Disclaimer: I own nothing here. All names and characters, places, all of them, belong to JK Rowling, Warner Bros company, Electronic Arts, and many others. I just own the plot. There's no money making here.
"Maybe we should just stay here Harry... and grow old"
.
"Apa?" bisik Hermione.
Harry tertawa. Bukan... Dia tertawa histeris. Seperti maniak, tawa yang sangat mengingatkan Hermione akan Voldemort, saat makhluk yang pernah menjadi mimpi buruk setiap penyihir di Inggris tersebut tertawa nyaring, memerintahkan Hagrid melemparkan tubuh Harry ke tanah di hadapan mereka semua.
Sebuah tawa tanpa rasa kasihan, tanpa perasaan.
Namun mungkin akan lebih baik jika seperti itu. Mungkin akan lebih baik jika saja tawa yang didengarnya dari Harry saat ini benar-benar sama persis seperti Voldemort. Bukannya malah mengandung rasa geli sangat besar seperti sekarang.
Rasa geli yang tercampur dalam tawa maniak, dan dilancarkan oleh Harry, lebih dari cukup untuk membuat Hermione merasa ingin muntah.
"Harry tidak ada di sini, Hermione, berapa kali aku harus mengulangi?" kata Harry, tersenyum keji. Dia melangkah ke samping sedikit. "Dia sudah terlalu lemah. Sangat lemah."
Dan sekarang, dia terkekeh. Dia mengambil satu langkah lagi ke kanan, gerakan yang membuat Hermione sadar bahwa dia melangkah mendekatinya.
Namun Hermione tidak bergerak. Dia tetap menatap Harry, sekujur tubuhnya gemetaran. Dia tak sanggup berkata maupun melakukan apapun.
Harry mengeluarkan sebilah kayu dengan gerakan sangat mulus, seolah sambil lalu, menggenggamnya di tangan kanannya. Hermione berjengit sedikit, dia mengambil satu langkah mundur - sesuatu yang tidak luput dari perhatian Harry.
Kekeh menghilang, Harry memasang wajah yang betul-betul berbeda - ekspresi tersinggung.
"Ayolah, Hermione," kata Harry. "Kamu sudah mengakibatkan aku terkurung sangat lama di dalam otak Harry. Gara-gara kamu terus bersamanya, dan terus menjejalinya dengan akal sehat, aku tak pernah berhasil mencoba muncul ke permukaan, tak peduli sekeras apapun aku mencoba. Tak peduli walaupun Snape menghentikan 'terapi' yang diberikannya kepadaku sebelum selesai, aku tetap tak bisa keluar."
Hermione mundur selangkah lagi, bibirnya bergetar. Akal sehat nyaris tersedot seluruhnya dari dirinya, dia tak sanggup berpikir jernih untuk menghadapi situasi ini. Dia sama sekali tak mempersiapkan diri akan kemungkinan ini, bahwa dia, Hermione, akan terjebak di dalam ruangan ini bersama dengan si pelaku.
Dan bahwa si pelaku tersebut adalah sesuatu yang sangat kejam, dan gila.
Dan bahwa dia ada di dalam tubuh Harry sendiri. Bahwa ini bukanlah sihir, bukanlah kerasukan. Bahwa ini terjadi karena benar-benar alasan murni non-magis.
Tak ada yang bisa dia lakukan... Sama sekali.
Harry memiringkan kepalanya sedikit, menyadari Hermione yang nyaris mengalami breakdown besar-besaran. Dia mengangkat sebelah alisnya, berkata, "Hei, kenapa kamu?"
Hermione tidak menjawab, gemetarannya bertambah hebat.
Sesuatu yang membuat Harry tampak semakin geli, dan keji.
"Ayolah, Hermione. Kukira kamu selalu siap akan kondisi dan situasi apapun. Lihat dong, Harry saja sanggup menerima kemungkinan akan dirimu, dan siap jika dia harus menghadapi situasi seperti ini," ejeknya, melangkah mendekat lagi. Jarak di antara mereka berdua tinggal tiga setengah meter sekarang. "Dia sendiri 'kan yang tadi mengatakan bahwa dia akan menjagamu, dan menjaga orang lain dari dirimu, jika saja itu yang akan terjadi?"
