-The new kids-
Disclaimer : Bleach belongs to tite-kubo-san \(^ w ^)/ we're just own -the new kids- story X9
Chapter 2
.
.
.
.
"Apa itu soul society?" tanya ichiru dengan mata bulatnya yang lucu. Boneka saljunya masih di tangannya.
Gulp.
Semua mendegut ludah dan saling berpandangan.
"Mmm.. . itu tempat kami bekerja ichiru" kata ishida sambil menaikkan kacamatanya.
"Ayah juga bekerja bersama dengan paman ichigo? Kenapa aku tak tahu?" tanya ryu.
"Ah! Ayahmu mungkin lupa memberitahu ryu" jawab inoue.
Chika dan chima berpandangan, ayah mereka juga tadi ikut bicara dalam hal ini, kontan mereka bertanya,
"Apa ayah juga?"
".. .eh ya. . begitulah" kata renji sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hei ayah, ayah, ayah keberatan tidak menceritakannya pada kami?" tanya ichiru sambil menarik narik ujung baju ayahnya.
"Mm. .yah, tempatnya bagus, luas dan .. indah menurut ayah. Udaranya cukup sejuk dan –"
"AJAK KAMI KE SANA!" potong kanak kanak itu antusias.
Ichigo menghembuskan nafas berat. Ini adalah bagian tersulit, ia sudah menduga akan jadi begini, makanya mereka memilih berdiskusi tanpa diketahui ichiru dan kawan kawan. Kalau ichiru sudah mengucapkan keinginannya, maka satu jawabannya : harus ya. Jika tidak, alasannya harus logis.
"Tidak bisa ichiru, soul society itu bukan tempat untuk anak anak" kata rukia sambil mengusap kepala ichiru lembut.
"Kenapa bisa begitu?" tanya ryu.
"Soul society sangat luas, kalau kami mengajak kalian kesana, kalian bisa tersesat, lebih baik kalian disini saja bersama Ibu dan bibi tatsuki ya?" kata ishida.
"Tapi kami penasaran~ ayolah ayah, kami nggak akan nakal disana deh!" rengek ichiru.
"Lagipula kami nggak akan main jauh jauh kok!" dukung ryu.
"Kalau ichiru dan ryu ikut, kami juga!" kata chika dan chima.
"TIDAK BISA!" bentak orang tua mereka bersamaan.
Kanak kanak itu tersentak. Mereka kaget orang tua mereka akan sebegitu marahnya.
Chika dan chima menunduk. Mereka paling takut dimarahi.
Ryu menggigit bibir bawahnya dan berkeringat dingin. Walau ayahnya berkacamata, melihat langsung tatapan ayahnya yang marah seperti itu, seakan menusuk hatinya.
Ichiru?
Dia malah terus merengek.
"Tapi kenapa tidak bisa?" Tanya ichiru sekali lagi. Dia sama keras kepalanya seperti ichigo.
"Bukankah ibumu sudah bilang? Soul society sangat luas, kalian bisa tersesat! Lagipula disana tidak ada yang bisa kalian permainkan, itu tempat untuk orang dewasa, ichiru"
"Tapi kami bisa jaga diri, ayah"
"Ichiru.. ." suara lembut rukia memanggil.
"Ya ibu?"
"Kalau ayah bilang tidak, ya tidak. Di sana sangat berbahaya, ibu pernah kesana, kok. Nanti ibu ceritakan saja, bagaimana?"
"Tidak mau! Lagipula ibu nanti akan ikut dengan ayah kan?" ichiru mulai menggelengkan kepalanya keras keras.
"Ichiru, mungkin ada baiknya kalau kita turuti kata kata mereka" bisik ryu. Dia mulai takut dengan tatapan ayahnya.
Sementara chika dan chima sudah berada di pelukan tatsuki. Mereka juga takut terjadi apa apa.
"Apa? Bukankah kau tadi juga mendukung, ryu?"
"Iya sih, tapi kita hanya anak anak.. .kita nggak ngerti seperti apa tempatnya, mungkin yang dikatakan ayahmu benar"
"Ryu benar, ichiru. Kau tetap disni saja ya, bersama bibi" bujuk tatsuki.
