Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
.
Kingsley berdiri di sebelah tempat tidur McGonagall, memandangi teman lama sekaligus rekan seperjuangannya tersebut. Kesenyapan terus berlanjut, hingga akhirnya di suatu tempat, jauh dari kamar rawat inap tempat mereka berdua berada, sebuah jam kuno besar berdentang.
Suaranya menggema ke sekujur lorong, koridor, dan ruangan-ruangan rumah sakit sihir tersebut. Tidak keras memekakkan, tapi tegas dan jelas. Bukan tipe suara yang akan membuat para pasien yang tertidur untuk terbangun karena bisingnya, melainkan tipe suara yang cukup untuk memberitahu para penunggu, keluarga, dan para petugas rumah sakit bahwa tengah malam telah tiba.
Sekaligus deadline akan suatu hal yang sangat penting, yang mana akan dilaksanakan di pagi hari nanti.
Kingsley menghela napasnya. Batas waktu telah habis, batas lima hari pencarian bukti-bukti yang dapat mendukung dan menunjukkan bahwa Hermione bukanlah pelakunya, bahwa ada pelaku lain yang bekerja. Dia sudah memerintahkan seluruh anak buahnya dan para petugas penyidik lapangan untuk mencari bukti sekecil apapun, namun hasil nihil. Dia bahkan sudah menanyakan sendiri ke para lukisan di ruang kepala sekolah, namun tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban. Mereka semua hanya menjawab dengan menggeleng-geleng.
Dia mengusap wajahnya dengan lelah. Semuanya sangat aneh, sangat tidak wajar dan menyesatkan. Kalau dipikir-pikir, mungkin akan lebih masuk akal jika saja pelakunya meninggalkan pesan huruf yang masih menyambung dengan Seven Deadly Sins di TKP pembunuhan terakhir. Namun tidak. Si pelaku memilih menuliskan huruf 'A' besar, dengan gaya artistik bagai goresan-goresan kuas.
Seolah si pelaku mengejek mereka, menertawakan mereka karena sudah terpancing dan termakan oleh umpan yang ditebarkannya. Seolah semua yang mereka selidiki, semua penjagaan dan semua patroli Auror yang sudah dilaksanakan setiap malam di dalam kastil Hogwarts tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Namun, bagaimanapun, itu benar juga. Tampaknya memang tidak ada pengaruhnya bagi si pelaku. Dia toh tetap bisa menyelinap di antara penjagaan para Auror, yang, walaupun sebagian besar masih baru dan hijau, seluruhnya telah lulus dari pelatihan dasar Auror. Ditambah, para Auror yang baru tersebut sebagian besar adalah orang-orang yang ikut serta dalam pertempuran Hogwarts, dan bertahan hidup untuk menceritakan kisah mereka hingga hari ini.
Jika melihat dari semua hal tersebut, pastilah pelakunya adalah orang yang ahli, terlatih, dan berpengalaman. Pelakunya menguasai seluk-beluk kastil lebih dalam dari kebanyakan orang, dan kemungkinan besar juga sanggup mengetahui letak dan posisi setiap Auror. Dia dapat mengetahui di mana mereka berjaga, dan juga rute patroli mereka.
Entah bagaimana si pelaku sanggup memiliki semua itu. Tapi sebenarnya sih, jika dibandingkan dengan satu syarat terakhir ini, semua syarat di atas menjadi terlihat gampang untuk dikuasai dan dipenuhi.
Yaitu memiliki Akses. Akses untuk membuka banyak tempat-tempat dan pintu-pintu di dalam kastil, termasuk di antaranya masuk ke dalam kantor McGonagall, melancarkan serangan yang nyaris membunuhnya, kemudian keluar lagi sembari memerintahkan patung gargoyle untuk tidak membuka siapapun. Rencana yang bagus dan lancar, yang jika dilanjutkan, akan berarti McGonagall mati kehabisan darah, perlahan-lahan.
Cara membunuh yang hebat, dan cara mengerikan untuk mati. Manusia seperti apa yang tega melakukan hal sejahat dan sekejam itu?
Hanya orang gila...
Jika membicarakan orang gila, dalam benak Kingsley, hanya ada satu nama yang muncul.
Nama yang dimiliki oleh orang berwajah rata, licin, dan memiliki hidung hanya berupa celah. Orang yang menimbulkan teror selama bertahun-tahun di daratan Inggris, hingga akhirnya tahun lalu berhasil dikalahkan oleh Harry.
Tapi dia 'kan sudah mati. Harry sendiri yang melevitasi tubuhnya, disaksikan oleh seluruh orang di dalam Aula Depan. Mereka menyaksikannya melevitasi tubuh tersebut, membawanya keluar dari Hogwarts dan masuk ke hutan terlarang, membakarnya di sana. Dia telah memerintahkan mereka semua untuk tidak mengikutinya, bahwa itu adalah urusan pribadinya. Tapi mereka telah melihat asapnya, membumbung ke udara, pemandangan yang mungkin tak akan pernah dilupakan.
Ya, Lord Voldemort sudah mati. Siapapun pelakunya sekarang ini bukanlah dia.
Tapi kalau begitu, siapa orang yang sama kejamnya dengan dia, yang sanggup melakukan semua ini?
"K-Kingsley..."
Kingsley Shacklebolt melompat kaget. Itu aneh, karena dia bukan tipe orang yang mudah kaget. Karena itu dia menoleh dengan tajam ke arah sumber suara, mulut menganga sementara sebelah tangan dengan sangat terlatih melayang ke pegangan tongkatnya yang dipasang di pinggangnya -
Sebelum dia melihat, siapa yang baru saja berbicara.
"Minerva!" seru Kingsley, shock. "Kamu sudah bangun -"
"Y-ya," bisik McGonagall. "Ya, aku bangun..."
McGonagall terbatuk-batuk, wajahnya menjadi pucat dalam sekejap. Kingsley buru-buru menghampirinya, memegang tangannya dan membungkuk di sebelahnya dengan khawatir. Dia baru mau membuka mulutnya, namun McGonagall mendahuluinya.
"B-berapa lama waktu yang kita punya...?" bisik McGonagall.
Kingsley menarik napas perlahan. "Sudah habis, Minerva. Tengah malam sudah lewat. Hermione akan ditahan besok pagi."
McGonagall menggeleng pelan, ekspresinya berubah menjadi panik. "Tidak..."
"Ya, tenang. Tenang, Minerva. Tenang. Aku akan mengusahakan sebisaku untuk mengadakan pengadilan. Dengan demikian, aku bisa mengajukan adanya kuasa hukum, dan mengusahakan peringanan untuknya. Sembari itu, aku akan tetap berusaha mencaritahu pelakunya -"
"Tidak..." geleng McGonagall lemah. "Tidak, Kingsley. Tidak. Kamu salah..."
"Salah?" tanya Kingsley, matanya melebar. Dia menatap McGonagall, yang masih menggeleng perlahan. Dia menelan ludah, dan berkata, "Ya, aku juga sudah tahu kalau Hermione bukanlah pelakunya. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, hukum sudah bekerja. Dia harus dibawa -"
"Bukan! Bukan itu!" bisik McGonagall, nada panik terdengar semakin kentara dari suaranya.
Kingsley mengernyit bingung. Dia tidak mengerti apa yang McGonagall bicarakan. "Apa yang kamu bicarakan? Siapa yang kamu bicarakan?"
