I don't want to talk too much. Special thanks for :

4ntk4-ch4n, Devil's of Kunoichi, lily kensei, me, senayuki-chan, HarunoZuka, Midori Kumiko, Uchiha vio-chan, Andromeda no Rei, Apple llovve, Hikari Shinju, Rei Nanda, vvvv, Kazuma B'tomat, Yunna-chan, Summer sakura, So-chand cii Mio imutZ, hatake arisa, Namiko CherryRan Mieko-chan, CheZaHana-chan, 7color, Shinker, gieyoungkyu, mayu akira, Winterblossom Concrit Team, Just Ana, Scrappy doo, Hikari Meiko EunJo, Qren, Sasori, Just Natha'Lia, miss-Ara-chan, Sasusaku Hikaruno-chan, who have reviewed this fic. And the silent reader, too

.

.

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

This is mine

Semi-Canon, Lil OOC, Typos, Gaje, etc

Hope You Will Enjoy It, Minna-san

.

.

.

Keadaan mulai sepi. Kakashi menatap waspada pada sekeliling. Di ujung koridor dilihatnya dua orang manusia sudah tak berdaya. Mati, sepertinya. Lelaki berambut perak itu menghela nafas. Siapa yang bisa selamat dari chidori? Apalagi sepertinya lelaki bermata turquoise itu juga ninja yang biasa. Dan bahkan wanita pirang itu sepertinya bukan ninja.

Masih ada seorang lelaki berwajah sembab yang sepertinya sedih melihat dua rekannya mati. Lelaki itu masih terisak meratapi kematian sahabatnya dan tak menghiraukan Kakashi yang notabene adalah musuhnya. Kakashi tak merasakan ada nafsu membunuh pada dirinya. Sepertinya bahkan lelaki itu ingin mati saja menyusul kedua sahabatnya.

Tapi bukan berarti itu menghentikannya untuk sekedar melayangkan kunai ke arah Kakashi yang terlihat termenung sekarang. Namun untung saja jonin itu mempuyai reflek yang tinggi hingga ia bisa menghindar dan balas melempar shuriken ke arah pemuda itu Tancapan telak mendarat di perut lelaki itu. Dan Kakashi menghela nafas lega. Berharap kunai-yang-ia-tak-tahu-berasal-dari-mana berhenti menyerangnya.

Kedua orang itu mati. Yang satu sekarat. Dan Kakashi langsung teringat akan sepasang suami istri yang masih ada di ujung tembok yang berlawanan dengan ketiga orang tragis itu.

"Kita bawa ia ke salah satu kamar," ujar Kakashi bernada menenangkan pada Sakura yang terisak melihat Sasuke yang sekarang tidak sadar. "Aku yakin dia akan terbangun nanti."

"Kakashi-sensei…"Sakura mendongak dan merengek seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya karena telah dinakali oleh temannya. Kakashi tersenyum kecil. Namun hanya Tuhan yang bisa melihatnya.

"Tenanglah, Sakura. Kau ninja medis dan kau pasti bisa menanganinya," kata Kakashi lagi sambil mengelus kepala merah jambu Sakura. Perempuan itu menunduk, menyaksikan suaminya sedang diseret oleh gurunya menuju sebuah ruangan.

Pelan Sakura kembali menaruh kepala Sasuke di atas pangkuannya. Dia semakin terisak. Bahkan dalam pingsannya, Sasuke masih terlihat sangat kesakitan. Wanita itu menghela nafas perlahan lalu memusatkan chakranya pada mata Sasuke yang terluka. Ia mengerahkan semua chakra yang ia punya. Cahaya hijau menguar perlahan. Lalu mata suaminya perlahan mengerjap.

Sasuke terbangun lagi sepenuhnya dan mendapati istrinya sedang mencoba menyembuhkannya dengan wajah yang seperti menahan sakit dan lelah ,dan tangis. Sakura tampak terkejut akan dirinya yang telah bangun, lalu semakin berkonsentrasi. Terlihat menahan diri agar tak memeluk erat suaminya ini. Ia sendiri yang juga sangat tak bertenaga, perlahan mencoba meraih tangan mungil Sakura yang masih menguarkan chakra hijau itu.