"Tapi.. .tapi.. ."
"Ichiru" panggil ichigo. Dia berjongkok agar bisa menyamai tinggi ichiru.
"Ayah mohon. Sekali ini saja, mau kan ichiru menuruti permintaan ayah?" dia menatap lembut ke mata anak laki-lakinya.
Ichiru mengalah, alasan ayahnya cukup logis, apalagi dibantu oleh alasan ryu. Dia semakin terpojok. Dengan sedih, akhirnya dia mengatakan,
"Baiklah ayah"
"Bagus. Itu baru anak ayah!" kata ichigo sambil mengacak rambut ichiru. Ichiru hanya memandang pada boneka saljunya.
"Baiklah tatsuki, orihime kami titip mereka ya?" kata rukia.
"Serahkan saja padaku, aku pasti menjaga mereka" kata tatsuki sambil menggandeng tangan ichiru.
"Kami pergi dulu" ichigo, rukia, renji dan ishida mulai beranjak meninggalkan anak mereka.
Tak lama setelah mereka benar benar menghilang, Chika berteriak, mengagetkan ichiru.
"Ichiru! Boneka saljunya!"
"YA AMPUN! AKU LUPAA!"
.
.
.
.
.
.
"Hey ichigo" rukia membuyarkan lamunan ichigo. Mereka sedang meloncat dari atap ke atap dalam wujud shinigami mereka, menuju tempat urahara.
"Hm?"
"Sepertinya ichiru ngambek" kata rukia dengan nada sedih.
". . .bukan sepertinya. Dia memang ngambek"
"Apa.. . tidak apa apa ichi?"
"Keadaan akan tambah parah apabila kita mengajaknya ke soul society kan rukia?"
"Memang sih.. .tapi.." salahkan ichigo kalau rukia tak bisa melanjutkan kata katanya. Dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipinya.
"I.. ichigo !" teriak rukia sambil memegangi pipinya yang baru saja dicium ichigo. Rukia blushing berat. Begitu juga dengan ichigo.
"Jangan berwajah sedih begitu, aku yakin ketika kita pulang nanti, ichiru sudah tidak ngambek" kata ichigo sambil mengalihkan pandangannya.
"Ngg. . y.. .yah, kau benar"
"Ehm!" terdengar suara deheman dari samping mereka. Sepertinya suara ishida.
"Kami duluan ya kurosaki." Katanya sambil belari duluan. Sementara di belakang ishida, renji tengah berjuang keras menahan tawanya.
Pipi rukia dan ichigo bertambah panas.
~~00oo~~00oo~~00oo~~
(Time skip)
Hari sudah malam. Tapi rukia, ichigo, renji dan ishida belum pulang juga. Diluar sudah tak ada hujan salju lagi, yang ada hanya angin malam yang menggesekkan ranting ranting pohon. Ichiru menerawang keluar jendela rumah tatsuki dengan mata sedihnya. Dia sudah tidak ngambek, hanya merasa rindu. Chika, chima dan ryu tengah asyik melihat orihime membuat cake di dapur. Ichiru tidak ikut, "Aku capek, maaf ya" katanya. Sementara dari dapur terdengar tawa riang teman temannya. Saling menertawakan wajah mereka yang belepotan adonan. Orihime ikut tertawa lepas.
"Iya, baiklah aku mengerti rukia" indra pendengaran ichiru menangkap suara tatsuki menyebut nama ibunya. Ichiru menoleh, ternyata tatsuki –yang saat itu sedang turun dari tangga – sedang berbicara dengan ibunya melalui handphone.
"Bibi tatsuki?" panggil ichiru. Tatsuki menoleh,
"Ya ichiru?"
"Boleh aku berbicara dengan ibu?" kata ichiru memohon.
"Tentu" tatsuki menyodorkan handphonenya ke ichiru.
".. . Ibu?"
"Hei, ichiru! Ada apa?"
"Ibu kenapa belum pulang?"
"Maaf ya ichiru, ternyata ayahmu membutuhkan bantuan ibu di kantornya, jadi mungkin kami tidak bisa pulang sekarang! Kamu menginap selama beberapa hari di rumah bibi tatsuki ya?"
