Kayaknya judul makin gak nyambung sama cerita. I'm getting mad! Maaf atas keterlambatan update karena Lav selalu pulang sekolah maghrib2 minggu ini. Lav sempet stuck bikin fic ini.

Makasih buat : 7color, Andromeda no Rei, 4ntk4-ch4n, Hikari Shinju, senayuki-chan, Midori Kumiko, Rei Nanda yang lagi malez login, Yunna-chan, So-chand cii Mio imutZ, CheZaHana-chan, Namiko CherryRan Mieko-chan, hatake arisa. Dan buat silent readers juga.

.

.

.

I'm Lost In Your Eyes

Naruto is Masashi Kishimoto's

It absolutely is mine

Semi-Canon, Lil OOC, Typos, etc

I've Warned You!

.

.

.

Meremas rambut. Hanya itu yang bisa ia lakukan kali ini. Dia mau gila rasanya. Geram dan marah bercampur aduk jadi satu. Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam menghujam ke lantai.

Biarkan aku menghancurkan sesuatu atau aku bisa gila!

"Dia akan baik-baik saja," hibur Shikamaru sambil menepuk pundak kekar Sasuke. Lelaki berambut nanas itu masih bergelut dengan radionya.

"Kau sudah mengatakannya berulang kali dan aku muak." sahut Sasuke datar. Ia masih mempunyai kewibawaan khas Uchiha. Dia harus tetap tenang. Kalem. Menyimpan semuanya sendiri dalam hati.

Grgh, persetan dengan itu semua. Aku mau istriku kembali!

BRAK!

"Sasuke, kau bisa tenang, tidak? Kita butuh rencana. Hentikan menghancurkan meja!" teriak Shikamaru saat melihat Sasuke menggebrak meja dengan keras. Pecahannya jatuh berkeping-keping. Lelaki berambut raven itu menatap Shikamaru tajam.

"Apa yang kau lakukan jika ini terjadi pada Ino?"

Pertanyaan telak. Shikamaru hanya menelan ludah dan menghembuskan nafas pelan-pelan. Dia mendekati Sasuke lalu menepuk pundaknya untuk yang kesekian kalinya.

"Dengar. Jika aku jadi kau, aku tak akan gegabah seperti ini. Aku akan panik dan khawatir, tapi aku akan berpikir."

Mendengus perlahan, Sasuke akhirnya hanya bisa berjalan menjauh menuju pojok ruangan. Menghantam tembok dengan keras lalu menghirup nafas dalam-dalam. Membayangkan hal yang telah ia lalui dengan Sakuranya. Menggeretakkan gig-gigi dengan keras saat rindu yang menusuk terasa di hatinya.

Aku hanya ingin kau, Sakura. Aku tak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi.

Sasuke ingat saat malam mereka makan malam. Ia hampir muntah karena keasinan. Tapi ia tahu Sakura membuat nasi goreng tomat itu dengan sepenuh hatinya.

Sasuke ingat saat pagi ia terbangun dan mendapati istrinya masih tertidur memeluk dirinya. Mata hijaunya menjadi hal yang paling ia syukuri karena bisa melihat mata menyejukkan itu pertama kali dalam menyambut pagi. Dan ia hanya tersenyum tipis saat istrinya meminta maaf karena tidak bangun pagi dan tidak membuat sarapan.

Sasuke ingat saat menonton TV bersama dan mendengar istrinya mengeluh karena tidak kunjung hamil. Dan lelaki dingin itu menyeringai menatapnya.

Sasuke ingat lamanya Sakura menunggunya untuk kembali pulang dalam balas dendam dan tetap mengharapkannya dalam kesakitan dan kesendirian.

Sasuke ingat segala rasa cinta dan sayang yang dicurahkan istrinya dengan segenap hatinya dan ia amat menginginkannya kembali.

Sasuke ingat semuanya dan ia tak mungkin diam saja. Ia harus bergerak. Persetan dengan segala strategi. Dia bisa melacak istrinya itu dengan chakra, kan?

Semoga saja chakra-nya tidak disegel.

Dengan penuh kemantapan hati, Sasuke berjalan menuju pintu dan mengaktifkan sharingan-nya. Shikamaru hanya mampu tercekat saat rekannya itu mengaktifkan amaterasu. Jika bisa, ia ingin mencegahnya namun ia tak mau terbakar.

"Sial! Mendokusei ne!" decah Shikamaru saat Sasuke dengan tenang berjalan keluar ruangan dan mendapati banyak bangunan yang gosong dan para ninja yang mati.