"Selamat - selamatkan -"
Selamatkan? "Selamatkan siapa? Minerva, siapa yang harus diselamatkan?" tanya Kingsley dengan agak panik. Siapa yang harus diselamatkan? Apakah McGonagall tahu korban berikutnya? Apakah dia tahu siapa yang berikutnya menjadi target serangan? Target pembunuhan? Itukah sebabnya dia diserang di kantornya, yaitu karena dia mengetahui target si pembunuh yang berikutnya?
"Selamatkan... dia..." bisik McGonagall. Matanya menatap Kingsley, mencari konfirmasi di dalam sana. Dia gemetar sedikit, sebelum kedua matanya menutup kembali.
Selamatkan dia? Save him?
Kingsley memeriksa McGonagall dengan cepat, dan lega mendapati McGonagall bernapas dengan normal, dadanya naik turun dengan teratur. Dia hanya kelelahan, dan kembali tertidur. McGonagall menggunakan tenaganya yang hanya sedikit untuk memberitahu Kingsley dua kata tersebut.
Dua kata. Selamatkan dia.
Kingsley mengernyit, memandangi wajah McGonagall yang menutup matanya dengan damainya, tertidur dengan pulas. Dia masih tidak mengerti. Siapa yang dimaksudkan McGonagall? Him - dia? Siapa yang harus diselamatkan? Bukan Hermione? Siapa, kalau begitu, yang menjadi target berikutnya?
Pintu ruangan terbuka dengan lumayan keras, menghancurleburkan pikiran Kingsley yang sedang bekerja dengan sangat keras. Dia, untuk kedua kalinya dalam satu malam, terlompat kaget.
"Pak Menteri! Ah -" Auror yang baru saja menerobos masuk tersebut berhenti membeku melihat wajah Kingsley yang tampak marah besar. Dia buru-buru menelan ludahnya, dan mengumpulkan nyalinya.
Dengan timing yang tepat, si Auror mendahului Kingsley berbicara. Dia berkata, "Maafkan saya, Pak Menteri. Ada situasi darurat di Hogwarts!"
Kalimat yang tadinya mau diucapkan Kingsley dengan marah kepada Auror tersebut menghilang begitu saja. Dia langsung berdiri tegak, menatap Auror tersebut penuh-penuh, dan berjalan mendekat kepadanya. Berdiri bagai menara di depan si Auror, Kingsley berkata, "Jelaskan."
"Siap!" si Auror menjadi agak pucat, namun dia tetap melanjutkan. "Ada kondisi darurat. Sekitar tiga puluh menit lalu, saat pergantian jaga ruang bawah tanah tempat Miss Granger ditahan, Dawlish menemukan Rivers dan Jones, dua Auror yang bertugas jaga, pingsan di depan pintu ruang penahanan."
Kingsley mengernyit dalam-dalam. Dia berkata, "Mereka pingsan? Diserang? Tapi -" alisnya mengangkat sedikit, dia mengerti. "Bagaimana dengan Miss Granger?"
"Miss Granger menghilang dari selnya. Dan lebih gawat, Dawlish tidak datang lagi untuk melapor ke sini sejak dua puluh menit lalu!" kata si Auror.
"Dan kamu baru memutuskan untuk memberitahuku berita ini sekarang? Dua puluh menit kemudian?" geram Kingsley.
"Maafkan saya, sir!" kata si Auror, gemetaran.
Kingsley menggeleng-geleng. Ini situasi yang tak diduganya sama sekali. Hermione melarikan diri dari ruang bawah tanah. Itu tidak mungkin dia lakukan sendiri, apalagi dalam kondisinya yang tak membawa tongkat sihir. Dan melumpuhkan dua Auror sekaligus? Rivers dan Jones memang masih hijau, namun mereka tangguh. Mustahil bisa melumpuhkan mereka berdua begitu saja tanpa menggunakan tongkat sihir.
Yang berarti...
Harry.
"Merlin," bisik Kingsley. Dia menatap bawahannya yang gemetaran tersebut, ekspresinya berubah menjadi horor. Ini tidak boleh terjadi, situasi ini tidak boleh dibiarkan. Mereka berdua pastilah berniat lari, pergi dari kastil. Tidak boleh...
"Kumpulkan satu peleton Auror! Masukkan minimal dua orang spesialis penjejak di dalamnya! Temui aku di perapian utama, di lantai dasar dalam waktu lima menit!" perintah Kingsley. Dia mengambil jubahnya, dan berjalan keluar kamar, dengan si Auror di belakangnya, tergesa-gesa menyamai langkah Kingsley. "Kita pergi ke Hogwarts!"
"Baik, sir!" jawab si Auror. Dia ber-Apparate, dan Kingsley berjalan lebih cepat lagi menuju lift di ujung koridor.
Begitu dia masuk ke dalamnya, dia melihat untuk terakhir kalinya kamar McGonagall. Dua kata yang tadi diucapkannya terngiang di kepalanya, berkali-kali.
Selamatkan dia.
.
-o0o-
.
"Dia tidak apa-apa, 'kan?" tanya Hermione, khawatir. "Oh, kita akan mendapat masalah besar..."
"Dia tidak apa-apa, Hermione. Berhentilah berkata-kata cemas begitu," kata Harry, menyeret Dawlish ke lemari sapu. Dia melempar tubuh Auror yang terbius tersebut ke dalamnya, menutup pintunya, dan mengayunkan tongkat sihirnya. Rangkaian suara terdengar, memberitahu mereka berdua bahwa kunci terpasang sepenuhnya.
Dia menoleh kembali kepada Hermione, dan memberikan tongkat sihir Dawlish kepadanya. Hermione menerimanya, mengangkat alisnya sedikit kepada Harry.
Nyengir, Harry berkata, "Ayolah. Kita sudah berada dalam masalah sejak kita menginjakkan kaki di kastil ini tujuh tahun lalu."
Hermione menghela napas, dan mengangguk. Dia menyimpan tongkat Dawlish di sakunya. "Ya... Kadang aku berpikir, apakah dulu membuka surat tersebut, setuju untuk berangkat ke sini, adalah sebuah kesalahan."
"Well, kupikir bukan kesalahan," kata Harry, menatap Hermione. "Aku tak akan bisa apa-apa tanpa kamu, ingat?"
Mendongak menatapnya, mereka berdiri diam selama dua detik sebelum Hermione mendengus. Dia bergumam, "Gombal."
"Aha, akhirnya," kata Harry, menarik Hermione, berjalan sepanjang koridor remang-remang yang sepi. "Pertama kalinya ada yang mengataiku begitu. Aku merasa terhormat."
"Ya, dan dalam kondisi seperti ini juga," kata Hermione. Harry menariknya menuju tangga ke lantai atas. Jalan menuju ke kantor kepala sekolah, jika menghindari Staircase, sangat jauh dan melelahkan. Mereka harus memutar keluar kastil terlebih dahulu, melewati Viaduct, sebelum masuk lagi lewat tangga di atas ruang piala. Butuh beberapa menit, tapi mereka akhirnya mencapai lantai tempat perpustakaan berada. Cukup melegakan, karena berarti ruang kepala sekolah tinggal satu kali turun tangga lagi.
Mereka mendengar suara-suara teriakan dan langkah-langkah kaki di kejauhan, dan langsung menyadari bahwa pelarian mereka sudah ketahuan. Hermione melihat ke belakang dengan cemas, sedangkan Harry menambah kecepatan langkahnya, menarik Hermione bersamanya.
