Padahal udah aku reread, tapi kenapa banyak typo, ya? Maklum, mataku minus.
But thanks buat :
Hikari Shinju, vvvv, me, Sasori, Hikari Meiko EunJo, 4ntk4-ch4n, Rei Nanda, Just ana g login, Nakamura Kumiko-chan, Qren, CheZaHana-chan , dan buat silent reader juga.
Tetep, kalian penyemangat!
.
.
.
I'm Lost In Your Eyes
Naruto belongs to MK
This story is mine
Semi-canon, Lil OOC, Lot of OC, Typos, etc
.
.
.
Just Enjoy The Show
.
.
.
"Tinggal berapa lama lagi?"
"Sekitar 30 menit lagi."
"Aku merasakan chakra kuat di sekitar sini."
"Aku juga. Sepertinya lawan kali ini akan tangguh."
"Memang. Ck, merepotkan."
Shikamaru menambah kecepatan larinya, atau tepatnya, loncatannya. Kedua temannya segera mengikuti. Sudah tidak ada waktu lagi. Mereka sudah terlalu lama tertahan di jalan, menghadapi lawan-lawan lemah berjumlah banyak merepotkan. Mungkin musuh memang bermaksud menghambat. Setidaknya mengundur-undur waktu.
Sasuke berdiri tegak di atas sebuah batu besar dan memandang sebuah tempat yang mirip benteng. Kedua temannya juga ikut berhenti dan berdiri di sana. Memandang penuh kewaspadaan. Mencoba mencari tahu apa yang ada di dalamya.
"Sial. Tahu begini, kita ajak saja Neji!" dengus Naruto sambil menjambak rambutnya frustasi. Kedua temannya menoleh sebentar kearah pemuda pirang itu lalu jongkok. Seperti akan berbicara sesuatu.
"Aku sudah mempelajari tempat ini sebelumnya melalui laporan ANBU, jadi kita tak perlu bantuan Neji. Pertahanan paling kuat ada di sayap benteng sebelah kanan. Kami akan mencoba menyusup melalui sayap gedung sebelah kiri. Gandakan dirimu dan buat mereka kacau," kata Shikamaru sambil menggambar sesuatu di tanah untuk memperjelas penjelasannya.
Naruto mengangguk mantap, "Yosh. Aku akan membuat mereka kalang kabut!"
"Sebaiknya kita tidak banyak bicara," Sasuke berdiri lalu melesat cepat ke sayap gedung sebelah kiri. Shikamaru segera mengikuti. Dan Naruto juga langsung menyusul ke sayap gedung sebelah kanan.
)~)
Shikamaru dan Sasuke mengendap melewati ruangan yang seperti lorong yang lembab. Seperti markas Akatsuki. Hanya saja, lorong ini berdinding batu berwarna hitam pekat. Penerangan ditaruh di atas lantai. Lorong ini juga bercabang-cabang. Membuat mereka waspada jika ada musuh yang tiba-tiba melintas. Sebisa mungkin mereka menekan chakra mereka.
"Mereka sangat ahli menggunakan kunai," bisik Shikamaru. "Mereka tidak terduga dan cepat. Kunai mereka berbahaya dan beracun."
"Hn," Sasuke merapat ke dinding saat ia mendengar langkah suara. Langkah kaki itu terdengar cepat dan terburu-buru. Mungkin akan mengejar sesuatu. Mereka berdua lalu mendengus kecil setelah memukul titik terlemah dari shinobi pemberontak ini. Sepertinya Naruto mulai melaksanakan tugasnya. Bergegas mereka menuju ke sebuah tempat.
"Cepat. Sebelum Naruto kehabisan chakra," Sasuke membelok ke lorong yang mengarah ke jam tiga. Suasana di sana lebih gelap.
)~)
Naruto bahkan sudah menggandakan tubuhnya hampir mendekati 50. Tapi musuh-musuhnya kali ini tidak juga berkurang. Mereka seperti tidak ada habisnya. Kalau seperti ini terus, chakranya bisa habis. Pemuda pirang yang mulai berkeringat deras itu mengatur nafasnya yang meleleh deras dari dahi, kepala, dan bahkan seluruh tubuhnya.
Tapi pemuda itu belum mau repot-repot menggunakan rasangen. Dia merasa ia masih mampu mengatasi ninja-ninja rendahan seperti ini. Dimana kagebunshin-nya saja bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Dia lalu menggeram sesaat. Ia percaya. Dua temannya yang lain juga pasti sedang melakukan tugas mereka dengan baik.