.

.

.

Perempuan berambut merah jambu itu hanya menatap ketiga orang yang datang padanya dengan waspada. Ia masih bertahan dengan posisi meringkuk. Meredakan detak jantung yang berdebar keras. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi misi yang berbahaya. Bahkan pernah menghadapi misi yang hampir mematikan nyawanya saat melawan Sasori dulu. Jadi ia memutuskan untuk tetap tenang dan berhati-hati.

"Ne, bangun!" salah seorang dari mereka, ia laki-laki terdengar dari suaranya, menendang pelan perut Sakura. Wanita itu mendecih pelan dan mengumpat dalam hati. Jika bisa, rasanya ia ingin menghajarnya dengan jurus shannaro-nya.

"Lepaskan!" desisan lirih keluar dari mulut Sakura. Ketiga orang itu terkekeh pelan. Mereka hanya diam dan sepertinya salah satunya sedang menyalakan lampu dan ruangan itu menjadi lebih terang.

"Kurasa kami tak perlu susah-susah untuk menangkap dan mengikatmu jika akhirnya hanya untuk . . . dilepaskan," lelaki yang menendang perut Sakura tadi berjongkok untuk melihat Sakura lebih jelas.

Sakura bisa melihat lelaki itu sepantaran dengannya. Rambut lurus seperti kebanyakan orang dan berwarna coklat sedikit pirang. Tampak hitai-ate berwarna merah berlambang yang tidak ia mengerti tercoret di dahinya. Sepertinya itu yang ia lihat saat ia diculik. Matanya torquise. Dia tampan sayangnya dia penjahat.

"Sekali kau menyentuhku, kau akan menyesal telah dilahirkan," geram Sakura lagi saat jemari kekar pria itu menyusuri pipi pucatnya. Lelaki itu terdiam sebentar, bermimik seolah-olah pura-pura kaget lalu tertawa disusul kedua temannya.

"Aku . . . takut," pria itu menyeringai. Berdiri perlahan menuju sebuah meja di pojok ruangan dan mengambil sesuatu. Ia hadapkan dengan segera ke hadapan Sakura dengan segera dan membuka kotak itu. Makanan.

"Apa itu . . . beracun?" tanya Sakura yang memang, jika boleh jujur, sudah sangat lapar. Ditambah ia sedang berbadan dua, menjadikan ia semakin keroncongan.

"Taruhan kau lapar. Jadi makanlah. Kami tak akan membunuhmu karena kau masih berguna," kata pria itu sambil menyumpit sebuah sushi lalu menyuapkannya pada Sakura yang tidak menolak. Betapapun ia membenci hal ini, toh ini semua juga untuk kebaikannya dan kebaikan bayinya.

Bau ikan itu amis dan Sakura sedikit pusing untuk menelannya. Dia muntah di tempat. Dapat diperkirakan lelaki itu geram dan membanting kotak makanan itu ke lantai dengan kasar. Mata coklatnya seakan berkilat marah.

"Kau tak perlu memuntahkannya jika kau memang tidak menginginkannya," dengus pria itu kasar. "Kau tahu, aku tak suka diremehkan!"

Rasanya Sakura ingin memuntahi wajah di depannya ini sekalian. "Aku benar-benar mual. Bukan karena jijik padamu atau semacamnya."

"Daisuke, aku merasakan aliran chakra yang aneh di tubuhnya. Ia seperti sedang. . . hamil?" sebuah suara muncul dari pojok ruangan. Dari seorang lelaki berambut coklat sepanjang telinga. Telinga Sakura berjengit mendengar nama lelaki itu. Nama yang indah sayangnya ia penjahat.

"Hamil?" Daisuke menatap Sakura dengan pandangan takjub lalu tertawa geli, "Hahaha, lucu sekali Konoha mengirim seorang kunoichi yang sedang hamil."

"Mereka tidak tahu aku hamil. Jadi sebaiknya kau jangan meremehkan Konoha," seru Sakura lagi saat mendengar nada Daisuke yang menjengkelkan.

"Baiklah. Perempuan hamil biasanya memang lebih galak. Jadi kau mau makan apa? Kelaparan tidak bagus untuk tubuhmu."

"Apapun asal berikan aku makanan." Sakura memandang tajam pada Daisuke dan saat ia bisa melihat wajah Daisuke dengan lebih jelas, is seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Ia berusaha keras untuk mengingatnya dan ia terkejut akan sebuah pikiran yang melintas di pikirannya.