"Kapan ibu kira kira akan pulang?"
".. . kalau bisa secepatnya sih"
"Ibu?"
"Ya ichiru?"
". . . Sampaikan maafku pada ayah ya bu, aku tadi sempat ngambek, aku tak memikirkan perasaan ayah"
Di seberang sana, rukia terhenyak. Hatinya tersentuh. Setetes air mata mengalir dari matanya.
"Ayahmu tidak marah kok ichiru"
"Sungguh?" suara ichiru berubah semangat.
"Yap"
"Ahahaha! Syukurlah! Aku kira ayah marah padaku!" teriak ichiru sambil loncat loncat. Tatsuki tersenyum, sementara chika, chima, ryu dan orihime melongok dari dapur. Mereka menatap tatsuki dengan tatapan –ada-apa-dengannya- sementara tatsuki hanya mengisyaratkan supaya mereka diam.
"Baiklah ibu, sampai jumpa~ sampaikan salamku pada semuanya ya?" kata ichiru mengakhiri perbincangan dengan ibunya. Setelah mengucapkan terima kasih pada tatsuki dan mengembalikan handphonenya, dia menoleh. Teman temannya sedang berdiri di depan dapur, bertanya tanya.
"Ada apa ichiru? Sepertinya kau senang sekali?" Tanya ryu.
"Ibumu ya? Senangnya, aku juga ingin bicara sama ayah" kata chima.
"Yap" jawab ichiru singkat, tapi dengan nada yang ceria.
"Kau beritahu tidak soal boneka salju tadi?" Tanya chika.
Hening.
"YA AMPUN AKU LUPA!"
Tawa kanak kanak itu meledak.
~~00oo~~00oo~~~00oo~~
Malam sudah semakin merangkak. Chika dan chima tidur di kamar mereka, sementara ryu dan ichiru tidur di kamar tidur sebelah mereka. Setelah tatsuki memastikan si kembar anaknya tidur pulas, dia mematikan lampu tidur mereka dan beranjak ke kamar ryu dan ichiru. Dia membuka pintunya perlahan. Takut mengganggu mereka apabila mungkin mereka sudah tidur.
"Sshhtt.. ." terdengar seseorang berdesis perlahan. Menyuruh tatsuki untuk diam. Oh, ternyata orihime. Dia sedang duduk di tepi ranjang mereka berdua, membetulkan letak selimut mereka.
"Mereka sudah tidur, ayo kita keluar" bisik orihime.
Tatsuki hanya mengangguk, kemudian mematikan lampu kamar mereka.
"Hei tatsuki, mau secangkir cokelat panas sebelum tidur, tidak?" tawar orihime saat mereka sedang menuruni tangga.
"Boleh. Sekalian ada yang ingin kubicarakan padamu, hime"
.
.
.
"Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan tatsuki?" tanya orihime sambil menghidangkan secangkir cokelat panas pada tatsuki, yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
".. . kau tahu kan, tadi rukia menghubungiku?" orihime menyeruput coklat panasnya dan duduk di samping tatsuki.
"Yap. Dia menghubungi ichiru kan?"
". . .. ada sesuatu yang terjadi di soul society, makanya mereka tidak pulang untuk beberapa hari ini."
"Ngg.. . .lalu?" tanya orihime
"Di sini bagian yang gawat" mendadak atmosfir di sekitar mereka jadi tidak enak. Raut wajah tatsuki sangat serius.
"Alasan mereka tidak pulang, karena. … . ." tatsuki mengambil nafas dalam dalam, kemudian melanjutkan bicaranya.
.
.
"Hougyoku tiba tiba saja menghilang bersamaan dengan keluarnya aizen dari penjara"
Orihime tersedak. coklat panasnya sedikit menyembur dari mulutnya.
Setelah mengelap mulutnya, dia menatap tidak percaya pada tatsuki. Tatsuki kini sudah banyak tahu banyak soal itu. Seiring dengan pernikahannya dengan renji, tatsuki juga menjadi shinigami.