"Kubilang simpan chakramu," desis Sasuke lirih sambil menggenggam erat tangan Sakura yang sudah dibebaskan dari tali yang menyebalkan itu sesudah ia dibekep oleh para nuke-nin itu saat serangan Sasuke.

"Tapi, kau sedang dalam keadaan parah. Kau harus sembuh…," Sakura semakin terisak dan tetap mempertahankan tangannya di atas mata Sasuke. Pria itu menggeleng lemah.

"Kau sedang hamil dan kau harus tetap kuat," bujuk Sasuke lagi lebih terdengar seperti memerintah. Membuat seorang lagi yang ada di ruangan itu alias Kakashi mengerutkan kening. Dia hampir tak percaya Sakura hamil. Namun dia memilih diam sambil terus berusaha menyambungkan radio pada Naruto.

"Tapi kau tidak boleh mati, Sasuke-kun," isakan itu semakin hebat terdengar dan membuat pilu siapapun yang mendengarnya. Sasuke menahan dirinya mati-matian agar tak ikutan menangis.

"Tapi keselamatan bayi kita lebih pen-"

"AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU MENINGGALKANKU LAGI, SASUKE-KUN!" Sakura terlihat geram mendengar nada pasrah dalam nada yang lelaki raven itu ucapkan hingga ia menjerit tak sabar, "Yang kubutuhkan adalah kau… Jadi kau tak boleh mati."

Menghela nafas perlahan, seperti bersiap menghadapi amarah Sakura yang memuncak, Sasuke berkata sambil tersenyum amat tipis. "Tatap aku, Sakura," akhirnya lirih suara Sasuke terdengar. Ia mengangkat tangan kekarnya yang penuh luka perlahan untuk meraih pipi Sakura yang mulai memucat. "Aku tidak akan mati semudah itu. aku juga ingin melihat anak kita. Aku tak bilang aku akan mati."

Sakura mengigit bibir bawahnya dan mencoba keras agar tak terisak lagi dan tak menjerit lagi. Mata itu. Lagi-lagi mata onyx itu berhasil menjeratnya. Mata segelap malam. Sedalam telaga yang yang tenang pada malam hari. Mata yang menghanyutkan dan diam-diam membuatnya tersesat. Mata yang berkata padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mata suaminya yang sangat ia cintai sepenuh jiwanya.

"Sasuke-kun…"

"Jadi tenanglah. Aku akan baik-baik saja. Kau hanya perlu menyimpan chakramu yang menipis," dan Sakura bisa melihat Sasuke mengaktifkan sharingan-nya sekilas. Mungkin sedetik. "Tadi aku mampu melihat, chakramu sudah benar-benar berkurang."

"Kau nekat!" Sakura menunduk. Tidak bisa berfikir bagaimana Sasuke masih sanggup mengaktifkan sharingan sialanitu walau barang sedetik. Ia menunduk dan memeluk Sasuke yang juga tersenyum tipis membalas pelukan hangat dari istrinya.

Kakashi berdehem menyaksikan sepasang suami istri itu dan kemudian menatap keluar jendela yang ada di ruangan itu.

"Benar, Sakura. Kau tak perlu khawatir. Ino akan datang kesini untuk memberikan pertolongan pada kita," kata Kakashi tanpa memandang keduanya. Sakura bisa melihat semburat kekuningan melintas di wajah Kakashi. Sepertinya pagi sudah akan datang. Sebuah kehangatan yang amat ia rindukan.

"Arigatou," Sakura terisak pelan dan memeluk dan mencium sekilas bibir Sasuke yang sepertinya tengah tertidur kelelahan.

.

.

.

Neji memutuskan untuk mengaktifkan byakugan-nya sekali lagi saat ia mencapai sebuah ruangan yang terdapat api di beberapa tempat. Api hitam yang tak mudah padam. Api amaterasu.

