Di waktu senggang di sekolah, Lav buka hape dan lihat review yang masuk buat fic Lav dan dari review itu semakin memperkaya ide Lav.
Makasih buat :
Qren, Hikari Meiko Eunjo, me, vvvv, 4ntk4-ch4n, Hikari Shinju, Scrappy doo, senayuki-chan, Just Ana, Winterblossom Concrit Team (beneran, masukannya Lav perhatiin!), mayu akira, gieyoungkyu, Rei Nanda, Shinker, Midori Kumiko, Andromeda no Rei. 7color, CheZaHana-chan, dan silent readers juga.
.
.
.
I'm Lost In Your Eyes
Naruto is MK's
It's Lav's
Semi-Canon, Lil OOC, Lot of OC, Typos, etc
.
.
.
Just Enjoy The Show
.
.
.
Dingin. Sakit. Perih.
Tes.
Dia menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku. Rintihan kecil otomatis keluar dari tenggorokannya. Lemas. Dia sangat tak bertenaga. Matanya mengerjap pelan.
Semak bergoyang. Kilatan merah. Chakra.
"Hah!" Sakura otomatis duduk dan ia sadar ia sedang diikat sekarang. Matanya mendelik menyusuri ruangan yang teramat gelap, pengap, dan ia yakin sempit. Dia ada di ruangan asing sekarang. Dan dia tahu dia sedang ditawan.
Kenapa aku mudah sekali ditawan?
Rasanya Sakura ingin memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Lalu perutnya yang seakan ingin mendesakkan sesuatu ke mulut dan memuntahkannya. Lalu dingin yang teramat sangat ini ingin membuatnya pingsan lagi saja.
Tes.
Sakura mendongak menatap ke atas dan mendapati atap ruangan yang bolong sedikit. Di luar sana pasti sedang hujan, hingga lubang di atap itu meneteskan air.
Tak ada seorangpun di sini. Ya, Sakura tahu karena ia tak mendeteksi adanya chakra. Punggungnya dingin, mungkin di belakangnya adalah dinding yang lembab. Sakura memilih membaringkan diri lagi dalam posisi miring membelakangi dinding dan meringkuk karena kedinginan dan kaki serta tangan diikat di belakang.
Sakura mengeluh dalam hati. Akhir-akhir ini kekuatannya sering lemas. Kelincahannya menurun. Ia tak tahu apa yang terjadi. Apa dia sakit? Dia adalah seorang medic-nin hebat dan ia terkadang memang mendeteksi adanya perubahan aliran chakra pada tubuhnya. Namun itu tak begitu berarti. Jadi ia sering mengabaikannya.
Sebuah ingatan seakan mencubit hatinya. Ini sudah minggu ke dua dalam bulan ini dan. . .
Dia menelan ludah.
Dan ia belum mendapatkan datang bulan.
Sebuah kesimpulan membawa sabuah senyuman yang tiba-tiba merekah di bibir tipisnya dan secara reflek dia menunduk memandang perutnya yang masih terlihat rata. Andai bisa, rasanya ia ingin mengelus perutnya sendiri.
Tes.
Bukan. Itu bukan suara air hujan yang jatuh melalui atap yang bocor. Itu air mata seorang kunoichi yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Dan andai Sakura bisa, ia ingin menutup wajahnya yang terus mengeluarkan air mata dengan deras dan ia gemetar bahagia. Lengkap sudah ia menjadi istri Sasuke, dan tinggal menunggu pelukan hangat dari sang suami yang nanti akan berbahagia juga mendengar kabar ini.
Dia bahkan hampir lupa sedang ditawan. Hingga sebuah suara dari arah jam enam -pintu mungkin- ia dengar. Lalu seleret cahaya masuk ke ruangan itu, disusul dengan suara langkah kaki yang masuk dengan perlahan. Mata Sakura memandang tiga orang yang telah masuk tadi dan ia sedikit kesulitan akan penerangan yang cukup minim. Ia mencoba waspada, bagaimanapun juga. Ia akan berjuang demi anaknya dan Sasuke-kun.
.
.
.
Shikamaru melihat kilatan merah dari mata partnernya itu. ia sebetulnya juga sangat terkejut akan kabar itu. Tapi otak jeniusnya cepat-cepat menyuruh tangannya untuk hinggap di bahu Sasuke dan menenangkannya.
"Matikan sharingan-mu."
Sasuke menatap Shikamaru dengan tatapan membunuh, nafasnya juga memburu, "Dia menyandera istriku, kau dengar?"