"Sedikit lagi," kata Harry. "Sedikit lagi, dan kita akan sampai."
Hermione tidak menjawab. Dadanya mulai terasa sesak dan sakit karena kelelahan, napasnya terengah-engah. Dia tidak beraktivitas selama empat hari lebih di ruang bawah tanah, dan sejujurnya berlari seperti ini cukup menyiksanya. Namun dia tidak meminta berhenti, dia tidak meminta waktu untuk istirahat. Genggaman tangan Harry tetap erat, seolah memberinya keyakinan, tenaga, dan semangat lebih.
Dia mendapati kata-kata Harry benar: Tinggal sedikit lagi... Sedikit lagi...
Sudah sejauh ini, tak ada kata mundur. Sedikit lagi, mereka akan bebas...
Mereka akhirnya mencapai koridor panjang yang menuju kantor kepala sekolah. Tak pernah sebelumnya koridor tersebut terasa sepanjang dan sejauh itu, seolah gargoyle di ujung koridor tak mendekat sama sekali, dan masih berjarak berkilo-kilometer. Karena itu Hermione sangat bersyukur, saat mereka akhirnya mencapai gargoyle tersebut.
"Buka!" seru Harry, tak memedulikan kata kunci sama sekali. Gargoyle tersebut membungkuk, dan melompat dengan gesit, berdiri tegak memberi mereka jalan masuk. Hermione belum sempat mengatur napasnya, ketika Harry menarik tangannya, membawanya ke atas. Tangga berjalan mereka langkahi dua-dua. Harry mendorong pintu kantor kepala sekolah dengan keras, kedua daun pintu tersebut menjeblak terbuka dengan suara nyaring.
Begitu mereka masuk, Hermione langsung menutup pintu dengan cepat. Dia, masih terengah-engah, berkata dengan suara lantang ke seluruh lukisan di dinding.
"Jangan... Biarkan seorang pun masuk ke dalam ruangan ini! Tidak selama kami di sini... Jangan biarkan mereka masuk! Ini perintahku, sebagai Ketua Murid!"
Seluruh lukisan menghentikan tatapan bingung mereka. Semuanya langsung mengangguk serempak, dan terdengarlah suara pintu dikunci di belakang Hermione. Suara derit juga memberitahu bahwa tangga berjalan telah berhenti bergerak. Akhirnya, merasa aman, Hermione bersandar ke dinding, terengah-engah dan berkeringat.
Dia melihat Harry menatapnya dengan cemas. Menggeleng kecil, dia berkata, "Tenang, Harry. Aku hanya kelelahan. Nyalakan... Api Floo-nya terlebih dahulu."
Harry mengangguk, berkata, "Tenang, Hermione. Atur dulu napasmu. Kita sudah aman di sini, kita bisa menunggu."
"Jangan khawatirkan aku, Harry," Hermione menelan ludahnya, membungkuk, menatap kedua lututnya. Dia menarik napas dalam-dalam, menyeka dahinya yang basah karena keringat. Dia mendengar suara langkah kaki, dan dalam waktu beberapa detik dia sudah tahu bahwa Harry menghampirinya.
Dibuktikan dengan kedua tangannya yang menyentuh pundaknya. Hermione mendengus.
"Hermione..." kata Harry pelan.
"Tidak, Harry. Tidak. Aku baik-baik saja, lihat?" kata Hermione, mendongak menatapnya. Dia tersenyum lebar kepada Harry, berusaha tampak kuat. "Tenang. Jangan khawatir."
Ekspresi Harry berubah sesaat, dan ada sesuatu melintas di dalam matanya. Hanya sekilas, dan Hermione tak bisa yakin apa itu. Detik berikutnya Harry mengangguk, memberikannya senyum kecil.
Hermione merasa dadanya tertahan melihat senyum tersebut, dia tersenyum balik...
Tunggu-tertahan?
Dia mengerjap, namun sebelum dia bisa melakukan sesuatu, Harry sudah mundur, meninggalkan ruang kosong yang cukup besar.
Dia mengerjap sekali lagi.
"Baiklah, Hermione," kata Harry, mengangguk. Dia memandang sekelilingnya, berkata, "Sekarang yang harus kita lakukan hanyalah mencari bubuk Floo di dalam ruangan ini."
"Ya..." desah Hermione, masih menatap Harry. Apa sebenarnya tadi? "Ya, benar. Bubuk Floo, kita membutuhkannya."
"Ya, itu adalah sarana utama kita keluar dari sini, 'kan?" kata Harry, tertawa pelan. "Bodoh sekali aku, tak menyiapkannya sebelum menghampiri ruang bawah tanah tadi."
Hermione mendengus. "Tipikal... Kamu harus lebih berkepala dingin, Harry. Rencanakan matang-matang."
"Ya, ya. Sori," kata Harry, nyengir bersalah. Mereka saling tatap selama beberapa saat, sebelum kesadaran menimpa mereka lagi.
"Cari," kata Hermione.
"Ya, cari. Harus cari," kata Harry, ekspresinya berubah menjadi panik.
Dia berjalan cepat ke lemari-lemari, mengeluarkan kotak-kotak, mulai mengecek laci-laci. Hermione juga buru-buru ke lemari-lemari yang lebih pendek dan kecil, tempat biasanya orang-orang biasa menyimpan bubuk Floo adalah tempat yang pendek dan dekat dengan lantai, agar bubuk tersebut tak beterbangan di udara. Namun dia tidak menemukannya di empat lemari pendek yang ada di ruangan tersebut, dan Harry juga tidak menemukannya di semua tempat yang dia cari.
"Oh, sialan!" kata Harry, setelah lemari buku nyaris rubuh menimpanya - dia menarik lacinya terlalu keras. Hermione menoleh memandangnya, melihat Harry mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengacungkannya.
Dia tahu apa yang akan Harry lakukan, dan buru-buru berdiri.
"Accio-"
"JANGAN!"
Harry berhenti mendadak. Dia menoleh ke dua suara yang baru saja berteriak kepadanya. Tunggu, dua?
Hermione juga telah menyadari bahwa bukan dia satu-satunya yang berteriak. Dia menoleh ke sumber suara satunya lagi dengan bingung.
"Profesor Snape?" tanya Hermione.
Snape, atau potretnya, mengangguk. Dia menoleh ke Harry, berkata, "Apa-apaan kamu, Potter? Jika kamu menggunakan mantra panggil di sini, bisa mengakibatkan kekacauan besar. Bayangkan apa yang akan terjadi jika McGonagall menyimpan bubuk Floo-nya di dalam lemari yang terkunci rapat? Lemari tersebut akan terbang juga, dan menghantammu utuh-utuh! Miss Granger juga bisa terluka!"
Hermione menoleh kepada Harry, yang menurunkan tongkatnya perlahan dan berkata, "A-aku tidak tahu itu..." Dia menelan ludah, menoleh ke Hermione, sebelum kembali menatap potret Snape. "Maafkan aku."
"Kepalamu itu tak akan pernah beres sampai kapanpun juga, Potter," kata Snape mencela.
"Aku sudah minta maaf," kata Harry, suaranya mulai meninggi. Dia mengambil langkah maju beberapa langkah. Hermione meringis melihatnya. Tampaknya sampai kapanpun Harry tak akan mau dikatai begitu saja oleh Snape...