Dan Ino terbelalak melihat tiga orang sedang tak sadarkan diri di ujung koridor. Kedua partnernya juga ikut mengernyitkan dahi. Bersama, mereka menghampiri ketiga orang itu dan memeriksa mereka.

"Mati. Tapi lelaki ini masih hidup," kata Ino pelan kemudian berdiri untuk melihat sekeliling. Benar-benar terdapat kehancuran yang parah. Kobaran api di beberapa sudut. Reruntuhan yang menyisakan darah. Dan mayat. Walaupun tidak semengerikan seperti invasi Pein dulu, tetap saja. Segala sesuatu yang menimbulkan korban nyawa akan selalu menyisakan kesedihan dan kengerian.

Tanpa diperintah lagi, Neji membawa lelaki yang masih hidup tadi pada pundaknya dan tanpa mengaktifkan byakugan-nya lagi, ia bisa merasakan chakra tiga orang yang familiar berada di dekat mereka. Naruto dan Ino yang juga sadar akan hal itu segera saling mengangguk satu sama lain.

Sedikit merutuk karena radio yang dibekali telah rusak akibat terkena kunai, Naruto melempar radio komunikasi itu lalu menemukan sebuah ruangan yang menguar cahaya terang. Senyum tiba-tiba merekah pada wajah cerianya saat aura chakra itu semakin kuat. Ketiganya segera mempercepat langkah menuju ke sana.

"Yo, Naruto," Kakashi melambaikan tangannya dan berdiri untuk menyambut mereka bertiga. Naruto meringis sekilas lalu menghampiri Sakura dan Sasuke yang tengah tak sadarkan diri.

"Eh, apa mereka baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir dan segera menghampiri pasangan itu. tapi ia tak ingin mengusik keduanya.

"Ya. Sedikit parah memang. Dan aku tadi menyaksikan drama sebentar," lalu Kakashi terkekeh kecil mengingat adegan sebelumnya yang ia lihat dan tak ada dalam Icha-Icha edisi manapun. Namun ia kemudian mendapat deathglare dari Ino yang tidak mengerti apanya yang lucu. Seketika Kakashi langsung bungkam dan bergerak menghampiri Neji untuk membicarakan sesuatu.

Ino juga akhirnya beranjak menyusul Sakura dengan cepat dan menggenggam tangan wanita hamil itu. Memeriksa nadinya dan aliran chakranya. Ia yang masih bugar, mengalirkan chakra pada Sakura dan membuat wanita itu terbangun. Ada raut terkejut pada Sakura menyaksikan sahabatnya datang untuk menolong.

"SAKURAAA-CHAAN!" teriak Naruto yang menyaksikan sahabatnya sadar kembali dan memeluknya. Tentu saja ia sangat bahagia. Membuat Sakura merasa sesak dan Ino menutup kedua telinganya karena berisik.

"Naruto, aku sesak!" dengus Sakura tajam. Tapi tak urung ia bahagia juga bisa melihat sahabat terbaiknya itu.

"Ugh, Naruto! Kau membuat konsentrasiku buyar!" omel Ino mengerucutkan bibirnya dan sedikit mendorong tubuh Naruto membuatnya terjengkang. Naruto hanya mendengus kesal lalu mata shappire-nya terbelalak lagi saat melihat sahabatnya yang satu lagi terbangun dan bangkit dari pangkuan Sakura.

"TEMEE, KAU JUGA BANGUUUN!" teriaknya heboh lalu menggeser Ino agar minggir sedikit dan memeluk Sasuke yang sama terkejutnya dengan Sakura. Dan pemuda raven itu juga mendapati dirinya sesak nafas dipeluk oleh sahabat pirangnya itu.

"Aku tidak bisa bernafas, Dobe! Apa kau ingin membuatku pingsan lagi?" desis Sasuke dan membuat Naruto sadar bahwa Uchiha memang telah kembali. Hal itu membuat ia semakin heboh dalam mengekspresikan perasaan bahagianya dan malah memeluk kedua pasang suami istri itu sekaligus, Ino juga sekalian.