"Aku tak tahu bagaimana detailnya, rukia tedengar terburu-buru menjelaskannya, kelihatannya gotei 13 mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menemukan hougyoku"
"Jadi.. . apa yang bisa kita lakukan tatsuki?" tanya orihime, hatinya begitu khawatir mendengarnya. Terutama ishida, suaminya. Apa mereka.. . baik baik saja?
"Melindungi anak anak kita. Semoga mereka tidak menemukan batu itu, sehingga mereka tak perlu ikut campur dalam masalah ini" kata tatsuki sambil melirik pintu kamar anak anak mereka yang tertutup rapat.
~~00oo~~00oo~~00oo~~
Esok paginya
Di kamar si kembar..
"Hari ini tidak turun salju ya?" tanya ryu. Tangannya meraba kaca jendela kamar yang berembun.
"Brr. . memang tidak turun salju, tapi pagi ini sudah cukup dingin" kata chima sambil menggosokkan kedua tangannya.
"Yah, sayang sekali.. ." keluh ichiru.
"Memangnya kenapa ?" tanya ryu dan chima bersamaan.
"Boneka salju yang kemarin mencair, aku berniat membuatnya lagi. Tapi kelihatannya saljunya tidak cukup ya?"
"Entahlah. Sepertinya cukup, kok" jawab ryu.
"Semoga saja"
Sementara mereka mengobrol, chima keluar kamar dan mengitari seluruh rumahnya, mulai dari kebun, sampai kamar orangtua mereka. Dia mencari seseorang.
"Hei, ada yang lihat chika-nee chan?" tanya chima mulai panik.
"Benar juga. Dimana dia?"
"Aku tak tahu, bukankah semenjak kita datang ke sini, chika-chan tak terlihat di kamar ini?" jawab ichiru.
"A. .aku sudah mencarinya keliling rumah, tapi nee-chan tidak ada! Semenjak aku bangun pagi tadi, nee-chan sudah tak ada di sampingku, kukira dia sudah bangun dan turun ke bawah..."
"Tenang, mungkin ibumu tahu" ichiru meloncat turun dari ranjang dan hendak keluar dari kamar. Tapi dihentikan oleh chima.
"Tunggu! Jangan beritahu ibu, kumohon" pinta chima.
"Kenapa?" tanya ryu
"Aku tak ingin membuat ibu repot, aku juga tak ingin chika-nee-chan dapat masalah, dia bisa dimarahi ibu kalau tahu membuat kita khawatir"
"Lalu bagaimana?"
"Aku akan mencari nee-chan diluar, tidak biasanya dia pergi keluar tanpa pamit begini" katanya sambil membuka lemari kayunya, mengambil mantel bulu biru lautnya hingga Ia menyadari sesuatu.
"Chika-nee benar benar pergi keluar, lihat mantel bulunya tak ada!" katanya.
"Kami ikut !" kata ryu dan chiru bersmaaan.
"Jangan! Biar aku saja, kalian tunggu di rumah" larang chima
"Tidak! Kami ikut! Mungkin saja chika-chan dalam bahaya, kan?" kata ryu sambil mengenakan syalnya.
Chima diam. Hatinya kacau, sebenarnya dia tahu kembarannya itu bisa menjaga dirinya sendiri, tapi.. . perasaan chima tidak enak. Firasatnya buruk.
"Maaf merepotkan kalian" kata chima lirih
"Bicara apa kau? Kita kan teman?" ucap ichiru, ryu mengangguk setuju.
"Sudah, kalau begitu ayo cepat" dengan begitu, ryu, ichiru dan chima beranjak turun dari kamar, di tangga mereka berpapasan dengan orihime.
"Lho? Kalian sudah bangun rupanya, mau kemana?"
"Mm, sebentar saja bibi hime, boleh ya? Kami mau keluar sebentaaarr saja" pinta chima
"Hati hati dan jangan jauh jauh ya? Kalian belum sarapan kan?" tanya orihime sedikit khawatir. Mengingat percakapannya dengan tatsuki tadi malam.
"Iya, kami akan pulang secepat mungkin, ibu." Ucap ryu,
"Bibi hime, tolong nanti sampaikan pada ibu ya?" pinta chima, orihime mengangguk. Kanak kanak itu kemudian berlari keluar mulai mencari chima.
Sementara itu.. ...
Chika's pov.