"Dengan jelas," Shikamaru mengangguk pasti dan ia lalu menatap ke pemimpin para nuke-nin itu. Mengacuhkan Sasuke yang masih diliputi amarah. "Untuk apa kau menyandera istrinya?"
Pemimpin nuke-nin itu, yang namanya hingga sekarang belum diketahui oleh Shikamaru hanya menyeringai. "Kurasa kau tidak perlu tahu."
"Kau benar-benar akan terbakar," geram Sasuke sambil hendak mengaktifkan amaterasu-nya yang sayangnya sudah terbaca oleh Shikamaru. Pemuda berambut nanas itu sedikit mendorong Sasuke agar menghentikan perbuatannya.
"Apa yang kau lakukan?" wajah Sasuke sudah benar-benar memerah marah. Dadanya yang bidang naik turun menahan gejolak yang mau meluap. Tatapannya tajam menghujam apa saja yang dilihatnya.
"Jika kau membunuhnya, mereka juga akan membunuh istrimu. Aku tahu mengapa mereka menculik Sakura!" geram Shikamaru juga. Lama-lama ia juga bisa emosi.
Sasuke hanya terdiam. Memang, jika menyangkut Sakura, ia bisa kalap. Dan lagi pula wajar, bukan jika kau marah karena istrimu ada dalam bahaya karena sedang disandra?
"Lagi pula, Sakura adalah seorang kunoichi. Dia pasti bisa mengatasinya," lanjut Shikamaru kembali. Mendengar hal itu Sasuke tenang sedikit.
"Kurasa kalian sudah cukup ngobrolnya. Yang kami inginkan hanya satu. Cepat serahkan batu itu!" pemimpin nuke-nin itu menginterupsi pembicaraan Shikamaru dan Sasuke. Kedua pemuda itu segera menoleh dengan cepat. Tatapan mereka semakin bertambah waspada.
"Kenapa? Aku sudah cukup memberi kalian waktu untuk berdiskusi, bukan? Dan hasilnya sesuai dengan harapan, kan?"
.
.
.
Kakashi terjaga dari tidurnya. Entah mengapa perasannya tak enak. Tidak, tidak. Tidak mungkin ayah dari Satoshi diculik oleh para nuke-nin itu, karena ia sudah dijaga dengan sangat ketat oleh para ANBU. Tapi tak ada salahnya juga ia melihat keadaan.
Ia berjalan pelan ke arah kamar pendeta kuil bawah alias ayah Satoshi dan melihat beberapa ANBU tengah berjaga-jaga. Ia bercakap-cakap sebentar menanyakan keadaan pendeta lalu sedikit menengok ke dalam dan memang keadaan baik-baik saja. Dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Saat ia melewati kamar Sakura, ia tak melihat ada setitikpun cahaya. Ia memutuskan untuk menggeser pintu kayu dan melihat keadaan di dalam. Ia menyalakan lampu dan tak menemukan seorangpun.
"Aku tak merasakan chakranya. Dia ada di mana?" gumam Kakashi pada dirinya sendiri. Mendadak ia merasa jantungnya berdetak lebih keras dan akhirnya ia pergi ke teras. Walaupun ia juga tak mendeteksi chakra Sakura di sana.
Lagi-lagi ia tak menemukan seorangpun.
Sebuah pikiran membuatnya khawatir. Apa jangan-jangan Sakura diculik? Ia menggelengkan kepalanya keras. Mungkin Sakura sedang menyegel chakranya sendiri agar tak ada siapapun yang tahu keberadaannya. Dia kan sedang ingin sendirian. Ah, tapi itu terdengar aneh.
"Kuchiyose no jutsu."
Pakkun, anjing ninja milik Kakashi datang sambil mengibas-ibaskan ekornya. Ia memandang tuannya dengan pandangan mengantuk. Oh, ini sudah malam.
"Ada apa?"
"Sakura menghilang. Cepat kau lacak keberadaannya!" perintah Kakashi cepat sambil menunjuk tempat yang telah diduduki Sakura. Anjing itu mendengus-dengus lalu mengangkat wajahnya dan memandang ke arah barat daya. "Dia ada di sana."
"Hem," Kakashi mengerutkan keningnya dan mecoba berfikir tempat apa di sana. Dan raut wajahnya berubah menjadi geram saat ia tahu jika di sanalah sarang para nuke-nin itu berada. Dia lalu bergegas masuk ke dalam untuk memberitahu ANBU tentang hilangnya Sakura agar ANBU itu melapor pada Hokage-sama. Ini sungguh-sungguh hal yang diluar perkiraan.