Harry berhenti di depan potret Snape, mengacungkan tongkatnya dengan kesal ke potret tersebut. Dia berkata kesal, "Bagaimana denganmu, sir? Anda tahu dimana McGonagall menyimpan bubuk Floo-nya, bukan? Beritahu kami!"
Potret Snape mengernyit, dan tampak ragu. Hermione berjalan mendekat ke Harry. Dia tahu bahwa potret harus mematuhi perintah mereka berdua, perintah Ketua Murid. Dia menunggu jawaban dari potret Snape juga. Namun, Snape tidak menjawab pertanyaan mereka langsung.
"Aku mengetahui siapa pelakunya," kata Snape pelan, menatap Harry dengan matanya yang hitam datar - hanya garis-garis yang dilukis. Hermione membuka mulutnya, menganga kepada Snape.
Diam lama, sementara Harry dan Hermione menganga menatap Snape. Dan, seperti biasa, Hermione berhasil menguasai dirinya lebih dulu. Dia menarik napas pelan, dan berbisik, "Siapa?"
Snape menggeleng pelan. "Aku tak bisa memberitahumu nama pelakunya. Si pelaku, yang memiliki Akses, melarang kami semua untuk memberitahukan namanya ke siapapun juga."
"Kalau begitu, kenapa Anda tadi berkata seperti itu?" kata Harry.
Snape mengalihkan pandangannya kepada Harry, menatapnya lama sekali. Hermione mengamati interaksi mata kedua orang tersebut - ah, bukan. Satu orang, dan satu potret - dengan agak cemas. Dia sudah mengetahui mengenai Snape dan Harry, dengan ibunya, dari cerita-cerita yang dikisahkan oleh Harry sendiri setelah pertempuran.
Hanya beberapa detik, karena kemudian Snape mengalihkan matanya kepada Hermione. Dia berkata, "Aku akan bertanya kepada kalian. Apakah kalian ingin mengetahui pelakunya?"
Hermione mengernyit bingung. Apa yang -
"Tentu saja kami mau tahu!" kata Harry. Hermione menoleh kepadanya, menatap Harry langsung di mata. Mereka mengerti apa implikasi dari semua ini. Kalau pelakunya berhasil mereka ketahui, berarti mereka tak perlu... "Ya, kan, Hermione?"
"Ya, benar," jawab Hermione, menatap potret Snape kembali. "Ya, Profesor. Kami mau tahu... Tapi..."
"Kalau begitu cukup," kata Snape, mengangguk. Dia menunjuk ke belakang Harry dan Hermione, tangannya teracung menunjuk ke satu titik di belakang mereka. Hermione menoleh, dan melihat apa yang ditunjuk oleh Snape:
Meja McGonagall.
Dengan sebuah basin di atasnya, bercahaya perak redup yang berasal dari cairan di dalamnya.
Kenapa mereka tak menyadari ada benda itu dari tadi?
"Sudah ada di sana sejak lima hari yang lalu," kata Snape. "McGonagall diserang tepat setelah dia keluar dari dalam Pensieve itu."
"Memori..." bisik Hermione. Dia kembali memandang Snape. "Dia melihat memori! Dia mengetahui sesuatu! Itukah sebabnya dia diserang?"
"Apa yang ada di dalam memori itu?" tanya Harry.
Snape menggeleng kepada mereka berdua. "Aku tak bisa menjawab kalian. Kalian harus melihatnya sendiri."
Harry mengernyit. Dia menoleh kepada Hermione, yang menatapnya balik sembari menggigit bibirnya dengan gelisah.
Aku punya firasat buruk mengenai ini. Kita tanyakan saja kepada potret lain, di mana McGonagall menyimpan Floo-nya, Harry menggeleng.
Oh, Harry! Hermione menyambar kedua bahunya, mencengkeramnya. Kalau kita mengetahui siapa pelakunya, kita tak usah lari! Kamu tak usah lari!
Aku tak keberatan lari, Harry menggenggam lengan Hermione yang mencengkeram bahunya, menenangkannya. Aku akan menemanimu.
Ayolah, Harry! Demi... Hermione menggeleng-geleng, matanya mulai berair. Komunikasi mereka dia putuskan, dia berkata pelan, "Demi - demi masa depan kamu! Demi aku juga! Kita masih memiliki kesempatan, Harry! Untuk hidup!"
Harry mengernyit kepadanya. Hermione menatap Harry dengan pandangan memohon, sesuatu yang nyaris tak pernah dia lakukan sebelumnya kepada siapapun juga. Harry menunduk, dan mengangguk pelan.
"Baiklah," jawab Harry. Dia mendongak, menatap Hermione balik. "Baiklah. Ayo."
Hermione berseri-seri. Dan, lagi-lagi, sebuah ekspresi dan kilatan cahaya aneh melintas di mata Harry. Lagi-lagi pula, hanya sedetik ada di sana, namun Hermione sudah memastikan itu ada.
Dadanya tertahan lagi, dia mengerjap.
Detik berikutnya, semuanya berlalu. Harry tersenyum kepadanya. "Baiklah, Hermione. Ayo kita lihat."
"Ya," jawab Hermione, masih agak terpengaruh oleh sesuatu barusan. Dia membiarkan dirinya ditarik oleh Harry ke meja McGonagall, berdiri di depan Pensieve. Harry menoleh memandangnya sejenak, sebelum menjulurkan tangannya ke Pensieve.
Namun, sebelum dia menyentuh permukaan cairan tersebut, dia menatap Snape kembali.
Menarik napas, Harry berkata dengan suara mengancam, "Kalau ternyata tidak apa-apa di dalam sini, akan aku bakar kamu!"
Snape hanya mengangkat sebelah alisnya dengan sinis. Hermione menggeleng pelan, mengeratkan genggamannya di tangan Harry.
Sudahlah...
Harry mendapatkan pesan non-verbal dari Hermione. Dia mengangguk, dan menarik napas dalam-dalam. Hermione mengikuti di sebelahnya, menyiapkan mentalnya, bersiap untuk melakukan sesuatu yang sesungguhnya baru pertama kali ini dia lakukan.
Masuk ke dalam memori.
Detik ujung jari tangan Harry menyentuh permukaan Pensieve, dunia di sekitar mereka amblas dan menghilang dari pandangan. Berdua, mereka masuk ke dalam pusaran asap keperakan.
.
-o0o-
.
Hogwarts
Januari 1996
Albus Dumbledore sedang duduk di belakang mejanya, mengerjakan tugas-tugas rutinnya: Perkamen-perkamen, gulungan-gulungan surat-surat persetujuan yang harus dia baca dan dia tandatangani, menumpuk di atas mejanya. Jadwal-jadwal pelajaran dan kurikulum, hingga beberapa perkamen dengan kop berwarna merah yang tak akan bisa dibaca orang yang bukan termasuk anggota Orde Phoenix.
Dumbledore meraih satu perkamen yang kepala suratnya memberitahu bahwa surat tersebut dikirim dari kementrian dua hari lalu, masih bulan Januari ini. Pemberitahuan mengenai turunnya Dekrit Pendidikan lagi... Dia menghela napas, menggeleng-geleng dengan lelah.
Menit demi menit berlalu, dengan tumpukan perkamen berkurang perlahan-lahan. Cahaya dari obor-obor bahkan sudah mulai meredup - khas Dumbledore, dia tak pernah menggunakan api abadi ataupun lumos abadi untuk penerangan kantornya. Dia senantiasa memilih metode tradisional.