Hh, dasar ichiru, dia lupa mengambil bola sepaknya kan? Untung ada paman baik hati mau mengambilkannya tadi pagi. Syukurlah aku cepat cepat kemari, ternyata bolanya masih ada di danau, belum diambil orang. Bisikku dalam hati dan melempar-tangkap bola itu ke atas sambil berjalan di bawah payungan pohon gingko di tepian jalan. Aku baru saja bangun pagi, dan belum sempat izin pada siapapun saat aku berlari ke sini, hehehe, dasar aku nakal!
Aku harus bergegas, chima-chan bisa khawatir padaku kataku dalam hati sambil mulai melangkahkan kaki untuk berlari.
Tapi ada yang aneh.. kenapa setiap langkahku, rasanya. .. dadaku sesak ya?
Hh… .hh. .hh. . sesak.. . sesak.. . ukh. .
Aku bersandar di tiang listrik di sebuah gang yang sepi, tak ada orang yang lewat. Setiap nafasku, aku merasa dadaku semakin sesak, saat aku mau merosot, tiba tiba seekor (?) monster besar sekali muncul di hadapanku. (R/N : readers, itu menos :D)
GROOAAAAARR!
Apa? Apa itu? Monster?
Aku hendak berteriak, tapi tak sepatah katapun keluar dari tenggorokanku, rasanya tenggorokanku tercekat. Tubuhku bergetar, air mata mulai keluar dari sudut mataku. Aku seperti membeku di tempat!
GRROAARR!
Ukh, teriakannya! Aku menutup telingaku karena tak tahan dengan suara meraungnya.
Kututup mataku ketika monster itu menembakkan cahaya merah dari mulutnya ke arahku.
Eh. .tapi. . kenapa aku. . . tidak apa apa?
Perlahan kubuka mataku, dan yang kulihat pertama kali adalah.. . Ichiru? Ichiru menyelamatkanku?
"KAU TAK APA APA CHIKA-CHAN ?" teriaknya khawatir sambil melepaskan pelukannya.
"I.. .ichiru?" tanyaku tak percaya
"NEE-CHAN!" ah, itu suara chima. Dia di belakang monster itu bersama dengan ryu. Nafas mereka terengah engah. Mereka juga sama takutnya denganku.
"ICHIRU! CHIKA-CHAN! CEPAT LARII !" Ryu berteriak dan mengisyaratkan kami untuk mengikuti mereka. Tanpa basa basi lagi, ichiru menyeret tanganku. Sudah tak kupedulikan lagi bola sepak ichiru yang tadi kupegang. Monster itu bergerak mengejar kami.
Satu yang kupikirkan, LARI!
End of Chika's pov
To be continued..
^^/
Nyaa : "Akhirnya ~! Chapter 2 update minna~!"
Ruu : "Uwaah.. . saya terharu, ada juga yang menunggu kelanjutan cerita kami X'3 arigato gozaimashita~!"
Nyaa : "Kami membuat kelanjutannya tak lama setelah beberapa readers tercinta mengatakan ingin melihat kelanjutan cerita kami (^ w ^)"
Ruu : "Iya, kebetulan asisten durhaka ini –*dzigg*disikut sama nyaa*pingsan*
Nyaa : "Ho ho ho, abaikan dia readers, jadi gini, sebenarnya kami mau minta pendapat, berhubung masih newbie disini, klo balas review lebih enak di sini atau lewat PM?"
Ruu : *masih pingsan*
Nyaa : ".. . (apa aku memukulnya terlalu keras ya?) ya sudahlah readers, Saya atas nama Ruu, mohon maaf kalau cerita kami tidak terlalu memuaskan ! *bungkuk bungkuk* ah, iya hampir ketinggalan!
HAPPY MOTHER'S DAY, MINNA~"
Nyaa : "Kalau berkenan, review yah minna? Ah ya, mungkin ada yang bingung R/N itu apa ya? Kalo A/N kan - Author note, klo R/N - Ruu-Nyaa note :P"
Ruu : "*sudah sadar*bius nyaa dari belakang* maafkan kegajean kami minna, *bungkuk bungkuk* sampai jumpa di chapter berikutnya ~!"
