Yah, gue balik dengan update cerita jayus ini…

Chapter sebelumnya emang ga bagus, dan beneran JAYUS. Ga ada lucu-lucunya sama sekali. Gue minta maaf ya. Sebisa mungkin chapter ini jadi lebih bagus, dan hopefully ada yang review. Nge-flame juga boleh kok..

Enjoy reading, deh.

Disclaimer: Karakter Hetalia sama peliharaannya punya om Hidekaz. Kuntilanak punya kak Nesia. Yah, ketahuan kan mana aja yang bukan punya gue..? *plak*

Warning: gaje, jayus, OOC.

.

.

"Ya Tuhan, gue …"

Mayat Arthur menjuntai indah dari langit-langit toilet kayak ornament Natal. Roh pemiliknya sedang memasang tampang cengo plus mulut mangap yang serasi.

"Astaga, alis gue…"

Arthur menatap alisnya yang mendewa. Tampaknya alisnya pun tumbuh dalam kematian. Sumpah, alisnya lebih horror.

"Alis gue sangat mempesona…"

Nah, hukum universal. Semua makhluk, baik yang halus maupun yang kasar (?), pasti NARSIS.

(Termasuk saya sih…)

Setelah Arthur ngeliat semua features baru yang ada di badan dia (plus mayatnya), mari kita kasih surprise ke dia…

Arthur, liat bawah deh.

"Lah, lah… GUE TAU GUE JADI KUNTILANAK, TAPI KENAPA GUE HARUS PAKE NI DASTER PUTIH NISTA?"

Karena itu hukumnya, mas.. Masih mending lho, Arthur nggak pake baju tuyul. Atau mungkin bisa disebut nggak pake baju. Pasti dia jadi hantu terhoror sedunia. Apalagi kalo kepalanya botak.

Kebayang nggak sih, kepalanya botak tapi alisnya gondrong..?

Oke, back to the topic.

Arthur akhirnya mendekam disana, sampai entah berapa lamanya.. Mungkin sampe jiwanya tenang. Nah, itu dia yang susah.

.
.

Setahun kemudian…

"Wah, kita udah setahun ya, jadi geng bertiga~" komentar Antonio.

"Iyalah. Geng awesome kayak kita pasti bertahan lama! Dan semuanya bakal takut sama kita, karena ketua OSIS yang sekarang cemen banget!" sahut Gilbert.

"Eh, gua… Gua lupa siapa ketua OSIS kita sekarang.." ujar Francis.

"Francis mah, pikun.." Antonio mengunyah tomatnya dengan innocent.

"Nggak usah gitu dong, Tonio.." Francis mengeluh sambil memasang tampang :I.

"Ih, Tonio bener tau! Kebokepan lu emang awesome, tapi ingatan lu bener-bener nggak awesome! HAHAHA!" tambah Gilbert dengan tega.

"Bagus ya, gua ga bakal masakin lu pada lagi lho." Francis mengancam kedua temannya.

"Mendingan gue makan sosis awesome gue daripada makan siput masakan lu." Gilbert membalas.

"SEAFOOD! SEAFOOD! BUKAN SIPUT!"

"Siput itu seafood juga, kan..? Gimana sih. Koki nggak awesome."

"… Terserah lo deh, Gil."

"Memang semuanya terserah gue, karena gue yang paling awesome."

"Eh woi, masuk kelas yuk. Udah pada sepi nih." Ajak Antonio.

"Iya, iya. Rajin amat sih lu, baru gua bilang kita paling berandalan…"

"Lu nggak bilang kayak gitu, tuh."

"Hah? Iya, gua bilang! Ingatan gua yang awesome membuktikan bahwa gua bilang itu!"

"… Gil, otak lu emang awesome, tapi rasanya perlu di-upgrade deh… Soalnya ingatan lu yang awesome itu sama sekali nggak bener."

"Heh, sejak kapan sih lu jadi nyolot gini?"

"Sejak sama lu sih, hahahaha…"

"Masih ketawa lagi lu. Heh, kenapa dari tadi kita nggak jalan-jalan?"

"Lupa."

ARGH, Author stress ngedengernya. Yuk, yuk, masuk kelas. Hush.

CRING! Dengan sihir Author (?), mereka bertiga sampe di depan kelas. Masuk, masuk.

"Uhhh…"

Pak Germania sudah duduk manis menunggu mereka masuk. Senyumnya innocent. Tapi yang namanya muka garang, mo dipasangin senyum se-innocent apapun juga tetep keliatan preman.