Tangan kanan Harry, yang memegang tongkat sihir holly, mengangkat perlahan-lahan. Seolah seperti mengejek, menikmati setiap senti perubahan posisi lengannya tersebut. Air mata kini mulai membanjiri pipinya, Hermione hanya sanggup menatap pria di depannya -
Pria yang merupakan sahabatnya, yang kini mengacungkan tongkat sihirnya dengan lurus dan tanpa keraguan kepadanya. Seringai itu, mata hijau yang telah tak sanggup dia kenali lagi, wajah yang tertarik dan rusak tak menyisakan bekas sahabat yang dia kenal... Hermione menggeleng sekali, dan menelan ludahnya.
Hanya ada satu hal, yang mungkin, akan dilakukan Harry, dalam kondisi seperti ini.
Persetan dengan akal sehat. Persetan dengan menyelamatkan diri.
Masa bodoh dengan semuanya...
"Harry..."
Namun kalimat tersebut tak sempat dia selesaikan. Tangan Harry mengayun bagaikan kelebatan angin, dan satu kata kutukan terlontar dari mulutnya.
Sectumsempra.
Hanya terdengar suara desir, tanpa apapun lagi.
.
Seolah disabet oleh pedang raksasa, tertajam, dan tak kasatmata, darah muncrat dalam garis lurus dari tubuh Hermione, memanjang dari lehernya ke perut. Warna merah menghambur, jubahnya robek, Hermione terlontar oleh kekuatan luar biasa kutukan ilmu hitam, salah satu yang terkuat dalam arsenal mantera Harry, dan salah satu yang terkejam. Kutukan yang sama, yang digunakan Harry dalam duelnya di kamar mandi dua tahun yang lalu, kutukan yang nyaris membunuh lawannya.
Punggung Hermione menubruk meja. Dia melihat langit-langit di depan matanya, langit-langit ruangan, kemudian barang-barang yang beterbangan, berjatuhan dari meja yang tertubruk olehnya. Beberapa menimpanya, memantul, dua buah buku tebal bahkan menimpa kepalanya, sebelum menggelinding ke lantai.
Setelah semua keributan itu selesai, Hermione hanya bisa berbaring, menatap langit-langit ruangan bundar tersebut. Dan dia menyadari satu hal yang absen, yang seharusnya ada dalam kondisi seperti ini.
Rasa sakit.
Dia tidak merasakan sakit sama sekali dari menubruk meja, kepalanya tak merasakan apapun dari tertimpa beberapa buku barusan. Dia tidak merasakan apa-apa.
Sabetan kutukan telah menembus tubuhnya, menyabet tulang belakangnya dan mematikan sarafnya.
Butuh beberapa detik, sebelum dia mulai merasakan satu hal: Rasa mengawang-awang, yang perlahan menguasai dirinya.
Pandangannya mulai kabur, kabut mulai menutupi ruangan... Menutupi matanya.
Aku sedang sekarat...
Dia terbatuk, darah muncrat dari dalam tubuhnya. Dia meringis.
Beberapa detik dan batuk kemudian, akhirnya dia merasakan sakit.
Aku akan mati...
"Mau tahu?" Harry memutar tongkatnya dengan santai di tangannya. "Aku ingat dulu diriku yang lemah ingin menulis surat wasiat, sebelum dia menghadapi naga. Aku ingat dia ingin mencantumkan namamu saja. Dia sangat menyayangimu, sesuatu yang aku ragu dia menyadarinya. Tapi aku sadar sepenuhnya, karena rasa itulah yang terus menekanku selama ini. Sangat merepotkan..."
Suara kekeh geli lagi. Terdengar kejam dan mengerikan.