"Mati kalian!" seru Naruto.
)~)
"Apa mereka akan baik-baik saja, Sakura-chan?" tanya seorang gadis dengan raut wajah dan nada bicara yang khawatir. Seorang gadis berumur 10 tahun dengan rambut pirang yang disanggul layaknya wanita Jepang terhormat.
Sakura mengangguk pelan. Ia lalu mengelus perlahan rambut gadis itu tanpa merusak tatanan rambutnya. Ia lalu menatap Kakashi yang sedang berbicara sesuatu dangan salah satu ANBU yang datang bersama mereka.
"Mereka mulai menyerang."
"Begitu?"
Memang begitu yang kira-kira Sakura dengar dari pembicaraan Kakashi. Entah siapa yang dimaksud sedang menyerang. Dia hanya sedikit kecewa tidak bisa langsung bertemu dengan Sasuke-kun-nya. Nyatanya dia hanya menunggu di tempat semacam kuil ini untuk Sasuke, Shikamaru, dan Naruto datang bersama seorang lelaki berumur 16 tahun yang menjadi tawanan gabungan para nuke-nin itu.
Namun untungnya ada seorang gadis kecil yang manis yang menemani hari-harinya. Seorang gadis yang mencoba untuk tetap ceria walaupun khawatir. Sama sepertinya dulu dan sekarang. Mata turquoise yang sangat manis dan senantiasa tersenyum. Ia adalah Harada, seorang calon miko, kerabat dekat dari pemimpin desa non-ninja ini.
"Satoshi-senpai sangat baik. Ia kerap mengajariku ikebana dan origami. Ia juga pernah memberiku boneka hina yang sangat cantik. Aku terus menyimpannya dan kupajang di kamarku," kata gadis kecil itu riang dan bersemangat. Melupakan sejenak bahwa yang ia bicarakan ada dalam bahaya.
Sakura tersenyum lalu memeluk anak itu. Ia sedih dan khawatir. Sungguh, firasatnya semakin menjadi-jadi.
"Sakura-san kenapa?" tanya Harada yang heran tiba-tiba dipeluk. Sakura hanya diam dan mengelus punggung mungil anak itu. dan tanpa mereka sadari, mereka diawasi oleh Kakashi. Lelaki itu menghela nafas.
"Sakura," panggil Kakashi sambil membaca Icha-Icha Paradise. Wajahnya sedikit tersembunyi oleh buku bersampul orange itu.
"Ya?"
"Maaf. Kita tunggu saja di sini. Ada kemungkinan musuh juga akan menyusup ke sini. Kau percaya saja pada Sasuke," ujarnya bernada menenangkan. Sakura mengangguk. Saat itulah ia merasa badannya lemas.
)~)
"Ya. Anak lelaki itu diculik karena orang tuanya memiliki sesuatu," Kakashi menjelaskan pada Sakura malam harinya saat wanita itu bertanya sebenarnya ada masalah apa. Mereka duduk di teras kuil yang berpenerangan minim.
"Lalu sesuatu itu apa?" tanya Sakura sambil menahan kantuk.
"Sebuah batu yang berisi kekuatan untuk meningkatkan kekuatan ninja. Entahlah, yang pasti barang itu berkekuatan magis."
Sakura mengangguk walau tidak terlalu mengerti.
"Dan sebenarnya mereka mengincar ayah anak itu. Ia hanya sebagai sandra. Namun ia bukan sandra biasa, karena ia adalah calon pendeta di kuil bawah sana," Kakashi menunjuk pada sebuah bangunan besar yang terlihat tenang di bawah tangga yang sangat panjang.
"Begitu?" gumam Sakura mengangguk mengerti, "Jadi sekarang kita menjaga orang tuanya?"
"Tepat." Kakashi menyipitkan matanya, tersenyum. " Itulah mengapa kita ada di sini. Kau tahu sekarang ayah anak itu ada di sini untuk kita amankan, mengingat jalan menuju ke sini lebih sulit sedikit daripada di kuil bawah."
Sakura mengangguk lagi. Ke sini memang harus menaiki tangga yang sangat panjang. Dan di sisi belakang ada sebuah bukit yang cukup curam dan lebat.
"Nah, " Kakashi beranjak lalu menepuk-nepuk bokongnya sendiri seakan sedang menyingkirkan debu. "Sudah malam, Sakura. Sebaiknya kta masuk beristirahat."