"NARUTO!" tiga teriakan sekaligus langsung diterima Naruto dan ia hanya mengeluarkan cengirannya. Ia menggaruk rambut pirang jabriknya sendiri dan melepas pelukannya perlahan.

"Kalain tidak tahu, sih, betapa bahagianya aku," gumam Naruto sambil terkekeh. Ketiga sahabatnya jadi tersenyum juga akhirnya.

"Nah, apa reuni kalian setelah beberapa hari tidak bertemu sudah cukup?" tanya Kakashi dari arah jendela. Dan ketiga orang itu juga tak mendapati Neji bersama lelaki bertopeng itu.

"Di mana Neji?" tanya Naruto tak menghiraukan pertanyaan Kakashi sebelumnya yang dirasanya memang tak membutuhkan jawaban.

"Dia sudah kusuruh untuk pulang kembali ke Konoha untuk merawat lelaki tadi. Di kuil tidak ada klinik pengobatan yang memadai.

"Begitu?" gumam Naruto dan ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu kita bagaimana?"

"Kita kembali dulu ke kuil. Shikamaru masih ada di sana. Dan kita perlu menjelaskan apa yang telah terjadi," perintah Kakashi dan mata beda warnanya memandang ke arah Sasuke dan Sakura. "Apa kalian berdua sanggup? Bagaimana kalau kita beristirahat dulu?"

Sebenarnya Sasuke dan Sakura sangat enggan untuk menunda-nunda waktu. Tapi tenaga mereka benar-benar habis. Mereka butuh istirahat untuk memulihkan chakra mereka.

.

.

.

Pagi sudah merangkak mendekati siang lalu menjadi sore hari. Shikamaru duduk di samping pendeta kuil atas dan befikir sekiranya sedang apa teman-temannya di benteng musuh. Ini memang benar-benar misi yang merepotkan.

Sedikit tersenyum karena ia akan melihat Ino yang sungguh sangat dirindukannya, Shikamaru terbatuk. Pikiran yang selama ini menghantuinya, misi-level-S-yang-menantang-maut, membuatnya khawatir tidak bisa melihat Ino lagi dan membuat rasa rindunya membuncah hingga berkali-kali lipat. O, tidak. Dia tidak akan mati sebelum meneruskan klan Nara melalui Ino.

"Daisuke~" pendeta kuil atas itu menggumam lirih dan menunduk memandangi tatami. Wajahnya terlihat sedih. Shikamaru mau tak mau segera kembali fokus kepada orang tua itu dan menyaksikan penderitaan di hadapannya.

"Apa yang menyebabkan Daisuke, maksudku, anak Anda, memberontak pada tou-san-nya sendiri?" tanya Shikamaru pelan. Lelaki tua yang mengenakan kimono putih itu terbatuk sebentar.

"Karena kuil ini sendiri. Kuil atas dan bawah harus bersatu untuk menghindari roh jahat. Daisuke sejak kecil sudah ditakdirkan untuk tak menjadi penerus kuil. Yang berhak meneruskan kuil ini adalah Harada, adiknya sendiri."

Shikamaru hanya mengangguk-angguk. Diam mendengarkan sambil mati-matian agar tak menguap.

"Kenapa ia tak bisa meneruskan kuil ini?" tanya Shikamaru saat lelaki tua itu tak juga meneruskan perkataanya. Memancing kebosanan Shikamaru, rupanya.

"Daisuke dipenuhi dengan ambisi yang terlalu. Tidak seperti adiknya yang penuh kasih sayang. Itu tidak baik bagi kuil ini sendiri. Kau lihat sendiri, bukan? Ia sampai memberontak untuk menjadi penerus kuil. Memberontak dengan alasan batu bertuah atau apapun itu yang sebenarnya tidak ada," dan diakhiri oleh lelaki tua berjenggot putih panjang itu dengan helaan nafas berat.

Shikamaru masih penasaran, "Bagaimana ia bisa menjadi shinobi?"

"Dia senang berkelahi dan aku mengirimnya ke desa shinobi untuk menyalurkan rasa ingin menghancurkan sesuatu darinya. Itu juga salah satu alasan ia tak bisa menjadi penerus kuil. Aku tahu ia berbakat menjadi ninja."