Jika dilihat sekilas, sepertinya pekerjaan Dumbledore benar-benar membosankan. Pekerjaan kantor, mengurusi perkamen-perkamen? Namun jika diteliti lebih baik lagi, beberapa perkamen tersebut sebenarnya berisi informasi-informasi vital dan fatal, yang akan sangat gawat jika tidak diurus dengan segera. Beberapa lagi sangat penting, diantaranya tabel materi kurikulum, yang mana jika tidak diurus akan mengakibatkan sebagian besar siswa kelas lima tidak akan bisa lulus dalam OWL mereka.
Beberapa detik kemudian, sesuatu terjadi.
Salah satu alat perak di atas meja berbunyi, berputar dengan sangat cepat seperti gasing yang tidak memedulikan hukum keseimbangan. Tak goyah, tak berpindah tempat - hanya berputar dengan sangat cepat. Dumbledore menoleh menatap alat itu dengan kaget.
Berpusing semakin cepat, gasing tersebut mulai mengeluarkan suara. Namun bukan suara putaran ataupun suara gesekan, bukan pula suara angin.
Itu adalah suara jeritan. Jeritan seseorang - perempuan, jika mendengar dari nadanya yang melengking tinggi. Tak ada pita suara laki-laki manapun yang akan sanggup mencapai tingkat nada tersebut.
Dan alat itu, tak lain tak bukan, adalah sebuah alat yang sejak dulu dipasang Dumbledore sendiri. Dengan salah satu tujuan pengamanan dan pengawasan yang paling tinggi, berfungsi untuk mendeteksi jika ada kutukan tak-termaafkan yang dilancarkan di dalam lingkungan kastil, memberitahu kondisi lingkungan dan lokasi terjadinya.
Ada jeritan-jeritan di saat yang bersamaan dengan kutukan dilancarkan. Kalau begitu, itu tak mungkin Avada Kedavra - korban tak akan sempat menjerit. Imperius... Kemungkinannya kecil.
Suara jeritan terdengar lagi, bersamaan dengan asap abu-abu yang mulai mengepul keluar. Sangat sedikit, namun terlihat.
Abu-abu berarti...
"Cruciatus... Astaga!" kata Dumbledore tajam. Berdiri dengan kecepatan luar biasa, dia mengeluarkan tongkat sihir Elder dan mengetukkannya ke alat tersebut, yang masih berpusing.
Alat itu berhenti sangat mendadak, namun masih tetap dalam posisi tegak, tidak jatuh berguling-guling seperti gasing pada umumnya. Dari ujungnya keluar asap, yang menunjukkan wajah seseorang, tampaknya perempuan, sedang menjerit-jerit dan meronta-ronta.
Tak membuang-buang waktu, Dumbledore keluar dari kantornya, menyambar jubahnya yang tergantung di dinding. Dia mengenakannya dengan cepat, menuruni tangga dengan jubah berkelebat di belakangnya. Aura sihir luar biasa memancar darinya, dipenuhi oleh tenaga dan kemantapan luar biasa.
Dia berjalan bagai melayang. Satu langkahnya membawanya sejauh delapan meter, hukum-hukum jangkauan tubuh tak berlaku dengan kondisinya yang sekarang. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, menggenggamnya dengan erat. Dia tahu tempat dimana kutukan tersebut baru saja dilancarkan.
Tapi aneh sekali. Walaupun itu adalah tempat asrama yang memang sudah sejak dahulu dicap sebagai asrama hitam, namun itu tetaplah asrama biasa. Murid-murid yang tinggal di sana. Snape juga berjaga, 'kan? Bagaimana bisa kutukan tersebut dilancarkan di tempat itu? Siapa yang melancarkannya?
Ruang bawah tanah kosong melompong, tak ada seorangpun anak Slytherin, tidak bahkan Snape ada di sepanjang koridor gelap tersebut. Mungkin karena sudah sangat malam, mereka telah merebah ke kasur mereka masing-masing. Dumbledore berjalan dengan mantap, tatapan matanya tepatri lurus ke depan.
Ke sebuah pintu di ujung koridor, pintu ruang penyimpanan kuali.
Dumbledore berhenti. Dia menatap pintu itu dalam diam sejenak, sebelum mengayunkan tongkatnya ke depan. Sesuatu seperti bunga api memercik, mantra Finite Incantatem dilancarkan oleh Deathstick, mengangkat mantra Silencio kuat yang dipasang di pintu tersebut dengan mudahnya.
Suara-suara jeritan, yang tadinya dia sangka akan langsung dengar begitu mantra tersebut lenyap, tidak ada sama sekali. Dumbledore mengernyit, memusatkan sihirnya ke telinganya, menajamkan indera pendengarannya.
Dan, itu dia...
Ada yang terisak di dalam.
Terisak, berarti masih hidup. "Alohomora!" seru Dumbledore.
Pintu mengayun terbuka dengan kekuatan luar biasa. Debu-debu beterbangan, mengaburkan bidang pandang. Dumbledore mengayunkan tongkatnya sekali lagi, melenyapkan semua debu seperti bernapas: Tanpa masalah sama sekali, menyisakan kekosongan di udara.
Mereka berdua melihat ke dalam ruangan tersebut, menatap langsung ke sepasang mata yang mendongak menatap Dumbledore dengan tatapan bengis.
Dumbledore menajamkan matanya, menatap orang tersebut dengan seksama. Walaupun dalam kegelapan, dia bisa melihat dengan jelas orang tersebut, dan mata itu, wajah itu...
Dia...
"Kamu menemukan aku, Dumbledore..." desis orang itu, maju selangkah. "Selamat... Untukmu."
Dia memamerkan cengirannya yang berlumuran darah. Dumbledore menatapnya dengan ngeri, mulutnya terbuka penuh horor.
.
.
"T-tidak mungkin..." bisik Dumbledore. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!"
"Wah, mungkin saja," kedikan kepala, memberi isyarat kepada Dumbledore untuk melihat satu orang lagi yang ada di ruangan tersebut.
Dia menahan napasnya dengan ngeri. Sangat ngeri.
Seorang anak perempuan, tergantung terbalik. Sebelah tangan dan kakinya sudah tidak terpasang di tubuhnya, keduanya tergeletak begitu saja di atas lantai yang gelap. Darah dimana-mana, melumuri dinding, melumuri jubah dan baju si anak perempuan, yang masih terisak lemah.
Matanya juga sudah tidak ada, dia tak bisa melihat Dumbledore ataupun siapapun juga.
"T...to..." anak itu terisak lagi. "To...long..."
Dan dengan satu kata terakhir tersebut, anak itu berhenti bernapas.
Jantungnya menjadi diam, sunyi, tak meninggalkan jejak kecuali suara gema lemah yang masih memantul di dinding ruangan yang gelap.
Dumbledore memejamkan matanya dengan pedih. Dia memalingkan wajahnya, tidak mau melihat pemandangan tersebut.
"Wah, sudah mati! Payah juga dia!"
Suara tersebut membuat mata Dumbledore terbuka lagi. Amarah terkumpul di dalam dirinya, dia menoleh perlahan-lahan, sangat perlahan seolah mengumpulkan tenaga di setiap detik dan gerakan otot lehernya. Ujung tongkat Elder bahkan mulai menyala, dan saat akhirnya Dumbledore menatap si pembunuh utuh-utuh, mata birunya sudah berkilat-kilat akan kekuatan.