"Ada apa?" tanya lelaki itu galak. Sakura tersentak.

"Tidak. Kau hanya mirip dengan seseorang. Kau mirip denga Harada. Seorang anak sepuluh tahun yang aku kenal," kata Sakura santai sambil menerima suapan Daisuke. Sepertinya mereka sengaja menyiapkan dua kotak karena mungkin mereka berpikir ia akan menolak dan menjatuhkan kotak itu.

Suapan itu terhenti tepat di depan mulut Sakura. Wanita merah jambu yang sudah bisa mengatasi mualnya itu hanya membuka mulutnya lalu dengan tak sabar memajukan kepalanya sendiri untuk menggapai makanan itu.

"Harada?"

"Benar. Apa kau mengenalnya? Kau mirip dengannya," kata Sakura lagi. Raut wajah Daisuke mendadak murung lalu berhenti menyuapi Sakura. Ia menyuruh seorang perempuan berambut pirang yang digelung, sekilas gaya rambutnya seperti Konan dari Akatsuki dulu, untuk menyuapi Sakura. Perempuan itu menurut. Dengan patuh ia menyuapi Sakura namun Sakura tahu jika wanita itu mengikuti arah pandangan Daisuke yang keluar menuju pintu. Pandangan wanita berhidung mungil indah itu terlihat sendu. Sakura merasakan sesuatu yang aneh.

"Ada apa dengan dia?" tanya Sakura perlahan. Wanita itu menoleh kaget ke arah Sakura lalu menggeleng keras.

"Aku tak bisa mengatakan apapun padamu."

Sakura mendengus, "Ya, tentu saja. Kau kan musuhku."

Wanita itu tersenyum, seperti dipaksakan, setidaknya itu yang ditangkap oleh Sakura. Apa itu seringain khasnya? Ada yang aneh.

.

.

.

Naruto sudah bersembunyi menjauh dari markas musuh menuju sebuah pohon terlebat di hutan itu. Dia sedang memulihkan chakranya saat ia merasakan chakra yang familiar.

"Kakashi-sensei!" seru Naruto sambil beranjak berdiri dan melihat ke sekitar, berharap melihat Kakashi-sensei sedang berloncatan di atas pepohonan. Sekelebatan hitam terlihat sedang berloncatan di kejauhan dan berhenti tepat di depannya.

"Yo," Kakashi melambaikan tangannya lalu menghadap ke arah jam sembilan dan menatap markas musuh yang sekarang lebih dijaga dengan ketat. Mungkin musuh sedang berkeliaran di sekitar hutan dekat markas.

"Kakashi-sensei. Benarkah Sakura-chan diculik?" tanya Naruto dengan tak sabar.

"Sepertinya iya. Ada yang bilang padamu?"

"Shikamaru yang mengatakannya padaku. Melalui radio. Aku tadi berusaha menghubunginya tapi tak ada sahutan," jelas Naruto sambil menyerahkan radio yang diletakkan pada telinganya kepada Kakashi.

"Bagitu?" Kakashi bergumam sampai ia tiba-tiba mendengar suara teriakan Shikamaru.

"Naruto, Sasuke menyerang tanpa perhitungan!"

Kakashi membelalakan matanya, sedikit terkejut juga ia. Kemudian ia berdehem. "Shikamaru, ini aku, Kakashi. Cegah dia. Setidaknya buat dia agar tidak menggunakan jurus membahayakan."

"Kakashi-sensei," Shikamaru ikutan berdehem, "Sepertinya susah. Sebaiknya kau cepat menyusul ke sayap benteng sebelah kiri."

"Tunggu kami, tapi tetaplah mencoba untuk tak membunuh banyak orang."

"Baik," Shikamaru mengangguk di seberang sana.

.

.

.

"Ledakan apa itu?" Sakura mengerutkan keningnya sambil memicingkan mata ke arah pintu. Wanita itu juga heran dan beranjak untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Tiba-tiba jantung Sakura berdetak lebih keras dari sebelumnya. Ia tidak begitu yakin, tapi, tapi ia merasakan chakra Sasuke di sekitar sini. Ia merasakannya, dan ia semakin yakin.

"Sasuke-kun . . .?" desah Sakura lirih sambil menggerak-gerakkan kakinya, berusaha untuk mencapai pintu yang tampak sangat jauh. "Itu kau, kan?"

DUAR!