Shikamaru hanya mengangguk lagi dan menguap perlahan. Dia hanya mampu terdiam mendengar lelaki tua itu bercerita lagi.

"Lagi pula, untuk menyatukan kuil atas dan kuil bawah, harus ada pernikahan. Ya, dengan kata lain Harada harus menikah dengan Satoshi dari kuil bawah itu. Tidak mungkin bukan aku akan menikahkan Daisuke dengan Satoshi. Tapi Daisuke tak terima alasan ini."

Shikamaru tersenyum sebentar, "Tentu saja tak terima. Dia pasti lelaki normal."

"Normal." Pendeta kuil itu mengangguk. "Ia bahkan membawa Yume, gadis yang amat mencintainya. Namun ia terlalu berambisi untuk mendapatkan kuil ini sehingga aku tak tahu bagaimana kisah cinta mereka."

Shikamaru hanya mengangkat sebelah alisnya sambil mendesiskan kata merepotkan dengan pelan. Beruntung ia tak memiliki kisah hidup semerepotkan itu.

"Nah, kapan kiranya mereka akan datang?" tanya pendeta itu sambil memandang Shikamaru. Pemuda nanas itu hampir akan menggeleng saat ia merasakan chakra yang familiar mendekat ke arah mereka. Ia tersenyum perlahan lalu berdiri dari duduknya dan beranjak menuju beranda.

"Mereka akan segera datang," ucap Shikamaru sambil memandang ke kejauhan.

.

.

.

Harada tampak sesenggukan di pelukan Sakura saat melihat onii-san yang jarang dilihatnya telah terbujur kaku dengan luka yang amat parah. Bahkan terlalu parah untuk dilihat oleh seorang gadis manis yang masih berusia sepuluh tahun. Sakura hanya bisa mengelus gadis itu. Merasa sedikit menjadi seorang ibu.

Semuanya bersedih. Terlepas dari status Daisuke yang notabene adalah pengkhianat, mereka tetap bersedih. Apa lagi mereka tahu, pemuda itu tak benar-benar jahat. Hanya memiliki ambisi yang terlalu berlebih. Hal yang bagus sebenarnya jika ada di jalan yang benar.

Dan tinggal menunggu waktu hingga Harada cukup dewasa untuk menikah dengan Satoshi. Dan semua ninja dari desa daun yang tersembunyi itu memutuskan untuk pulang. Membawa kabar gembira walaupun ada secuil kisah yang menyedihkan.

.

.

.

FIN

Omake kehidupan Sasuke dan Sakura setelahnya

.

.

.

Lelaki berambut raven itu tampak sedang menikmati jus tomat hangatnya dengan penuh penghayatan. Cuaca di Konoha memang dingin saat ini. Ini sudah masuk musim dingin. Sasuke mengamati halaman rumahnya yang penuh dengan bunga mawar yang sekarang bertitik-titik salju hasil berkebun istrinya. Entah sejak kapan Sakura senang berkebun. Mungkin tertular Ino.

"Hiaat!"

"Aduh!" Sasuke tampak sedikit terdorong ke depan saat ia merasakan ada seseorang menodongkan kepalanya dengan pedang kayu yang kecil. Saat ia menoleh, ia melihat seorang gadis kecil kecil berumur empat tahun sedang mengayun-ayunkan pedangnya ke arahnya.

Sasuke tersenyum lalu menangkap gadis kecil itu untuk ia peluk dan ia cium dahinya. Namun gadis kecil itu memberontak dan menggeliat untuk keluar dari pelukan tou-chan-nya.

"Tou-chan cekalang mucuhku! Ayo kita beltalung!" gadis kecil itu memandang Sasuke tajam dan berancang-ancang dengan pedangnya. Mau tak mau, Sasuke terpaksa menahan tawanya atas aksi putrinya yang menurutnya lucu itu.

