My Godness! Lav tahu fic ini emang semakin GAJE, ABAL, dll. Ini dikarenakan beban dan pikiran. Jadi anak SMA gak enak, ya? Aku pengin SD lagi…_
Lupakan yang diatas. A thousand thank you for :
So-chand cii Mio imutZ, Apple ll0vve, HarunoZuka, Summer sakura, Yunna-chan, Kazuma B'tomat, vvvv, Rei Nanda, 4ntk4-ch4n, Hikari Shinju, Andromeda no Rei, Midori Kumiko, lily kensei, senayuki-chan, dan silent reader juga.
.
.
.
I'm Lost In Your Eyes
Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
This Story is Mine
Semi-Canon, Lil OOC, Typos, Very Gaje
I have Warned You!
.
.
.
Enjoy Reading
.
.
Kakashi dan Naruto masih saja terus berlari menyusuri lorong menuju markas tengah. Nafas mereka terengah karena semenjak mereka sampai di sini, mereka sama sekali belum beristirahat. Padahal mereka tahu memulihkan chakra juga penting.
Tapi Kakashi lebih tahu jika sekarang tak ada lagi waktu untuk beristirahat. Mereka semakin berlari cepat saat melihat ada kobaran api saat tiba-tiba terlihat sebuah kunai melayang ke arah mereka entah dari mana. Sedikit terkejut, Kakashi segera menghindar dengan hati-hati dan berhenti untuk memungut kunai tersebut.
"Ada apa, Kakashi-sensei?" tanya Naruto heran saat tiba-tiba gurunya itu berhenti berlari. Padahal markas tengah tinggal sebentar lagi.
"Ada yang melempar kunai pada kit-AWAS BELAKANGMU, NARUTO!"
"Ap-" dan Naruto sukses terdorong oleh Kakashi sehingga mereka sama-sama menabrak tembok. Naruto merasakan ada yang berderak di tulang punggungnya. Ia hanya berharap semoga tidak ada tulang yang patah. Mereka menggeliat perlahan lalu duduk dan memungut kunai kedua yang dilempar tadi.
"Ini beracun!" Kakashi mendengus pada ujung kunai dan menatap ke sekeliling. "Pasti ada suatu tempat di mana mereka bisa melempar kunai kepada kita."
"Um, Kakashi-sensei. Shikamaru pernah berkata padaku jika musuh kali ini bisa menggunakan kunai dengan cepat dan tak terduga. Mungkin ini yang ia maksudkan," sahut Naruto sambil menggerakan punggungnya.
"Kalau begitu kita harus lebih berhati-hati. Ini bukan kunai biasa. Ini beracun. Mungkin karena inilah Tsunade-sama mengirim Sakura. Aku akan ke markas utama dan kau gandakan saja dirimu dan cari di mana tempat mereka melempar kunai!" Kakashi sudah tak mau membuang waktu lagi dan memutuskan untuk menghilang. Naruto mengangguk dan menggandakan tubuhnya dengan bayangannya yang banyak.
.
.
.
Sungguh sama sekali tak ada dalam pikirannya Sakura akan tertangkap oleh para pengkhianat itu. Seharusnya kejadian itu tak terjadi. Pengamanan apalagi yang kurang? Sakura adalah kunoichi yang hebat dan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Di sisinya ada Kakashi, jonin terhebat di Konoha dan beberapa ANBU bersama mereka. Lantas mengapa ia bisa diculik?
Mungkin ini sudah membuat ia stress. Seharusnya ini tidak terjadi. Ini hanya misi level S yang seperti biasa. Memang misi level S selalu menantang maut. Tapi tidak ada yang semerepotkan ini.
Sekali lagi, Tsunade-sama meneguk sake yang ada di atas mejanya. Tak ada toleransi lagi, Shizune menarik paksa botol sake yang ada dalam genggaman Hokage ke-5 itu.
"Sekarang bukan saatnya untuk minum, Hokage-sama. Lebih baik Anda segera memutuskan apa yang sebiaknya kita lakukan," saran Shizune sambil mengelus Ton-ton yang ada dalam gendongannya kini.
"Hhhh," Tsunade menghela nafas sebentar lalu menopangkan dagunya ke kedua tangannya dan menatap tajam ke depan. Sepertinya, ia masih belum mabuk. Ia masih bisa berkonsentrasi.
Ia lalu menatap Shizune, "Sudahkah kau memanggil Neji dan Ino?"
"Mereka sedang ada di jalan," sahut Shizune dan memandang keluar jendela. Dan saat itulah, ia mendengar suara pintu diketuk. Setelah Hokage itu mempersilakan masuk, kedua orang itu segera masuk dengan hormat.
"Anda memanggil kami?" tanya Neji, seperti biasa, dengan menjunjung tinggi kesopanan.
"Benar. Apa kalian sudah tahu apa yang terjadi?" tanya wanita berkuncir dua itu memastikan.
Ino mengerjapkan matanya sekejap dan berkata dengan tak yakin, "Sakura diculik?"
Hokege wanita itu mengangguk dan raut kecemasan otomatis melintas di wajahnya, "Ya, Tuhan!"