"Ah, tapi kamu akan mati di sini," kata Harry. "Dan tak akan ada lagi yang bisa menggangguku. Akan kubunuh..." Harry menyeringai. "Akan kubunuh semuanya... Semua yang ada di kastil ini. Semua orang, semua peri-rumah, semuanya! Akan kuambil tongkat sihir Elder!"
Tawa gila, maniak, tanpa perasaan. Suara kaki menapak dengan santai, menjauhi tubuhnya...
"Sampai jumpa, bapak-bapak," kata Harry kepada para lukisan. "Dan kuperintahkan kalian jangan membocorkan ini kepada siapapun."
Suara pintu dibuka...
"Harry..." panggil Hermione.
Suara langkah kaki lenyap.
.
-o0o-
.
Rasa sakit yang luar biasa.
Dimana aku?
"Apa yang -"
Rasa sakit lagi, kali ini lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya. Dia terjatuh, memegang kepalanya dengan kesakitan, mencengkeramnya dengan kekuatan yang besar, seolah mencoba dengan sia-sia mencegah kepalanya meledak. Rasanya memang seperti mau meledak, seolah-olah ada sesuatu yang menusuk dari dalam kepalanya.
Apa yang ku... Lakukan?
Apa yang kulakukan?
"Ti-tidak mungkin!" napasnya terengah-engah, keringat dingin membanjirinya. Rasanya seperti kutukan Cruciatus, atau mungkin bahkan lebih buruk lagi dibandingkan itu. "TIDAK MUNGKIN!"
"Harry...?"
Hermione? Apa yang terjadi?
"DIAM! TETAP DI TEMPATMU! KAMU TAK BISA KELUAR LAGI!"
Kilasan-kilasan memori berkelebat lagi, kali ini lebih cepat dan menyakitkan dibandingkan sebelumnya. Dibandingkan apapun, ini lebih menyiksa. Lebih parah dibandingkan kutukan Cruciatus dari Voldemort sendiri, lebih mengerikan untuk disaksikan dibandingkan semua ingatan yang dia lihat setiap kali dia ada di dekat Dementor.
Dia meringkuk, seperti anak kecil, berusaha menamengi dirinya dari hunjaman jarum-jarum tak kasatmata yang menikamnya terus menerus bagaikan hujan.
Tidak... TIDAK!
"Harry..." suara isak.
Hermione!
"Her... Mione!"
"Harry, lawan dia!" bisik Hermione. "Lawan dia..."
Jangan sampai dia mati... Salahku kalau dia mati...
Jangan...
"DASAR... SIALAN!"
Harry menggenggam kembali tongkat sihirnya. Dia berdiri perlahan, berusaha mengabaikan sekuat tenaga rasa sakit kepala yang terus menyerangnya. Dia tahu bahwa si pemilik terbangun dengan cara yang luar biasa, sangat ajaib.
Dan penyebabnya hanya satu kata, satu panggilan nama, yang dikeluarkan oleh perempuan itu.
Kamu... Jangan - jangan sakiti -
"Kamu... Benar-benar gila, sialan," kata Harry, menyeringai kejam sembari menyeret kakinya menuju tubuh Hermione. Dia tidak lagi berbaring menatap langit-langit, melainkan terbaring miring, menatap Harry dengan gemetaran, darah terus menerus mengalir keluar dari sabetan menganga di tubuhnya.
"Harry..."
"Sialan!" jerit Harry, meringis. "Kamu..." dia mengangkat tongkatnya, perlahan-lahan, ke arah Hermione. Namun kali ini bukan karena dia menikmatinya, melainkan karena dia bertarung sekuat tenaga melawan kekuatan yang menahannya, sesuatu yang berusaha menarik tangannya turun, sesuatu yang bertekad mengklaim kembali apa yang sedang dia kuasai.
"Kamu... Benar-benar sialan! Bagaimana bisa hanya satu kata darimu bisa membangunkannya lagi? Dasar sialan!" teriaknya.
Hermione... Jangan...