"Kamu sudah kelewatan, Tom!" geram Dumbledore. Dia maju selangkah, berdiri tegak dengan mantap. "Tinggalkan tubuh Harry sekarang juga!"
"Tom?" tanya Harry, mengangkat alisnya sedikit, melangkah lebih dekat ke Dumbledore. Cahaya dari obor-obor koridor di belakang Dumbledore menyinari wajahnya sedikit, menampilkan wajah yang kebingungan. "Tom siapa yang kamu maksud?"
"JANGAN BERMAIN-MAIN DENGAN HARRY!" seru Dumbledore. Keras, sangat keras sampai-sampai pintu ruangan yang kokoh bergetar. Dia menyambar leher Harry, menempelkan ujung tongkat sihir Elder ke pipinya.
"Tinggalkan Harry sekarang juga! Pergi! PERGI!"
"Aku bingung," kata Harry, mengerjap-ngerjap dengan wajah polos. "Siapa Tom? Apakah yang kamu maksud adalah Tom Riddle, si penyihir bodoh, sok kuat dan sok kuasa, tidak kompeten, yang sudah kukalahkan empat kali dalam berbagai wujudnya itu?"
Alis Dumbledore terangkat tinggi. Dia mengerjap kaget.
Harry menyadari perubahan ekspresi Dumbledore. Dia mendengus, menggeleng-geleng kecil. "Oh, ayolah. Aku yakin di dalam hati kamu juga berpikir seperti itu, Dumbledore. Riddle sesungguhnya tidak kompeten, 'kan? Dia masih belum cukup pantas menyandang gelar Pangeran Kegelapan. Gelarnya yang masih paling cocok untuknya hanyalah... Muka ular."
"K-kamu..." Dumbledore menelan ludahnya, tangannya mulai gemetar. "Kamu..."
"Aku bukan Tom..." kata Harry, menyeringai memamerkan giginya yang berlumuran darah. Beberapa potongan daging masih ada menyelip di sela-sela gigi, bersama dengan beberapa serabut otot dan pembuluh-pembuluh darah. Dumbledore semakin gemetaran, dan Harry tampak semakin geli.
"Aku adalah Harry Potter. Anak-Yang-Bertahan-Hidup. Boy-Who-Lived. Mengalahkan Voldemort berulang kali, menumbangkan Basilisk berusia ratusan tahun dengan satu tebasan, dan mengalahkan ratusan Dementor dalam satu serangan Patronus. Aku mengalahkan seekor naga Ekor-Berduri-Hungaria, salah satu naga terganas dan paling berbahaya di atas sayapnya, dalam sebuah duel udara," kata Harry dengan garang.
"T-Tapi.. Tapi..." Dumbledore menoleh menatap mayat anak perempuan yang tergantung di langit-langit beberapa detik, sebelum matanya mulai berair dan dia terpaksa mengalihkan pandangannya. "Tapi - kenapa - kenapa..."
"Jangan konyol, Dumbledore. Aku sudah ingin melakukan itu sejak lama sekali," kata Harry dengan nada sebal. "Sangat lama, sejak aku masih anak-anak. Namun sayangnya dia," di sini, Harry menyeringai. Dia mengacungkan jempolnya ke arah dahinya sendiri, "Dia tak membiarkanku keluar begitu saja. Kukira dia sudah nyaris mencapai batasnya tahun lalu, saat temannya yang rambut merah itu tidak percaya padanya, di malam hari itu. Perasaan terkhianatinya sangat besar. Namun ternyata di pagi hari, saat bertemu dengan teman gadisnya, dia langsung menekanku kembali ke dasar. Benar-benar deh..."
Harry menggeleng-geleng, seolah-olah dia tampak kecewa akan sebuah berita pertandingan Quidditch di koran, bukannya di sebuah ruangan gelap, di bawah todongan Deathstick, dicengkeram oleh penyihir yang dianggap terhebat di abad ini. Dia seolah-olah telah melupakan anak perempuan yang tergantung begitu saja, di belakangnya. Dia menghela napas.
"Yah... Tapi beruntung sekali, si Umbridge itu malam ini baru saja mengerjai dia habis-habisan. Bendungan di dalam dirinya akhirnya jebol! Jadilah aku akhirnya... Bisa juga..." Harry terkikik. Dia mencengkeram pergelangan tangan Dumbledore yang menggenggamnya. "Akhirnya aku bisa BEBAS!"
Dalam satu gerakan yang luar biasa cepat, Harry memutar tangannya yang memegang pergelangan tangan Dumbledore. Suara tulang-tulang patah terdengar, dan Dumbledore mengeluarkan suara kesakitan. Dia jatuh terduduk.
"Whoops! Sori, Profesor!" seru Harry, menutup mulutnya dengan telapak tangannya, bergaya centil. "Patah ya? Aaah tak apalah! Ya ya ya? Aku pergi dulu!"
Harry terkekeh-kekeh, berlari keluar dengan kecepatan tinggi. Dumbledore meringis, jatuh terguling hingga dia berbaring terlentang. Dia tak bisa membiarkan ini terjadi... Tidak bisa. Semua yang telah dia lakukan, semua yang telah Harry lakukan -
Tidak bisa.
"Stupefy!" seru Dumbledore.
Suara gedebuk pelan menandakan bahwa Harry telah terbius. Dia memejamkan matanya, masih kesakitan - dia tak akan bisa keluar dari sini dengan begitu saja, tangannya cedera terlalu parah. Dia tak bisa melakukan apa yang akan dia lakukan sendirian, dalam kondisi begini.
Terpaksa...
"Severus..." bisik Dumbledore, memasukkan pesan ke patronus di depannya. Tidak sekuat biasanya, namun cukup jika hanya untuk menyampaikan pesan. "Severus... Datang ke sini... Segera!"
Dia menunggu, berharap sekuat tenaga bahwa Severus tidak datang terlalu lama, dan mau bekerja sama.
.
"Apa yang terjadi?" tanya Harry, tampak sangat bingung. Dia tampak sama sekali tak mengerti, bagaimana dan kenapa dia bisa duduk di dalam sebuah ruangan kosong, dengan rantai-rantai sihir terikat kuat di sekelilingnya. Rantai yang sangat kokoh, menahannya tidak bergerak, tetap berada di kursinya. "Apa yang terjadi? Hei! Ada orang? HEI!"
Snape menoleh ke Dumbledore. Dia menggeleng pelan, mengernyitkan dahinya sedikit. "Seratus persen bukan kerasukan. Dan seratus persen apa yang kita hadapi di sini adalah Harry yang asli. Kita menghadapi kasus yang langka, Dumbledore. Kasus Psikologis, yang umum disebut sebagai Kepribadian Ganda, ini adalah bidang yang sudah pernah diteliti oleh Muggle, namun masih sangat jarang didalami oleh kaum kita."
"Kalau begitu... Yang kuhadapi tadi...?" bisik Dumbledore, mulai mengerti. "Kukira... Tadinya kukira dia kerasukan, atau benar-benar sudah menjadi -"
"Gila?" kata Snape dingin. Dumbledore membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi, tak tahu harus berkata apa. Snape menghela napas.
"Aku harus mengatakan, dengan situasi dan tekanan yang dia hadapi selama ini, jujur saja..." Snape mengerling Harry, yang masih berteriak-teriak, mencoba memanggil pertolongan. "Jujur saja, aku cukup heran Potter belum mengalami breakdown. Kupikir tadinya karena dia memang bermental kuat... Namun orang dengan mental sekuat apapun mustahil bisa bertahan selama ini tanpa pernah runtuh sekali pun. Aku sesungguhnya tidak kaget menemukannya dalam kondisi seperti ini..."