"Sasuke-kun!" teriak Sakura saat ia melihat kilatan api dari balik pintu yang sedikit gosong. Ia semakin keras menggerakkan kakinya. Sampai ia tiba-tiba didatangi olah segerombolan ninja dan menahannya agar tak pergi.

"Sasuke-kun, tolong aku!" teriak Sakura semakin menjadi-jadi. Lalu ia mendadak merasa pusing yang sangat dan pingsan saat seseorang membekap mulutnya.

.

.

.

"Sakura!" kata-kata Sasuke tercekat di tenggorokan saat ia mendengar suaranya sepintas dan chakranya yang menguar lemah. Ia mendadak berhenti dan dikepung oleh gerombolan ninja yang waspada. Sasuke mengaktifka susano'o-nya sehingga ia bisa aman terlindungi. Ia mulai merasa sakit di matanya, tapi siapa yang peduli?

"Sasuke, hentikan! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri!" teriak Shikamaru yang merasa sudah tak bisa sabar lagi dan merasa tak dihargai.

"Diam kau! Aku merasakan Sakura ada di sini."

"Grgh, merepotkan," Shikamaru mendesah pelan lalu diam dan mengikuti apa saja yang dilihat Sasuke lihat. Para ninja itu sudah semakin banyak dan Shikamaru semakin dibuat terpana dan berlari menjauh dari Sasuke asal kemana saja saat ia melihat Sasuke mengeluarkan chidori-nya.

"Dia pasti sudah gila? Apa chakranya tidak habis?" gumam Shikamaru lirih dan ia juga merasakan chakra Sakura menguar pelan. Dia mendecah pelan. Ada sebuah kamar yang terang dan semoga saja-

"Hmph!"

"Satoshi!" Shikamaru segera berlari dan melepas ikatan yang mengikat tangan, kaki dan mulut. Lelaki muda itu hanya mengatur nafasnya. Ia berdiri dari duduknya dan memandang Shikamaru dengan khawatir.

"Senpai-"

"Ya? Kemana mereka?" tanya Shikamaru heran. Walau ia yakin mungkin mereka sedang fokus melawan Sasuke. Tapi kenapa seceroboh ini?

"Sebenarnya aku tidak terlalu penting bagi mereka. Mereka hanya ingin membuat kekacauan. Daisuke-senpai, dia-"

"Ya?"

"Um . . . dia menculik seorang gadis bernama Sakura dari Konoha dan menaruhnya di sebuah kamar di tengah markas."

Penjelasan Satoshi membuat Shikamaru semakin jengkel dan mendesis merepotkan dengan lirih. Di sanalah Sasuke sedang berada. Pantas saja ia nekat.

Lalu ia mendengar ada suara gubrak dari arah tembok di belakang mereka dan melihat Naruto dan Kakashi-sensei masuk dengan terburu-buru.

"Kakashi-sensei! Naruto!" teriak Shikamaru lega. Entahlah, ada mereka membuatnya merasa semakin terlindungi.

"Yo."

"Shikamaru!"

"Hn, aku akan membawa Satoshi pulang dan Kakashi-sensei, kau pergilah ke markas tengah. Ada Sasuke di sana. Ada Sakura juga di sana. Kalian bisa membagi diri siapa yang menyelamatkan Sakura, siapa yang bertarung bersama Sasuke," jelas Shikamaru sambil meraih tangan anak itu lalu menggendongnya di punggung mengingat ia tak bisa berloncatan dari pohon ke pohon.

"Baiklah."

Dan Shikamaru segera berlari melewati tembok yang sudah bolong karena dihantam Kakashi dan Naruto tadi dan segera menghilang dengan cepat.

Kakashi sendiri segera berlari ke markas utama dengan mengikuti chakra Sasuke yang ia rasakan. Ia harap Sasuke masih bisa bertahan. Lelaki itu jika sudah marah akan melakukan apa saja. Karena penggunaan sharingan yang terlalu sering tidak baik bagi matanya.

TBC

Ada yang tahu komik D.N Angel? Nama kedua orang di atas Lav ambil buat tokoh Lav. Apa itu termasuk plagiat? Apa ini pendek? Apa ini membosankan? Apa ini- *dibekep. Oiya, Lav mau tanya. kalau fic udah mencapai 15 kan sudah sampai batas. Terus kita harus meng-convert fic. Itu maksudnya apa? Kalau ada yang tahu, tolong kasih tahu, dong. Makasih. Akhir kata. . .

REVIEW, PLEASE!