Tenaganya melemah, dia mengendurkan pegangannya. Dia tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menyaksikan ini terjadi. Dia berusaha melawan lagi, namun dia ditarik dari dalam kegelapan oleh tangan-tangan kejam, yang luar biasa kuat. Dia berusaha mencakar-cakar kegelapan di sekelilingnya, berusaha memanjat kembali.
Harry terkekeh, menyadari akhirnya tenaga yang berusaha menahannya menghilang perlahan-lahan. Tongkat sihirnya akhirnya bisa dia acungkan lurus-lurus kepada Hermione.
Dua kata, dan semuanya akan selesai.
Begitu perempuan ini mati, tak akan ada lagi jangkar bagi kepribadiannya yang lain. Dia akan berkuasa sepenuhnya akan raga ini.
Akhirnya.
"Akan kuakhiri kamu saat ini juga," desisnya. "MATI KA -"
"Harry..."
.
Hermione tersenyum kepada wajah di hadapannya, wajah kejam dan keji yang siap melancarkan kutukan yang akan menghabisinya, mengakhiri rasa sakitnya. Mengakhiri hidupnya, memutus alir nyawanya.
Wajah orang yang, demi dirinya, dia rela menempuh perjalanan sangat jauh dan tanpa tujuan. Melewati bukit-bukit berbatu, malam-malam yang dingin tanpa kehangatan, menghabiskan setiap detik dalam ketakutan bahwa mereka tidak dapat menyaksikan pagi hari. Mengetahui kemungkinan bahwa mungkin tidak akan ada akhir bagi mereka, dan bahwa dunia sudah terbakar habis di hari berikutnya, sementara mereka belum menemukan apa yang mereka cari.
Melepas orangtuanya, memilih dirinya dibandingkan pria yang dia cintai. Tetap bersamanya hingga akhir...
"Lari, Harry..." bisik Hermione. "Larilah. Gunakan mantra panggil untuk mengambil Floo..."
Dia terbatuk. Rasa sakit yang luar biasa, namun seperti apa yang sudah sejak lama dia terima, dia menggeleng saja.
Persetan rasa sakit.
"Lari... Sebelum mereka datang ke sini."
Dan ekspresi wajah di depannya berubah.
Mata tersebut kembali menyala, berisi nyawa, kekejaman menguap seperti asap. Seringai jahat digantikan dengan wajah yang polos, menatap dengan tatapan yang sangat dia kenal.
Wajah sahabatnya... Akhirnya.
Menit demi menit berlalu, sementara darah terus mengalir, dan napas memburu dari si pria sudah menghilang.
Hermione tersenyum kepada wajah pria itu, wajah sahabatnya, orang yang paling dia cintai dalam hidupnya. Menarik napas dalam-dalam, napas yang mungkin akan menjadi napas terakhirnya, napas yang tak mau dia gunakan untuk hal lain.
"Tetaplah hidup, Harry..." Hermione tercekat. Darah memenuhi tenggorokannya, namun dia tetap tersenyum. "Aku... Mencintaimu."
Kalau perasaan ringan ini, desau angin sejuk ini, dan lenyapnya semua rasa sakit ini adalah kematian...
Hermione tak memiliki penyesalan apapun. Air mata mengalir dari matanya, mata yang tetap terbuka, menatap sepasang mata hijau di atasnya.
.
.
Tidak...
Tidak...
"H-Hermione?" suara Harry gemetar, dia meraih Hermione, menatap mata cokelat tersebut, mengangkatnya ke tangannya, ke pangkuannya. Dia menelan ludahnya, gemetar di tangannya semakin hebat saat dia mendapati mata Hermione tak juga berkedip... dan dadanya tak lagi bergerak berirama. "H-Hermione..."
"Mr Potter, bubuk Floo ada di balik lukisan Dumbledore. Ambil sekarang juga!" seru salah satu lukisan kepala sekolah.
Tidak... Tidak! Tidak! Apa yang telah kulakukan?
Suara-suara kejam di dalam kepalanya telah lenyap sepenuhnya. Tak menyisakan bekas, seolah tak pernah ada sejak awal.