"Ya, ini memang berbahaya."
"Lebih dari yang Anda bayangkan, Hokage-sama. Aku baru ingat kemarin. Sekarang Sakura tengah hamil dan-"
Semuanya terkejut. Dan kekhawatiran langsung naik beberapa derajat.
BRAK!
"Apa kau bilang?" tampak wajah cantik yang berada di balik meja itu berkedut menahan marah. Meja ruang kerja itu sedikit retak. Ino sedikit bergidik dan menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanya.
"Saat itu Sakura terjatuh di atas tangga rumah sakit karena mengeluh pusing. Dia bilang tak ada yang perlu dipermasalahkan karena itu sudah biasa dia bilang. Aku menggenggam tangannya dan merasakan aliran chakra yang aneh. Aku langsung tahu dia hamil. Dan saat aku akan mengatakannya, aku keburu dipanggil Shikamaru untuk suatu urusan dan ia juga ada pasien. Aku kira ia sendiri sudah tahu. Tapi kurasa tidak karena ia biasa menceritakan semuanya terhadapku. Dan berita kehamilan adalah berita yang sangat penting namun ia tidak mengatakan hal apapun kepadaku," jelas Ino panjang lebar. Dan itu membuat sang shisou semakin frustasi.
"Aku kira kau sempat bertemu dengannya sebelum pergi misi. Kenapa kau tak mengatakannya?" tanya Hokage itu seperti mengingat sesuatu.
"Itu dia. Waktu antara aku menyadari ia hamil dan misi sudah cukup lama berlalu. Sekitar beberapa minggu dan…aku lupa." Ino semakin menundukkan kepalanya.
Lagi-lagi Tsunade menghela nafas lalu menatap Neji, "Neji, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Ino, kuharap kau sedang tidak hamil sekarang dan ikut Neji agar jika Sakura ditemukan, kau bisa langsung memberikan pertolongan pertama. Ino, ingat tugasmu mengobati. Namun, jika ada yang mengancam nyawamu, jangan segan untuk menghentikannya." Perintahnya tegas.
"Ha'i" Neji dan Ino langsung keluar ruangan untuk segera menyusul mereka yang sedang berjuang.
"Kenapa aku bisa seceroboh itu?" desah Tsunade-sama.
.
.
.
Sasuke jatuh berlutut dan menunduk. Tangannya ia gunakan untuk menutupi matanya yang terasa sangat sakit. Rahangnya mengeras dan bahkan terdengar gemelutuk dari gigi-giginya yang saling beradu menahan sakit yang teramat sangat. Tubuhnya, jika boleh jujur, sudah sangat lemas. Dadanya naik turun kelelahan.
"Kenapa? Kau sudah tak sanggup?" tanya lelaki bermata torquoise di hadapannya. Ia berdiri dengan gagah di hadapan Sasuke yang sekarang nyaris kehabisan nafas. Lelaki raven itu, bagaimanapun juga, masih berusaha untuk bangkit dengan berpegangan pada katana-nya yang ia tancapkan ke lantai.
"Hhhh," Sasuke hanya berusaha menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
Lelaki torquoise itu hanya tersenyum meremehkan. Ia suka meremehkan namun tak suka diremehkan. Ia sudah menduga bahwa menculik Sakura akan sangat berguna. Lawan tertangguh dalam misi ini adalah Sasuke Uchiha. Ia tahu reputasi Sasuke Uchiha yang sudah bisa mengalahkan Akatsuki, organisasi yang menakutkan.
Dan kelemahan Sasuke Uchiha memang terletak pada istrinya. Orang yang penting dalam kehidupan seorang Sasuke Uchiha kerena memang istrinyalah satu satunya keluarga yang dimiliki oleh lelaki itu.
Sepertinya rencananya berrhasil. Setidaknya, ia berhasil membuat Sasuke menjadi kalang kabut dan membabi buta dalam menyerang mereka dan meboroskan banyak chakra. Dan yang lebih penting lagi, sepertinya Sasuke sudah tak sanggup mengeluarkan mata sharingan-nya.
"Daim kau brengsek!" desisan rendah Sasuke terdengar menakutkan juga. Tapi Daisuke hanya menyeringai.
"Kenapa aku harus menurutimu? Padahal in tempatku?"
"Katakan saja di mana istriku!" sergah Sasuke dan dengan gerakan cepat ia mencabut pedangnya dari lantai. Namun Daisuke yang sudah membaca apa yang akan dilakukan oleh Sasuke hanya menghindar sebelum pedang itu akan menebas kakinya.
Dan sekali lagi, Sasuke jatuh berlutut dengan nafas terengah-engah. Namun perlahan dan pasti, ia merasa matanya sudah tak sesakit tadi. Ia menahan diri agar tak mengaktifkan sharingan lagi.
"Menyerah, ha?" Daisuke mencondongkan tubuhnya ke arah Sasuke dengan pandangan menyelidik.
"Tak ada dalam kamusku!" dengan cepat Sasuke bangkit lalu menyerang dengan membabi buta ke arah Daisuke dan mengayunkan pedangnya ke segala arah, dengan perhitungan tentu saja. Daisuke yang tak memperhatikan itu hanya bisa kaget pada awalnya.
