Minna! Wikkey come back!

Gyaaa! Maaf kalo Wikkey lama ga update, terima kasih untuk semua yang udah rela nunggu fict Wikkey! Wikkey lagi sibuk ngurusin cosplay dan persiapan PKL nih! Oh ya sesuai janji, Wikkey juga bakalan update my 1st fict in Harry Potter RnR yaaa… baiklah tanpa banyak curhat lagi, ini chapter selanjutnya…

.

.

.

Disclaimer : Kishimoto Masashi

Pairing : SasuNaru

Rated : T

Warning : sho-ai, OOC, gaje, bad boys, DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

Sasuke mendengus sambil mengeluh kesal, "Apa? Mmm… kau ingin membantukku melakukannya, dobe?" Sasuke menyeringai nakal sambil berjalan mendekati Naruto.

Naruto menahan napas sambil mundur perlahan menatap horror Sasuke, "A… apa yang kau mau?"

Para gadis berteriak histeris benar – benar histeris sampai-sampai para cowok disitu menutup kedua telinganya rapat-rapat. Mereka semua merasa canggung melihat tingkah kedua pemuda di sana yang semakin intens. Tanpa melepas pandangan dan menahan nafas.

Naruto mangarahkan pandangannya ke kursi pemain dan menatap ke arah Gaara dengan pandangan horror yang mengisyaratkan minta tolong. Sedangkan yang diberi sinyal hanya menatap balik, sambil menaikan satu alisnya mukanya masih menampilkan ekspresi sama seperti sebeumnya, datar. Wajah Gaara menyiratkan 'kau-kan yang mulai duluan' dan akhirnya mengalihkan pandangan alih-alih tidak bisa membantu kawannya yang satu ini.

Naruto memandang sembunyi-sembunyi ke arah tubuh sasuke yang akhirnya tertangkap oleh pandangan mata sasuke. Naruto makin gugup, tubuhnya yang gemetar masih melangkah ke belakang, sedikit demi sedikit keringat dingin mengalir dari tubuhnya. Tak menyangka hasil dari perbuatannya sendiri akan berimbas kepada dirinya sendiri. Sial! Senjata makan tuan.

Sasuke menyeringai makin lebar dan semakin mendekat. Sasuke berjalan dengan gerakan sensual sehingga banyak mata apalagi para gadis melotot menatapnya. Ia membuka kancing terakhir dan dengan gerakan secepat kilat melemparkan kemejanya yang sedikit lembab entah kemana, cukup jauh untuk diperebutkan para gadis-gadis yang langsung berteriak histeris menyerbunya. Wajah naruto semakin pucat dibuatnya.

Sedangkan di bangku pemain, Gaara hanya menggelengkan kepalanya tak mau melihat lebih dari ini. Gaara menghela nafas pendek dan bangkit dari kursinya. Namun gerakannya tertahan oleh tarikan lembut seorang pemuda di sampingnya, Neji.

"Mau kemana?" tanyanya sambil mendongak menatap wajah datar Gaara yang seperti biasa.

"Aku lapar…" jawab Gaara singkat.

"Boleh aku ikut denganmu?" Tanya Neji tidak mengalihkan pandangannya dari pemuda berambut merah tersebut.

"Y…ya… mm… anu Neji… bisakah kau… itu…" ujar Gaara gugup dan mengarahkan pandangannya ke arah lengannya.

Neji tersenyum lembut dan bangkit, namun bukannya dilepas ia malah menggandeng erat tangan Gaara. Membuat Gaara semakin bingung dan memunculkan sebuah semburat merah di wajahnya makin terlihat jelas. Kini Neji berjalan labih dahulu sambil mengandeng Gaara yang kikuk. Gaara merasakan sesuatu yang aneh, dadanya berdegup begitu kencang melebihi ritme normalnya. Sejauh ini Gaara patuh dan berjalan mengikuti langkah Neji diikuti beberapa pandangan heran para gadis, yang sebagian besar telah disibukkan oleh pemandangan di tengah lapangan yang begitu sayang untuk dilewatkan.

Naruto merasa hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, wajahnya benar-benar merah. Batinnya benar-benar kesal namun jantungnya malah berdegup kencang, benar-benar aneh. Sasuke yang telah bertelanjang dada kini mengerahkan kedua tangannya ke ikat pinggangnya dan…

BRAKKK!