Atau mungkin dia memang tak pernah ada, dan bahwa sesungguhnya sejak awal dirinya sendirilah yang melakukan semua ini...
"Potter! Cepat ambil bubuk Floo-nya! Lari dari sini!" kali ini lukisan Phineas Nigellus yang berseru, tampak sangat emosi. "Kamu mau membuat kematiannya sia-sia? Lari!"
"Tidak..." Harry menggeleng. Air mata membanjirinya dengan deras, kacamatanya tak lagi bisa memperbaiki penglihatannya. Basah kuyup akan air, dan tergeser karena licinnya hidungnya. Namun entah apa yang membantunya, dia masih bisa menatap mata cokelat tersebut di pangkuannya, bersama dengan warna merah darah yang menggenang.
Sesuatu yang justru semakin menyiksanya.
"POTTER!"
"P-panggil bantuan..." ujar Harry gemetar.
"Apa?"
"Panggil bantuan, cepat!" perintah Harry, tangannya menyangga kepala Hermione di pangkuannya. Tongkat sihir telah dia lupakan, segala magis telah terhapus dari dalam kepalanya.
Hanya ada Hermione.
"Kamu bodoh ya? Dia sudah mati, Potter! Mati untuk melindungimu, untuk menyadarkanmu! Untuk menyelamatkanmu! Dan kamu mau membuat itu sia-sia?" seru lukisan Phineas.
"DIA BELUM MATI! PANGGIL BANTUAN!"
"Dasar bod-"
"AKU PERINTAHKAN KALIAN SEMUA!" raung Harry, mendongak akhirnya ke seluruh lukisan di ruangan bundar tersebut, yang dari tadi hanya menyaksikan saja. "PANGGIL BANTUAN! SIAPAPUN JUGA! SEKARANG! CEPAAAAT!"
Seluruh lukisan, bahkan Phineas, berjengit. Mereka tak dapat melawan kuasa Ketua Murid, sama halnya dengan mereka tak bisa melawan kuasa guru dan kepala sekolah. Mereka langsung berlarian, keluar dari lukisan mereka, menghilang menuju tempat-tempat lain yang tak diketahui, dalam hitungan detik.
Semua, kecuali satu, yang tinggal di belakang sedikit lebih lama.
Sepasang mata biru menyaksikan Harry menangis tersedu-sedu, dengan Hermione di tangannya. Dia menyaksikan bagaimana dahi mereka bersentuhan, bagaimana rangkulan Harry kepada tubuh tersebut semakin erat setiap detiknya, sementara tangisnya semakin hebat.
"Maafkan aku, Harry..." bisiknya, air mata mengalir dari lukisan tersebut.
Sihir perintah bekerja, dia menunduk, dan ikut keluar bersama yang lainnya.
Akan butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya rombongan Auror dan Kingsley sendiri, yang berangkat dari St. Mungo, dan telah ditemani oleh para penyembuh, tiba.
Beberapa menit yang terasa bagai sepanjang umur alam, bagi Harry Potter.
.
-FIN-
.
.
This is a short epilogue.
Read if you want.
.
- Simetris -
"Mungkin kita sebaiknya tinggal di sini saja, Harry... Menjadi tua..."
Kadang aku menyesal tidak melompat pada tawaran yang dia berikan kepadaku itu. Andai saja aku menjawab "Ya", mungkin kami akan berbeda. Voldemort mungkin masih ada, masih hidup dan berkuasa. Ratusan orang pasti mati, dan dunia ini akan jatuh ke dalam genggamannya perlahan-lahan.
Tapi kami tetap hidup. Berdua, bersama, dalam segalanya. Hidup.
Aku membalik-balik halaman jurnal tersebut. Kernyitan menghiasi dahiku yang muda, menatap setiap kata yang tertulis di lembaran-lembaran kertas, ditulis sendiri oleh salah satu penyihir legendaris dan paling terkenal di zamannya.
Malam ini aku bermimpi, mengenai sebuah tempat. Sebuah tempat di mana segalanya serba cokelat, abu-abu. Di ujung sana, berdiri sebuah Archway luar biasa tinggi.