Lelaki berambut pirang yang sedikit coklat itu hanya meringis saat lengannya tergores cukup dalam dan semakin terkejut saat mendengar suara teriakan dari arah belakang.
"Daisuke!"
"Tu-"
Terlambat. Wanita yang juga sama-sama berambut pirang namun lebih terang itu sudah terlanjur memeluk Daisuke. Bahkan saat Sasuke sedang mengaktifkan chidori -nya. Dan menyebabkan ia terluka. Parah. Keduanya terpental dan jatuh saling bertindihan dengan reruntuhan tembok.
"Yume. . ."
"Yume!"
Daisuke berusaha untuk merangkak ke arah Yume dan mengguncang tubuhnya yang sangat parah. Daisuke terlihat tersedu dan memeluk wanita itu. menciumi bibirnya dan hidungnya.
Hati Sasuke terasa teriris melihatnya. Lalu mata onyx -nya membelalak melihat seorang wanita berambut merah muda sedang dalam kondisi pingsan ada di ujung lorong bersama seorang lelaki berambut mencapai telinga. Lelaki itu juga sama terkejutnya akan kejadian tadi.
"Yume!" dan lelaki itu berlari menghampiri wanita bernama Yume tadi. Meninggalkan Sakura yang jatuh lemas di atas lantai. Tanpa banyak membuang waktu, Sasuke menghampiri istrinya yang sudah sangat dirindukannya.
Ia hampir lupa bernafas melihat istrinya. Apalagi saat ia melihat Sakura perlahan mengejapkan matanya dan menatap ke kedalaman telaga onyx di depannya. Mata hijaunya yang semula bersinar redup perlahan mencerah.
"Sa-Sasuke-kun?" lirih Sakura meraba pipi putih pucat berdarah di hadapannya. Sasuke hanya mengangguk dan memejamkan matanya erat-erat saat ia merasa matanya kembali sakit. Ia merasa sesuatu yang hangat dan kental mengaliri pipinya.
Darah yang berasal dari matanya!
Sekarang giliran Sakura yang panik setengah mati. Ia bangkit dari tidurnya dan gantian menaruh kepala Sasuke ke atas pangkuannya. Dengan segera ia mencoba menyalurkan chakra hijaunya ke arah mata Sasuke yang terluka.
Ia tak peduli bahkan walaupun chakranya sendiri sudah hampir habis.
"Cu-cukup, Sakura. Simpan chakramu," cegah Sasuke menyadari Sakura juga kekurangan chakra.
"Bertahanlah, Sasuke-kun…demi anak kita…"
Dan kalimat itu sudah cukup untuk membangkitkan semangat Sasuke untuk memunculkan kembali kekuatan dalam dirinya. Dia bangkit untuk memeluk Sakura. Menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang istrinya. Menghirup aromanya. Menelusuri wajahnya dengan bibirnya yang dingin. Menghangatkannya dengan ciuman yang dalam. Mereka saling melepas rindu seperti induk kucing dan anaknya yang manja.
Mereka seakan lupa jika ini masih dalam markas musuh, dan pada Kakashi yang baru tiba. Guru itu tak ingin mengganggu sepasang suami istri itu hingga ia akhirnya hanya mencegah datangnya kunai-kunai yang, sekali lagi, entah datang dari mana.
.
.
.
Naruto hampir mati kehabisan nafas saat melawan ninja berkunai itu. Percayalah jumlahnya sangat banyak. Ya, suatu keputusan yang tepat Kakashi-sensei menyuruhnya. Ia juga bisa menggendakan dirinya dengan sangat banyak.
"Eh?"
"Naruto, di mana, Sakura?"
Pemuda pirang jabrik itu terpana akan suara itu dan menatap ke atas atap dan melihat atap telah jebol karena ulah seorang wanita berambut pirang indah dan seorang lelaki berambut indah juga namun tidak pirang.
"Ino? Neji!" teriaknya girang sambil menghindari sebuah kunai yang meluncur ke arahnya.
Ino mengernyitkan matanya, "Omong-omong di mana Shikamaru?"
"Oh, dia pulang ke kuil untuk mengantar anak itu."
Ino mendecak kesal lalu bersama dengan Neji, mereka meluncur ke bawah dan bertarung bersama Naruto untuk menghabisi ninja berkunai itu. Kelihatannya jumlah mereka semakin berkurang. Dan mereka bisa menghabisi ninja amatir itu dengan mudah.
Neji mengaktifkan byakugan-nya dan menatap ke sekeliling. Ia lalu menonkatifkan kembali saat ia menemukan apa yang ia cari.
"Ikut aku," Neji berjingkat meloncati para ninja itu. menuju markas tengah.
.
.
.
TBC
Pendekkah? Lav tau ini pendek tapi bentar lagi juga tamat, kok. Endingnya udah nyantol di kepala Lav. Cuma lagi kena penyakit malesius ngetikus (copy dari siapa gak tau Lav lupa, itu juga kalo hurufnya bener)
.
.
.
And I Just Want You To REVIEW! (pake nada lagu The Reason)
