan-torehan mengerikan di tubuhnya...

Mengalir...

Mengalir?

Tunggu.

"S-Sir," gagap Hermione. "Sir? Sir?"

Rivers, yang dari tadi menghabiskan waktunya untuk muntah, kini berdiri dengan lemas. Dia bersandar di dinding, memandang Hermione dengan lemah.

"A-apa?" tanyanya.

"T-tolong," kata Hermione, masih terbata-bata, "Tolong panggil bantuan."

"B-bantuan?"

"Ya. Panggil. Beliau masih hidup. Jantungnya masih berdetak. Itu sebabnya darahnya masih mengalir. Kumohon, panggil bantuan sekarang juga. Dia masih bisa diselamatkan!" kata Hermione cepat.

Tiga detik berlalu. Hermione menoleh menatap Rivers, yang masih sangat pucat. Dia menelan ludahnya, menarik napasnya dalam-dalam, sebanyak mungkin.

Dan dia berteriak.

"SEKARANG! CEPAT!"

Geragapan, Rivers mengkonjurasi patronus, mengisinya dengan pesan dan mengirimnya.

Sementara Hermione kembali mengalihkan fokusnya kepada McGonagall, berusaha mengingat-ingat mantra yang bisa membantu. Dia berdiri, berniat menjambret tongkatnya dari atas meja untuk mencoba menghentikan pendarahan McGonagall -

Ketika dia menyadari bahwa tongkatnya tidak ada di sana.

.