Aku teringat akan kisah-kisah kuno, kisah-kisah yang pernah diceritakan oleh bibiku kepada sepupuku, yang aku dengarkan dengan samar-samar dari balik pintu lemariku. Kisah-kisah mengenai ke mana kita pergi setelah dunia berakhir, tempat apa yang kita tuju setelah semuanya ini berlalu. Aku bahkan masih ingat, sebuah tempat dimana aku bertemu kembali dengan seseorang, di perbatasan, tempat perantara dan tempat penantian itu.
Tapi, kemanapun aku akan pergi, aku yakin tidak ke tempat yang sama dengan dia.
Karena tempat yang paling layak untukku hanyalah neraka.
Aku membalik-balik lagi beberapa halaman. Dan berhenti di beberapa di antaranya, untuk membaca dan mengagumi apa yang dia gambar di sana.
Mungkin itu termasuk salah satu efek samping dari obat-obatan psikis yang terus diberikan kepadanya sejak delapan tahun lalu. Obat-obatan yang mempertahankan 'kepribadian'-nya tersebut sesungguhnya juga memperkuat kemampuan otaknya dalam berekspresi. Dia sanggup menyalurkan pikirannya dengan sangat lancar, melalui beberapa media khusus. Reaksi yang aneh, aku belum pernah menyaksikannya sebelumnya.
Dia bisa melukis dengan sangat indah.
Membalik halaman lagi, dan aku bertemu dengan lukisan lain.
Dengan ini, ada delapan belas lukisan di dalam jurnal ini. Dengan setiap lukisan setara dengan seni Da Vinci,
Seluruhnya pasti juga menyertakan seorang perempuan tertentu. Seseorang yang tak pernah dia luput dari sebutkan di dalam setiap catatan jurnalnya. Lukisan-lukisannya tersebar di sepanjang lembar halaman, sebagian besar adalah lukisan Close-Up, dilukis dengan sangat cantik, dilukis dengan rapi dan dengan detil luar biasa. Tak menyisakan perbedaan, bahkan ke kedua gigi depannya yang agak besar-besar, yang dilukis dengan kesimetrisan yang luar biasa.
Aku ingat cerita-cerita dari para pekerja lama. Dulu Mrs. Ginevra Thomas... Beberapa kali mengunjunginya, bersama dengan keluarga besarnya, keluarga Weasley. Hingga akhirnya dia tak sanggup lagi menerima fakta bahwa dia tak mencintainya sama besarnya dengan cintanya kepada perempuan ini.
Kepada Hermione Granger.
Dia berhenti mengunjunginya setelah dia menikah. Satu per satu, anggota keluarganya juga berhenti mengunjunginya. Wartawan dan reporter juga berhenti datang, petugas kementrian dan menteri sendiri berhenti datang, dan semuanya berhenti.
Tak ada lagi yang mengunjunginya selama enam tahun yang lama.
Dunia ini tak mau menerima Hero yang telah rusak. Hero yang telah ternoda, Hero yang gila.
Sejarah, aku yakin, telah diubah perlahan-lahan. Namanya tak lagi disebut-sebut sebagai penakluk Pangeran Kegelapan. Dia terlupakan, termakan waktu dan debu.
Sama halnya seperti makam perempuan tersebut, yang berhenti dikunjungi peziarah setelah beberapa tahun...
"Baddock! Apa yang kamu lakukan?"
Penyembuh Davis sudah datang rupanya. Sial, aku belum bersiap-siap.
"Kenapa kamu belum menyiapkan Clipboard-nya, Baddock! Apa saja yang kamu lakukan dari tadi?" kata Davis mencela.
"Maaf, sir," kataku buru-buru. "Saya agak - er - teralihkan, pikiran saya-"
Davis menghela napas sebal. "Ya, sudah. Kalau sudah siap, segera susul aku ke lantai atas. Kita langsung mengunjungi pasien kamar sebelas pagi ini."
Sebelas langsung?