"TOLONG! ADA ORANG? TOLOONG!" seru Harry, makin panik.
"Tapi - sepertinya sekarang dia sudah normal kembali, Severus," kata Dumbledore, menatap Harry dengan sangat khawatir. "Mungkinkah - mungkinkah, apapun yang tadi muncul itu - apapun itu, sudah tak muncul lagi?"
"Aku ragu," kata Snape, mengernyit. "Kasus psikologis, apalagi mengenai penyakit kepribadian ganda seperti ini, sangat langka. Sejarah kasusnya membutuhkan waktu penyembuhan yang sangat lama. Aku hanya pernah mempelajari mengenai ini sedikit, saat aku berkelana ke dataran Eropa delapan tahun lalu. Dan sepanjang yang kutahu, setiap kasusnya membutuhkan waktu penyembuhan yang sangat lama. Mustahil dia sudah menghilang begitu saja. Apalagi, kamu sudah melihat huruf yang dia tulis di lantai ruangan itu, 'kan?"
"Huruf... 'G' tersebut?"
"Ya. Itu hanya permulaan. Berdasarkan yang sudah kukorek lewat Legilimency barusan, dia ingin menuliskan empat huruf berturut-turut. G, L, A, dan D."
"Glad - Senang?" bisik Dumbledore ngeri. Snape mengangguk.
"Dan aku takutkan itu bukanlah akhirnya. Ada kemungkinan besar dia ingin mengulangnya berkali-kali, hingga puas. Dia gila, Dumbledore, terima fakta itu," kata Snape, menatap Dumbledore penuh-penuh. "Tak ada kesempatan dirinya yang satu lagi sudah menghilang begitu saja."
"Kalau begitu... Tak ada cara lain..." bisik Dumbledore. Dia menoleh ke Snape, menatapnya dengan tajam. Snape menyadari tatapan Dumbledore tersebut, dan menoleh menatapnya balik.
"Apa, Dumbledore?"
"Tak ada cara lain, Severus," kata Dumbledore, suaranya bergetar. Dia mengerling Harry sejenak, sebelum melanjutkan, "Kurung dia, sedalam mungkin. Kurung sejauh mungkin, sampai kira-kira akan membutuhkan waktu bertahun-tahun... Jika dia mencoba kembali..."
"Kamu menyuruhku untuk melakukan hal yang sangat sulit, Dumbledore," kata Snape. "Pikiran dan kepribadian memang berada dalam satu wadah yang sama, namun esensi mereka berbeda. Pikiran menyatu dengan fisik, mudah dibaca dan dipermainkan. Namun Kepribadian, psikis, menyatu dengan jiwa. Memainkannya akan berakibat fatal jika salah dalam melakukannya."
"Ya... Aku tahu..." bisik Dumbledore. "Tapi buatlah setidaknya agar dia tidak bisa muncul... Setidaknya untuk tiga tahun ke depan."
"Ada alasan memilih 'tiga' tahun?" tanya Snape.
"Kalau semuanya berjalan lancar, aku yakin Harry akan mengalahkan Voldemort tidak lama, dalam waktu kurang lebih dua tahun," kata Dumbledore pelan. "Setelah Voldemort kalah, aku yakin tekanan mental kepada Harry akan berkurang. Kepribadiannya yang satu lagi, aku yakin akan terkubur dalam-dalam."
Snape mengernyit, menoleh memandang Harry lagi. "Cukup masuk akal, Dumbledore. Hal itu mungkin saja... Tapi kemungkinan untuk bisa berhasil sangat sedikit."
"Lebih baik sedikit, daripada tidak ada sama sekali," kata Dumbledore muram. Dia berjalan ke gelas kaca yang memisahkan dua ruangan, sekat yang membatasi antara ruangan tempat Harry ditahan dan ruangan tempat mereka berdua sedang berbicara. "Aku mengandalkanmu untuk ini, Severus."
"Kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?" tanya Snape, mencibir.
"Kamu tahu persis aku tak akan bisa melakukannya. Aku tak akan sanggup menyaksikan hal yang kusaksikan beberapa jam lalu sekali lagi," jawab Dumbledore, suaranya bergetar.
Snape diam, memandangi Dumbledore sejenak. Dia berkata, "Kamu terlalu menyayangi Potter, Dumbledore. Aku masih bisa mengerti jika kamu ingin menjaganya demi pemenuhan ramalan, tapi menjaganya hingga ke level ini -"
"- sudah kewajibanku untuk melakukannya," bisik Dumbledore. "Aku berhutang banyak kepada James dan Lily, dan aku bertanggungjawab sepenuhnya akan hal ini. Akulah yang menyebabkan dia menjadi seperti ini..."
Dumbledore menggeleng sedih, air mata mengalir di pipinya. "...Aku tak menyangka, akan menjadi seperti ini..."
Snape memandangnya dalam diam selama beberapa lama. Mereka berdua berdiri dalam senyap, hanya ditemani oleh suara-suara dari Harry yang terdengar menembus sekat. Akhirnya, Snape menghela napas panjang-panjang, dan mengeluarkan tongkat sihirnya.
Menoleh kepada Dumbledore, dia bertanya, "Bagaimana dengan Miss Perks?"
"Aku yang akan mengurusnya," kata Dumbledore pelan. Dia mengeluarkan tongkat sihir Elder, matanya kembali berisi tenaga.
Snape mengernyit sedikit. Dia berkata pelan, "Ya, Miss Perks memang hanyalah murid biasa yang tak terkenal. Dia tak punya teman satupun di Gryffindor, kecuali anak perempuan itu... Siapa namanya? Lily Moon?"
"Mereka lebih dari sekedar teman," jawab Dumbledore. "Karena itulah mereka dijauhi oleh anak-anak perempuan Gryffindor lainnya."
"Ah, aku mengerti. Diasingkan karena hal semacam itu. Dasar anak-anak bodoh..." ujar Snape, meringis kecil. "Tapi tetap saja, Dumbledore. Dia adalah manusia. Kamu benar-benar mau menghilangkan memori mengenai dia dari semua orang? Menghapus seluruh bukti keberadaannya dari dunia ini?"
Dumbledore memandang Harry, yang telah berhenti berteriak-teriak dan kini duduk lemas di kursinya. Dia menelan ludahnya, dan mengangguk kecil.
"Ini demi kebaikan yang lebih besar," jawab Dumbledore pelan. "Harry harus kuselamatkan, Severus."
Snape mengernyit. Dia berkata dingin, "Akan butuh beberapa kali sesi 'terapi' untuk bisa mengunci dirinya yang satu lagi jauh-jauh."
"Gunakan kedok latihan Occlumency, Severus," kata Dumbledore.
"Apa? Dan tidak melatihnya Occlumency?" tanya Snape, agak kaget.
"Tidak perlu. Prioritas, ini harus lebih dahulu," kata Dumbledore pelan. "Harry bisa menguasai Occlumency dengan sendirinya jika waktunya tiba."
Snape mengangguk. Dia membuka pintu ruangan, dan baru melangkah ke ruangan sebelah, ketika lagi-lagi Dumbledore memanggil namanya.