Pintu gerbang lapangan basket terbuka dengan begitu kasar sehingga menghentikan semua aktivitas di area gedung ini. Semua mendelik memberi pandangan sinis ke arah pintu gerbang, sedangkan bagi Naruto saat ini mungkin merupakan sebuah pertanda baik yang menyelamatkan nyawanya (?)

Segerombolan pemuda berdiri mejeng di depan pintu gerbang dengan penuh gaya #plakkk, beberapa siswa bergidik melihat tampang mereka yang terkesan beringas. Neji dan Gaara menghentikan langkahnya, begitu pula suasana di lapangan yang mejadi sepi mendadak. Nampak segerombolan anak sekolah yang berperangai liar, nampaknya mereka adalah anggota atau sekumpulan genk.

Salah seorang yang dominan diantara mereka mendengus tak sabar, ia berperangai menyebalkan, rambutnya pendek bewarna hitam, matanya nyalang memandang ke arah semua orang yang berada di sana. Seragamnya terkancing tak rapih melambai lambai tertiup angin. Beberapa siswi perempuan menahan nafas melihat sosok keren yang baru muncul tersebut. Tak ada kecacatan yang diperlihatkan olehnya, baik tubuh maupun wajahnya, benar benar cocok untuk menjadi saingan sasuke.

"Jadi yang mana?" sesosok pemuda berambut merah menyambar lengan pemuda tadi dengan manja.

"Siapa sih namanya? Si uke uke itu ya?" sambar seorang lagi yang berambut pirang dikuncir satu ke atas.

"Sudahlah, Sai, ayo cepat selesaikan biar cepat pulang!" rajuk pemuda manis berambut merah sambil terus menggelantung manja di tangan pemuda yang dijuluki sai itu.

Sasuke mendelik kesal ke arah kerumunan anak genk tersebut dan menghentkan aktivitasnya. Aura menyeramkan keluar dari tubuh Sasuke, ia tidak senang ada yang menganggu aktivitasnya.

"Apa yang kalian mau?"

"Cih! Apa maksudmu? Tentu saja kau harus bertanggung jawab untuk luka-luka yang telah kau berikan pada anak buah kami!" suhut Sai tak kalah garang.

"Ck, ck, ck, Sasuke-chan ya? Jangan berlaku tak sopan begitu pada ketua kami, saat ini mood-nya lagi jelek lhooo!" rajuk pemuda manis berambut merah tersebut.

"Jadi kalian mau apa?" sahut Sasuke kalem.

"Heh! Kalian jangan bertindak seenaknya di sekolah orang! Sambar seorang siswa dari bangku penonton yang langsung meloncat menerjang Sai.

"Sasori, jangan kasar-kasar ya…" ucap Sai dingin, yang ditanggapi dengan senyuman tipis dari pemuda beambut merah tersebut.

BUAKKK

Pemuda tersebut jatuh tersungkur dilantai tak sadarkan diri, sementara Sasori menumpukkan kakinya diatas perut pemuda tersebut. "Kau ini… kasar sekali sih! Jangan jadi sok jagoan ya!" uajrnya sambil bertolak pinggang.

"Hn, lalu kalian ingin aku melakukan apa?" ujar Sasuke yang nampaknya sama sekali tidak mempedulikan orang yang telah tersungkur tadi. Sedangkan Naruto buru-buru memberi pandangan 'lepaskan dia' pada Sasori yang akhirnya di respon dengan senyuman menyeringai dari Sasori. Dan hal tersebut membuat Naruto benar-benar kesal.

"Kau harus minta maaf pada kami, berlututlah dan minta maaf pada kami!"

Sasuke menyeringai dingin, "Apa? Cih! Jangan mimpi!"

TBC

Well, minna! Gimana? Puaskah? Oya, gomen ne! kalo misalnya chapter kali ini masih kependekan. Wikkey lagi suka Vocaloid ni, dan entah kenapa dalam pengejaan lisan nama Gakupo sering Wikkey sebut jadi Gakupukogakupukopugopaku, hahaha… SUSAH! = =" *jangan tertawakan saya. Oya satu lagi, tolong review ya, soalnya Wikkey jadi ga semangat nulis kalo ga di review #plakkk ^ ^

Wikkey selalu berterima kasih untuk para reader yang udah mau baca fict Wikkey dan udah ngiktuin sampai chapter ini… Hontou ni ARIGATOU… well, akhirnya… tolong di review!