"Kalian dari mana aja, hmm?" Pak Germania berjalan menuju mereka bertiga, tangan kanannya ada di belakang seperti lagi nyembunyiin sesuatu.

Kalo Author ada di posisi mereka bertiga, pasti Author membayarngkan Pak Germania bawa-bawa gergaji siap memutilasi Author dengan napsu.

Mereka bertiga nggak langsung pucet kayak Author.

Usaha pertama. Francis memasang tampang santai.

"M-maaf pak, kita telat…" Francis tergagap.

Gagal.

"Kalian tau sekarang jam berapa?" Tanya Pak Germania lagi.

Mereka bertiga udah kayak tiga Latvia dengan badan lebih tinggi dan muka lebih sangar.

Usaha kedua. Antonio mikir buat jawaban yang tepat supaya Pak Germania nggak bakal tambah horor.

"J-jam… J-j-jam.. Bu?"

Gagal lagi.

"Bukan tomat, Antonio?"

"Uhhh…"

Usaha terakhir. Gilbert nyogok Pak Germania.

"Antonio gimana sih! Sekarang itu jam 12 lebih 45 menit, pak."

"Kalian itu seharusnya masuk jam 12.30. Kenapa sekarang baru masuk?"

"Hmmm, gini. Saya kan keponakan bapak, jadi bapak harusnya ngasih kompensasi dong!"

"GIGIMU, KOMPENSASI. SEKARANG BERSIHIN TOILET SATU GEDUNG."

Tamatlah sudah. Game over.

Akhirnya, ketiga anggota Bad Friends Trio terpaksa nurut. Mereka keluar kelas dengan madesu.

"Astaga, mimpi apa gue semalem?" dengus Gilbert.

"Bukan tentang jadi cleaning service kan? Kalo iya, gua hajar lu." Sahut Francis.

"Yang tentaranya cemen diem aja deh… Lu kira gua Arthur?" balas Gilbert dengan kasar.

"Udah, udah. Mendingan kita bersihin toiletnya aja… Gua takut ama om lu yang preman." Antonio mengajak Francis dan Gilbert.

"Gitu deh om gua… Yang gua heran, kenapa rambut dia panjang berkilau-kilau kayak gadis iklan shampoo. Nggak awesome banget kan? Preman mana yang rambutnya dikepang?"

Kedua temannya ngakak.

"Om lu banci, kali!"

"Jangan kenceng-kenceng, woi! Nanti hukuman kita ditambah!" seru Gilbert memperingatkan kedua temannya.

Terlambat.

"Bilang apa kalian, hah?" Kepala Pak Germania muncul dengan sangar di balik pintu.

"K-kita…" Antonio memulai.

"Uhh…" Francis tidak mau membantu.

"Bilang bapak banci!" Gilbert jujur. Jujur?

Dari dalam kelas kedengeran anak sekelas ngakak. Pak Germania tentu masih punya gengsi.

"… UDAH PERNAH DITONJOK, BELUM?" bentak Pak Germania. Nancep.

"Eh, tunggu dulu pak. Banci itu artinya awesome." Jawab Gilbert sambil cengar-cengir.

"KAMU KIRA SAYA BEGO?"

"Ih, Bapak. Serius. Itu bahasa isyarat kita." Ternyata Gilbert tidak sejujur itu, teman-teman…

"Jadi kamu bilang saya awesome?"

"I… Iya deh. Meskipun bapak nggak bisa ngalahin ke-awesome-an saya."

"… Hmph." Pak Germania masuk kembali ke kelas.

"Elo berdua bikin masalah aja deh! Untung gua yang awesome bisa handle itu orang kacau!" bisik Gilbert.

"Sorry, sorry…" Antonio ikutan bisik-bisik.

"Tapi sekarang gua jadi bingung.. Itu tadi, lu yang awesome atau om lu yang bego?" Francis bertanya. Bisik-bisik, of course.

"Dua-duanya." Jawab Gilbert.

"Nggak, om-nya yang bego. Gua nggak mau mengakui si Gilbert awesome." Antonio nyengir.

"Elo, udah gua selametin juga lu…" ujar Gilbert kesal.

"Iya, iya. Yuk, bersihin toiletnya…" Antonio tersenyum.

"Kenapa lo senyam-senyum?" Gilbert memasang muka :I. "Oke, gue bersihin toilet lantai ini. Gua nggak mau kaki gua yang awesome turun naik tangga."

"… Terserah lu. Gua lantai sebelum ini aja." Usul Francis.

"Oke, oke… Gua lantai bawah." Antonio menerima nasibnya.