"Langsung kamar sebelas?" tanyaku, bingung. "Kukira kita akan ke kamar Mrs Longbottom lebih dulu -"
"Perubahan jadwal, tidakkah kamu tahu?" katanya, mencela.
"Kenapa?"
"Dia sudah meninggal semalam. Pemakamannya pagi ini, lumayan banyak yang datang. Kamu tidak membaca koran, ya?" jawab Mr Davis, berjalan lebih dulu ke lift.
Well, oke. Jujur, aku tidak membaca koran. Oke.
Aku memasukkan dokumen-dokumen ke dalam tasku, dan menyiapkan Clipboardku. Berlari cepat ke lift, dan menekannya ke lantai bagian perawatan jangka panjang. Kamar sebelas... Tak kusangka aku akhirnya bertemu dengannya secepat ini.
.
Pria biasa.
Tidak seperti yang kuharapkan. Tidak seperti kisah-kisah yang kudengar, entah yang menceritakan bahwa dia berwajah kejam, berwajah mengerikan, ataupun tampan. Dia tidak tampak seperti satupun dari deskripsi tersebut.
Dia tampak seperti pria biasa. Pria normal, baik, dan tak bermasalah.
Kecuali mata hijaunya yang terlalu cemerlang, bahkan setelah bertahun-tahun di tempat ini.
Sementara Mr Davis mewawancarainya dalam masukan kontrol rutin, aku melihat-lihat ke sekeliling kamarnya. Beberapa lukisan digantung di dinding, dan aku menyadari seluruhnya, lagi-lagi memasukkan Miss Granger ke dalamnya. Tak ada satupun yang tidak.
Tapi.. Tunggu...
Ada yang aneh.
Aku berjalan ke salah satu foto, yang menampilkan dua orang anak berusia kira-kira sebelas tahun yang sedang duduk di tepi danau, bersandar ke pohon, nyengir lebar dengan lengan merangkul bahu satu sama lain. Mereka tersenyum dan melambai-lambai, efek lukisan sihir. Tadinya kukira itu lukisan Mr Potter dan Miss Granger, seperti biasanya, seperti lukisan-lukisan lain di ruangan - namun ada yang salah.
Tak ada kacamata, dan rambut Miss Granger berwarna merah alih-alih cokelat.
"Bagaimana menurutmu?"
Aku berjengit kaget akan suara tersebut, yang bergaung keras. Berbalik badan cepat, aku melihat Mr Potter tersenyum kepadaku dari atas kasur.
Dia baru saja berbicara padaku.
"Maaf?" tanyaku pelan.
"Aku tanya, bagaimana menurutmu mereka, Mr Baddock?" tanya Mr Potter dengan santai, meluncur turun dari tempat tidur ke lantai. Aku membelalak, sedikit. Menoleh kepada Mr Davis, yang mengangguk buru-buru.
Aku harus menjawab, rupanya.
"Ya, menurutku... Mereka..." bagaimana jawabnya nih? "...tampak lucu."
"Ya, mereka memang lucu," kata Mr Potter, terkekeh pelan. Dia menunjuk ke lukisan di dekatnya, lukisan yang lebih besar dan lebih berwarna dibandingkan lukisan dua anak itu. Aku menoleh ke lukisan tersebut.
Sebuah lukisan, di dalamnya terdapat sebuah potret keluarga besar. Latar belakangnya Kings Cross. Aku bisa mengenali Mr Potter, Miss Granger, dan dua anak barusan di dalamnya. Kemudian ada wanita dewasa, dan pria dewasa, masing-masing berambut merah. Ada beberapa anak lagi di dalamnya. Mereka semua tampak sedang menyampaikan salam perpisahan, seolah kereta yang ada di dalam lukisan akan berangkat.