"Bagaimana jika Chiko-chan melawan kaa-chan saja?" tawar Sasuke sambil meraih ujung pedang yang diayunkan putrinya. Lalu sekali lagi mencoba membawa anaknya itu dalam pelukan hangatnya.

"Tidak. Kaa-chan sedang sibuk memasak."

"Bagaimana dengan Shima-kun?" tawar Sasuke lagi yang kali ini mendekap putrinya agar lebih hangat. Putrinya sudah tidak memberontak lagi.

"Tidak. Nii-chan bilang ia cedang belcama dengan Akane-neechan dan tidak ingin diganggu." Jawab Chiko lagi. Kali ini ia malah mendekap ayahnya erat.

Sasuke tersenyum saat mengetahui putra sulungnya sudah menyukai seorang gadis. Apa lagi yang disukai adalah anak hasil pernikahan Naruto dengan Hinata. Baiklah, anaknya memang sudah cukup besar dan bahkan sudah menjadi jonin. Ia bersyukur Mishima Uchiha tidak terlalu dingin seperti dirinya. Dia memang bisa mengendalikan emosi dan menjaga harga diri keluarga, tapi dia tidak pelit untuk sekedar tersenyum kepada siapapun.

"Aku pulang!" sebuah suara yang berat muncul dari arah depan. Tampak anak sulungnya sedang berlari kecil ke arahnya dan mengibaskan bajunya yang tampak kejatuhan salju.

"Hn, benar kau sehabis kencan?" tanya Sasuke saat anaknya itu duduk di sampingnya.

Mishima tampak terkejut lalu Sasuke bisa melihat putranya itu men-deathglare adiknya sendiri. Chiko tampak ketakutan lalu memeluk ayahnya semakin erat.

"Tou-chan…" rengek Chiko dengan nada manja. Gadis yang mirip dengan ibunya itu, baik dari rambut, mata, maupun kelaukan, ikutan men-deathglare kakaknya saat merasa ia sudah ada dalam lindungan ayahnya.

"Um…" rona merah muncul di pipi Mishima, "Iya. Ta-tapi ini bukan kencan. Kami hanya sekedar makan di Ichiraku-Reman. Tidak lebih."

Sasuke hanya tersenyum menatap anaknya yang mirip dengannya ini, baik dari rambut, mata, dan kelakuan walau memang sedikit cair dari ayahnya.

"Tou-san hanya berpesan, jika kau menyukai seorang gadis, jangan sia-siakan perasaan gadis itu. atau kau akan tersiksa dan menyesal," katanya merujuk pada kisahnya sendiri dahulu. Itu pun ia bersyukur karena ia tidak terlalu menyesal.

"Baiklah, Tou-san," Mishima mengangguk dan beranjak berdiri tepat saat teriakan ibunya terdengar.

"Kalian, masuklah. Makan malam sudah siap."

Chiko tersenyum penuh kemenangan, "Niichan cudah makan di Ichilaku jadi tidak boleh makan malam buatan kaachan yang enak."

"Tidak bisa. Sekenyang apapun aku, makanan kaa-san tidak boleh terlewatkan," kata Mishima dengan yakin dan mantap. Baginya, makanan ibunya adalah makanan terenak di dunia.

Dan Sasuke hanya tersenyum tipis menatap kedua anaknya saling berlarian mendahului ke ruang makan.

Dan senyumnya semakin lebar saat mendapati istrinya tengah memeluk kedua anaknya dengan senyum manis terpasang di wajah oval yang pualamnya. Tinggal sebentar lagi ia bisa memeluk ketiga orang yang ia cintai itu.

.

.

.

FIN

God, akhirnya kelar juga. Setelah ini lav mau hiatus aja, ah. Mau mid semester soalnya. Dan harus belajar lebih giat karena SEMUA PELAJARAN SOALNYA ADALAH ESSEY *curcol lagi. Ini sudah cukup panjang, kan? Apa masih kurang panjang? Maaf kalo masih dirasa pendek. Maaf jika endingnya jelek dan gak sesuai harapan. Maaf jika kurang banyak adegan romantis, hehehe.^^

REVIEW!