"Sip, gua kesana dulu." Gilbert dadah sama dua sohibnya. Antonio dan Francis juga menuju toilet masing-masing.

.

.

Teman-teman, kita akan memperhatikan Francis kali ini. Kenapa? Karena rasanya dia paling penakut, no offense.

Francis bersenandung menuju toilet. Karena bersenandung, dia jadi kesandung. Dia lupa kalo dia lagi pake sarung. Dasar badung.

… Oke, Author bingung.

Francis pun sampai di toilet, tanah perjanjiannya. Cihuy. (?)

Dia mengambil kain pel dan ember, dan mulai mengepel.

"Dasar kau, keong racun… Baru kenal udah ngajak tidur… Hihihi, gue banget deh liriknya!" Francis ngomong sendiri.

Arthur mendelik. Siapa orang sarap yang nyanyi-nyanyi di depan toilet pribadi gua? Suaranya gay, pula!

Arthur mencoba untuk tidur lagi. Iya, tadi dia lagi tidur. Lagi mimpi scone-nya dipuji-puji semua orang, sampai dia terkenal sebagai koki paling berbakat di seluruh dunia. Eh, pas lagi talkshow, ada penonton yang teriak-teriak nyanyi nuduh dia ngajak tidur. Bangun deh~ (?)

Proses pengepelan (?) makan waktu setengah jam. Dua pertanyaan. Seberapa luas toiletnya, atau seberapa lelet si Francis.

Setelah semuanya selesai, Francis mencuci tangan. Dengan masih menyanyikan lagu Keong Racun.

Arthur sudah tidak tahan. Dia langsung mematikan lampu dengan kehororannya (?). Siapa sih ni orang sarap?

Akhirnya, Arthur keluar dari cubicle-nya.

Krieeeett. Pintu toilet kebuka.

Arthur muncul di cermin depan Francis. Arthur nggak ngira orang itu Francis, maklum matanya kealingan ama alis yang udah nggak pernah dipotong.

Francis, tentu saja, ngeliat ada bayangan aneh di cermin. Dia nengok ke belakang.

"AAAAAAAAAAAAAAAARGH!"

Teriakan yang kencang terdengar dari toilet Francis. Yang satu cempreng, yang satu ngebass.

Nggak tau deh, mana yang ngebass mana yang cempreng. Tapi pas lagi teriak ada yang suaranya langsung pecah kayak Justin Bibir. Prang. (?)

Francis langsung ngibrit keluar dari toilet. Dia naik ke lantai di atasnya, dan langsung mendorong pintu toilet Gilbert.

"GIIIIIIIIIIIIIIL!" Francis menjerit, sambil reflek meluk-meluk Gilbert.

"Woi, GUE BELUM SIAP HOMOAN! Ngapain sih lu meluk-meluk gua?" sahut Gilbert.

"T-tadi… G-g-gua barusan liat…"

"Apaan?"

"I-i-itu…"

"Pak Germania?"

"Bukan! Gue ngeliat k-k-kun…"

"Kunci?"

"K-k-kunti…"

"Hah?"

"Kuntilanak, Gilbert! KUNTILANAK!"

"… HAH? Dimana?"

"Toilet yang gua bersihin tadi!"

"Mungkin peliharaan si Nesia doang kali…"

"Nggak, nggak mungkin. Punya Nesia kan rambutnya panjang."

"Emang yang ini rambutnya nggak panjang?"

"Nggak, bukan rambutnya yang panjang. Alisnya."

"… HAH?"

"Serius. Pirang, lagi!"

"…"

.

.

Kita lihat kondisi si Arthur.

Jadi, tepat pas adegan teriak…

Suara yang cempreng itu milik Arthur.

Nah, jadi yang suaranya pecah siapa..?

Wah, nggak tau deh, Author nggak ngurusin para nation itu pubertas. Yuk, lanjut.

Iya, Arthur tidak akan mengira orang yang bernyanyi itu adalah orang bertampang homo acakadul yang abis ngepel. Tapi memang, mukanya familiar…

"Najong, itu orang… Francis?" Arthur bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, sementara yang dibicarakan masih terbuset-buset (?) dengan kemunculan Arthur.

"Ah, jadi kangen mereka… Lain kali gua bakal ketemu mereka, ah."

.

.

Yah, selesai sudah chapter ini… Masih jayus. T^T

Moga-moga reader maklum sama kejayusan gue. Emang nggak bakat nulis, sih..

Review ya, pleaaaase. Nge-flame juga boleh asal nggak galak-galak, biar fic ini bisa lebih lucu..

Makasih banget udah baca sampe sini. Danke!