"Dua anakku berangkat, dan anak Hermione juga akhirnya berangkat ke Hogwarts," kata Mr Potter, tersenyum. "Lihat. Albus Severus Potter dan Rose Weasley," katanya, menunjuk ke dua anak yang berdiri berpegangan tangan, melambai-lambai kepada keluarga besar tersebut dari dalam kereta. "James," dia menunjuk ke anak laki-laki yang menjulurkan badannya, melambai-lambai kelewat semangat. "Dasar, super energik anak itu. Kemudian ini, Lily, dan Hugo," katanya, menunjuk dua anak laki-laki perempuan, yang paling pendek dan kecil, melambai kepada kakak-kakak mereka. "Ginny sedang mengomeli Ron, tampaknya... Entah ada apa lagi tuh," dia terkekeh, dan aku melihat, memang, dua orang dewasa berambut merah di sana tampak sedang bicara dengan cepat, si pria mengangkat tangannya, tampak sedang membela diri.
Semuanya bergerak-gerak, memberikan pemandangan yang lengkap. Sangat hidup, bahkan aku sampai bisa membayangkannya di dalam kepalaku, seolah-olah semua itu sedang diputar di depan mataku. Sebuah keluarga, terdiri dari Mr Potter, almarhumah Miss Granger, kemudian Ginevra dan Ronald Weasley.
Sebuah lukisan sederhana keluarga bahagia, menggambarkan apa yang mungkin 'dapat terjadi' andai saja semua tak menjadi seperti ini...
Aku menghela napasku, dan mengalihkan pandanganku ke lukisan lainnya, lukisan yang tepat ada di sebelah lukisan yang sedang kutatap. Sebuah lukisan yang digambar di atas kanvas lebih kecil, jauh lebih kecil.
Eh, mungkin itu bukanlah kanvas. Itu tampaknya hanya selembar robekan dari halaman buku jurnal... Mr Potter.
Aku mengernyit. Ada sesuatu di dalam gambar tersebut yang menarik perhatianku.
Gambar tersebut tak bergerak-gerak seperti lukisan-lukisan sihir lainnya yang disihir, namun ada sesuatu yang aneh di lukisan tersebut. Sangat aneh. Sepertinya... Lukisan itu...
Menampilkan sebuah kastil yang sedang terbakar.
Dan bukan sembarang kastil pula. Bentuk menara itu, danaunya, tebingnya... Tidak salah lagi.
Itu Hogwarts.
Yang terbakar...
"Merlin..." bisikku.
"Ada apa, Mr Baddock?" tanya suara di belakangku.
Aku menoleh dengan tajam kepadanya, leherku berkeretak sedikit karena gerakanku yang terlalu mendadak. Menahan keinginan untuk meringis dan memijat-mijat leherku, aku mengangkat sebelah alisku kepada Mr Potter.
"Gambar apa ini, Mr Potter?" tanyaku.
Mr Potter memiringkan kepalanya sedikit. Dia berjalan melewatiku, menatap lukisan tersebut. Dia memandanginya, ekspresinya berubah perlahan-lahan. Dari ekspresi senang dan cerah yang tadi dia tampakkan saat menjelaskan lukisan keluarga itu, ke ekspresi yang sangat berbeda - ekspresi yang muram.
Gelap. Diam dan senyap.
Sangat lama, sampai-sampai Mr Davis juga mendekati kami. Dia berdiri di belakang Mr Potter, dan berkata, "Mr Potter, tidak apa-apa jika Anda tidak mau memberitahu. Mari kita lanjutkan sesi kita -"
"Dunia terbakar," ujarnya pelan.
Hening. Senyap.
Aku mengerjap, berkali-kali. Menoleh ke Mr Davis, yang juga sama kagetnya denganku. Nada suara Mr Potter berubah drastis...
Beberapa menit kemudian, aku mendapatkan kembali kendali akan diriku. Mengernyit lagi, aku bertanya pelan, "Kenapa..."
"Ya?" tanya Mr Potter.
"Kenapa..." aku menelan ludahku, menatap ke sepasang mata hijau yang sangat dalam di hadapanku. "Kenapa... Dunia terbakar?"
Hening kembali. Sejenak, tampaknya dia tidak mau menjawabku, hanya diam saja menatapku.
Kemudian dia menyeringai.
"Itu kisah yang lain..."
.