Setelah itu ia bergegas pergi menuju ke sana untuk menyelamatkan Sakura sekalian membantu Sasuke dan yang lain. Ck, jika Shikamaru ada di sini, dia pasti akan berkata : kenapa misi ini menjadi begitu merepotkan?
.
.
.
Shikamaru tengah berfikir dengan keras sambil mengetuk-ketukan dua jarinya ke dahi. Sekarang, mereka membiarkan diri mereka ditawan agar ia bisa berfikir lebih jernih dan bebas. Sementara Sasuke hanya diam duduk di depan sebuah meja bundar yang ada di tengah ruangan.
"Seharusnya Sakura tak ada dalam misi," kata Shikamaru lirih.
Sasuke hanya memandang Shikamaru tajam namun tetap mendengarkan penjelasan Shikamaru. Ya, dia juga setuju dengan pendapat itu.
Shikamaru menghela nafas sebelum melanjutkan, "Karena keberadaannya menguntungkan pihak musuh. Jika Sakura diculik, ini akan memancing Kakashi-sensei agar pergi mencari Sakura sehingga pengawasan terhadap pendeta itu akan sedikit berkurang."
Lagi-lagi Sasuke hanya membenarkan pendapat Shikamaru dalam hati.
"Dan dengan diculiknya Sakura akan membuatmu, suaminya, menjadi ragu untuk menyerang musuh. Hah, tapi sayangnya Sakura memang seorang medic-nin terhebat setelah Hokage-sama. Jadi tak salah jika Tsunade-sama memberikan misi ini padanya. Tapi yang aku herankan, kenapa ia mudah sekali ditangkap? Apa ia tak bisa menggunakan jurus shannaro-nya? Merepotkan."
"Sudahlah. Yang terpenting, bagaimana caranya untuk menyelesaikan misi ini dan menyelamatkan. . .istriku?" akhirnya Sasuke angkat bicara. Nada suaranya perlahan melemah.
Pemuda berambut nanas itu terdiam lalu ia mengangkat wajahnya dengan sedikit raut harapan di muka malasnya, "Masih ada Naruto. Untung saja aku membawa radio di celanaku dan tak diketahui oleh mereka. Aku akan mencoba menghubunginya."
Setitik harapan juga muncul di wajah bungsu Uchiha itu. Naruto sahabat terbaiknya pasti bisa mengatasi ini. Dia tahu Naruto adalah ninja yang hebat.
.
.
.
Naruto yang tengah bersembunyi di balik tembok benteng hanya mempu menahan jeritannya agar suara tak terdengar musuh yang mulai kalang kabut. Sakura ada di sini? Diculik?
"Bagaimana bisa, Shikamaru?" tanyanya dengan nada heran sambil semakin menajamkan pendengarannya pada radio yang ia kenakan di kupingnya.
"Ceritanya panjang. Aku tak tahu di mana keberadaan Sakura di tempat seluas ini. Kau harus cari dia. Ada kemungkinan Kakashi-sensei akan datang menyusul. Kalian bisa bekerja sama." Jelas Shikamaru sedikit lirih agar tak didengar oleh para penjaga ruangan tempat ia disekap.
"Pasti. Sekarang hampir fajar. Aku kira benteng sudah mulai geger di sini. Apakah belum sampai mengusik ruangan utama musuh sejauh yang kau lihat?" tanya Naruto sambil melogokkan kepala ke balik tembok.
"Sedikit. Pemimpin para brengsek ini terlalu yakin mereka bisa mengalahkan kita. Gunakan ini sebagai kelemahan mereka."
"Baiklah."
"Oh iya, Naruto. Satu lagi!"
"Hn, apa?"
"Mereka sangat ahli menggunakan kunai. Dia bisa datang dengan tak terduga. Dan kunai itu beracun mematikan. Jadi kau hati-hatilah." Pesan Shikamaru sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri kontak melalui radio jarak jauh itu.
"Baiklah. Aku akan berusaha." Naruto lalu memandang jauh ke timur yang mulai menampakkan semburat cahaya kemerahan. Ia bertekad akan kembali menyaksikan keindahan ini bersama-sama semua teman-temannya. Ia takkan mati hanya untuk misi seperti ini. Ia akan berjuang. Seperti halnya teman-temannya yang juga sedang berjaung
.
.
.
TBC
Pendek? *gak perlu ditanya kali! Sebenarnya Lav lagi nggak begitu mood. Kehidupan real itu menyebalkan. Ulangaaaan, mulu! *curcol. Jadi walaupun review itu bikin Lav tambah kaya ide, Lav juga jadi tambah bingung. Ini kapan tamatnya, ya? The last word,
REVIEW!