"Hn," Sakura tersenyum dan tetap tidak beranjak. "Sensei duluan saja. Aku masih ingin di sini."
"Baiklah kalau begitu." Dan bagai secepat kilat, Kakashi sudah menghilang dari pandangan matanya.
Sakura tersenyum lagi menatap tempat yang tadi diduduki oleh gurunya. Dia lalu mengalihkan pandangannya kearah langit malam yang luas. Yang hitam. Yang kelam. Seperti mata orang yang sangat ia cintai.
Dia memposisikan dirinya dengan nyaman di salah satu tiang di atas lantai kayu yang coklat dan licin. Yang bisa ia lakukan hanya melamun. Merindukan tatapan mata Sasuke-kun. Pelukannya kala ia sedang butuh pertolongan. Belaiannya kala ia sedang gundah. Senyumannya yang membuat ia lupa segalanya. Dan seringainya saat ia menginginkan sesuatu. Rindunya. . .
Tiba-tiba tatapan mata hijaunya tertumbuk pada semak-semak yang bergoyang. Lalu sebuah kilatan merah. Dan chakra yang menguar pelan. Mata hijaunya sukses membelalak.
Dan saat ia baru bersiap akan bangkit berdiri untuk melawan, seseorang telah memukul titik terlemahnya.
Dan membuat ia pingsan.
)~)
Sasuke berdiri tegak dalam sebuah ruangan yang sangat pengap. Pandangannya tajam menelusuri ruangan berukuran 7x8 meter. Cukup sempit dan tanpa jendela. Hanya ada sebuah ventilasi kecil di ujung ruangan kanan atas. Penerangan seadanya. Benar-benar tempat yang sangat tepat untuk sarang penjahat.
Dia hanya mendengus pelan, menyadari sekarang para cecunguk sedang mengepungnya. Dia tidak terlihat takut sama sekali. Ia bahkan terlihat sedang menantang.
"Kau berani sekali datang kemari," kata seorang yang tampangnya tidak terlalu kelihatan karena penerangan seadanya. Hanya sebuah wajah yang bayangan gelapnya bergoyang-goyang oleh sebuah lilin.
Shikamaru yang ada di sebelah Sasuke hanya menyeringai. Taruhan, ninja di sini pasti tidak gaul. Mereka bahkan tidak tahu siapa Sasuke. Orang yang sudah membunuh orang paling hebat di Akatsuki.
Dan sebenarnya mereka tidak akan mungkin tertangkap dengan begini mudah. Bahkan tanpa perlawanan. Ini semua bagian dari rencana Shikamaru. Ia bilang agar memudahkan untuk bertemu dengan Sastoshi. Labih gampangnya, jalan tercepat. Walau bahaya lebih ekstrem. Setidaknya, ia yakin ia dan Sasuke bisa mengalahkan musuh kali ini dengan baik. Seperti dalam misi level S sebelumnya.
"Untuk apa aku takut, kalian brengsek!" gertak Sasuke seperti mendesis. Membuat bulu kuduk merinding, dan ruangan tersasa semakin dingin.
"Wow, kau berani memang. Aku sarankan kau menyerah saja. Sebelum kau akan menyesal!" dengus ketua kelompok itu.
"Menyesal?" Sasuke menyeringai. "Kalian yang akan menyesal!"
Lalu terdengar suara tepukan yang keras, namun hanya satu orang yang menepuk. Dari pemimpin mereka tadi. Dan semua orang juga tahu jika itu adalah tepuk tangan untuk mengejek.
"Aku tahu siapa kau, Sasuke Uchiha. Kau ninja hebat yang bisa mengalahkan Akatsuki. Tapi apa yang akan kau lakukan jika. . ."
Sasuke dan Shikamaru memandang ia tajam. Sasuke bahkan ingin sekali mengaktifkan sharingan-nya.
". . . jika istrimu kami tawan?"
Dan sharingan Sasuke sudah aktif membara.
TBC
Nah, udah mulai ada konflik, kan? Tapi aduuh, jangan bunuh saya para reader! . Saya memang tidak ahli dalam hal strategi, dunia perninjaan, dan Jepang kuno. Jadi maaf kalau super asal. Tapi saya sudah berusaha sebidanya, kok. Aku buat fic kan bukan buat nyampah. I did this all out!
REVIEW IS NEEDED!