Berhenti mendadak, dia menatap Dumbledore dengan agak tidak sabar. Namun Dumbledore tidak langsung berbicara. Dia menatap Snape dengan ekspresi campuran cemas dan khawatir.
"Severus, tolong jangan..." Dumbledore menelan ludah. "Jangan beritahu ini ke siapapun."
Snape menatapnya, mengangkat alisnya sedikit. Dia berkata, "Memangnya aku pernah beritahu ke siapa?" kemudian berjalan menuju ruangan sebelah.
Dumbledore masih berdiri dengan agak gelisah, di ruangan tersebut. Dia menyaksikan dengan ngeri, bagaimana Snape melancarkan Mind Magic yang sangat kuat kepada Harry, bagaimana Harry meronta-ronta dan berontak, bagaimana dia kembali muncul dan berusaha melepaskan diri -
Sebelum akhirnya semuanya senyap.
"Semuanya baik-baik saja..."
.
-o0o-
.
Dia berdiri di perpustakaan, mengerjai gadis berambut cokelat dengan mantra halusinasi sederhana. Lucu sekali melihat wajah gadis tersebut, kebingungan... Lucu sekali melihat dirinya yang satu lagi tak tahu sama sekali akan apa yang baru saja dirinya lakukan.
Dumbledore bodoh... Dia mengira dirinya akan mati di tangan Voldemort. Sangat yakin, karena Dumbledore sendiri yang mengirimkan dirinya untuk berjalan menuju Guillotine, atas nama Kebaikan yang Lebih Besar, demi menghabisi Horcrux. Dumbledore benar-benar mengira dirinya akan mati, atau setidaknya, dirinya benar-benar tak akan kembali lagi...
Namun dua tahun pengurungan? Itu bukan melemahkannya, itu malah menguatkannya. Seperti pernah dikatakan, "Menyimpan kejahatan di dalam kotak sempit jauh lebih mengerikan dibandingkan melepasnya di udara luas. Jika kotak itu pecah, kekuatan yang menyembur keluar akan lebih besar."
Dia menyeringai, mendengarkan kata-kata si gadis mengenai Akses... Hmm... Menarik...
.
Dia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mencoba keistimewaan yang dia miliki. Dia berjalan keluar dari ruang rekreasi ketua murid, jubah gaib dan peta perampok di tangannya.
Dia berjalan sepanjang koridor, menaiki tangga satu per satu... Dia memerintahkan lukisan Nyonya Gemuk untuk membuka, kemudian dia menaiki tangga menuju ke kamar anak laki-laki.
Menemukan Cornish sangatlah mudah. Dia menyeretnya keluar, setelah sebelumnya melumpuhkannya dengan mantra ikat-tubuh sederhana. Dia mulai bekerja.
Darah muncrat ke mana-mana...
.
Dia bergerak dengan jubah gaib dan Peta Perampok di tangan. Mengelabui pikiran dirinya yang satu lagi sangatlah mudah. Tinggal memberikan beberapa memori palsu... Dan dirinya yang bodoh itu langsung percaya begitu saja. Dia melihat dua titik saling tumpang tindih di dalam lemari sapu.
Dia menyeringai. Koridor lantai tiga... Dia mengkonjurasi pasak hitam panjang, melevitasinya, sementara dua sejoli di dalam lemari masih bergerak dengan berirama, tak mengetahui sama sekali bahwa nasib mereka akan berakhir malam ini juga.
Satu ayunan tongkat, pasak tersebut menancap dalam-dalam.
Dia menyeringai, menuliskan huruf berikutnya.
.
Rupanya beberapa orang mengira apa yang ditulisnya ada hubungannya dengan Seven Deadly Sins. Semakin menarik, dan semakin lucu... Semuanya semakin lucu. Dan semakin menggairahkan.
Dumbledore rupanya masih tetap tak mau membocorkan mengenai pelaku sesungguhnya. Hagrid mempercayai Dumbledore seperti anak anjing, dia juga memberikan saran yang sama, agar dirinya menjauh dari kasus ini. Hah... semakin seru.
.
Perasaan dirinya yang satu lagi kepada si gadis berambut cokelat memberikan sesuatu yang berbeda. Sebuah tekanan yang kuat. Dia tak bisa membiarkan ini. Dia harus menyingkirkan si gadis rambut cokelat sejauh mungkin dari dirinya.
Gadis ini bisa menjadi ancaman terbesar baginya...
.
Ah, berhasil. Si gadis akan dipenjara, terima kasih berkat kerja cermat dan cepatnya. McGonagall memang tidak dia niatkan untuk bunuh sejak awal, dia hanya memanfaatkannya untuk memfitnah si gadis. Dia bisa melanjutkan sekarang... Sampai dia puas, mengulangi kesenangan berkali-kali sampai puas!
Tapi ada yang aneh. Dirinya yang satu lagi bertindak aneh. Dirinya yang bodoh mengangkat tongkatnya! Dia mencoba menyelamatkan gadis rambut cokelat itu!
Gawat! Gawat! Dia bisa kembali terkurung!
.
Rupanya mereka sekarang mengamati memori... Mereka akan segera mengetahuinya...
Nah, ini dia yang dia tunggu sejak lama. Satu trauma, trauma yang sangat besar. Cukup besar untuknya melesat masuk, mengubur dirinya yang bodoh, bertukar tempat dengannya sepenuhnya akhirnya.
Akhirnya...
AKHIRNYA!
.
-o0o-
.
Dia membenturkan kepalanya untuk terakhir kali ke lantai. Menghentikan jeritannya, namun tidak menghilangkan napasnya yang memburu maupun detak jantungnya yang terdengar bagai genderang perang kuno. Dia membungkuk, kesakitan. Kepalanya terasa mau pecah...
"H-Harry?" bisik seorang perempuan.
Perempuan?
Ah, ya...
Hermione namanya ya...
.
"Harry? Harry?" cicit Hermione, gemetaran hebat. Dia memandangi Harry, yang meringkuk di lantai dalam posisi ganjil. Setelah semua yang telah mereka saksikan barusan, Harry telah menjerit-jerit, terdengar sangat kesakitan, dan sangat mengerikan. Begitu mengerikannya hingga Hermione menutup kedua telinganya, mundur ke sudut ruangan. "Harry... Kumohon? Jawablah aku, kumohon..."
Suara terdengar dari Harry. Tubuh Harry gemetaran, sangat kentara. Hermione melihatnya, dia berpikir bahwa Harry menangis- tersedu-sedu, penuh kengerian, atau menangis ketakutan, atas semua yang telah mereka berdua lihat, atas semua kegilaan tersebut -
Setidaknya, tadinya Hermione mengira itu adalah suara tangis. Atau isak.
Ternyata bukan itu.
Melainkan suara kekeh, pertama pelan, kemudian semakin keras, hingga akhirnya nyaring, tawa gila tanpa rasa bahagia sama sekali. Harry melempar pandangannya ke atas, memamerkan seringainya ke langit-langit ruangan bundar tersebut.
Dan dia masih saja terkekeh, selama beberapa detik penuh. Saat kekeh tersebut mereda, Harry meregangkan lehernya, dan menatap Hermione. Ekspresinya berubah menjadi ramah.
"Ah... Ya. Hermione?" tanya Harry.
"Y-ya, Harry?" cicit Hermione.
Dia tersenyum dengan riang. Mendengus pelan, dia berkata, dengan jelas dan tenang.
"Harry tidak ada di sini, Hermione."
.
